← Daftar isi Ibrani (3) · bab 12/18

PAHALA KERAJAAN DAN KESELAMATAN JIWA

Ada dua hal penting yang disebut-sebut dalam peringatan keempat dalam Surat Ibrani hukuman yang lebih berat (10:29) dan upah (pahala) yang besar (10:35). Kedua ungkapan ini mengandung makna yang sangat besar dan dalam, juga merupakan kata kunci dari peringatan keempat. Penulis tidak mengkhawatirkan keselamatan kita, karena seperti telah ditulisnya, keselamatan kita telah terjamin untuk selama-lamanya. Ia telah menunjukkan dengan jelas bahwa dosa kita telah dihapus sekali untuk selamanya berkat Kristus mempersembahkan diri-Nya hanya sekali saja (7:27; 9:26, 28) dan bahwa Ia telah menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi kita (5:9). Dengan memasuki tempat maha kudus sekali untuk selama-lamanya bagi kita, Ia telah merampungkan penebusan (kelepasan, LAI) kekal itu bagi kita (9:12). Penulis mengetahui bahwa keselamatan kita sudah mutlak sempurna, terjamin sepenuhnya, dan kita telah beroleh selamat selama-lamanya. Akan tetapi, ia sangat prihatin, apakah pembacanya kelak beroleh pahala besar atau menderita hukuman.

Dari abad ke abad, banyak orang Kristen hanya mengetahui adanya pahala, tetapi tentang adanya hukuman tidak begitu jelas. Banyak buku yang membahas masalah upah, yang mengatakan bila kita setia mengikuti Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, kita akan menerima sebuah mahkota sebagai pahala. Namun, sulit kita temukan buku yang membicarakan aspek lainnya, yaitu hukuman. Keba-nyakan orang Kristen tidak suka menyinggung judul ini, sebab takut mempersulit diri mereka sendiri. Tetapi “hukuman yang lebih berat” jelas tercantum dalam Ibrani 10:29, dan kita tidak dapat meremehkannya. Kelak, kalau bukan menderita hukuman yang lebih berat, kita akan menerima pahala yang besar.

Allah kita adalah Allah yang adil, benar, dan hikmat. Ia tahu bagaimana menangani setiap hal dan bagaimana memperlakukan anak-anak-Nya. Sebagai Bapa yang berhikmat, Ia mempunyai cara yang adil dalam memperlakukan anak-anak-Nya, yakni kita. Ia akan memberi pahala kepada mereka yang setia dan taat, Ia juga akan menghukum mereka yang tidak setia dan yang membangkang. Menurut kebanyakan ajaran, nampaknya Allah hanya memberi pahala kepada mereka yang setia, tetapi tidak menghukum mereka yang tidak setia. Hal itu tidak logis. Bapa kita jauh lebih berhikmat; mengatakan bahwa Ia akan memberi pahala kepada orang yang setia, dan menghukum orang yang tidak setia, sangatlah logis. Allah kita adalah Allah yang logis dan bertujuan. Ia tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak ada artinya. Dalam firman-Nya dikatakan dengan tegas, jika kita setia, Ia akan memberi pahala, tetapi jika kita tidak setia, Ia akan menghukum kita.

Kita tidak perlu khawatir terhadap keselamatan kita. Firman kudus-Nya menjamin bahwa kita akan diselamatkan sampai selama-lamanya. Tetapi di sinilah masalahnya bagaimana kita mengikuti Tuhan sesudah kita beroleh selamat? Sudahkah kita bertindak menurut hukum hayat? Maukah kita maju ke tempat maha kudus, atau malah berbalik ke belakang ke tempat kudus, bahkan ke pelataran luar? Semua itu terserah kepada kita. Jika kita maju ke depan, kita akan beroleh pahala, tetapi jika kita berbalik ke belakang, kita akan menerima hukuman, karena kita telah merusak pemerintahan Allah, dan tidak menaati kehendak-Nya. Kita semua harus maju memasuki perjanjian yang kedua, menceburkan diri ke dalam ekonomi perjanjian baru Allah, melupakan segala dosa, dan mencurahkan seluruh perhatian kita kepada hukum hayat yang membuat kita menjadi reproduksi-Nya. Bila kita mau memperhatikan hal-hal ini, Ia akan memberi kita pahala. Bila kita tidak mau memperhatikan hal-hal ini, malah berbalik ke belakang, Ia akan menghukum kita sesuai dengan peringatan-Nya. Merusak pemerintahan Allah adalah hal yang serius. Kalau kita berbuat demikian, kita akan menderita hukuman yang lebih berat daripada mereka yang merusak hukum Taurat harfiah. Kita harus terkesan dalam-dalam terhadap masalah “hukuman yang lebih berat” dan “upah (pahala) yang besar” ini. Mungkin kita perlu menggarisbawahi perkataan ini dalam Alkitab kita, untuk mengingatkan kita akan kepentingannya. Kata-kata ini mewakili nasib kita di kemudian hari. Mana yang akan terjadi, hukuman yang lebih berat atau pahala yang besar?

Rasul Paulus sendiri baru merasa dirinya terjamin beroleh pahala ketika ia mencapai akhir hidupnya. Sewaktu ia menulis Surat Korintus yang pertama, ia sangat prihatin kalau-kalau dirinya akan tersingkir dari perlombaan surgawi (9:24-27). Bahkan ketika ia menulis Surat Filipi, ia masih berusaha berlari menuju ke sasaran, untuk memperoleh pahala (Flp. 3:14). Hanya dalam 2Timotius 4:7-8, yang ditulisnya sesaat sebelum ia mati martir, barulah ia yakin bahwa mahkota kebenaran telah menantinya. Jangan terlalu yakin bahwa Anda kini telah memperoleh pahala, sebab Anda belum menyelesaikan perlombaan Anda itu.

Kita semua harus jelas tentang keempat istilah ini: keselamatan, kebinasaan, pahala, dan hukuman. Pahala bukanlah keselamatan, melainkan sesuatu yang ditambahkan pada keselamatan. Keselamatan adalah oleh anugerah melalui iman, sedangkan pahala adalah yang dihadiahkan Tuhan berdasarkan hidup dan pekerjaan kita setelah kita diselamatkan. Pahala berbeda dengan keselamatan, demikian juga hukuman berbeda dengan kebinasaan. Seperti telah kita tunjukkan, kebinasaan adalah untuk orang yang tidak percaya, sedang hukuman ditujukan kepada kaum beriman. Karena itu, hukuman di sini merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda dengan kebinasaan. Kita telah diselamatkan selama-lamanya, tidak mungkin binasa lagi. Orang yang tidak percaya menghadapi dua pilihan: beroleh selamat atau binasa. Kita, orang-orang yang sudah beroleh selamat, juga harus memperhatikan dua kemungkinan: menerima pahala atau menderita hukuman. Semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan harus mengenal hal ini dengan jelas, sebab ini berhubungan dengan ekonomi Allah, berhubungan dengan cara Allah memperlakukan anak-anak-Nya.

I. KESELAMATAN YANG KEKAL

A. Karena Anugerah dan oleh Iman

Efesus 2:8 menyatakan dengan jelas bahwa kita diselamatkan karena anugerah dan oleh iman, bukan hasil usaha kita. Apa yang telah kita lakukan dulu, yang sedang kita lakukan sekarang, dan yang akan kita lakukan kelak, tidak dapat mempengaruhi keselamatan yang telah kita peroleh. Hal ini mutlak berasal dari anugerah Allah dan oleh iman kita di dalam Tuhan Yesus.

B. Bukan Hasil Usaha (Perbuatan)

Keselamatan bukan hasil usaha kita (Ef. 2:9; Rm. 11:6) juga bukan tergantung pada apa yang kita perbuat, apa adanya kita, atau perbuatan kita. Ia berasal dari anugerah dan oleh iman, bukan hasil usaha kita; jika tidak, anugerah bukan lagi anugerah.

C. Orang yang Telah Diselamatkan

Tidak Akan Binasa Selamanya

Orang yang telah diselamatkan tidak akan binasa selama-lamanya. Jangan mendengar ajaran yang mengatakan bahwa kita mungkin diselamatkan dan binasa berulang-ulang. Yohanes 10:28-29 menjamin kita dengan kuat bahwa kita yang telah diselamatkan tidak akan binasa selama-lamanya. Firman Tuhan, “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Hayat yang kita peroleh adalah hayat kekal, tidak dapat dilenyapkan oleh apa pun. Apalagi ada dua tangan yang memegang kita, yakni tangan kuasa Tuhan dan tangan kasih Bapa, maka tidak ada seorang pun dapat merebut kita. Keselamatan kita terjamin kukuh selama-lamanya oleh hayat kekal dan kedua tangan ilahi tersebut.

D. Orang yang Telah Diselamatkan

Mungkin Akan Kehilangan Pahala

Bahkan Menderita Kerugian

Diterangkan dalam 1Korintus 3:15 bahwa orang yang telah beroleh selamat mungkin saja kehilangan pahala, bahkan “menderita kerugian”; tetapi ia sendiri akan beroleh selamat, namun seperti dari dalam api. Kita harus menaruh perhatian serius pada ayat ini berikut konteksnya. Ayat 8 mengatakan, “Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.” Ayat ini menunjukkan bahwa yang dibicarakan di sini bukan keselamatan, melainkan upah atau pahala. Dalam ayat 12 kita nampak dua jenis bahan yang dapat kita gunakan untuk membangun: emas, perak, dan batu permata (produk hukum hayat); kayu, rumput kering, dan jerami (produk daging). Ayat 13-14 melanjutkan, “Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan tampak, karena hari Tuhan akan menyatakannya. Sebab hari itu akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang, akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” Di sini sekali lagi mengatakan tentang pahala, bukan keselamatan. Jika pekerjaan seseorang terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri tidak akan binasa. “Ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Paulus sangat teliti dalam menulis ayat ini. Katanya, kita mungkin saja menderita kerugian, tetapi tetap akan diselamatkan. Jika tidak, kita akan mengira karena kita kelak tetap diselamatkan, tentu tidak ada masalah lagi. Paulus menegaskan bahwa memang kita akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api atau seperti melewati api. Saya kira saya tidak perlu lagi menjelaskan ayat ini, cukup kita menerimanya begitu saja. Diselamatkan “dari dalam api” tentu bukan hal yang enak. Walaupun saya tidak tahu itu api macam apa, tetapi bagaimanapun saya tidak mau melaluinya.

Semua yang kita bicarakan di sini adalah firman Allah yang murni, sekali-kali bukan ajaran penyucian api dalam kekristenan tertentu, seperti tuduhan sementara orang terhadap kita. Ajaran penyucian api mutlak milik setan. Tetapi di sini kita hanya mengutip firman Allah yang murni. Kita tidak boleh mengutip atau memilih ayat-ayat Alkitab menurut selera kita saja. Setiap orang menyukai Yohanes 3:16, bahkan ada yang menuliskannya sebagai hiasan, lalu digantung di dinding rumah. Namun, saya tidak pernah melihat orang menggantungkan kata-kata 1Korintus 3:15 di dinding rumah siapa pun. Satu Korintus 3 membicarakan masalah pembangunan gereja. Hari ini Allah hanya memperhatikan satu hal pembangunan gereja. Bila kita bersehati dengan Allah dalam hal ini, pasti kita akan menerima pahala. Bila tidak, kita akan menderita kerugian, walau akan diselamatkan tetapi “seperti dari dalam api”.

Ibrani 10:35 menggunakan istilah “upah”, dan 10:27 membicarakan tentang “api yang dahsyat”. Selain itu dalam 12:29 dikatakan, “Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Api yang menghanguskan itu tentunya bukan ditujukan kepada mereka yang setia, melainkan bagi mereka yang tidak setia; bukan untuk pahala, melainkan untuk hukuman. Seperti telah kita katakan, hukuman seperti itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kebinasaan yang kekal. Kita harus dapat membedakan hukuman dengan kebinasaan, sama halnya dengan membedakan antara pahala dengan keselamatan.

II. PAHALA KERAJAAN

Upah atau pahala yang dikatakan dalam ayat 35 ialah pahala kerajaan, sebab pahala ini bukan dihadiahkan kepada kita untuk kita nikmati pada zaman ini, melainkan pada zaman kerajaan yang akan datang. Dalam hidup gereja hari ini, kerajaan merupakan suatu latihan. Jika kita setia terhadap latihan kerajaan hari ini, kita akan beroleh kerajaan sebagai kenikmatan di zaman yang akan datang. Karena itu pahala adalah pahala kerajaan.

A. Karena Kebenaran

Keselamatan kekal kita peroleh karena anugerah, tetapi pahala kerajaan adalah karena kebenaran (keadilan). Dalam 2Timotius 4:8, Paulus mengatakan adanya satu mahkota kebenaran, suatu lambang pahala, bukan mahkota anugerah yang tersedia baginya. Dalam ayat 18 dari pasal yang sama, ia berkeyakinan penuh bahwa Tuhan akan menyelamatkannya ke dalam Kerajaan Surga-Nya. Hal ini dikarenakan kesetiaannya mengikuti dan melayani Tuhan. Tuhan, “Hakim yang adil” akan menghadiahkan pahala kerajaan ini kepada Paulus, menurut kebenaran-Nya, bukan menurut anugerah-Nya.

B. Menurut Perbuatan

Pahala kerajaan adalah menurut perbuatan dan pekerjaan kita. Dalam Matius 16:27 Tuhan Yesus mengatakan bahwa pada kedatangan-Nya kelak, Ia akan membalas kita sesuai dengan perbuatan masing-masing. Dalam Wahyu 22:12 Ia pun mengatakan, “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.” Seperti telah kita lihat pada 1Korintus 3:8, kita masing-masing akan menerima pahala sesuai dengan pekerjaan kita. Keselamatan kekal tidak ada hubungannya dengan perbuatan kita, tetapi pahala kerajaan sepenuhnya tergantung pada perbuatan yang kita lakukan oleh hayat Tuhan setelah kita beroleh selamat.

C. Ditetapkan oleh Takhta Penghakiman Kristus

Pahala ini akan ditetapkan oleh takhta penghakiman Kristus. Dua Korintus 5:10 mengatakan, “Sebab kita semua harus menghadap tahkta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau jahat.” Tempat Kristus menghakimi kaum beriman-Nya akan didirikan pada kedatangan-Nya kembali. Di hadapan takhta penghakiman-Nya, Tuhan Yesus akan menghakimi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Tidak seorang pun di antara mereka yang belum percaya yang dihakimi pada waktu itu, sebab mereka baru akan dihakimi di takhta putih seribu tahun kemudian (Why. 20:11-15). Di sana, di takhta penghakiman Kristus, akan ditetapkan balasan apa yang patut kita terima kenikmatan di dalam kerajaan, atau hukuman-hukuman.

D. Diberikan Ketika Tuhan Kembali

Pahala ini akan diberikan ketika Tuhan kembali. Dalam 1Korintus 4:5, Paulus berkata, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Ketika Tuhan datang lagi, Ia akan menghakimi segala sesuatu, dan akan memberi upah atau hukuman kepada setiap orang beriman. Kita harus memperhatikan peringatan dalam ayat ini. Ketika Ia kembali, Ia “akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati.” Hari ini kita masih bisa menyembunyikan hal-hal yang gelap dan rencana-rencana dalam hati kita, tetapi semuanya itu akan dibawa ke dalam terang dan akan dinyatakan ketika Tuhan kembali. Saat itu setiap orang dari kita akan menerima balasan sesuai dengan perbuatan kita.

E. Dinikmati dalam Kerajaan yang Akan Datang

Pahala kerajaan ini akan kita nikmati kelak dalam kerajaan yang akan datang. Dikatakan dalam Matius 25:21 dan 23, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Menurut konteks Injil Matius ini, masuk dan turut dalam kebahagiaan Tuhan berarti masuk ke dalam kerajaan. Hamba yang setia akan mengambil bagian dalam sukacita Tuhan di dalam kerajaan sebagai upah yang positif.

F. Mengambil Bagian dalam Perhentian

Hari Sabat yang Akan Datang

Pahala kerajaan juga berarti mengambil bagian dalam perhentian hari Sabat yang akan datang. Seperti telah dibahas dalam berita-berita terdahulu, perhentian hari Sabat yang akan datang adalah sukacita dan pemerintahan Kristus sebagai raja dalam Kerajaan Seribu Tahun (Ibr. 4:9; Why. 20:4, 6). Dalam Kerajaan Seribu Tahun, kita akan mengambil bagian dalam sukacita Kristus dan meraja bersama-Nya.

G. Paulus Berusaha Sekuatnya untuk Mendapatkan Pahala

Paulus berusaha sekuatnya untuk mendapatkan pahala ini. Dalam 1Korintus 9:24-27 ia mengatakan bahwa ia berlari untuk memperoleh pahala. Sampai Filipi 3:13-14, ia masih berlari. Hanya pada saat menjelang matinya sebagai martir, barulah ia yakin bahwa pahala itu telah menunggunya; dan mahkota kebenaran telah tersedia baginya, bahkan juga bagi semua orang yang merindukan kedatangan-Nya (2 Tim. 4:7-8).

H. Musa Mendambakan Pahala Ini

Karena bersedia menderita penghinaan karena Kristus, Musa akan menerima pahala kerajaan (10:26). Dia tidak diizinkan masuk ke dalam perhentian tanah permai karena kegagalannya di Meriba (Bil. 20:12-13; Ul. 3:26-27; 4:21-22; 32:50-52). Tetapi dia akan bersama dengan Kristus di dalam kerajaan (Mat. 16:28-17:3). Penulis menyinggung hal ini dengan maksud menguatkan para pembacanya yang sedang menderita penganiayaan karena Kristus, agar mengikuti Musa, dengan menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada harta benda mereka yang hilang, dan mengarah kepada pahala.

I. Sebagai Tambahan bagi Keselamatan Kekal

Pahala kerajaan ialah suatu tambahan bagi keselamatan kekal yang dikatakan dalam 5:9. Atas dasar penebusan kekal Kristus (9:12), maka keselamatan kekal itu telah dikaruniakan Allah kepada kita dengan cuma-cuma dan selama-lamanya menurut pilihan Allah sebelum dunia dijadikan. Karena itu keselamatan ini sangat teguh. Namun, bagaimana perbuatan kita, setelah kita menerima keselamatan itu adalah satu masalah. Maka, sesuai dengan hikmat-Nya, Allah memberi suatu janji pahala, yang merupakan tambahan bagi keselamatan kekal ini, guna mendorong kita setia hidup bersandar Tuhan dan bekerja bagi-Nya.

Beroleh keselamatan kekal ini oleh iman bukan karena perbuatan (Ef. 2:8-9), namun beroleh pahala kerajaan tergantung pada hidup dan pekerjaan kita setelah kita diselamatkan (1Kor. 3:8, 14). Sekalipun kita sudah beroleh selamat mungkin saja kita tidak beroleh pahala kerajaan, sebab kita tidak menghasilkan pekerjaan yang diperkenan Tuhan (1Kor. 3:15). Maka di sini kaum beriman Ibrani dianjuri oleh penulis, agar mereka tidak kehilangan pahala kerajaan, perhentian hari Sabat yang akan datang, yaitu kenikmatan atas Kristus dan meraja bersama Kristus pada zaman yang akan datang.

J. Janji Ini Berbeda dengan

Janji Warisan Kekal

Pahala kerajaan ialah janji yang disebut dalam 10:36, dan berbeda dengan janji warisan kekal dalam 9:15. Janji dalam 10:36 adalah janji akan perhentian hari Sabat yang disebutkan dalam 4:9, suatu perhentian yang di dalamnya kita akan meraja bersama Kristus dalam kerajaan yang akan datang. Janji ini juga adalah pahala yang besar yang disebutkan di dalam 10:35, yaitu mendapatkan jiwa (10:39). Janji ini berdasar pada ketekunan kita dan karena kita melakukan kehendak Allah. Janji dalam 9:15 ialah janji warisan kekal yang berdasar pada penebusan kekal Kristus, bukan berdasar pada perbuatan kita. Warisan kekal dalam 9:15 hanya berdasarkan penebusan kekal Kristus, sedangkan upah besar (10:35) dalam janji 10:36 adalah pahala untuk kita bila kita melakukan kehendak Allah.

Terhadap kaum beriman Ibrani, kehendak Allah di sini adalah agar mereka menempuh jalan perjanjian yang baru (ayat 19-23) dan tinggal di dalam gereja (ayat 25), tidak mengundurkan diri kembali ke Yudaisme (ayat 38-39), yang justru akan menderita penganiayaan dari Yudaisme (ayat 32-34). Jika demikian, mereka akan menerima pahala yang besar yang telah dijanjikan (ayat 35) pada kedatangan Tuhan kembali (ayat 37). Janji warisan kekal tercakup dalam keselamatan kekal Allah. Janji dalam 10:36 ialah suatu pahala bagi para pemenang, namun warisan kekal ialah milik semua orang beriman yang telah menerima keselamatan kekal.

Dalam ayat 34 tercantum masalah “harta yang lebih baik dan lebih tetap”. Harta yang lebih baik dan lebih tetap ini adalah warisan yang kekal (9:15) juga adalah warisan yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu, yang tersimpan di dalam surga (1Ptr. 1:4). Di bawah perjanjian yang lama, orang-orang Yahudi mewarisi hal-hal duniawi sebagai milik mereka; tetapi di bawah perjanjian yang baru, kaum beriman mewarisi kekayaan surgawi sebagai milik mereka. Harta yang lebih baik dan lebih tetap ini adalah suatu pendorong besar bagi kaum beriman Ibrani untuk tahan menderita kerugian atas hal-hal duniawi.

Ungkapan “mengundurkan diri dan binasa” tercantum dalam ayat 39. Bagi kaum beriman Ibrani, kembali kepada Yudaisme adalah mengundurkan diri dan binasa. Ini bukan binasa kekal, melainkan menerima hukuman dari Allah yang hidup (ayat 29-31). Itulah hukuman yang disebutkan dalam ayat 27-31, yang akan menimpa orang-orang yang meninggalkan perjanjian yang baru dan kembali kepada Yudaisme, sehingga menginjak-injak Putra Allah, menganggap darah mustika Kristus sebagai suatu hal yang biasa, seperti darah hewan, dan menghina Roh anugerah. Karena pahala kerajaan merupakan pahala yang positif, maka hukuman itu tentunya negatif.

III. BEROLEH JIWA

Ayat 39 membicarakan tentang “beroleh jiwa” (LAI: beroleh hidup). Dalam bahasa aslinya kata “beroleh” di sini juga boleh diterjemahkan menjadi “menyelamatkan”, “memelihara”, “memiliki”. Sangat sedikit orang Kristen yang memahami arti istilah ini. Beberapa orang mengira istilah ini berarti diselamatkan dari neraka; ini tidak tepat. Beroleh jiwa berbeda dengan keselamatan roh. Dalam 1Korintus 5:5 yang mengisahkan seorang saudara telah diusir dari gereja karena berbuat dosa, Paulus mengatakan, “Orang itu harus diserahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Bahkan seorang saudara yang telah jatuh dan berdosa sedemikian rupa, rohnya tetap akan diselamatkan, sebab keselamatan roh itu kekal. Akan tetapi, beroleh jiwa ada syaratnya. Tidak perlu berbuat dosa, asalkan kita berbalik ke belakang atau mengundurkan diri dari ekonomi Allah, kita sudah kehilangan jiwa kita. Pada umumnya orang Kristen hanya memiliki satu konsepsi: kalau tidak ke surga, tentu ke neraka; kalau bukan beroleh selamat, pasti binasa. Namun baik Alkitab maupun Bapa kita yang berhikmat tidaklah sesederhana itu. Bapa kita mempunyai banyak cara untuk menanggulangi kita. Kita akan nampak bahwa beroleh jiwa berkaitan dengan masalah pahala kerajaan.

A. Seluruh Diri Kita Akan Menikmati

Perhentian Sabat yang Akan Datang

Beroleh jiwa adalah agar seluruh diri kita dapat menikmati perhentian hari Sabat yang akan datang, yaitu mengambil bagian dalam sukacita dan kemuliaan Kristus dalam kerajaan yang akan datang (4:9). Diri kita terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh (1Tes. 5:23). Jiwa kita berbeda dengan roh kita. Pada saat kita percaya Tuhan Yesus dan diselamatkan, roh kita dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6). Tetapi kita harus menunggu sampai Tuhan Yesus datang kembali baru tubuh kita ditebus, diselamatkan, dan ditransfigurasi (Rm. 8:23-25; Flp. 3:21). Mengenai menyelamatkan, beroleh jiwa kita, itu tergantung pada bagaimana kita menanggulangi jiwa kita dalam mengikuti Tuhan setelah kita diselamatkan dan dilahirkan kembali. Jika sekarang kita rela kehilangan jiwa kita demi Tuhan, kita akan menyelamatkannya (Mat. 16:25; Luk. 9:24; 17:33; Yoh. 12:25; 1 Ptr. 1:9), dan jiwa kita akan diselamatkan, atau didapatkan pada kedatangan Tuhan kembali (Ibr. 10:37). Beroleh jiwa itu akan menjadi pahala (10:35) dalam kerajaan bagi pengikut-pengikut Tuhan yang menang (Mat. 16:22-28).

B. Pahala Besar atas Penderitaan Kita

karena Mengikut Kristus

Beroleh jiwa dalam zaman yang akan datang adalah satu pahala besar atas penderitaan kita karena kita mengikut Kristus di zaman ini (ayat 35). Jika kita hari ini hanya mementingkan kenikmatan jiwa, kesenangan psikologis, dan tidak mengikut Kristus dengan setia, kita akan menderita hukuman Tuhan atas jiwa kita di zaman yang akan datang. Tetapi jika hari ini kita rela kehilangan kenikmatan jiwa karena Tuhan, kita akan beroleh kenikmatan penuh atas Tuhan bagi seluruh diri kita di zaman yang akan datang, terutama bagi jiwa kita. Hal ini adalah pahala atas penderitaan kita hari ini.

C. Dengan Syarat Kehilangan Jiwa Kita karena Tuhan pada Zaman Ini

Untuk beroleh jiwa haruslah kita kehilangan jiwa karena Tuhan pada zaman ini. Dalam keempat kitab Injil, Tuhan berkali-kali mengatakan bahwa kalau kita pada zaman ini kehilangan jiwa karena Dia dan karena Injil, kita akan memperolehnya di zaman kelak ketika Ia kembali (Mat. 16:25; Luk. 9:24; 17:33). Walau ayat-ayat ini sangat dikenal oleh banyak orang kudus, namun tidak banyak yang mengerti makna sebenarnya dari ayat-ayat ini. Sebagai manusia, kita mempunyai satu roh, tetapi kita adalah jiwa (nyawa). Manusia ialah jiwa. Kehilangan jiwa pada zaman ini berarti menderita karena Tuhan dan Injil. Ketika kita menderita, seluruh diri kita turut menderita, inilah arti kehilangan jiwa kita. Orang yang hari ini serba kaya dan senang dalam menikmati kehidupan jasmaniah, itu berarti memiliki kenikmatan jiwa. Sangat sedikit orang Kristen mau membayar harga untuk mengikuti Tuhan dengan ketat, sebab mereka enggan menderita dalam jiwa mereka; mereka hanya ingin hidup senang di hari ini; ingin membeli mobil mewah, rumah besar, dan banyak benda duniawi. Mereka tidak mau kehilangan jiwa mereka.

Kehilangan jiwa dalam zaman ini berarti menderita karena Tuhan secara manusiawi. Jika kita hari ini mengikut Tuhan, kita pasti akan menderita karena-Nya. Karena Anda mengikut Yesus dengan setia dan tulus, mungkin guru Anda tidak memberi angka yang tinggi, dan atasan Anda tidak menaikkan jabatan Anda. Banyak hal semacam ini berkaitan dengan kehilangan jiwa. Nasib kita pada zaman ini ialah kehilangan jiwa dan seluruh kenikmatan insani kita. Kehilangan jiwa kita pada hari ini merupakan syarat bagi keselamatan pada zaman akan datang. Keselamatan jiwa pada zaman akan datang berarti memasuki sukacita dan pemerintahan Tuhan. Menurut perumpamaan Matius 25, Tuhan berkata kepada hamba yang setia, “Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Ini berarti meraja bersama-Nya dalam kerajaan yang akan datang. Zaman ini adalah zaman untuk kita menerima penderitaan, zaman yang akan datang, barulah zaman untuk kenikmatan kita.

Dalam dua berita terakhir ini kita telah nampak dengan jelas masalah hukuman sezaman, pahala kerajaan, dan beroleh jiwa. Hukuman yang akan diderita orang Kristen yang gagal tidak lain ialah kehilangan jiwa. Jika pada zaman ini Anda beroleh jiwa Anda, enggan membayar harga untuk mengikut Tuhan, Anda akan kehilangan jiwa pada waktu Tuhan datang kembali. Itu benar-benar suatu hukuman yang berat. Ketika para pemenang masuk ke dalam kebahagiaan (sukacita) Tuhan dan meraja bersama-Nya, Anda sebaliknya akan dikesampingkan. Kehilangan jiwa pada zaman kelak bukan berarti binasa, tetapi berarti tersingkir di luar kenikmatan dan pemerintahan Kristus di saat Ia berdaulat atas bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun. Mereka yang beroleh jiwa pada zaman ini dan kehilangan jiwa di zaman yang akan datang tidak bisa meraja bersama Kristus dalam zaman kerajaan kelak. Kalau kita kehilangan jiwa karena Tuhan pada zaman ini, kita akan memperolehnya pada zaman kelak dan akan masuk ke dalam sukacita dan pemerintahan Tuhan, bahkan memperoleh kenikmatan yang penuh atas hidup insani kita ketika kita memerintah bersama-Nya atas seluruh bangsa. Itulah pahala yang sangat besar.

Sekarang saya ingin berbicara lebih lanjut tentang pahala. Atas hal ini, Alkitab sangat konsisten. Menerima pahala tidak sekadar melakukan hal baik, memuliakan Allah, dan menerima suatu hadiah di saat kedatangan Tuhan kelak, itu hanya konsepsi alamiah kita terhadap masalah pahala. Kini kita perlu melihat masalah ini dari sudut lain.

Beroleh jiwa sama dengan kesempurnaan, dan kesempurnaan sama dengan pemuliaan. Dipermuliakan, disempurnakan, dan beroleh jiwa pada zaman yang akan datang mengacu kepada satu hal, yakni beroleh pahala. Lalu apakah pahala itu? Itulah sasaran keselamatan Allah. Keselamatan Allah mempunyai satu sasaran, namun sasaran ini bukan menaikkan kita ke surga, melainkan menjadikan kita serupa dengan Putra sulung-Nya. Roma 8:29 mengatakan, bahwa kita telah “ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Di sini kita nampak sasaran Allah yaitu agar putra-putra-Nya yang banyak, saudara-saudara Kristus, terbentuk menjadi serupa dengan gambar Putra sulung-Nya. Yang Allah kerjakan hari ini ialah membawa banyak anak ke dalam kemuliaan, yaitu memasukkan semua orang yang telah diselamatkan ke dalam kemuliaan Putra sulung Allah. Allah menyelamatkan kita bukan untuk mengantar kita ke surga, melainkan mengubah, membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Putra-Nya, supaya Ia boleh memiliki ekspresi korporat bagi diri-Nya sendiri dalam kekekalan. Inilah sasaran keselamatan Allah.

Allah telah mengetahui sebelumnya bahwa banyak orang yang dipilih-Nya tidak mau bekerja sama dengan-Nya, yakni tidak memberi-Nya kesempatan untuk merampungkan sasaran keselamatan-Nya. Karena itu, dalam hikmat-Nya, Ia telah menetapkan dan menjadikan sasaran keselamatan-Nya suatu pahala bagi orang-orang yang telah dipilih dan diselamatkan. Bila pada mereka tidak ada kelemahan, kekurangan, atau kegagalan, Allah pasti tidak membuat sasaran keselamatan-Nya ini menjadi pahala, sebab setiap orang yang beroleh selamat pasti bisa mencapai sasaran ini. Akan tetapi hanya mereka yang mau bekerja sama dengan Dia barulah dapat mencapai sasaran ini, dan bagi mereka, sasaran ini adalah suatu pahala.

Lihatlah lagi contoh bani Israel. Kehendak Allah dalam memanggil, menyelamatkan, dan membawa mereka keluar dari Mesir ialah membuat mereka menjadi satu kerajaan imamat (Kel. 19:4-6). Setiap orang Israel seharusnya menjadi imam. Namun ketika mereka tiba di Gunung Sinai, mereka telah merugikan sasaran Allah karena menyembah patung anak lembu emas. Hanya suku Lewi saja yang memihak kepada Allah, karenanya sasaran imamat segera menjadi satu pahala bagi suku yang satu ini. Walaupun sebelas suku lainnya tidak binasa, tetapi mereka tidak dapat mencapai sasaran keselamatan Allah. Imamat sebenarnya adalah sasaran setiap suku, namun kini telah menjadi pahala bagi satu suku (suku Lewi) saja.

Hari ini, prinsipnya sama. Sasaran Allah ialah membuat kita semua menjadi serupa dengan gambar Putra sulung-Nya. Bila kita mau bekerja sama dengan Allah, Ia akan bekerja di dalam kita dari hari ke hari, dan setiap hari kita akan menikmati Kristus sepuas-puasnya. Inilah kenikmatan yang tertinggi. Kalau hari ini kita menikmati Kristus sedemikian rupa, ketika Ia datang meraja kelak, kita pun akan masuk ke dalam kerajaan-Nya, dan menjadi mitra yang meraja bersama Dia. Inilah sasaran Allah. Sayang sekali, hari ini banyak orang yang terpilih namun tidak mau bekerja sama dengan-Nya sampai tahap sedemikian; karena itu mereka kehilangan kenikmatan penuh atas Kristus yang sebenarnya dapat mereka miliki sekarang ini. Meskipun mereka telah diselamatkan, namun mereka tidak menikmati Kristus, setiap hari hidup mereka tidak berbeda dengan orang yang belum memiliki Kristus. Walau mereka menjadi milik Kristus, memiliki-Nya sebagai hayat dan Juruselamat mereka, tetapi mereka enggan memberi-Nya kesempatan untuk hidup di dalam mereka. Akibatnya, mereka akan kehilangan kenikmatan atas Kristus pada hari ini, dan sudah tentu pada zaman Kerajaan Seribu Tahun kelak mereka pun akan kehilangan kenikmatan meraja bersama-Nya. Karena hari ini mereka mengabaikan Kristus, maka pada zaman yang akan datang mereka akan kehilangan sasaran keselamatan Allah.

Mereka yang telah dipilih Allah dan enggan bekerja sama dengan-Nya, tidak saja akan kehilangan kenikmatan yang tertinggi atas Kristus pada hari ini, dan kehilangan kebahagiaan meraja bersama Kristus kelak, bahkan karena mereka merugikan kehendak Allah dan tidak menuruti ekonomi-Nya, mereka akan menerima hajaran Allah. Hajaran atau ganjaran itu juga merupakan peringatan bagi mereka, agar mereka kembali mencari sasaran Allah itu. Jangan berkata kepada diri sendiri, “Kalau aku malas dan tidak dapat mencapai sasaran Allah, aku bersedia menerima ganjaran-Nya. Sesudah ganjaran itu berlalu, tentu semua perkara akan beres.” Itu tidak benar. Walaupun Anda telah mengalami ganjaran Allah, Anda tetap harus mencapai sasaran-Nya. Cepat atau lambat, setiap orang yang dipilih Allah harus mencapai sasaran Allah. Misalkan, saya mempunyai dua anak yang masih bersekolah, yang satu mendapat angka tinggi dan lulus, sedang yang lain gagal, tidak lulus. Maka, yang tidak lulus itu harus menerima ganjaran, yakni dimasukkan ke dalam kamar gelap sehari penuh. Menurut Anda apakah setelah menderita hukuman itu ia lalu tidak perlu belajar lagi? Tidak, ia tetap harus belajar. Jadi tujuan ganjaran ialah untuk memaksanya belajar. Setelah dihukum, ia tetap harus membaca dan menyelesaikan pelajarannya; jika tidak, ia tidak akan pernah lulus sekolah. Sekolah itu sangat bersabar hati. Kalau pada semester kedua tidak lulus, ia harus lulus pada semester selanjutnya. Orang tua selalu menginginkan anak-anak mereka rajin belajar dan menerima hadiah pada akhir tiap semester, dan bersama-sama mereka menikmati sukacita, supaya jiwa mereka puas. Namun anak-anak yang tidak patuh akan kehilangan hadiah itu, malah sebaliknya akan mendapat ganjaran, dan pada akhirnya tetap harus menyelesaikan pelajaran sampai lulus. Kecuali mereka menyelesaikan pelajaran sampai lulus, orang tua mereka tidak akan membiarkan mereka begitu saja. Kepala sekolah surgawi pun sangat sabar. Ia sabar menunggu hingga setiap murid dalam sekolah-Nya lulus dan terbangun di dalam Yerusalem Baru, yaitu sasaran Allah yang terakhir.

Sekarang kita seharusnya sudah jelas mengenai masalah pahala dan hukuman. Keselamatan Allah mempunyai satu sasaran, dan kita semua harus mencapainya. Kebanyakan orang Kristen tidak mengenal apa sasaran keselamatan Allah. Tetapi karena belas kasihan-Nya, visi dan wahyu tentang sasaran keselamatan Allah sudah sangat jelas dinyatakan kepada kita. Kita semua harus mencapai sasaran yang tertinggi ini, yaitu pahala yang disediakan Allah bagi orang-orang yang setia. Jika kita tidak setia terhadap Allah, kita akan kehilangan sasaran-Nya pada zaman yang akan datang, bahkan akan menderita hukuman atau ganjaran, agar pada akhirnya kita pun dapat mencapainya. Bagi mereka yang mencapai sasaran secara demikian, sasaran itu bukan lagi pahala. Betapa kita harus bersyukur kepada Tuhan atas hikmat-Nya yang membuat sasaran keselamatan-Nya menjadi satu pahala. Hal ini justru merupakan dorongan yang besar bagi kita dalam mengikuti Tuhan. Semoga kita semua dapat mengikuti Tuhan sedemikian rupa sehingga kita bisa masuk ke dalam sasaran Allah, dan agar sasaran-Nya menjadi pahala kita.