BUKAN KEBINASAAN YANG KEKAL, MELAINKAN HUKUMAN SEZAMAN
Agar kita memiliki dasar dalam pemulihan Tuhan, maka berita ini, yang berjudul “Bukan Kebinasaan yang Kekal, Melainkan Hukuman Sezaman”. “Hukuman sezaman” adalah istilah baru dalam pemulihan Tuhan, mungkin tidak terdapat dalam bacaan-bacaan atau khotbah-khotbah kristiani lainnya. Kita memakai istilah ini karena kebanyakan orang Kristen telah mencampuradukkan masalah kebinasaan yang kekal dengan hukuman sezaman. Berdasarkan Perjanjian Baru, kedua hal ini jelas sekali berbeda, tidak berkaitan satu sama lain. Kebinasaan kekal adalah untuk orang yang tidak percaya, sedangkan hukuman sezaman adalah untuk orang yang sudah percaya. Alangkah banyaknya masalah yang timbul karena orang mencampuradukkan kedua hal tersebut.
Mengenai keselamatan, dalam kalangan kekristenan hari ini ada dua aliran teologi yang berbeda pendapat. Aliran pertama beranggapan bahwa keselamatan bersifat kekal, yakni sekali kita beroleh selamat, tidak akan binasa selama-lamanya, tidak peduli bagaimana keadaan kita setelah beroleh selamat. Aliran kedua beranggapan bahwa meskipun kita telah beroleh selamat, jika kita tidak berhati-hati, mungkin akan binasa lagi. Kebanyakan apa yang menamakan dirinya “gereja kesucian” menganut aliran kedua; mereka percaya seseorang mungkin beroleh selamat dan kemudian binasa lagi; lalu beroleh selamat lagi, dan kemudian binasa lagi. Berhubung keselamatan mereka sebentar naik ke atas, sebentar turun ke bawah, bagaikan tangga listrik, maka kita boleh menyebut konsepsi keselamatan semacam ini “keselamatan lift”. Dahulu, sebelum mencapai usia 30, ada seorang penginjil datang ke kota kami, mengatakan bahwa kita mungkin beroleh selamat di pagi hari, dan binasa di malam hari, lalu bila esok paginya kita bertobat dan mengaku dosa, kita akan diselamatkan lagi. Mendengar ajarannya itu, saya dengan berani memberi tahu kaum saleh di kota itu bahwa itu omong kosong. Allah kita sekali-kali tidak mungkin mengaruniakan kepada kita keselamatan semacam itu.
Nampaknya mereka yang memberitakan dan mengajarkan “keselamatan lift” mempunyai sedikit dasar Alkitab; sesungguhnya tidaklah demikian. Mereka seperti orang rabun, yang dilihat huruf C, namun mengira itu G. Mereka membuat kekeliruan besar dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu dalam Alkitab. Mereka mengambil ayat-ayat yang membicarakan hukuman sezaman untuk menunjang ajaran mereka yang menganggap orang yang telah beroleh selamat masih mungkin binasa lagi. Orang-orang yang mengikuti aliran teologi ini tidak pernah beroleh jaminan keselamatan. Keselamatan mereka, tergantung keadaan mereka pada saat meninggal. Kalau saat meninggal mereka dalam keadaan baik, mereka akan selamat sampai selama-lamanya. Tetapi jika mereka dalam keadaan turun, mereka akan binasa selamanya. Injil macam apakah itu? Sungguh mengerikan!
Namun, tidaklah tepat ajaran yang mengatakan bahwa seseorang pasti beroleh selamat terus bila ia telah sekali diselamatkan, tidak peduli bagaimana perbuatannya. Menurut ajaran ini, asalkan kita telah memiliki jaminan keselamatan kekal, segalanya sudah beres. Kita harus meninggalkan ajaran kedua aliran teologi tersebut, dan melihat apa yang dikatakan dalam firman Allah yang murni tentang masalah ini.
I. JAMINAN KESELAMATAN ALLAH
YANG KEKAL BAGI KAUM BERIMAN
Keselamatan Allah itu kekal adanya. Sekali kita menerimanya, terjamin untuk selama-lamanya. Hal ini dibuktikan oleh kesebelas hal sebagai berikut:
A. Kehendak Allah
Keselamatan kekal Allah terjamin oleh kehendak Allah. Efesus 1:5, mengatakan bahwa kita telah ditentukan menurut kehendak Allah. Yohanes 6:39 mengatakan bahwa kehendak Bapa ialah agar semua yang telah diberikan-Nya kepada Putra tidak ada yang hilang atau binasa. Inilah kehendak Allah atas keselamatan kita. Kehendak Allah jauh lebih kokoh dan teguh daripada batu karang. Walaupun langit dan bumi akan lenyap, kehendak Allah tetap selama-lamanya. Keselamatan Allah sekali-kali tidak mungkin naik turun seperti lift.
B. Pilihan dan Panggilan Allah
Pilihan dan panggilan Allah juga merupakan jaminan keselamatan Allah, Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Bukan kita yang memilih Dia, tetapi Dia yang memilih kita (Yoh. 15:16). Pilihan-Nya bukan menurut perbuatan kita, melainkan menurut Dia yang memanggil (Rm. 9:11). Ia tidak saja menetapkan kita lebih dulu, bahkan memanggil kita (Rm. 8:30), bukan menurut perbuatan kita, tetapi menurut kehendak-Nya (2Tim. 1:9). Panggilan-Nya tidak dapat berubah. Setelah Ia memanggil kita, Ia selamanya tidak akan menyesal. Pilihan dan panggilan-Nya sama sekali tidak berkaitan dengan perbuatan kita. Perbuatan kita tidak mungkin mempengaruhinya, sebab pilihan dan panggilan-Nya tidak dapat berubah selamanya. Baik pilihan maupun panggilan Allah adalah inisiatif-Nya sendiri, bukan inisiatif kita. Karena itu hal ini juga menjadi jaminan keselamatan kita.
C. Kasih dan Anugerah Allah
Keselamatan yang kita terima juga terjamin oleh kasih dan anugerah Allah. Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allah yang mengasihi kita, dan mengutus Putra-Nya menjadi kurban karena dosa-dosa kita (1Yoh. 4:10). Tidak ada perkara apa pun yang dapat menceraikan kita dari kasih Allah (Rm. 8:38-39). Kita bisa berubah, tetapi kasih Allah mustahil berubah. Selain itu, Allah tidak menyelamatkan kita menurut perbuatan kita, melainkan menurut anugerah yang dikaruniakan kepada kita di dalam Kristus Yesus sebelum dunia dijadikan (2Tim. 1:9). Mungkin perbuatan kita sering gagal, namun anugerah Allah selamanya tidak akan gagal. Keselamatan kita dijamin bukan oleh perbuatan kita, melainkan oleh anugerah Allah yang unggul yang berasal dari kasih-Nya yang tidak dapat berubah itu.
D. Kebenaran Allah
Kebenaran Allah juga menjadi jaminan keselamatan yang dinyatakan kepada iman (Rm. 1:16-17). Untuk menyatakan kebenaran-Nya, Allah harus membenarkan kita, dan Ia pun telah membenarkan setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus (Rm. 3:26). Allah yang benar telah membenarkan kita (Rm. 8:33). Kebenaran-Nya adalah tumpuan takhta-Nya (Mzm. 89:15). Takhta-Nya teguh selama-lamanya, dan tidak ada yang dapat mengguncangkannya. Keselamatan kita yang terjamin oleh kebenaran Allah, tidak dapat diguncangkan apa pun seperti halnya dengan takhta Allah itu sendiri.
E. Perjanjian Allah
Perjanjian Allah juga menjamin keselamatan kita. Allah telah menyelamatkan kita dengan perjanjian baru-Nya (Ibr. 8:8-13). Perjanjian itu telah ditetapkan dengan tegas, yakni Allah menuliskan hukum hayat di dalam kita, dan Ia tidak akan mengingat lagi dosa-dosa kita. Sebagai Allah yang setia janji, Ia selama-lamanya tidak akan memungkiri janji-Nya (Mzm. 89:35). Allah tidak saja terikat oleh kebenaran-Nya, tetapi juga terikat oleh kesetiaan-Nya. Maka, perjanjian yang ditetapkan dengan kesetiaan-Nya juga menjadi jaminan keselamatan kita.
F. Kekuatan Allah
Keselamatan Allah yang kekal juga dijamin oleh kekuatan Allah. Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa Bapa-Nya lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut kita dari tangan Bapa (Yoh. 10:29). Allah Bapa lebih kuat daripada siapa pun. Ia memiliki lengan yang kuat, juga tangan yang kuat (Mzm. 89:14). Tidak seorang pun dapat merampas kita dari tangan-Nya.
G. Hayat Allah
Keselamatan kita juga terjamin selama-lamanya oleh hayat Allah. Firman Tuhan, “Dan Aku memberikan hidup (hayat) yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Yoh. 10:28). Percayakah Anda kalau hayat kekal itu telah diberikan kepada kita, kelak akan ditarik kembali? Kalau kita mengatakan kita telah diselamatkan, tetapi masih mungkin binasa lagi, itu berarti hayat kekal yang diberikan-Nya kepada kita bisa ditarik kembali. Itu sama sekali tidak logis! Begitu kita beroleh hayat kekal, kita tidak akan binasa sampai selama-lamanya.
H. Allah Sendiri
Allah sendiri merupakan jaminan keselamatan kita. Allah telah memilih, menentukan, memanggil, membenarkan, menyucikan, dan menyelamatkan kita. PadaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yak. 1:17); Dia tidak dapat berubah (Mal. 3:6). Setelah berbuat sebanyak itu agar kita beroleh selamat, percayakah Anda bahwa Ia akan berubah pikiran dalam hal ini? Mungkinkah situasi atau kondisi kita mempengaruhi sifat Allah? Dapatkah hal itu mengubah perbuatan Allah? Tidak, itu mustahil! Keselamatan kita dijamin oleh Allah yang tidak dapat berubah itu.
I. Penebusan Kristus
Keselamatan kita dijamin oleh penebusan Kristus. Kristus telah mati untuk kita (Rm. 8:34), dan penebusan yang dirampungkan oleh kematian-Nya adalah penebusan yang kekal (Ibr. 9:12). Sekali Ia mempersembahkan diri-Nya kepada Allah, maka Ia telah menyempurnakan kita untuk selama-lamanya (Ibr. 10:14), dan hasil dari penebusan kekal-Nya adalah keselamatan kita yang kekal (5:9). Jadi, Ia dapat menyelamatkan kita dengan sempurna, baik dari segi tingkatan maupun dari segi waktu (7:25).
J. Kekuatan Kristus
Kekuatan Kristus juga menjadi jaminan keselamatan kekal kita. Dalam Yohanes 10:28-29 Tuhan menjamin kita bahwa bukan hanya tangan Bapa, tetapi juga tangan-Nya akan memelihara kita agar tidak binasa. Bapa itu perkasa dan Tuhan itu kuat. Seorang pun tidak dapat merebut kita dari tangan Bapa dan Tuhan. Kita telah terjamin oleh kedua tangan ilahi, yakni tangan kasih Bapa dan tangan anugerah Putra. Kedua tangan itu memiliki kekuatan memelihara dan menjamin keselamatan kita.
K. Janji Kristus
Terakhir, janji Kristus juga menjadi jaminan keselamatan kita. Tuhan Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yoh. 6:37). Di sini kita nampak bahwa Tuhan berjanji takkan menolak atau membuang siapa pun yang datang kepada-Nya. Ayat-ayat ini sangat jelas, sedikit pun tidak kabur, dan memberikan dasar yang kuat bagi jaminan keselamatan kita. Siapa pun tidak dapat menghapus ayat-ayat yang sejelas ini. Jadi, setiap anak Allah harus memiliki iman yang tepat, percaya bahwa keselamatan Allah itu kekal.
Mereka yang mengira bahwa orang yang sudah beroleh selamat masih bisa kehilangan lagi keselamatannya berpegang pada ayat seperti Ibrani 10:29, yang mengatakan, “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah dan menganggap biasa darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah!” (Tl.). Ayat ini harus kita baca dengan hati-hati sekali. Yang dikatakan di sini adalah tentang seseorang yang sudah beroleh selamat, karena orang ini telah dikuduskan oleh darah Kristus. Namun, orang ini mungkin mendapat hukuman lebih berat, sebab ia telah menginjak-injak Anak Allah, dan menganggap biasa darah Kristus, serta menghina Roh anugerah. Tidak usah diragukan lagi bahwa Roh anugerah telah bekerja di dalamnya, hanya saja ia enggan menuruti-Nya.
Untuk memahami ayat ini, kita harus meneliti konteksnya mulai ayat 25, yakni yang menyinggung masalah “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang.” Seperti telah kita lihat, bila kaum beriman Ibrani mengabaikan pertemuan ibadah mereka, itu berarti mereka mengabaikan gereja, berbalik kembali ke agama Yahudi, dan mempersembahkan kurban binatang lagi. Lalu ayat 26 mengatakan tentang sengaja berbuat dosa “sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran”. Kita sudah menunjukkan dalam berita yang lalu bahwa kebenaran di sini mengacu kepada hal-hal yang disingkapkan dalam pasal-pasal dan ayat-ayat sebelumnya; bagi kaum Ibrani hal-hal itu memberikan pengertian pengetahuan penuh bahwa Allah telah meninggalkan perjanjian yang lama dan telah menetapkan perjanjian yang baru. Jika sesudah memperoleh pengetahuan itu mereka tetap kembali mempersembahkan kurban karena dosa, itu sama dengan sengaja berbuat dosa. Mereka tahu bahwa menurut ekonomi Allah, tidak ada lagi kurban karena dosa, sebab semua kurban telah diakhiri oleh kurban Kristus yang unik itu. Dengan meneliti konteks ayat 29 ini, kita nampak bahwa itu mengacu orang yang benar-benar telah beroleh selamat. Semua orang Kristen Ibrani sudah beroleh selamat, tetapi mereka berada dalam bahaya akibat menjauhkan diri dari pertemuan ibadah Kristen, yakni mengabaikan gereja dan kembali ke agama Yahudi. Kalau mereka berbuat demikian, mereka patut dihukum. Walau ayat ini menunjukkan bahwa orang yang telah diselamatkan mungkin saja menerima hukuman, namun tidak berarti ia akan binasa lagi, seperti yang disalahtafsirkan oleh mereka yang menganut golongan teologi kedua. Sesungguhnya itu bukan ditujukan kepada kebinasaan yang kekal, tetapi kepada suatu hukuman kepada orang-orang yang beriman.
II. KEBINASAAN KEKAL
BAGI ORANG YANG TIDAK PERCAYA
“Hukuman yang lebih berat” dalam 10:29 berbeda dengan mengalami kematian yang kedua”, yaitu binasa dalam telaga api sampai selama-lamanya (Why. 20:6, 14; 21:8). Inilah yang paling mengerikan. Ada orang membantah adanya masalah seperti binasa selama-lamanya ini; mereka berkata bahwa Allah itu Mahakasih, tidak mungkin Ia tega menghukum makhluk ciptaan-Nya dan membiarkannya menderita selamanya dalam telaga api. Mereka seolah-olah lupa akan Wahyu 14:10-11; 19:20; 20:10, 14-15; dan 21:8. Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang binasa akan menderita dalam tasik api selama-lamanya. Allah itu Allah. Bila Ia mengasihi, Ia benar-benar mengasihi. Tetapi bila Ia keras, Ia pun benar-benar keras. Karena orang-orang yang tidak percaya akan menghadapi kebinasaan kekal yang mengerikan itu, maka mereka benar-benar memerlukan Injil.
III. HUKUMAN SEZAMAN BAGI
KAUM BERIMAN YANG GAGAL
A. Disiplin atau Ganjaran Allah
Meskipun kaum beriman tidak dapat binasa, mereka mungkin saja mengalami hukuman sezaman karena kegagalan mereka (10:29). Pada hari-hari ini kita semua telah mendengar panggilan untuk maju ke depan dan jangan berbalik ke belakang. Andaikata ada beberapa orang berbalik ke belakang, mereka tidak akan binasa, namun akan menerima ganjaran Allah untuk sezaman. Hukuman sezaman ini dalam Alkitab disebut ganjaran, disiplin, atau hajaran. Hukuman Allah berarti pendisiplinan Allah. Ketika orang tua menghukum anak-anaknya, bukan berarti mereka menolak anak-anaknya untuk selamanya, melainkan mendisiplin anak-anak mereka dengan maksud baik. Saya pernah mengenal sepasang orang Kristen yang memperingatkan anak-anak mereka dalam hal pelajaran sekolah mereka. Mereka memberi tahu anak-anak mereka bahwa segala sesuatu telah disediakan bagi mereka asalkan mereka mau belajar dengan baik di sekolah. Kalau pada akhir masa belajar mereka mendapat nilai A, mereka akan menerima hadiah, tetapi jika gagal, mereka akan dikurung dalam kamar yang gelap sehari penuh. Suami istri itu menepati perkataan mereka. Pada akhir masa belajar, anak yang beroleh nilai A benar-benar diberi hadiah, sedang yang gagal mendapat ganjaran. Ketika mereka mengganjar anak itu, mereka malah berkata sambil mengucurkan air mata, “Anakku, kami mengasihi kamu, tetapi kami tidak dapat menolongmu. Kamu harus masuk ke kamar yang gelap sehari penuh, dan kamu tidak boleh makan apa-apa.” Mereka tidak mengusirnya. Kamar yang gelap itu juga bukan merupakan penjara dadakan, melainkan bilik kasih. Orang tua anak itu telah menyatakan kasih yang tertinggi kepadanya, dan pada semester berikutnya anak ini pun mendapat nilai A. Inilah sebuah lukisan dari yang kita sebut hukuman sezaman.
Bapa kita yang di surga penuh kasih dan berhikmat.Menurut Anda, apakah Ia selalu membiarkan kita gagal? Tentu tidak. Lalu apakah yang akan Ia lakukan bila kita gagal? Ia akan memberikan ganjaran kasih dan menaruh kita di dalam kamar yang gelap sejangka waktu. Di sana, di dalam kegelapan, anak-anakNya akan menerima ganjaran untuk kebaikan mereka sendiri.
B. Ada yang Diganjar pada Zaman Ini
Semua guru Alkitab Kristen golongan fundamental percaya bahwa Allah akan mengganjar anak-anak-Nya. Dalam Ibrani 12:5-11 tercantum peringatan-peringatan yang ditujukan kepada kita. Ayat 5-6 mengatakan, “Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak? ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.’” Perkataan di sini terutama ditujukan kepada hajaran Allah pada zaman ini. Benarkah Anda anak Allah? Jika Anda anak Allah, Anda tentu akan menerima hajaran. Ayat 7 mengatakan, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Ketika surat ini ditulis, kaum beriman Ibrani justru sedang menanggung ganjaran, Allah memperlakukan mereka seperti anak-anak-Nya. Walau saya pernah menghajar anak-anak saya sendiri, saya tidak pernah menghajar anak-anak jalanan, sebab mereka bukan anak-anak saya, dan saya tidak bersangkutpaut dengan mereka. Ayat 8 melanjutkan, “Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu adalah anak-anak haram, dan bukan anak-anak yang sah.” Jika kita tidak menerima ganjaran dari Bapa, kita akan menjadi anak-anak haram, bukan anak-anak-Nya sendiri. Saya tentu saja tidak mau menjadi anak haram. “Selanjutnya: Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (ayat 9-10). Kudus adalah sifat Allah. Beroleh bagian dalam kekudusan Allah adalah beroleh bagian dalam sifat kudus-Nya. Adalah awam dan tidak kudus bila kaum beriman Ibrani tetap berada dalam Yudaisme. Mereka perlu dikuduskan kepada perjanjian yang baru dari Allah agar mereka dapat beroleh bagian dalam sifat kudus Allah. Untuk tujuan itu, penganiayaan ditimbulkan untuk mendisiplin mereka sehingga mereka dapat dikuduskan dari yang awam.
C. Ada yang Diganjar pada Zaman Kemudian
Walaupun semua guru Alkitab golongan fundamental percaya bahwa Allah akan mengganjar anak-anak-Nya, namun hampir semua dari mereka mengira ganjaran Allah hanya terjadi pada zaman ini, bukan pada zaman yang akan datang. Mereka mengira Allah tidak mungkin menghajar kita lagi setelah kita mati. Tetapi ajaran demikian tidak terdapat dalam Alkitab. Dalam Lukas 12:45-48 dinyatakan dengan jelas bahwa ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan mengganjar hamba-hamba-Nya yang tidak setia. Setiap orang beriman akan diadili di hadapan takhta penghakiman Kristus menurut cara hidup dan apa yang mereka lakukan setelah beroleh selamat, apakah mereka akan menerima ganjaran atau tidak. Hal ini sama dengan anak-anak yang memperlihatkan buku rapor mereka kepada orang tua pada akhir masa belajar, dan orang tua akan memutuskan apakah akan memberi hadiah atau menghukum mereka. Pada kedatangan kembali Tuhan, kita semua harus menunjukkan rapor kita kepada-Nya, dan Ia akan menentukan apa yang akan kita terima. Ganjaran Allah bukan pada zaman ini saja, tetapi juga pada zaman yang akan datang. Kita telah tunjukkan bahwa zaman yang akan datang masih dimiliki oleh langit dan bumi yang lama. Karena itu, sekalipun zaman kerajaan yang akan datang, itu masih sebagai suatu masa di mana Bapa menghajar anak-anak-Nya.
Peringatan yang disebutkan dalam Ibrani 10:27-31 bukan ditujukan kepada kebinasaan kekal bagi orang yang tidak percaya, melainkan ditujukan kepada hukuman sezaman bagi anak-anak Allah yang tidak mematuhi firman-Nya. Kita harus yakin bahwa sekali kita beroleh keselamatan Allah, kita tidak akan binasa selamanya. Namun, bila kita tidak menghiraukan firman Allah, kita akan menerima hukuman. Dihukum Allah tidak berarti dibenci oleh-Nya, sebaliknya itu menandakan bahwa Allah Bapa kita mengasihi kita. Ia menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya, Ia tidak memperlakukan kita seperti anak gampang atau haram, tetapi seperti anak-anak kesayangan-Nya. Sungguh, Bapa bisa mengganjar kita!
Betapa kita harus berterima kasih kepada Tuhan, sebab Ia telah menyingkapkan ekonomi-Nya kepada kita dan Ia pun telah memberi peringatan, agar kita maju menurut ekonomi-Nya! Jika kita tidak menghiraukan peringatan-Nya, kita akan dihukum. Kapan kita menerima hukuman sepenuhnya tergantung pada-Nya, tidak tergantung pada kita. Orang tua dapat mempertimbangkan waktu yang terbaik untuk mengganjar anak-anak mereka, segera atau menunggu hari lain. Demikian juga, Bapa kita tahu kapan waktu yang paling tepat untuk mengganjar kita, entah dalam zaman ini, atau dalam zaman yang akan datang. Ketika Tuhan Yesus kembali, Ia pasti mengganjar setiap hamba-Nya yang tidak setia, ini telah jelas dan tegas tercantum dalam Lukas 12:45-48; 19:22-26; Matius 24:48-51; 25:26-30.
Sekarang kita telah jelas bahwa keselamatan yang telah kita terima dari Allah terjamin untuk selama-lamanya. Namun, kita harus berhati-hati dalam maju ke depan mengikuti Allah setelah kita diselamatkan, khususnya setelah kita menerima pengetahuan lengkap tentang kebenaran yang telah diberitakan kepada kita dalam berita-berita Surat Ibrani ini. Jika berita-berita ini tidak dapat membantu Anda maju ke depan, berita-berita ini juga akan tidak berfaedah bagi hari depan Anda. Kalau kita mengerti kehendak Tuhan tetapi tidak melakukannya, kita akan menerima hajaran lebih banyak. Kalau kita tidak mengerti kehendak Tuhan, dan tidak melakukannya, kita akan menerima sedikit hajaran. Lukas 12:48 mengatakan, “Tetapi siapa saja yang tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, akan banyak dituntut dari dirinya, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, akan lebih banyak lagi dituntut dari dirinya.” Kalau Anda tidak berminat mengikuti Tuhan, lebih baik Anda tidak mengerti apa-apa. Akan tetapi sekarang kita bukan lagi sebagai orang yang tidak mengerti apa-apa. Semoga kita menaruh perhatian dan menaati peringatan yang menyuruh kita maju ke depan dan tidak berbalik ke belakang. Semoga kita berdoa, “Tuhan Yesus, bantulah aku maju ke depan!”.