← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 4/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (20)

Pembacaan Alkitab: Kis. 20:13-38

GEREJA ITU DIBELI DENGAN

DARAH ALLAH SENDIRI

Dalam Kisah Para Rasul 20:28 Paulus berpesan kepada para penatua gereja di Efesus “untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Kata “diperoleh” dalam bahasa aslinya juga berarti didapatkan atau dibeli. Ketika kita membeli sesuatu, kita mendapatkannya, memperolehnya. Allah mendapatkan, memperoleh gereja dengan membelinya. Untuk membeli sesuatu, kita perlu membayar harga. Harga apakah yang Allah bayar untuk membeli gereja? Menurut perkataan Paulus dalam 20:28, Allah memperoleh gereja dengan membayar harga “darah-Nya sendiri”.

Frasa “darah-Nya sendiri” dalam ayat 28 itu sangat tidak biasa. Ini sangat sulit dipahami. Dapatkah Allah memiliki darah? Allah adalah Allah; Dia bukanlah seorang manusia atau satu makhluk ciptaan. Lalu, bagaimana Allah Sang Pencipta itu dapat memiliki darah?

Ada beberapa orang mungkin mencoba menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa darah dalam 20:28 adalah darah Yesus. Namun bagaimana darah Yesus dapat menjadi darah Allah? Tuhan Yesus adalah Allah, tetapi 20:28 tidak membicarakan tentang Yesus; ayat ini membicarakan tentang Allah. Sewaktu kita memikirkan hal ini, kita nampak bahwa hal ini sulit untuk dijelaskan secara teologis.

Lebih dari dua abad yang lalu, Charles Wesley menulis sebuah kidung yang membicarakan tentang Allah mati bagi kita. Dalam kidung ini, Wesley mengatakan:

Kasih yang menakjubkan! bagaimana mungkin

Engkau, Allahku, mati bagiku?

Dalam kidung ini Wesley selanjutnya mengatakan: Sungguh misteri! Dia Sang Hidup, rela mati! Siapa dapat memahami? Di sini Wesley mengumumkan bahwa Allah mati bagi kita. Ketika saya menerjemahkan kidung ini ke dalam bahasa China bertahun-tahun yang lalu, saya kesulitan dengan hal ini. Saya tidak yakin apakah harus dengan berani menerjemahkannya secara harfiah bahwa Allah mati bagi kita. Beranikah Anda mengatakan bahwa Allah mati bagi Anda? Charles Wesley melihat visi mengenai hal ini dan mengumumkannya di dalam kidungnya bahwa Allah mati bagi kita.

MANUSIA-ALLAH

Allah yang mati bagi kita itu bukanlah Allah sebelum inkarnasi. Sebelum inkarnasi, Allah memang tidak memiliki darah dan Dia tidak mungkin mati bagi kita. Setelah inkarnasi, yakni Allah berbaur dengan manusia, Dia baru mati bagi kita. Melalui inkarnasi, Allah kita, Sang Pencipta, Dia Sang kekal, Yehova, berbaur dengan manusia. Akibatnya, Dia bukan lagi hanya Allah Dia menjadi manusia-Allah. Sebagai manusia-Allah, Dia tentu memiliki darah dan dapat mati bagi kita.

Ketika manusia-Allah mati di atas salib, Dia bukan hanya mati sebagai manusia, tetapi juga sebagai Allah. Dia yang mati di atas salib adalah Dia yang telah dikandung dari Allah dan dilahirkan sebagai Persona yang memiliki Allah di dalam-Nya. Karena Dia adalah manusia-Allah, maka unsur Allah ada di dalam Dia. Unsur ilahi berbaur dengan insani-Nya.

Dalam keterkandungan Tuhan Yesus, manusia-Allah, esens ilahi yang berasal dari Roh Kudus (Mat. 1:18-20; Luk. 1:35) lahir di dalam rahim Maria. Keterkandungan dari Roh Kudus di dalam dara manusia ini, digenapkan dengan esens ilahi dan insani, yang menyusun satu perbauran antara sifat ilahi dengan sifat insani dan menghasilkan manusia Allah, Dia yang adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, yang memiliki sifat ilahi dan sifat insani secara khas, tanpa menghasilkan sifat ketiga. Ini adalah Persona Yesus yang paling ajaib dan sempurna.

Keterkandungan dan kelahiran Tuhan Yesus adalah inkarnasi Allah (Yoh. 1:14), yang tersusun dari esens ilahi ditambahkan kepada esens insani, sehingga menghasilkan manusia-Allah dengan dua sifat keilahian dan keinsanian. Melalui hal ini, Allah menyatukan diri-Nya sendiri kepada keinsanian agar Dia dapat dinyatakan di dalam daging (1 Tim. 3:16) dan dapat menjadi Juruselamat (Luk. 2:11) yang mati dan mencucurkan darah-Nya bagi kita.

DARAH YESUS, PUTRA ALLAH

Darah yang menebus manusia yang jatuh adalah darah Yesus, Putra Allah. Sebagai manusia, kita memerlukan darah manusia sejati untuk penebusan kita. Karena Dia adalah manusia, Tuhan Yesus dapat memenuhi tuntutan ini. Sebagai manusia, Dia mencucurkan darah manusia untuk menebus manusia yang jatuh. Tuhan juga adalah Putra Allah, bahkan Allah sendiri. Karena itu, pada darah-Nya ada unsur kekekalan, dan unsur ini memastikan khasiat darah-Nya yang kekal. Jadi, sebagai manusia Dia memiliki darah ma-nusia sejati, dan sebagai Allah Dia memiliki unsur yang memberikan khasiat yang kekal kepada darah-Nya.

1 Yohanes 1:7 mengatakan, “darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.” Nama “Yesus” menyatakan keinsanian Tuhan, yang diperlukan untuk pencurahan darah penebusan, dan sebutan “Anak-Nya” menyatakan keilahian Tuhan yang diperlukan untuk khasiat kekal darah penebusan. Jadi, “darah Yesus Anak-Nya” menunjukkan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari manusia yang sejati yang dicurahkan untuk menebus makhluk ciptaan Allah yang jatuh dengan jaminan ilahi sebagai khasiat kekalnya, khasiat yang mengungguli segalanya dalam ruang dan bersifat kekal dalam waktu.

Darah Tuhan yang dicucurkan di atas salib adalah darah Yesus, Putra Allah. Darah ini bukan hanya darah Yesus, tetapi juga adalah darah Putra Allah. Karena alasan ini, penebusan yang digenapkan oleh manusia Allah, oleh Dia yang berbaur dengan Allah, bersifat kekal.

Jika penebusan di atas salib itu hanya digenapkan oleh manusia saja, maka penebusan itu tidak dapat memiliki khasiat yang kekal. Meskipun penebusan itu mungkin berkhasiat bagi penebusan satu orang, tetapi penebusan itu tidak berkhasiat bagi penebusan berjuta-juta orang beriman. Karena manusia itu terbatas, maka seorang manusia saja tidak dapat mati untuk berjuta-juta orang lainnya. Namun, meskipun manusia itu terbatas, Allah tidak terbatas. Demikian juga, meskipun manusia itu bersifat sementara, Allah itu kekal. Karena itu, dalam penebusan Kristus ada unsur kekekalan dan tidak terbatas dari Allah. Inilah sebabnya, dalam Ibrani 9:12 penebusan ini disebut penebusan kekal.

Kita perlu melihat bahwa darah yang dicurahkan oleh Tuhan Yesus di atas salib adalah darah yang kekal. Ini bukan hanya darah seorang manusia, tetapi juga darah seorang manusia yang berbaur dengan unsur ilahi. Maka, darah ini, darah Yesus, darah Putra Allah, bersifat kekal. Dalam Kisah Para Rasul 20:28 Paulus memiliki keberanian untuk mengatakan darah ini sebagai darah Allah sendiri.

ALLAH YANG DIWAHYUKAN

DALAM PERJANJIAN BARU

Hari ini ada orang-orang Kristen yang memiliki suatu konsepsi tentang Allah yang mirip sekali dengan konsepsi orang Yahudi. Konsepsi orang Yahudi tentang Allah adalah: Allah adalah Allah; tidak ada unsur manusia di dalam-Nya. Tetapi menurut Alkitab, Allah yang ada dalam Perjanjian Lama telah menjadi Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama Allah hanyalah Allah saja, tanpa ada unsur manusia. Tetapi dalam Per-janjian Baru kita melihat manusia Allah. Melalui inkarnasi, Allah dalam Perjanjian Lama mengenakan sifat insani dan menjadi manusia Allah. Dengan demikian, Dia menjadi Allah yang dinyatakan di dalam daging (1 Tim. 3:16).

Allah menjadi manusia-Allah melalui dikandung di dalam rahim seorang dara manusia dan kemudian dilahirkan dari dara itu. Dengan cara ini unsur insani ditambahkan kepada unsur ilahi-Nya. Namun, ini bukan berarti sebagai manusia-Allah, Juruselamat ini memiliki dua pribadi. Tidak, Tuhan Yesus, Juruselamat, memiliki satu pribadi dengan dua sifat-sifat ilahi dan sifat insani. Meskipun ini sangat sulit dipahami, tetapi ini adalah satu fakta yang diwahyukan dalam Alkitab.

Sekarang kita dapat melihat bahwa Allah kita adalah Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru dan bukan hanya sebagai Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Lama. Namun, orang Yahudi hanya memiliki Allah sebagai Dia yang terlihat dalam Perjanjian Lama. Apakah perbedaan antara Allah orang Yahudi dengan Allah kita? Perbedaannya adalah Allah orang Yahudi itu hanya Allah saja tanpa unsur manusia, sedangkan menurut Perjanjian Baru, Allah kita bukan lagi hanya Allah saja Dia adalah manusia-Allah. Allah kita memiliki dua sifat, sifat ilahi dan sifat insani. Ini berarti Allah kita, manusia-Allah, adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna. Namun, Dia tidak memiliki dua pribadi; manusia-Allah ini hanya memiliki satu pribadi.

Meskipun kita selalu percaya dan mengajarkan bahwa manusia-Allah, Yesus Kristus, adalah satu pribadi dengan sifat ilahi dan sifat insani dan bahwa Dia adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, ada penentang-penentang yang dengan salah menuduh kita mengajarkan bahwa Kristus tidak sepenuhnya Allah dan juga tidak sepenuhnya manusia. Mereka menuduh kita mengatakan bahwa dua sifat itu, sifat ilahi dan sifat insani, berbaur di dalam Kristus untuk menghasilkan sifat ketiga. Tuduhan itu sama sekali salah dan tidak berdasar, dan kita menyang-kalnya.

Orang-orang yang membuat tuduhan terhadap kita juga memutar balikkan perkataan kita dalam buklet yang berjudul The Four Major Steps of Christ. Dalam buklet itu kita mengatakan dengan jelas dan tegas bahwa Juruselamat kita adalah Allah yang sejati dan manusia sejati. Melalui inkarnasi, tidak ada sifat ilahi atau sifat insani yang hilang. Sebaliknya, meskipun sifat ilahi dan sifat insani dibaurkan untuk membentuk manusia-Allah, sifat ilahi dan sifat insani itu tetap ada, dan tidak menghasilkan sifat ketiga. Meskipun kebenaran ini telah dengan jelas didefinisikan dan disajikan, tetapi diputar-balikkan dengan jahat untuk menuduh kita bidah mengenai pribadi Kristus. Menurut Kitab Suci, kita benar-benar percaya bahwa Juruselamat kita, yang telah mencucurkan darah-Nya bagi penebusan kita, mati di atas salib sebagai manusia-Allah.

DITINGGALKAN OLEH ALLAH SECARA

EKONOMIKAL

Karena kita telah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mati di atas salib sebagai manusia-Allah, ada beberapa orang mungkin bingung tentang Markus 15:34: “Pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eloi, Eloi, lema sabakhtani?, yang berarti: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Ini adalah seruan Tuhan selama Dia menanggung dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24), yang dijadikan dosa karena kita (2 Kor. 5:21), dan menggantikan tempat orang-orang berdosa (1 Ptr. 3:18). Ini berarti Allah menghakimi Dia sebagai Pengganti kita karena dosa-dosa kita. Dalam pandangan Allah, Kristus menjadi seorang dosa besar. Karena Kristus adalah Pengganti kita dan dijadikan dosa dalam pandangan Allah, maka Allah menghakimi Dia dan bahkan meninggalkan Dia.

Menurut Matius 1 dan Lukas 1, Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus. Kemudian untuk ministri-Nya, Dia diurapi dengan Roh Kudus yang turun ke atas-Nya (Luk. 3:22). Kita perlu nampak bahwa sebelum Roh yang meng-urapi itu turun ke atas diri Tuhan Yesus secara ekonomikal, Dia secara esensial telah memiliki Roh yang melahirkannya, sebagai esens ilahi di dalam Dia; ini adalah salah satu dari dua esens diri-Nya. Sekarang kita perlu nampak bahwa Roh yang melahirkan-Nya sebagai esens ilahi itu tidak pernah meninggalkan Dia secara esensial. Bahkan ketika Dia di atas salib berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Dia masih tetap memiliki Roh yang melahirkan-Nya sebagai esens ilahi. Lalu, siapakah yang meninggalkan Dia? Roh yang mengurapi (yang melalui-Nya Dia mempersembahkan diri-Nya kepada Allah Ibr. 9:14) meninggalkan Dia secara ekonomikal. Setelah Allah menerima Kristus sebagai persembahan yang almuhit, Roh yang mengurapi itu meninggalkan Dia. Tetapi meskipun Roh yang mengurapi itu meninggalkan Dia secara ekonomikal, Dia masih memiliki Roh yang melahirkan-Nya secara esensial.

Ketika Tuhan Yesus, manusia-Allah, mati di atas salib di bawah penghakiman Allah, Dia memiliki Allah di dalam-Nya secara esensial sebagai diri ilahi-Nya. Meskipun demikian, Dia ditinggalkan secara ekonomikal oleh Allah yang benar dan yang menghakimi. Dia dikandung dan dilahirkan dari Roh Kudus secara esensial dan karena itu Roh Kudus adalah salah satu esens diri-Nya. Sewaktu Tuhan Yesus bertumbuh dan hidup di bumi, Dia memiliki Roh Kudus di dalam Dia secara esensial. Kemudian, ketika Dia dibaptis, Dia memang telah memiliki Roh Kudus sebagai bagian esensial dari diri-Nya. Namun, pada waktu baptisan-Nya berlangsung, Roh Kudus turun ke atas-Nya secara ekonomikal. Ini berarti Tuhan Yesus memiliki Roh Kudus sebagai salah satu esens diri-Nya secara esensial dan juga memiliki Roh Kudus yang turun ke atas-Nya secara eko-nomikal. Tentunya, ini bukan berarti ada dua Roh Kudus. Ini berarti ada satu Roh Kudus yang memiliki dua aspek esensial dan ekonomikal. Aspek esensial adalah untuk diri, keberadaan, Tuhan Yesus, dan aspek ekonomikal adalah untuk pekerjaan-Nya, ministri-Nya.

Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa ketika Tuhan Yesus di atas salib mati karena dosa-dosa kita, Allah ada di dalam Dia secara esensial. Karena itu, Dia yang mati karena dosa-dosa kita adalah manusia-Allah. Tetapi pada butir tertentu Allah yang benar, sewaktu menghakimi manusia-Allah ini, meninggalkan Dia secara ekonomikal. Allah meninggalkan Kristus adalah satu perkara ekonomikal yang berhubungan dengan pelaksanaan penghakiman Allah.

Karena Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus dan lahir dari Allah dan dengan Allah, maka Dia memiliki Roh Kudus sebagai esens yang mendasar dari diri ilahi-Nya. Karena itu, tidak mungkin Allah pergi, meninggalkan Dia secara esensial. Namun, Dia ditinggalkan Allah secara ekonomikal ketika Roh itu, yang turun ke atas-Nya sebagai kuat kuasa yang ekonomikal bagi pelaksanaan ministri-Nya, meninggalkan Dia. Tetapi esens Allah tetap ada di dalam diri-Nya. Karena itu, Dia mati di kayu salib sebagai manusia-Allah, dan darah yang Dia cucurkan di sana bagi penebusan kita itu bukan hanya darah manusia Yesus, tetapi juga darah manusia-Allah. Jadi, darah ini, yang melaluinya Allah memperoleh gereja, adalah darah Allah sendiri.

KEMUSTIKAAN GEREJA

Marilah kita membaca Kisah Para Rasul 20:28 kembali: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Di sini, dalam pesannya kepada penatua-penatua gereja di Efesus, Paulus membicarakan tentang Roh Kudus dan darah Allah sendiri untuk menunjukkan perasaannya yang memustikakan gereja. Menurut pemahaman Paulus, gereja itu benar-benar mustika. Gereja berada di bawah perawatan Roh Kudus, dan gereja telah dibeli oleh Allah dengan darah-Nya sendiri. Maka, gereja adalah satu mustika dalam pandangan Allah. Paulus memustikakan gereja bahkan seperti Allah memustikakannya.

Dalam 20:28 Paulus memerintahkan para penatua untuk memustikakan gereja seperti yang Allah dan ia lakukan. Fakta bahwa Allah membeli gereja dengan darah-Nya sendiri menunjukkan kemustikaan gereja dalam pandangan-Nya. Setelah membayar harga yang demikian bagi gereja, gereja pasti menjadi kesayangan-Nya. Selain itu, gereja berada di bawah perawatan Roh Kudus. Menurut perkataan Paulus dalam ayat 28, para penatua harus menganggap gereja itu sangat mustika, menganggapnya sebagai satu mustika dalam pandangan Allah. Para penatua, dalam menggembalakan gereja, harus memiliki perasaan yang sama dengan Allah terhadap gereja.