← Daftar isi Ibrani (3) · bab 9/18

KURBAN KRISTUS MENGGANTIKAN DAN MENGAKHIRI KURBAN PERJANJIAN YANG LAMA

Kitab Ibrani sering memberi tahu kita bahwa Kristus telah membereskan dosa sekali untuk selama-lamanya (1:3; 2:17; 7:27; 9:26; 10:12). Memang perlu disebutkan secara berulang-ulang fakta Kristus telah menghapuskan dosa melalui kurban-Nya sendiri, sebab sejak dulu tradisi orang Yahudi sangat besar pengaruhnya. Orang Yahudi hanya tahu pergi ke mezbah dan mempersembahkan kurban karena dosa; mereka mempersembahkan kurban karena dosa setiap hari, juga mempersembahkannya setahun sekali pada hari penebusan dosa. Jadi, pikiran orang Yahudi kuno penuh dengan kurban penghapus dosa. Berhubung demikian kuatnya tradisi orang Yahudi terhadap masalah kurban penghapus dosa, maka setelah membahas penggenapan kurban penghapus dosa dalam pasal 7, 8, dan 9, penulis memberikan kesimpulan lebih lanjut dalam Ibrani 10:1-18.

Maksud utama dari kesimpulan tambahan ini ialah menghendaki orang Kristen Ibrani sadar bahwa kurban yang dipersembahkan para imam suku Lewi tidak ada satu pun yang dapat menghapuskan dosa atau menyempurnakan penyembah-penyembahnya. Bahkan kitab Perjanjian Lama mereka, Yesaya 53:10 dan 12 telah menubuatkan bahwa Kristus akan datang menjadi kurban karena dosa. Ini berarti Ia akan menggantikan dan mengakhiri kurban-kurban suku Lewi. Karena Kristus, kurban yang satu-satunya ini, telah melakukannya, maka bodoh sekali bila kaum beriman Ibrani kembali ke Bait Suci dan mempersembahkan lagi kurban karena dosa. Dosa sudah dilenyapkan dan telah menjadi sejarah. Karena itu, Ibrani 10:18, berbicara mengenai dosa-dosa dan pelanggaran, mengatakan, “Jadi, apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan kurban karena dosa.” Kesimpulan ini sangat logis.

Dalam ekonomi Allah, Kristus telah melakukan dua hal utama: menghapus dosa yang menghalangi kehendak kekal Allah, dan menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat ilahi, yang bekerja di dalam kita dan menyebar ke seluruh bagian batiniah kita. Pikiran utama dalam Ibrani 10:1-18 ialah Kristus telah menghapuskan dosa, menggenapkan hal yang tidak dapat dilakukan oleh kurban suku Lewi. Sesudah menghapuskan dosa sekali untuk selama-lamanya, kini Kristus menyalurkan diri-Nya ke dalam kita sebagai hayat, agar melalui pekerjaan hayat ilahi ini kita dapat menjadi reproduksi korporat diri-Nya.

I. HUKUM TAURAT ADALAH BAYANGAN DARI HAL-HAL BAIK YANG AKAN DATANG

Hukum Taurat Perjanjian Lama bukan realitas, melainkan bayangan dari hal-hal baik yang akan datang (10:1). Hal-hal baik yang akan datang mengacu kepada apa adanya Kristus dan apa yang dilakukan Kristus. Segenap hukum Taurat tidak dapat merampungkan apa-apa. Hanya Kristus, realitas setiap bayangan dalam Perjanjian Lama, yang menggenapkan segala sesuatu bagi ekonomi Allah.

II. DENGAN KURBAN YANG SAMA YANG SETIAP

TAHUN TERUS-MENERUS DIPERSEMBAHKAN,

HUKUM TAURAT TIDAK MUNGKIN

MENYEMPURNAKAN ORANG-ORANG

YANG BERIBADAH

Hukum Taurat, dengan kurban yang sama yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, tidak mungkin menyempurnakan orang-orang yang datang beribadah kepada Allah (10:1-2). Kurban-kurban yang dipersembahkan menurut hukum Taurat tidak dapat menyucikan hati nurani orang yang memberi persembahan. Bagaimanapun seringnya mereka mempersembahkan kurban yang sama itu karena dosa, hati nurani mereka tetap tidak beroleh damai sejahtera dan tidak mungkin menjadi sempurna di hadapan Allah.

III. KURBAN HUKUM TAURAT MENGINGATKAN

ADANYA DOSA DARI TAHUN KE TAHUN

Kurban-kurban yang dipersembahkan menurut hukum Taurat tidak dapat menghapuskan dosa-dosa, malahan mengingatkan orang akan adanya dosa. Setiap tahun, bila hari penebusan dosa tiba, orang Yahudi diingatkan akan dosa-dosa mereka. Maksud Allah dalam kurban-kurban bayangan ini hanyalah mengingatkan orang Yahudi bahwa mereka berdosa dan membutuhkan Kristus, Mesias, untuk menghapuskan dosa-dosa mereka. Maka Allah bermaksud supaya setiap kali mereka mempersembahkan kurban, mereka harus memandang kepada Kristus. Kurban hukum Taurat hanya mengingatkan mereka akan dosa-dosa mereka, tetapi tidak dapat menghapuskannya.

IV. DARAH BINATANG MUSTAHIL

MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA

Karena kurban hukum Taurat adalah bayangan, bukan realitas, maka darah binatang mustahil menghapuskan dosa-dosa (10:4). Hanya darah adi Kristus, kurban penghapus dosa yang sejati, baru dapat menghapuskan dosa-dosa. Karena itu, betapa sia-sianya, bila orang Kristen Ibrani kembali ke agama Yahudi dan mempersembahkan kurban penghapus dosa lagi.

V. KRISTUS TELAH DATANG, DENGAN TUBUH

MENGGANTIKAN KURBAN HUKUM TAURAT

Semua kurban yang dipersembahkan menurut hukum Taurat ialah bayang-bayang Kristus. Ketika waktunya telah genap, Kristus datang dengan tubuh yang berdarah dan berdaging, menggantikan kurban hukum Taurat. Ia telah mempersembahkan diri-Nya kepada Allah sekali untuk selama-lamanya bagi penghapusan dosa-dosa. Ayat 7, 9, dan 10 memberi tahu kita bahwa kehendak Allah adalah untuk menghapuskan yang pertama, yaitu kurban-kurban hewan dari perjanjian yang lama, sehingga yang kedua, yaitu kurban Kristus dari wasiat yang baru dapat ditetapkan. Jadi, sangat bodohlah bila kaum beriman Ibrani kembali mempersembahkan kurban binatang, yang telah digantikan oleh Kristus.

VI. KITA TELAH DIKUDUSKAN SATU KALI

UNTUK SELAMA-LAMANYA OLEH PERSEMBAHAN TUBUH KRISTUS

Sebagai kurban penghapus dosa yang sejati, Kristus telah menghapuskan dosa-dosa kita. Ia juga telah menguduskan kita melalui mempersembahkan tubuh-Nya satu kali untuk selama-lamanya (10:10). Dosa telah memisahkan kita dari Allah, tetapi Kristus, melalui penebusan-Nya, telah memisahkan kita dari dosa, dan membawa kita kembali kepada Allah. Ini berarti menguduskan kita bagi Allah. Kristus telah menguduskan kita satu kali untuk selama-lamanya.

VII. PARA IMAM HUKUM TAURAT TIAP HARI

MEMPERSEMBAHKAN KURBAN YANG SAMA,

YANG SAMA SEKALI TAK DAPAT

MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA

Ayat 11 mengatakan, “Setiap imam melakukan pelayanannya tiap-tiap hari dan berulang-ulang mempersembahkan kurban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.” Imam-imam dalam perjanjian yang lama setiap hari berdiri dan berulang-ulang mempersembahkan kurban yang sama, karena apa yang mereka persembahkan tidak pernah dapat menghapuskan dosa-dosa. Berdirinya mereka merupakan tanda bahwa penghapusan dosa-dosa belum rampung. Hanya persembahan diri Kristus sebagai kurban, yang merampungkan penghapusan dosa-dosa.

VIII. SETELAH MEMPERSEMBAHKAN SATU

KURBAN KARENA DOSA, KRISTUS DUDUK

DI SEBELAH KANAN ALLAH SELAMA-LAMANYA

Imam-imam dalam perjanjian yang lama setiap hari berdiri dan berulang-ulang mempersembahkan kurban-kurban yang sama, tetapi Kristus telah menghapuskan dosa (9:26) dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai satu kurban bagi dosa-dosa. Seperti dikatakan dalam ayat 12, “Kristus duduk untuk selama-lamanya di se-belah kanan Allah.” Dia duduk di surga adalah suatu tanda dan bukti bahwa penghapusan dosa telah dirampungkan. Dia duduk di sana untuk selama-lamanya. Jadi, Dia tidak perlu melakukan apa-apa lagi untuk dosa. Dia telah melakukannya satu kali untuk selama-lamanya. Dia duduk untuk selama-lamanya setelah mempersembahkan satu kurban bagi dosa-dosa, ini berlawanan dengan imam-imam yang setiap hari berdiri, untuk berulang-ulang mempersembahkan kurban-kurban yang sama.

IX. OLEH SATU KURBAN SAJA,

IA TELAH MENYEMPURNAKAN UNTUK

SELAMA-LAMANYA MEREKA YANG DIKUDUSKAN

Ayat 14 mengatakan, “Sebab oleh satu kurban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang dikuduskan.” Walaupun kurban-kurban lainnya tidak dapat menyempurnakan orang, tetapi Kristus, kurban yang unik ini dapat menyempurnakan kita untuk selama-lamanya. Melalui kurban-Nya, Kristus tidak hanya menguduskan kita sekali untuk selama-lamanya, tetapi juga menyempurnakan kita selama-lamanya. Melalui kurban Kristus yang satu ini, kita tidak saja telah dipisahkan dari dosa dan di-bawa kembali kepada Allah, tetapi juga telah disempurna-kan di hadapan-Nya.

X. ROH KUDUS BERSAKSI BAHWA DOSA-DOSA

DAN PELANGGARAN KITA TELAH DIAMPUNI

Pada butir ini kita perlu membaca Ibrani 10:15-17, “Dan Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah Ia berfirman, ‘Inilah perjanjian yang akan Ku adakan dengan mereka sesudah hari-hari itu,’ firman Tuhan lagi, ‘Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran mereka.’” Dalam bagian firman ini, penulis berusaha sekuatnya membuktikan kepada kaum beriman Ibrani bahwa persembahan kurban karena dosa sudah tidak diperlukan, sebab Kristus telah merampungkan penghapusan dosa-dosa, dan masalah dosa telah usai. Kini ia menekankan fakta ini, menampilkan hukum hayat batiniah dalam pasal 8 dengan mengutip Yeremia 31:33-34, menunjukkan bahwa Roh Kudus pun bersaksi tentang hal ini. Dalam Yeremia 31:33-34, setelah Roh Kudus mengatakan bahwa Allah akan menaruh hukum-Nya di dalam hati kita, selanjutnya dikatakan bahwa Allah tidak lagi mengingat dosa-dosa kita. Ini membuktikan Roh Kudus mempersaksikan bahwa dosa kita telah disingkirkan dan masalah dosa telah beres. Nubuat tentang Kristus menanggung dosa-dosa kita bukan hanya terdapat dalam Yesaya 53:6, 11-12, juga dipersaksikan oleh Roh Kudus dalam Yeremia 31, bahwa dosa-dosa kita akan dihapuskan dan Allah tidak lagi mengingat dosa-dosa kita.

Menurut pengertian alamiah kita tentang perjanjian yang baru, kita mengira pengampunan dosa-dosa merupakan hal pertama dalam perjanjian yang baru. Namun, sebenarnya itu adalah yang terakhir, bahkan merupakan tambahan. Perjanjian baru terutama membicarakan tiga hal: hukum hayat yang tertulis dalam hati kita; Allah menjadi Allah kita, kita menjadi umat-Nya; dan kecakapan batiniah untuk mengenal Allah. Ketiga hal ini bersifat kekal. Tetapi ada beberapa saudara saudari yang masih mengingat-ingat dosa-dosa mereka, mereka bertanya, “Bagaimana dengan dosa-dosa kami?” Mereka perlu diberi tahu dengan penjelasan tambahan, yakni jangan khawatir terhadap dosa-dosa, sebab segala dosa telah dihapuskan oleh kurban Kristus, dan Allah tidak akan mengingat lagi dosa-dosa mereka. Karena itu dalam pasal 10, setelah mengulangi masalah hukum hayat batiniah, yakni hal utama dalam perjanjian yang baru yang dikatakan dalam pasal 8, Roh Kudus lalu berkata bahwa Tuhan tidak lagi mengingat dosa-dosa dan pelanggaran kita. Kalau Tuhan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita, kita pun tidak perlu lagi mengingatnya. Akan tetapi sungguh sukar kita untuk melupakan dosa-dosa kita. Walaupun Allah telah mengampuni dan melupakan dosa-dosa kita, dan walaupun kita sudah tahu dosa-dosa kita telah diampuni, kita tidak berdaya melupakannya. Jadi ingatan kita terhadap dosa-dosa kita itu masih saja tersembunyi dalam diri kita.

Apa artinya Allah melupakan dosa-dosa kita? Ini berarti Ia menganggap kita seolah-olah tidak pernah berdosa. Sejak Anda percaya Tuhan Yesus, pernahkah Anda menganggap diri Anda tidak berdosa? Tiap kali kita datang kepada Allah dan berkata, “Ya Bapa, aku ingin mengakui dosa-dosaku,” Ia mungkin menjawab, “Apa yang kaukatakan? Bukankah kamu anak-Ku? Tidak seorang pun di antara anak-anakKu yang pernah berdosa.” Mengampuni dosa-dosa berarti melupakan dosa-dosa, yaitu menganggap seperti tidak pernah ada dosa. Allah bukan hanya mengampuni dosa-dosa kita, bahkan tidak lagi mengingat dosa-dosa kita. Dosa-dosa kita tidak saja telah terhapus dalam pemerintahan-Nya, tetapi juga telah lenyap dari ingatan-Nya. Bapa akan berkata dalam kekekalan, “Aku mempunyai banyak anak yang tidak pernah berdosa. Dalam ingatan ilahi-Ku, tidak ada sesuatu yang seperti dosa.” Hanya Allah yang bisa melupakan secara demikian. Semakin kita mencoba melupakan dosa-dosa, kita makin teringat akan dosa-dosa itu. Boleh jadi Anda masih ingat saat-saat Anda mencuri uang ayah Anda. Walau kita masih ingat hal itu, kalau kita datang kepada Bapa dan menanyakannya, kita akan menemukan bahwa Allah telah melupakannya sejak dulu. Haleluya! Tahukah Anda bahwa kita semua telah mengambil bagian dalam pengampunan yang ajaib ini? Alangkah indahnya hal ini! Namun itu hanya hal tambahan dari ketiga hal utama dalam perjanjian yang baru; yang terpenting ialah hukum hayat. Allah menjadi Allah kita, dan kita yang menjadi umat-Nya ini memiliki kecakapan batiniah untuk mengenal Allah. Mulai sekarang dan seterusnya, hendaklah kita melupakan dosa dan tidak lagi membicarakannya. Bila ada gereja lokal yang masih membincangkan masalah dosa berarti mereka masih ketinggalan zaman. Kita seharusnya tidak menjadi gereja yang mempersoalkan dosa, tetapi harus menjadi gereja yang membicarakan hukum hayat. Dosa telah menjadi sejarah, namun hayat ada di sini. Kita sekarang mempunyai hukum hayat di dalam batin kita.

XI. TIDAK LAGI MEMPERSEMBAHKAN

KURBAN KARENA DOSA

Karena Kristus telah menggenapkan kurban karena dosa dan telah mengakhirinya, maka tidak ada kurban lagi karena dosa (10:18). Ini tidak berarti tidak ada pengampunan lagi, seperti yang disalahartikan sebagian orang Kristen atas ayat ini, yakni jika kita berdosa setelah beroleh selamat, tidak ada lagi kurban untuk dosa kita dan kita tidak akan diampuni lagi. Tidak, ayat ini berarti karena Kristus telah merampungkan kurban karena dosa sekali untuk se-lama-lamanya, dan telah mengakhirinya, maka tidak perlu lagi mempersembahkan kurban karena dosa. Ini merupakan kata-kata yang berat bagi orang Kristen Ibrani di masa itu, yang ingin kembali kepada kebiasaan usang mereka, yaitu mempersembahkan kurban karena dosa. Mereka harus mengetahui bahwa persembahan karena dosa telah dirampungkan dan diakhiri oleh Kristus. Mereka tidak seharusnya kembali kepada bayangan kurban binatang, tetapi harus maju ke depan mengambil bagian dalam Kristus yang telah bangkit dan menikmati segala sesuatu yang telah dirampungkan-Nya bagi mereka melalui persembahan diri-Nya sendiri kepada Allah.

Hari ini kita pun perlu nampak bahwa dosa-dosa kita telah dihapuskan oleh kematian Kristus, dan masalah dosa telah dibereskan sekali untuk selama-lamanya. Karena dosa telah berlalu dan telah menjadi sejarah, kita tidak perlu lagi diganggu olehnya. Kita harus mengalihkan perhatian kita dari Kristus yang disalibkan kepada Kristus yang di surga. Kita harus menikmati Kristus yang surgawi sebagai hayat dan segala keperluan kita dalam mengikuti Dia dan menempuh perlombaan surgawi. Ketika kita menikmati Kristus yang surgawi ini, barulah kita benar-benar berada di bawah perjanjian baru, beroleh bagian dalam setiap warisan dari wasiat baru itu. Inilah yang menjadi tujuan Surat Ibrani.