KEDUA KALI PENYATAAN KRISTUS
Hari ini, sebagai orang Kristen, kita perlu mendalami Surat Ibrani. Syukur kepada Allah, di bawah kedaulatan-Nya, pada abad pertama terdapat sekelompok orang Kristen Ibrani yang dirundung rasa bimbang dan ragu. Tanpa mereka, mungkin Surat Ibrani tidak akan ada. Namun jangan mengira Surat Ibrani hanya untuk mereka saja. Sebenarnya hari ini kita lebih membutuhkan Surat Ibrani daripada mereka pada masa itu. Tiap orang Kristen hari ini perlu mendalami Surat Ibrani. Dalam sebelas berita terdahulu telah kita telusuri tiga pasal, pasal 7, 8, dan 9. Seandainya saya minta Anda memberikan kesimpulan atas ketiga pasal ini, mungkin Anda akan merasa sukar sekali. Namun pada akhir pasal 9, kitab ini sendiri telah memberikan suatu ikhtisar, suatu kesimpulan atas ketiga pasal tadi. Kesimpulan ini adalah masalah yang akan kita bahas dalam berita ini kedua kali penyataan Kristus dan jarak waktu antara keduanya itu. Ketiga hal ini: kedua kali penyataan Kristus dan jarak waktu antara keduanya itu, membentuk ekonomi Allah.
Kebanyakan orang Kristen sulit memahami makna sejati dari kedua kali penyataan Kristus ini. Kedua kali penyataan Kristus ditujukan kepada kedua kali kedatangan-Nya. Ia pernah datang sekali, dan akan datang lagi untuk kali kedua. Selama masa yang panjang antara kedua kali penyataan Kristus di dunia ini, Ia tinggal dalam hadirat Allah. Dua ribu tahun sudah berlalu sejak penyataan-Nya kali pertama. Walaupun rentang waktu ini sangat panjang bagi kita, tetapi bagi-Nya tidak lebih dari dua hari (2 Ptr. 3:8). Kita perlu nampak makna kedua kali penyataan Kristus dan jarak waktu antara keduanya itu.
Sebelum penyataan Kristus kali pertama, telah ada rencana Allah, janji Allah, dan suatu lambang, suatu gambaran ekonomi Allah. Tetapi selain penciptaan, tidak ada yang telah dirampungkan. Seperti halnya ketika kita hendak mendirikan sebuah balai sidang, terlebih dulu kita membuat rancangan dan modelnya, tetapi dengan adanya semua itu belum berarti kita telah memiliki balai sidang yang sesungguhnya. Sebelum Kristus berinkarnasi, telah muncul tokoh-tokoh seperti Abraham, Musa, dan Daud, yang telah datang lalu pergi, tetapi tidak ada sesuatu yang telah dirampungkan bagi ekonomi Allah. Walaupun telah ada model kemah pada Musa dan bait pada Salomo, itu pun hanya suatu model, bukan yang sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang riil dirampungkan sampai pada penyataan Kristus kali pertama.
I. PENYATAAN KRISTUS KALI PERTAMA
Kristus menggunakan waktu tiga puluh tiga setengah tahun untuk menyelesaikan penyataan-Nya kali pertama.
Selama tiga puluh tiga setengah tahun itu, setiap hal yang diperlukan bagi penggenapan kehendak Allah telah dirampungkan-Nya. Ia telah merampungkan keperluan Allah maupun keperluan kita.
A. Menghapuskan Dosa dengan Menyerahkan
Diri-Nya Sendiri kepada Allah
sebagai Kurban karena Dosa
Penyataan Kristus kali pertama bertujuan menghapuskan dosa. Ayat 26 menerangkan bahwa “Sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa dengan kurban diri-Nya.” Kata “zaman akhir” di sini berarti akhir dari zaman Perjanjian Lama, sedangkan akhir zaman dalam Matius 28:20 mengacu kepada penutupan zaman gereja. Kristus telah dipilih bagi kita sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20), dan Dia telah disembelih sejak dunia dijadikan (Why. 13:8). Sebenarnya, disembelihnya Dia itu hanya satu kali untuk selamanya pada perampungan zaman (zaman akhir), ketika Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah dalam penyataan-Nya kali pertama, untuk menghapuskan dosa.
Kristus telah menghapuskan dosa pada dua puluh abad yang lalu. Sebelum Ia merampungkan hal ini, para imam setiap hari mempersembahkan kurban penghapus dosa. Tetapi itu bukan penghapusan dosa yang sesungguhnya, itu hanya suatu lambang dan gambar belaka. Penghapusan dosa yang sejati dirampungkan oleh Kristus di atas salib sekali untuk selamanya. Mungkin Anda baru lahir dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, dan selama hidup Anda, Anda pernah melakukan banyak dosa, seperti mencuri dan berdusta. Tetapi jauh sebelum Anda melakukan dosa-dosa apa pun, yakni dua puluh abad yang lalu, penghapusan dosa telah dirampungkan-Nya. Jadi, penghapusan dosa merupakan suatu warisan. Pertama, penghapusan dosa berupa suatu janji; kedua, penudungan dosa-dosa adalah suatu bayang-bayang; akhirnya, janji dan bayang-bayang itu telah digenapkan sepenuhnya oleh Kristus di atas salib ketika Ia menyerahkan diri-Nya menjadi kurban karena dosa-dosa, sekali untuk selamanya. Ia telah “satu kali saja mengurbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang”(9:28, 14; 10:12). Karena itu, dalam pandangan Allah, dosa telah dihapus dan telah menjadi sejarah. Janganlah percaya kepada Iblis, perasaan diri sendiri, atau kegagalan Anda. Semua itu dusta dan palsu belaka. Katakanlah kepada mereka, “Dosa telah terhapus oleh Kristus dalam penyataan-Nya kali pertama.”
B. Untuk Perampungan Suatu
Penebusan yang Kekal
Penyataan Kristus kali pertama juga untuk merampungkan penebusan yang kekal. Ibrani 9:12 mengatakan bahwa Ia “telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang (maha) kudus . . . dengan membawa darah-Nya sendiri. Dengan itu Ia telah mendapat kelepasan (penebusan) yang kekal.” Hal ini telah dirampungkan Kristus ketika Ia menghapuskan dosa-dosa. Jadi, penebusan yang kekal juga merupakan suatu warisan.
C. Untuk Menetapkan Perjanjian yang Baru
Penyataan Kristus kali pertama juga untuk menetapkan perjanjian yang baru (Mat. 26:28). Dengan menghapuskan dosa dan merampungkan penebusan yang kekal, Kristus telah menetapkan perjanjian yang baru. Jadi, perjanjian yang baru juga adalah suatu warisan.
D. Untuk Pewarisan Wasiat Baru
Terakhir, penyataan Kristus kali pertama juga untuk pewarisan wasiat baru (9:16-17). Kita sudah mengatakan bahwa begitu perjanjian yang baru diwariskan, ia lalu menjadi wasiat baru. Dalam penyataan kali pertama, Kristus telah merampungkan segala sesuatu, dan mencantumkan segala sesuatu yang telah rampung itu dalam suatu wasiat, lalu mewariskan-Nya kepada kita. Dalam wasiat itu kita telah memiliki setiap hal yang dirampungkan Kristus sebagai warisan kita. Karena setiap hal telah dirampungkan, maka baik Ia maupun kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Jika kita mempunyai visi ini, kita akan nampak bahwa dalam penyataan-Nya kali pertama selama tiga puluh tiga setengah tahun itu, Kristus telah merampungkan segala sesuatu serta mencantumkannya dalam surat wasiat, yaitu dalam wasiat baru. Jangan menganggap Perjanjian Baru sebagai kitab janji atau kitab nubuat. Tidak, seluruh Perjanjian Baru adalah surat wasiat. Andaikata dalam surat wasiat kakek Anda penuh dengan janji dan nubuat, mungkin itu baru akan terwujud 80 tahun kemudian. Tetapi Anda mungkin tidak dapat hidup sepanjang itu dan tidak dapat mengalami kegenapannya. Sayang, justru banyak orang Kristen memandang Perjanjian Baru sedemikian. Hari ini banyak orang Kristen tidak memiliki Perjanjian Baru sebagai surat wasiat, hanya memilikinya sebagai kitab janji atau kitab nubuat saja. Mereka tetap menanti-nantikan tergenapnya janji-janji dan nubuat-nubuat itu sedikit demi sedikit. Ingatlah, Kitab Wahyu, yang merupakan kitab nubuat, bahkan termasuk dalam Perjanjian Baru, yang merupakan suatu wasiat. Sebagaimana telah saya tunjukkan dalam berita yang lalu, sampai-sampai dalam kitab nubuat seperti Kitab Wahyu, banyak kata kerja memakai bentuk kala lampau. Ini membuktikan bahwa hal-hal itu telah genap dan rampung.
Kita perlu memiliki visi yang jelas ini, nampak Kristus telah merampungkan segala sesuatu. Jika kita nampak visi ini, kita tidak akan meronta-ronta dalam menghadapi apa pun, kita hanya beristirahat dengan tenang di atas segala yang telah dirampungkan Kristus. Saya sungguh girang, sebab Kristus telah merampungkan segala sesuatu bagi saya. Berbahagialah orang yang nampak visi bahwa Kristus telah merampungkan segala sesuatu bagi dirinya! Kini, Kristus duduk di surga, sebab semua pekerjaan telah dirampungkan-Nya. Ia tidak bersusah payah atau berjuang dengan meronta-ronta, melainkan duduk dengan penuh perhentian di surga. Dalam Alkitab, duduk berarti pekerjaan sudah selesai. Setiap hal yang diperlukan bagi penyempurnaan rencana kekal Allah telah digenapkan oleh Kristus dalam penyataan-Nya kali pertama. Semua yang telah dirampungkan-Nya telah diwariskan kepada kita sebagai warisan di dalam wasiat baru.
II. DALAM JARAK WAKTU
A. Memasuki Tempat yang Maha Kudus di Surga
Setelah dengan kematian dan kebangkitan-Nya Ia menggenapkan hal-hal yang diperlukan, Kristus naik ke surga dan masuk ke dalam tempat maha kudus di surga. Ayat 24 mengatakan, “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia . . ., tetapi ke dalam surga sendiri . . .” Kemah dalam Perjanjian Lama hanya merupakan gambar dari kemah sejati yang di surga. Bumi adalah pelataran luar dari kemah sejati ini. Sebagai Imam Besar, setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya di pelataran luar, Kristus lalu masuk ke dalam tempat maha kudus dalam kemah yang sejati.
B. Menghadap Hadirat Allah
Kristus telah masuk ke tempat maha kudus di surga, maka Ia dapat menghadap hadirat Allah bagi kita (9:24). Ia sudah menggenapkan segala sesuatu di bumi, kini Ia duduk di hadirat Allah di surga penuh dengan perhentian. Hanya pada saat Stefanus dirajam batu, Alkitab baru mengatakan Ia berdiri di surga (Kis. 7:55-56).
C. Sebagai Imam Besar Melayani Ibadah di Kemah yang Sejati
Sebagai Imam Besar, Kristus melayani ibadah di dalam kemah sejati (8:1-2). Apakah yang dikerjakan Kristus sebagai Imam Besar? Ia berdoa untuk kita, supaya segala hal yang telah digenapkanNya itu dapat tergarap ke dalam diri kita. Dalam beberapa berita yang lalu kita sudah membahas masalah doa syafaat surgawi Kristus. Kita tentu ingat bagaimana Melkisedek menyuplaikan roti dan anggur kepada Abraham setelah ia mendoakannya di balik layar. Demikian pula, Kristus, Melkisedek kita, melakukan doa syafaat-Nya secara rahasia untuk setiap orang yang mengasihi dan mencari Dia. Ketika Ia berdoa untuk kita di surga, Ia pun menjadi Roh almuhit dan alwasi (memenuhi segala sesuatu, luas tak terbatas). Roh almuhit ini beroperasi di dalam kita menurut doa syafaat Kristus yang surgawi, mendorong (menggerakkan) hukum hayat di dalam kita agar berfungsi dan membuat Putra sulung Allah, model standar itu, tergarap ke dalam diri kita. Hal ini sedang terjadi hari ini di bumi. Perkataan ini bukan sangkaan kita, melainkan wahyu firman kudus Allah, yang menerangi kita sebagai visi surgawi. Pada hari-hari ini, banyak di antara kita yang telah berada di bawah penerangan visi ini. Visi ini akan menjadi visi pengendali. Puji Tuhan, hari ini Kristus sedang menunaikan pelayanan ibadah-Nya di kemah yang sejati!
D. Melaksanakan Wasiat Baru
Selama jarak waktu antara penyataan-Nya kali pertama dengan penyataan-Nya kali kedua, Kristus melaksanakan wasiat baru (8:6; 9:15; 12:24). Melaksanakan wasiat baru tidak lain berarti menggerakkan hukum hayat yang ada di dalam kita, dan membuat setiap warisan dalam surat wasiat baru itu terwujud dengan riil di dalam diri kita. Begitu kita nampak apa yang sedang dilakukan Kristus di dalam kita pada hari ini, kita pasti akan berbeda. Apa yang kini sedang dilakukan Kristus di dalam diri kita patutlah menjadi kenangan abadi. Ketika kita memasuki kekekalan, kita akan teringat hari di saat kita nampak visi mulia dari pelayanan surgawi Kristus ini. Dan sesudah pelayanan ini genap, Kristus akan menyatakan diri-Nya untuk kali kedua.
III. PENYATAAN KRISTUS KALI KEDUA
A. Bukan Untuk Menanggung Dosa
Dikatakan dalam Ibrani 9:28, bahwa Kristus “akan menyatakan diri-Nya untuk kedua kalinya bukan untuk menanggung dosa, tetapi untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.” Penyataan Kristus kali kedua ini sama sekali tidak berhubungan dengan dosa, sebab dosa sudah usai dan menjadi sejarah. Sama seperti manusia harus mati satu kali, dan sesudah itu dihakimi (9:27), demikianlah Kristus telah mati satu kali untuk menanggung dosa-dosa manusia (9:28; 1Ptr. 2:24), dan menderita penghakiman di kayu salib bagi manusia (Yes. 53:5, 11). Kitab ini sangat menekankan fakta telah terhapusnya dosa oleh persembahan Kristus dalam penyataan-Nya kali pertama. Karena dalam penyataan-Nya kali pertama Kristus telah menghapuskan dosa (9:26; 1Yoh. 3:5), maka penyataan-Nya kali kedua akan terpisah dari dosa, tidak ada hubungannya dengan dosa.
B. Menganugerahkan Keselamatan
Ayat 28 mengatakan bahwa penyataan Kristus kali kedua adalah “untuk menganugerahkan keselamatan”. Di sini “keselamatan” bukan berarti diselamatkan dari neraka dan masuk ke surga, melainkan mengandung makna yang lebih luas dan lebih tinggi, yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut:
1. Untuk Penebusan, Pengubahan (Transfigurasi) Tubuh Kita
Pertama-tama, keselamatan yang akan didatangkan Kristus dalam penyataan-Nya kali kedua ialah penebusan, transfigurasi tubuh kita. Ketika kita diselamatkan, kita dilahirkan kembali di dalam roh kita (Yoh. 3:5-6). Kini kita sedang dalam proses tranformasi jiwa (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18). Kemudian, pada penyataan-Nya kali kedua, Kristus akan merampungkan keselamatan atas seluruh diri kita, yakni mentransfigurasi tubuh kita yang hina menjadi yang mulia (Flp. 3:21), yakni penebusan tubuh kita (Rm. 8:23). Ini merupakan aspek pertama dari keselamatan dalam penyataan Kristus kali kedua.
2. Untuk Kelepasan dari Kesia-siaan
dan Perbudakan Kebinasaan Ciptaan Lama
Aspek kedua dari keselamatan Kristus yang dinyatakan pada kedatangan-Nya kali kedua ialah kelepasan dari kesia-siaan dan perbudakan kebinasaan ciptaan lama menuju ke kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah (Rm. 8:18-23). Segenap ciptaan lama telah takluk di bawah kesia-siaan dan perbudakan kebinasaan. Sekalipun kita telah diselamatkan dan telah menikmati Roh, kita juga berada di bawah kesia-siaan dan perbudakan kebinasaan ciptaan lama. Pada penyataan-Nya kali kedua, Kristus akan membebaskan kita dari kesia-siaan dan perbudakan ini, dan membawa kita ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.
3. Untuk Pemuliaan Kita
Pada waktu kedatangan-Nya kali kedua, Kristus akan memuliakan kita (Rm. 8:17), yaitu membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya, agar kata-kata dalam Ibrani 2:10 menjadi genap. Pemuliaan kita ini merupakan sasaran terakhir dari keselamatan Allah dalam Kristus (Rm. 8:29-30). Kita telah dipilih, ditentukan, dipanggil, dan dibenarkan. Kini kita sedang dikuduskan melalui proses transformasi dalam hayat. Pada saat penyataan-Nya kali kedua, kita akan dimuliakan dan mencapai sasaran terakhir dari keselamatan Allah di dalam Kristus. Inilah aspek ketiga dari keselamatan Kristus yang akan datang.
4. Untuk Hak Keputraan Sepenuhnya
Dalam kelahiran kembali, kita telah dilahirkan Allah menjadi anak-anak-Nya (Yoh. 1:12-13). Dalam kelahiran baru ini kita telah menerima hak keputraan ilahi di dalam roh kita (Rm. 8:15). Setelah itu, kita mulai menikmati hak keputraan ini melalui transformasi jiwa kita. Semakin banyak kita mengalami tranformasi dalam jiwa, semakin banyak pula kita menikmati hak keputraan yang telah dikaruniakan ke dalam roh kita. Hak keputraan ini akan meningkat penuh ketika tubuh ciptaan lama kita berubah menjadi tubuh ciptaan baru. Ini berarti penebusan tubuh kita adalah kepenuhan hak keputraan dari kelahiran baru kita. Ini merupakan aspek keempat dari keselamatan Kristus dalam penyataan-Nya kali kedua.
5. Untuk Kenikmatan Sepenuhnya terhadap Allah
Keselamatan Allah dalam Kristus bertujuan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita sebagai kenikmatan kita. Ia telah memberikan Roh-Nya ke dalam roh kita sebagai buah sulung untuk kenikmatan kita (Rm. 8:23). Buah sulung Roh ini merupakan pencicipan kita terhadap Allah. Namun kenikmatan sepenuhnya baru akan tiba saat penyataan Kristus kali kedua kelak. Ketika tubuh kita telah mengalami transfigurasi, dan seluruh diri kita, roh, jiwa, dan tubuh, dijenuhi sepenuhnya oleh unsur ilahi Allah Tri-tunggal, barulah kita dapat menikmati Allah sepenuhnya. Itulah kenikmatan sepenuhnya terhadap Allah, aspek terakhir dari keselamatan Kristus yang akan datang.
Keselamatan yang dibawa dan didatangkan Kristus pada kedatangan-Nya kali kedua adalah keselamatan yang lebih luas dan lebih tinggi, dan akan menggenapkan sasaran terakhir dari keselamatan Allah yang almuhit di dalam Kristus. Sebelum penyataan-Nya kali kedua, Kristus selalu menyuplai kita, agar kita dapat menuju ke sasaran ini. Pelayanan-Nya (ministri-Nya) yang lebih agung di surga hari ini, pelayanan imamat-Nya yang rajani dan ilahi, ditambah dengan doa syafaat-Nya yang surgawi, sedang membangun keselamatan yang sedemikian. Ketika Ia nampak bahwa bangunan keselamatan yang ajaib ini telah rampung, barulah Ia menyatakan diri-Nya untuk kali kedua. Itulah penyataan kali kedua Kristus dalam ekonomi Allah.