← Daftar isi Ibrani (3) · bab 14/18

SEJARAH IMAN DAN SAKSI-SAKSINYA

Ibrani 11 membicarakan sejarah iman dan saksi-saksi iman. Mulai ayat 3-40 menyajikan kepada kita sejarah ringkas tentang iman dari penciptaan Allah melalui semua generasi umat pilihan Allah, sampai kepada kaum beriman Perjanjian Baru, dan berakhir pada Yerusalem Baru dalam kekekalan untuk membuktikan bahwa iman adalah jalan satu-satunya bagi para pencari Allah untuk menerima janji-Nya dan menempuh jalan-Nya. Ketika Ia mengilhamkan penulisan pasal ini, pasti Roh Kudus juga berpandangan serupa. Setiap orang yang terlibat dalam sejarah iman ini ialah seorang saksi. Jadi, Ibrani 11 tidak hanya membicarakan masalah iman dan sejarah iman, tetapi juga saksi-saksinya. Saksi di sini berarti orang yang bersaksi, bukan kesaksiannya. Dalam bahasa Yunani istilah “saksi” sama dengan istilah “martir”. Setiap saksi ialah seorang yang martir, yakni orang yang berkorban jiwa karena kesaksian iman. Dalam pasal ini kita jumpai banyak martir (ayat 32-39), ada yang mati dirajam batu, ada yang tubuhnya digergaji. Dalam berita ini kita akan melihat sejarah iman, khususnya menitikberatkan pada perampungan sempurna sejarah iman, sebab hal ini sangat erat kaitannya dengan kita.

I. MENGERTI BAHWA ALAM SEMESTA

DIJADIKAN OLEH FIRMAN ALLAH

Ayat 3 mengatakan, “Karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kelihatan telah jadi dari apa yang tidak kelihatan.” Para ahli telah membuang banyak waktu untuk menyelidiki bagaimana sebenarnya alam semesta ini dijadikan. Namun semua pendapat mereka omong kosong belaka. Alam semesta sebenarnya dijadikan oleh firman Allah. Allah berfirman, maka jadilah alam semesta. Hal ini bukan kita ketahui melalui pancaindra, melainkan oleh iman, yaitu indra substansiasi kita.

II. HABEL MEMPERSEMBAHKAN KURBAN YANG LEBIH BAIK

Ayat 4, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik daripada kurban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian bahwa ia benar, karena Allah berkenan kepada persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” Menurut perlambangan, kurban Habel yang lebih baik ini adalah lambang Kristus sebagai kurban yang lebih baik, yang sejati (9:23). Bila kita membaca Surat Ibrani, kita dapat nampak hanya Kristus sendirilah kurban yang lebih baik. Karena iman, Habel telah mempersembahkan kurban yang sedemikian.

III. HENOKH TERANGKAT,

TIDAK MENGALAMI KEMATIAN

Ayat 5 mengatakan, “Karena iman Henokh diangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum diangkat, ia memperoleh kesaksian bahwa ia berkenan kepada Allah.” Henokh tidak saja diangkat dari kematian, tetapi juga tidak sampai mengalami kematian.

IV. NUH MEMPERSIAPKAN BAHTERA

UNTUK KESELAMATAN

Ayat 7 mengatakan, “Karena iman, Nuh setelah diperingatkan Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia menjadi ahli waris kebenaran, sesuai dengan imannya.” Bayangkanlah situasi Nuh pada saat itu. Ketika ia membuat bahtera untuk menghadapi air bah yang akan datang, tidak ada seorang pun yang mempercayainya. Cuaca begitu cerah dan tidak ada yang menduga air bah akan datang. Namun, karena ia mensubstansiasi kedatangan air bah itu oleh iman, maka dibuatnyalah bahtera itu.

V. ABRAHAM

Abraham disebut bapa iman. Karena iman ia mematuhi panggilan Allah untuk meninggalkan kampung halamannya, dan tinggal sebagai orang asing di tanah perjanjian (ayat 8-9). Dengan menaati perintah Allah, Abraham keluar dari Ur-kasdim “tanpa mengetahui tempat yang ditujunya.” Hal itu memberi kesempatan yang konstan kepada Abraham untuk melatih imannya, bersandar kepada Allah bagi pimpinan-Nya yang seketika, dengan penyertaan Allah sebagai peta perjalanannya. Ayat 10 mengatakan bahwa karena iman, Abraham “menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah.” Ini adalah kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi (12:22), Yerusalem yang di atas (Gal. 4:26), kota kudus, Yerusalem Baru (Why. 21:2; 3:12), yang Allah siapkan untuk umat-Nya (ayat 16), dan kemah Allah yang di dalamnya Allah akan tinggal bersama manusia hingga kekal (Why. 21:3). Sama seperti para leluhur menantikan kota ini, demikian juga kita mencarinya (13:14).

Karena iman pula Abraham mempersembahkan Ishak “karena ia berpikir bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali” (ayat 17, 19). Ayat 12, yang menyinggung Abraham, mengatakan, “Itulah sebabnya, dari satu orang, malahan orang yang sudah sangat lemah, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.” Bintang di langit melambangkan keturunan surgawi Abraham, keturunan iman (Gal. 3:7, 29); sedangkan pasir di tepi laut melambangkan keturunan bumiah Abraham, keturunan dalam daging.

Ibrani 11:13 membicarakan Abraham dengan leluhur lainnya, “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.” Kata “pendatang” dapat diterjemahkan menjadi “musafir”. Abraham adalah orang Ibrani pertama (Kej. 14:13), penyeberang sungai. Dia meninggalkan Kasdim, negeri berhala yang terkutuk, menyeberangi sungai, Sungai Ferath atau Efrat (Yos. 24:2-3), dan datang ke Kanaan, tanah permai yang diberkati. Namun dia tidak menetap di sana; melainkan dia singgah di negeri yang dijanjikan itu sebagai seorang musafir, bahkan sebagai seorang asing, orang yang meninggalkan negeri asalnya, merindukan negeri yang lebih baik, negeri yang surgawi (ayat 16), mencari negerinya sendiri (ayat 14). Ini mungkin menyiratkan bahwa dia telah siap menyeberangi sungai yang lain, dari sisi bumiah ke sisi surgawi. Ishak dan Yakub mengikuti dia dalam langkah-langkah yang sama, hidup di bumi sebagai orang asing dan pendatang, dan menunggu kota yang dibangun Allah yang memiliki pondasi (ayat 10). Firman dalam ayat 9-16 mungkin menyiratkan bahwa penulis kitab ini bermaksud mengingatkan kaum beriman Ibrani terhadap fakta bahwa mereka sebagai orang Ibrani yang sejati harus mengikuti nenek moyang mereka, menganggap diri mereka sendiri sebagai orang asing dan pendatang di bumi ini, dan mencari negeri surgawi, yang lebih baik daripada yang bumiah.

VI. SARA, BEROLEH KEKUATAN

UNTUK MENGANDUNG

Ayat 11 mengatakan, “Karena iman juga Sarah sendiri beroleh kekuatan untuk mengandung, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia” (Tl.). Sara telah menjadi wanita tua yang sudah berhenti haid; tetapi dalam keadaan seperti itu, ia percaya kepada firman Allah.

VII. ISHAK MEMBERKATI YAKUB DAN ESAU

Ayat 20 mengatakan, “Karena iman, sambil meman-dang jauh ke depan, Ishak memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau.” Kalau Anda membaca riwayat Ishak, Anda akan nampak bahwa ia bukan seorang yang cerdas; ia adalah orang yang biasa dan tidak memiliki keistimewaan. Namun, ia memberkati kedua anaknya, Yakub dan Esau. Walaupun Ishak memberkati mereka dengan buta, ia melakukannya dalam iman.

VIII. YAKUB

Ayat 21 mengatakan, “Karena iman, ketika hampir waktunya akan mati, Yakub memberkati masing-masing anak Yusuf.” Ketika Yakub memberkati anak-anak Yusuf, ia tidak hanya melakukannya oleh iman, bahkan dengan pandangan yang sangat jelas. Pandangan batinnya benar-benar jelas. Ketika Yusuf mencoba mengubah posisi tangannya, karena tidak senang melihat tangan kanan Yakub di atas kepala Efraim dan bukan di atas kepala Manasye, anak sulungnya, Yakub menolak dan berkata, “Aku tahu, anakku, aku tahu” (Kej. 48:15-19). Yakub tahu apa yang dilakukan dan memberkati anak-anak Yusuf dengan iman.

Ayat 21 juga mengatakan bahwa Yakub “menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya.” Ini sangat bermakna, menandakan Yakub mengakui bahwa dia adalah seorang pendatang, musafir di bumi ini (ayat 13). Begitu kita menetap di satu tempat, kita tidak perlu memegang tongkat lagi, karena itu adalah tanda atau ciri orang asing, bukan ciri penghuni tetap. Tongkat Yakub juga menandakan bahwa Allah telah menggembalakan dia sepanjang hidupnya (Kej. 48:15). Inilah alasan pencatatan perbuatannya menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya sebagai salah satu hal tentang iman.

IX. YUSUF

Ayat 22 mengatakan, “Karena iman, menjelang kematiannya, Yusuf menyebut tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.” Yusuf mengingat bahwa orang-orang Israel akan keluar dari Mesir dan berpesan kepada mereka agar membawa tulang-belulangnya dari Mesir ke Kanaan. Ini memerlukan iman yang besar. Ketika orang-orang Israel masuk ke Tanah Kanaan, mereka membawa tulang-belulang Yusuf ke tanah permai (Kel. 13:19).

X. MUSA

Ayat 23 mengatakan, “Karena iman, setelah lahir, Musa disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat bahwa anak itu bagus rupanya dan mereka tidak takut pada perintah raja.” Orang tuanya menyembunyikannya karena iman. Ketika ia “dewasa”, ia “menolak disebut anak putri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (ayat 24-25). Istilah “sementara” dalam ayat 25 bisa juga diterjemahkan “untuk sesaat”, “segera berlalu”, “sepintas”. Pada zaman Musa, disebut anak putri Firaun adalah suatu kenikmatan bagi hayat jiwa. Tetapi Musa menolak hal itu; ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Kenikmatan di Mesir, yaitu kenikmatan di dunia, adalah satu dosa dalam pandangan Allah. Ini adalah kenikmatan dari dosa, kenikmatan dari kehidupan yang berdosa, dan hanya sementara, segera berlalu, dan sepintas saja.

Dalam ayat 26 dikatakan, Musa “menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir, sebab ia mengarahkan pandangannya kepada upah.” Semasih muda, karena pusing memikirkan masalah waktu, saya mempertanyakan bagaimana Musa bisa mengalami penghinaan karena Kristus, mengingat Kristus belum ada atau belum datang. Kristus, sebagai Malaikat Tuhan, senantiasa menyertai bangsa Israel dalam penderitaan mereka (Kel. 3:2, 7-9; 14:19; Bil. 20:16; Yes. 63:9). Lebih jauh lagi, Kitab Suci menganggap Kristus dan bangsa Israel sebagai satu kesatuan (Hos. 11:1; Mat. 2:15). Karena itu, penghinaan yang menimpa mereka dianggap sebagai penghinaan atas Dia, dan penghinaan dari mereka yang menghina Allah juga tertimpa atas-Nya (Rm. 15:3). Kaum beriman Perjanjian Baru adalah para pengikut-Nya, menanggung penghinaan karena Dia (13:13) dan dihina karena nama-Nya (1Ptr. 4:14). Musa memilih untuk menderita sengsara bersama dengan umat Allah (ayat 25), menganggap penghinaan yang semacam itu, yaitu penghinaan karena Kristus Allah, sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harta Mesir di dalam istana Firaun; sebab Musa mengarahkan pandangannya kepada pahala.

Karena dia bersedia menderita penghinaan karena Kristus, Musa akan menerima pahala kerajaan. Dia tidak diizinkan masuk ke dalam perhentian tanah permai karena kegagalannya di Meriba (Bil. 20:12-13; Ul. 4:21-22; 32:50-52), tetapi dia akan bersama dengan Kristus di dalam kerajaan (Mat. 16:28-17:3). Penulis menyinggung hal ini, tentu bermaksud untuk menguatkan para pembacanya yang sedang menderita penganiayaan karena Kristus, agar mengikuti Musa dengan mengganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar daripada harta benda mereka yang hilang, dan mengarah kepada pahala. Kita tidak tahu siapa yang memberi tahu Musa soal pahala. Mungkin orang tuanya. Namun, karena memiliki iman yang besar, ia memandang kepada pahala dan meninggalkan Mesir. Istana Firaun, hak keputraan kerajaan, kenikmatan duniawi dan hiburan duniawi, serta segala hal di Mesir ada di hadapannya. Menurut pandangannya, hal-hal itu nyata, tetapi menurut imannya, hal-hal itu tidak nyata. Ada suatu hal, yaitu pahala itu, nyata bagi indra substansiasinya. Walaupun saat itu pahala itu jauh dari dia, ia memandang kepada pahala itu dan terdorong karenanya untuk meninggalkan segala sesuatu di Mesir.

Ayar 27 mengatakan bahwa karena iman, Musa “telah meninggalkan Mesir tanpa takut kepada murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Saat itu, tindakan Musa terhitung sebagai perkara yang besar. Pahala yang besar itu merupakan suatu perangsang atau insentif bagi Musa sehingga ia meninggalkan Mesir. Ini adalah gambaran yang lengkap dari kehidupan kita hari ini. Hari ini dunia adalah Mesir dan yang dapat diberikan kepada kita oleh dunia adalah istana. Tetapi bagi iman kita, semua itu adalah kesia-siaan di atas segala kesia-siaan. Hanya satu hal yang adalah realitas di atas realitas pahala yang akan datang.

Ayat 28 mengatakan, “Karena iman, ia mengadakan Paskah dan pemercikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka.” Musa perlu iman untuk mengadakan Paskah dan pemercikan darah. Musa perlu iman untuk memberi tahu orang-orang agar menyiapkan anak domba dan mengoleskan darahnya pada ambang dan tiang pintu. Allah menghormati iman Musa dalam mengadakan Paskah dan pemercikan darah. Meskipun belum melihat Paskah yang akan datang, Musa mewujudkannya dengan iman dan bertindak menurut apa yang ia substansiasikan ini.

XI. UMAT ISRAEL

Ayat 29 mengatakan bahwa karena iman, umat Israel “telah melintasi Laut Merah sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga.” Dalam pasal 11 ini tidak disinggung tentang empat puluh tahun pengembaraan bangsa Israel di padang belantara, karena mereka tidak melakukan apa-apa demi iman untuk menyenangkan Allah, malahan dalam menggusarkan Allah dengan ketidakpercayaan mereka selama tahun-tahun itu (3:16-18). Bahkan penyeberangan mereka melalui Sungai Yordan tidak disinggung di sini, karena penyeberangan itu tertunda akibat ketidakpercayaan mereka. Penyeberangan itu tidak akan diperlukan jika mereka tidak di dalam ketidak percayaan yang menyebabkan mereka tidak dapat masuk tanah permai, di Kadesy-Barnea (Ul. 1:19-46), tidak lama setelah mereka meninggalkan Gunung Sinai (Ul. 1:2). Kalau mereka mempunyai iman di Kadesy-Barnea, mereka akan memasuki tanah permai tiga puluh delapan tahun lebih cepat. Walaupun akhirnya mereka menyeberang Sungai Yordan demi iman, Roh Kudus di sini tidak mencatatnya, karena hal itu tidak menyenangkan Allah.

Ayat 30, setelah menempuh tahun-tahun pengembaraan di padang gurun, mengatakan, “Karena iman, runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.” Orang Israel tidak memiliki senjata yang canggih ketika mereka mengelilingi tembok Yerikho. Mereka melakukannya demi iman, melakukan apa yang Allah perintahkan kepada mereka, dan Allah menghormati iman mereka.

XII. RAHAB MENYAMBUT PENGINTAI-PENGINTAI DAN TIDAK BINASA

“Karena iman, Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang yang tidak taat, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan damai” (ayat 31). Semasih muda, saya suka memakai cerita ini dalam pemberitaan Injil. Rahab menggantungkan tali dari benang kirmizi yang melambangkan darah Yesus yang mengalir (Yos. 2:18; 6:23). Karena iman, ia diselamatkan dari kebinasaan yang diderita orang-orang Kanaan.

XIII. GIDEON, BARAK, SIMSON, YEFTA, DAUD,

SAMUEL, DAN PARA NABI,

MELAKUKAN BANYAK HAL YANG AJAIB

Karena iman Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud, Samuel, dan para nabi melakukan banyak hal yang ajaib (ayat 32-39). Walaupun mereka melakukan banyak hal yang ajaib, banyak di antara mereka juga mengalami mati martir. Allah melakukan mukjizat untuk beberapa orang dari mereka, tetapi Ia tidak melakukan hal-hal itu untuk semua orang dari mereka. Jangan mengira kalau Anda beriman Allah akan selalu melakukan sesuatu bagi Anda. Sering kali penerapan iman kita hanya membawa kita menikmati kesunyian Allah. Mungkin ketika beberapa orang dirajam batu, mereka akan berdoa, “Tuhan, selamatkan aku dari batu-batu ini.” Tetapi Tuhan mungkin malah memberikan kesunyian yang damai kepada mereka, tidak melakukan apa-apa untuk menyelamatkan mereka. Ketika Stefanus akan mati martir, Tuhan tidak menolongnya, melainkan memberinya kesunyian yang manis (Kis. 7:54-60). Menderita aniaya tanpa pertolongan dari Tuhan memerlukan iman yang besar.

Kesunyian Allah lebih besar daripada mukjizat-Nya. Anda lebih suka apa? Mukjizat Allah atau kesunyian-Nya? Kalau kita jujur, kebanyakan dari kita lebih suka mukjizat Allah. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, para pengejek berkata kepada-Nya, “Jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu dan selamatkanlah diri-Mu!” Dan “jika Ia Raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu, maka kami akan percaya kepada-Nya” (Mat. 27:40, 42). Selama sedikitnya 3 jam dari 6 jam penyaliban-Nya, terjadi kesunyian di alam semesta.

Seakan-akan Allah tidak ada dan para pengejek serta penghujat mengatakan apa saja sesuka mereka. Saat itu dunia milik mereka dan mereka seperti dewa-dewa. Itu adalah dunia mereka, saat itu mereka adalah allah. Allah lebih sering diam daripada melakukan mukjizat. Adakalanya kita semua harus menikmati kesunyian Allah demi iman.

Orang-orang yang mati martir telah mempersaksikan bahwa mereka menikmati kesunyian Allah demi iman. Saya tidak bisa melupakan bahwa di tahun 1930-an ada dua orang misionaris menjadi martir di China. Pada saat mereka akan mati martir, salah seorang berkata, “Wajah setiap martir seperti wajah malaikat.” Yang lain berkata, “Kalau aku masih ada satu nyawa lagi, aku tetap akan menjadi martir bagi Tuhan.” Allah mengizinkan mereka menjadi martir di China tanpa melakukan apa-apa untuk menolong mereka. Mereka menikmati kesunyian Allah demi iman. Ketika kita membaca sejarah iman yang tercatat dalam pasal ini, kita nampak pasal ini bukan hanya catatan mukjizat, tetapi juga catatan kesunyian Allah. Allah tidak selalu memberikan pertolongan kepada kaum saleh-Nya secara la-hiriah, tetapi sering membuat mereka dapat menikmati kesunyian-Nya secara batiniah.

Ayat 35 mengatakan, “Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.” Kebangkitan yang lebih baik bukan hanya kebangkitan yang pertama (Why. 20:4-6), kebangkitan hayat (Yoh. 5:28-29), tetapi juga kebangkitan luar biasa (Flp 3:11), kebangkitan ekstra, kebangkitan yang di dalamnya para pemenang Tuhan akan menerima pahala kerajaan (ayat 26). Inilah yang dituntut oleh Rasul Paulus. Ayat 38 membicarakan orang-orang yang mengalami penderitaan itu karena iman, mengatakan bahwa dunia tidak layak bagi mereka. Umat beriman ini adalah umat yang khusus, yang berada di tempat yang tertinggi, mereka tidak layak bagi dunia yang telah rusak ini. Hanya kota kudus Allah, Yerusalem Baru, yang layak mendapatkan mereka.

XIV. DISEMPURNAKAN OLEH

KAUM BERIMAN PERJANJIAN BARU

A. Dua Zaman dari Ekonomi Allah

Ayat 40 mengatakan, “Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” Ayat ini menyiratkan banyak hal. Tidak ada satu pun dari saksi-saksi iman itu yang sempurna. Mereka semua perlu disempurnakan oleh kaum beriman perjanjian baru. Dalam ekonomi Allah, ada dua zaman: zaman perjanjian yang lama yang merupakan bayang-bayang dan zaman perjanjian yang baru yang merupakan realitas. Semua martir dan saksi iman berada di bawah perjanjian yang lama yang merupakan bayang-bayang, bukan dalam realitas. Karena zaman perjanjian yang baru (merupakan realitas) yang di dalamnya kita berada lebih baik daripada zaman perjanjian yang lama (merupakan bayang-bayang) yang di dalamnya saksi-saksi iman itu berada, maka mereka memerlukan kita untuk mencapai kesempurnaan.

Ayat 40 mengatakan, “Telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita.” Perkataan “lebih baik” dalam bahasa aslinya berarti lebih unggul, lebih terhormat dan mulia, lebih besar, jadi lebih baik. Kata ini digunakan tiga belas kali dalam kitab ini: Kristus yang lebih baik (1:4); hal-hal yang lebih baik (6:9), pengharapan yang lebih baik (7:19), perjanjian yang lebih baik (dua kali 7:22; 8:6), janji-janji yang lebih baik (8:6), persembahan-persembahan yang lebih baik (9:23), harta yang lebih baik (10:34), negara yang lebih baik (11:16), kebangkitan yang lebih baik (11:35), sesuatu yang lebih baik (11:40), dan pembicaraan yang lebih baik (12:24), (contoh yang lain ada dalam 7:7, yang diterjemahkan lebih besar). Semua hal yang lebih baik ini adalah penggenapan dan realitas dari perkara-perkara orang-orang kudus Perjanjian Lama yang berada dalam lambang, gambar, dan bayang-bayang. Apa yang Allah sediakan pada saat itu adalah perwujudan riil dari hal-hal dalam perjanjian yang baru yang akan datang, yang berhubungan dengan kita. Hal-hal ini lebih kuat, lebih berkuasa, lebih mulia, dan lebih besar daripada lambang, gambar, dan bayang-bayang. Orang-orang kudus Perjanjian Lama hanya memiliki bayang-bayang, mereka memerlukan kita bagi kesempurnaan mereka, agar mereka dapat berbagian dengan kita dalam hal-hal yang riil dari perjanjian yang baru. Karena itu, mengapa kita harus meninggalkan hal-hal yang riil dari perjanjian yang baru dan berbalik kepada bayang-bayang dari perjanjian yang lama?

Ayat 40 mengatakan bahwa “tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” Berbagian dalam kerajaan selama seribu tahun (Why. 20:4, 6) dan berbagian dalam Yerusalem Baru sampai selamanya (Why. 21:2-3; 22:1-5) adalah perkara-perkara korporat. Perjamuan dalam kerajaan diperuntukkan bagi para pemenang Perjanjian Lama dan Baru (Mat. 8:11). Yerusalem Baru yang penuh berkat ini akan tersusun dari orang-orang kudus Perjanjian Lama dan kaum beriman Perjanjian Baru (Why. 21:12-14). Karena itu, tanpa kaum beriman Perjanjian Baru, kaum beriman Perjanjian Lama tidak dapat memperoleh apa yang telah Allah janjikan. Untuk memperoleh dan menikmati hal-hal yang baik dari janji Allah, mereka memerlukan kaum beriman Perjanjian Baru untuk menyempurnakan mereka. Sekarang mereka sedang menunggu kita maju, agar mereka dapat disempurnakan.

B. Orang Kudus dalam Bayang-bayang

Perjanjian Lama Mengharapkan

Bisa Melihat Realitas Perjanjian Baru

Orang-orang kudus dalam bayang-bayang perjanjian yang lama mengharapkan bisa melihat realitas perjanjian yang baru (Mat. 13:16-17; Yoh. 8:56; 1Ptr. 1:10-12). Dulu, banyak di antara kita mengira hidup dalam zaman perjanjian yang lama sangat menyenangkan. Kita diajari bahwa Abraham, Musa, Yosua, Daud, Elia, dan orang-orang kudus perjanjian lama yang lain adalah orang-orang yang luar biasa, dan lebih baik bila kita hidup dalam zaman mereka daripada di zaman ini. Selagi muda, saya berharap dapat hidup dalam zaman perjanjian yang lama. Namun, konsepsi ini berada dalam kegelapan. Kita hidup dalam zaman yang lebih baik dan kita telah mendengar, mengalami, dan berpartisipasi dalam hal-hal yang lebih baik daripada hal-hal dalam perjanjian yang lama. Orang-orang kudus dalam bayang-bayang perjanjian yang lama, ingin melihat realitas zaman di mana kita hidup. Matius 13:17 mengatakan, “Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” Bahkan Abraham berharap melihat realitas perjanjian baru (Yoh. 8:56). Selain itu, nabi-nabi memberitakan anugerah yang telah kita terima. Yang mereka sampaikan bukan untuk diri mereka, melainkan untuk kita (1Ptr. 1:10-12). Semua orang kudus Perjanjian Lama, termasuk Daud dan Salomo, bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk kita. Segala sesuatu yang mereka miliki adalah bayangan dari realitas yang kita nikmati hari ini.

C. Kaum Beriman dalam Realitas Perjanjian yang

Baru Lebih Besar daripada Orang-orang Kudus dalam Perjanjian yang Lama

Kaum beriman dalam realitas perjanjian yang baru lebih besar daripada orang-orang kudus dalam bayangan perjanjian yang lama. Matius 11:11, ayat yang penting, membuktikan hal ini: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia.” Yohanes Pembaptis lebih besar daripada semua orang yang mendahuluinya, termasuk Abraham, Daud, dan Salomo. Namun, yang terkecil dalam Kerajaan Surga, lebih besar daripada Yohanes. Karena Yohanes Pembaptis lebih besar daripada Abraham, dan kita lebih besar dari Yohanes, maka kita juga lebih besar daripada Abraham. Semua orang kudus dalam zaman perjanjian yang lama menantikan realitas zaman perjanjian yang baru, tetapi tidak satu pun dari mereka yang melihat realitas ini. Di antara kedua zaman ini, ada masa transisi selama kurang lebih tiga setengah tahun. Selama masa transisi ini, Yohanes Pembaptis muncul dan nampak Kristus, yaitu Dia yang telah lama ditunggu-tunggu oleh semua orang kudus dalam Perjanjian Lama. Karena Yohanes nampak Dia, maka Yohanes lebih besar daripada mereka semua. Walaupun Yohanes nampak Kristus, namun ia tidak masuk ke dalam Kristus. Tetapi kita, kaum beriman Perjanjian Baru, ada di dalam Kristus. Abraham berharap dapat nampak Kristus, Yohanes Pembaptis nampak Kristus, tetapi kita ada di dalam Kristus. Jadi, karena kita jauh lebih dekat dengan Kristus, maka kita lebih besar daripada Abraham dan Yohanes Pembaptis. Kita bukan hanya dekat dengan Kristus, kita ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita. Bahkan kita dapat mengatakan bersama Rasul Paulus, “Karena bagiku hidup adalah Kristus” (Flp. 1:21). Kita lebih besar daripada Abraham, Daud, Salomo, dan semua orang kudus Perjanjian Lama, karena mereka ada dalam bayangan. Kita bukan hanya ada dalam realitas kitalah realitas itu. Karena itu, orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama tidak dapat mencapai kesempurnaan tanpa kita. Tanpa kita, mereka tidak akan dapat masuk ke dalam kenikmatan atas realitas yang mereka tunggu.

Kalau kita menggunakan iman yang mensubtansiasi, kita akan merasakan bahwa Abraham, Daud, Salomo, dan semua orang kudus pemenang yang telah mendahului kita, sedang mengamati kita ibarat penonton pertandingan sepak bola. Mereka bersorak-sorak mendukung kita dan mendorong kita untuk menang dalam pertandingan itu. Kenikmatan mereka atas realitas tergantung pada kita. Inilah makna yang tepat atas ayat 40, yang mengatakan bahwa “tanpa kita, mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.” Seperti yang ditunjukkan dalam ayat 39, orang-orang kudus dalam Perjanjian Lama tidak memperoleh janji itu karena “Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita.” Mereka semua menunggu kita. Bahkan Rasul Paulus dan semua martir perjanjian baru sedang menunggu kita. Mereka, para pemenang yang telah mendahului kita, sedang menantikan kegenapan pemenang. Jumlah pemenang belum genap. Suatu hari, jumlah ini akan terpenuhi. Jadi, ayat 40 adalah dorongan yang sangat kuat bagi semua orang beriman Ibrani untuk maju dan mengisi kekosongan atau kekurangan jumlah pemenang. Dalam ekonomi-Nya, Allah tidak bermaksud memiliki ekspresi perorangan. Ia ingin memiliki ekspresi korporat. Ekspresi ini menuntut jumlah pemenang yang genap. Hanya Allah yang tahu berapa persisnya jumlah itu. Bila jumlah itu belum tercapai, saatnya belum tiba, dan pemenang yang telah mendahului kita masih perlu menantikan kita. Betapa besarnya tanggung jawab kita! Mereka sudah siap, tetapi kita belum, kita benar-benar berada pada hari-hari terakhir. Kita bukan hanya lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, bahkan boleh dikatakan lebih besar daripada semua martir dalam abad-abad pertama, karena kita lebih penting daripada mereka. Kita dapat mengalami lebih banyak daripada mereka karena mereka di permulaan (awal) dan kita di kesudahan (akhir). Kesudahan atau akhir dari sesuatu selalu lebih kaya, lebih besar, dan lebih tinggi daripada awalnya. Bukanlah hal kecil bila kita berada dalam pemulihan Tuhan hari ini. Kita hidup dalam masa akhir ekonomi Allah, dan begitu banyak pemenang yang mendahului kita berharap nampak kesempurnaan kita. Kita benar-benar adalah orang-orang yang paling diberkati di alam semesta, karena kita memiliki kesempatan emas untuk berbagian dalam penggenapan tujuan kekal Allah.

XV. SAKSI-SAKSI BAGAIKAN AWAN

Ibrani 12:1 mengatakan, “Karena kita mempunyai ba-nyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Awan adalah untuk membimbing umat mengikuti Tuhan (Bil. 9:15-22), dan Tuhan berada di dalam awan untuk menyertai umat (Kel. 13:21-22). Umat Israel mengikuti Tuhan melalui mengikuti tiang awan dan tiang api, dan menikmati penyertaan Tuhan dalam tiang awan. Semua saksi iman bahkan martir-martir iman adalah awan-awan. Melalui saksi-saksi yang bagaikan awan ini, kita mengikuti Tuhan dan menikmati penyertaan-Nya.