← Daftar isi Ibrani (3) · bab 16/18

BERLARI DALAM PERLOMBAAN I. SEUMUR HIDUP ORANG KRISTEN ADALAH SUATU PERLOMBAAN

Dalam berita ini kita akan melihat masalah perlombaan orang Kristen. Seumur hidup orang Kristen adalah suatu perlombaan. Semua orang Kristen yang telah diselamatkan harus berlari dalam perlombaan ini untuk mendapatkan pahala (1Kor. 9:24). Pahala ini bukan keselamatan dalam pengertian yang umum (Ef. 2:8; 1 Kor. 3:15), melainkan suatu pahala dalam pengertian yang khusus (Ibr. 10:35; 1Kor. 3:14). Rasul Paulus telah berlari dan mendapatkan pahala itu (1Kor. 9:26-27; Flp. 3:13-14; 2Tim. 4:7-8). Boleh dikatakan ia adalah satu-satunya orang yang mengibaratkan hidup orang Kristen seperti perlombaan. Dalam Surat Ibrani, ia menyuruh kaum beriman Ibrani berlari dalam perlombaan ini, katanya, “Berlomba (berlari) dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (Ibr. 12:1).

Sekarang kita ingin menanyakan satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab, yakni, apakah perlombaan ini? Kita tidak dapat mengatakan bahwa perlombaan ini adalah mendapatkan kesempurnaan atau mendapatkan kemuliaan; sebab itu adalah sasaran perlombaan. Perlombaan ini juga bukan operasi batiniah dari hukum hayat, karena itu adalah proses perlombaan. Perlombaan ini bahkan bukan berarti kehilangan jiwa, sebab itu merupakan jalan untuk mengikuti perlombaan, bukan perlombaannya sendiri. Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita memikirkan perkataan Tuhan dalam Yohanes 14:6 ”Akulah jalan”. Perlombaan adalah suatu jalan, perjalanan. Karena Kristus adalah jalan, maka Ia juga perlombaan. Jadi, perlombaan yang kita tempuh adalah Kristus. Jalan kita adalah perlombaan kita. Ini bukan dua hal, yang satu jalan, yang satu lagi perlombaan. Tidak, jalan yang kita tempuh adalah perlombaan. Walaupun saya telah membicarakan masalah mengikuti perlombaan ini selama empat puluh tahun lebih, tetapi saya belum pernah mengerti hal ini sejelas seperti sekarang, yaitu bahwa perlombaan adalah Kristus itu sendiri.

Saya berbeban semoga kita semua jelas terhadap jalan Allah. Dalam alam semesta Allah telah menyediakan satu jalan yang unik untuk kita tempuh. Jalan ini tanpa awal pun tanpa akhir, tidak berkesudahan, dari kekekalan sampai kekekalan. Mulai dari Kejadian 1 hingga Wahyu 22 hanya ada satu jalan, yaitu Kristus. Sebelum Kristus dinyatakan, Allah telah memakai banyak lambang untuk menunjukkan bahwa Kristus adalah jalan Allah; antara lain yang paling menonjol ialah Kemah Pertemuan. Seperti telah kita lihat, Kemah Pertemuan mempunyai tiga bagian: pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Dalam ketiga bagian itu terdapat satu jalan, dimulai dari mezbah, melewati bejana pembasuhan, meja roti sajian, kaki pelita, mezbah pembakaran ukupan, lalu membawa kita masuk ke dalam tabut perjanjian, tempat hukum hayat berada. Jalan dalam Kemah Pertemuan adalah sebuah gambaran dari Kristus adalah jalan kita yang unik. Sebentar lagi akan kita bahas, mengapa jalan ini disebut perlom-baan.

Kejadian1 dan 2 mewahyukan bahwa kehendak Allah ialah agar manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya itu dapat berjalan di jalan-Nya. Menurut 2Korintus 4:4 dan Kolose 1:15, gambar Allah ialah Kristus. Jadi, manusia diciptakan menurut gambar Allah berarti menurut Kristus; manusia diciptakan menurut Kristus supaya manusia berjalan di jalan Allah, yaitu Kristus. Dalam Kejadian 2 manusia ditempatkan di depan pohon hayat, yang menandakan Kristus adalah hayat kita. Karena itu, manusia tidak hanya diciptakan menurut Kristus, tetapi juga ditetapkan untuk menerima Kristus sebagai hayatnya. Jika manusia berbuat demikian, ia segera berjalan di jalan Allah. Akan tetapi, setelah manusia diciptakan, sebelum berjalan di jalan Allah yang unik ini, Iblis telah datang menyelewengkan manusia dari jalan Allah, sehingga manusia berpaling kepada hal-hal yang di luar Kristus. Namun, karena belas kasihan Allah, Dia datang mendirikan satu jalan penebusan, agar manusia yang telah diselewengkan dapat dikembalikan ke jalan Allah. Habel mengikuti jalan ini, tetapi Kain tidak. Habel telah dikembalikan ke jalan Allah, namun Kain tertipu oleh Iblis lebih lanjut, sehingga ia tidak per-nah kembali ke jalan Allah yang semula. Di kemudian hari, Allah menyuruh bani Israel mendirikan Kemah Pertemuan. Pada Kemah Pertemuan terdapat sebuah jalan yang jelas, yang memungkinkan orang dosa memasuki realitas apa adanya Allah. Ketika orang Israel dipanggil oleh Allah, mereka asalnya sebagai orang dosa yang yang menyeleweng meninggalkan jalan Allah. Tetapi Allah menunjukkan Kemah Pertemuan kepada mereka, yang di dalamnya ada sebuah jalan yang dimulai dari mezbah di pelataran luar kepada titik terakhir di tempat maha kudus, yaitu kenikmatan atas unsur Allah, hukum hayat. Setiap hal di jalan ini menunjukkan aspek-aspek Kristus. Jadi, bagi manusia jalan untuk mencapai Allah tidak lain ialah Kristus sendiri.

Akan tetapi, Yudaisme telah menyalahgunakan Kemah Pertemuan berikut setiap hal yang diwahyukan dalam Perjanjian Lama, dan menjadikannya suatu agama. Maka agama yang dibentuk seturut firman Allah itu pada akhirnya telah menyelewengkan umat Allah dari jalan-Nya. Baik Kemah Pertemuan maupun Bait Allah asalnya terbentuk dengan maksud menunjukkan jalan kepada umat Allah, yang olehnya mereka dapat mencapai dan masuk ke dalam-Nya. Ketika Tuhan Yesus datang, para imam melakukan penyembahan di Bait Allah, mempersembahkan kurban-kurban di atas mezbah, menyalakan pelita, menata roti-roti sajian, dan membakar ukupan. Mereka berbuat demikian dengan maksud menghubungi Allah. Namun, Tuhan Yesus malah pergi ke rumah Simon, si kusta di Betania, di mana Ia menikmati persekutuan dengan beberapa saudara dan saudari. Sementara para imam menyembah Allah di Bait Allah, Allah sendiri malah berada di rumah Simon di Betania. Pada waktu itu jalan tidak berada di Bait Allah, jalan (Kristus) berada di Betania. Penyembahan dan pelayanan yang ditetapkan Allah dan yang dipakai untuk menunjukkan jalan menuju kepada Allah, juga bisa diperalat Iblis untuk menyelewengkan orang dari Kristus, jalan Allah yang unik itu.

Renungkan lagi Saulus dari Tarsus, yang mutlak hidup untuk agama Yahudi. Ketika ia tahu orang-orang senegerinya, seperti Petrus, Yohanes, Stefanus, tidak lagi berada dalam agama Yahudi, ia menjadi sangat marah dan sangat menentang mereka. Pada waktu itu, jalan telah menjadi suatu perlombaan; Petrus, Yohanes, Stefanus, dan semua orang beriman lainnya sedang berlari dalam perlombaan itu. Ketika Saulus dari Tarsus berlari-lari di samping jalan ini dan mencoba menghalang-halangi mereka yang berada di jalan ini, Tuhan Yesus menampakkan diri kepadanya, merebahkannya, dan memalingkannya ke jalan ini (Kis. 9:1-6). Saya percaya pada saat Saulus masuk ke dalam Kristus dan berjalan di jalan ini, tentu ia memikirkan latar belakang agamanya dan semua penyelewengan yang terjadi di sepanjang jalannya. Ia memikirkan dirinya yang terlahir sebagai orang Ibrani, disunat pada umur delapan hari, mungkin ia bimbang apakah ia harus membuang segalanya itu. Akhirnya ia jelas bahwa ia harus melupakan dirinya sebagai orang Ibrani, dan tidak saja harus berjalan di jalan ini, juga harus berlari dalam perlombaan ini. Ketika Anda mengendarai mobil dengan cepat, tentu Anda tidak mencari jalan keluar. Tetapi bila Anda berjalan perlahan-lahan, itu berarti Anda sedang mencari jalan keluar. Saulus mulai mempercepat larinya, dan ia mengganti namanya menjadi Paulus. Begitu ia berlari, perjalanannya pun berubah menjadi perlombaan.

Sebagai kaum saleh dalam pemulihan Tuhan, Anda berjalan di atas jalan atau berlari dalam perlombaan? Kalau kita berjalan di atas jalan, pada suatu hari kita akan menyimpang keluar dari jalan. Kalau kita berjalan perlahan-lahan, kita akan diselewengkan oleh jalan yang lain. Tetapi jika kita berlari dalam perlombaan, tentu kita tidak ada waktu menoleh ke kiri atau ke kanan, melainkan hanya menatapkan mata pada sasaran, kita tidak akan diselewengkan. Paulus mempunyai pendorong yang hebat sekali untuk berlomba-lomba dalam perlombaan dengan sekuat tenaga, ia tidak lagi mempunyai waktu untuk melihat keadaan sekitarnya atau memikirkan urusan lain. Meskipun Paulus mungkin tidak pernah bimbang, tetapi sebagai model kaum beriman Ibrani, ia pasti pernah memikirkan latar belakangnya. Saya percaya, setelah ia rebah oleh Tuhan di jalan menuju Damsyik, ia terkenang akan hidupnya dalam agama Yahudi. Boleh jadi ia berkata, “Aku memiliki begitu banyak barang yang baik. Apakah Bait Allah itu salah? Apakah imamat itu keliru? Bukankah semua itu ditetapkan oleh Allah sendiri?” Jika Paulus tidak pernah memikirkan latar belakang agamanya, mustahillah ia dapat menulis Galatia 1, Filipi 3, dan seluruh Surat Ibrani sedemikian jelasnya. Andaikata ia bukan seorang model kaum beriman Ibrani, yang mengalami semua hal tersebut, ia tidak mungkin dapat membantu orang Kristen Ibrani yang bimbang itu. Akan tetapi, karena ia pernah mengalami keadaan yang serupa dan menderita sakit yang sama, maka ia telah menjadi seorang pasien yang berpengalaman. Peribahasa mengatakan bahwa seorang pasien yang berpengalaman bisa menjadi seorang dokter yang baik. Nanti kita akan nampak bahwa Paulus benar-benar telah menjadi seorang dokter yang baik, yang dapat menyembuhkan orang-orang yang terancam bahaya menjadi pincang. Ia sendiri pernah berada dalam bahaya yang sama, tetapi ia telah beroleh kesembuhan. Karena itu, akhirnya ia tahu bagaimana menyembuhkan orang Kristen Ibrani yang bimbang dan dapat memberi mereka obat yang tepat. Dalam Surat Ibrani, Paulus telah memberikan obat-obat mujarab kepada mereka yang pincang, agar mereka boleh dibawa kembali dan dapat menempuh perlombaan itu.

Kehendak Allah ialah menaruh kita ke dalam Kristus dan menggarapkan Kristus ke dalam diri kita, membuat Kristus menjadi standar kita dan membuat kita menjadi reproduksi standar tersebut. Hasilnya ialah kita disempurnakan dan dimuliakan. Ketika Surat Ibrani ditulis, banyak orang beriman Ibrani sedang mengenangkan latar belakang mereka dan berjalan perlahan-lahan di jalan ini atau bahkan berhenti. Mereka berada dalam bahaya diselewengkan oleh Bait Allah, imamat, dan kurban-kurban persembahan. Mereka berada dalam bahaya berhenti, atau mundur ke belakang kembali lagi ke agama Yahudi tanpa maju ke tempat maha kudus. Ini berarti mereka sedang dalam bahaya menyimpang dari sasaran Allah menuju sesuatu yang diperalat musuh untuk menyelewengkan umat Allah dari jalan-Nya. Karena itu, setelah penulis memakai sebelas pasal menerangkan dengan jelas tentang jalan itu kepada kaum beriman Ibrani, ia seolah-olah berkata lagi, “Berlarilah dalam perlombaan ini! Jangan berdiri mematung, jangan menoleh ke belakang, jangan melihat ke kanan atau ke kiri! Bahkan jangan berjalan, berlarilah!” Kita tidak saja tidak boleh meninggalkan Kristus dan kembali ke agama Yahudi, juga tidak boleh berdiri mematung di dalam Kristus. Bahkan berjalan di dalam Kristus pun tidak cukup. Kita harus berlari dalam perlombaan ini. Jangan membuang-buang waktu lagi untuk memandang keadaan sekitar kita, berdiri mematung, atau berjalan perlahan-lahan. Kita harus berlari. Sekarang kita seharusnya sudah jelas apa yang dimaksud dengan perlombaan ini. Perlombaan ini tidak lain ialah Kristus sendiri sebagai jalan kita. Tetapi kita tidak boleh mengambil jalan ini sebagai perjalanan, melainkan menganggapnya sebagai perlombaan.

Dalam pasal 6 Paulus menyuruh kita melarikan diri. Kita harus melarikan diri dari segala hal, masuk ke tempat maha kudus, di mana Perintis kita, Yesus Kristus, telah masuk ke dalam tirai. Inilah artinya berlari dalam perlombaan.

II. SELURUH ORANG BERIMAN PERJANJIAN BARU

HARUS BERLARI DALAM PERLOMBAAN INI

A. Menanggalkan Semua Beban,

Pikulan, dan Rintangan

Dikatakan dalam Ibrani 12:1, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.” Kata “beban” dapat diterjemahkan sebagai hal yang berat, pikulan, rintangan. Para pelari perlombaan menanggalkan segala hal berat yang tidak perlu, segala beban yang merintangi, sehingga tak ada yang dapat merintangi mereka untuk memenangkan perlombaan itu. Perhatikan, di sini Paulus mengatakan “kita” bukan “kamu”, sebab ia sendiri tercakup di dalam hal ini.

B. Menanggalkan Dosa

yang Begitu Merintangi Kita

Ayat 1 mengatakan tentang “dosa (itu) yang begitu merintangi kita”. Dosa di sini terutama mengacu kepada hal yang merintangi kita tidak dapat berlari berlomba, sama seperti kesengajaan berbuat dosa yang disinggung dalam 10:26, akan menjauhkan kaum beriman Ibrani dari jalan perjanjian yang baru dalam ekonomi Allah. Beban berat dan dosa yang merintangi akan menghalangi dan membatasi kaum beriman Ibrani sehingga mereka tidak dapat berlari pada perlombaan surgawi dalam perjanjian yang baru, mengikuti Yesus, yang telah ditolak oleh Yudaisme. Bagi kaum beriman Ibrani yang bimbang, pikiran mereka yang ingin berbalik kembali ke agama Yahudi adalah dosa yang merintangi mereka. Dosa yang tercantum di sini adalah dosa yang khusus dan unik, sebab Paulus memberinya kata sandang tertentu “dosa itu” (Tl.) Dosa unik yang merintangi orang adalah dosa yang disengaja, seperti mengabaikan pertemuan ibadah dengan kaum saleh, mengabaikan jalan perjanjian yang baru, dan kembali ke dalam agama Yahudi.

C. Dengan Tekun

Dalam perlombaan ini kita akan mengalami banyak tentangan, karenanya kita harus berlari dengan tekun (12:1). Artinya, untuk berlomba dalam perlombaan Kristus, kita harus dengan tekun menghadapi tentangan, juga tidak penat atau tawar hati.

D. Mengabaikan Segala Hal

Dalam ayat 2 Paulus menyuruh kaum beriman Ibrani “melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” Istilah “mata yang tertuju” bahasa Yunaninya mengacu kepada berpaling dari berbagai sasaran untuk khusus melihat dengan perhatian yang tidak terbagi. Pelari dalam lomba lari, misalnya pelari 100 m, harus memandang sasarannya saja, lain tidak. Dalam ayat di atas Paulus seolah-olah berkata, “Wahai saudara-saudara Ibrani, jangan berdiri mematung sambil memandang keadaan sekeliling. Kalian harus berpaling dari segala hal lain dan memandang Kristus dengan perhatian sepenuh-penuhnya. Inilah rahasia berlari dalam perlombaan.” Kaum beriman Ibrani berpaling dari segala hal dalam lingkungan mereka, dari agama lama mereka, Yudaisme dan penganiayaannya, serta dari segala hal bumiah, sehingga mereka dapat memandang Yesus, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah di surga.

E. Memandang Yesus yang Kini Duduk di Sebelah Kanan Takhta Allah di Surga

Paulus menyuruh kaum beriman Ibrani, “melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” Mulai dari 1:3, kitab ini terus-menerus mengarahkan kita kepada Kristus yang telah duduk di surga. Dalam seluruh surat-surat rasulinya yang lain, Paulus terutama menyajikan Kristus yang berhuni dalam roh kita (Rm. 8:10; 2Tim. 4:22), adalah Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45), untuk menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Tetapi di dalam kitab ini dia secara khusus menunjukkan Kristus yang telah duduk di surga dan yang memiliki begitu banyak aspek, sehingga Dia dapat memelihara kita dalam segala hal. Dalam Surat-surat Kiriman Paulus yang lainnya, Kristus yang berhuni ini berlawanan dengan daging, ego, dan manusia alamiah kita. Dalam kitab ini, Kristus yang surgawi ini berlawanan dengan agama duniawi dan segala hal bumiah. Untuk mengalami Kristus yang berhuni ini, kita perlu kembali ke dalam roh kita dan berkontak dengan Dia; untuk menikmati Kristus yang surgawi, kita perlu berpaling dari segala hal yang berada di bumi kepada Dia, yang telah duduk di sebelah kanan takhta Allah. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia telah merampungkan segala sesuatu yang diperlukan oleh Allah dan manusia. Sekarang di dalam kenaikan-Nya, Dia sedang duduk di surga, di dalam status Putra Allah (1:5) dan Anak Manusia (2:6), juga di dalam status Allah (1:8) dan manusia (2:6), menjadi ahli waris segala sesuatu (1:2), Yang diurapi Allah (1:9), Pemimpin keselamatan kita (2:10), Sang Pengudus (2:11), Penolong yang konstan (2:16), Penolong pada waktunya (4:16), Rasul Allah (3:1), Imam Besar (2:17; 4:14; 7:26), Pelayan kemah yang sejati (8:2) dengan ministri yang jauh lebih agung (8:6), jaminan dan Pengantara dari perjanjian yang lebih baik (7:22; 8:6; 12:24), Pelaksana perjanjian yang baru (9:16-17), Perintis (6:20), Pemulai dan Penyempurna iman (12:2), dan Gembala Agung segala domba (13:20). Jika kita menengadah kepada Dia yang demikian ajaib dan almuhit, Dia akan menyuplaikan surga, hayat, dan kekuatan kepada kita, mentransfusi dan menginfus kita dengan segala apa adanya Dia, sehingga kita mampu berlari dalam perlombaan surgawi dan menempuh kehidupan surgawi di bumi. Dengan cara ini Dia akan membawa kita menempuh jalan seumur hidup ini dan memimpin kita masuk ke dalam kemuliaan (2:10).

Yesus yang ajaib ini, telah duduk di takhta di surga dan telah “dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat” (2:9). Dia adalah daya tarik terbesar dalam alam semesta, seperti sebuah magnit yang sangat besar, menarik semua pencari-Nya kepada-Nya. Karena ditarik oleh keelokan-Nya yang mempesona, maka kita berpaling dari segala hal lain di luar Dia. Tanpa obyek yang sedemikian mempesona, bagaimana kita dapat berpaling dari begitu banyak hal yang menyesatkan di bumi ini?

F. Mengingat Yesus yang Tekun Menanggung Bantahan Orang-orang Berdosa

Ayat 3 mengatakan, “Ingatlah selalu Dia yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Kalimat yang pendek ini mengingatkan kita kepada keempat kitab Injil, di mana kita nampak bagaimana Kristus tekun menanggung bantahan yang sehebat itu dari pihak orang-orang berdosa. Pada waktu itu, yang dimaksud orang berdosa ialah semua ahli agama, penganut agama Yahudi, para imam, ahli Taurat, dan tua-tua umat. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia menghadapi semua penentang yang berusaha sekuat tenaga membatasi atau menghentikan-Nya dalam menempuh jalan perjanjian baru Allah. Namun Tuhan Yesus tidak hanya tidak terhalangi, malahan Ia membukakan jalan itu bagi kita, melalui kematian-Nya di atas salib.

G. Bergumul Melawan Dosa,

Melawan Sampai Mencucurkan Darah

Ayat 4 mengatakan, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.” “Dosa” di sini pasti mengacu kepada sesuatu yang jahat di pandangan Allah, yang menghalangi kaum beriman sehingga mereka tidak menempuh jalan perjanjian yang baru. Itulah sebabnya dosa ini perlu dilawan, bahkan sampai kita mencucurkan darah.

III. RASUL PAULUS SEBAGAI TELADAN PESERTA PERLOMBAAN

Karena latar belakang Paulus persis dengan kaum beriman Ibrani, maka ia layak menjadi seorang teladan bagi semua peserta perlombaan. Galatia 2:2 dan 1Korintus 9:26-27 memperlihatkan bagaimana Paulus mengawali perlombaannya. Filipi 3:5-8, 12-14 memperlihatkan bagaimana Paulus terus-menerus berlari dalam perlombaannya. Dalam Filipi 3 kita nampak Paulus sebagai satu model kaum beriman Ibrani, ia berlari terus ke depan, meninggalkan agama Yahudi yang usang. Dalam 2 Timotius 4:7-8, yang ditulisnya tidak lama menjelang mati martirnya, ia memberi tahu kita bahwa ia telah menyelesaikan perlombaan itu.

Ketika Paulus berlari, ia berkata “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:27). Walaupun orang yang telah diselamatkan tidak akan binasa lagi, tetapi ia mungkin sekali ditolak Tuhan. Ditolak berarti gagal dalam perlombaan dan kehilangan kesempatan untuk mencapai sasaran. Paulus sangat khawatir kalau-kalau dirinya sendiri akan ditolak. “Ditolak” juga mengandung arti kurang memenuhi syarat atau tidak diperkenan. Paulus seakan-akan berkata kepada kaum beriman Ibrani, “Wahai saudara-saudara Ibrani, berhati-hatilah! Walaupun kalian telah diselamatkan, kalian masih bisa ditolak Tuhan, yaitu menjadi orang yang tidak diperkenan.” Konsepsi ini sesuai dengan mencapai sasaran dan mendapatkan pahala sebagai suatu upah. Namun, orang yang ikut serta dalam perlombaan sekalipun masih berkemungkinan menjadi orang yang ditolak dan tidak mendapat pahala. Dalam Ibrani 12 Paulus berusaha memperingatkan dan mendorong saudara-saudara Ibrani, yakni menganjuri mereka maju berlomba dalam perlombaan ini. Demikian pula kita, pada hari ini, tidak boleh hanya berjalan di jalan ini saja, tetapi juga harus berlari dalam perlombaan yang diwajibkan ini.