← Daftar isi Ibrani (3) · bab 4/18

OPERASI HUKUM HAYAT I. MODEL STANDAR — PUTRA SULUNG ALLAH

Kehendak Allah yang kekal ialah menggarapkan diri-Nya ke dalam kita, agar kita menjadi serupa dengan Putra sulung-Nya. Putra sulung Allah ialah model standar bagi ekonomi Allah, dan model standar ini bersifat ilahi juga insani. Asalnya, Ia adalah Putra tunggal Allah. Sebagai Putra tunggal Allah, Ia adalah gambar wujud Allah, sebab seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam secara jasmaniah di dalam-Nya (Kol. 2:9 Tl.). Ia juga adalah ekspresi Allah (Ibr. 1:3). Sebagai wujud dan ekspresi Allah, Ia telah berinkarnasi, membawakan sifat ilahi ke dalam sifat insani, dan mempersatukan sifat insani dengan sifat ilahi. Tetapi sebelum Ia berinkarnasi, sifat ilahi tidak pernah dipersatukan dengan sifat insani. Sejak Ia berinkarnasi, dalam alam semesta ini telah muncul satu persona ajaib yang adalah Allah juga manusia.

Tuhan Yesus hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Sekali-sekali Ia juga menerapkan sifat ilahi-Nya, namun kebanyakan Ia memperhidupkan sifat insaniNya. Maka orang lebih banyak melihat-Nya sebagai seorang manusia, yakni seorang manusia yang tepat, sempurna, dan istimewa. Mutu-Nya yang istimewa berasal dari sifat ilahi-Nya. Pada suatu hari, Ia naik ke atas salib untuk menyingkirkan dosa, dan pada waktu yang sama Ia juga memusnahkan sumber dosa, yakni Iblis. Ketika Tuhan memusnahkan dosa dan Iblis, Ia telah mengecap rasa maut (Ibr. 2:9), dan melalui mengecap rasa maut, Ia menelan maut itu. Melalui kematian-Nya yang almuhit, setiap hal negatif dalam alam semesta ini, termasuk dosa, Iblis, dan maut, semua telah diakhiri dan dijadikan sejarah. Setelah disalibkan, Tuhan beristirahat selama tiga hari. Menurut catatan Alkitab, selama Ia beristirahat dalam makam, Ia berwisata di alam maut sambil memberi kesempatan kepada maut untuk melakukan apa saja terhadap-Nya dan membuktikan bahwa maut tidak dapat berbuat apa-apa atas diri-Nya. Setelah beristirahat dan berwisata, Ia keluar dari dalam alam maut serta bangkit dari kubur. Melalui kebangkitan-Nya, Ia dilahirkan ke dalam keputraan ilahi dengan membawa sifat insani-Nya, dan menjadi Putra sulung Allah. Keberhasilan-Nya yang paling menonjol dalam menjadi Putra sulung Allah ialah pada-Nya semua hal negatif termasuk dosa, Iblis, dan maut telah menjadi sejarah. Ia adalah satu persona yang memiliki sifat ilahi yang berbaur dengan sifat insani yang telah ditinggikan, dan yang telah mempersatukan kedua sifat tersebut. Akhirnya, Ia masuk ke dalam kemuliaan, bahkan mengalami pemuliaan. Mengalami pemuliaan lebih tinggi daripada masuk ke dalam kemuliaan, sebab masuk ke dalam kemuliaan tidak memerlukan suatu proses, sedangkan mengalami pemuliaan harus melalui proses. Sebagai Putra sulung Allah, Tuhan Yesus telah mengalami suatu proses untuk masuk ke dalam kemuliaan. Itulah pemuliaan-Nya.

Sebagai Putra tunggal Allah, Kristus sudah berada dalam kemuliaan, tidak perlu pemuliaan lagi. Namun, karena Ia pernah hidup di bumi dalam sifat insani-Nya, maka Ia masih perlu pemuliaan. Karena itu, seperti yang diwahyukan dalam Yohanes 17:1, pada malam terakhir dari hidup-Nya di bumi, Ia berdoa, “Bapa, telah tiba saatnya; muliakanlah Anak-Mu, supaya AnakMu memuliakan Engkau.” Kalau Ia sudah berada dalam kemuliaan, mengapa Ia harus dimuliakan lagi? Memang benar, sebagai Putra tunggal, Ia sudah berada dalam kemuliaan, tetapi karena telah mengenakan sifat insani, maka bagian insani-Nya itu perlu dimuliakan, yaitu diproses ke dalam kemuliaan. Dalam kebangkitan-Nya, Kristus masuk ke dalam pemuliaan-Nya (Luk. 24:26).

Jarang sekali orang Kristen yang menyadari bahwa dalam Perjanjian Baru, makna yang terakhir dari kata “sempurna” ialah “mendapatkan kemuliaan”. Tidak peduli betapa sempurnanya Anda, bila Anda belum dimuliakan, Anda masih tidak cukup sempurna. Surat Roma mewahyukan bahwa dalam ekonomi Allah yang pertama-tama kita peroleh ialah pembenaran, kemudian pengudusan, dan terakhir pemuliaan. Surat Roma tidak menyebutkan masalah kesempurnaan. Tetapi dalam Surat Ibrani, masalah pemuliaan maupun kesempurnaan bisa kita temukan. Ibrani 2:9-10 mengatakan bahwa Kristus, Pemimpin keselamatan kita, telah dimahkotai dengan kemuliaan, ini mengacu kepada kesempurnaan dan pemuliaan. Kesempurnaan-Nya adalah pemuliaan-Nya, pemuliaan yang diwahyukan dalam Roma 8. Menurut Roma 8, tahap terakhir dari keselamatan Allah bertujuan membawa kita ke dalam kemuliaan; dan menurut Ibrani 2, Pemimpin keselamatan kita akan memimpin kita memasuki kemuliaan.

Kini, di atas takhta dan di dalam roh kita juga ada satu manusia yang telah dimuliakan, manusia yang telah disempurnakan sepenuhnya. Beberapa orang kudus, seperti John Wesley dan kawan-kawannya, mempraktekkan apa yang disebut kesempurnaan tanpa dosa. Menurut konsepsi mereka, kesempurnaan tanpa dosa itu berarti Anda tidak berdusta, tidak marah-marah, mengasihi orang lain, dan rendah hati. Namun, konsepsi kesempurnaan yang sedemikian terlampau rendah. Bandingkanlah kesempurnaan itu dengan kesempurnaan Yesus yang dimuliakan, Anda akan tahu, kesempurnaan Yesus yang dimuliakan itu tidak lain berarti sifat ilahi-Nya berbaur dengan sifat insani yang telah diuji, dibangkitkan, ditinggikan, dan dimuliakan.

Dalam butir ini saya ingin memperkenalkan satu istilah baru: pemutraan (sonized). Setelah melalui semua ujian dan setelah dibangkitkan dan ditinggikan, maka sifat insani Yesus telah “diputrakan”. Ini berarti sifat insani-Nya dibawa ke dalam keputraan ilahi. Walaupun Kristus adalah Putra Allah, namun sebelum dibangkitkan, Ia mengenakan sifat insani, yang tidak ada hubungannya dengan keputraan tersebut. Pada suatu hari, Ia membawa sifat insani itu ke dalam maut, melalui maut, bahkan keluar dari maut, lalu dibangkitkan oleh kuasa hayat ilahi menurut Roh kekudusan (Rm. 1:4). Melalui proses demikian, sifat insani-Nya diputrakan ke dalam keputraan ilahi Allah. Maka, dengan sifat insani-Nya yang dibangkitkan dan ditinggikan, di dalam kebangkitan, Ia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah. Inilah makna dari catatan Kisah Para Rasul 13:33, “Allah . . . dengan membangkitkan Yesus, seperti yang tertulis dalam mazmur kedua: Engkaulah Anak-Ku! Aku telah melahirkan Engkau pada hari ini” (Tl.).

Kini, Ia yang telah diputrakan sedemikian, adalah model standar kita. Model standar ini telah mencapai kesempurnaan; kesempurnaan ini memiliki sifat ilahi, juga sifat insani yang telah ditinggikan, dan yang telah membuat semua hal negatif menjadi sejarah. Kita perlu mengangkat mata kita, memandang model standar ini. Ketika kita memandang-Nya, kita akan nampak sifat ilahi-Nya dan sifat insani-Nya yang telah diputrakan tadi. Semua hal negatif kini telah berada di seberang sana sungai, dan telah menjadi sejarah. Namun, model standar ini berada dalam pemuliaan dan peninggian di tepi seberang sini sungai, di mana tidak ada dosa, maut, Iblis, atau hal-hal negatif lainnya. Sekarang ada seorang manusia di dalam kemuliaan, di da-lam kesempurnaan. Kesempurnaan macam apa yang dapat dibandingkan dengan hal ini? Yang disebut kesempurnaan tanpa dosa tadi berada di ruang bawah tanah, sedangkan kesempurnaan yang mulia ini berada di dalam tempat maha kudus.

Apakah kesempurnaan? Kesempurnaan ialah pemuliaan. Kesempurnaan di sini ialah seorang manusia yang memiliki sifat ilahi, memiliki sifat insani, yang telah diputrakan menjadi Putra sulung Allah, dan yang sekarang berada dalam pemuliaan-Nya. Pada diriNya, semua hal negatif telah menjadi sejarah, dan ditinggalkan di seberang sana sungai. Inilah kesempurnaan, inilah pemuliaan. Dalam Perjanjian Baru, pemuliaan sama dengan kesempurnaan. Kristus, model standar ini, kini berada dalam kesempurnaan yang sedemikian, dan kita sedang dalam perjalanan mencapai kesempurnaan ini.

II. MENGHASILKAN BANYAK ANAK ALLAH

Ketika model standar ini dibangkitkan, terlahir dalam sifat insani-Nya sebagai Putra sulung Allah, Ia juga mencakup kita (1Ptr. 1:3). Ketika Ia diputrakan di dalam sifat insani-Nya dalam kebangkitan-Nya, kita juga dilahirkan sebagai anak-anak Allah. Kita harus melupakan waktu. Ketahuilah, di surga tidak ada lonceng, di alam kekal juga tidak ada arloji. Meskipun sekarang kita tidak dapat memahami hal ini, kita harus menerimanya dengan sederhana. Berdasarkan firman Alkitab yang murni, ketika Kristus dibangkitkan, Ia menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam kita, dan kita dilahirkan kembali. Sesudah itu, Kristus masuk ke dalam kesempurnaan, ke dalam kemuliaan, di mana Ia berdoa syafaat bagi kita, agar kita pun mengalami pemuliaan.

Kristus berdoa syafaat agar kita diselamatkan dengan sempurna. Walaupun saya pernah mendengar banyak berita tentang doa syafaat Kristus bagi kita, namun saya tidak pernah mendengar satu berita yang mengatakan bahwa maksud doa syafaat-Nya adalah untuk membawa kita memasuki kesempurnaan. Tidak sedikit pula pendeta yang menggunakan Roma 8:34 dan Ibrani 7:25 mengartikan doa syafaat Kristus bertujuan menghibur hati orang yang mengalami kesulitan. Akan tetapi, doa syafaat Kristus tidak hanya untuk menghibur hati kita. Pengertian yang demikian terlalu dangkal. Doa syafaat Kristus bagi kita sebenarnya untuk membawa kita ke dalam pemuliaan, yaitu menyelamatkan kita ke dalam kesempurnaan-Nya.

Apakah artinya kita dibawa ke dalam kesempurnaan Kristus? Ini berarti Ia hendak menghapus segala produk sampingan maut, menelan segala kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Kristus berdoa syafaat agar pekerjaan ini sukses. Doa syafaat-Nya di takhta mendorong benih-benih hayat, yang telah ditabur-Nya ke dalam kita pada saat kebangkitan-Nya, menyatakan daya hidup-Nya.

Seandainya Anda telah mengalahkan setiap dosa, Anda lalu merasa damai, nyaman, dan tidak ada kesulitan dengan siapa atau apa pun. Kalau Anda telah mencapai taraf demikian, apakah Anda sudah merasa cukup senang dan cukup puas? Tentu tidak! Apakah manfaatnya kalau kita hanya mengalahkan dosa dan bebas dari kesulitan? Kalau hanya mencapai tingkat demikian, paling-paling kita seperti sehelai kertas putih kosong. Inikah makna dan tujuan hidup kita? Kesempurnaan semacam ini tidak berarti apa-apa. Namun, kesempurnaan yang diwahyukan Perjanjian Baru ialah seluruh diri kita diproses ke dalam pemuliaan Kristus, agar seluruh diri kita diresapi dan dijenuhi dengan diri-Nya yang ditinggikan dan dimuliakan. Menang atas dosa, sabar, mengasihi orang lain, dan lain-lain, semuanya itu bukan satu kategori dengan kesempurnaan yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Doa syafaat Kristus bertujuan agar benih hayat yang ditabur-Nya ke dalam roh kita dapat didorong untuk bertumbuh, berkembang, dan menjenuhi berbagai bagian batin kita sehingga seluruh diri kita dijenuhi dengan diri-Nya yang telah ditinggikan dan dimuliakan itu. Ketika hal ini rampung, itulah saatnya kita beroleh penebusan tubuh, dan itulah saatnya anak-anak Allah dinyatakan, dan saatnya alam semesta menikmati kemerdekaan kemuliaan. Pada saat itu, tidak akan ada lagi keluh kesah, kesia-siaan, perhambaan, atau kebejatan. Inilah pemuliaan.

III. OPERASI HUKUM HAYAT

Sekarang mari kita membahas perkara hukum hayat lagi. Hukum hayat menggarapkan Kristus, model standar itu, ke dalam setiap bagian dari diri kita, menjenuhi bagian batin kita dengan segala unsur-Nya. Inilah pengubahan (transformasi) yang disebut dalam Perjanjian Baru. Roma 12:2 mengatakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu (pikiranmu), sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna.” Bagaimana pikiran kita dapat diperbarui? Dengan pekerjaan hukum hayat yang menjenuhi kita dengan unsur model standar, sehingga kita dijadikan reproduksi-Nya. Tidak hanya demikian, dalam 2 Korintus 3:18 dikatakan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Inilah hasil operasi hukum hayat di dalam kita. Akhirnya, seperti yang dikatakan dalam Roma 8:29, operasi hukum hayat ini akan menyerupakan kita dengan gambar Putra sulung Allah. Setiap saudara dari Putra sulung akan diserupakan dengan Dia. Putra sulung Allah, model standar ini, hari ini berada dalam penyempurnaan dan pemuliaan, tetapi kita belum lagi berada di sana. Kita masih berada dalam perjalanan, yaitu dalam proses. Ketika Putra sulung berdoa syafaat bagi kita, doa syafaat-Nya akan mendorong benih hayat dalam batin kita agar bertumbuh, berkembang, dan menjenuhi seluruh diri kita, sehingga kita diubah dan diserupakan dengan gambar-Nya, bahkan dibawa ke dalam penyempurnaan dan pemuliaan-Nya. Kesemuanya ini tidak lain adalah hasil operasi hukum hayat.

IV. PERASAAN BATIN HAYAT

Ketika hukum hayat beroperasi di dalam kita, kita akan mempunyai suatu kesadaran hayat yang lebih dalam. Doa syafaat-Nya sangat efektif, mendorong benih yang di dalam kita untuk mengatakan daya hidupnya yang lebih kuat. Bagaimana kita tahu bahwa benih di dalam kita telah terdorong? Melalui perasaan batin, yaitu kesadaran batin kita. Walaupun Anda merasa sangat letih, sehingga Anda merasa enggan mengikuti sidang gereja tertentu, namun benih dalam batin itu mendorong Anda dan tidak mengizinkan Anda tidur. Energi doa syafaat di surga membuat batin Anda pum, pum, pum, sehingga Anda sadar bahwa Anda harus menghadiri sidang. Adakalanya, ketika kita tertarik kepada hal-hal duniawi, batin kita lalu pum, pum, pum lagi, membuat kita merasa tidak damai, dan akhirnya kita hanya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Betapa rahmatnya hal ini! Saya yakin sepenuhnya bahwa pada tahun-tahun mendatang, pum, pum, pum, surgawi ini akan menggenapkan banyak hal dalam pemulihan Tuhan. Kita tidak boleh merasa puas akan hal-hal yang telah kita lihat di masa lampau, sebab ministri ini akan berkembang lebih tinggi dan lebih kaya. Tuhan akan memakai gereja-gereja dan berita-berita ini untuk mengumpulkan semua pencari-Nya yang sejati, supaya mereka bersama-sama menjadi kesaksian-Nya di seluruh bumi ini. Setiap hal tentang gereja yang tercantum dalam Alkitab akan genap sebelum kembalinya Tuhan. Dalam lubuk hati yang terdalam, kita semua merasa, selain model standar ini, tidak ada apa-apa yang dapat memuaskan kita. Kita tidak mungkin merasa gembira selain dijenuhi oleh-Nya. Inilah satu bukti yang kuat bahwa Ia kini sedang berdoa syafaat bagi kita, agar kita dimuliakan, dan dibawa ke dalam kesempurnaan-Nya.

V. REPRODUKSI KORPORAT

DARI MODEL STANDAR ITU

Kehendak kekal Allah ialah memiliki sekelompok anak sebagai ekspresi-Nya yang korporat. Pertama-tama, Putra tunggal-Nya melalui suatu proses, lalu memasuki kemuliaan dan disempurnakan sepenuhnya menjadi satu model standar yaitu Putra sulung Allah untuk mengekspresikan Allah. Sejak Kristus naik ke surga, Allah bekerja terus untuk menghasilkan reproduksi massal dari model standar, Putra sulung-Nya. Berabad-abad lamanya, sedikit sekali orang Kristen yang nampak hal ini, dan ini mengakibatkan terlambatnya kedatangan Tuhan. Sekalipun hari ini di seluruh bumi ini terdapat jutaan orang Kristen, namun reproduksi dari model standar ini tidak begitu banyak. Dalam pemulihan Tuhan dewasa ini, Tuhan sedang mereproduksi model standar ini; dengan sungguh-sungguh bekerja di antara kita, untuk membuat setiap orang di antara kita menjadi serupa dengan Putra sulung-Nya. Inilah artinya disempurnakan. Untuk disempurnakan kita perlu sifat ilahi, perlu sifat insani yang ditinggikan dan dibangkitkan, serta penyaliban yang mengakhiri segala-galanya. Kesempurnaan kita harus mencakup penyaliban Kristus yang mengakhiri segalanya itu, sebab kematian-Nya yang almuhit telah meninggalkan setiap hal negatif ke seberang sana sungai, dan menjadikannya sejarah. Kita juga perlu dijenuhi oleh setiap unsur-Nya di dalam setiap bagian batin kita, bahkan di bagian terkecil pun perlu dijenuhi oleh-Nya. Semua ini merupakan unsur penyempurnaan kita. Bila semuanya itu tergarap ke dalam kita, kita akan mengalami transformasi yang tuntas, dan akan diserupakan dengan gambar-Nya. Inilah pemuliaan, penyempurnaan, dan reproduksi dari model Putra sulung Allah.

Titik terpenting dari kesemuanya ini terletak pada hukum hayat, yakni operasi hayat ilahi di dalam batin kita. Hukum hayat, yaitu operasi hayat ilahi yang alami dan otomatis, bekerja di dalam batin kita agar kita menjadi sempurna, berangsur-angsur menginfuskan sifat ilahi ke dalam kita, mengakhiri setiap hal negatif, dan menyalurkan setiap unsur Kristus ke dalam kita. Dengan kata lain, melalui hukum hayat, Tuhan memperbarui kita, mentransformasi kita, dan menyerupakan kita dengan gambar-Nya. Ketika proses ini selesai, Ia akan datang lagi untuk menebus tubuh kita, yakni mengubah tubuh kita dari yang hina kepada yang mulia (Flp. 3:21). Sekarang kita sedang berada dalam proses operasi hukum hayat ilahi ini.

Hukum hayat sedang beroperasi untuk memperbarui kita dari batin. Efesus 4:22-24 mengatakan bahwa kita perlu diperbarui di dalam roh pikiran agar kita dapat menanggal-kan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Menurut Efesus 2:15, manusia baru ini adalah gereja, jadi mengenakan manusia baru berarti mengenakan gereja. Manusia baru adalah hidup gereja yang riil, dan merupakan reproduksi korporat dari model standar. Kini kita dalam proses secara berangsur-angsur diperbarui dalam roh pikiran dan mengenakan manusia baru. Pembaruan roh pikiran dan pengenaan manusia baru (gereja) ini adalah hasil dari operasi hukum hayat.