← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 8/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (24)

Pembacaan Alkitab: Kis. 21:18-39

RINGKASAN TENTANG WAHYU DALAM ALKITAB

Alkitab mewahyukan bahwa Allah memiliki satu rencana kekal dan rencana ini akhirnya menjadi ekonomi-Nya. Rencana Allah adalah mendapatkan sekelompok manusia yang dilahirkan kembali dengan hayat ilahi menjadi putra-putra-Nya dan anggota-anggota Kristus, supaya Allah Tritunggal di dalam Kristus dapat memiliki satu Tubuh untuk mengekspresikan diri-Nya sendiri.

Rencana Allah digenapkan melalui inkarnasi, kehidupan insani, dan kematian Kristus yang almuhit untuk mengakhiri segala sesuatu dari ciptaan lama, supaya Dia dapat menunaskan umat pilihan-Nya di dalam kebangkitan. Di dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), supaya Dia dapat mengembangbiakkan diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal yang telah melalui proses untuk menghasilkan Tubuh. Setelah kebangkitan-Nya, Kristus naik ke surga, dan di sana Dia dijadikan Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Dalam kebangkitan-Nya, Tuhan telah menghembuskan diri-Nya sebagai Roh itu ke dalam umat pilihan-Nya secara esensial (Yoh. 20:22). Kemudian dalam kenaikan-Nya, Dia mencurahkan diri-Nya sendiri sebagai Roh almuhit yang telah rampung ke atas mereka secara ekonomikal. Karena itu, segala sesuatunya telah dipenuhi dan digenapkan: inkarnasi, kehidupan insani, kematian yang almuhit, kebangkitan yang memberikan dan mengembang-biakkan hayat, hembusan Roh pemberi-hayat secara esensial, kenaikan, dan pencurahan Roh yang telah rampung secara ekonomikal. Karena semuanya ini telah digenapkan, maka gereja dihasilkan.

Sebelum Kristus datang untuk melalui proses bagi penggenapan rencana Allah, butir-butir yang berhubungan dengannya dimasukkan ke dalam Perjanjian Lama dalam bentuk janji-janji, nubuat-nubuat, lambang-lambang, figur-figur, dan bayang-bayang. Kemudian, dalam kegenapan waktu, Allah Tritunggal di dalam Putra menjadi seorang manusia (Gal. 4:4). Dalam keinsanian-Nya, Dia melalui proses kehidupan insani, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan untuk menggenapkan segala sesuatu bagi pemenuhan rencana Allah. Setelah menjadi Roh yang almuhit, sekarang Dia masuk ke dalam umat pilihan Allah untuk menerapkan kepada mereka semua hal yang telah digenap-kan Allah Tritunggal di dalam Putra. Melalui penerapan yang demikian, umat pilihan Allah menjadi saksi-saksi yang hidup dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga (Kis. 1:8).

Sebagai orang-orang yang memiliki Roh yang almuhit di dalam kita, apa yang harus kita lakukan? Kita harus menjadi saksi-saksi hidup yang menampung, memikul, dan menyampaikan Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, supaya Dia dapat dikembangbiakkan di seluruh bumi bagi penggenapan ekonomi ilahi. Inilah ringkasan yang singkat dari seluruh wahyu dalam Perjanjian Baru.

SITUASI PERCAMPURAN DI YERUSALEM

Karena Kristus telah datang dan melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan, menghembuskan Roh itu ke dalam umat pilihan Allah secara esensial, dan mencurahkan Roh itu ke atas mereka secara ekonomikal, maka banyak janji, nubuat, lambang, figur, dan bayang-bayang dalam Perjanjian Lama yang berhubungan dengan hal ini sekarang telah keting-galan zaman. Umat pilihan Allah tidak seharusnya tetap berpegang kepada hal-hal yang telah ketinggalan zaman itu. Namun, Yudaisme yang merosot sebagai satu agama terus-menerus berpegang kepada hal-hal yang telah ketinggalan zaman itu.

Di Yerusalem, di antara orang-orang yang ada di dalam Yudaisme yang merosot dan kaum beriman Kristen terdapat situasi percampuran. Di Yerusalem ada kelompok pertama bejana yang dipilih Allah untuk menampung Kristus. Kelompok ini termasuk para rasul, di antaranya Petrus, seorang pemimpin dan Yakobus, seorang yang paling berpengaruh. Menurut Kisah Para Rasul 21, bersama rasulrasul ini ada ribuan orang Yahudi yang percaya kepada Kristus (ay. 20). Meskipun mereka telah menjadi kaum beriman dalam Kristus, tetapi mereka masih dengan kuat berada di bawah pengaruh latar belakang Yudaisme mereka. Karena pengaruh ini, mereka tidak mungkin meninggalkan latar belakang mereka dan atmosfir yang kental di Yerusalem.

Kaum beriman Yahudi di Yerusalem itu menjadi orang-orang yang mencampuradukkan iman dalam Kristus dengan hal-hal dari Perjanjian Lama yang ketinggalan zaman. Mereka ingin menjajarkan dua perkara ini. Menurut pengkajian saya terhadap Perjanjian Baru, Yakobus adalah pemimpin dalam arus ini. Sepertinya dialah yang mengambil pimpinan berkata, “Kita tidak perlu berperang. Kita boleh memelihara iman kita dalam Kristus dan pada waktu yang sama juga memelihara hukum-hukum, adat istiadat, dan praktek-praktek Perjanjian Lama. Kita boleh tetap mempraktekkan sunat.”

Yakobus tidak ingin berperang atau melukai orang lain, ia mungkin memiliki satu maksud yang baik. Ia mungkin memiliki satu hati yang baik ingin membaurkan pengelolaan Perjanjian Lama dengan iman dalam Kristus. Kita juga perlu menyadari bahwa Yakobus memiliki satu hati yang lapang. Ini ditunjukkan oleh fakta bahwa ia tidak mengusulkan agar kaum beriman Kafir disunat. Perhatikanlah pemecahan yang diusulkannya terhadap masalah mengenai sunat selama persekutuan yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15: “Sebab itu aku berpendapat bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari hal-hal yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat” (ay. 19-21). Yakobus menjelaskan bahwa bangsa-bangsa Kafir tidak perlu disunat atau memelihara hukum Taurat. Ia hanya meminta agar mereka menjauhkan diri dari penyembahan berhala, percabulan, daging binatang yang mati dicekik, dan dari darah.

Namun, Yakobus selanjutnya berpikir bahwa lebih baik kaum beriman Yahudi mempraktekkan hal-hal dari Perjan-jian Lama dan memelihara hukum Taurat. Yakobus sepertinya mengatakan, “Bangsa-bangsa Kafir tidak perlu memeli-hara hukum Taurat atau disunat. Tetapi kita orang-orang Yahudi harus mempraktekkan sunat dan memelihara hu-kum Taurat. Kita perlu mempraktekkan kehidupan yang benar-benar sama dengan yang dipraktekkan oleh nenek moyang kita dalam Perjanjian Lama. Memang, kita seka-rang memiliki iman dalam Kristus. Karena itu, mari kita memelihara hal-hal Perjanjian Lama dan iman kita dalam Kristus.” Saya percaya, inilah konsepsi Yakobus.

VISI YANG JELAS TENTANG TUBUH KRISTUS

Jika konsepsi Yakobus itu diterima di Asia Kecil dan Eropa, dalam pelaksanaannya bagaimana mungkin ada satu Tubuh bagi Kristus? Bukankah akan ada dua jenis gereja ,satu gereja Yahudi bagi kaum beriman Yahudi dan satu gereja Kafir bagi kaum beriman Kafir? Hal yang demikian sama sekali tidak mungkin.

Mengenai Tubuh, Paulus telah nampak satu visi yang jelas. Ia membicarakan tentang satu Tubuh dalam Roma 12:5 dan dalam 1 Korintus 12:13 ia berkata, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Selain itu, dalam Galatia 3:27-28 Paulus berkata, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Meskipun Paulus telah melihat satu visi yang jelas, tetapi dalam enam Surat Kirim-annya yang pertama - Roma, Galatia, 1 dan 2 Korintus, dan 1 dan 2 Tesalonika visi ini belum disajikan secara menye-luruh. Tidak diragukan lagi Paulus sedang menunggu waktu untuk menuliskan visi yang telah ia lihat itu.

KEDAULATAN TUHAN

YANG MENYELAMATKAN PAULUS

Ketika Paulus melihat situasi percampuran di Yeru-salem itu, ia pasti sangat berbeban terhadapnya. Mungkin ketika Yakobus memaparkan kepada Paulus dalam pasal 21 mengenai ribuan orang Yahudi yang percaya dan yang bergairah terhadap hukum Taurat dan mengenai Paulus bergabung dengan nazar orang nazir, ia bingung hendak melakukan apa. Mungkin ia berkata kepada dirinya sendiri, “Secara manusia, aku harus melakukan apa yang dikatakan Yakobus. Setelah aku melalui waktu yang genting ini, aku dapat memiliki kesempatan lain untuk membetulkan atau menjernihkan situasi di Yerusalem.” Mungkin inilah pemikiran Paulus sewaktu ia memenuhi usulan Yakobus (21:23-26).

Namun, Tuhan tidak membiarkan Paulus menyelesai-kan hari-hari penyucian dirinya. Paulus, sebuah bejana pilihan, adalah satu-satunya bejana yang dipakai Tuhan untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Bagaimana Tuhan dapat membiarkan bejana yang demikian menyelesaikan hari-hari penyucian diri, yang melibatkan Bait Allah, imamat, dan persembahan kurban binatang dengan pencurahan darah? Semua hal itu telah diakhiri oleh ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tuhan tidak dapat ber-toleransi terhadap hal ini. Maka, menjelang saat-saat terakhir, pada waktu nazar Paulus akan diselesaikan, Tuhan masuk, dan terjadilah satu kerusuhan besar. Itu adalah pelaksanaan kedaulatan Tuhan atas Paulus untuk menyelamatkan dia dari dilema itu.

Dalam Kisah Para Rasul 21, Paulus berada dalam bahaya akan dibunuh, dan pasti takut akan hal ini. Jika kepala pasukan Romawi tidak menengahinya, Paulus pasti terbunuh. Tetapi tangan Tuhan yang berdaulat mengontrol segala sesuatu untuk menyelamatkan Paulus dari situasi itu dan memelihara nyawanya. Kemudian setelah Paulus membela diri di hadapan orang-orang Yahudi yang mengacau itu (21:40 — 22:21), dibelenggu oleh orang-orang Roma (22:22-29), dan membela diri di hadapan Mahkamah Agama (22:30 — 23:10), ia didorong oleh Tuhan. Menurut 23:11, “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma.” Ini adalah satu dorongan yang besar bagi Paulus dan meyakinkan dia bahwa ia tidak akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Kita semua perlu memiliki satu pandangan yang jelas tentang situasi Paulus pada butir ini dalam kitab Kisah Para Rasul.

KITA PERLU NAMPAK EKONOMI ALLAH

DAN MEMILIKI PERALIHAN ZAMAN

Pada butir ini kita perlu memperhatikan situasi pada hari ini. Secara keseluruhan, kekristenan bukanlah satu kesaksian dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga. Ada banyak percampuran dalam kekristenan, bukan hanya satu unsur Yudaisme, tetapi juga banyak unsur lainnya. Percampuran itu telah berlangsung sedemikian rupa sehingga di antara jutaan orang Kristen sangat sedikit yang mengenal apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu. Sebagian besar, orang-orang Kristen yang fundamental mengetahui penebusan Kristus dengan agak dangkal. Selain itu, mereka mengajar orang-orang menjadi etis dan bermoral untuk memuliakan Allah. Di antara teman-teman Kristen Anda, adakah yang mengenal ekonomi Perjanjian Baru Allah untuk mengembangbiakkan Kristus yang bangkit dan menyalurkan Kristus ini ke dalam kaum beriman, supaya mereka dapat menjadi anggota-anggota yang hidup, untuk membentuk Tubuh Kristus dalam zaman ini untuk mengekspresikan Allah Tritunggal? Di mana Anda dapat menemukan kaum beriman yang mengenal hal ini?

Karena kebanyakan orang Kristen pada hari ini tidak nampak visi mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam firman itu, saya berbeban dalam Pelajaran-Hayat Kisah Para Rasul ini untuk menekankan ekonomi Allah. Saya tidak terbeban menjamah banyak butir kecil dalam kitab ini. Misalnya, ada orang bertanya kepada saya, mengapa dalam Kisah Para Rasul 18:18 dan 26 Priska disebutkan lebih dulu, baru Akwila, sedangkan dalam 1 Korintus 6:19 Akwila disebutkan lebih dulu, kemudian Priska. Saya tidak berminat membahas hal-hal kecil ini. Hati saya memperhatikan satu peralihan zaman. Sewaktu kita mempelajari kitab Kisah Para Rasul, kita harus belajar berkata, “Tuhan, kami perlu satu peralihan yang besar, satu peralihan zaman. Kami perlu dialihkan dari Yudaisme, dari kekristenan yang merosot ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kami perlu satu peralihan dari semua hal agamawi ke dalam wahyu yang murni tentang ekonomi Allah.”

Kita perlu tahu bahwa Allah ingin mengembangbiakkan Kristus yang bangkit dengan menyalurkan Dia ke dalam kita, supaya kita dapat menjadi anggota-anggota-Nya yang hidup yang dijenuhi dengan Dia dan disusun oleh Dia, supaya Kristus dapat memiliki satu Tubuh di bumi bagi ekspresi-Nya. Kemudian Dia akan mendatangkan Kerajaan-Nya, dan setelah itu akan ada perampungan akhir dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Keperluan kita adalah nampak hal ini dan mengalami satu peralihan zaman, supaya kita dapat berada di dalamnya secara riil.

Dalam berita-berita ini, beban saya bukan hanya mengajarkan Alkitab, tetapi juga menyajikan apa yang telah Tuhan perlihatkan kepada kita dari firman itu, dalam belas kasihan-Nya, mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Jika kita nampak visi ini, kita tidak akan peduli terhadap penentangan atau serangan. Orang-orang yang menentang pemulihan Tuhan tidak memiliki pandangan, visi mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita tidak dapat menyangkal bahwa kita telah nampak visi ini, dan kesaksian kita mengenainya akan menjadi semakin kuat. Dalam membaca kitab Kisah Para Rasul, kiranya kita mencurahkan seluruh perhatian kita dan mengkonsentrasikan seluruh diri kita kepada visi tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah.