SUSUNAN PERABOTAN KEMAH MENGGAMBARKAN PENGALAMAN ATAS KRISTUS
Dalam berita ini kita perlu membahas pengalaman-pengalaman kita atas Kristus yang terlukis pada susunan perabotan kemah. Banyak orang Kristen mengira kita hanya dapat mengalami Kristus sebagai Juruselamat dan Pelindung saja. Menurut orang-orang yang mengalami karunia Roh, Kristus adalah Penyembuh dan Pelaku segala mukjizat. Bagi mereka, mengalami Kristus adalah masalah menyaksikan tanda-tanda ajaib. Akan tetapi, Kristus benar-benar misterius, dan pengalaman kita terhadap-Nya pun misterius, sukar untuk dijelaskan. Syukur kepada Allah, dari firman kudus-Nya, dari susunan perabotan dalam ke-mah tempat kediaman-Nya tergambarkan dengan jelas semuanya itu. Kemah terbagi dalam tiga bagian: pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Pada tiap bagian terdapat perabotan. Banyak guru Alkitab mengakui bahwa seluruh kemah berikut isinya merupakan gambaran tentang Kristus secara rinci. Selagi muda saya menerima ajaran bahwa kemah adalah gambaran tentang Kristus, tetapi saya tidak pernah mendengar kalau itu pun gambaran pengalaman kita atas Kristus. Beberapa tahun kemudian, dalam pengalaman saya, sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa susunan perabotan kemah memberikan keterangan lengkap tentang pengalaman kita atas Kristus. Dalam berita ini kita tidak bermaksud menyelidiki lambang-lambang yang ditekankan oleh pengajar-pengajar Kaum Saudara lebih dari seabad yang lampau. Pemulihan hari ini bukanlah pemulihan atas ajaran tentang lambang-lambang, melainkan suatu pemulihan pengalaman atas Kristus yang terlukis dalam perlambangan tersebut. Kita perlu memasuki pengalaman atas Kristus seperti yang diperlihatkan dalam susunan perabotan di tempat kediaman Allah ini.
I. PELATARAN LUAR — DI BAGIAN LUAR
Di pelataran luar terdapat mezbah kurban bakaran dari tembaga dan bejana pembasuhan dari tembaga, kedua benda itu menandakan pengalaman kita atas Kristus di aspek luarnya.
A. Mezbah Kurban Bakaran Tembaga
Mezbah kurban bakaran tembaga menandakan salib (Kel. 40:29), di sini terutama kita mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban-kurban lainnya (Ibr. 13:10, 12; 10:12). Pada prinsipnya, persembahan kurban-kurban bertujuan membereskan masalah antara kita dengan Allah, mendamaikan kita sepenuhnya dengan Allah dan membuat situasi kita benar dan damai dengan Allah. Melalui salib Kristus kita telah dibenarkan, baik dengan Allah maupun manusia. Sebagai kurban penghapus dosa, Kristus telah membereskan masalah dosa kita; sebagai kurban pendamaian, Ia pun telah mendamaikan kita dengan Allah, juga antar sesama kita. Jadi, melalui persembahan yang dipersembahkan Kristus di atas salib, keadaan kita menjadi benar dan damai. Ini merupakan pengalaman pertama yang kita nikmati di dalam Kristus di aspek luarnya.
B. Bejana Pembasuhan Tembaga
Setelah mezbah, ada bejana pembasuhan tembaga yang menandakan pembasuhan Roh Kudus. Baik mezbah maupun bejana pembasuhan terbuat dari tembaga. Dalam perlambangan, tembaga melambangkan penghakiman kebenaran Allah. Pembasuhan Roh Kudus berdasar pada penghakiman yang dialami Kristus karena kita. Pada bejana pembasuhan tembaga kita mengalami pembasuhan Roh Kudus (Kel. 40:30-32), yang berdasar pada penebusan Kristus (Tit. 3:5). Walaupun kita telah mengalami Kristus sebagai kurban-kurban persembahan kita, tetapi sebelum kita dapat memasuki hadirat Allah, kita perlu pembasuhan, penyucian Roh Kudus. Hal ini juga merupakan pengalaman yang berada di aspek luar.
II. TEMPAT KUDUS — DI BAGIAN DALAM
Sesudah memiliki kedua macam pengalaman di pelataran luar, barulah kita memenuhi syarat untuk masuk ke dalam kemah. Pertama, kita masuk ke dalam tempat kudus, di sini pengalaman kita atas Kristus dari luar beralih ke dalam. Di tempat kudus inilah kita mengalami Kristus dari dalam.
A. Meja Roti Sajian
Ketika kita masuk ke dalam tempat kudus, perabotan pertama yang kita jumpai ialah meja roti sajian (Kel. 40:22-23), yang menandakan Kristus sebagai suplai hayat kita (Yoh. 6:35, 57). Ada dua belas ketul roti di atas meja roti sajian. Angka dua belas menandakan kegenapan dan kesempurnaan yang kekal. Kristus adalah roti kekal kita. Kenikmatan kita atas Kristus secara batiniah di atas meja roti sajian bersifat kekal.
B. Kaki Pelita
Setelah meja roti sajian ada kaki pelita (Kel. 40:24-25), di sini kita mengalami Kristus sebagai pancaran terang hayat (Yoh. 1:4; 8:12). Pengalaman atas kaki pelita menyusul pengalaman atas meja roti sajian, menunjukkan terang hayat berasal dari kenikmatan kita atas Kristus sebagai suplai hayat. Ketika kita menikmati Kristus sebagai makanan hayat, kita pun memiliki terang itu, sebab “hayat itu adalah terang manusia” (Yoh. 1:4). Terang ini bukan berasal dari pengetahuan, melainkan dari hayat yang kita nikmati.
Kalau di meja roti sajian terdapat dua belas ketul roti, maka di atas kaki pelita terdapat tujuh buah pelita. Tujuh juga merupakan angka kegenapan, namun bukan menunjukkan angka kegenapan kekal. Itu adalah angka kegenapan Allah pada tiap periode dalam pergerakan ekonomi Allah. Kita akan memiliki suplai hayat sampai selama-lamanya, namun tujuan kaki pelita adalah memungkinkan umat Allah tetap dapat bergerak dan bertindak dalam zaman yang gelap. Jadi kaki pelita adalah untuk pergerakan dalam ekonomi Allah. Dalam ekonomi-Nya, Allah mempunyai pergerakan dan tindakan yang memerlukan pancaran terang ilahi. Terang ini terang yang sempurna. Tanpa pancaran terang ini mustahil kita dapat bergerak atau berbuat apa pun dalam ekonomi Allah. Bila kita menikmati Kristus sebagai hayat, hayat ini akan menjadi terang, sehingga kita dapat bergerak dan bertindak di dalam ekonomi Allah. Hal ini telah terbukti dalam pengalaman kita. Pertama-tama, kita menikmati Kristus sebagai hayat dan suplai hayat, lalu hayat ini berpancar dalam batin kita, sehingga kita tahu bagaimana kita harus bergerak dan bertindak. Demikianlah pengalaman kita atas Kristus sebagai terang dalam batin.
C. Mezbah Ukupan
Perabotan terakhir dalam tempat kudus adalah mezbah ukupan emas. Mezbah ukupan, kaki pelita, dan meja roti sajian membentuk segi tiga. Meja roti sajian terletak di sebelah utara, kaki pelita di sebelah selatan, dan mezbah ukupan di sebelah barat, yakni di antara meja sajian dengan kaki pelita, yang sangat berdekatan dengan tirai (tabir) pemisah. Di mezbah ukupan ini kita bisa mengambil bagian dalam Kristus sebagai ukupan harum yang dipersembahkan kepada Allah, agar kita diperkenan Allah (Ef. 1:6). Kita dapat diperkenan Allah karena Kristus, bukan karena kita sendiri. Itulah sebabnya kita harus berdoa dalam nama Kristus. Jika kita berdoa di dalam, bersandar, atau demi diri sendiri, doa kita pasti tidak diterima. Doa kita harus disertai dengan Kristus sebagai ukupan harum yang diperkenan Allah. Doa kita seperti dupa, sedangkan Kristus ibarat kemenyan harum yang dimasukkan ke dalam dupa. Ketika kita berdoa dalam dan bersama Kristus, Kristus sebagai kemenyan terbaur dengan doa kita dan naik ke hadirat Allah. Ukupan ini menjadi unsur yang memungkinkan diri kita dan doa kita diperkenan Allah. Pengalaman ini lebih dalam, membawa kita kepada pengalaman yang paling dalam, yaitu di dalam tempat maha kudus.
Walaupun mezbah ukupan bukan berada di tempat maha kudus, namun ia mengarahkan dan memimpin kita memasuki tempat maha kudus. Ia berada di tempat kudus, tetapi fungsinya ditujukan untuk tempat maha kudus. Jadi, pengalaman atas mezbah ukupan lebih dalam daripada pengalaman atas meja roti sajian dan kaki pelita.
Mengenai tempat mezbah ukupan berada, kelihatannya ada suatu ketidak sesuaian antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Keluaran 30:6 mengatakan bahwa mezbah ukupan diletakkan “di depan tabir”, yaitu di luar tabir. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa mezbah ukupan itu diletakkan di tempat kudus, di depan tabir, bukan di dalam tempat maha kudus, di belakang tabir. Tetapi Ibrani 9:4 mengatakan bahwa di tempat maha kudus terdapat mezbah ukupan. Karena itu, kebanyakan guru-guru Kristen dan para pembaca Alkitab berpikir bahwa ada beberapa kesalahan atau susunan yang salah. Ketika mengadakan pembahasan atas Surat Ibrani dengan sekelompok orang beriman di tahun 1937, saya juga menjumpai kesulitan dalam hal ini. Saya juga mengira di situ pasti terjadi kekeliruan atau salah susun. Lalu saya memeriksa sejumlah buku, di antaranya ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Ibrani 9:4 bukan mezbah ukupan, melainkan anglo dupa ukupan. Dikatakan pula bahwa pada mulanya anglo dupa ukupan ditaruh di luar tabir kemudian sedikit demi sedikit digeser ke dalam tempat maha kudus. Interpretasi ini ada juga dasarnya, sebab dalam bahasa Yunani “mezbah” dalam ayat 4 dapat pula diterjemahkan menjadi “anglo dupa”. Hanya saja di sini tentu lebih ditujukan kepada mezbah, bukan anglo dupa, sebab menurut catatan Perjanjian Lama, baik di tempat kudus maupun di tempat maha kudus tidak terdapat anglo dupa ukupan. Akhir-akhir ini, sewaktu menyusun catatan untuk Surat Ibrani versi pemulihan, Tuhan memberi saya wahyu yang jelas dan lengkap tentang hal ini. Tidak ada kekeliruan maupun salah susun pada ayat 4 tadi. Ditinjau dari butir-butir di bawah ini, perbedaan yang di luar itu sangat memiliki makna rohani.
Catatan Perjanjian Lama tentang lokasi mezbah ukup-an menunjukkan hubungan yang paling dekat antara mezbah ukupan dengan tabut hukum (kesaksian), yang di atasnya ada tutup pendamaian, tempat Allah bertemu dengan umat-Nya. Menurut bahasa Ibrani, Keluaran 30:6 mengatakan, “Haruslah kautaruh tempat pembakaran itu di depan tabir penutup tabut hukum, di depan tutup pendamaian yang di atas loh hukum, di mana Aku akan bertemu dengan engkau.” Kita harus sangat hati-hati dalam membaca ayat ini. Mezbah ukupan ditaruh di depan tabir “penutup tabut hukum”. Dalam bahasa aslinya, kata depan yang dipakai di sini adalah “di depan” dan “di atas”. (Recovery version:before the veil that is over the ark. Red). “Di depan” berarti tabir itu telah memisahkan mezbah ukupan dengan tabut, tetapi “di atas” berarti tabir hanya menutupi tabut, tidak memisahkannya dengan mezbah ukupan. Jadi sebenarnya tabir tidak memisahkan tabut dengan mezbah ukupan, ia hanya menutupi tabut. Karena itu, menaruh mezbah ukupan di depan tabir sama dengan menaruhnya di depan tabut hukum. Bahkan Keluaran 40:5 mengatakan bahwa mezbah ukupan itu ditaruh “di depan tabut hukum”, tanpa menyinggung adanya tabir pemisah di antara keduanya. Jadi, sudahlah pasti bahwa mezbah ukupan memang berada di depan tabut hukum. Berdasarkan ekonomi Allah, tabir penutup itu tidak akan bertahan sampai selama-lamanya, ia akan disingkirkan. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, tabir itu pun disingkirkan. Menurut ekonomi kekal Allah, tabir tidak akan ada lagi. Dari satu segi, tabir itu bukan tabir pemisah, melainkan tabir penutup; sedang dari segi lainnya, ia tidak terhitung, sebab telah ditentukan untuk disingkirkan. Ketika tabir disingkirkan, maka mezbah ukupan akan berada langsung di depan tabut hukum. Ketika Surat Ibrani tertulis, tabir sudah tidak ada. Tidak ada tabir lagi dalam pandangan Allah. Tambahan pula, dalam Wahyu 8:3 kita nampak mezbah ukupan emas terletak di depan takhta Allah, tanpa tabir pemisah. Jadi, sekalipun ada tabir dalam Keluaran 40:3 dan 21, tetapi dalam pandangan Allah, itu bukanlah tabir penyekat, melainkan sebagai penutup tabut hukum untuk sementara, bukan untuk selamanya.
Satu Raja-raja 6:22 mengatakan bahwa “mezbah (ukupan) tercakup pada tempat sabda”. Bahasa Ibrani untuk “tempat sabda” mempunyai arti tempat Allah berbicara. Tempat sabda menunjukkan tempat maha kudus, di dalamnya ada tabut kesaksian dengan tutup pendamaian, di sinilah Allah berbicara kepada umat-Nya. Jadi, Perjanjian Lama sudah menunjukkan bahwa mezbah ukupan itu adalah milik tempat maha kudus. (Walaupun mezbah ukupan itu ada di tempat kudus, fungsinya adalah untuk tabut kesaksian yang ada di dalam tempat maha kudus. Pada hari raya Pendamaian, mezbah ukupan dan tutup pendamaian tabut kesaksian dipercik dengan darah yang sama untuk mengadakan pendamaian Kel. 30:10; Im. 16:15-16). Karena itu, dalam Keluaran 26:35 hanya meja roti sajian dan kaki pelita saja yang disebutkan ada di dalam tempat kudus, mezbah ukupan tidak disinggung.
Mezbah ukupan berhubungan dengan doa (Luk. 1:10-11). Ibrani 10:19 memperlihatkan bahwa berdoa adalah masuk ke dalam tempat maha kudus dan menghampiri takhta anugerah, yang dilambangkan dengan tutup pendamaian di atas tabut kesaksian di dalam tempat maha kudus. Doa kita sering dimulai dengan pikiran kita, yaitu bagian dari jiwa kita, yang dilambangkan oleh tempat kudus. Tetapi doa selalu membawa kita masuk ke dalam roh, yang dilambangkan dengan tempat maha kudus.
Karena semua butir di atas, maka penulis Surat Ibrani harus menganggap mezbah ukupan sebagai milik tempat maha kudus. Ayat 4 tidak mengatakan bahwa mezbah ukupan emas ada di dalam tempat maha kudus, seperti kaki pelita dan meja yang ada di dalam tempat kudus (9:2). Dikatakan bahwa di tempat maha kudus terdapat mezbah ukupan emas, karena mezbah ukupan emas itu adalah milik tempat maha kudus. Konsep ini sesuai dengan semua penekanan Surat Ibrani ini, yaitu bahwa kita harus maju dari jiwa (dilambangkan dengan tempat kudus) ke roh (dilambangkan oleh tempat maha kudus).
Mezbah ukupan adalah milik tempat sabda, tempat Allah berbicara, yaitu tempat maha kudus. Mezbah ukupan melambangkan Kristus dalam kebangkitan-Nya sebagai ukupan yang manis dan harum, yang di dalamnya Allah memberikan perkenan-Nya yang manis kepada kita. Kita berdoa berdasarkan Kristus yang demikian agar dapat mengontak Allah, sehingga Allah berkenan berbicara kepada kita. Kita berbicara kepada Allah dalam doa kita berdasarkan Kristus sebagai ukupan yang harum, dan Allah berbicara kepada kita dalam bau harum ukupan ini. Ini adalah dialog dalam persekutuan yang manis antara kita dengan Allah melalui Kristus sebagai ukupan yang harum.
Sekarang kita bisa paham mengapa ada ketidaksesuaian secara luaran dalam ayat-ayat tadi. Seperti telah kita katakan, sebetulnya sama sekali tidak ada ketidaksesuaian. Menurut Perjanjian Lama, mezbah ukupan adalah milik tempat maha kudus. Walaupun ia berada dalam tempat kudus, ia bukan milik tempat kudus, melainkan milik tempat maha kudus. Itulah sebabnya Surat Ibrani mengatakan di tempat maha kudus terdapat mezbah ukupan, bukan mengatakan mezbah ukupan ada di tempat maha kudus. Ketika kita dalam doa mengalami mezbah ukupan emas, kita sering memulai dari pikiran, kemudian baru masuk ke dalam roh. Kini, karena tabir telah disingkirkan, maka dengan mudah kita masuk ke dalam roh.
III. TEMPAT MAHA KUDUS —
DI BAGIAN PALING DALAM
A. Tabut Hukum (Tabut Kesaksian)
Sesudah tempat kudus ada tempat maha kudus. Dalam tempat maha kudus kita mengalami Kristus dengan cara yang paling dalam. Pertama, di tabut hukum (Kel. 40:20-21) kita beroleh bagian dalam Kristus sebagai perwujudan Allah untuk kesaksian Allah (Kol. 2:9; Ibr. 1:3a). Kata “hukum” di sini sesungguhnya berarti hukum Taurat Allah, yakni sepuluh perintah yang ditaruh dalam tabut. Karena hukum Taurat itu adalah kesaksian Allah, maka tabut yang di dalamnya berisi hukum Taurat disebut juga tabut kesaksian. Menurut konsepsi alamiah kita, kita mengira hukum Taurat merupakan sesuatu yang mengatur dan menuntut kita. Namun dalam Alkitab, hukum Taurat terutama bukan untuk mengatur, tetapi untuk mempersaksikan bagaimana keadaan Allah itu. Allah itu murni, kasih, kudus, terang, dan sebagainya. Karena hukum Taurat ditetapkan menurut apa adanya Allah, dan mengekspresikan Allah, maka ia menjadi kesaksian Allah. Tiap jenis hukum selalu mengekspresikan keadaan pembuatnya. Tabut kesaksian adalah lambang Kristus, kesaksian Allah yang sejati, yang adalah perwujudan dan ekspresi segala apa adanya Allah. Di tempat maha kudus, yaitu di bagian paling dalam dari tempat kediaman Allah, kita mengalami Kristus sebagai tabut kesaksian Allah. Di sini kita tidak saja menikmati Kristus sebagai Penebus, suplai hayat, dan terang hayat, juga menikmati-Nya sebagai perwujudan dan ekspresi segala apa adanya Allah. Kenikmatan kita dalam Kristus di sini berarti menikmati kekayaan dan kepenuhan ke-Allahan. Dalam pengalaman atas Kristus, tidak ada yang lebih limpah dan lebih unggul daripada yang terdapat di sini. Di sini kita beroleh bagian dalam unsur ilahi, sifat ilahi, bahkan ekspresi ilahi Allah itu sendiri.
B. Di dalam Tabut Kesaksian
1. Menikmati Kristus
sebagai Manna yang Tersembunyi
Dalam tabut kesaksian kita menikmati tiga aspek dari Kristus: pertama, kita menikmati-Nya sebagai manna yang tersembunyi (Kel. 16:33-34). Manna yang tersembunyi ini ditaruh dalam buli-buli emas, melambangkan pengalaman kita atas Kristus sebagai suplai hayat di batin kita yang terdalam, jauh lebih dalam daripada pengalaman atas roti sajian di tempat kudus. Ketika umat Israel mengembara di padang gurun mereka memakan manna lahiriah yang terbuka, tetapi kita hari ini memakan manna batiniah dalam buli-buli emas yang tersembunyi dalam tabut di tempat maha kudus. Itulah manna yang dijanjikan Tuhan kepada para pemenang dalam Wahyu 2:17. Manna terbuka merupakan makanan semua orang di luar tempat kediaman Allah, yakni mereka yang mengembara di padang gurun jiwa, sedangkan manna yang tersembunyi ialah makanan mereka yang tidak lagi mengembara di padang gurun jiwa, melainkan yang hidup di hadirat Allah di dalam roh bagian paling dalam dari tempat kediaman Allah. Untuk menikmati Kristus sebagai suplai kita yang paling dalam, kita perlu mengalahkan semua hambatan yang di luar, menerobos semua rintangan duniawi, daging, dan jiwa, untuk masuk ke dalam tempat maha kudus Allah.
2. Menikmati Kristus
sebagai Tongkat yang Bertunas
Dalam tabut kesaksian juga ada tongkat yang bertunas, melambangkan pengalaman kita atas Kristus sebagai diperkenannya kita oleh Allah dalam hayat kebangkitan, untuk kekuasaan dalam ministri yang diamanatkan Allah (Bil. 17:3, 5, 8, 10). Ini juga lebih dalam daripada pengalaman atas Kristus sebagai ukupan yang membuat kita diperkenan Allah. Tongkat Harun yang bertunas melambangkan hayat kebangkitan. Di mana ada hayat kebangkitan, di sana ada kekuasaan. Jadi, tongkat yang bertunas berarti kekuasaan dalam hayat kebangkitan untuk ministri yang Allah berikan kepada kita. Dulu umat Israel pernah berdebat mengenai siapa yang berkuasa mewakili Allah. Ketika Allah menyuruh tongkat Harun bertunas, itu menunjukkan dalam kebangkitan, Harun berkuasa mewakili Allah, yaitu menjadi wakil kekuasaan Allah. Demikian pula pada hari ini, para penatua dan pelayan firman Allah harus memiliki kekuasaan yang berasal dari hayat kebangkitan. Mezbah ukupan hanya melambangkan diperkenankannya kita oleh Allah di dalam Kristus, sedangkan tongkat yang bertunas bukan hanya menunjukkan Kristus membuat kita diperkenan Allah, bahkan melambangkan Kristus menjadi kekuasaan yang Allah berikan kepada kita dalam hayat kebangkitan-Nya. Dalam tabut kesaksian di tempat maha kudus, yakni dalam Kristus sebagai perwujudan dan ekspresi Allah, kita menikmati-Nya sebagai kekuasaan yang Allah berikan kepada kita dalam hayat kebangkitan-Nya. Di sini tidak ada satu benda apa pun yang berasal dari alamiah atau ego kita sendiri, semua berada dalam kebangkitan dan dalam Kristus yang tersembunyi. Di sini, Kristus yang bangkit dan tersembunyi menjadi kekuasaan pemberian Allah dalam hayat kebangkitan kepada kita, tanpa unsur maut sedikit pun, bahkan dalam kegelapan yang dingin sekalipun tetap bertunas. Untuk hidup gereja hari ini, kita memerlukan pengalaman atas tongkat yang bertunas yang sedemikian ini, yakni Kristus yang telah bangkit dan tersembunyi.
3. Menikmati Kristus sebagai Loh Hukum
Dalam tabut kesaksian, Kristus juga kita alami sebagai loh hukum, loh kesaksian, kesepuluh perintah, yaitu sebagai hukum hayat batiniah yang mempersaksikan, menerangi, dan mengatur kita (Ibr. 8:10). Kita sudah mengatakan bahwa hukum dalam sepuluh perintah adalah kesaksian Allah. Namun itu hanya merupakan satu lukisan atau satu rupa, bukan realitas semua apa adanya Allah. Akan tetapi, hukum hayat batiniah, yang adalah Kristus sebagai kesaksian Allah, adalah kesaksian Allah yang sebenarnya. Ketika hukum hayat batiniah ini menurut sifat ilahi Allah mempersaksikan, menerangi, dan mengatur kita, ia pun menginfuskan sifat dan atribut ilahi ke dalam kita, menyerupakan kita dengan gambar Allah agar kita dapat mengekspresikan dan mewakili Dia. Butir terakhir dalam pengalaman kita atas Kristus ialah tersalurnya sifat ilahi Allah ke dalam diri kita, agar kita sama dengan Allah baik dalam sifat maupun ekspresi-Nya. Hukum hayat batiniah berfungsi untuk menjenuhi dan meresapi kita dengan menginfuskan ke dalam kita unsur Putra sulung Allah, model standar itu, agar kita menjadi duplikat-Nya, dan dengan demikian Allah akan beroleh ekspresi korporat diriNya untuk menggenapkan kehendak-Nya yang kekal. Inilah titik tertinggi dari pengalaman kita atas Kristus. Janganlah kita selalu berputar-putar pada mezbah yang hanya merupakan titik permulaan dari pengalaman kita atas Kristus. Kita harus maju ke depan, mencapai puncak pengalaman yang tertinggi, yakni mengalami hukum hayat batiniah, fokus semua pengalaman kita atas Kristus dalam ekonomi Allah.
Di aspek negatif, hukum hayat batiniah, yaitu operasi hayat ilahi yang otomatis itu membunuh unsur Adam di dalam kita. Namun di aspek positifnya, ia menyuplai kita dengan semua unsur Kristus. Ketika hukum hayat batiniah bekerja dalam kita, unsur Adam akan terus-menerus berkurang dan terhapus, sedangkan unsur Kristus, unsur ilahi, berangsur-angsur bertambah di dalam kita. Pengikisan unsur yang usang dan penambahan unsur baru itu adalah transformasi metabolis. Akhirnya kita benar-benar menjadi serupa dengan Kristus. Kristus pernah mengalami suatu proses untuk memasuki kesempurnaan dan pemuliaan-Nya. Kini Ia mengulangi proses tersebut dalam diri kita, membawa kita ke dalam kesempurnaan dan pemuliaan-Nya. Inilah proses kehidupan orang Kristen, dan inilah yang seharusnya menjadi pengalaman kita dari hari ke hari. Ketika kita membuka diri kita dan berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu! Aku ingin Engkau menduduki dan memiliki aku, agar aku bersatu dengan-Mu.” Pada saat ini, hayat ilahi yang Ia tanamkan dalam kita ketika Ia dibangkitkan, akan bekerja secara otomatis. Operasi ini akan menghasilkan transformasi menyeluruh, sehingga kita diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah. Kita akan mengalami “pemutraan” sepenuhnya, juga akan dibawa ke dalam kesempurnaan dan pemuliaan Kristus. Ketika proses ini terjadi di dalam kita dan hukum hayat batiniah meng-garapkan Kristus ke dalam setiap bagian kita, Kristus terbentuk di dalam kita (Gal. 4:19). Ini merupakan rahasia yang paling tersembunyi dalam alam semesta. Akhirnya, Allah akan tergarap ke dalam manusia, dan manusia akan berbaur dengan Allah. Allah dan manusia, manusia dan Allah, akan menjadi satu kesatuan. Inilah gereja hari ini, Yerusalem Baru kelak. Inilah ekonomi ilahi. Berbahagialah kita yang nampak hal ini! Kita benar-benar umat yang istimewa!
Dalam lukisan kemah kita nampak beberapa “tiga”. Pertama, kemah terdiri atas tiga bagian: pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Kedua, dalam tem-pat kudus ada tiga benda: meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan. Masuk ke dalam tempat maha kudus, dalam tabut kesaksian, juga ada tiga benda: manna yang tersembunyi, tongkat Harun yang bertunas, dan loh hukum. Benda ketiga dari tiap-tiap kelompok ini adalah yang paling penting. Pada kelompok pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus, tempat maha kudus adalah yang paling penting; pada kelompok meja roti sajian, kaki pelita, dan mezbah ukupan, mezbah ukupan adalah yang paling penting; dan pada kelompok manna yang tersembunyi, tongkat yang bertunas, dan loh hukum, loh hukum yang melambangkan hukum hayat batiniah adalah yang paling penting.
Menurut lukisan susunan perabotan kemah, hukum hayat batiniah merupakan puncak pengalaman kita terhadap Kristus. Roma 8:2 mengatakan bahwa hukum itu ialah hukum Roh hayat. Pengalaman atas Kristus berawal dari salib dan berakhir pada Roh. Bahkan Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh. Roh adalah yang terakhir. Bapa jauh dari kita, Putra dekat dengan kita, tetapi Roh masuk ke dalam kita. Walaupun Bapa dan Putra sudah hadir, tanpa Roh kita tidak dapat mengalami Mereka. Seluruh pengalaman kita atas Allah Tritunggal tergantung pada penyempurnaan Roh. Hukum hayat batiniah justru merupakan operasi Roh Kudus, yakni Roh hayat. Allah itu Roh (Yoh. 4:24); sebagai Adam yang akhir, Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45b). Karena itu, Ia kini menjadi Roh itu (2Kor. 3:17). Roh Kudus adalah persona ketiga dari Allah Tritunggal. Pengalaman kita atas Allah Tritunggal harus berakhir pada Roh. Tambahan pula, pelataran luar berpadanan dengan tubuh kita, tempat kudus berpadanan dengan jiwa kita, dan tempat maha kudus berpadanan dengan roh kita. Dari ketiga bagian ini, roh kitalah yang paling terpenting. Akhirnya, pengalaman kita yang paling akhir dan paling tinggi atas Kristus adalah Roh Allah Tri-tunggal berdiam dalam roh manusia tripartit (yang mempu-nyai tiga bagian). Hukum hayat batiniah, yang dilambangkan oleh loh hukum dalam tabut kesaksian di tempat maha kudus, tidak lain menunjukkan betapa Roh Allah Tri-tunggal beroperasi dalam roh manusia tripartit. Ini seperti kesaksian Roh Kudus bersama dengan roh kita (Rm. 8:16).
Semua orang Kristen sejati tentu pernah datang ke mezbah kurban bakaran, yakni salib Kristus. Untuk ini kita harus bersyukur kepada Allah. Akan tetapi banyak orang Kristen terus menetap di mezbah, dan ingin tinggal di situ sampai selamanya. Kalau Anda memberi tahu me-reka bahwa hari ini Kristus ialah Roh itu, mereka akan mengatakan Anda sesat. Ketika kita menganjuri orang untuk beralih ke dalam roh, hidup dalam roh, mereka menuduh kita sebagai kelompok aliran mistik. Tuduhan demikian sangatlah mengerikan! Banyak orang berkata, “Bukankah salib itu sudah cukup? Bukankah darah Tuhan itu berharga?” Penghargaan kita terhadap salib dan darah walau mungkin tidak melebihi mereka, tetapi pasti tidak lebih rendah daripada mereka. Namun semua itu hanya merupakan dasar yaitu ABC-nya. Bila kita melihat lukisan susunan perabotan kemah, kita akan menyadari betapa kita harus maju ke depan. Kita juga harus memberi tahu semua orang Kristen perlunya maju ke depan. Jangan hanya datang ke tempat bejana pembasuhan untuk sekadar beroleh penyucian Roh Kudus saja, tetapi harus maju lagi menuju meja roti sajian dan kaki pelita, untuk mengalami suplai yang melimpah dan bergizi, serta beroleh penerangan dari kaki pelita. Tetapi ada lagi yang lebih tinggi, yaitu datang ke hadapan mezbah ukupan yang membawa kita ke tempat maha kudus. Mezbah ukupan kita hari ini ialah doa kita bersama Kristus. Sering kali doa kita berawal dari pikiran, tetapi doa kita akan membawa kita ke dalam roh, ke tempat maha kudus. Dalam tempat maha kudus terdapat tabut kesaksian. Benda pertama dari ketiga benda dalam tabut ialah manna yang tersembunyi. Di atas manna terdapat tiga lapis penutup: kemah menutupi tabut, tabut menutupi buli-buli emas, dan buli-buli emas menutupi dan menampung manna yang tersembunyi itu. Di dalam buli-buli emas ini kita menikmati Kristus dengan cara paling tersembunyi. Ini bukan hanya di dalam tempat maha kudus, di dalam tabut, bahkan di dalam buli-buli emas. Apakah artinya buli-buli emas? Itulah sifat ilahi Allah Tritunggal yang mengandung Kristus, model standar, sebagai suplai hayat kita. Oh, alangkah dalamnya pikiran yang demikian! Ketika kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat secara tersembunyi dan rahasia, kita akan mengalami tongkat yang bertunas yang mendatangkan kekuasaan dalam hayat kebangkitan. Bila kita ingin menjadi pelayan firman atau penatua yang sejati, kita harus memiliki kekuasaan dalam hayat kebangkitan Kristus semacam ini. Tongkat yang bertunas akan membawa kita kepada butir terakhir dari ekonomi Allah hukum hayat batiniah yang dilambangkan oleh loh hukum, yakni operasi Roh Allah Tritunggal di dalam kita. Hukum hayat batiniah beroperasi di dalam kita, menginfuskan unsur Allah ke dalam diri kita, dan menjadikan kita suatu reproduksi korporat dari model standar itu. Dengan cara demikianlah Allah dapat merampungkan kehendak-Nya yang kekal. Inilah yang diidam-idamkan Allah hari ini.