JANGAN DIGAGALKAN (DITIPU DAN DIRAMPAS) DARI PAHALA KENIKMATAN ATAS KRISTUS
Pembacaan Alkitab: Kol. 2:16-19; 1:25-28
Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa ministri Paulus adalah ministri untuk melengkapkan firman Allah. Dalam Kolose 1:25 dia berkata, “Aku telah menjadi pelayan jemaat (ministri gereja) itu sesuai dengan tugas (kepeng-urusan rumah tangga) Allah yang telah dipercayakan kepa-daku untuk meneruskan (melengkapkan) firman Allah” (Tl.). Jika Surat-surat Kiriman Paulus diambil dari Alkitab, ma-ka akan terdapat suatu kekurangan yang besar; firman Allah akan menjadi tidak lengkap. Wahyu ilahi ini dilengkapkan melalui ministri Paulus.
Dari kitab-kitab yang ditulis Paulus, Kitab Koloselah yang merupakan kitab terakhir dan kitab penyempurna. Kitab ini penuh dengan hal-hal yang tinggi dan dalam. Kita dapat mengibaratkannya seperti tambang emas yang penuh dengan kekayaan untuk digali.
MENGALAMI KRISTUS YANG ALWASI
Dalam Kitab Kolose Kristus tidak saja diwahyukan se-bagai Sang almuhit (meliputi segala sesuatu), juga Sang al-wasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas). Keal-wasian-Nya bersifat alam semesta. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa dalam Kolose 2:16-17 Dia ditampilkan sebagai wujud, substansi dari segala bayangan. Kristus adalah rea-litas segala hal positif dalam alam semesta. Ini menjadikan Dia almuhit dan alwasi.
Menurut wahyu dalam Kitab Kolose, Kristus yang al-wasi dan almuhit ini adalah segala sesuatu bagi kita. Wa-laupun kealwasian Kristus bersifat alam semesta, tetapi Dia seharusnya menjadi pengalaman kita sehari-hari. Kita ha-rus mengalami Dia dalam kehidupan dan perilaku kita se-hari-hari. Dari hari ke hari Kristus yang alwasi dan almu-hit ini harus menjadi sejati, riil, dan dapat kita alami. Di satu aspek, dalam Kitab Kolose Paulus menampilkan wahyu tentang Kristus yang alwasi, tetapi di aspek lain, dia mem-bicarakan tentang pengalaman kita atas Kristus ini secara terperinci.
Menyinggung wahyu mengenai Kristus, Paulus meng-gunakan istilah-istilah seperti “gambar Allah yang tidak ke-lihatan”, “yang sulung dari segala yang diciptakan”, “yang pertama bangkit dari antara orang mati”, “rahasia Allah”. Tetapi mengenai pengalaman kita sehari-hari atas Kristus, Paulus menyinggung masalah yang biasa dan lazim seperti makan dan minum (2:16). Dalam hal-hal ini pun kita perlu mengalami Kristus. Sebagai contoh, Anda mungkin meng-alami Kristus ketika Anda menikmati secangkir teh atau segelas air. Jika kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita menikmati Kristus dalam hal-hal kecil dalam kehidupan kita sehari-hari, kita akan menemukan bahwa kita kekurangan pengalaman ini. Jika Anda tidak menikmati Kristus dalam hal makan dan minum Anda, dan jika Anda tidak menikmati Kristus sebagai pakaian sejati Anda ketika Anda mengenakan pakaian, Anda telah digagalkan (tertipu dan dirampas) dari pahala kenikmatan Anda atas Kristus. Ini adalah satu hal yang sangat serius.
KENIKMATAN TIAP HARI, TIAP PEKAN,
TIAP BULAN, DAN TIAP TAHUN
Kolose 2:16 mengatakan, “Karena itu, jangan biarkan orang menghakimi kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.” Ketika menulis kata-kata ini, Paulus dengan bijaksana me-nunjukkan perkara-perkara yang berkaitan dengan kenik-matan kita tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Makan dan minum adalah perkara tiap hari, memelihara hari Sabat adalah perkara tiap pekan, memelihara bulan baru adalah perkara tiap bulan, dan menikmati hari raya tertentu itu adalah perkara tiap tahun. Ketika menyebut-kan hal-hal ini, Paulus menunjukkan bahwa apa pun yang kita nikmati tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun, semuanya harus merupakan kenikmatan atas Kristus. Jika tidak, kita akan ditipu dan dirampas dari Kristus, di-jauhkan dari Kristus. Sebagai contoh, ketika Anda makan siang, Anda haruslah memahami bahwa makanan jasma-niah Anda adalah bayangan Kristus sebagai makanan yang sejati. Kristus adalah wujud, substansi dari bayangan ini. Kita harus mengetahui hal ini tidak saja secara doktrinal, tetapi juga dalam pengalaman. Ketika Anda diundang ke res-toran untuk makan, jangan pergi ke situ hanya untuk me-nikmati bayangan, tetapi pergilah untuk menikmati Kristus.
Menurut Kolose 2:16-17, hal-hal materi merupakan ba-yangan Kristus. Kata “apa yang harus datang” dalam 2:17 mengacu kepada hal-hal tentang Kristus sebagai kenikmat-an kita. Jadi, Kristuslah wujud, substansi, dan realitas dari semua bayangan itu. Sebagai yang sedemikian ini, Dia ha-rus menjadi realitas kenikmatan kita tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun.
Sangatlah bermakna bahwa setelah berbicara tentang Kristus sebagai wujud dari bayangan, Paulus terus berkata, “Janganlah kamu biarkan kemenanganmu (pahalamu) diga-galkan oleh orang” (ayat 18). Menurut konteksnya, pahala ini ialah kenikmatan atas Kristus sebagai wujud dari ba-yangan itu. Kenikmatan atas Kristus benar-benar adalah suatu pahala.
DIGAGALKAN DARI KENIKMATAN
YANG SUBYEKTIF ATAS KRISTUS
Dalam gereja di Kolose ada sejumlah orang Yahudi ada sejumlah orang Yunani. Kedua golongan orang ini telah mem-bayar harga dalam berpaling kepada Kristus. Setelah mem-bayar harga, mereka dapat menerima kenikmatan atas Kristus sebagai pahala mereka. Baik kaum beriman Yahudi maupun kaum beriman bukan Yahudi telah banyak men-derita sengsara karena percaya kepada Kristus. Karena itu, mereka dapat memiliki kenikmatan subyektif atas Kristus sebagai pahala mereka. Demikian pula kita hari ini. Banyak orang kudus telah menderita aniaya karena mereka berpa-ling kepada Kristus dan jalan pemulihan Tuhan. Tetapi se-karang mereka dapat menikmati Kristus sebagai upah me-reka, pahala mereka. Pahala ini bukan hanya Kristus yang obyektif, tetapi terutama adalah kenikmatan yang subyektif atas Kristus. Kolose 2:16-17 menunjukkan hal ini. Ayat-ayat ini mewahyukan bahwa Kristus tidak saja obyektif, te-tapi juga yang kita nikmati tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Kristus yang kita alami tiap hari dalam hal makan dan minum adalah Kristus yang sangat subyektif. Demikian pula Kristus yang kita alami sebagai kelengkap-an dan perhentian kita tiap pekan (sabat), sebagai permula-an baru dalam kegelapan (bulan baru), dan sebagai kenikmat-an kita (hari raya) tiap tahun. Itulah sebabnya, menurut ayat 18, digagalkan (ditipu dan dirampas) dari pahala ber-arti kehilangan kenikmatan yang subyektif atas Kristus. Kita harus menikmati Kristus tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Kita tidak boleh mengizinkan siapa pun menggagalkan kita dari pahala ini.
Akan tetapi orang-orang Kolose telah digagalkan dari pahala mereka, yaitu kenikmatan atas Kristus. Kaum ber-iman Yahudi telah disesatkan dari Kristus oleh penganut agama Yahudi, sedang orang beriman bukan Yahudi telah ditawan oleh konsepsi filsafat tertentu. Keduanya telah ter-tipu dari pengalaman dan kenikmatan tiap hari atas Kristus. Tambahan pula, mereka telah kehilangan kenikmatan tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun atas Kristus. Ini menun-jukkan bahwa kaum saleh Yahudi dan kafir sama-sama telah diselewengkan, dan kehilangan pahala yang untuknya mereka telah membayar harga yang sedemikian itu. Seperti telah kita tunjukkan berkali-kali, pahala ini ialah pengalaman yang subyektif atas Kristus tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun.
Kita perlu memeriksa apakah kita telah mengalami dan menikmati Kristus dengan praktis tiap hari, tiap pe-kan, tiap bulan, dan tiap tahun. Mungkin saja kita seperti orang-orang Kolose, yang telah tertipu atau dirampas juga dari pahala kita. Satan, Iblis itu, mungkin telah menipu kita dari Kristus, dan kita mungkin tidak menyadarinya. Pernah sekali tas saya yang berisi paspor dicuri dari sam-ping tempat duduk saya ketika saya bercakap-cakap dengan seseorang di sebuah kantor penerbangan. Tetapi pada saat kemalingan itu saya tidak menyadari apa-apa. Tas saya telah dirampas, tetapi saya sama sekali tidak menyadari hal tersebut. Demikian pula, kita boleh jadi tidak menya-dari bahwa musuh telah menipu atau merampas kita dari kenikmatan kita atas Kristus. Kita mungkin telah kehi-langan kenikmatan atas Kristus tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun, bahkan tanpa menyadarinya.
KEMBALI KEPADA KRISTUS
Dalam pemulihan-Nya Tuhan sedang membawa kita kembali dari agama dan segala sesuatu yang bukan Kristus kepada Kristus sendiri. Ekonomi Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kita untuk kita nikmati. Allah menghendaki Kristus tidak saja menjadi Juruselamat kita, bahkan tidak saja menjadi hayat kita, tetapi juga menjadi kenikmatan kita tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Tetapi ketika kita meninjau situasi di antara mayoritas orang-orang Kristen dewasa ini, kita nampak bahwa kenikmatan ini telah hilang. Kaum beriman bukan-nya menikmati Kristus, malah diduduki oleh agama, oleh apa yang disebut pelayanan penyembahan, atau ajaran teo-logi. Sedikit sekali kenikmatan atas Kristus yang praktis dan hidup. Tidak usah diragukan bahwa Tuhan memerlu-kan suatu pemulihan. Kita perlu dibawa kembali kepada Kristus itu sendiri. Teristimewa kita perlu dipulihkan ke-pada kenikmatan yang terus-menerus atas Kristus tiap ha-ri, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun.
Beban saya bukan menyampaikan lebih banyak berita tentang doktrin, melainkan agar kaum saleh mengalami Kristus secara riil. Jika situasi kita tidak demikian, itu berarti kita telah ditipu dan dirampas oleh musuh dengan liciknya dari Kristus sebagai pahala kita. Kita perlu menikmati Kristus dalam setiap hal kecil dalam kehidupan sehari-hari kita.
KELENGKAPAN WAHYU ILAHI
Oleh rahmat Tuhan, kita mungkin menempuh hidup yang lurus. Tetapi walau kita mungkin dijauhkan dari dosa, kita tetap sangat kekurangan Kristus. Dalam banyak as-pek, kehidupan kita sehari-hari mungkin sangat baik, teta-pi kita tetap harus mengajukan pertanyaan yang sangat penting ini: seberapa banyakkah kita mengalami Kristus dan menikmati Dia? Hanya memiliki suatu kehidupan se-hari-hari yang wajar bukanlah sasaran kita. Sasaran kita haruslah Kristus. Kita di sini untuk mendapatkan Kristus dan mengalami Dia. Saya menghargai fakta bahwa standar kehidupan sehari-hari kita cukup tinggi. Jika tiap orang da-lam negara ini mempunyai standar yang demikian, situasi seluruh negara ini akan lebih baik. Tetapi kita tidak dapat merasa puas hanya dengan memiliki kehidupan sehari-hari yang benar dan lurus. Itu bukan sasaran Allah. Untuk ke-hendak Allah, kita perlu mengalami Kristus dan menikmati Dia. Berapa banyak kenikmatan atas Kristus yang Anda miliki dalam kehidupan sehari-hari Anda? Jika Anda tidak mempunyai banyak kenikmatan atas Kristus, dalam penga-laman Anda firman Allah masih belum sepenuhnya leng-kap. Anda perlu ministri Paulus, terutama yang dari Kitab Kolose ini.
Menurut Kolose 1:26, firman Allah yang dilengkapkan melalui ministri Paulus ialah “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya.” Raha-sia ini ialah Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan (ayat 27). Walaupun kita mungkin memiliki pe-ngetahuan Alkitab yang sangat banyak, tetapi kita tidak mempunyai kelengkapan wahyu ilahi kecuali kita meng-alami Kristus secukupnya tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Yang kita perlukan ialah Kristus yang sub-yektif menjadi kenikmatan kita demi melengkapkan wahyu ilahi dalam batin kita. Kalau kita kekurangan pengalaman dan kenikmatan atas Kristus, kita akan kekurangan wahyu tentang Allah. Wahyu Allah memerlukan Kristus yang te-lah kita alami sebagai kelengkapannya.
KEDEWASAAN PENUH DALAM KRISTUS
Dalam ayat 28 Paulus mengatakan bahwa dia memberitakan Kristus ketika “tiap-tiap orang kami nasi-hati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat”, untuk “mempersembahkan tiap-tiap orang dewasa penuh dalam Kristus” (Tl.). Jalan untuk dewasa penuh dalam Kristus ialah mengalami Kristus dan menikmati Dia tiap hari, tiap pekan, tiap bulan, dan tiap tahun. Orang-orang yang meng-alami Kristus dan menikmati Dia sedemikian akan menca-pai kedewasaan penuh. Mereka akan menjadi penuh, leng-kap, dan sempurna; mereka akan tidak kekurangan apa pun.
KENIKMATAN YANG TERUS-MENERUS
ATAS KRISTUS
Dalam kehidupan sehari-hari kita mudah sekali lebih memperhatikan kelakuan kita daripada kenikmatan atas Kristus. Sebagai orang-orang yang mengasihi dan menuntut Tuhan, kita mempunyai satu kedambaan alamiah untuk meningkatkan mutu kelakuan kita. Kita sangat damba me-miliki kehidupan sehari-hari yang bermutu tinggi. Bila kita gagal mencapai keinginan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan penuh dengan penyesalan dan kita mengaku dosa kepada Tuhan serta mohon Tuhan mengampuni dan membasuh kita. Walaupun kita mungkin sangat terlatih dan trampil dalam masalah-masalah seperti ini, tetapi kita mungkin tidak memperhatikan tentang kenikmatan atas Kristus secara memadai. Oh, kita perlu menikmati Kristus dalam kehidupan sehari-hari kita.
Kita telah nampak bahwa kita perlu menikmati Kristus dalam masalah-masalah makan dan minum sehari-hari. Fakta bahwa kita makan dan minum berkali-kali sehari suntuk menunjukkan bahwa kita tidak boleh merasa puas dengan menikmati Kristus sehari sekali saja. Makan dan minum adalah bayangan. Jika kita makan dan minum le-bih dari sekali sehari, tentu kita pun harus menikmati Kristus lebih dari sekali sehari. Kita harus mengalami Kristus bukan hanya setiap hari, tetapi berkali-kali sepan-jang hari.
Dalam 1 Tesalonika 5:17 Paulus berkata, “Berdoalah dengan tidak berkeputusan” (Tl.). Doa yang sejati ialah me-nikmati Kristus. Saya berkata dengan menyesal, banyak se-kali doa kita tidak sejati, sebab kita sering tidak menikmati Kristus ketika kita berdoa. Kapankala kita berdoa dengan normal dalam roh, kita akan menikmati Kristus. Berdoa dengan tidak berkeputusan itu sebenarnya menikmati Kristus tanpa berkeputusan. Kita perlu menikmati Kristus secara berkesinambungan. Tetapi, tidak banyak di antara kita yang beroleh bantuan untuk menempuh kehidupan rohani dengan menikmati Kristus secara konstan. Kita perlu ber-doa untuk hal ini, agar Tuhan mengaruniai kita untuk da-pat menikmati Dia setiap hari dan sehari suntuk.
DIINGATKAN AKAN KRISTUS
Dalam perkataan Paulus tentang bayangan kita me-nangkap satu isyarat tentang bagaimana kita dapat menik-mati Kristus secara riil. Karena hal-hal seperti makan dan minum merupakan bayangan dan Kristus adalah hakikat dan realitasnya, kita perlu diingatkan, kapan saja kita ma-kan dan minum, makanan dan minuman yang sejati ialah Kristus. Ketika Anda memakan makanan Anda, Anda harus dengan spontan memakan Kristus. Ketika Anda me-minum suatu minuman, Anda juga harus meminum Kristus. Ketika Anda mengenakan pakaian Anda, Anda harus di-ingatkan bahwa Kristus ialah pakaian Anda yang sejati, dan Anda harus mengalami Dia sedemikian. Ketika Anda me-ngenakan pakaian jasmani Anda, Anda harus pula menge-nakan Kristus. Menikmati Kristus dengan cara demikian sangatlah mudah. Apa saja yang kita lakukan dari hari ke hari haruslah mengingatkan kita kepada Kristus sebagai realitas hal tersebut. Bahkan napas kita pun harus meng-ingatkan kita akan perlunya kita menghirup Kristus secara rohani.
Jika kita berlatih menerima Kristus sebagai realitas segala hal materi dalam kehidupan sehari-hari kita, hidup dan tindakan kita akan mengalami revolusi dan transfor-masi. Kehidupan kita akan penuh dengan Kristus. Ketika kita makan dan minum, kita akan menerima Kristus seba-gai makanan dan minuman rohani. Setiap hal yang kita lakukan akan mengingatkan kita untuk berkontak dengan Kristus, menikmati Kristus, mengalami Kristus, dan memi-liki Kristus sebagai segala sesuatu kita. Mempraktekkan hal ini dari hari ke hari berarti benar-benar menikmati Kristus.
BERAKAR DI DALAM KRISTUS
UNTUK MENYERAP KEKAYAAN-NYA
Bantuan lebih lanjut tentang kenikmatan yang riil atas Kristus tercantum dalam Kolose 2:7. Menurut ayat ini, kita telah berakar di dalam Kristus. Perkataan ini menyiratkan keberadaan tanah. Kristus adalah tanah yang kaya yang di dalamnya kita berakar. Dalam berita-berita terdahulu kita telah menunjukkan betapa tanah yang kaya ini mengan-dung banyak unsur yang ajaib: kepenuhan ke-Allahan, kekepalaan Kristus, sunat Kristus, penguburan-Nya, dibang-kitkan bersama Kristus, terhapusnya ketentuan-ketentuan, serta pelucutan penguasa-penguasa dan pemerintah-peme-rintah. Kolose 2:9-15 adalah satu gambaran dari unsur-un-sur tanah yang tersirat dalam kata “telah berakar” dalam Kolose 2:7.
Kita telah berakar dalam Kristus, tanah yang kaya dan subur. Setelah berakar di dalam Dia, kita wajib terus menyerap kekayaan-Nya. Seperti sebatang pohon menyerap unsur makanan dari tanah melalui akar-akarnya, kita pun harus menyerap kekayaan Kristus ke dalam kita. Unsur-unsur yang terserap ke dalam pohon dari tanah itu me-mungkinkan pohon bertumbuh. Jadi, pertumbuhan sebatang pohon tergantung pada makanan yang diserapnya melalui akar-akarnya. Karena kita telah berakar di dalam Kristus, maka haruslah kita menetap di dalam Dia secara riil dari hari ke hari. Dalam pengalaman kita, kita perlu tinggal berakar di dalam Kristus. Akan tetapi, jika kita melupakan Kristus dalam hal-hal seperti makan dan minum, kita tidak berakar di dalam Dia dalam pengalaman kita. Ketika kita makan makanan kita, kita mungkin tidak ingat akan Kristus. Setelah bersantap, kita boleh jadi menggunakan se-dikit waktu untuk berdoa. Tetapi bahkan pada permulaan doa kita itu boleh jadi kita tidak benar-benar berakar di da-lam Kristus dalam pengalaman, sebab kita mungkin berdoa untuk banyak hal yang tidak perlu. Namun dalam rahmat dan kesabaran-Nya, Tuhan menunggu sampai kita mulai berdoa dengan sungguh-sungguh. Lalu dalam pengalaman kita, kita baru bisa menyerap kekayaan Kristus. Akan te-tapi, ketika waktu doa kita telah habis, mungkin kita tidak terus mencerna apa yang telah kita serap dari Dia. Menu-rut perkataan Tuhan dalam Yohanes 15, itu berarti kita tidak tinggal di dalam Dia.
Banyak orang kudus tiap pagi meluangkan waktu ber-sama Tuhan. Namun, sekalipun mereka meluangkan wak-tu sebanyak itu bersama Tuhan, mungkin mereka tidak menyerap cukup banyak kekayaan-Nya. Alasannya ialah mereka terlalu tergesa-gesa. Jika kita ingin menyerap keka-yaan Kristus ke dalam kita menjadi makanan kita, kita tidak boleh tergesa-gesa. Kita tidak dapat menyerap apa-apa jika kita tergesa-gesa.
Kita tidak saja harus menyerap Tuhan tiap pagi, tetapi juga harus seperti pohon yang menyerap kekayaan tanah secara terus-menerus. Ini berarti kita harus belajar mem-praktekkan kenikmatan atas Kristus yang terus-menerus. Kita harus membiarkan setiap hal materi mengingatkan kita kepada Kristus, sebab segala hal itu adalah bayangan, dan Kristus adalah hakikatnya. Pakaian yang kita kenakan tiap hari harus mengingatkan kita kepada Kristus. Kita ha-rus mengenakan Dia dalam roh kita dan oleh roh kita. Me-minum segelas air harus mengingatkan kita untuk meminum Kristus melalui melatih roh kita. Melakukan hal ini berarti berakar di dalam Kristus dan menyerap kekayaan-Nya.
AKAR-AKAR YANG LEMBUT
Jika kita ingin menyerap kekayaan Kristus sebagai tanah, kita perlu memiliki akar-akar yang baru dan lem-but. Jangan membiarkan diri Anda menua. Anda harus se-gar dan diperbarui hari demi hari. Berdoalah kepada Tuhan, “Tuhan, aku ingin menyegarkan persembahanku, aku mau terbuka kepada-Mu sekali lagi. Aku mau akar-akarku lem-but supaya aku dapat menyerap kekayaan-Mu. Tuhan, jangan biarkan akar-akarku menua!” Jika akar-akar kita lembut dan baru untuk menyerap kekayaan Kristus, tentu kita akan bertumbuh dengan otomatis dengan kekayaan yang telah kita serap. Ini berarti menikmati Kristus dan meng-alami Dia secara subyektif setiap hari dan setiap saat. Hal ini akan menjaga pahala kita agar tidak digagalkan. Na-mun, jika kita tidak tetap berakar di dalam Dia untuk me-nyerap kekayaan-Nya, musuh akan dengan liciknya meng-gagalkan kita dari kenikmatan atas Kristus yang riil dan terus-menerus itu.
MEMPERHATIKAN PERINGATAN PAULUS
Meskipun hari ini ada berjuta-juta orang Kristen di bumi, tetapi hampir semua telah digagalkan dari kenikmatan mereka atas Kristus. Mereka telah percaya kepada Kristus, telah menerima Kristus, dan boleh jadi bahkan telah mem-bayar harga untuk mengikuti Dia, tetapi, seperti halnya orang-orang Kolose, mereka telah kehilangan kenikmatan atas Kristus. Semua orang Kristen, termasuk kita, perlu memperhatikan peringatan Paulus, yaitu jangan membiar-kan orang menggagalkan kita dari pahala kita. Jangan biarkan siapa pun menawan kita dari pahala kita. Jangan biarkan siapa pun menawan kita dari kenikmatan atas Kristus. Kristus itulah wujud, realitas dari segala hal positif dalam alam semesta. Ketika kita menikmati benda-benda materi yang positif, kita harus diingatkan untuk menik-mati Kristus. Jika kita berbuat demikian, kehidupan seha-ri-hari kita akan penuh dengan kenikmatan atas Kristus. Setelah itu kita akan berakar di dalam Dia, menyerap ke-kayaan-Nya, dan bertumbuh di dalam Dia.