← Daftar isi Ibrani (3) · bab 15/18

PEMULAI DAN PENYEMPURNA IMAN I. KAUM SALEH PERJANJIAN LAMA HANYA SEBAGAI SAKSI IMAN

Dalam berita ini kita akan melihat Pemulai dan Penyempurna iman (12:2). Kaum saleh perjanjian lama hanya sebagai saksi-saksi iman. Seorang pun tidak ada yang menjadi pemulai, sumber, penyempurna, atau penggenap iman. Ayat pertama pasal 12 melukiskan para saksi iman “bagaikan awan yang mengelilingi kita”. Dulu orang Israel mengikuti Tuhan menurut gerakan awan; Tuhan menyertai umat-Nya di dalam awan (Kel. 13:21-22). Di mana ada awan, di situ ada Tuhan. Tidak hanya demikian, awan itulah yang membimbing orang Israel mengikuti Tuhan. Jika Anda berminat mencari Tuhan, dan Anda membaca Ibrani 11, Anda akan segera merasa bahwa melalui tokoh imanlah Anda dapat memperoleh penyertaan Tuhan dan pimpinan-Nya. Jika Anda memiliki awan, Anda memiliki Tuhan; jika Anda kehilangan awan, Anda kehilangan Tuhan. Semua orang yang beriman adalah orang-orang dalam gereja, adalah awan. Jalan terbaik untuk mencari penyertaan Tuhan ialah datang ke dalam gereja. Siapa saja yang ingin mencari pimpinan Tuhan, harus mengikuti awan, yakni gereja. Tuhan berada di dalam awan, berarti Ia beserta dengan orang-orang yang beriman. Karena kita adalah orang-orang yang beriman, kita adalah awan hari ini, dan orang dapat mengikuti Tuhan melalui mengikuti kita. Mereka yang mencari-Nya bisa mendapatkan penyertaan-Nya di tengah-tengah kita. Tuhan ada di mana kita berada, dan di mana kita berada di situlah arah pergerakan Tuhan pada hari ini.

II. HANYA YESUS SEBAGAI PEMULAI

DAN PENYEMPURNA IMAN

A. Pemimpin Iman

Hanya Yesuslah sebagai Pemulai dan Penyempurna iman. Seperti telah kita nampak, kaum saleh dari perjanjian yang lama hanya menjadi saksi iman, namun Yesus adalah Pemulai dan Penyempurna iman. Istilah “yang memimpin” dalam ayat 2 boleh diterjemahkan sebagai Pemulai, Pemrakarsa, Pendahulu, Panglima, Perintis, atau Pelopor; dalam bahasa aslinya sama dengan kata “Perintis” yang tercantum dalam 2:10. Yesus adalah Pemulai iman; Dia adalah Pemrakarsa, Pendahulu, Sumber, dan Penyebab iman. Sebagai Pemulai, Dia adalah Pemrakarsa dan Pendahulu; Dia juga adalah Sumber dan Penyebab. Karena Pemulai adalah Pemrakarsa, Dia juga adalah Perintis dan Pelopor. Jadi Dia juga adalah Pemimpin dan Panglima iman. Jika gelar-gelar ini kita gabungkan, kita akan mendapatkan suatu definisi lengkap dari Yesus sebagai Pemulai iman.

Kita perlu Yesus menjadi Pemulai iman, sebab menurut manusia alamiah kita, kita sendiri tidak memiliki kemampuan untuk percaya, berdasarkan diri sendiri kita tidak memiliki iman. Iman yang olehnya kita diselamatkan adalah iman yang mustika yang kita peroleh dari Allah (2Ptr. 1:1). Ketika kita menengadah kepada Yesus, Dia sebagai “Roh pemberi hayat” (1Kor. 15:45), mentransfusi kita dengan diri-Nya sendiri, dengan unsur iman-Nya. Demikianlah dengan spontan ada suatu iman timbul di dalam diri kita, dan kita mempunyai iman untuk percaya kepada-Nya. Iman ini bukan berasal dari diri kita sendiri, melainkan berasal dari Dia yang menyalurkan diri-Nya sendiri sebagai unsur percaya ke dalam kita, agar Dia yang percaya bagi kita. Jadi Tuhan sendiri yang menjadi iman kita. Kita hidup oleh Dia sebagai iman kita, yaitu kita hidup oleh iman-Nya (Gal. 2:20), bukan oleh diri kita sendiri.

Yesus adalah Pemulai dan Pemrakarsa iman terutama dalam kehidupan dan perjalanan-Nya di bumi. Ketika berada di bumi, Tuhan Yesus telah membukakan, menciptakan iman, kehidupan-Nya ialah kehidupan iman, jalan-Nya juga jalan iman. Ia telah membukakan, menciptakan iman dalam kehidupan dan perjalanan-Nya. Karena itu, Dia adalah Pemulai iman.

Sebagai Perintis dan Pelopor, Yesus telah membuka-kan jalan iman. Kalau Anda membaca lagi keempat kitab Injil, Anda akan nampak bahwa kehidupan-Nya adalah ke-hidupan yang selalu membukakan jalan, yakni kehidupan yang membukakan jalan iman. Ke mana saja Ia pergi, seolah-olah ada gunung dan sungai yang menghalang-halangiNya. Tetapi setapak demi setapak, Ia membukakan jalan iman itu. Jika kita membaca keempat kitab Injil dengan pandangan ini, kita akan nampak bahwa Yesus yang adalah Perintis iman, selalu membukakan jalan iman, meratakan semua jurang dan menggeser semua bukit, seperti membangun jalan raya bebas hambatan. Karena Dia telah membukakan jalan iman, Ia pun menjadi Perintis dan Pelopor di atas jalan iman ini.

Sebagai Pencipta dan sumber iman, Yesus juga adalah Pemimpin, Perintis dan Pelopor iman. Dia telah membuka jalan iman dan menjadi Perintis, memimpin sebagai Pelopor pada jalan ini. Karena itu, Dia dapat membawa kita mengikuti jejak-jejak kaki-Nya menempuh jalan iman. Saat kita memandang Dia sebagai Pemulai iman dalam hidup-Nya dan dalam penempuhan-Nya di bumi, dan sebagai Penyem-purna iman dalam kemuliaan-Nya dan di takhta-Nya di surga, Dia mentransfusi dan bahkan menginfus kita dengan iman yang telah Dia mulai dan Dia sempurnakan.

B. Penyempurna Iman

Yesus juga adalah Penyempurna iman. Istilah “penyempurna” dapat diterjemahkan menjadi “penggenap”. Jika kita senantiasa memandang kepada-Nya, Dia akan menggenapkan dan menyempurnakan iman yang kita perlukan untuk berlari dalam perlombaan surgawi itu.

Yesus menjadi Penyempurna iman, terutama dalam kemuliaan-Nya dan di atas takhta-Nya di surga. Ia duduk di atas takhta dalam kemuliaan, untuk menggenapkan iman yang Ia prakarsai ketika Ia di bumi. Sebagai Penggenap dan Penyempurna iman, Ia akan menggenapkan dan menyempurnakan iman yang telah diprakarsai-Nya itu.

III. TRANSFUSI IMAN

A. Menurut Alamiah, Kita Tidak Memiliki

Kemampuan untuk Percaya

Kini mari kita melihat masalah transfusi iman. Seperti telah kita lihat, menurut manusia alamiah kita, kita tidak memiliki kemampuan untuk percaya. Dalam alamiah kita tidak ada unsur iman. Secara alamiah, kita hanya memiliki kemampuan tidak percaya, yakni kemampuan yang tidak mau percaya.

B. Iman Keselamatan

Bukan Berasal dari Diri Kita

Iman yang menyelamatkan kita bukan berasal dari diri kita, melainkan merupakan anugerah yang kita peroleh dari Allah. Allah itu sumber dan Pemberi iman, dan kita adalah penerima karunia ilahi ini. Allah menaruh sesuatu ke dalam kita, dan hal itu menjadi iman kita. Dua Petrus 1:1 mengatakan bahwa kita “telah beroleh satu iman yang sama mustikanya” (Tl.). Iman ini mustika, karena iman adalah karunia yang Allah berikan kepada kita.

C. Sebagai Unsur Percaya,

Kristus Ditransfusikan ke Dalam Kita

Ketika kita menengadah kepada Yesus, Ia mentransfusikan diri-Nya sebagai unsur percaya ke dalam kita, sehingga Ia menjadi iman kita. Kita sudah nampak bahwa iman, kemampuan mensubstansiasi itu seperti indra yang keenam. Indra substansiasi ini kita peroleh melalui pemberitaan Injil. Pemberitaan Injil yang tepat bukan hanya suatu pengajaran, tetapi juga suatu transfusi. Misalkan, sekarang saya memberitakan Injil kepada orang-orang berdosa. Sebelum saya memberitakannya, saya harus terlebih dulu menerima sesuatu dari Tuhan. Kemudian, ketika saya memberitakannya, apa yang saya terima tadi akan seperti arus listrik yang masuk ke dalam para pendengar. Ketika saya berkhotbah dan mereka sedang memperhatikan dan mendengar, ada sesuatu yang dengan spontan dan tanpa disadari ditransfusikan ke dalam mereka. Walaupun mereka mungkin menggelengkan kepala, tidak menyetujui perkataan saya, akan tetapi di dalam lubuk batin mereka sudah percaya kepada khotbah saya. Walau mungkin sebagian orang akan berkata kepada dirinya sendiri bahwa percaya Tuhan Yesus itu perbuatan yang bodoh, namun ada sesuatu dalam batin mereka yang bereaksi terus, dan akhirnya membawa mereka pada titik di mana mereka harus berkata, “Terima kasih, Tuhan Yesus. Engkau sungguh baik. Tuhan, Engkaulah Juruselamatku!” Karena ada suatu unsur telah di transfusikan ke dalam mereka, maka mereka dapat percaya kepada Tuhan. Saya tahu banyak orang yang keras kepala, tidak mau menyatakan dalam sidang bahwa dirinya telah percaya Tuhan Yesus, tetapi setelah pulang, hati mereka tidak damai, sebab ada sesuatu yang terus mengusik batin mereka. Ketika ada sidang penginjilan lagi, mereka berkata, “Aku ingin pergi mendengarkan lagi!” Itulah akibat transfusi iman dari Allah melalui pemberita Injil.

Setiap pemberita Injil seharusnya adalah orang yang memiliki daya tarik. Terlebih dulu Ia sendiri harus telah tertarik, kemudian baru ia bisa menarik orang lain. Apa yang ia katakan mungkin kurang logis, tetapi harus seperti aki yang sudah diisi penuh, sehingga para pendengar akan tertarik. Itulah sebabnya, gereja harus banyak berdoa bila akan memberitakan Injil. Semakin banyak berdoa, semakin banyak daya tarik sidang Injil. Pemberita Injil itu sendiri harus berdoa sedemikian rupa hingga ia dipenuhi oleh daya tarik surgawi, bahkan dipenuhi oleh unsur-unsur ilahi. Kalau ia telah terisi dan dipenuhi dengan daya tarik, sewaktu ia berdiri di hadapan orang, ia akan merasa ada sesuatu yang ditransfusikan ke dalam mereka. Karena itu sampai-sampai ada orang takut kepada penginjil yang sedemikian, dan berkata, “Jangan melihat dia. Kalau kamu melihatnya, kamu akan terpikat olehnya, karena ia amat menarik.” Itulah kuasa Injil. Beberapa pemberita Injil mungkin fasih berbicara dan berpengetahuan, tetapi tanpa daya tarik. Pemberita Injil boleh jadi kekurangan fasih lidah atau kepandaian bertutur kata, namun karena ia sangat menarik, maka begitu orang mendengar kata-katanya, mereka tertarik olehnya. Melalui penginjil yang menarik itu, ada unsur-unsur yang ditransfusikan ke dalam mereka, dan siapa pun tidak dapat merebut unsur itu dari dalam mereka. Unsur yang ditransfusikan itulah iman.

Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam masalah penginjilan, tetapi juga dalam penyampaian berita lainnya. Pelayanan (ministri) pemberitaan firman bukan mengandalkan kefasihan lidah kita, melainkan tergantung pada pengungkapan kita. Pengungkapan berbeda dengan kefasihan lidah. Kefasihan lidah bagaikan musik merdu yang enak didengar telinga. Pengungkapan adalah penyusunan unsur ilahi. Jika ministri Anda tepat, setiap kali Anda menunaikan ministri Anda, Anda akan tertarik dan menarik. Ministri yang tepat mutlak merupakan suatu masalah ditransfusi dan dijenuhi oleh Allah sendiri. Pertama, kita dipenuhi oleh unsur ilahi, kemudian, pada saat kita menunaikan ministri, kita menarik orang dan meradiasikan unsur ilahi itu ke dalam diri orang lain. Ini semua adalah masalah anugerah Allah.

Seperti telah kita nampak, anugerah Allah tidak lain berarti Allah sendiri yang tersalur ke dalam kita untuk memenuhi keperluan kita. Orang dosa tentu perlu memiliki iman, tetapi bagaimanakah mereka mendapatkan iman itu? Menurut keadaan alamiah kita, kita tidak bisa percaya. Namun bila orang dosa datang ke gereja dan mendengar pemberitaan Injil yang tepat, mereka akan diisi oleh Allah. Listrik surgawi, Allah sendiri, akan mengalir ke dalam mereka. Karena Allah sendiri mengalir ke dalam mereka sedemikian rupa, maka mereka dapat memiliki iman. Inilah pemberian iman, yang hakiki dan unsurnya ialah Allah sendiri.

Kalau kita ingin beriman, kita perlu memandang Yesus, sumber iman. Ketika kita beralih dari yang lain dan hanya memandang Dia, Ia akan memancarkan diri-Nya ke dalam kita, mengisi diri kita dengan diri-Nya, demikian kita beroleh iman dengan spontan. Iman bukan berasal dari kita, melainkan dari Dia. Iman ialah Kristus sendiri yang percaya bagi kita dengan cara yang paling subyektif. Ia mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita, menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, hingga Ia, persona ini, menjadi unsur percaya di dalam diri kita. Karena itu, bukan kita yang percaya, melainkan Ia yang percaya di dalam kita. Dengan demikian, Ia membuat kita menjadi orang yang percaya. Memang kalau dilihat dari luar, kitalah yang percaya, tetapi sebenarnya itulah iman-Nya. Ini barulah iman yang sejati.

Begitu Kristus memprakarsai iman ini dalam kita, Ia akan mempertahankannya selama-lamanya, bahkan Ia akan menyempurnakan dan menggenapkannya. Jangan mengira Anda dapat menjadi raksasa iman berdasarkan diri sendiri. Tidak, kita tidak beriman sedikit pun. Semua iman yang kita miliki hanyalah Kristus sendiri yang percaya di dalam kita dan untuk kita. Hidup kita adalah bersandar pada iman-Nya, yaitu bersandar Dia sebagai iman kita (Gal. 2:20).

Unsur percaya Kristus diisikan ke dalam kita melalui hukum hayat. Semakin kita membiarkan hukum hayat bekerja di dalam kita, kita akan semakin dapat percaya. Kalau kita memberikan kesempatan terus-menerus kepada hukum hayat untuk bekerja di dalam pikiran, emosi, dan tekad kita, hukum hayat akan menghasilkan iman yang besar di dalam kita. Inti Surat Ibrani ialah hukum hayat, dan iman adalah buah sulung dari pekerjaan hukum hayat di dalam diri kita.

Kita sudah melihat bahwa benda terakhir dari susunan perabotan kemah ialah hukum hayat, yang dilambangkan oleh loh batu kesaksian. Hukum itu disebut kesaksian, karena hukum itu adalah ekspresi dan definisi dari apa adanya Allah. Setiap hukum adalah ekspresi dari pembuatnya. Orang baik tentu membuat hukum yang baik; orang jahat tentu membuat hukum yang jahat. Hukum yang dibuat seseorang akan mencerminkan keadaan orang itu. Jadi, hukum Allah juga mencerminkan apa adanya Allah. Karena Allah adalah Allah terang dan kasih, juga benar dan kudus, maka hukumNya juga adalah hukum yang terang, kasih, benar, dan kudus. Sebagai pencerminan Allah, hukum itu ialah ekspresi dan kesaksian Allah, juga bayangan hukum hayat. Hari ini hukum hayat dalam kita sesungguhnya adalah refleksi dan ekspresi Allah. Semakin banyak hukum hayat bekerja di dalam kita, semakin banyak kita memiliki gambar Allah. Dengan demikian kita akan menjadi ekspresi dan kesaksian-Nya.

Susunan perabotan kemah pada akhirnya membawa orang kepada hukum hayat, yaitu ekspresi dan kesaksian Allah. Demikian pula, pengalaman atas Kristus yang bermula pada salib berakhir pada kesaksian Allah yang dihasilkan oleh hukum hayat. Sasaran pengalaman kita atas Kristus ialah mengekspresikan Allah. Ketika hukum hayat bekerja di dalam kita untuk mendatangkan ekspresi dan kesaksian Allah, hasil yang pertama ialah membuat kita percaya. Orang yang paling banyak memiliki iman ialah orang yang di dalamnya paling banyak mengalami pekerjaan hukum hayat. Orang yang demikian memiliki iman, sepenuhnya percaya kepada Allah, dan tidak mengalami ketegangan atau perontaan sedikit pun. Dia percaya dengan spontan, karena percayanya ini berasal dari pekerjaan hukum hayat yang ada di dalam batinnya.

Alkitab selalu konsisten. Meskipun ada banyak ungkapan, istilah, dan kalimat yang berbeda-beda, namun semuanya hanya mencerminkan satu hal. Hukum hayat dalam Ibrani 8 menghasilkan kemampuan percaya, iman, dalam pasal 11. Walaupun kita tidak dapat memahaminya hanya melalui membaca Alkitab, tetapi kita dapat memahaminya melalui pengalaman. Pertama, kita memiliki pengalaman, kemudian kita beroleh konfirmasi (kepastian) dari wahyu Alkitab. Kelihatannya, Ibrani 11 tidak berkaitan dengan Ibrani 8. Namun dari segi hayat, Ibrani 11 ialah hasil Ibrani 8, sebab kemampuan percaya berasal dari operasi hukum hayat ilahi. Ketika hukum hayat beroperasi di batin kita, membuat kita menjadi refleksi, ekspresi, dan kesaksian Allah, kita akan mudah percaya. Iman kita akan timbul dengan spontan. Dalam faktanya, kita tidak dapat tidak percaya, sebab kemampuan percaya itu telah tergarap ke dalam kita. Sekarang kita tahu mengapa kita harus melepaskan segala sesuatu, dan hanya memandang Yesus, Pemulai dan Penyempurna iman kita. Ketika kita memandang Dia, kita akan memberi-Nya kesempatan dan kebebasan untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Dengan demikian, hukum hayat dapat beroperasi dalam setiap bagian batiniah kita, hingga kita dijenuhi sepenuhnya oleh-Nya. Semakin banyak kita dijenuhi oleh-Nya, semakin mudahlah kita percaya. Inilah jalan untuk beroleh iman. Semoga kita semua dapat mengalami iman dengan cara yang sesubyektif ini, yaitu dengan melepaskan segala sesuatu, dan hanya memandang Yesus.