← Daftar isi Kristus dan Kekristenan · bab 4/4

KRISTUS MENJADI HAYAT (HIDUP) MANUSIA

Setiap agama memberikan sesuatu untuk kebaikan masyarakat. Setiap agama biasanya memiliki satu tujuan: memberi sesuatu kepada manusia atau membawa manusia kepada suatu Sasaran. Walaupun metode yang dipakai berbeda-beda, dan walaupun yang ditawarkan juga beragam, semuanya pasti menawarkan sesuatu. Percaya kepada Kristus tentu juga akan menerima sesuatu dari Kristus. Sekarang kita justru akan melihat, apa yang diberikan Kristus kepada manusia?

SUPAYA MANUSIA MENDAPATKAN KELAHIRAN KEMBALI

Yang akan kita lihat sekarang bukanlah sumbangan kekristenan kepada negara, pemerintah, dunia, dan masyarakat luas. Kita akan melihat satu perkara yang lebih mendasar, lebih penting dan lebih praktis. Yang diberikan-Nya kepada manusia adalah kelahiran kembali. Begitu kita percaya kepada-Nya, kita dilahirkan kembali. Kita harus mengakui bahwa dilahirkan kembali adalah satu hal yang besar dalam Alkitab. Tetapi di sini, kita hanya dapat melihat maknanya secara umum, apakah kelahiran kembali itu.

Kalau Anda membaca seluruh Alkitab dengan cermat, akan Anda temukan bahwa Alkitab sangat menekankan masalah hayat/kehidupan. Dalam banyak bagian, Alkitab menyinggung tentang hayat. Di bumi ini ada banyak hayat dengan ekspresi yang berbeda-beda. Setiap hayat memiliki ekspresinya yang khas. Anda dapat menentukan suatu hayat dari ekspresinya yang khas.

EKSPRESI BERANEKA MACAM HAYAT

Misalnya saja burung. Di sini ada seekor burung yang hidup, Anda tahu, burung ini berhayat karena ia hidup. Anda pun dapat menentukan ekspresi khas burung itu. Apakah ekspresinya? Seorang anak kecil pun tahu bahwa seekor burung dapat terbang. Terbangnya burung adalah ekspresi khas hayatnya. Pada hayat burung terdapat keistimewaan semacam itu. Begitu keistimewaan tersebut ternyata, burung itu pun terbang.

Lihat pula ikan. Ikan tidak hanya memiliki hayat, juga menyatakan ciri-ciri hayatnya dengan berenang di air.

Kalau kita bandingkan ikan dengan burung, kita dapat melihat bahwa walaupun keduanya berhayat, ekspresi hayat mereka masing-masing sangat berbeda. Burung hanya dapat terbang. Tidak mungkin seekor burung berenang seperti ikan. Demikian juga seekor ikan, dapat berenang dalam air, tetapi tidak bisa terbang seperti burung. Tidak mungkin Anda dapat mengajar seekor burung berenang seperti ikan; sekalipun Anda mati-matian mengajarinya, tetap tidak mungkin terjadi. Demikian juga, tidak mungkin Anda dapat mengajar seekor ikan terbang di udara. Hayat yang berbeda memiliki ekspresi yang berbeda. Ciri-ciri yang ditampilkan masing-masing hayat membuat kita mengenali mereka sebagai hayat yang berbeda.

Karena cara hidup suatu makhluk ditentukan oleh jenis hayat yang dimilikinya, maka masalah hayat bukanlah masalah pengajaran. Kalau hayatnya berbeda, diajar bagaimanapun, tetap tidak mungkin berubah. Kecuali hayat berubah, maka ekspresi hayatnya ikut berubah; kalau tidak ada perubahan hayat, maka ekspresi hayatnya juga tidak mungkin ada perubahan.

HAYAT BERUBAH, EKSPRESI HIDUP JUGA BERUBAH

Misalnya di sini ada orang yang sangat senang mengadakan penelitian terhadap binatang kecil. Ia sangat ingin membuat seekor burung berenang. Kalau dia mampu melatih seekor burung sampai dapat berenang seperti ikan, betapa baiknya ini. Kemudian ia mulai mengajar seekor burung kecil menyelam, bernafas dalam air, mengepak-ngepakkan sayapnya, dan melatih cakarnya dengan benar. Menurut Anda akan berhasilkah dia?

Atau misalnya ia meneruskan percobaannya dengan mengganti makanan burung itu, atau mengubah cara tidurnya, . . . dan sebagainya, agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di dalam air. Akan berhasilkah dia? Tidak! Doktrin dan teorinya mungkin benar, tetapi hayat burung berbeda dengan hayat ikan. Hayat burung dapat terbang dengan enak di udara, tetapi Anda tidak dapat menyuruhnya berenang di air.

Macam hayat menentukan macam ekspresinya. Itu adalah hukum, Anda tidak dapat mengubahnya. Kalau Anda berusaha mengubah ekspresi di luar tanpa mengubah hayatnya, Anda akan gagal total. Berdasarkan prinsip hukum ini, kita memiliki doktrin yang paling dasar dan paling penting dalam kepercayaan kita — dilahirkan kembali.

DILAHIRKAN KEMBALI ADALAH PENGGANTIAN HAYAT

Setiap ekspresi hidup kita sebagai manusia berdasar pada macam hayat yang kita miliki. Ekspresi hidup seseorang rusak, karena hayat yang dimilikinya rusak. Ingin mengubah ekspresi hidup manusia, haruslah mengubah hayatnya dulu. Kalau hayatnya berubah, ekspresinya pun akan berubah. Setelah hayat berubah, ekspresi pun tidak menjadi masalah. Kalau tidak, setiap usaha akan sia-sia seperti melatih seekor burung berenang atau mengajar ikan terbang. Dilahirkan kembali adalah untuk penggantian hayat. Yang Kristus bawakan kepada kita tidak hanya perubahan tingkah laku, tetapi supaya kita dilahirkan kembali, mendapat penggantian hayat.

Satu hal perlu kita akui bersama, yaitu hayat manusia yang kita miliki adalah hayat yang rusak dan jahat. Di satu pihak, kita mencela kejahatan di dunia dan kemerosotan moral di sekitar kita, tetapi di pihak lain, harus kita akui bahwa di dalam diri manusia kita juga jahat dan najis. Kita mengakui bahwa di mana-mana di dunia ini terdapat nafsu mengejar kekuasaan dan kedudukan, tetapi kita pun mengakui bahwa di dalam kita penuh dengan iri dan kesombongan. Kita mengakui bahwa tidak saja kita berdosa, bahkan penuh dosa, tidak akan habis dikatakan. Kita pun tahu bahwa dosa itu jijik, tidak memberikan damai kepada hati nurani kita. Kita pun ingin atau mencoba membereskan dosa dan melepaskan diri darinya. Penuhnya kita dengan dosa, adalah tanda nyata dari apa adanya hayat kita.

EKSPRESI HIDUP KITA ADALAH DOSA

Saya telah berkhotbah lebih dari 10 tahun, dan telah bertemu dengan banyak orang. Tetapi saya belum pernah bertemu dengan seorang yang mengaku dirinya tidak pernah berdosa. Di setiap tempat yang saya kunjungi, saya belum pernah bertemu dengan seorang yang mengatakan, satu dosa pun tidak pernah ia lakukan. Setiap orang mengakui, sedikit atau banyak hidupnya tidak benar dan berdosa. Semua orang mengakui bahwa hidupnya tidak benar, dan cara hidupnya juga tidak benar.

BUKAN MEMPERBAIKI DIRI TETAPI DILAHIRKAN KEMBALI

Berdasarkan hal tersebut di atas, manusia mulai memikirkan jalan untuk mengubah cara hidupnya supaya baik. Inilah tujuan agama-agama.

Persoalannya sekarang, dapatkah kita mengubah ekspresi dari suatu kehidupan? Memang benar manusia seharusnya bersih, manusia seharusnya bersopan santun, mematuhi hukum; dan berdasarkan inilah manusia diajar dan dihias. Tetapi apa tujuan pendidikan dan pembinaan semacam itu? Mungkin ia dapat sedikit diperbaiki secara luaran, tetapi dapatkah ia diubah secara batiniah? Kita tahu jelas bahwa bagian dalam batiniah mustahil diubah! Di sini saya tidak ingin membuka perdebatan dengan agama lain, saya hanya menyajikan ciri-ciri yang diberikan Kristus tersebut! Satu hal yang sangat penting dalam kepercayaan kita ialah, yang kita bicarakan bukanlah soal memperbaiki diri, melainkan dilahirkan kembali!

HAYAT YANG RUSAK TIDAK AKAN MENAMPILKAN

SESUATU YANG BAIK

Penekanan kita adalah bahwa manusia tidak hanya dalam penampilan hidupnya jahat, rusak, dan berdosa; hayat manusia sendiri memang rusak dan berdosa.

Orang paling tidak senang mendengar kata-kata semacam itu. Tetapi kita hanya dapat berterus terang. Manusia pada dasarnya ada masalah dalam hayatnya, pada dasarnya manusia itu rusak, karena itu manusia dapat berdosa. Banyak orang mengakui tingkah laku mereka buruk, tetapi tidak mau mengakui diri mereka tidak baik. Ada juga yang mengakui dirinya tidak baik, tetapi tidak sadar bahwa rusaknya itu sudah mencapai puncaknya. Manusia telah begitu rusak, dengan sendirinya tidak dapat menampilkan hidup yang baik.

Suatu hari, ketika saya di Kai Feng, saya berbicara dengan seseorang yang mengaku bahwa ia bersalah dalam satu hal. Setelah sejangka waktu, ia mengaku bahwa ia bersalah dalam hal lain lagi. Saya beri tahu dia terus terang bahwa persoalannya bukanlah dia melakukan sesuatu dengan benar atau salah; melainkan karena manusia Anda yang tidak benar. Bila manusianya tidak benar, maka pekerjaan yang dilakukannya juga tidak akan benar. Kalau Anda seekor ikan, tentu Anda tidak dapat terbang. Saya tidak dapat mencela Anda karena tidak dapat terbang, karena Anda seekor ikan. Bila seseorang tidak baik, ekspresi hidupnya tentu tidak baik pula. Ini sepenuhnya soal hayat, bukan hanya soal penampilan di luaran. Manusia jahat, bukan karena di luarnya jahat, melainkan dalam manusia memang jahat.

TIDAK ADA GUNANYA DIPERBAIKI SECARA LUARAN

Karena manusia rusak di dalamnya, tidaklah berguna mengoreksinya secara luaran.

Saya mempunyai seorang teman. Suatu kali ia pulang dari Nanking. Sewaktu kereta api berhenti di stasiun Wu Shih, ia membeli beberapa boneka untuk anak perempuannya yang masih kecil. Boneka-boneka itu terbuat dari tanah liat. Luarnya dicat, dan dihias dengan indah aneka warna. Anak perempuannya berumur kira-kira 7 tahun. Ketika ia mendapat mainan tersebut, ia sangat gembira. Segera ia berperan sebagai ibu, memeluk bonekanya, menimang-nimangnya dan menidurkannya. Pada waktu makan, ia memberinya makan. Dengan tangannya ia menyuapkan nasi ke dalam boneka itu, sambil berkata, “Mengapa engkau tidak mau makan?” Celaka! Wajah boneka itu penuh dengan lemak dan nasi! Anak perempuan itu segera mengambil air dan handuk, menyeka wajah boneka itu untuk dibersihkan. Tetapi sayang sekali, ketika ia selesai menyeka sebagian wajah boneka itu, terlihatlah satu noda hitam. Semakin diseka semakin banyak noda hitam itu. Setelah menyeka sejangka waktu, hidung, mata, dan telinga boneka itu hilang. Anak perempuan itu mulai menangis. Ia tidak berdaya! Ayahnya berkata kepadanya, “Buanglah boneka itu, akan kuberi boneka yang baru untukmu.” Boneka tanah liat memang tidak boleh dicuci.

SATU-SATUNYA CARA — PENGGANTIAN HAYAT

Saya ada di sana ketika hal itu terjadi. Saya pikir, berusaha memperbaiki tingkah laku manusia, sepertilah membersihkan wajah boneka tanah itu. Kita mengira kalau kita tidak lagi menunjukkan sikap sombong, tidak lagi berbohong, berperilaku dengan lebih tertib, kita akan menjadi orang yang baik. Inilah konsepsi manusia kita. Allah mengatakan bahwa kebobrokan luaran manusia disebabkan oleh kebobrokan hayat yang di dalam. Satu-satunya penyelesaiannya adalah mengganti hayat secara menyeluruh. Mengakui bahwa hayat manusia itu rusak, jahat, tidak dapat diubah, harus diganti dengan yang baru, merupakan dasar penting dalam kepercayaan kristiani kita.

APA YANG DIPIKIRKAN HATI MANUSIA ADALAH JAHAT

Suatu hari saya berjalan-jalan dengan seorang kawan di Shanghai. Kawan saya itu sangat aktif pikirannya. Ia berkata, “Sayang, kita tidak dapat melihat hati orang. Tidakkah menyenangkan jika saya dapat melihat apa yang dipikirkan orang ini, atau apa yang direnungkan orang itu? Sungguh sayang, kita tidak dapat melihat hati mereka.”

Saya berkata, “Kita tidak bisa melihat hati orang, menurut saya, tidak ada yang patut disayangkan, malah sebaliknya menggembirakan karena tidak dapat melihatnya. Karena apa yang dipikirkan oleh manusia, tidak perlu kita terka, pastilah penuh kedosaan. Yang ada di pikiran manusia tidak lain bagaimana bisa mengambil barang itu, bagaimana kali ini bisa mengelabuinya, atau bahkan mencelakakannya. Tidak ada pikiran yang baik yang dapat Anda lihat. Semua pikiran itu tidak berani dibeberkan di depan umum, harus dirahasiakan. Untunglah hati kita terselubung oleh tulang dan kulit, sehingga Anda tidak dapat melihatnya. Kalau Anda dapat melihatnya dengan jelas, Anda pasti segera lari menyembunyikan diri darinya.”

PERLU DILAHIRKAN KEMBALI

Sebab itu keselamatan manusia tidak dapat dimulai dari luar, harus dimulai dari dalam. Maka manusia perlu dilahirkan kembali. Dilahirkan kembali berarti membuang hayat yang bobrok, yang kotor milik Anda dan menggantinya dengan hayat yang baru. Itu sama dengan mengganti hayat ikan dengan hayat burung. Kalau sudah diganti, tidak perlu mengajar ikan itu terbang, ia akan terbang sendiri. Saat ini kita tidak akan membicarakan cara dilahirkan kembali, kita ingin tahu apa itu dilahirkan kembali. Membuang hayat dosa dan menggantinya dengan hayat kudus, itulah keselamatan kita.

RUSAK DARI DALAM

Beberapa tahun yang lalu, saya memberitakan Injil di Amoy. Suatu hari saya berkhotbah bersama sekerja lain bermarga Wang di salah satu desa. Ketika kembali, waktu itu telah larut malam, kami merasa sangat haus. Semua toko di sepanjang jalan sudah tutup, dan tidak ada tempat yang menyediakan air untuk diminum. Ketika sampai di ujung desa, kami melihat warung kecil yang masih terbuka pintunya. Dengan sangat gembira kami membeli dua buah pear besar, khusus memilih yang besar, bersih, tidak ada lubang atau cacatnya di luar. Kami membelinya dan memakannya sambil meneruskan perjalanan. Sejenak kemudian, kami merasakan keganjilan pada rasa buah itu. Begitu kami memeriksa buah itu di bawah lampu, ternyata bagian dalamnya berulat. terpaksa kami harus membersihkan ulat-ulat itu dulu, baru memakan sisa buah itu.

Saya berkata kepada saudara Wang, “Kulit buah pear itu kelihatannya mengkilap, tanpa lubang sedikit pun. Tahukah Anda bagaimana ulat itu masuk ke dalam buah pear itu? Saya beri tahu Anda. Ketika pohon pear berbunga, ulat-ulat sudah meletakkan telur mereka di dalam inti bunga pear. Ketika bunga-bunga itu mulai terbentuk menjadi buah, telur-telur ulat menetas dan tumbuh di dalamnya. Dari luar, buah pear itu kelihatannya baik, tetapi di dalamnya penuh dengan ulat.” Kejadian ini tepat dengan yang kita bicarakan. Kejahatan manusia tidak hanya dalam sikap mereka, karena pada dasarnya manusia memang bobrok dalam hayatnya. Cara penyelamatan Kristus bukanlah mengubah tingkah laku di luar, tetapi penggantian hayat batini Anda.

MEMBARA DI DALAM

Saya kenal seorang nyonya yang sangat ramah, ia tidak pernah marah, senyum selalu menghiasi bibirnya. Suatu hari, ketika kemenakan perempuannya menjenguknya, datang pula seorang yang dengan tanpa alasan memakinya dan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar, sangat keterlaluan. Tetapi ia tidak menjawab sepatah pun, tetap ditanggapi dengan senyum. Setelah orang itu pergi, kemenakan perempuannya dengan kagum berkata, “Bibi, saya benar-benar kagum melihat betapa Anda bisa demikian sabar, sedikit pun tidak emosi. Kalau saya jadi bibi, saya pasti langsung emosi, setidak-tidaknya saya akan membalasnya.” Bibinya berkata, “Tidak, jangan mengira saya tidak emosi. Saya sangat marah, hanya saja di dalam, saya telah belajar memupuk kesabaran, tetapi bukan berarti di dalamku tidak emosi dan marah.”

Persoalannya bukanlah meluapkan emosi atau tidak, melainkan di dalamnya ada atau tidak. Oh, di dalam kita benar-benar ada hal ini, bahkan apa pun ada! Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa alamiah manusia ini penuh dengan dosa. Kalau menusia berbuat dosa, itu terjadi dengan sendirinya, tidaklah mengherankan. Manusia berdosa menunjukkan kesamaan antara lahir dan batin manusia; bagi manusia, itu adalah konsekuensi yang paling wajar. Hayat insani kita terbelenggu dan selalu dikendalikan oleh tubuh daging, dunia, dan dosa.

BENIH DOSA DI DALAM MANUSIA

Beberapa orang mungkin kelihatannya baik. Mereka memiliki moral yang tinggi, dan standar tingkah laku yang pantas. Nampaknya mereka memiliki hayat yang lebih baik. Tetapi semua kebaikan luaran itu hanyalah satu pengendalian, sama seperti kuda yang terikat erat oleh tali kekangnya. Begitu kendur sedikit, segeralah timbul penyakitnya. Izinkan saya berkata sejujurnya: setiap laki-laki bisa menjadi penjahat/ bajingan, dan setiap orang yang baik dapat melakukan perkara yang tidak terhormat. Setiap orang, begitu lengah sedikit, segala jenis dosa bisa dilakukannya. Ada benih dosa di dalam manusia. Tidaklah mengherankan bila manusia berbuat dosa.

Tidak seorang pun perlu berpikir dulu, baru marah. Sebaliknya ia perlu mengeluarkan tenaga untuk menekan amarahnya. Tidak pernah ada orang yang menulis dalam catatan hariannya, “Sejak 10 Februari tahun ini, saya bertekad untuk marah sekali sehari. Kalau saya lupa, saya akan menghukum diri saya sendiri!” Hanya kesabaran yang memerlukan tekad! Berbuat jahat sangatlah biasa, tidak memerlukan tekad. Berbuat baik, barulah perlu tekad.

DOSA ADALAH SIFAT BAWAAN

Saya tidur di sebuah ruang kecil tepat di luar pintu. Dalam keadaan ruangan terang benderang, saya tidak akan dapat tidur. Kalau saya ingin tidur, yang perlu saya lakukan adalah menutup pintu, maka terang itu pun akan tersekat bagi saya. Kegelapan adalah keadaan bawaan ruangan itu, terang adalah unsur luaran. Yang dapat saya lakukan adalah menutup diri terhadap terang yang dari luar, tetapi saya tidak dapat mengenyahkan kegelapan bawaan yang di dalam. Anda tidak dapat menutup pintu terhadap sesuatu yang alamiah. Pintu Anda dapat Anda tutup terhadap tidak berbuat dosa. Tetapi Anda tidak mungkin menutup pintu terhadap berbuat dosa. Karena hayat yang kita miliki rusak, maka ekspresinya dalam hidup kita pun rusak.

Cara penyelamatan Allah ialah melahirkan kita kembali, sehingga kita mengalami penggantian hayat. Hayat baru itu adalah hayat Allah sendiri. Dilahirkan kembali tidak lain adalah menerima hayat Allah. Artinya, sejak kini seluruh diriku tersingkir, dan Allah hidup di dalamku. Aku hidup, bukan lagi manusiaku yang hidup, melainkan aku menempuh hidup yang mengalami Allah. Saya tidak pernah menganjuri orang untuk berbuat baik. Itu tidak akan ada gunanya sekalipun saya melakukannya siang malam. Dengan tidak sungkan saya katakan, tidak mungkin menyuruh manusia menempuh hidup yang menampilkan Allah, kecuali hayat Allah masuk ke dalamnya, barulah manusia bisa menampilkan Allah. Mendapatkan hayat Allah adalah dilahirkan kembali; dan setelah dilahirkan kembali, barulah ada perubahan perilaku di luaran.

ORANG YANG TELAH DILAHIRKAN KEMBALI

Kita masih perlu melihat Alkitab, untuk memahami perkara dilahirkan kembali. 1 Korintus 2:14, “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” Seorang yang belum dilahirkan kembali adalah orang yang hidup menurut tubuh dagingnya. Ia tidak hanya tidak dapat mengerti perkara-perkara Allah, bahkan menganggapnya suatu kebodohan. Ia tidak dapat memahaminya sekalipun ia menginginkannya, karena ia tidak memiliki sarana pemahaman. Tanpa dilahirkan kembali, Anda tidak akan memiliki hayat itu, dan akibatnya, Anda tidak memiliki daya pemahaman.

Roma 8:5-8 mengatakan, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”

Ayat-ayat di atas menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa ada orang-orang yang memikirkan hal-hal daging dan hidup menurut daging. Mereka berada di bawah kendali daging dan menentang Allah, mereka tidak mungkin tunduk kepada hukum Allah, sekalipun mereka ingin, mereka tetap tidak bisa, Lebih-lebih tidak bisa diperkenan oleh Allah. Tetapi orang yang dilahirkan kembali adalah orang yang mengikuti Roh Kudus dan menikmati hidup dan damai sejahtera. Perbedaan di antara keduanya terletak pada adanya penggantian hayat atau tidak.

DILAHIRKAN DARI ROH

Yohanes 3:3 mengatakan, “Yesus menjawab, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.’” Kalau seseorang hanya memiliki hayat alamiah, yaitu hayat yang dimilikinya sejak semula sebagai manusia, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah! Apakah Kerajaan Allah? Roma 14:17 mengatakan, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.” Kerajaan Allah adalah soal hal-hal rohani ini: kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. Semua itu ada di dalam Roh Kudus. Tanpa dilahirkan kembali, hal-hal tersebut tidak dapat dipahami dan mustahil terlihat olehnya. Kalau seseorang ingin melihat hal-hal tersebut, ia harus dilahirkan kembali.

GARIS PEMISAH HAYAT

Yohanes 3:6 mengatakan, “Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani.” Kristus Yesus memberi kita garis pemisah yang sangat jelas. Yang lahir dari Roh mutlak berbeda dari yang lahir dari daging. Ia datang tidak untuk memperbaiki daging manusia. Yang lahir dari daging tetap daging. Tidak peduli bagaimana Anda mengubahnya, tetap saja daging. Tidak ada cara lain selain dilahirkan dari Roh. Yang lahir dari Roh adalah roh.

Dilahirkan kembali juga bukan menganggap “segala yang lampau sudah berlalu, kemarin sudah mati; dan segala yang akan datang dilahirkan pada hari ini.” Tidak ada hal semacam itu! Kalau tidak ada penggantian hayat, sekalipun Anda dilahirkan berkali-kali hari ini, Anda masih tetap daging. Tetap tidak ada kelahiran ulang. Di antara kedua hayat itu terdapat celah lebar yang tidak terseberangi. Hanya yang lahir dari Roh adalah roh.

Saya hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah Anda memperbaiki hidup Anda? Atau sudahkah Anda menerima hayat Allah? Sekarang apakah Anda sedang memperbaiki diri, atau Anda siap menerima hayat Allah? Kepercayaan sejati terhadap Kristus adalah membuat manusia mendapatkan hayat Allah. Kristus justru ingin memberikan hayat ini kepada manusia. Kalau Anda menerimanya, Anda adalah orang yang dilahirkan kembali, dan Anda akan mampu menempuh hidup yang menyatakan hayat Allah di bumi.

Berbahagialah orang yang hilang harapan terhadap hayat mereka sendiri, karena telah ada hayat Allah tersedia bagi mereka. Terhadap orang yang puas dengan hayat mereka sendiri, Kristus tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak pernah membantu Anda memperbaiki hayat Anda sendiri. Yang Allah inginkan adalah Anda dilahirkan kembali dan mengganti hayat Anda. Itulah cara penyelamatan Kristus.