← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 7/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (23)

Pembacaan Alkitab: Kis. 21:18-26

Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang situasi Paulus dalam 21:18-26

MELAKUKAN PENYUCIAN DIRI BERSAMA DENGAN ORANG NAZIR

Kita telah melihat bahwa di satu pihak Yakobus dan semua penatua memuliakan Allah ketika mereka mendengar tentang hal-hal yang telah dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa Kafir melalui ministri Paulus (ay. 18-20a). Di pihak lain, mereka menunjukkan kepada Paulus bahwa di Yerusalem ada ribuan orang Yahudi yang percaya dan rajin memelihara hukum Taurat (ay. 20). Selain itu, orang-orang Yahudi yang percaya ini telah mendengar mengenai Paulus bahwa ia mengajarkan “melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita” (ay. 21). Yakobus dan para penatua selanjutnya membuat tuntutan berikutnya terhadap Paulus: “Di antara kami ada empat orang yang bernazar. Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau, lakukanlah upacara penyucian diri bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat (ay. 23-24). Seperti yang telah kita lihat, nazar yang disinggung di sini adalah sumpah nazir (Bil 6:2-5). Menyucikan diri bersama dengan orang nazir berarti bersama mereka menjadi nazir, bersama mereka memenuhi nazar.

Menurut ayat 24, Paulus disuruh menyucikan diri bersama dengan empat orang yang telah bernazar terhadap diri mereka sendiri dan menanggung biaya mereka. Hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang nazir adalah menyucikan dirinya sendiri di hadirat Allah. Menurut adat istiadat pada waktu itu, orang yang kaya sering kali mau menanggung biaya persembahan-persembahan yang diperlukan untuk seorang nazir guna menyelesaikan penyucian dirinya. Kadang-kadang orang-orang nazir yang miskin tidak sanggup membayar semua biaya itu. Jadi, mereka memerlukan seseorang untuk membantu mereka mengenai biaya-biaya itu. Orang-orang yang membantu orang-orang nazir dengan cara ini menggabungkan diri dengan mereka.

Di sini dalam Kisah Para Rasul 21, menyucikan diri bersama orang nazir dan menanggung biaya mereka berarti Paulus menggabungkan diri dengan mereka sehingga empat orang itu menjadi lima orang. Dalam perkataan-perkataan Yakobus dan para penatua di Yerusalem, jika Paulus mau menyucikan diri bersama orang nazir dan mau menanggung biaya mereka, maka semua orang Yahudi yang percaya akan tahu bahwa Paulus sendiri juga hidup menurut perintah, dengan memelihara hukum Taurat. Tetapi apakah Paulus memelihara hukum Taurat? Ia jelas tidak memelihara hukum Taurat. Meskipun demikian, Yakobus dan para penatua menyuruh Paulus menggabungkan diri dengan empat orang nazir itu supaya kaum beriman Yahudi melihat bahwa ia memelihara hukum Taurat. Ini adalah satu tuntutan yang serius, mengerikan, dan keliru yang diajukan oleh Yakobus dan para penatua.

Dalam 21:25 Yakobus dan para penatua berkata kepada Paulus, “Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain yang telah percaya, sudah kami tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan.” Perkataan mereka di sini memiliki nada yang sama seperti yang dikatakan dalam pasal 15.

Kisah Para Rasul 21:26 mengatakan, “Pada hari berikutnya Paulus membawa orang-orang itu serta dengan dia, dan ia menyucikan diri bersama-sama dengan mereka, lalu masuk ke Bait Allah untuk memberitahukan kapan upacara penyucian itu akan selesai dan persembahan akan dipersembahkan untuk mereka masing-masing.” Penyelesaian yang dibicarakan di sini adalah penyelesaian dari nazar orang nazir (Bil. 6:13).

Saya ingin Anda memperhatikan perkataan “menyucikan diri.” Di sini kita melihat bahwa Paulus telah menyucikan diri bersama dengan empat orang nazir. Kemudian Paulus membawa mereka ke dalam Bait Allah dan menunggu bersama mereka sampai kurban mereka masingmasing dipersembahkan. Waktu menunggu ini ditunjukkan dengan kata “kapan”. Setelah menyucikan diri bersama empat orang itu, Paulus menunggu di Bait Allah sampai imam datang pada akhir penyelesaian penyucian diri, pada hari ketujuh, untuk mempersembahkan kurban bagi mereka semua, termasuk Paulus.

KOMPROMI DAN PEMBEBASAN PAULUS

Sulit dipercayai bahwa Paulus mau melakukan penyucian diri, masuk ke dalam Bait Allah, dan menunggu kurbankurban yang akan dipersembahkan oleh imam. Ia melakukan hal ini setelah menulis surat kirimannya kepada orang-orang Galatia dan orang-orang Roma, kitab-kitab yang ditulis tidak lama sebelum ia datang ke Yerusalem. Meskipun sulit untuk mempercayai bahwa Paulus melaksanakan perkataan Yakobus dan para penatua, tetapi ini adalah satu fakta bahwa ia menggabungkan diri dengan orang nazir dan pergi bersama mereka ke dalam Bait Allah.

Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, terjadi satu kerusuhan melawan Paulus (21:27 — 23:15), dan ia ditangkap oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem (21:27-30). Mengenai hal ini, 21:27-28 mengatakan, “Ketika masa tujuh hari itu sudah hampir berakhir, orang-orang Yahudi yang datang dari Asia, melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu mereka menghasut rakyat dan menangkap dia, sambil berteriak: Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!” Kerusuhan ini terjadi “ketika masa tujuh hari sudah hampir berakhir,” yaitu, pada hari ketujuh. Secara manusia, maksud Paulus pergi ke dalam Bait Allah adalah untuk menghindarkan kesulitan. Sebenarnya, kepergiannya ke dalam Bait Allah bersama dengan empat orang nazir justru mendatangkan banyak kesulitan baginya.

Seandainya, Paulus memutuskan untuk tidak pergi ke Bait Allah, melainkan tinggal dengan saudara-saudara di rumah Manason (tempat Paulus dan sekerja-sekerjanya menumpang) di Yerusalem. Seandainya lagi Paulus berkata kepada saudara-saudara, “Aku tidak peduli dengan Bait Allah, karena Allah telah putus hubungan dengannya. Saudara-saudara, bukankah Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa Allah telah meninggalkan Bait itu? Aku akan mempraktekkan perkataan Tuhan mengenai kita. Imamat dan semua kurban juga telah berlalu. Karena itu, aku tidak dapat kembali ke Bait Allah untuk mengambil bagian dalam persembahan dan Imamat. Saudara-saudara, aku ingin tinggal di sini untuk bersekutu dengan kalian.” Bukankah situasinya akan sangat berbeda jika Paulus memutuskan untuk tidak pergi ke Bait Allah dan sebaliknya meluangkan waktunya untuk bersekutu dengan saudara-saudara? Tentu-lah, situasinya akan sangat berbeda.

Dalam Kisah Para Rasul 21 Paulus berkompromi. Ia adalah penulis Surat Kiriman kepada orang-orang Galatia dan orang-orang Roma, namun tidak lama setelah Suratsurat Kiriman itu ditulis, ia mengambil langkah yang digambarkan dalam pasal ini. Dengan mengambil langkah yang demikian, Paulus melakukan suatu kompromi yang besar.

Menurut 21:26-27, Paulus berada di dalam Bait Allah menunggu berakhirnya hari-hari penyucian diri itu. Ia akan berada di dalam Bait itu sampai imam datang untuk mem-persembahkan kurban-kurban baginya dan bagi empat orang lainnya. Bagaimanakah Paulus dapat tahan tinggal di dalam Bait Allah selama periode waktu itu? Menurut Anda bahagiakah dia? Menurut Anda apakah ia memuji Tuhan dengan penuh sukacita? Paulus dapat memuji Tuhan ketika ia berada di dalam penjara di Filipi (16:23-25). Tetapi menurut Anda dapatkah ia memuji Tuhan di dalam Bait Allah di Yerusalem? Secara luaran, bagi Paulus Bait itu adalah tempat yang jauh lebih baik daripada penjara. Namun, penjara di Filipi itu sebenarnya menjadi tempat kudus, bahkan surga bagi Paulus, sedangkan Bait di Yerusalem itu adalah penjara baginya. Sebenarnya, Paulus dipenjara di dalam Bait itu, dan tidak dapat dibebaskan. Paulus telah “terperangkap” di dalam situasi itu.

Meskipun Paulus dipenjara di dalam Bait, tetapi Tuhan memiliki jalan untuk membebaskannya dari penjara. Tuhan memakai orang-orang Yahudi untuk menggenapkan pembe-basan ini. Khususnya, Tuhan memakai kerusuhan yang dipicu oleh orang Yahudi untuk membawa Paulus keluar dari Bait itu. Di satu pihak, Paulus berada di dalam kesulitan yang besar. Di pihak lain, Paulus dibebaskan bukan hanya dari Bait itu, tetapi juga dari percampuran antara kasih karunia Perjanjian Baru dengan hukum Taurat Perjanjian Lama di Yerusalem yang dihakimi oleh Allah. Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan melindungi hamba-Nya yang setia dari percampuran yang mengerikan itu.

PENGHANCURAN YERUSALEM

Kita telah menunjukkan bahwa kali terakhir Paulus pergi ke Yerusalem bukan hanya untuk melaksanakan perhatian kasihnya berkenaan dengan keperluan orang-orang kudus yang miskin di sana, tetapi juga untuk bersekutu dengan Yakobus dan para rasul serta penatua lainnya di Yerusalem mengenai pengaruh Yudaisme atas gereja di sana. Keputusan yang dibuat oleh rapat para rasul dan para pena-tua dalam Kisah Para Rasul 15 untuk memecahkan masalah mengenai sunat itu tidak sepenuhnya memuaskan dia. Ka-rena itu, dengan pergi ke Yerusalem, Paulus mungkin bermaksud membersihkan pengaruh Yudaisme atas gereja di sana. Namun, Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mem-bereskan situasi itu. Dalam kedaulatan-Nya Dia membiarkan Paulus ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan dipen-jara oleh orang-orang Roma. Kemudian Allah membiarkan campur aduk yang menyulitkan antara kasih karunia dengan hukum Taurat itu tetap ada di Yerusalem sampai kota itu dihancurkan oleh Titus dengan pasukan Romawinya pada tahun 70 M. Campur aduk itu berakhir kira-kira sepuluh tahun setelah peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 21.

Dalam Injil Matius, Tuhan Yesus menubuatkan peng-hancuran Yerusalem di masa mendatang. Misalnya, dalam perumpamaan dalam Matius 21:33-46 mengenai peralihan Kerajaan Allah, Tuhan menggambarkan para pemimpin bangsa Israel sebagai penggarap-penggarap yang jahat (ay. 33-35, 38-41), yang menunjukkan bahwa Allah akan “mem-binasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya.” Perkata-an ini mengenai penghancuran yang akan dipenuhi ketika Titus menghancurkan Yerusalem. Tuhan juga menubuat penghancuran Yerusalem dalam perumpamaan dalam Matius 22:1-14. Dalam Matius 22:7 Dia berkata, “Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk mem-binasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.” “Pasukan” ini adalah pasukan Romawi yang di bawah pimpinan Titus, menghancurkan Yerusalem.

Dalam Matius 23:37-39 kita melihat Tuhan meninggal-kan Yerusalem dengan Baitnya. Mengenai penghancuran bait itu, Tuhan berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu melihat semuanya itu? Sesungguhnya Aku berkata kepada mu, tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Mat. 24:2). Hal ini juga digenapkan ketika Titus menghancurkan Yerusalem. Menurut penjelasan yang diberikan oleh Josephus, penghancuran Yerusalem dan Baitnya adalah menyeluruh dan mutlak. Ribuan orang Yahudi terbunuh, mungkin termasuk banyak orang beriman Yahudi. Dalam murka-Nya Tuhan bukan hanya menghancurkan bangsa Israel yang memberontak; Dia juga mengakhiri Yudaisme dan percampuran Yudaisme dengan kekristenan. Ketika Yerusalem di-hancurkan, maka sumber “racun” yang mengalir keluar dari sana juga diakhiri. Karena itu, Tuhan memiliki cara-Nya yang menakjubkan untuk membereskan situasi di Yerusalem.

TUHAN SECARA BERDAULAT MEMBEBASKAN

PAULUS DAN MEMINDAHKAN DIA

Tuhan tahu apa yang ada dalam hati Paulus. Dia juga tahu bahwa Paulus setia, tetapi ia tidak dapat mengatasi situasi itu. Bukannya mengatasinya, Paulus malahan terpe-rangkap di dalamnya, berkompromi dengannya. Namun, Tuhan memakai kerusuhan yang digambarkan dalam 21:27—23:15 untuk menyelamatkan Paulus. Orang Yahudi menangkapnya dan menuntut untuk membunuhnya (21:30-31). Tetapi seorang kepala pasukan Romawi menengahinya, menangkapnya, dan menyuruh mengikat dia dengan dua rantai, dan menanyakan situasinya (21:31-33). Ini bukanlah maksud kepala pasukan itu untuk melindungi Paulus. Ia hanya memenuhi tugasnya untuk menjaga ketertiban di kota itu. Ia tidak dapat membiarkan kerusuhan semacam itu terus berlanjut. Karena itu, ia menengahi, dan melalui penengahannya itu Paulus diselamatkan. Sebenarnya, penengahan kepala pasukan itu telah melindungi Paulus dari komplotan orang Yahudi.

Melalui penengahan kepala pasukan Romawi, Paulus diberi kesempatan untuk membela diri di hadapan orang-orang Yahudi yang mengacau itu (21:40 — 22:21). Setelah itu, ia dibelenggu oleh orang-orang Roma (22:22-29) dan membela diri di hadapan Mahkamah Agama (22:30 — 23:10). Karena komplotan orang Yahudi itu (23:12-15), Paulus dipin-dahkan kepada wali negeri Roma di Kaisarea (23:16 — 24:27), di mana ia tetap tinggal di dalam tahanan untuk waktu yang cukup lama. Tanpa kedaulatan Allah dalam memakai kepala pasukan Romawi untuk melindungi Paulus, ia akan terbunuh. Allah secara berdaulat membebaskan Paulus keluar dari situasi yang mengancam itu.

Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan membuat Paulus mengalami pengalihan zaman. Paulus dikaruniai pengalihan yang demikian. Ia datang ke Yerusalem dengan maksud positif dan tujuan yang kuat guna membantu kaum beriman di sana untuk mengalami pengalihan zaman ini. Namun, bukannya membantu mereka, ia sendiri malah terperangkap di dalam situasi yang campur aduk dan kompromi.

Paulus pasti tidak gembira ketika ia berada di dalam Bait Allah bersama dengan keempat orang Nazir itu, karena ia tidak memiliki jalan keluar dari situasi itu. Paulus pasti menyesal bergabung dengan orang-orang yang mengucapkan nazar orang nazir. Ia mungkin menyesal pergi ke Bait Allah dan bukan tinggal di rumah Manason dengan sekerja-sekerjanya, menjauhkan dirinya dari perhatian orang Yahudi. Namun, Paulus menggabungkan diri dengan orang nazir dan pergi bersama mereka ke dalam Bait Allah, di mana ia di-lihat oleh orang Yahudi dari Asia dan ditangkap oleh mereka. Mereka bermaksud membunuhnya. Selain Tuhan, siapa yang dapat mengatasi situasi itu? Tuhan berdaulat dan membantu Paulus beralih sepenuhnya dari campur aduk Yudaisme di Yerusalem.

Hasil dari apa yang telah terjadi di Yerusalem, Paulus dibawa ke Kaisarea dan mungkin ditahan di sana selama dua tahun. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa dua tahun itu adalah satu waktu yang menguntungkan dan baik bagi Paulus. Menurut pendapat Anda, apa yang Paulus lakukan selama tahun-tahun itu di Kaisarea? Apa yang ia lakukan sewaktu ia ditahan dari pekerjaannya dan dari kesulitan yang dibuat oleh orang-orang Yahudi yang berkomplot itu? Ia mungkin bersiap untuk menulis kitab-kitab Efesus, Filipi, Kolose, dan Ibrani. Sewaktu Paulus ditahan di Kaisarea, ia mungkin memikirkan untuk menuliskan bahan-bahan yang akan melengkapi ministrinya. Sampai saat itu, Paulus baru menuliskan enam surat dari empat belas Surat Kirimannya: Roma, Galatia, 1 dan 2 Korintus, 1 dan 2 Tesalonika. Meskipun kitab-kitab ini bersifat mendasar, tetapi kitab-kitab ini tidak sepenting Efesus, Filipi, Kolose, dan Ibrani. Keempat kitab penting ini ditulis sebelum 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon ditulis, yakni setelah dua tahun Paulus berada di dalam tahanan di Kaisarea. Sebagaimana waktu Paulus di tanah Arab erat hubungannya dengan bagian awal dari ministrinya mula-mula, demikian juga dua tahun di Kaisarea memiliki hubungan yang erat dengan tulisan-tulisan Paulus yang akan datang dalam perampungan minis-trinya.

Kita perlu terkesan dengan kedaulatan Tuhan dalam melengkapi peralihan Paulus dari zaman yang lama kepada zaman yang baru. Puji Tuhan bahwa peralihan yang demikian telah terjadi! Dalam kedaulatan dan hikmat-Nya, Tuhan melaksanakan peralihan yang tuntas terhadap Paulus, dan peralihan ini sepenuhnya tercatat dalam firman kudus. Setelah memiliki catatan ini di tangan kita, kini kita dapat melihat satu teladan penuh mengenai peralihan yang tuntas dari ekonomi Perjanjian Lama kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah.