← Daftar isi Kristus dan Kekristenan · bab 3/4

DUA MANUSIA KORPORAT

Telah kita lihat bahwa Kristus dan kebenaran tidak dapat dipisahkan, Kristus dan doktrin-Nya tidak dapat dipisahkan, demikian juga Kristus dan kekristenan tidak dapat dipisahkan.

Lalu bagaimana hubungan Kristus dengan kita, manusia?

TIGA KONSEPSI PENTING

Sebelum kita melihat hubungan Kristus dengan manusia, terlebih dulu kita akan melihat sedikit tentang hukum keturunan. Yaitu jika pada satu hayat/kehidupan dalam pembawaannya memiliki suatu ciri tertentu, atau suatu keistimewaan dalam sifat, ini dapat diturunkan kepada generasi yang selanjutnya. Atau sebaliknya, dari diri seorang anak dapat kita lihat temperamen dan keistimewaan ayahnya. Tetapi hal-hal yang didapatkan melalui belajar, tidak dapat diturunkan. Misalnya, seorang pandai besi mungkin memiliki tangan yang besar dan kuat melalui latihan, tetapi tangan anak-anaknya mungkin tetap kecil dan kurus, karena yang didapatkan sesudah kelahiran tak dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Ini adalah kenyataan dan gejala yang dipelajari dalam ilmu hayat.

Dalam Alkitab ada konsepsi yang sangat penting yang dikenal sebagai “Kesatuan Manusia”. Menurut pandangan Alkitab, selain diri kita masing-masing sebagai individu, seluruh manusia di dunia, walaupun berjuta-juta jumlahnya, dianggapnya hanya sebagai dua manusia. Kedua manusia itu bersifat korporat, masing-masing mewakili jutaan manusia. Seluruh umat manusia tercakup di dalam kedua manusia tersebut. Karena pandangan Alkitab terhadap umat manusia ini, maka seorang manusia, Yesus, dapat mati bagi semua manusia, memikul segala dosa manusia. Dan kita, manusia yang demikian banyak, bisa memperoleh hidup dari-Nya.

Orang yang mempelajari ilmu hayat dapat memberi tahu kita bahwa ada sebuah konsepsi yang mengherankan dalam ilmu hayat, yang berkebalikan dengan konsepsi kita pada umumnya; yaitu hayat seorang anak dianggap lebih tua daripada hayat ayahnya, dan hayat seorang cucu jauh lebih tua dari kakeknya. Ini mutlak benar. Anak mewarisi hayat ayahnya dan melanjutkannya. Jadi hayat anak lebih tua daripada hayat ayahnya. Hayat Anda dan saya dengan sendirinya lebih tua daripada hayat Adam, karena Adam hanya hidup 900 tahun lebih, sedangkan Anda dan saya masih hidup dan masih ada kelanjutannya.

Inilah tiga konsepsi penting yang akan kita perhatikan ketika kita membahas hubungan antara Kristus dan manusia, yaitu keturunan hidup manusia, kesatuan manusia dan kelanjutan hidup manusia.

MANUSIA KORPORAT YANG BESAR

Manusia bukan hanya seorang individu, hidup sendiri, bertanggung jawab hanya atas sikap dan perilaku diri sendiri, tetapi juga termasuk dalam satu manusia korporat. Setiap orang adalah salah satu bagian dari hidup yang besar ini, terus melanjutkan hidup yang besar ini. Manusia pertama dalam manusia korporat ini mempunyai kehidupan yang mencakup semua kehidupan manusia lainnya; kelakuannya menjadi kelakuan generasi penerusnya; semua generasi penerusnya memiliki ciri-ciri seperti yang dimilikinya.

Ini sungguh satu topik besar yang akan kita bahas. Tetapi mula-mula kita harus mengetahui konsep-konsep tersebut sebelum kita dapat melihat keselamatan Allah dan hubungan Kristus dengan manusia.

MELKISEDEK DAN ABRAHAM

Mari kita melihat Ibrani 7. Kita lihat dulu ayat 1-10, “Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong dan memberkati Abraham ketika Abraham kembali dari peperangan mengalahkan raja-raja. Kepada dia pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Nama Melkisedek pertama-tama berarti raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.”

“Perhatikanlah betapa agungnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapak leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala rampasan yang paling baik. Menurut hukum Taurat, keturunan Lewi yang menerima jabatan imamlah yang mendapat tugas untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia yang justru memiliki janji itu. Memang tidak dapat disangkal bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi. Di satu pihak, manusia-manusia fanalah yang menerima persepuluhan, sedangkan di pihak lain, yang menerima persepuluhan adalah Dia, yang tentang diri-Nya diberi kesaksian bahwa Dia hidup. Maka dapatlah dikatakan bahwa dengan perantaraan Abraham telah dipungut juga persepuluhan dari Lewi yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapak leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapak leluhurnya itu.”

Dalam kutipan di atas, si penulis memberi tahu orang-orang Ibrani bahwa imam-imam yang mereka andalkan adalah dari garis keturunan Lewi. Namun Kristus yang kita percayai bukanlah berasal dari keturunan Lewi, tetapi dari garis Melkisedek (yang juga adalah imam).

MELKISEDEK LEBIH BESAR DARIPADA LEWI

Lalu, siapakah yang lebih besar, Lewi atau Melkisedek? Jawabannya tentu saja adalah Melkisedek. Mengapa? Di sini penulis mengetengahkan Abraham. Abraham pernah mempersembahkan sepersepuluh pendapatannya kepada Melkisedek sebagai persembahan. Bukan saja Melkisedek menerimanya, ia pun memberkati Abraham. Sebab itu, tak dapat disangkal, Melkisedek lebih besar daripada Abraham.

Tetapi apa hubungannya dengan Lewi? Hubungannya terletak pada fakta bahwa Lewi masih “berada dalam tubuh bapak leluhurnya, Abraham, ketika Melkisedek menyongsong Abraham.” Walaupun setelah 100 tahun atau lebih kemudian Lewi dilahirkan, menurut prinsip kesatuan, Lewi telah mempersembahkan sepersepuluh kepada Melkisedek ketika ia masih di dalam Abraham. Dan pada waktu yang sama ia diberkati Melkisedek di dalam Abraham. Karena itulah Melkisedek lebih besar daripada Lewi.

Dalam kepercayaan kita ada satu konsep pokok bahwa apa pun yang dikerjakan atau dilakukan seseorang akan mempengaruhi generasi penerusnya. Jika leluhur kita telah melakukan sesuatu, kita pun demikian. Tidak peduli apakah kita dilahirkan belakangan atau tidak, karena kita telah melakukan hal yang sama ketika kita masih di dalam mereka.

PERMULAAN KEJATUHAN DAN KESELAMATAN MANUSIA

Dari sinilah kejatuhan manusia itu berawal. Dari situ pula berasal keselamatannya. Kristus mengenal sifat kesatuan dari hidup manusia. Manusia pertama telah berdosa, maka semua manusia keturunannya juga berdosa. Sebab itu, bila ada orang lain dapat ditetapkan sebagai sumber hayat/ kehidupan, sebagai kepala dari suatu umat manusia baru, maka semua yang menyusul kemudian dapat berbagian dalam apa adanya dan dalam semua yang telah dilakukannya.

TELAH BERDOSA DI DALAM ADAM

Bagaimana pandangan Alkitab terhadap kejatuhan dan berdosanya manusia? Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa karena sifat kesatuan manusia ini, maka ketika manusia pertama, Adam, berdosa, seluruh umat manusia juga telah berdosa, sekalipun mereka belum dilahirkan.

Hari ini, yang kita lihat adalah apakah kita sebagai individu berdosa atau tidak, tetapi bukan demikian cara Allah. Kalaupun dari sejak lahir sampai sekarang, saya tidak pernah berbuat dosa, Allah tetap akan melihat, dari manakah asal saya. Jika saya berasal dari Adam, maka saya telah ada dan ambil bagian dalamnya, ketika Adam berdosa di Taman Eden. Menurut hukum hayat, hayatku adalah kelanjutan dari hayat Adam; hayat yang terakhir ini sama dengan hayat yang pertama.

Jadi, menurut pandangan Allah, setiap orang yang dari Adam, adalah orang dosa. Adam berdosa, maka setiap orang menjadi orang dosa di dalam Adam.

Mungkin di sini ada seorang yang tidak pernah berdosa (tentu saja tidak pernah ada orang demikian), namun Allah tetap memandangnya sebagai orang dosa, karena hayatnya adalah hayat yang berdosa; ia adalah keturunan dari hayat yang berdosa. Walaupun kita tidak merasa bahwa kita memiliki pengalaman yang sama dengan Adam, tetapi kenyataannya hayat itu ada di dalam manusia. Sampai hari ini kita memiliki hayat itu di dalam kita.

MANUSIA YANG LAIN

Alkitab juga memperlihatkan kepada kita satu manusia yang lain, yaitu Kristus. Allah memandang Kristus sama seperti cara-Nya memandang Adam. Allah menganggap Adam dan setiap orang yang berasal darinya sebagai satu manusia. Demikian pula Allah menganggap Kristus sebagai kepala dan meliputi semua orang yang berasal dari Dia sebagai satu manusia. Hayat yang kita terima dari Adam adalah hayat berdosa. Jika kita dapat berasal dari Kristus dan menerima hayat Kristus, kita dapat bebas dari dosa seperti halnya Tuhan Yesus.

Untuk saat ini, kita belum melihat bagaimana menerima hayat yang berasal dari Kristus. Hal itu akan kita terangkan kemudian. Kita akan melihat bagaimana hayat yang berasal dari Kristus ini adalah hayat Yesus sendiri. Hayat ini adalah hayat yang tanpa dosa, hayat yang diperkenan Allah, dipenuhi Roh Kudus, dan hayat ini mutlak kudus dan benar. Mendapatkan hayat ini, akan menjadikan kita serupa dengan Kristus, memiliki pengalaman yang sama dengan Dia.

TIDAK ADA MANUSIA KETIGA

Jadi sebenarnya hanya ada dua manusia dalam seluruh dunia. Kalau Anda tidak di dalam Adam, Anda tentu di dalam Kristus. Jika Anda tidak berhubungan dengan Adam, Anda harus berhubungan dengan Kristus. Anda tidak dapat menemukan manusia ketiga.

Suatu kali seseorang bertanya kepada saya, “Berapa banyak orang yang ada di dalam neraka?” Saya mengatakan kepadanya bahwa di sana hanya ada satu orang. Di surga pun hanya ada satu orang. Manusia di dalam Kristus ada di satu tempat dan manusia di dalam Adam ada di tempat lain. Benar-benar sederhana.

DUA ADAM, DUA MANUSIA

Karena Alkitab menganggap seluruh umat manusia hanya terdiri dari dua manusia, maka kita tidak perlu heran sewaktu membaca 1 Korintus 15:45, 47, “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup’, tetapi Adam yang terakhir menjadi roh yang menghidupkan. Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat alamiah, manusia kedua berasal dari surga.”

Alkitab menyebut manusia pertama: Adam, juga menyebut Kristus sebagai Adam yang lain, yaitu Adam yang akhir. Artinya tidak akan ada Adam yang ketiga. Hanya ada dua Adam. Tetapi ketika Alkitab menyebut manusia, Alkitab menganggap Adam sebagai manusia pertama dan Kristus sebagai manusia kedua. Dari Adam sampai Kristus ada jutaan manusia dilahirkan, tetapi Alkitab tidak menganggap mereka sebagai individu-individu. Adam adalah manusia pertama, Kristus adalah manusia kedua.

Jadi setiap orang yang berasal dari Adam termasuk di dalam Adam, semua berhubungan dengan dosa, semua berdosa, dan berasal dari bumi. Demikian pula, siapa yang menerima hayat dari Adam yang akhir, tercakup di dalam Kristus, memiliki seluruh pengalaman Kristus, dosa tidak berkuasa atas mereka, mereka berasal dari surga.

KEMBALI BERHUBUNGAN DENGAN KRISTUS

Sekali lagi kita nampak bahwa semua doktrin kepercayaan kita selalu berhubungan dengan persona Kristus. Semua pengalaman yang akan dialami oleh orang Kristen kelak, juga berkaitan dengan Kristus. Yang diminta Alkitab dari diri kita adalah percaya kepada Dia, mendengarkan Dia, taat kepada Dia, dan mengikuti Dia. Penyelesaian atas segala masalah ada pada-Nya, ada di dalam Kristus Yesus. Asal dapat memiliki Kristus Yesus sebagai hayat kita, maka segala pengalaman-Nya akan menjadi pengalaman kita. Dia adalah inti kepercayaan kita. Asal kita terikat pada-Nya, segala sesuatu akan beres.

Adam adalah satu manusia korporat, melingkupi Anda dan saya dan setiap orang yang di dalamnya, maka semua pengalamannya di Taman Eden menjadi pengalaman kita, nasibnya menjadi nasib kita. Demikian pula Kristus adalah satu manusia korporat. Setiap orang yang di dalam Kristus, mempunyai hubungan yang sama dengan Dia seperti hubungan mereka dengan Adam. Setiap pengalaman Kristus akan menjadi pengalaman orang-orang yang ada di dalam Dia. Seluruh umat manusia berada dalam dua manusia ini; berhubungan erat dengan dua manusia ini.

HUBUNGAN KEDUA MANUSIA INI DENGAN UMAT MANUSIA

Sekarang kita akan melihat pentingnya hubungan kedua manusia ini dengan seluruh umat manusia. Roma 5:12, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia melalui satu orang, dan melalui dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang , karena semua orang telah berbuat dosa.” Ayat 14, “Sungguh pun demikian, maut telah berkuasa dari zaman Adam sampai zaman Musa, juga atas mereka yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran Dia yang akan datang.”

Dari Adam sampai Musa ada selang waktu sekitar 2.500 tahun. Tak terhitung banyaknya orang yang lahir dan tak terhitung banyaknya macam dosa yang dilakukan pada selang waktu itu. Namun, dalam anggapan Allah, dosa memasuki seluruh umat manusia melalui satu manusia, Adam. Dan Adam adalah gambaran dari Dia yang akan datang. Adam adalah miniatur dari Kristus yang akan datang. Jika Anda nampak bagaimana Adam, Anda akan tahu bagaimana Kristus itu.

MELALUI SATU MANUSIA

Roma 5:15 mengatakan, “Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang banyak orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi anugerah Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas banyak orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.”

Jika melalui dosa satu orang Adam, semua orang menjadi binasa, maka ketika Tuhan Yesus dibuat menjadi kebenaran, kasih karunia lebih lagi menimpa setiap orang! Maut datang melalui satu orang. Demikian pula kasih karunia.

Roma 5:16-18 berulang-ulang mengatakan melalui seseorang begini dan begini dan melalui orang lain begitu dan begitu. Ayat 19 mengatakan, “Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar.”

TERSUSUN MENJADI ORANG DOSA

ATAU

TERSUSUN MENJADI ORANG BENAR

Alkitab selalu memperlihatkan kepada kita bahwa dosa bukan kita yang melakukan, melainkan di dalam Adam kita adalah orang dosa. Demikian pula kebenaran bukanlah perbuatan kita, melainkan kita dibenarkan di dalam Kristus. Kata “menjadi” yang tercantum dua kali di dalam ayat 19, tidak mengungkapkan arti bahasa aslinya. Menurut saya kata itu lebih baik diterjemahkan “tersusun menjadi”. “Jadi, sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah tersusun menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang banyak orang menjadi orang benar.” Karena perbuatan dosa seorang, Adam, dosa masuk ke dalamnya sehingga membuat seluruh manusia tersusun menjadi orang dosa. Demikian pula, melalui perbuatan kebenaran seorang manusia, Yesus Kristus, yang bukan saja tidak berdosa, tetapi juga taat sampai mati di kayu salib, supaya semua orang yang mendapatkan hayat-Nya, di dalam-Nya tersusun menjadi orang benar.

DUA SUMBER POKOK UMAT MANUSIA

Inilah dua sumber pokok manusia, dua aliran hayat umat manusia. Setiap orang berasal dari salah satu dari kedua sumber itu. Jika Anda tidak di dalam aliran hayat yang ini, Anda pasti berada di dalam aliran hayat yang itu, tidak mungkin di tengah-tengah.

Orang yang percaya Kristus berada di dalam Kristus. Paulus mengatakan dia sendiri adalah seorang yang ada di dalam Kristus. Ia menyebut orang-orang Kristen lainnya dengan cara yang sama. Mereka yang di dalam Kristus bukanlah individu-individu tersendiri, mereka memiliki Kristus sebagai hayat mereka dan mereka membentuk Tubuh Kristus dengan yang lainnya. Kristus adalah Sang Kepala. Di dalam Kristus, setiap orang saling berhubungan, tidak menyendiri.

GEREJA DAN BUKAN KEKRISTENAN

Sekarang kita harus memperhatikan kata “Jemaat/Gereja”. Alkitab tidak pernah menggunakan istilah kekristenan. Kadang-kadang kita terpaksa menggunakan kata kekristenan, agar mudah dimengerti, karena ia telah lama disalahpahami sehingga kehilangan arti aslinya.

Alkitab menyebut manusia korporat yang besar dalam Kristus ini Gereja. Kata “gereja” dalam bahasa aslinya berarti sekelompok orang yang dipanggil Allah keluar dari Adam masuk ke dalam Kristus. Kelompok orang ini pernah berada di dalam Adam. Mereka menjawab panggilan Allah dan keluar dari Adam. Sekarang mereka tidak lagi di dalam lingkungan Adam. Mereka telah menerima hayat di dalam Kristus dan bersatu dengan Kristus menjadi Gereja.

RANTING-RANTING DAN POHON

Tatkala Kristus segera meninggalkan dunia ini, Ia berbicara tentang hubungan-Nya dengan murid-murid-Nya. Ia berkata, “Akulah pokok anggur, dan kamulah ranting-rantingnya, tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ia berkata kepada mereka bahwa ranting-ranting yang tinggal di dalam-Nya akan menghasilkan banyak buah. Orang Kristen bukanlah individu, mereka adalah bagian dari satu pokok pohon Kristus ini. Ranting-ranting dan pokok pohon melekat menjadi satu, ranting-ranting mengisap sari-sari makanan dari pokok pohon, mendapatkan hayat dari pokok pohon.

Karena hubungan antara kaum beriman dengan Kristus demikian, maka ketaatan Kristus menjadi ketaatan mereka; kematian Kristus menjadi kematian mereka; kebangkitan Kristus menjadi kebangkitan mereka; dan kemuliaan Kristus menjadi kemuliaan mereka. Segala sesuatu Kristus menjadi segala sesuatu mereka. Demikianlah eratnya hubungan antara Kristus dengan orang Kristen.

Jadi seorang Kristen adalah orang yang telah menerima hayat dari Kristus dan yang tinggal di dalam Kristus. Jika Anda ingin menemukan orang Kristen di luar Kristus, orang semacam itu pasti tidak ada. Paulus mengatakan bahwa ia ada di dalam Kristus. Dia tidak mengatakan dirinya adalah seorang manusia yang ada di dalam Kristus. Ketika kita ada di dalam Kristus, kita bukan lagi orang yang individual.