← Daftar isi Ibrani (3) · bab 10/18

MAJU KE TEMPAT MAHA KUDUS DAN JANGAN BERBALIK KE AGAMA YAHUDI

Dalam berita ini kita tiba pada bagian yang sangat khidmat dan serius dari Surat Ibrani (10:19-39). Pasal 7, 8, 9, dan 18 ayat pertama dari pasal 10 sangat menggirangkan kita. Tetapi, mulai 10:19 penulis mengetengahkan peringatan lain. Banyak orang Kristen tidak mengerti makna yang terkandung dalam peringatan ini. Dalam berita ini kita akan melihat masalah ini sejelas-jelasnya.

Peringatan ini, peringatan keempat dalam Surat Ibrani, memperingatkan kita untuk maju ke tempat maha kudus, dan jangan berbalik ke agama Yahudi. Dalam pasal 9 kita telah nampak dua kemah yang menyimbolkan dua perjanjian dan dua zaman. Di sini ada bahaya, yakni kita tidak mau maju ke kemah kedua, tetapi berbalik ke kemah pertama. Kita seharusnya meninggalkan kemah pertama, perjanjian yang pertama, zaman yang pertama, dan maju ke kemah kedua, ke zaman kedua. Kita harus pergi ke tempat maha kudus, masuk ke zaman perjanjian yang baru, dan hidup dalam zaman yang baru. Setelah memberikan suatu gambaran lengkap dari hal-hal ini, penulis menjadi sangat prihatin kalau-kalau kaum beriman Ibrani enggan maju terus. Karena itu ia memberi peringatan kepada mereka, memberi tahu mereka bahaya dari berbalik ke agama Yahudi dan enggan maju ke dalam perjanjian yang baru. Ia seolah-olah berkata, “Hai kaum beriman Ibrani, majulah ke depan dari tempat kalian bimbang. Jika kalian enggan maju, kalian akan menghadapi bahaya berbalik ke belakang.” Maju ke depan sangat berlawanan dengan berbalik ke belakang! Berbalik ke belakang adalah hal yang mengerikan! Berhubung berbalik ke belakang adalah hal yang demikian mengerikan, maka kita seyogianya menanggapi peringatan keempat ini dengan sangat khidmat.

Pertama, kita harus memperhatikan ungkapan “maju ke (depan)”. Ungkapan ini dipakai empat kali dalam Surat Ibrani berkenaan dengan tiga hal. Ibrani 4:16 memberi tahu kita untuk menghampiri takhta anugerah; Ibrani 7:25 dan 11:6 memberi tahu kita untuk datang kepada (berpaling kepada) Allah; dan dalam 10:22 memberi tahu kita untuk menghampiri tempat maha kudus (LAI: menghadap Allah). Dalam bahasa aslinya, tidak ada kata-kata “tempat maha kudus” dalam 10:22. Namun bila kita meneliti konteks mulai ayat 19, kita pasti mengetahui bahwa yang dimaksud ialah maju ke tempat maha kudus. Setelah mempelajari lebih lanjut, saya dapat menarik kesimpulan bahwa terjemahan terbaik dari istilah Yunani ini seharusnya bukan “datang”, “menghampiri”, “berpaling”, maupun “menghadap”, tetapi “maju ke (depan)”. Kita harus maju ke tempat maha kudus, ke takhta anugerah, dan ke hadirat Allah sendiri.

Allah berada di atas takhta anugerah, sedangkan takhta anugerah berada dalam tempat maha kudus. Inilah pemandangan dari zaman perjanjian yang baru. Di mana pun kita berada, kita harus maju ke tempat maha kudus, ke takhta anugerah dan ke hadirat Allah. Bila kita berbuat demikian, berarti kita memasuki zaman yang baru, ekonomi baru, penyaluran baru, dan administrasi baru, yang di dalam dan melaluinya kehendak Allah dapat digenapkan. Kehendak kekal Allah hanya dapat tercapai dengan duduknya Allah di atas takhta anugerah dalam tempat maha kudus di dalam zaman perjanjian yang baru ini. Maju ke depan bukan hanya suatu hal untuk keselamatan kita, atau pemuliaan kita, tetapi juga untuk penggenapan kehendak kekal Allah. Bagi kita beroleh selamat atau beroleh kemuliaan ialah hal kecil, namun tergenapnya kehendak kekal Allah adalah hal yang besar. Syukur kepada Allah, karena Ia telah mencakupkan kita dalam hal ini. Majunya kita dan kenikmatan kita atas perjanjian baru sepenuhnya untuk Dia dan kehendak-Nya. Hal ini bertujuan agar diri-Nya dapat diekspresikan, dan agar kehendak kekal-Nya dapat dirampungkan. Hal ini menuntut empat hal: Allah yang duduk di atas takhta, takhta anugerah, tempat maha kudus, dan zaman perjanjian yang baru. Bila kurang salah satu dari keempat hal ini, mustahillah Allah merampungkan kehendak-Nya. Alangkah seriusnya hal ini!

Tidak saja orang kafir dan orang tidak beriman terpisah jauh dari keempat hal ini, bahkan orang Yahudi yang memiliki perjanjian yang lama pun terpisah jauh dari ke empat hal ini. Bahkan hari ini banyak orang Kristen yang terpisah jauh dari keempat hal ini. Karena itu, di sini ada panggilan untuk maju ke depan. Kita bersyukur kepada Allah, langit kita sangat cerah hari ini, dan kita dapat mengerti bahwa maju ke depan berarti maju ke tempat maha kudus, ke takhta anugerah, ke hadirat Allah, dan berarti kita harus memasuki zaman perjanjian yang baru. Di manakah Anda? Apakah Anda masih berada di mezbah sambil memandang Dia yang bermahkota duri, ataukah Anda sedang menjamah takhta anugerah di tempat maha kudus, dan memandang Dia yang bermahkota kemuliaan? Kita sangat perlu maju ke depan! Maju ke depan adalah inti Kitab Ibrani, dan kita sungguh perlu nampak hal ini. Begitu kita nampak hal ini, kita tidak akan meninggalkannya untuk selama-lamanya.

I. KEMAH PERTAMA, TEMPAT KUDUS,

MERUPAKAN SATU GAMBAR

Kemah pertama, yakni tempat kudus hanya suatu gambar, bukan realitas. Seperti telah kita nampak, semua benda dalam tempat kudus, misalnya meja roti sajian dan kaki pelita, hanyalah lambang Kristus, bukan realitasnya.

II. KEMAH KEDUA, TEMPAT MAHA KUDUS,

TEREALISASIKAN MELALUI

ZAMAN PERJANJIAN YANG BARU

Kemah kedua, yakni tempat maha kudus, terealisasikan melalui zaman perjanjian yang baru (9:3, 8, 10). Tempat maha kudus ialah realitas, yang terealisasikan melalui zaman perjanjian yang baru, yang di dalamnya kita pun mengalami realitasnya. Kehadiran Allah, kemuliaan Allah, pertemuan Allah dengan manusia, dan pembicaraan Allah yang berada dalam tempat maha kudus, semuanya riil. Hal-hal ini bukan lambang, melainkan realitas yang dapat kita realisasikan dan dapat kita alami sepenuhnya dalam zaman perjanjian yang baru.

III. BERAKHIRNYA ZAMAN PERJANJIAN

YANG LAMA DAN TERBUKANYA

ZAMAN PERJANJIAN YANG BARU

Zaman perjanjian yang lama telah diakhiri oleh kematian Kristus, sedangkan zaman perjanjian yang baru telah dibuka oleh kebangkitan dan kenaikan Kristus. Dalam kenaikanNya, Dialah “Imam Besar untuk hal-hal baik yang akan datang” (9:11). Kini Ia sedang melayani di dalam “kemah yang lebih besar dan lebih sempurna” di surga, untuk melaksanakan perjanjian yang baru untuk ekonomi Allah.

IV. JALAN MASUK KE TEMPAT

MAHA KUDUS TELAH TERBUKA

Ayat 19 mengatakan, “Jadi, Saudara-saudara, kita sekarang dengan penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat (maha) kudus, oleh darah Yesus.” Tempat maha kudus hari ini berada di surga, di mana Tuhan Yesus berada (9:12, 24). Bagaimana kita dapat memasuki tempat maha kudus ketika kita masih berada di bumi? Rahasianya adalah roh kita yang dikatakan dalam 4:12. Kristus yang berada di surga hari ini juga berada di dalam roh kita (2 Tim. 4:22). Sebagai tangga surgawi, Dia menghubungkan roh kita dengan surga dan membawa surga ke dalam roh kita (Kej. 28:12; Yoh. 1:51). Jadi, setiap kali kita kembali ke dalam roh kita, kita segera masuk ke dalam tempat maha kudus. Di sana kita berjumpa dengan Allah, yang berada di atas takhta anugerah.

Kita masuk ke tempat maha kudus “Karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tirai, yaitu diri-Nya sendiri” (ayat 20). Jalan ke tempat maha kudus telah terbuka. Dalam bahasa Yunani, istilah “baru” dalam ayat ini berarti “baru tersembelih”. Jadi, oleh kematian Krisus di atas salib, jalan itu “baru tersembelih” bagi kita, demikianlah terbuka bagi kita. Apa yang tersembelih? Bukan hanya tubuh daging, tetapi juga seluruh ciptaan lama. Dalam ayat ini, tirai (tabir) yang ditujukan kepada tubuh-Nya, melambangkan segenap ciptaan lama, termasuk kita. Pada tirai, ada kerub (Kel. 26:31), melambangkan seluruh makhluk ciptaan (Yeh. 10:15). Ketika tirai terbelah, kerub pun turut terbelah. Tirai melambangkan tubuh Kristus, maka ketika tubuh Kristus tersalib, seluruh ciptaan ikut pula tersalib bersama tubuh-Nya. Tubuh ini telah tersembelih. Menurut catatan Matius 27:51, ketika daging Kristus disalibkan, tirai ini terbelah dari atas ke bawah, ini berarti tirai bukan dibelah oleh siapa pun di bumi, melainkan oleh Allah di surga. Ciptaan lama telah tersembelih dan jalan yang baru dan yang hidup untuk masuk ke tempat maha kudus telah terbuka. Sekarang, melalui tirai tubuh yang telah terbelah dan melalui darah Yesus, kita dapat memasuki tempat maha kudus. Hingga hari ini, kematian dan darah-Nya tetap tersedia bagi kita.

Tirai pada ayat 20 adalah tirai yang kedua (9:3) di dalam kemah, melambangkan daging Kristus. Ketika daging Kristus disalibkan, tirai ini terbelah (Mat. 27:51), sehingga membuka jalan bagi kita; orang-orang yang dipisahkan dari Allah, yang dilambangkan oleh pohon hayat (Kej. 3:22-24), untuk masuk ke dalam tempat maha kudus, berkontak dengan Dia, dan menerima Dia sebagai pohon hayat bagi kenikmatan kita. Ini juga menyatakan karena manusia lama kita telah disalibkan bersama dengan Kristus, maka kita memiliki satu jalan yang terbuka untuk berkontak dan menikmati Allah di dalam roh kita sebagai hayat dan suplai hayat kita.

V. PENUH KEBERANIAN MASUK KE TEMPAT

MAHA KUDUS, MELALUI KURBAN KRISTUS YANG LEBIH BAIK

Melalui kurban Kristus yang lebih baik, kita berani masuk ke tempat maha kudus (9:23; 10:19). Memasuki tempat maha kudus bukan suatu hal yang kecil, sebab Allah justru berada di situ, yakni duduk di atas takhta anugerah. Untuk masuk ke tempat yang demikian, kita harus memiliki keberanian, dan kita telah memilikinya berdasarkan kematian dan darah Kristus. Bersandarkan kematian Tuhan dan dengan darah-Nya kita memiliki keberanian untuk masuk ke tempat maha kudus kapan saja kita mau; tidak seperti Imam Besar dalam Perjanjian Lama, yang hanya da-pat memasukinya sekali setahun.

VI. MEMPUNYAI SEORANG IMAM AGUNG

SEBAGAI KEPALA RUMAH ALLAH

Ayat 21 mengatakan bahwa kita mempunyai “seorang imam agung sebagai kepala Rumah Allah”. Kata ini sangat dalam. Kita pernah mengatakan bahwa kita adalah rumah Allah (3:6). Tetapi jika kita berada di pelataran luar, kita tidak mempunyai posisi yang tepat untuk menjadi rumah Allah. Untuk menjadi rumah Allah, kita harus maju ke tempat maha kudus, sebab hanya di sinilah Kristus, Imam Besar kita melayani rumah Allah. Karena tempat maha kudus berhubungan dengan roh kita, maka hanya jika kita berada di dalam roh, barulah kita dapat menjadi rumah Allah. Jika kita dari roh beralih ke tubuh, kita akan tidak lagi menjadi rumah Allah, melainkan menjadi rumah kalajengking dan ular. Jika orang Kristen saling berkelahi dan berbantah-bantah, mereka bukan gereja, bukan rumah Allah, melainkan kalajengking dan ular. Walaupun mereka telah beroleh selamat, mereka tidak hidup dalam hayat keselamatan, melainkan dalam hayat kalajengking. Menurut Efesus 2:22, rumah Allah berada di dalam roh. Jika hidup kita seperti kalajengking, kita tidak akan menikmati penyertaan Kristus. Hanya di dalam tempat maha kudus, di dalam roh, barulah Kristus, Imam Besar kita, melayani rumah Allah.

VII. MAJU KE TEMPAT MAHA KUDUS

Karena itu marilah kita maju ke tempat maha kudus (ayat 22), yakni ke dalam zaman perjanjian yang baru. Tempat maha kudus tidak hanya menunjukkan suatu tempat, juga menunjukkan suatu perjanjian, suatu zaman, dan suatu pengaturan ekonomi. Kita telah melihat dengan jelas dalam pasal 9 bahwa kemah bukan hanya merupakan suatu tempat, tetapi juga sebagai lambang dari suatu perjanjian dan suatu zaman. Jadi panggilan untuk maju ke tempat maha kudus juga termasuk maju ke dalam perjanjian yang baru dan zaman perjanjian yang baru. Kita harus maju ke tempat maha kudus dengan hati yang tulus dan keyakinan iman yang teguh, yaitu dengan hati yang telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat, dan dengan tubuh yang telah dibasuh dengan air yang murni. Jika kita ingin maju ke tempat maha kudus, hati kita harus tulus ikhlas, keyakinan iman kita harus teguh, hati nurani kita pun harus dipercik bersih, dan seluruh diri kita harus dibasuh menjadi bersih. Jangan meremehkan hal ini. Kita harus bersikap serius terhadapnya.

VIII. BERPEGANG TEGUH PADA PENGAKUAN

TENTANG PENGHARAPAN KITA,

TIDAK TERGOYAHKAN

“Pengharapan kita” (ayat 23) ditujukan kepada Kristus beserta semua bagian yang kita miliki di dalam-Nya. Dialah pengharapan kita yang mulia (Kol. 1:27). Penebusan tubuh kita yang akan digenapkan-Nya pada kedatangan-Nya kali kedua juga merupakan pengharapan kita. Bahkan sekarang ini, tidak peduli bagaimana keadaan kita, Ia sebagai hayat kita yang tidak dapat binasa, adalah pengharapan kita. Sebagai Imam Besar kita dengan pelayanan yang lebih agung dari imamat-Nya yang rajani dan ilahi, Ia pun menjadi pengharapan kita dari hari ke hari. Melalui doa syafaat-Nya bagi kita, Ia senantiasa memperhatikan kita dan dapat menyelamatkan kita dengan sempurna. Inilah yang kita percayai dan yang kita akui. Kita harus berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, dengan iman yang tidak tergoyahkan, supaya kita dapat memasuki tempat maha kudus, untuk menikmati Kristus yang surgawi.

IX. SALING MEMPERHATIKAN,

SALING MENDORONG DALAM KASIH

DAN DALAM PERBUATAN BAIK

Untuk hidup gereja yang tepat, kita perlu saling memperhatikan (ayat 24). Mengisolir diri dalam hidup gereja sama dengan melakukan bunuh diri. Saling memperhatikan berarti mempertumbuhkan hayat, agar dapat saling mendorong dalam kasih dan dalam perbuatan baik. Perbuatan baik di sini searti dengan yang tercantum dalam 13:21. Dalam pandangan Allah, perbuatan baik itu terutama berkaitan dengan tergenapnya kehendak Allah. Bila kita saling memperhatikan sedemikian rupa, kita akan terpelihara dalam hidup gereja.

X. JANGAN MENGABAIKAN GEREJA,

SENGAJA BERBUAT DOSA

Sekarang tibalah kita pada butir yang penting. Penulis memperingatkan kaum beriman Ibrani agar jangan mengabaikan gereja, sengaja berbuat dosa, yakni berbalik kembali ke agama Yahudi, mempersembahkan kurban karena dosa yang telah dihapus itu (25-26, 18). Dikatakan dalam ayat 25-26, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat. Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu.” Bagi kaum beriman Ibrani, berbalik kembali ke agama Yahudi, mempersembahkan kurban penghapus dosa lagi berarti melakukan apa yang telah diakhiri Allah. Sebab bagi mereka, pada zaman dan situasi mereka, mengabaikan sidang (pertemuan ibadah) mereka adalah mengabaikan jalan perjanjian yang baru dalam berkontak dengan Allah, mengabaikan gereja, dan kembali kepada agama mereka yang usang Yudaisme. Ini bisa merusak pemerintahan anugerah Allah, karena itu membentuk dosa yang serius di hadapan Allah. Ini juga berarti ”sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran”. Kebenaran di sini mengacu kepada hal-hal yang disingkapkan dalam pasal-pasal dan ayat-ayat sebelumnya; bagi kaum beriman Ibrani hal-hal itu memberikan pengetahuan yang penuh bahwa Allah telah meninggalkan perjanjian yang lama dan telah menetapkan perjanjian yang baru. Sengaja berbuat dosa di sini mengacu kepada menjauhkan diri dari sidang bersama gereja. Kaum beriman Ibrani telah diajar untuk mengabaikan Yudaisme dan tetap tinggal di bawah perjanjian yang baru. Jika mereka masih berpaling kepada Yudaisme ini berarti mereka menjauhkan diri dari sidang bersama gereja. Ini akan menjadi suatu dosa yang disengaja di mata Allah, yang dilakukan setelah mereka menerima pengetahuan kebenaran, setelah mereka mengenal bahwa Allah telah meninggalkan Yudaisme, yang dibentuk menurut perjanjian yang lama, dan Dia telah memulai jalan yang baru dan yang hidup untuk mengontak Allah menurut perjanjian yang baru.

Ayat 26 mengatakan bagi mereka yang sengaja berbuat dosa “tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu”. Jika kaum beriman Ibrani mengabaikan gereja dan berpaling kembali kepada Yudaisme, di dalam ekonomi Allah tidak akan ada lagi kurban karena dosa-dosa, karena semua kurban dari perjanjian yang lama telah diganti dengan satu-satunya kurban, yaitu Kristus. Karena Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban karena dosa-dosa kita satu kali untuk selamanya (7:27; 10:10, 12), maka kurban karena dosa-dosa itu telah usai (10:2). Kurban-kurban itu telah dihapuskan oleh Kristus (10:9), yang telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai kurban yang sejati karena dosa-dosa kita. Banyak pengajar agama Kristen telah menyalahtafsirkan ayat 26 ini. Mereka mengatakan bila kita sengaja berbuat dosa, sesudah kita beroleh selamat, dosa-dosa kita tidak mungkin diampuni, sebab tidak ada lagi kurban karena dosa. Penafsiran demikian amatlah mengerikan! Seperti telah kita ketahui, sengaja berbuat dosa yang dikatakan di sini berarti seseorang mengabaikan gereja dan berbalik kembali ke perjanjian yang lama, sesudah ia mengetahui bahwa Allah telah membuang perjanjian yang lama itu, dan mendirikan yang baru. Mengabaikan gereja, berbalik kembali ke agama Yahudi untuk mempersembahkan kurban karena dosa yang sudah tidak berlaku lagi itu dalam pandangan Allah adalah sengaja berbuat dosa.

A. Menginjak-injak Anak Allah

Ayat 29 mengatakan, “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah.” Dalam perjanjian yang baru, Putra Allah telah menggantikan semua kurban dari perjanjian yang lama. Jika kaum beriman Ibrani berpaling kepada Yudaisme untuk mempersembahkan suatu kurban yang lama, sesungguhnya itu berarti mereka menginjak-injak Putra Allah, yakni menghina-Nya, tidak memperhatikan-Nya, bahkan meletakkan-Nya di bawah kaki mereka.

B. Menganggap Biasa

Darah Perjanjian yang Menguduskan

Ayat 29 juga mengatakan tentang menganggap biasa (najis, LAI) darah perjanjian yang menguduskan. Jika kaum beriman Ibrani berpaling kepada Yudaisme untuk mempersembahkan kurban-kurban yang lama dan bersandar kepada darah hewan sembelihan, sebenarnya itu berarti mereka menganggap darah Kristus yang mustika sebagai suatu hal yang biasa. Itu sungguh-sungguh meremehkan pekerjaan penebusan Kristus yang unik. Ini adalah suatu masalah yang serius. Karena darah binatang adalah darah biasa, maka itu boleh dipersembahkan berulang-ulang. Akan tetapi, jika setelah menerima Kristus, kaum beriman Ibrani kembali ke agama Yahudi mempersembahkan lagi kurban karena dosa, berarti mereka menyamakan darah Kristus dengan darah binatang. Hal ini merupakan suatu penghinaan terhadap Kristus.

C. Menghina Roh Anugerah

Ayat ini juga menyebut masalah menghina Roh anugerah. Di bawah perjanjian yang baru, melalui darah Kristus yang menebus, kaum beriman Ibrani telah berbagian dalam Roh Kudus (6:4), yaitu Roh anugerah. Jika mereka berpaling kepada Yudaisme, berarti mereka sengaja berbuat dosa, menghina Roh anugerah yang tinggal dan bekerja di dalam mereka. Roh anugerah tidak akan menyetujui hal itu, dan akan bereaksi di dalam mereka. Ini sangat serius.

XI. JANGAN MENGUNDURKAN DIRI

KE AGAMA YAHUDI

Dalam ayat 38-39, penulis memberi tahu kaum beriman Ibrani untuk hidup oleh iman dan jangan mengundurkan diri dan binasa. Bagi kaum beriman Ibrani, kembali kepada Yudaisme adalah mengundurkan diri dan binasa. Ini bukan binasa kekal, melainkan menerima penghukuman dari Allah yang hidup (ayat 29-31). Binasa di sini adalah penghukuman yang disebutkan di dalam ayat 27-31, yang akan menimpa orang-orang yang meninggalkan perjanjian yang baru dan kembali kepada Yudaisme, sehingga menginjak-injak Putra Allah, menganggap darah mustika Kristus sebagai suatu hal yang biasa, seperti darah hewan, dan menghina Roh anugerah.

Sekarang, kita seharusnya sudah bisa memahami peringatan keempat ini. Ekonomi Allah telah dibeberkan dengan jelas di hadapan kita. Kita telah nampak jalan yang lama dan jalan yang baru, dan kita telah diperingatkan untuk maju menempuh jalan yang baru, jangan berbalik kembali ke jalan yang usang. Kalau sesudah memiliki kata-kata jelas ini kita tetap berbalik kembali ke jalan yang lama, itu berarti kita sengaja berbuat dosa. Pada waktu Surat Kiriman ini ditulis, berbalik atau mengundurkan diri berarti mengabaikan gereja dari perjanjian yang baru dan mengabaikan zaman dan ekonomi Allah dalam perjanjian yang baru. Ini sekali-kali bukan hal yang remeh, melainkan suatu dosa yang disengaja, yang sangat serius. Penulis memperingatkan mereka, bila mereka melakukan hal yang sedemikian, mereka akan menerima hukuman.

Menurut ekonomi Allah, seluruh kurban yang lama sudah berakhir, jalan yang lama juga telah tertutup. Bila kaum beriman Ibrani berbalik kembali ke jalan yang lama, mempersembahkan kurban menurut hukum Taurat, persembahan mereka akan sia-sia belaka, sebab dalam pandangan Allah, kurban yang sedemikian telah berakhir. Inilah makna yang tepat dari peringatan ini. Namun, banyak orang Kristen telah menyalahtafsirkannya. Mereka mengatakan bila Anda berdosa lagi sesudah diselamatkan, berarti Anda sengaja berbuat dosa, dan tidak mungkin beroleh pengampunan lagi. Dalam terang Tuhan, kita telah nampak bahwa sengaja berbuat dosa berarti mengabaikan ekonomi Allah dan berbalik kembali ke jalan yang lama dari agama yang tradisional. Pada akhir zaman ini, Tuhan telah menunjukkan ekonomi-Nya pada hari ini kepada kita. Kita tahu mana jalan yang usang dan mana jalan yang baru. Jalan yang lama telah tertutup, dan yang baru, baru terbuka. Untuk pemulihan Tuhan dan ekonomi Allah, kita harus maju menempuh jalan yang baru ini.