← Daftar isi Ibrani (3) · bab 13/18

JALAN IMAN YANG UNIK DAN DEFINISI IMAN

Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Surat Ibrani, Roma, dan Wahyu merupakan tiga kitab yang paling baik susunannya. Dari segi komposisi ketiga kitab ini, Surat Ibranilah yang paling baik. Dalam sepuluh pasal pertama Surat Ibrani kita nampak perbandingan yang sangat jelas, lengkap, dan tuntas antara ekonomi Allah dengan agama manusia. Agama buatan manusia menghalangi umat Allah untuk maju sesuai dengan ekonomi-Nya. Surat Ibrani justru ditulis dengan alasan adanya halangan tersebut. Setelah menyajikan perbandingan yang menyeluruh antara Yudaisme dengan ekonomi Allah dalam sepuluh pasal pertama, kitab ini berpesan kepada kaum beriman Ibrani, yang berada dalam bahaya berpaling kembali dan undur, agar hidup, berjalan, maju oleh iman (10:38-39), bukan berdasarkan apa yang kelihatan (2Kor. 5:7). Kemudian dalam pasal 11 menjelaskan definisi iman menurut sejarah iman.

Misalkan, Anda sedang mengendarai sebuah mobil dan tiba pada sebuah persimpangan di mana terpancang dua rambu, yang satu menunjukkan jalan tertutup, sedang yang lainnya menunjukkan jalan terbuka. Mungkinkah Anda menuju ke jalan yang tertutup? Jika begitu, Anda akan menanggung resiko maut. Mengambil jalan yang terbuka tentulah yang benar dan aman. Perbandingan yang jelas yang dipaparkan dalam kesepuluh pasal pertama dari Surat Ibrani adalah rambu-rambu untuk kita, agar kita tahu jalan mana yang tertutup, dan mana yang terbuka. Di atas jalan lama terpancang sebuah rambu, “tertutup”, “buntu”. Di atas jalan baru juga terpancang sebuah rambu, “terbuka”, “baru tersembelih”. Perbandingan yang kontras ini merupakan kesimpulan kesepuluh pasal tersebut. Setelah mengetengahkan perbandingan itu, penulis lalu menunjukkan kepada kita bagaimana dapat mengambil jalan yang terbuka dan yang baru tersembelih dengan jalan iman yang unik.

Sebelum membahas masalah iman, saya ingin menambahkan beberapa kata lagi tentang keselamatan jiwa. Ibrani 10:39 mengatakan, “Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan beroleh jiwa” (hidup, LAI). Alkitab adalah kitab yang konsisten. Walaupun beraspek banyak dan memakai istilah berbeda-beda, tetapi butir utamanya selalu konsisten. Istilah pemuliaan, kesempurnaan, dan keselamatan jiwa, semua itu mengacu kepada satu hal. Seperti telah kita bahas, pemuliaan berarti kesempurnaan dan kesempurnaan berarti keselamatan jiwa. Kini kita semua adalah pengikut Kristus, jika kita ingin mengikuti-Nya seturut ekonomi Allah, kita harus membayar harga. Ditinjau dari segi insani, untuk mengikuti Tuhan, kita harus kehilangan kenikmatan jiwani dan hiburan duniawi. Kehilangan hal-hal itu berarti kehilangan jiwa. Jika hari ini kita tidak mau membayar harga untuk kehilangan jiwa kita, berarti kita tidak mau kehilangan kenikmatan jiwani atau hiburan duniawi pada zaman ini, juga berarti kita tidak mau memberikan kesempatan bagi hukum hayat untuk menggarapkan Kristus ke dalam kita. Jadi, arti kehilangan jiwa hari ini ialah memberi kesempatan kepada hukum hayat untuk menggarapkan Kristus ke dalam kita. Dengan kata lain, kita tidak lagi mementingkan berbelanja, beli rumah, makan minum, berbusana mewah, atau segala macam hiburan duniawi, tetapi kita hanya memperhatikan pekerjaan hukum hayat yang ada di dalam kita. Kita semua harus dapat berkata, “Aku mau membayar harga apa pun, agar hukum hayat mendapat kesempatan untuk menggarapkan Kristus ke dalam setiap bagian dari diriku.” Inilah artinya kita disempurnakan, dan ini juga arti dimuliakan. Pemuliaan kita di masa yang akan datang adalah beroleh jiwa. Jadi, kesempurnaan, pemuliaan, dan beroleh jiwa, semua mengacu kepada satu hal yang sama.

Dalam 10:39 penulis mengatakan, “kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa”. Karena kita telah disucikan dengan darah Tuhan yang mustika, telah dilahirkan kembali, dan telah dihuni oleh Roh Kudus, maka kita menjadi bahan-bahan yang baik untuk kepentingan ekonomi Allah, dan hukum hayat dapat menggarapkan Kristus ke dalam kita. Jika kita enggan membayar harga untuk ini, malah mengundurkan diri ke belakang, kita, bahan-bahan yang baik bagi ekonomi Allah ini, akan rusak dan tidak dapat menjadi sarana pekerjaan hukum hayat. Jika kita maju ke depan, kita akan tetap menjadi bahan-bahan yang baik bagi hukum hayat untuk menggarapkan Kristus ke dalam diri kita. Jika mengundurkan diri, bahan-bahan baik ini akan dirusak oleh kenikmatan jiwani, hiburan duniawi, dan kegiatan agamis. Istilah “binasa” di sini dalam bahasa Yunani sama dengan istilah “rusak”. Jadi bila Anda, yang menjadi bahan yang baik bagi pekerjaan hukum hayat, mengundurkan diri dari ekonomi Allah, Anda akan rusak sama sekali. Di hari-hari yang lampau, saya melihat banyak bahan yang baik telah rusak karena pengunduran diri mereka dari ekonomi Allah hari ini. Walaupun mereka telah nampak ekonomi Allah hari ini, namun mereka tidak mau membayar harga untuknya. Mereka berbalik ke belakang dan menjadi rusak. Kita harus berhati-hati dalam hal ini.

Binasa atau rusak berarti hari ini kita menyelamatkan jiwa kita, dan kehilangan jiwa di kemudian hari. Ini juga berarti kita menjual hak kesulungan pemuliaan, yaitu meninggalkan hak kita untuk mencapai kesempurnaan yang penuh. Orang-orang yang kehilangan jiwa di masa yang akan datang ialah orang-orang yang tidak mementingkan kesempurnaan, pemuliaan, dan beroleh jiwa untuk masa yang akan datang; mereka hanya mementingkan kenikmatan jiwani pada hari ini. Jika hari ini kita mau membayar harga kehilangan jiwa kita, kelak kita akan beroleh jiwa, disempurnakan, dan dimuliakan. Untuk memberi dorongan kepada kaum beriman Ibrani agar mereka maju dalam hal ini, pada akhir pasal 10 penulis mengatakan bahwa kita adalah orang-orang “yang percaya dan beroleh jiwa” (Tl.). Setelah menyajikan perbandingan yang menyeluruh antara Yudaisme dengan ekonomi Allah dalam sepuluh pasal pertama, kitab ini berpesan kepada kaum beriman Ibrani untuk maju ke depan oleh iman. Selanjutnya, dalam pasal 11, ia menampilkan jalan iman yang unik.

I. JALAN IMAN YANG UNIK

A. Oleh Iman Menerima Firman Injil

Dalam surat ini, iman pertama-tama dibicarakan dalam pasal 3 dan 4. Dalam 4:2 kita nampak iman adalah jalan yang unik untuk menerima firman Injil. Injil yang tepat adalah Injil wasiat. Jika seseorang ingin menerima Injil wasiat, ia harus memiliki iman. Misalkan, seseorang menyerahkan sebuah dokumen yang di dalamnya tercatat sejumlah besar uang yang telah didepositokan di dalam bank atas nama Anda. Bila Anda mau menerima dokumen itu, Anda perlu memiliki iman. Kalau Anda tidak beriman, Anda akan berkata, “Ah, ini cuma sehelai kertas saja, tidak ada artinya bagiku!” Ketika kita memberitakan Injil, kita harus menginfuskan iman ke dalam hati orang. Kuasa pemberitaan Injil yang tepat tidak lain ialah membuat orang-orang itu terinfus dengan iman sedemikian rupa sehingga mereka percaya akan apa yang kita beritakan. Agar dapat menerima firman Injil, orang harus memiliki iman.

B. Oleh Iman Memperoleh Allah

Ibrani 6:1 mengatakan tentang “kepercayaan kepada Allah”. Karena kita tidak dapat melihat Allah, hanya dengan imanlah baru kita bisa memperoleh-Nya. Walaupun Allah itu agung dan ajaib, namun ada orang berkata, “Bagiku, Allah tidak terhitung.” Jika kita beriman, Allah adalah segala sesuatu. Jika kita tidak beriman, Allah akan menjadi bukan apa-apa bagi kita. Setiap kali kita memberitakan Allah kepada orang, kita harus dapat menginfuskan iman kepada orang; jika tidak, apa pun yang kita beritakan akan sia-sia. Kalau orang ingin memahami Allah, mereka harus mempunyai iman.

C. Oleh Iman Masuk ke Dalam Perhentian

Menyinggung masalah perhentian hari Sabat, Ibrani 4:3 mengatakan, “Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tampat perhentian seperti yang dikatakan-Nya.” Jalan satu-satunya untuk masuk ke dalam perhentian hari Sabat ialah oleh iman. Tanpa iman, siapa pun tidak dapat memasukinya. Untuk hal ini kita perlu memakai iman kita.

D. Oleh Iman Mewarisi Janji

Iman adalah jalan unik untuk mewarisi janji-janji Allah (6:12). Dalam Alkitab, Allah telah memberikan banyak janji kepada kita. Untuk mewarisi janji-janji ini kita perlu membiarkan Allah menginfuskan iman kepada kita. Karena kebanyakan hal yang dijanjikan Allah itu belum tertampak atau masih kita harapkan, maka kita perlu iman untuk mewujudkannya.

E. Teguh Berpegang Sampai Akhirnya pada Keyakinan Iman yang Semula

Untuk teguh berpegang sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula, kita perlu memiliki iman (3:14).

Kata “keyakinan” dalam ayat ini ditujukan kepada iman yang riil dan sesungguhnya, yang telah kita miliki dari semula. Kita harus teguh berpegang pada keyakinan iman yang riil dan sesungguhnya ini sampai akhirnya, seperti yang telah kita lakukan pada mulanya.

F. Masuk ke Tempat Maha Kudus, ke Zaman Perjanjian Baru Allah dengan Keyakinan Iman yang Teguh

Kita harus masuk ke tempat maha kudus, ke zaman perjanjian baru Allah dengan keyakinan iman yang teguh (10:22). Dalam beberapa berita ini telah banyak kita bahas hal-hal mengenai ekonomi Allah. Jika kita memejamkan mata iman kita, segala yang kita bicarakan itu akan sia-sia. Jika kita menerapkan iman kita, kita akan nampak alangkah banyaknya hal-hal dalam ekonomi Allah itu. Tanpa iman, segala sesuatu akan lenyap. Tetapi jika kita beriman, kekayaan yang besar sekali akan terbentang di hadapan kita. Dalam berita-berita ini kita telah nampak visi tentang hukum hayat. Kita harus maju ke depan bersama visi ini, bukan dengan pengetahuan agama.

G. Teguh Berpegang kepada Pengakuan

Pengharapan Kita, Tidak Goyah

Pengharapan kita ialah Kristus. Hayat-Nya yang tidak dapat binasa berikut fungsi hukum hayatnya, telah disalurkan ke dalam kita; hayat inilah pengharapan kita. Imamatnya yang rajani dan ilahi, yang di dalamnya Dia menyuplai-kan segala kekayaan Allah, juga merupakan pengharapan kita. Ini perlu menjadi pengakuan kita. Kita harus menerapkan iman kita, teguh berpegang kepada pengakuan pengharapan kita, dan tidak goyah. Hanya dengan iman sajalah kita dapat merealisasikan pengakuan pengharapan kita di dalam Kristus.

H. Hidup oleh Iman dalam Mengalami

Penderitaan untuk Beroleh Janji Pahala

Untuk menempuh jalan perjanjian baru Allah dan mengikut Tuhan, banyak penderitaan dalam hal materi yang akan kita jumpai. Karena itu, Allah telah berjanji akan mengaruniakan upah yang besar kepada kita (ayat 35), agar kita hari ini di bumi dapat hidup oleh iman, bukan karena apa yang kelihatan. Dalam ekonomi Allah, hidup yang mengikuti Tuhan adalah hidup oleh iman.

I. Oleh Iman Beroleh Jiwa

Ingin beroleh jiwa pada zaman kerajaan yang akan datang menuntut kita memiliki iman (10:39; 1Ptr. 1:9). Jika kita tidak memperhatikan kenikmatan hidup hari ini dan mementingkan yang akan datang, kita harus memiliki iman. Tidak hanya demikian, jika kita ingin memastikan diri bahwa kelak kita beroleh sesuatu yang lebih baik, dan karenanya mau mengorbankan kenikmatan dan hiburan hari ini serta menganggap hal ini patut, kita harus memiliki iman. Iman adalah bukti segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kalau kita tidak dapat melihat hal-hal yang akan datang, bagaimana kita tahu bahwa ada suatu hari esok yang mulia di hadapan kita? Kita dapat mengetahuinya oleh iman. Saya yakin sepenuhnya bahwa suatu hari esok yang mulia sedang menantikan saya. Keyakinan ini berasal dari iman.

J. Peringatan Mengenai Hati

yang Jahat dan yang Tidak Percaya

Dalam Ibrani 3:12 dan 19 kita diingatkan agar tidak memiliki hati yang jahat dan yang tidak percaya. Dalam pandangan Allah, tidak ada hati yang lebih jahat daripada hati yang tidak percaya kepada-Nya. Hati yang tidak beriman adalah hati yang paling jahat. Tidak ada suatu hal yang lebih menghina Allah daripada ketidakpercayaan kita, juga tidak ada suatu hal yang lebih menghormati Allah daripada kepercayaan kita kepada-Nya. Kita harus percaya kepada setiap firman Allah. Jika hati kita tidak percaya kepada firman Allah, dalam pandanganNya itu adalah hati yang jahat, yang tidak percaya.

II. DEFINISI IMAN

A. Iman Adalah Substansiasi

dari Segala Sesuatu yang Diharapkan

Sekarang marilah kita melihat definisi iman. Walaupun iman sudah direalisasikan dalam batin kita, tetapi kita sulit mendefinisikannya. Iman ialah iman. Namun di bawah ilham Roh Kudus, penulis Surat Ibrani mengatakan, “Iman adalah substansiasi (dasar, LAI) dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (11:1). Kalau iman adalah substansiasi dari segala sesuatu yang diharapkan, maka iman adalah jaminan, keyakinan, penegasan, realitas, esens, dasar penopang dari hal-hal yang diharapkan. Istilah “substansiasi” di sini dalam bahasa Yunaninya sama dengan istilah “keberadaan” dalam 1:3, “keyakinan” dalam 3:14, dan “berkeyakinan” (mengetahui ada pondasi yang kokoh) dalam 2 Korintus 11:17. Selain itu, kata ini juga dapat diterjemahkan sebagai penegasan, realitas, esens (yang menunjukkan sifat yang asli, yang berkebalikan dengan penampilan lahiriah), pondasi atau dasar penunjang. Kata ini terutama berarti substansi, tetapi di sini kata ini menunjukkan kemampuan memahami atau menyatakan substansi dari segala sesuatu yang diharapkan; karena itu di sini diterjemahkan sebagai “substansiasi”. Kata ini adalah bentuk kata kerja dari substansi, yaitu mampu memahami realitas substansi yang tidak kelihatan. Inilah yang dilakukan iman. Misalnya, kertas yang memuat berita-berita ini adalah suatu substansi. Jika Anda menyentuhnya dengan tangan, Anda dapat mensubstansiasi kertas ini. Anda merasakan, merealisasikan, dan memiliki kesadaran (pemahaman) yang penuh terhadap kertas ini; inilah tindakan mensubstansiasi. Iman bukanlah suatu substansi, melainkan suatu tindakan substansiasi. Memiliki iman bukan berarti memiliki unsur semacam substansi, melainkan memiliki kemampuan mensubstansiasi. Meskipun ada beberapa benda tidak dapat kita lihat, dengar, atau raba, tetapi dalam batin kita ada suatu kekuatan yang mampu mensubtansiasikannya, inilah iman. Alkitab berkata bahwa siapa saja yang percaya beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:15). Ketika mendengar kata-kata ini, kita merasa kata-kata ini mengandung sesuatu yang riil, walaupun tidak seorang pun dapat melihat atau menjamahnya. Namun iman di dalam kita mensubstansiasikan apa yang terkandung di dalam kata-kata itu.

Alkitab adalah sejilid kitab yang penuh dengan waris-an. Tetapi bagi orang yang tidak beriman, Alkitab adalah omong kosong. Bagi mereka, Alkitab tidak lain sebuah kitab yang sulit dipahami. Namun, bagi kita, umat Allah yang terpanggil, Alkitab ialah sejilid kitab warisan. Begitu kita mendengarnya, batin kita segera menyambutnya dan mewujudkannya. Perwujudan semacam ini kita sebut iman. Bagaimana Anda tahu Anda telah beroleh hidup yang kekal? Bagaimana pula Anda tahu Tuhan Yesus berada dalam roh Anda? Kita dapat mengetahuinya oleh iman. Kita tidak dapat menjelaskan, menunjukkan, atau memperlihatkan kepada orang bahwa Kristus tinggal di dalam roh kita. Meskipun kita tidak dapat memperlihatkannya kepada orang lain, namun kita dapat mensubstansiasikannya bagi diri kita sendiri.

Mensubstansiasi semacam ini bukan suatu hal yang kecil; ia bagaikan indra keenam kita. Tiap indra dari pancaindra kita mempunyai kemampuan mensubstansiasi. Sebagai contoh: hidung kita dapat mensubstansiasi bau wangi dan mata kita dapat mensubstansiasi warna. Iman adalah satu indra istimewa di luar pancaindra kita. Dengan iman kita dapat mensubstansiasi segala sesuatu yang tidak terlihat dan yang kita harapkan.

1. Kehidupan Kaum Beriman Adalah Kehidupan dari Hal-hal yang Diharapkan

Kehidupan kaum beriman adalah kehidupan dari hal-hal yang diharapkan, yang berjalan seiring dan tinggal bersama dengan iman (1Ptr. 1:21; 1Kor. 13:13; Rm. 4:18). Orang-orang yang tidak percaya, karena tidak memiliki Kristus, mereka tidak memiliki pengharapan (Ef. 2:12; 1Tes. 4:13). Tetapi kita, kaum beriman dalam Kristus, adalah orang-orang yang memiliki pengharapan. Panggilan yang kita terima dari Allah mendatangkan pengharapan bagi kita (Ef. 1:18; 4:4). Kita telah dilahirkan kembali kepada suatu pengharapan yang hidup (1Ptr. 1:3). Kristus di dalam kita adalah pengharapan akan kemuliaan (Kol. 1:27; 1Tim. 1:1), yang akan menghasilkan penebusan, transfigurasi tubuh kita dalam kemuliaan (Rm. 8:23-25). Ini adalah pengharapan keselamatan (1Tes. 5:8), pengharapan bahagia (Tit. 2:13), suatu pengharapan baik (2Tes. 2:16), pengharapan hayat kekal (Tit. 1:2; 3:7), juga adalah pengharapan kemuliaan Allah (Rm. 5:2), pengharapan Injil (Kol. 1:23), pengharapan yang disediakan bagi kita di surga (Kol. 1:5). Kita harus senantiasa memelihara pengharapan ini (1Yoh. 3:3) dan bermegah dalamnya (Rm. 5:2). Allah kita adalah Allah sumber pengharapan (Rm. 15:13), agar melalui dorongan dari Kitab Suci kita dapat memiliki pengharapan (Rm. 15:4), setiap saat dalam Allah (1Ptr. 1:21), dan dapat bersukacita di dalam pengharapan (Rm. 12:12). Kitab Ibrani ini menyuruh kita untuk teguh berpegang pada pengharapan yang kita megahkan sampai pada akhirnya (3:6), menunjukkan kerajinan untuk menjadikan pengharapan suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya (6:11), dan untuk menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita (6:18). Kitab ini juga memberi tahu kita bahwa perjanjian yang baru membawakan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah (7:19). Kehidupan kita haruslah kehidupan yang penuh pengharapan, pengharapan ini berjalan seiring dan tinggal bersama dengan iman (1Ptr. 1:21; 1Kor. 13:13). Kita harus meneladani Abraham, yang sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun percaya dalam pengharapan (Rm. 4:18).

2. Iman Mensubstansiasi Segala Sesuatu yang Kita Harapkan

Segala sesuatu yang kita harapkan telah disubstansiasi oleh iman kita. Karena iman, maka semua yang kita harapkan itu menjadi riil. Tanpa iman, semuanya akan menjadi kosong. Kita harus berkontak dengan Allah, dan membiarkan-Nya menginfuskan iman ke dalam kita, agar segala sesuatu yang Ia janjikan sebagai pengharapan kita dapat kita substansiasikan.

B. Iman Adalah Bukti

Segala Sesuatu yang Tidak Dilihat

Ibrani 11:1 juga menyebutkan, iman “adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat.” Istilah “bukti” juga boleh diterjemahkan sebagai “tanda nyata” atau “keterangan nyata”. Istilah ini menyiratkan suatu tindakan. Jadi, iman bukan suatu zat atau substansi, melainkan suatu bukti, tindakan, tanda nyata, atau keterangan nyata dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Segala sesuatu yang diharapkan adalah hal-hal yang tidak kelihatan (Rm. 8:24-25). Kalau telah kita lihat, tidak perlu kita harapkan lagi. Sebagai orang-orang yang berpengharapan, kita tidak seharusnya meletakkan sasaran hidup kita pada hal-hal yang kelihatan, melainkan pada hal-hal yang tidak kelihatan; karena hal-hal yang kelihatan adalah sementara, sedangkan hal-hal yang tidak kelihatan adalah kekal (2Kor. 4:18). Maka, kita hidup oleh iman, bukan oleh penglihatan (2Kor. 5:7). Sasaran kita ialah tempat maha kudus dan Yerusalem Baru, keduanya ini tidak kelihatan. Namun kita memiliki keyakinan penuh terhadap hal-hal yang tidak kelihatan ini. Iman meyakinkan kita tentang apa yang tidak kelihatan. Jadi, iman adalah tanda nyata, keterangan nyata dari hal-hal yang tidak kelihatan.

Iman, yang adalah jalan untuk merealisasikan dan menikmati hal-hal milik Allah, bukanlah berasal dari alamiah kita, melainkan suatu kemampuan ilahi yang diinfuskan ke dalam kita. Iman yang tepat ialah unsur ilahi, bahkan Allah itu sendiri, yang terinfus ke dalam diri kita sebagai kemampuan untuk mensubstansiasi hal-hal yang tidak kita lihat. Unsur yang terinfus adalah kemampuan mensubstansiasi. Setiap kali kita berkontak dengan Allah atau mendengar firman-Nya, dengan spontan kemampuan mensubstansiasi yang diinfuskan oleh Allah sendiri ini mulai memahami hal-hal Allah, hal-hal yang kita harapkan, dan hal-hal yang tidak kelihatan, dan kita pun dengan sederhana percaya. Seperti telah kita sebutkan, iman merupakan satu indra yang istimewa di luar pancaindra kita yang sudah ada sejak lahir. Indra ini dapat mensubstansiasi hal-hal Allah, yang tidak kelihatan. Karena kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang penuh pengharapan dan bersasaran pada hal-hal yang tidak kelihatan, maka kita perlu lebih banyak transfusi dan infus Allah ke dalam kita, agar kita beroleh kemampuan iman untuk mensubstansiasi segala hal yang kita harapkan dan beroleh bukti dari hal-hal yang tidak kelihatan itu.