PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (25)
Pembacaan Alkitab:
Kis. 21:18-39; Mat. 17:1-8; Ibr. 1:1-3; 2:14; 3:1; 8:6; 9:15;
Ef. 1:17-23; 2:14-16; 3:8, 17-21; 4:4-6, 24; 5:18; 6:11;
Flp. 3:4-14; Kol. 1:12, 15, 18; 2:2, 9, 16-17; 3:4, 10-11;
Why. 2:7, 17; 3:5, 20
Sebelum kita melanjutkan Pelajaran-Hayat ini ke bagian lain dari kitab Kisah Para Rasul, saya ingin memberikan satu perkataan lebih jauh mengenai perlunya suatu peralihan zaman, peralihan dari ekonomi Perjanjian Lama ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.
BERLALUNYA EKONOMI PERJANJIAN LAMA
Mengenai perkara peralihan zaman, mari kita melihat perkara Petrus. Di gunung pengubahan Petrus mengambil pimpinan mengusulkan kepada Tuhan bahwa ia akan membangun tiga kemah, satu untuk Musa, satu untuk Elia, dan satu untuk Tuhan Yesus (Mat. 17:4). “Tiba-tiba sementara ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (ayat 5). Ketika murid-murid mendengar hal ini, tersungkurlah mereka. Ketika mereka mengangkat kepala mereka, “mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri” (ayat 8). Musa dan Elia telah hilang, dan hanya Yesus yang tetap ada. Petrus mengusulkan untuk menempatkan Musa dan Elia, yaitu hukum Taurat dan para nabi, bersama Kristus, tetapi Allah menyingkirkan Musa dan Elia, tidak meninggalkan seorang pun selain Yesus. Tidak ada seorang pun selain Yesus yang boleh tinggal dalam Perjanjian Baru. Yesus adalah Musa hari ini, sebagai yang demikian, Dia memberikan hukum hayat ke dalam kaum beriman-Nya. Yesus juga adalah Elia hari ini, sebagai yang demikian, Dia berbicara bagi Allah dan menyampaikan Allah ke dalam kaum beriman-Nya. Inilah ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Dalam Matius 17:1-8 kita memiliki satu wahyu yang jelas tentang fakta bahwa dengan kedatangan Yesus, baik Musa maupun Elia telah berlalu. Musa dan Elia mewakili seluruh Perjanjian Lama, dengan Musa mewakili hukum Taurat dan Elia mewakili para nabi. Menurut adat istiadat Yahudi, Perjanjian Lama dianggap memiliki dua bagian utama Hukum Taurat dan Nabi-nabi. Bahkan Mazmur juga dianggap sebagai bagian dari Hukum Taurat. Karena itu, fakta bahwa Musa dan Elia telah berlalu itu menun-jukkan bahwa seluruh Perjanjian Lama, yang terdiri dari Hukum Taurat dan Nabi-nabi, telah berlalu.
Petrus memiliki pengalaman melihat penglihatan di gunung pengubahan, dan kemudian dalam Surat Kirimannya yang kedua, ia menyinggung apa yang terjadi di gunung itu (2 Ptr. 1:16-18). Lalu, mengapa Petrus tidak mengatakan apa-apa tentang penglihatan ini ketika Yakobus mempertahankan untuk memelihara ekonomi Perjanjian Lama bersama ekonomi Perjanjian Baru? Saya merasa hal ini sulit dipahami. Dalam Kisah Para Rasul 21, apakah Petrus tidak ingat akan penglihatan yang telah dilihatnya dalam Matius 17 dan yang kemudian dituliskannya dalam 2 Petrus 1?
Sesungguhnya Petrus tahu tentang berlalunya ekonomi Perjanjian Lama. Di gunung pengubahan ia pasti telah terkesan dengan hal ini. Ia mendengar suara yang terdengar dari awan mengumumkan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia!” (Mat. 17:5). Ia juga telah melihat Musa dan Elia bersama Yesus, dan kemudian ia melihat bahwa Musa dan Elia hilang dan tinggal Yesus seorang diri. Mengapa, setelah mendengar perkataan ini dan setelah melihat penglihatan ini, Petrus diam saja dalam Kisah Para Rasul 21? Mengapa ia tidak bangkit dan berkata, “Saudara Yakobus, izinkan saya memberi tahu Anda apa yang saya dengar dan lihat di atas gu-nung pengubahan. Musa dan Elia, Hukum Taurat dan Nabi-nabi, telah berlalu. Kita tidak boleh lagi berpegang kepada ekonomi Perjanjian Lama. Melakukan hal itu bertentangan dengan pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya.” Namun, Petrus diam saja dan tidak berbicara demikian kepada Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21. Demikian juga, tidak ada petunjuk bahwa Yohanes, yang bersama-sama Petrus di gunung pengubahan, mengatakan sesuatu kepada Yakobus mengenai hal itu pada saat itu. Baik Petrus maupun Yohanes tidak berdiri untuk bersaksi mengenai penglihatan yang telah mereka lihat dan perintah yang telah mereka terima di gunung pengubahan.
TIGA PERINTAH YANG DITEKANKAN
Dalam Matius 28:19-20a Kristus yang bangkit berkata kepada murid-murid-Nya, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepada-mu.” “Bangsa” mengacu kepada bangsa-bangsa Kafir. Murid-murid disuruh memuridkan bangsa-bangsa Kafir dengan membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal. Perintah Tuhan kepada murid-murid dalam Matius 28:19 itu sangat ditekankan.
Menurut Markus 16:15, Tuhan, setelah kebangkitan-Nya dan sebelum kenaikan-Nya, memerintahkan sebelas murid itu dengan berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Dalam ayat ini “makhluk” terutama mengacu kepada bermacam-macam orang, meskipun ia mencakup lebih banyak daripada ini. Seperti dalam Matius 28:19, di sini Tuhan memerintahkan murid-murid untuk memberitakan Injil kepada semua orang, kepada semua bangsa.
Setelah kebangkitan-Nya dan sebelum kenaikan-Nya, Tuhan Yesus mengatakan firman lainnya kepada murid-murid untuk menunjukkan bahwa Injil itu harus diberitakan kepada semua bangsa. Dalam Lukas 24:47 Dia memberi tahu mereka bahwa “dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.” Jika kita melihat tiga perintah ini pada akhir kitab Matius, Markus, dan Lukas, kita akan melihat betapa tegas, tepat, berat, dan mutlak perintah itu.
SITUASI PERCAMPURAN DI YERUSALEM
Terhadap situasi percampuran di Yerusalem, Petrus dan Yohanes diam saja. Tidak ada catatan bahwa mereka melakukan sesuatu untuk mengurangi percampuran ini. Sebaliknya, menurut catatan Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul, hanya Paulus yang menanggung beban perkara ini. Kelihatannya Petrus dan Yohanes tidak menaruh perhatian terhadap hal ini. Jika mereka memperhatikan, mereka seharusnya berbicara dengan tegas kepada Yakobus dan berkata, “Yakobus, sebelum Anda diselamatkan, kami telah mendengar firman dan melihat penglihatan tentang berlalunya ekonomi Perjanjian Lama ini.”
Menurut catatan Perjanjian Baru, Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21 adalah saudara Tuhan Yesus di dalam daging. Bersama saudara Tuhan lainnya, Yakobus diselamatkan setelah kebangkitan Tuhan, jika tidak sesaat sebelum waktu itu. Karena itu, Yakobus mungkin ada ketika satu atau lebih perintah yang tercatat di akhir kitab Matius, Markus, dan Lukas itu diberikan. Ia pasti tahu bahwa Tuhan telah memerintahkan murid-murid untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa.
Mengapa murid-murid, termasuk Yakobus, kelihatannya acuh tak acuh terhadap perkataan Tuhan mengenai memberitaan Injil kepada semua bangsa dan sebaliknya menaruh begitu banyak perhatian kepada Perjanjian Lama? Wahyu yang diberikan kepada murid-murid dan perintah Tuhan itu jelas, tepat, berat, dan mutlak. Karena itu, semua murid seharusnya jelas mengenai ekonomi Allah. Tetapi di tengah-tengah situasi di Yerusalem itu, tidak satu pun dari antara mereka yang memperhatikan perintah Tuhan. Sebaliknya, mereka senang berada di dalam percampuran dari zaman Perjanjian Lama dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Kisah Para Rasul 21:19 mengatakan bahwa Paulus, setelah memberi salam kepada Yakobus dan semua penatua, “lalu menceritakan dengan terperinci apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain melalui pelayanannya.” Ketika mereka mendengar hal ini, mereka memuliakan Allah (ay. 20). Kemudian Yakobus mengambil pimpinan berkata kepada Paulus, “Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (ay. 20). Sungguh memalukan, Yakobus mengata-kan perkataan demikian. Jika saya menjadi Petrus dan mendengar perkataan ini, saya akan merasa malu sekali.
Dalam pasal-pasal yang awal dari kitab Kisah Para Rasul, Petrus itu berani. Ia dan Yohanes sangat kuat ketika mereka menghadapi penentangan dari Mahkamah Agama. Namun dalam pasal 15-21, Petrus kelihatannya kehilangan keberaniannya. Menurut perkataan Paulus dalam Galatia 2, Petrus bahkan melakukan kemunafikan mengenai percampuran ini. Betapa kasihan situasi di Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 21! Kita semua perlu terkesan dengan gambaran dari situasi ini. Namun kita tidak boleh menyalahkan Petrus, karena, prinsipnya, kita juga berada dalam situasi yang sama pada hari ini.
Memang benar bahwa sejak Kisah Para Rasul 15 Paulus sangat terganggu di dalam rohnya tentang situasi di Yeru-salem. Karena bebannya yang berat mengenai hal ini, maka selama perjalanan ministrinya kali ketiga, ia tidak dapat melupakan Yerusalem. Dalam 19:21, dalam rohnya ia berminat pergi ke Yerusalem. Tujuannya bukan hanya untuk melaksanakan perhatian kasih bagi keperluan orang-orang kudus yang miskin di Yerusalem, tetapi juga untuk mengadakan persekutuan dengan Yakobus dan saudara-saudara lainnya mengenai percampuran di sana. Secara luaran, Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem untuk membawa bantuan keuangan dari kaum beriman Kafir kepada orang-orang di Yudea. Sebenarnya, dalam roh dan hati Paulus ada perhatian terhadap situasi yang mengerikan di Yerusalem; Yerusalem yang adalah sumber dari pergerakan Tuhan di bumi. Menurut pemahaman Paulus, sumber itu telah terce-mar. Karena itu, ia tidak bisa dengan tenang meneruskan pergerakan Tuhan lebih jauh. Ia tahu bahwa tidak peduli berapa banyak pekerjaan yang ia genapkan dalam dunia Kafir, arus yang telah tercemar dari Yerusalem itu akan mengalir ke sana. Sadar akan hal ini, maka dalam rohnya Paulus bermaksud kembali kepada sumber itu dengan tujuan berusaha membersihkan situasi itu, membersihkan polusi itu. Ini juga adalah kedambaannya untuk melanjutkan perjalanan dari sana ke Roma, dan bahkan ke Spanyol, bagi perluasan Injil guna melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.
TUHAN YANG BERDAULAT, BERSIMPATI,
DAN TIDAK BERTOLERANSI
Kelihatannya ketika Paulus pergi ke Yerusalem untuk kali terakhir, ia tidak memiliki kesempatan untuk membantu perkara-perkara di sana. Sebaliknya, pintu itu telah ditutup rapat dan ia ditekan oleh Yakobus dan para penatua ke dalam satu situasi yang sangat sulit. Setelah tidak mendapatkan jalan keluar, ia bertindak atas usulan mereka, pergi ke Bait Allah untuk menyucikan diri dengan empat orang yang bernazar orang nazir. Tetapi, seperti yang telah kita lihat, Tuhan tidak bertoleransi dengan hal ini.
Dalam 21:23-24 Yakobus berkata kepada Paulus, “Di antara kami ada empat orang yang bernazar. Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau, lakukanlah upacara penyucian diri bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat.” Kita telah melihat bahwa nazar dalam ayat 23 adalah nazar orang nazir (Bil. 6:2-5), dan bahwa menyucikan diri bersama-sama orang nazir adalah menjadi seorang nazir bersama mereka dan bergabung dengan mereka dalam nazar mereka.
Kisah Para Rasul 21:26 melanjutkan, “Pada hari berikutnya Paulus membawa orang-orang itu serta dengan dia, dan ia menyucikan diri bersama-sama dengan mereka, lalu masuk ke Bait Allah untuk memberitahukan kapan upacara penyucian itu akan selesai dan persembahan akan dipersembahkan untuk mereka masing-masing.” Ini adalah satu perkara yang sangat serius. Nazar seorang nazir itu bukanlah sesuatu yang biasa; melainkan istimewa, khusus, dan luar biasa. Selain itu, persembahan-persembahan yang berhubungan dengan nazar orang nazir itu khusus. Karena itu, sulit untuk dipercayai bahwa Rasul Paulus mau kembali ke Bait Allah, berbagian dalam nazar orang nazir, dan menunggu para imam untuk mempersembahkan kurban baginya dan bagi yang lainnya.
Menurut apa yang Paulus tuliskan dalam surat-surat Kirimannya kepada orang-orang Roma dan orang-orang Galatia, ia tidak seharusnya kembali ke Bait Allah, dan se-sungguhnya ia tidak boleh berbagian dalam nazar ini. Maka, tidak heran, Tuhan tidak bertoleransi dengan hal ini. Paulus mungkin berusaha untuk memelihara suasana damai, tetapi Tuhan membiarkan kerusuhan terjadi melawan Paulus.
Adalah satu perkara yang serius bagi seorang rasul seperti Paulus, setelah menulis Surat Kiriman kepada orang-orang Roma dan orang-orang Galatia, untuk menggabungkan dirinya dengan orang-orang yang mengucapkan nazar orang nazir dan pergi bersama-sama mereka ke Bait Allah untuk menyucikan diri dan kemudian tetap tinggal di dalam Bait itu sampai imam datang mempersembahkan kurban. Tuhan bertoleransi dengan nazar pribadi Paulus dalam 18:18, tetapi Dia tidak bertoleransi dengan Paulus menggabungkan diri dengan nazar orang nazir dalam pasal 21.
Sebenarnya, Paulus bahkan tidak bernazar dalam pasal 18. Dalam Galatia 2:20 ia mengumumkan bahwa ia telah disalibkan bersama Kristus. Di sana Paulus seolah-olah berkata, “Aku, Paulus orang Yahudi, telah disalibkan bersama Kristus. Sekarang bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Namun, dengan bernazar secara Yahudi, Paulus tidak hidup sebagai seorang Kristen melainkan sebagai seorang Yahudi, karena ia mengikuti praktek Yahudi, bukan praktek seorang Kristen.
Semua orang beriman di Yerusalem adalah orang-orang Yahudi. Di Anthiokialah kaum beriman itu untuk kali pertama disebut Kristen (11:26). Sudahkah Paulus lupa dengan istilah “Kristen” ketika dalam Kisah Para Rasul 18 ia melaksanakan praktek seorang Yahudi? Haruskah seorang Kristen bernazar untuk pengucapan syukur dengan cara Yahudi? Jika tidak, mengapa Paulus melanjutkan mempraktekkan sesuatu yang Yahudi? Meskipun Tuhan bertoleransi dengan praktek itu, Dia tidak bertoleransi dengan apa yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 21, ketika Paulus menunggu waktu sampai para imam mempersembahkan kurban pada penyelesaian hari-hari penyucian diri itu.
Dari 21:27 dan seterusnya kita melihat kedaulatan Tuhan dengan cara khusus. Kita juga melihat simpati-Nya. Di satu pihak, Paulus itu setia. Ia bahkan rela kehilangan nyawanya demi nama Tuhan (20:24; 21:13). Ia siap “untuk mati di Yerusalem demi nama Tuhan Yesus” (21:13). Di pihak lain, Paulus itu masih manusia dan tidak dapat menolong dirinya sendiri dalam Kisah Para Rasul 21. Tuhan tidak memiliki siapa pun yang lebih baik atau lebih setia daripada Paulus. Karena itu, pertama-tama Tuhan menengahi untuk menyelamatkan Paulus dari percampuran di Yerusalem dan kemudian menyelamatkannya dari orang-orang Yahudi yang berkomplot untuk membunuhnya. Akhirnya, ia ditempatkan di dalam tahanan Roma, terpisah dari kesulitan-kesulitan dan gangguan-gangguan. Dengan demikian ini Tuhan memberikan satu waktu yang tenang kepada Paulus untuk menulis Surat-surat Kirimannya yang terakhir. Khususnya, Paulus diberi kesempatan untuk menuliskan empat Surat Kiriman yang penting, yaitu kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose. Sekarang mari kita melihat dengan singkat keempat surat kiriman ini, yang seharusnya dikelompokkan bersama-sama.
EMPAT SURAT KIRIMAN YANG PENTING
Ibrani
Dalam kitab Ibrani kita melihat bahwa Kristus jauh lebih unggul daripada segala sesuatu yang ada dalam Yuda-isme. Dalam Yudaisme ada Allah. Menurut Ibrani 1, Kristus adalah Allah itu. Selain itu, dalam Ibrani 2 kita melihat bahwa Kristus juga manusia. Allah dalam Yudaisme itu Allah semata, tetapi Allah dalam Perjanjian Baru adalah Allah dan manusia, manusia-Allah. Sebagai manusia-Allah yang demikian, Kristus lebih unggul daripada malaikat-malaikat, butir penting lainnya dari Yudaisme. Lagi pula, kitab Ibrani mewahyukan bahwa Kristus lebih unggul dari-pada Musa, Yosua, dan Harun, sang imam.
Menurut kitab Ibrani, perjanjian baru yang dilaksanakan oleh Kristus lebih unggul daripada perjanjian lama yang dilaksanakan oleh Musa (8:6-13), dan kurban Kristus yang unik itu lebih unggul daripada kurban-kurban yang lama (10:9-10, 12, 14). Allah sekarang hanya memperhatikan kurban Kristus yang unik, yang telah mengakhiri dan menggantikan semua kurban Perjanjian Lama.
Dalam kitab Ibrani Paulus menyajikan satu gambaran yang jelas yang memperlihatkan kepada kita bahwa hal-hal dalam Perjanjian Lama itu telah berlalu. Apa yang tetap ada sekarang dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah Yesus Kristus, Sang almuhit. Setelah melihat pandangan yang demikian, Paulus tidak dapat bertoleransi dengan percam-puran antara Kristus yang almuhit dengan hal-hal yang lebih rendah dari ekonomi Perjanjian Lama yang ketinggalan zaman.
Efesus
Dalam kitab Efesus Paulus menunjukkan bahwa semua orang beriman, baik orang Yahudi maupun orang Kafir, memerlukan roh hikmat dan wahyu untuk melihat panggilan Allah, yang menghasilkan gereja, Tubuh Kristus, kepenuhan dari Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu (1:17-23). Dalam Efesus 2 Paulus melanjutkan bahwa semua ketentuan dalam hukum Taurat Perjanjian Lama telah dibatalkan melalui kematian Kristus di atas salib supaya dalam Kristus, orang Yahudi dan orang Kafir, dapat diciptakan menjadi satu manusia baru (ay. 14-16). Dalam pasal 3 kita melihat bahwa kekayaan-kekayaan Kristus harus menjadi penyusun kehidupan gereja, dan bahwa kita perlu membiarkan Kristus membuat tempat tinggal-Nya di dalam hati kita supaya kita dapat dipenuhi kepada semua kepenuhan Allah Trituggal, untuk menjadi ekspresi-Nya yang penuh (ay. 8, 17-29). Dalam pasal 4 Paulus membicarakan tentang satu Tubuh, satu Roh, satu Tuhan, dan satu Allah (ay. 4-6). Tubuh ini disusun dan dibaurkan dengan Allah Tritunggal untuk menjadi manusia baru (ay. 24). Setelah ini, dalam pasal 5 Paulus menunjukkan bahwa manusia baru harus dipenuhi di dalam roh dengan Allah Tritunggal untuk memiliki satu hayat yang adalah ekspresi Allah Tritunggal di dalam Kristus (ay. 18). Akhirnya, dalam Efesus 6 kita melihat bahwa kita harus melakukan peperangan rohani bagi Kerajaan Allah (ay. 11). Ini adalah satu ringkasan yang singkat tentang wahyu dalam kitab Efesus.
Filipi
Dalam Filipi 3:7 Paulus berkata, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Paulus adalah orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat ia adalah seorang Farisi (3:5). Namun ia menganggap semua hal Yahudi, semua hal dari Perjanjian Lama, seperti sampah, supaya ia dapat memperoleh Kristus (3:8). Paulus tahu bahwa dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah Kristus harus menjadi segala sesuatu. Karena itu, Paulus mengejar Kristus supaya ia dapat menempuh satu kehidupan yang ditemukan di dalam Kristus (3:9-14).
Kolose
Menurut wahyu dalam kitab Kolose, Kristus adalah realitas dari setiap hal yang positif. Kristus adalah bagian yang diberikan Allah kepada orang-orang kudus (1:12), gam-bar Allah (ay. 15), yang Sulung dari semua ciptaan (ay. 15), yang Sulung dari antara orang mati (ay. 18), rahasia Allah (2:2), perwujudan dari Ke-Allahan (2:9), hari raya, bulan baru, dan Sabat kita (2:16-17), dan hayat kita (Kol. 3:4). Dalam kitab Kolose kita melihat bahwa Kristus menjadi segala sesuatu bagi kita. Kolose juga mengatakan dengan jelas bahwa dalam manusia baru, yang tersusun dari semua orang beriman, tidak boleh ada orang Yunani dan orang Yahudi, sunat dan tidak bersunat, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
Jika kita memperhatikan kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose bersama-sama, kita dapat melihat bahwa bagi orang yang telah diterangi seperti Paulus, tidak ada yang lain dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah selain Kristus. Namun, apa yang Paulus lihat di Yerusalem selama kun-jungan terakhirnya adalah satu percampuran. Sesuatu dari Kristus telah dicampurkan dengan hal-hal dari ekonomi Perjanjian Lama.
BERBALIK KEPADA KRISTUS
SEBAGAI POHON HAYAT, MANNA,
DAN PERJAMUAN KITA
Melalui ministri penggenapan Paulus (Kol. 1:25) Kristus yang almuhit diwahyukan dengan penuh. Dalam empat belas Surat Kiriman Paulus, khususnya dalam kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose, Kristus diwahyukan sebagai segala sesuatu bagi gereja dan bagi orang-orang kudus. Tetapi menjelang kitab Wahyu ditulis, pandangan tentang Kristus yang almuhit ini hampir-hampir telah hilang sama sekali. Hilangnya pandangan ini ditunjukkan oleh tujuh Surat Kiriman dalam Wahyu 2-3. Kristus, Sang Kepala Tubuh, datang memanggil para pemenang untuk mengatasi situasi yang merosot. Para pemenang dalam kitab Wahyu tidak hanya mengalahkan dosa, dunia, dan daging; mereka khususnya mengalahkan situasi yang merosot yang di da-lamnya pandangan yang jelas tentang Kristus yang almuhit itu telah hilang.
Dalam Wahyu 2:7 Tuhan Yesus berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah.” Dalam 2:17 Dia melanjutkan berkata, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.” Selain itu, dalam 3:20 Tuhan berkata, “Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Ayat-ayat ini membicarakan tentang pohon hayat, manna yang tersembunyi, dan perjamuan bersama Tuhan. Di sini Tuhan seolah-olah berkata, “Kalian perlu menikmati Aku dan melupakan praktek-praktek dan bentuk-bentuk yang di luar. Langsung berbalik kepada-Ku sebagai pohon hayat, manna, dan perjamuan kalian. Beralihlah dari semua percampuran dan hal-hal yang menggantikan Aku di dalam gereja-gereja yang merosot, kembalilah kepada-Ku sebagai segala sesuatu kalian.”
Problema dalam situasi yang merosot pada hari ini adalah banyak hal yang menggantikan Kristus yang almuhit. Kita perlu berpaling dari semua pengganti itu dan langsung berbalik kepada Kristus yang almuhit sebagai pohon hayat, manna yang tersembunyi, perjamuan, dan segala sesuatu kita. Kita perlu berbalik kepada Dia untuk menikmati, bukan hanya sebagai doktrin. Kita perlu berbalik kepada-Nya bukan hanya untuk mengenal Dia secara obyektif, tetapi juga untuk menikmati Dia sebagai pohon hayat, manna yang tersembunyi, dan perjamuan.
Mengatasi situasi yang merosot di antara orang-orang Kristen pada hari ini dan langsung berbalik kepada Kristus yang dapat dinikmati sebagai pohon hayat, manna yang tersembunyi, dan perjamuan kita adalah mengalami satu peralihan yang riil. Ini adalah satu peralihan keluar dari agama usang yang merosot ke dalam satu pemulihan yang mutakhir, pemulihan kenikmatan akan Kristus. Hari ini, Kristus ini bukan hanya Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45) Dia juga adalah Roh yang diperkuat tujuh kali ganda (Why. 5:6).
Kita memerlukan satu pandangan yang menyeluruh atas situasi yang merosot pada hari ini dan juga melihat bahwa maksud Tuhan adalah membawa kita kembali kepada diri-Nya sendiri, supaya kita dapat sepenuhnya dipulihkan kepada kenikmatan akan Dia. Setiap hari kita harus mengetahui satu hal saja menikmati Kristus sebagai pohon hayat, manna yang tersembunyi, dan hari raya. Kita perlu menikmati Kristus sebagai segala sesuatu, bahkan sebagai jubah putih kita (Why. 3:5) dan batu putih (2:17), guna membuat kita menjadi bahan-bahan bangunan bagi tempat tinggal kekal Allah. Keperluan kita pada hari ini adalah beralih dari agama yang merosot kepada realitas dari Kristus yang almuhit berdasarkan menikmati.