PERJANJIAN YANG BARU DAN WASIAT BARU
Dalam berita ini kita akan membahas dua hal penting perjanjian yang baru dan wasiat baru. Dalam bahasa Yunani, baik perjanjian maupun wasiat, disebut dengan satu istilah yang sama. Istilah ini diterjemahkan menjadi perjanjian atau wasiat tergantung pada apakah pembuatnya masih hidup atau sudah mati. Kalau pembuatnya masih hidup, perjanjian akan tetap sebagai perjanjian. Tetapi kalau pembuatnya sudah mati, perjanjian akan segera menjadi suatu wasiat. Suatu perjanjian adalah satu persetujuan yang berisi janji-janji untuk menggenapkan hal-hal tertentu bagi orang yang diberi janji, sedangkan wasiat adalah satu surat wasiat yang berisi hal-hal yang telah genap yang akan diwariskan kepada ahli warisnya. Perjanjian yang baru yang telah disempurnakan dengan darah Kristus bukan hanya merupakan satu perjanjian, lebih-lebih merupakan surat wasiat, yang berisi semua hal yang telah digenapkan oleh kematian Kristus untuk diwariskan kepada kita. Istilah wasiat searti dengan surat wasiat saat ini. Banyak yang menjadi orang tua, ketika menyadari dirinya tidak lama lagi akan meninggal dunia, membuat satu surat wasiat, menyatakan bahwa mereka akan meninggalkan sejumlah barang untuk anak-anaknya. Surat wasiat hanya berlaku bila pembuatnya sudah wafat. Singkatnya, suatu perjanjian sama dengan suatu wasiat, hanya saja bila pembuatnya masih hidup disebut perjanjian, bila pembuatnya sudah meninggal disebut wasiat, yakni surat wasiat. Seluruh Alkitab tersusun dari dua surat wasiat Perjanjian Lama (wasiat lama) dan Perjanjian Baru (wasiat baru). Alkitab bukan hanya kitab pengajaran, melainkan surat wasiat.
I. PERJANJIAN YANG BARU
A. Perjanjian yang Lebih Mulia
Perjanjian yang baru, yang ditetapkan Tuhan Yesus, lebih mulia daripada Perjanjian yang lama yang dibuat melalui Musa. Dalam perjanjian yang lama setiap hal merupakan bayang-bayang, tetapi dalam perjanjian yang baru setiap hal adalah realitas. Setiap hal dalam perjanjian yang lama telah genap dan terealisasikan dalam perjanjian yang baru. Karena itu perjanjian yang baru lebih mulia daripada perjanjian yang lama (7:22; 8:6).
B. Didasarkan atas Janji-janji yang Lebih Mulia
Perjanjian baru dibuat berdasarkan janji-janji yang lebih mulia (8:6), yang telah dijelaskan dalam Yeremia 31:31-34. Seperti telah kita bahas dalam beberapa berita yang lalu, dalam janji-janji yang lebih mulia ini tercakup empat hal utama hukum hayat batiniah, berkat Allah menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya, kecakapan batiniah untuk mengenal Allah, dan pengampunan dosa. Di antara hal utama ini, hukum hayat adalah intinya. Kalau perjanjian yang lama ditetapkan berdasarkan hukum harfiah yang di luar, maka perjanjian yang baru ditetapkan berdasarkan hukum hayat batiniah. Perjanjian yang lama bersifat harfiah, perjanjian yang baru bersifat hayat.
C. Disempurnakan dengan Persembahan
persembahan yang Lebih Baik dan dengan Darah yang Berbicara Lebih Indah
Ibrani 9:23 menerangkan, “Jadi, segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di surga haruslah disucikan secara demikian, tetapi benda-benda surgawi sendiri harus disucikan dengan persembahan-persembahan yang lebih baik daripada itu.” Kemah dan setiap hal yang berhubungan dengannya diperciki dan disucikan oleh darah kambing dan lembu jantan (9:21-23). Itu adalah suatu gambaran yang memperlihatkan bahwa benda-benda surgawi itu perlu disucikan oleh darah persembahan-persembahan yang lebih baik; persembahan-persembahan yang lebih baik ini ialah Kristus sebagai kurban persembahan (7:27; 9:14, 28; 10:10, 12, 14). Surga dan semua benda di surga telah dicemari oleh pemberontakan Iblis dan malaikat-malaikat jatuh yang mengikuti Iblis dalam pemberontakannya terhadap Allah. Karena itu, semua benda surgawi perlu disucikan. Kristus merampungkan penyucian ini dengan darah-Nya sendiri ketika Dia masuk ke dalam surga (9:12).
Perjanjian yang baru ditetapkan dengan persembahan-persembahan yang lebih baik dan dengan darah yang berbicara lebih indah. Kristus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai satu kurban (9:14; 10:12). Satu kurban ini, dipandang dari aspeknya yang berbeda, dapat dianggap sebagai banyak kurban. Karena Kristus adalah Putra kekal Allah yang hidup, yang berinkarnasi menjadi Anak Manusia, dan karena Dia mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah melalui Roh yang kekal, maka kurban-Nya yang adalah diri-Nya sendiri itu lebih baik daripada kurban-kurban hewan. Kurban-kurban hewan itu adalah bayangan, tidak mungkin dapat menghapuskan dosa-dosa (10:11), tetapi kurban-Nya adalah riil dan telah menghapuskan dosa satu kali untuk selamanya (9:26). Jadi, Dia telah mendapatkan suatu penebusan yang kekal bagi kita (9:12). Ayat 22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Tanpa pengampunan dosa, tidak mungkin memuaskan tuntutan kebenaran Allah sehingga perjanjian itu dapat disahkan. Tetapi darah Kristus telah teralir bagi pengampunan dosa, dan perjanjian yang baru telah disahkan dengan darah-Nya (Mat. 26:28). Ibrani 12:24 memberi tahu kita bahwa darah Kristus, “Berbicara lebih kuat (indah) daripada darah Habel.” Darah Kristus ialah darah yang berbicara, yakni berbicara kepada Allah untuk pengampunan, pembenaran, pendamaian, dan penebusan. Darah adi ini berbicara kepada Allah bagi kepentingan kita, mengatakan bahwa oleh darah ini (seperti yang diwahyukan dalam kitab ini) perjanjian yang baru, yang kekal telah ditetapkan. Karena itu, darah ini disebut darah perjanjian yang kekal (10:29; 13:20).
D. Memiliki Seorang Imam Besar dengan Pelayanan yang Lebih Agung
Kalau Imam Besar dalam perjanjian yang lama adalah seorang manusia yang fana, dan ministrinya juga hanya bayang-bayang dari hal-hal baik yang akan datang, maka perjanjian yang baru memiliki seorang Imam Besar, yang adalah Putra kekal Allah dengan pelayanan yang lebih agung (8:1-13). Pada-Nya tidak ada hambatan maut. Pelayanan-Nya adalah pelayanan imamat yang rajani dan ilahi di surga, yang oleh doa syafaat-Nya menyuplaikan hayat ilahi berikut segala kekayaan-Nya sebagai suplai kita sehari-hari, dan yang membawa kita memasuki kesempurnaan dan pemuliaan-Nya itu.
II. WASIAT BARU
A. Janji Allah
Janji Allah adalah firman atau perkataan yang diucapkan Allah. Allah telah berbicara dengan berbagai macam perkataan. Mungkin Ia memerintahkan kita melakukan sesuatu. Perintah itu memang perkataan Allah, namun bukan janji Allah. Ketika Allah berbicara dan dalam perkataan-Nya Ia berjanji akan memberi, melakukan, atau menjadi sesuatu bagi kita, itu barulah janji. Seperti telah kita lihat, dalam Yeremia 31:31-34 terdapat janji Allah tentang perjanjian yang baru, yang di dalamnya berisi empat hal utama. Perkataan janji Allah itu dijamin dengan kesetiaan-Nya (Ibr. 10:23; 11:11). Kesetiaan Allah merupakan garansi atas apa yang Ia katakan sebagai janji.
B. Perjanjian Allah
Perjanjian Allah ditetapkan berdasarkan janji Allah (8:6). Sebuah janji adalah suatu perkataan biasa dan umum yang tidak ditegaskan atau dikukuhkan. Dalam Alkitab, setelah Allah membuat janji, Ia memeteraikannya dengan sumpah. Ia bersumpah demi keAllahan-Nya, agar janji-Nya dikukuhkan. Bila janji itu telah dikukuhkan dengan suatu sumpah, maka segera menjadi perjanjian, perjanjian yang dimeteraikan Allah. Ibrani 6:16 mengatakan bahwa sumpah itu suatu pengukuhan yang mengakhiri segala perbantahan. Kalau Anda membaca Perjanjian Lama dengan cermat, Anda akan mengetahui bahwa semua janji Allah telah dimeteraikan dengan sumpah-Nya. Setelah janji menjadi perjanjian, berarti tidak mungkin berubah lagi. Bila janji-janji itu dikukuhkan dengan sumpah Allah, janji itu tidak dapat diubah, tidak mungkin pula disesalkan atau diganti. Kalau janji telah dimeteraikan, ia bukan lagi janji, tetapi perjanjian yang telah dikukuhkan dengan sumpah Allah.
Setelah Allah membuat janji-janji dalam Perjanjian Lama, mengukuhkan-Nya dengan sumpah-Nya (Kej. 22:16-18; Mzm. 110:4), Tuhan Yesus datang dan menggenapkan semua janji Allah itu. Dengan pekerjaan Tuhan di bumi ini, setiap hal dalam janji Allah telah menjadi fakta yang sudah genap. Sebagai contoh, dalam Yeremia 31 Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa kita. Tuhan Yesus telah melaksanakan hal ini, yakni melalui menjadi kurban penebusan bagi dosa-dosa kita di atas salib, sehingga tergenaplah janji Allah itu. Sebelum Tuhan Yesus mati di atas salib, hal ini hanya merupakan suatu janji; namun, setelah Tuhan mati di atas salib, janji ini telah menjadi satu fakta yang genap. Karena itu, pengampunan dosa-dosa tidak lagi berupa janji, melainkan berupa fakta sejarah yang telah genap. Oleh kematian dan darah yang ditumpahkan-Nya, perjanjian yang dijanjikan Allah telah ditetapkan menjadi perjanjian baru (Ibr. 9:18-23; Mat. 26:28; Luk. 22:20). Melalui kematian-Nya itu, maka semua janji telah menjadi fakta yang telah genap.
Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Tuhan naik ke surga, dan meninggalkan perjanjian yang digenapkan dengan kematian-Nya kepada kita. Ketika Ia meninggalkan perjanjian itu kepada kita, perjanjian itu segera menjadi suatu wasiat, yaitu wasiat baru yang diwariskan kepada kita (9:16-17). Dalam wasiat ini, fakta-takta yang telah genap tidak lagi menjadi sekadar fakta, tetapi semuanya telah menjadi warisan. Pertama-tama, kita mempunyai janji-janji; kedua, janji-janji menjadi fakta-fakta, dan ketiga, fakta-fakta menjadi warisan. Melalui kematian dan kebangkitan Tuhan, semua janji telah digenapi dan menjadi fakta yang telah genap. Setelah Tuhan meninggalkan perjanjian yang baru ini kepada kita, perjanjian ini segera menjadi suatu wasiat, suatu surat wasiat, yang berisi semua fakta yang telah genap sebagai warisan kita. Karena segalanya telah digenapkan-Nya, Ia lalu naik ke takhta di surga, di sana Ia duduk dengan penuh perhentian. Sebagai Imam Besar kita yang di surga, Tuhan adalah Penjamin perjanjian yang baru yang lebih mulia itu (7:21-22).
Untuk menetapkan wasiat baru diperlukan empat langkah: pertama, firman Allah; kedua, janji Allah; ketiga, perjanjian yang baru; dan keempat, wasiat baru. Kita tidak lagi hanya memiliki firman Allah, janji Allah, dan perjanjian yang baru, kita pun memiliki surat wasiat baru. Alkitab adalah surat wasiat, yang telah dikatakan, dijanjikan, dan digenapkan, bahkan juga telah diwariskan. Tidak hanya demikian, dalam kebangkitan-Nya, Tuhan telah melaksanakan apa yang telah Ia wariskan itu. Kita cukup berterima kasih atas segala warisan-Nya. Bila kita ingin menerima warisan-Nya, bukalah diri kita sepenuhnya kepada-Nya, agar Ia dapat melaksanakan apa yang hendak dilaksanakan, yakni menghasilkan reproduksi massal dari model standar Putra sulung, untuk menjadi ekspresi korporat Allah. Inilah visi surgawi yang perlu kita nampak.
C. Wasiat Baru Tuhan
Kita sudah nampak bahwa setelah Tuhan meninggal-kan perjanjian kepada kita, perjanjian itu menjadi wasiat baru yang berisi semua fakta yang telah genap sebagai warisan kita. Wasiat baru ini dilaksanakan oleh Kristus yang bangkit sebagai Pengantara di surga (9:15; 12:24). Walau kini Tuhan telah berada dalam perhentian di atas takhta-Nya di surga, Ia tetap menaruh perhatian kepada semua ahli waris wasiat baru. Ia menaruh perhatian apakah para ahli waris itu cukup bijaksana dan rajin dalam memanfaatkan warisan mereka, atau apakah mereka mengandalkan kepintaran sendiri melakukan hal-hal yang lain. Karena Ia begitu menaruh perhatian, maka Ia berdoa bagi kita, agar kita memiliki pengenalan yang penuh atas semua warisan yang Ia wariskan dalam surat wasiat-Nya itu. Jika mata kita dicelikkan dan nampak wasiat Tuhan, kita akan lupa diri dan mengatakan, “Alangkah kasihannya keadaan selama dua ribu tahun lebih yang silam! Sedikit sekali orang Kristen yang mengetahui warisan-warisan ini!” Semua orang Kristen hanya mengenal keselamatan Allah secara dangkal menurut konsepsi alamiah, tidak sesuai dengan surat wasiat yang diberikan. Pernahkah Anda mendengar bahwa pengampunan dosa itu suatu warisan? Pernahkah orang memberi tahu Anda bahwa pemberian hayat ilahi, kelahiran kembali, tersalib beserta Tuhan, juga termasuk warisan? Kita sudah tersalib sebelum kita dilahirkan. Hal ini telah digenapkan Kristus di atas salib, dan itu adalah salah satu dari sekian banyak warisan dalam surat wasiat tadi. Penyempurnaan dan pemuliaan kita juga merupakan warisan. Dalam wasiat baru, surat wasiat baru, setiap hal adalah warisan yang telah digenapkan. Dalam Kitab Wahyu, yakni bagian terakhir dari surat wasiat baru ini, Rasul Yohanes sering kali menggunakan kala lampau (past tense). Misalnya, dalam Wahyu 20:10 Yohanes berkata, “Dan Iblis, yang menyesatkan mereka, (telah) dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang . . .” dan 21:2 mengatakan, “Aku juga melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.” Kedua ayat ini ditulis dalam bentuk kala lampau, sebab setiap hal dalam surat wasiat ialah warisan, bukan janji.
Pernahkah Anda memberi tahu orang tentang warisan mereka dalam khotbah Anda? Kebanyakan pengkhotbah hanya bisa berkata, “Kalau Anda percaya, Allah akan mengampuni dosa-dosa Anda, dan Anda akan dilahirkan kembali.” Kita perlu memberi tahu orang, “Ada sebuah surat wasiat dari Allah untuk Anda. Dalam surat wasiat ini jelas dikatakan bahwa sejak dulu dosa-dosa Anda telah diampuni, yaitu sebelum Anda melakukannya. Surat wasiat ini juga menyatakan bahwa kelahiran kembali, pembenaran, pengudusan, penyempurnaan, dan pemuliaan Anda seluruhnya sudah digenapkan oleh-Nya. Semuanya itu merupakan warisan yang diberikan kepada Anda dalam surat wasiat ini. Maukah Anda menerimanya? Bila mau, cukuplah Anda berterima kasih kepada Tuhan dan menerimanya.” Bila seseorang mau menerima surat wasiat ini sedemikian, ia akan beroleh pengampunan dosa, kelahiran kembali, pembenaran, pengudusan, penyempurnaan, pemuliaan, bahkan Yerusalem Baru! Mulai sekarang, kita harus menikmati dan mengambil bagian atas semua warisan yang tercantum dalam wasiat baru Tuhan. Bila kita nampak hal ini, kita akan berubah secara radikal. Bila Anda telah nampak masalah wasiat baru ini, doa Anda tidak akan seperti orang mengemis lagi.
Banyak orang memahami Efesus 5:19-20 seperti ini: “Berdoalah terus kepada Allah. Mintalah dengan tekun sam-bil berpuasa. Memohonlah dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kepada Allah Bapa.” Padahal ayat itu mengatakan, “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” Dalam ayat ini tidak ada permohonan, melainkan puji-pujian dan syukur, sebab Tuhan telah menggenapkan segalanya. Bapa telah menjanjikan segala sesuatu dan Tuhan Yesus telah menggenapkan segala sesuatu itu. Setiap fakta yang telah genap itu telah dicantumkan-Nya dalam wasiat baru menjadi warisan kita. Tidak perlu kita meminta-minta, cukup memuji dan bersyukur kepada Tuhan atas warisan kita, dan nikmati saja sepuas-puasnya. Bila kita mengenal ekonomi Allah, kita akan memuji dan bersyukur atas segala yang telah digenapkan-Nya, dan diwariskan-Nya kepada kita. Andaikata ada seorang kerabat dalam surat wasiatnya menyatakan akan mewariskan sebuah rumah untuk Anda, Anda tidak perlu meminta-minta lagi rumah itu kepadanya. Ketika Anda mengetahui rumah itu telah diwariskan kepada Anda, Anda hanya harus mengucap terima kasih dan menerimanya. Inilah kehidupan orang Kristen yang tepat. Tidak perlu meminta-minta, cukup hanya menerima dengan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang telah dikaruniakan dengan cara yang luar biasa ini, melalui wasiat baru.
Tidak ada yang begitu mengikat dan teguh seperti sebuah surat wasiat. Tidak seorang pun dapat mengubahnya. Apa saja yang diwariskan dalam sebuah surat wasiat sudah menjadi warisan yang pasti bagi ahli warisnya. Jika mata kita dicelikkan dan nampak bahwa kita telah memiliki surat wasiat yang sedemikian, kita akan lupa diri karena memuji-muji Tuhan. Kita tidak perlu menanti-nantikan kelahiran kembali, sebab hal itu telah tercantum dalam surat wasiat. Kita cukup menerima kelahiran kembali sebagai warisan, dan berkata, “Terima kasih Tuhan, atas kelahiran kembali yang begitu ajaib! Terima kasih Tuhan atas pemberian hayat ilahi yang Kaugenapkan pada saat Engkau bangkit!” Pemilihan Allah pun merupakan warisan lain dalam surat wasiat, yang juga telah dirampungkan sebelum dunia diciptakan. Karena hal ini juga dengan jelas tercantum sebagai warisan dalam Efesus 1:4, kita tidak perlu berlutut dan berdoa, “Ya Allah, belas kasihanilah hamba. Hamba adalah seorang dosa yang kasihan, dan nasib hamba hanyalah neraka. Ya Allah, pilihlah hamba!” Alangkah tololnya jika kita berdoa demikian! Kita cukup berkata, “Ya Bapa, terima kasih atas pemilihanMu, yang telah genap dan telah Kauwariskan kepadaku.” Baik pemilihan maupun penentuan Allah adalah warisan dalam surat wasiat baru yang telah digenapkan. Bahkan Roma 8:30 mengatakan bahwa kita telah dimuliakan. Jadi pemuliaan yang kelak akan kita masuki, juga merupakan warisan dalam surat wasiat yang baru. Dalam pandangan Allah, hal ini juga telah genap.
Kita perlu memiliki visi surgawi, untuk melihat bahwa seluruh berkat Allah merupakan warisan. Apakah Anda perlu damai sejahtera? Damai sejahtera itu warisan yang dijanjikan Allah Bapa, dan yang telah digenapkan oleh Sang Putra, dan tercantum sebagai warisan dalam surat wasiat baru yang diberikan kepada Anda. Bersyukur saja kepada Allah atas hal ini dan terimalah. Inilah cara baru untuk mengambil bagian dalam berkat-berkat Allah. Janganlah menjadi seorang pengemis yang kasihan, Anda adalah ahli waris yang mulia. Ahli waris tidak perlu meminta-minta, ia hanya menerima semua warisan dengan ucapan syukur. Ketika saya tercelik dan melihat masalah warisan dalam surat wasiat baru ini, seluruh konsepsi saya berubah. Itulah sebabnya saya tidak meminta-minta. Tiap kali saya berdoa, saya menyadari bahwa segala sesuatu telah diberikan kepada saya sebagai warisan dalam wasiat ilahi dua puluh abad yang lalu, dan saya boleh mengambil semua yang saya butuhkan. Saya pun dapat berkata dengan berani, “Puji Tuhan! Ini kepunyaanku, aku boleh menikmatinya!”
Wasiat baru Tuhan dilaksanakan oleh Kristus yang bangkit sebagai Pengantara dan Pelaksana di surga. Hari ini Kristus yang telah bangkit sedang melaksanakan wasiat-Nya melalui berdoa syafaat untuk kita dalam perhentian. Wasiat ini telah diteguhkan dan diberlakukan oleh kematian Kristus dan sedang dilaksanakan serta dijalankan dalam kebangkitan-Nya. Janji dari perjanjian Allah itu dija-min dengan kesetiaan-Nya, sedang perjanjian Allah itu sendiri digaransi oleh kebenaran-Nya, dan wasiat baru dilaksanakan oleh kuasa kebangkitan Kristus. Kini, Kristus berdoa syafaat bagi kita di takhta surga, agar kita mengenal dan menyadari wasiat ini. Banyak sekali orang Kristen di seluruh dunia yang mencari Tuhan, namun mereka tetap merasa lapar dan dahaga. Jika Anda dapat memberi tahu mereka tentang surat wasiat dan warisan yang tercantum di dalamnya, mereka pasti akan menerimanya dengan senang hati, dan mereka pasti mau mempersembahkan diri mereka untuk hal itu. Surat wasiat ini telah dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya lebih dari dua puluh abad yang lalu, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Oleh rahmat-Nya, Tuhan memimpin kita kepada pengenalan yang penuh atas wasiat-Nya. Kini Ia sedang mempercepat pemulihan-Nya. Jurusyafaat kita yang di surga sedang menggerakkan dan mendorong kita dari hari ke hari, agar kita dapat berbagian dalam setiap kekayaan dalam surat wasiat-Nya. Inilah sebabnya orang-orang Kristen dalam pemulihan Tuhan begitu agresif maju ke depan.
Dalam perjanjian yang baru segala janji Allah telah menjadi fakta yang genap, dan perjanjian baru itu telah diwariskan kepada kita sebagai wasiat baru. Kini, Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga, sedang duduk di takhta di surga sambil melaksanakan wasiat yang diwariskan kepada kita. Butir penting dalam masalah ini adalah fungsi hukum hayat ilahi yang otomatis itu. Puji Tuhan!