← Daftar isi Ibrani (3) · bab 3/18

HUKUM HAYAT

Dalam berita ini kita akan membahas satu perkara yang sangat penting yang tercantum dalam Ibrani 8, yakni masalah hukum hayat. Kalau perkara hayat yang tidak dapat binasa merupakan perkara yang penting dalam pasal 7, maka perkara penting dalam pasal 8 adalah hukum hayat. Hukum hayat merupakan fokus Ibrani 8. Walaupun istilah “hukum hayat” tidak ada dalam pasal ini, namun yang diwahyukan secara esensial dalam pasal ini adalah hukum hayat. Bagaimanakah kita tahu bahwa hukum yang disebut dalam Ibrani 8 adalah hukum hayat? Karena ayat 10 memberi tahu kita bahwa Allah akan menaruh hukum-Nya ke dalam akal budi (pikiran) kita dan menuliskannya dalam hati kita. Hanya hayatlah yang dapat disalurkan ke dalam insan batiniah kita, yang bukan hayat tidak mungkin digenapkan ke dalam insan batiniah kita. Jadi, menurut konteks Ibrani 8, kata hukum yang dimaksud ini pastilah hukum hayat. Ingatlah, hukum hayat adalah fokus dan inti seluruh Ibrani 8.

Dalam pasal ini kita masih mempunyai lima hal ajaib lainnya: Pelayan (Minister) surgawi, kemah surgawi, pelayanan (ministri) yang lebih agung, perjanjian yang lebih mulia dan janji yang lebih mulia. Janji yang lebih mulia menghasilkan perjanjian yang lebih mulia, dan dalam perjanjian yang lebih mulia ini terdapat Minister surgawi yang menunaikan ministri-Nya yang lebih agung di dalam kemah surgawi. Jadi, di sini ada lima hal: janji, perjanjian, minister, ministri, dan kemah.

Dalam Perjanjian Lama, kemah, imamat, dan perjanjian yang lama, yaitu hukum Taurat, ketiganya berpadu untuk menggenapkan ekonomi Allah secara simbolis. Ketiga hal itu berpadu menjadi sebuah lukisan yang jelas tentang Minister surgawi dengan ministri-Nya yang lebih agung di dalam kemah surgawi; dan tentang perjanjian yang lebih mulia yang disempurnakan oleh janji-janji yang lebih mulia untuk menggenapkan ekonomi Allah, bukan dengan bentuk simbolis atau bayangan, melainkan dalam realitasnya. Kemah surgawi, Minister surgawi, dan perjanjian yang baru, ketiga hal ini berpadu untuk penggenapan ekonomi Allah dalam realitasnya. Inilah pokok yang akan kita bahas dalam berita ini. Seperti telah kita ketahui, kemah surgawi berhubungan dengan roh kita. Jika demikian, maka Minister surgawi dari perjanjian yang lebih mulia juga berhubungan dengan roh kita. Sekarang ini juga Minister surgawi sedang menunaikan tugas pelayanan-Nya di bawah perjanjian yang lebih mulia. Inilah pokok pemikiran berita ini: Minister surgawi, di bawah perjanjian yang baru, menunaikan tugas pelayanan-Nya di dalam kemah surgawi. Perjanjian yang baru yang disebut perjanjian yang lebih mulia, telah disempurnakan oleh janji-janji yang lebih mulia, yakni janji-janji yang tercantum dalam Yeremia 31.

Isi perjanjian yang lebih mulia mencakup empat hal: penyaluran hukum hayat ke dalam kita; Allah menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya; kecakapan batiniah untuk mengenal Allah; dan pendamaian bagi ketidakbenaran serta pengampunan dosa-dosa kita. Keempat hal ini seluruhnya berfokus pada hukum hayat. Karena itu, dalam berita ini kita akan membahas apakah sebenarnya hukum hayat itu.

Untuk mengenal hukum hayat perlulah kita lebih dulu melihat beberapa hal lain yang merupakan latar belakang yang penting. Selama beberapa tahun ini kita berulang-ulang menegaskan satu inti pokok, yaitu kehendak kekal Allah ialah ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, agar kita menjadi ekspresi-Nya yang hidup. Hal ini telah digenapkan Allah. Walaupun ada beberapa masalah negatif, mi-salnya Iblis dan dosa telah datang mengganggu, namun semuanya itu telah menjadi sejarah masa lalu dikarenakan adanya penyaliban Kristus yang almuhit. Penyaliban Kristus yang almuhit telah mengakhiri setiap hal negatif. Karena itu, Iblis dan dosa telah menjadi satu sejarah. Sayang, sedikit sekali orang Kristen yang nampak hal ini; mereka selalu mengira bahwa hal-hal itu masih tetap menganggu dan menghambat mereka. Tetapi itu dusta, hal-hal negatif itu telah menjadi sejarah. Pada suatu hari, ketika kita se-mua memasuki Yerusalem Baru, kita akan menertawakan Iblis, dan berkata kepadanya, “Hai Iblis, sekarang aku tahu bahwa kamu tidak lain satu sejarah belaka. Bagiku kamu bukanlah apa-apa. Aku berada di kawasan baru, yakni dalam wilayah langit baru dan bumi baru. Iblis, aku kini berada dalam Yerusalem Baru, dan kamu adalah satu sejarah.” Apakah yang telah membuat semuanya itu menjadi satu sejarah? Penyaliban Kristus yang almuhit.

Bahkan kelahiran kembali, kelahiran ulang kita, juga merupakan suatu sejarah. Sebenarnya kita dilahirkan kembali pada dua puluh abad yang lalu, yakni pada waktu Kristus bangkit dari kematian (1Ptr. 1:3). Menurut perasaan Anda, Anda dilahirkan kembali beberapa tahun yang lalu, tetapi dalam pandangan Allah, Anda dilahirkan kembali pada dua puluh abad yang lalu. Karena itu, kelahiran kembali kita juga telah menjadi satu sejarah. Ketika kita dilahirkan kembali, kecakapan batiniah untuk mengenal Allah juga telah dikaruniakan ke dalam kita. Hal ini pun merupakan peristiwa yang terjadi dua puluh abad yang lalu. Semua hal ini telah menjadi fakta yang rampung yang telah diwasiatkan kepada kita sebagai warisan. Bila kita telah dicelikkan, kita tidak perlu meminta, cukup berkata saja kepada Tuhan, “O Tuhan, terima kasih atas warisan-Mu itu. Terima kasih atas wasiat-Mu. Aku cukup mengambilnya, menerimanya, dan menikmatinya.”

Jika kita mengenal bahwa Perjanjian Baru sebenarnya adalah suatu wasiat, kita akan memberitakan Injil dengan mutu yang tertinggi. Kita akan berkata demikian kepada orang, “Teman-teman, di sini ada satu wasiat, yakni wasiat Yesus Kristus. Dalam wasiat ini disebutkan bahwa banyak warisan telah menjadi milik Anda. Salah satunya adalah Ia telah menghapus segala dosa Anda. Bahkan sebelum Anda berbuat dosa, Allah telah mengampuni dan menghapus dosa-dosa Anda. Warisan lainnya ialah, dua puluh abad yang lalu, sebelum Anda dilahirkan oleh orang tua Anda, Anda telah dilahirkan kembali, hayat ilahi Allah telah dikaruniakan ke dalam Anda. Tidaklah menjadi soal apakah Anda tahu atau tidak, asalkan Anda menerima wasiat ini dan berterima kasih kepada-Nya, ‘O Tuhan, terima kasih atas wasiat dan semua warisan-Mu itu; terima kasih atas pengampunan dosa-dosa dan kelahiran kembali itu.’” Bila seseorang yang baru beroleh selamat semakin banyak bersyukur kepada Tuhan atas wasiat-Nya yakni atas pengampunan dosa-dosa, kelahiran kembali, dan atas warisan lainnya, ia akan semakin banyak menerima pengurapan dan kelimpahan hayat. Inilah pemberitaan Injil yang bermutu tinggi. Untuk memberitakan Injil yang sedemikian, kita perlu mempunyai pandangan yang jelas tentang wasiat tersebut, juga perlu kuasa pengurapan Roh Kudus. Bila kita memberitakan Injil yang setinggi ini, orang tidak akan menolak. Mereka malah akan menerima dengan senang hati, dan berkata, “Puji Tuhan! Terima kasih, Tuhan atas semua warisan ini!” Jika orang dosa yang kasihan mau percaya sedemikian, ia akan segera menjadi seorang jutawan. Saya mengharapkan, pada suatu hari, kita akan nampak pemberitaan Injil yang setinggi ini.

I. SUMBER HUKUM HAYAT

Baiklah sekarang kita melihat hukum hayat. Inti kemah surgawi, Pelayan surgawi, pelayanan yang lebih agung, perjanjian yang lebih mulia, dan janji-janji yang lebih mulia ialah hukum hayat. Apakah sumber hukum hayat itu? Sumber hukum hayat ialah hayat itu sendiri. Lalu apakah hayat? Hayat ialah Allah sendiri. Ketika Allah diekspresikan, Dia adalah Putra (1:3a, 8a). Ketika Putra, yakni Allah sendiri direalisasikan sebagai Roh, Ia adalah hayat kita (2 Kor. 3:17a; 1 Kor. 15:45b). Hayat ialah Allah di dalam Kristus sebagai Roh, masuk ke dalam kita. Karena itu, Roh itu juga disebut Roh hayat (Rm. 8:2), dan hayat ini adalah hayat yang kekal dan ilahi. Dari hayat ini, datanglah hukum hayat melalui kelahiran kembali dari Roh hayat (Yoh. 3:5-6). Ketika kita dilahirkan kembali oleh Roh hayat, hayat yang kekal dan ilahi disalurkan ke dalam kita, dan dari hayat inilah muncul hukum hayat dalam batin kita.

II. DEFINISI HUKUM HAYAT

Apakah hukum hayat? Hukum adalah peraturan yang alami, suatu dalil atau kaidah yang tidak berubah. Hukum hayat ialah suatu ciri-ciri alami, pembawaan, fungsi otomatis dari sejenis hayat. Semakin tinggi suatu hayat, semakin tinggi pula hukum hayatnya. Jadi, hukum hayat ilahi tidak lain ialah ciri-ciri alami, pembawaan, dan fungsi otomatis dari hayat Allah. Karena hayat Allah adalah hayat yang paling tinggi, maka hukum hayat-Nya juga paling tinggi. Hukum hayat yang paling tinggi ini ialah fungsi, kemampuan dari hayat ilahi. Fungsi dan kemampuan ini muncul dengan sendirinya, spontan, alami, dan otomatis.

Segala macam hayat, entah nabati, hewani, insani maupun ilahi, tentu mempunyai fungsinya masing-masing. Benda yang tidak berfungsi, pasti bukan hayat. Kita boleh mengambil pohon persik sebagai contoh: fungsi pohon persik ialah berbunga dan kemudian menghasilkan buah persik. Demikian pula, seekor anjing berfungsi mengonggong, seekor kucing berfungsi menangkap tikus. Tiap-tiap hayat memiliki fungsinya yang otomatis dari bawaan, fungsi itu merupakan hukum dari hayatnya. Ketika pohon persik berfungsi, ia akan menghasilkan buah persik, tidak akan menghasilkan buah lain. Menghasilkan buah persik adalah hukum pohon persik. Petani tidak perlu mengajarnya, “Hai pohon persik kecil, ketahuilah, aku menghendaki kamu menghasilkan buah persik. Aku tidak mau yang lain.” Seandainya pohon itu bisa berbicara, ia pasti menjawab, “Tuanku, pulanglah dan beristirahat! Tuan tidak perlu mengajarku. Tidakkah Tuan tahu dalam hayat pohon persikku ada hukum hayat yang pasti dapat menghasilkan buah persik? Hukum ini tidak memungkinkan aku menghasilkan buah lain. Ia hanya memungkinkan aku menghasilkan buah persik yang Tuanku kehendaki itu.” Sama halnya, seekor kucing dapat menangkap tikus, karena dalam hayatnya terdapat hukum yang cakap menangkap tikus. Seekor anjing dapat menggonggong karena dalam hayatnya ada hukum yang cakap mengonggong. Apakah hukum hayat ilahi? Fungsi bawaan otomatis dari hayat ilahi. Hayat ilahi ini hidup, aktif, dan agresif. Hayat ini selalu bergerak dan gerakannya senantiasa menurut hukum hayat yang berfungsi secara otomatis.

Kehendak hati Allah ialah menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam kita. Ia telah merampungkan hal ini, dan sekarang juga Ia berada di dalam kita sebagai hayat kita. Hayat ini, hayat yang paling tinggi, adalah hayat yang sangat aktif. Ketika hayat ini berfungsi, ia mengatur kita. Dalam arti yang baik dan positif, pekerjaan-Nya adalah pengaturan-Nya, sebab pekerjaan hayat ilahi di dalam kita adalah pengaturannya. Inilah hukum hayat.

III. LOKASI HUKUM HAYAT

Menurut Ibrani 8:10, hukum hayat telah disalurkan ke dalam batin kita. Yeremia 31:33 yang darinya dikutip ayat ini mengatakan bahwa hukum hayat telah ditaruh ke dalam batin kita, juga telah ditulis di dalam hati kita. Ibrani 8:10 mengatakan hukum hayat ditaruh di dalam akal budi (pikiran) kita. Hal ini membuktikan pikiran merupakan bagian batin kita. Bagian batin kita tidak hanya ada pikiran, juga ada emosi dan tekad; yang bersama hati nurani membentuk komposisi hati kita yang disebut dalam klausa berikutnya dalam ayat ini. Jadi, hukum hayat berlokasi dalam bagian batin kita, yaitu dalam bagian-bagian hati nurani, pikiran, tekad, dan emosi; dengan lain perkataan, yaitu di dalam hati kita. Hati adalah komposisi dan keseluruhan bagian batin kita.

Hayat Allah telah disalurkan ke dalam roh kita. Berdaarkan fakta ini, pastilah hukum hayat terlebih dulu berada dalam roh kita sebagai suatu hukum. Kemudian dari roh kita meluas ke dalam bagian-bagian hati kita, dan menjadi banyak hukum. Asalnya ia adalah satu hukum di dalam roh kita, kemudian ia menjadi banyak hukum yang berfungsi di dalam setiap bagian hati kita. Inilah sebabnya dalam Yeremia 31:33 ia adalah “satu” hukum, tetapi dalam Ibrani 8:10 ia menjadi “banyak hukum”.

IV. FUNGSI HUKUM HAYAT

Fungsi hukum hayat ialah menghapus atau membunuh unsur usang Adam, dan kemudian menambahkan, menyuplaikan unsur baru Kristus. Ketika hukum hayat ilahi bekerja dan mengatur dalam bagian batin kita, ia pasti membunuh dan menyingkirkan setiap hal usang alamiah kita. Hukum ini benar-benar berkekuatan, mampu mengurangi hal-hal negatif dalam insan alamiah kita. Bersamaan dengan itu, hukum ini menambahkan dan menyuplaikan unsur ilahi ciptaan baru, membawakan kekayaan Kristus ke dalam kita. Ketika ia mengurangi unsur Adam yang usang dari dalam kita, ia menambahkan unsur baru Kristus ke dalam kita. Di satu aspek menyingkirkan yang usang, di aspek lain ia menggantikannya dengan yang baru. Ia membuat semacam metabolis dalam hidup orang Kristen, dan merampungkan pengubahan hayat bagi kita.

V. KUASA HUKUM HAYAT

Hukum harfiah tidak berfungsi, dan tidak menghasilkan apa-apa (Rm. 8:3; Ibr. 7:19), tetapi hukum hayat mengandung “kuasa hayat yang tidak dapat binasa”, yang mampu menggenapkan segala hal dalam kehendak Allah (Ibr. 7:16). Dalam perjanjian yang lama, hukum harfiah itu lemah dan tidak menghasilkan apa-apa, sebab ia sebenarnya hanya merupakan satu lambang dari hukum hayat. Ibarat sebuah foto seseorang, ia hanya memiliki rupa, namun tanpa hayat; ia hanya dapat diperlihatkan, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi dalam perjanjian yang baru tidaklah demikian; hukum hayat penuh dengan kuasa, yang berasal dari kuasa hayat yang tidak dapat binasa, yang mampu menggenapkan segala hal bagi kita dalam ekonomi Allah. Hukum hayat ini tidak hanya memiliki penampilan luaran, melainkan memiliki hayat ilahi sebagai esens realitasnya. Ia tidak hanya menunjukkan berbagai hal kepada kita, lebih-lebih menggenapkannya bagi kita. Segala hal yang dituntutnya, mampu digenapinya.

VI. HASIL HUKUM HAYAT

Fungsi hukum hayat adalah menggenapkan pengubahan hayat secara metabolis bagi kita, karena itu hasil hukum hayat ialah mengubah dan menyerupakan kita dengan gambar Kristus (2Kor. 3:18; Rm. 8:29), juga agar Kristus terbentuk di dalam kita. Baik pengubahan dalam hayat atau penyerupaan dengan Kristus, semua tergantung pada fungsi hukum hayat, dan hal ini adalah hasil pekerjaan hukum hayat. Kristus hanya dapat terbentuk di dalam kita melalui pengaturan hukum hayat. Pengaturan hukum hayat ilahi ini mendatangkan kekayaan Kristus ke dalam hayat kita, dan membentuk Kristus dalam diri kita.

VII. KEINGINAN ALLAH

DI DALAM HUKUM HAYAT

Allah bukan hanya Allah kita, juga Bapa kita. Karena itu, Ia ingin menjadi Allah kita di dalam hukum hayat. Kita bukan hanya makhluk ciptaan Allah, tetapi juga anak-anakNya. Maka, Ia juga ingin kita menjadi umat-Nya di dalam hukum hayat. Allah tidak mau menjadi Allah kita hanya menurut hukum harfiah yang di luar, Ia ingin menjadi Bapa kita menurut hukum hayat dalam batin. Tidak ada seorang pun yang memelihara hukum harfiah yang di luar dapat memuaskan keinginan Allah. Allah hanya dapat merasa puas bila kita hidup menurut hukum hayat batiniah. Allah juga tidak ingin memiliki kita hanya sebagai makhluk ciptaan-Nya, tanpa mempunyai hayat-Nya, tetapi Ia ingin memiliki kita sebagai anak-anakNya, yang mempunyai hayat-Nya. Sebab itu, Ia menghendaki kita menjadi umat-Nya dalam hukum hayat, hidup menurut hukum hayat dalam batin, bukan menurut hukum harfiah yang di luar. Baik hubungan Dia dengan kita, atau hubungan kita dengan Dia, semua harus terikat dalam hukum hayat. Pada hukum harfiah hanya ada maut, tidak ada yang lain. Pada hukum hayat tidak ada maut, melainkan hayat. Hanya hayat yang dapat memuaskan keinginan ilahi Allah.

Kita telah nampak bahwa imamat ilahi menampilkan hayat dan menyingkirkan maut, serta menyelamatkan kita dari setiap produk sampingan maut, bahkan memasukkan kita ke dalam kemuliaan. Imamat ilahi menyelamatkan kita dengan sempurna, berarti ia akan membawa kita ke dalam kesempurnaan yang lengkap, yakni ke dalam kemuliaan. Penyelamatan ini atau pekerjaan ini bukanlah yang obyektif, tetapi mutlak subyektif. Memang betul, Kristus adalah Imam Besar yang duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahatinggi di surga, namun hendaklah kita ingat, ketika Ia bangkit dari kematian, sekitar dua puluh abad yang lampau, Ia terlahir sebagai Putra sulung Allah, Ia menyalurkan hayat-Nya ke dalam setiap orang pilihan, yaitu yang diberi tanda oleh Allah. Walaupun waktu itu kita belum mau percaya kepada Tuhan, namun kita telah diberi tanda oleh Allah dalam kekekalan lampau, sebelum dunia diciptakan. Jika Anda tidak percaya perkataan ini sekarang, Anda pasti percaya juga kelak ketika Anda masuk ke dalam Yerusalem Baru. Sejak semula Allah telah menandai kita dan Kristus menyalurkan hayat-Nya ke dalam kita. Allah dan Kristus tidak pernah keliru, juga tidak pernah salah pilih. Jika kita mengatakan bahwa Allah telah salah memilih kita, berarti kita menghina Allah. Bagaimana mungkin Allah salah memilih kita? Walaupun kita merasa diri kita tidak layak dan tidak terhitung apa-apa, tetapi Allah telah memilih dan memberi tanda pada diri kita. Kristus, Putra sulung Allah juga telah menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam kita. Kita harus memiliki visi ini, yakni nampak dengan jelas akan ekonomi Allah. Lupakanlah perasaan, pengertian, dan pengetahuan Anda, kembalilah ke dalam firman-Nya yang murni, terimalah visi yang jelas ini! Apa yang dilakukan Allah selalu kekal dan tanpa unsur waktu maupun ruang. Pemilihan Allah juga kekal, dan di dalamnya tidak terdapat unsur waktu. Tidak ada seorang pun di antara kita yang berada di sini secara kebetulan, semua telah diatur lebih dahulu oleh Bapa kita. Ia telah membuat keputusan ini sebelum bumi ini diciptakan.

Sesudah Kristus menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, Ia lalu duduk di takhta di surga. Dalam beberapa berita yang lalu kita pernah mengatakan bahwa setelah Kristus naik ke surga, Ia datang lagi ke dalam kita. Walau ini benar dalam satu aspek, namun hanya benar menurut pandangan kita. Jika masalahnya ditinjau dari segi yang lebih tinggi, kita nampak Kristus bukan naik ke surga lebih dulu, kemudian baru datang dan masuk ke dalam kita, melainkan sebelum Ia naik ke surga; ketika Ia dibangkitkan, Ia sudah menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam kita. Jadi, begitu Ia memasuki surga, semua hal telah diselesaikan-Nya, tanpa satu pun yang tersisa. Ia telah menyucikan dosa-dosa manusia, dan Ia telah menyalurkan diri-Nya ke dalam setiap manusia yang telah diberi tanda oleh Allah.

Apa yang dikerjakan Kristus ketika Ia duduk di surga? Ia berdoa syafaat. Boleh jadi Kristus mendoakan salah seorang yang telah diberi tanda, “Ya Bapa, tengoklah orang ini. Engkau telah memberi tanda pada dirinya, Aku juga telah menyalurkan hayat-Ku ke dalamnya, tetapi ia tetap mengembara. Bapa, bawalah ia pulang!” Tidak lama kemudian, ada beberapa teman Kristen datang mengundangnya menghadiri sidang gereja, dan ia pun didapatkan. Setelah itu Kristus Jurusyafaat yang di takhta mungkin berkata, “Baik sekali ia sudah pulang, namun ya Bapa, kiranya Engkau bekerja lebih lanjut pada dirinya, sebab hayatnya belum lagi bertumbuh. Hayatnya perlu bertumbuh, agar ia dapat berfungsi dan bekerja.” Pada sidang berikutnya, orang ini pun berdiri mengatakan, “Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu. Aku persembahkan diriku kepada-Mu!” Berkat doa syafaat Kristus yang tidak kelihatan itu, hayatnya mulai berfungsi sedikit. Roma 8:34 menerangkan dengan jelas bahwa setelah naik ke surga, Kristus melakukan doa syafaat bagi kita di surga. Ia yang demikian sempurna, yang memenuhi syarat, yang diperlengkapi, dan Yang Mahakuasa, kini sedang berdoa syafaat bagi kita! Selang beberapa hari lagi, boleh jadi Kristus yang berdoa syafaat berkata tentang orang itu, “Ya Bapa, ia sekarang sudah berfungsi, tetapi ia belum matang, ia masih begitu hijau.” Tiba-tiba dalam suatu sidang saudara tersebut berdiri dan berdoa, “Tuhan, Engkau tahu aku masih begini hijau, belum matang. Tuhan, aku rindu sekali mencapai kematangan.” Doanya sangat cocok dengan doa syafaat yang di surga. Nampaknya doa itu terbit dari dirinya sendiri, namun sebenarnya itu adalah kutipan dari doa syafaat yang di surga. Sering kali doa maupun puji-pujian kita adalah mengutip doa syafaat yang di surga. Ucapan atau perkataan itu bukan bersumber dari diri kita, melainkan dari doa syafaat Kristus. Mungkin pada suatu pagi, keegoisan saudara tadi terjamah, ia benar-benar merasakan bahwa dirinya sangat egois. Semula ia mengira itu adalah reaksi dari sebuah berita yang ia dengar, ia tidak tahu kalau itu pun reaksi dari doa syafaat yang di surga. Apa pun yang terjadi dalam hidup rohani kita adalah suatu kutipan dari doa syafaat di surga, atau sebagai reaksi atas doa syafaat itu sendiri.

Kristus berdoa syafaat di surga bagi kita semua. Tujuan doa syafaat-Nya tidak lain agar hayat ilahi, yakni diri-Nya sendiri, dalam batin kita berkembang meluas ke seluruh diri kita, sehingga hukum hayat tersebar ke dalam bagian-bagian batin kita, dan menjadi banyak hukum yang mengatur kita di segala aspek. Satu di antaranya masuk ke dalam pikiran kita, lalu mengatur pikiran kita, yaitu memperbaruinya secara menyeluruh. Kita mungkin mengira pembaruan pikiran itu adalah pengaruh dari berita atau pengajaran yang kita dengar dalam hidup gereja, padahal bukan karena itu; pembaruan pikiran tidak berasal dari luar, melainkan dari salah satu hukum hayat ilahi di dalam batin kita. Ketika pikiran kita diperbarui oleh hukum hayat, pikiran kita akan diubah secara revolusioner, dan kita tidak lagi berpikir menurut cara lama. Semua pikiran atau pertimbangan kita akan diperbarui sepenuhnya oleh hukum hayat yang mengatur dan bekerja di dalam batin kita. Hal ini berarti hayat ilahi telah bertumbuh dari roh kita ke dalam pikiran kita.

Satu hukum yang lain dari hukum hayat ini akan masuk dan memenuhi emosi kita. Entah pada mulanya emosi kita itu dingin atau panas, hukum yang satu ini akan merembesi emosi kita dan mengaturnya dengan emosi Kristus, bahkan memasukkan unsur emosi Kristus ke dalamnya. Di satu aspek, emosi kita akan disusun ulang, dijenuhi dengan unsur emosi Kristus. Kita tidak lagi mengasihi atau membenci seperti dulu. Setiap ekspresi yang terbit dari emosi kita telah mutlak berubah. Terutama kasih kita akan mengalami pengaturan, perembesan, pengubahan, dan penyusunan ulang. Inilah pertumbuhan hayat Kristus ke dalam emosi kita.

Seprinsip dengan itu, satu hukum lagi akan menjenuhi ke dalam tekad kita. Entah tekad kita sejak lahir keras atau penurut, tidaklah berbeda, semua tidak berguna bagi hayat Kristus. Dulu saya pernah melihat beberapa orang yang sangat keras tekadnya, ada pula yang sangat penurut. Kebanyakan penatua gereja menyukai orang yang penurut, tetapi bagi saya, baik yang keras maupun yang penurut sama-sama merepotkan. Menurut perasaan manusia, kita menyukai orang yang penurut, akan tetapi bila tekad penurut itu berasal dari tekad alamiah, itu tidak cukup. Tidak peduli tekad kita keras, penurut, atau netral, asalkan itu tekad kita sendiri, tidak ada gunanya bagi hayat Kristus. Pekerjaan hukum hayat ilahi harus menjenuhi tekad kita. Walau saya pernah mendengar banyak orang mengeluh, “Aku benci akan kedegilan tekadku ini,” tetapi saya tidak pernah mendengar orang berkata, “Aku sangat benci akan tekadku yang penurut ini.” Kita semua harus belajar berkata, “Aku benci akan tekadku yang keras, benci akan tekadku yang penurut, benci akan tekadku yang netral. Asal itu tekadku, aku benci. Aku tidak peduli apakah tekadku keras, penurut, atau netral, asalkan itu adalah tekadku sendiri, aku benci. Sebab semuanya itu adalah yang alamiah.” Ketika hukum hayat ilahi bekerja di dalam kita, salah satu fungsinya ialah menjenuhi tekad kita dengan tekad Kristus, sehingga tekad-Nya menjadi tekad kita. Dengan jalan ini, tekad kita akan disusun ulang dengan unsur tekad Kristus. Ini berarti hayat Kristus akan bertumbuh ke dalam tekad kita. Akhirnya, dalam pikiran, emosi, dan tekad kita akan terjadi pertumbuhan hayat Kristus.

Penjenuhan dan pendirisan semacam inilah yang disebut diselamatkan dengan sempurna. Kristus menyelamatkan kita dengan sempurna tidak berarti kita berada di bumi, sedang Dia jauh di surga, tanpa hubungan apa-apa satu sama lain; Dia mendoakan kita di surga, hingga kita juga berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengabulkan doa kita sambil mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan kita. Demikian ini adalah konsepsi agamis semata. Kita harus nampak bahwa Kristus telah menghapus dosa-dosa kita di atas salib, dan dalam kebangkitan-Nya Ia menyalurkan diri-Nya sebagai hayat ke dalam kita; sekarang Ia duduk di takhta Allah di surga sambil berdoa syafaat bagi kita. Di satu pihak, Ia kini berada dalam roh kita menjadi hayat kita yang bertumbuh; di pihak lain, Ia di takhta di surga, berdoa syafaat bagi pertumbuhan dan perkembangan benih yang telah ditabur ke dalam batin kita. Inilah Kristus yang obyektif dan subyektif untuk kita alami. Dengan jalan demikianlah hayat ilahi-Nya berfungsi di dalam kita. Setiap fungsi dari hayat-Nya merupakan semacam pengaturan dari hukum hayat. Fungsi hayat ini ada yang berkembang ke dalam pikiran kita, ada yang akan menjenuhi emosi dan tekad kita. Inilah pekerjaan hukum hayat.