← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 3/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (19)

Pembacaan Alkitab: Kis. 20:13-38

Dalam berita ini kita akan mulai membahas 20:13-38. Dalam bagian Kisah Para Rasul ini, Paulus pergi ke Miletus dan di sana bertemu dengan para penatua gereja di Efesus.

Ayat 16 mengatakan, “Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus, supaya jangan habis waktunya di Asia. Sebab ia sedang terburu-buru, agar jika mungkin, ia telah berada di Yerusalem pada hari raya Pentakosta.” Mungkin Paulus ingin berada di Yerusalem pada hari Penta-kosta agar bisa bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara yang datang ke Yerusalem pada hari itu (cf. 2:1, 5).

MEMBERITAKAN SELURUH MAKSUD ALLAH

Dari Miletus Paulus, “ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus” (ay. 17). Ketika mereka datang kepadanya, ia berkata, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernah lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah” (ay. 18-20). Dalam ayat 20 Paulus mengatakan bahwa ia tidak lalai dalam memberitakan apa yang berguna bagi orang-orang kudus di Efesus, dan dalam ayat 27 ia mengatakan bahwa ia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepada mereka. Ayat-ayat ini menyinggung tentang pengajaran Paulus selama tiga tahun di Efesus dan ruang lingkup pengajarannya.

Menurut ayat 20, Paulus mengajar orang-orang kudus di Efesus secara umum dan dari rumah ke rumah. Ini menunjukkan bahwa pada zaman Paulus ada sidang-sidang keluarga. Paulus bukan hanya mengajar secara umum di satu tempat sidang yang besar; ia juga mengajar dari rumah ke rumah. Ini menunjukkan bahwa gereja-gereja itu memiliki sidang-sidang kecil di rumah-rumah juga sidangsidang besar di tempat umum.

MENYAKSIKAN PERTOBATAN DAN IMAN

Dalam 20:21 Paulus melanjutkan, “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus.” Sekali lagi, kata “bersaksi” dipakai. Bersaksi menuntut pengalaman melihat dan menikmati. Bersaksi berbeda dengan sekadar mengajar. Paulus memakai kata ini di sini menunjukkan bahwa ia sendiri memiliki pengalaman pertobatan kepada Allah dan iman dalam Tuhan Yesus. Karena itu, ia dapat bersaksi mengenai apa yang telah ia alami. Ia bukan hanya memberitakan dan mengajar, tetapi juga bersaksi tentang hal yang telah ia tempuh dalam pengalamannya tentang pertobatan dan iman.

SEBAGAI TAWANAN ROH PERGI KE YERUSALEM

Dalam ayat 22 Paulus melanjutkan berkata, “Tetapi sekarang sebagai tawanan roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.” Kita telah melihat bahwa Paulus asalnya bermaksud pergi ke Yerusalem melalui Siria dari Akhaya di Yunani (19:21; 1 Kor. 16:3-7). Tetapi karena orang-orang Yahudi berkomplot ingin membunuhnya, maka ia mengubah rutenya ke sebelah utara ke Makedonia, dan dari sana ia kembali ke Yerusalem. Paulus tahu bahwa orang-orang Yahudi berusaha mencelakakan dirinya, dan ia menderita karenanya (ay. 19). Ini mungkin menjadi penyebab ia sebagai tawanan roh pergi ke Yerusalem. Roh dalam ayat 22 ini mengacu kepada roh Paulus yang telah dilahirkan kembali. Di dalam roh ini dia melayani Allah. Di dalam rohnya yang bersatu dengan Tuhan Sang Roh (1 Kor. 6:17), Paulus mempunyai firasat akan terjadi sesuatu padanya di Yerusalem, Roh Kudus juga bersaksi kepadanya tentang hal ini (ay. 23).

Paulus tahu bahwa kesulitan sedang menantinya. Ia menyadari hal ini di dalam rohnya. Orang-orang Yahudi di seluruh daerah sekitar Laut Tengah berkomplot untuk menangkapnya. Bukan hanya orang-orang Yahudi di Yerusalem, tetapi juga orang-orang Yahudi di Asia, Makedonia, dan Akhaya berketetapan menangkap Paulus. Mungkin mereka semua bekerja sama dan mengadakan satu komplotan. Akhir-nya, pada kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem, Paulus ditangkap oleh beberapa orang Yahudi yang datang ke Yerusalem dari Asia Kecil.

Sekalipun waspada terhadap komplotan orang Yahudi, Paulus, pada kenyataannya, tidak dapat pergi ke mana-mana. Jika ia pergi ke Asia Kecil, orang-orang Yahudi ada di sana. Jika ia pergi ke Makedonia dan Akhaya, orang-orang Yahudi ada di sana. Jika ia kembali ke Yudea, orang-orang Yahudi di sana lebih banyak. Maka, bagaimana ia tidak merasa tertawan? Ke mana ia harus pergi? Kita perlu memahami situasi Paulus.

Paulus merangsang timbulnya penentangan dari orang-orang Yahudi itu bukan karena melakukan sesuatu yang salah. Sebaliknya, penentangan mereka dikarenakan dia setia kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah; dikarenakan dia taat kepada penglihatan surgawinya. Karena Paulus setia kepada penglihatan yang telah ia terima dari Tuhan mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, maka timbullah penentangan terhadapnya ke mana saja ia pergi.

Baik Yakobus maupun Petrus tidak menghadapi penentangan yang demikian seperti Paulus. Yakobus berkompromi dan Petrus agak lemah. Sebenarnya, karena ministri Petrus dimulai sebelum ministri Paulus, maka ia seharusnya telah membangkitkan penentangan dari orang-orang Yahudi. Namun, itu tidak terjadi pada Petrus. Memang, Petrus menderita. Tetapi penderitaannya datang dari pihak luar, sedangkan penderitaan Paulus datang dari pihak dalam dan juga dari pihak luar.

Jika kita membaca Galatia 2 dengan teliti, kita akan melihat bahwa bahkan Yakobus dan Petrus adalah satu penyebab penderitaan Paulus. Dalam menulis surat kepada orang-orang Galatia, Paulus terus terang. Ia memberi tahu mereka bahwa ia telah menegur Petrus terang-terangan. Petrus tidak perlu ditegur kalau ia setia. Jika Petrus setia, ia akan ikut memikul sebagian besar penderitaan Paulus.

Dalam membicarakan tentang Petrus ini saya tidak merendahkan dia. Memang sulit sekali melawan atmosfir Yahudi yang sangat kuat di Yerusalem. Seperti yang akan kita lihat, ketika Paulus pergi ke Yerusalem untuk kali terakhir, ia sendiri bahkan ditaklukkan oleh atmosfir di sana. Meskipun ia telah menulis kitab Galatia dan Roma, ia masih setuju untuk bergabung dengan orang-orang yang telah bernazar dan setuju untuk pergi ke Bait Allah untuk disucikan.

Atmosfir di Yerusalem itu sangat kental dan pekat sehingga tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Petrus dan Yakobus dikalahkan oleh situasi itu. Petrus di-kalahkan karena tidak melakukan sesuatu terhadap situasi itu, dan Yakobus dikalahkan karena berkompromi dengan situasi itu. Seperti yang akan kita lihat, dalam Kisah Para Rasul 21, Yakobus mengatakan dengan tegas kepada Paulus bahwa di Yerusalem ada beribu-ribu orang Yahudi yang percaya dan yang semuanya bergairah untuk hukum Taurat (21:20). Ini menunjukkan bahwa kaum beriman itu dengan kuat berada di bawah pengaruh Yahudi, mencampurkan ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan pengelolaan zaman Perjanjian Lama. Jika kita melihat perkara ini, kita akan menyadari bahwa Paulus berada dalam satu situasi yang sangat sulit.

PENJARA DAN SENGSARA MENUNGGU DIA

Marilah kita melihat lagi 20:22 bersama ayat 23: “Selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.” Paulus tidak tahu apa yang akan dijumpainya di Yerusalem, tetapi dia tahu satu hal: Roh Kudus dengan serius menyata-kan kepadanya bahwa belenggu dan sengsara menunggu dia. Penyataan Roh Kudus hanyalah satu nubuat, pemberitahuan lebih dulu, bukan perintah. Karena itu, dia tidak seharusnya menganggapnya sebagai suatu perintah tetapi sebagai peringatan. Meskipun Paulus tidak tahu sebenarnya apa yang menunggunya di Yerusalem, tetapi ia tahu, melalui peringatan Roh Kudus, bahwa penjara dan sengsara menunggu dia.

Dalam ayat 24 Paulus melanjutkan, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah.” Perkataan Paulus di sini berhubungan dengan pergerakan Perjanjian Baru Tuhan dalam mengembangbiakan Kristus yang bangkit melalui Injil. Perkataan Paulus dalam 20:24 menyiratkan bahwa ia merasakan/berfirasat bahwa dia akan mati martir.

RUANG LINGKUP PENGAJARAN PAULUS

Ayat 25 melanjutkan, “Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah.” Ayat ini menunjukkan bahwa di Efesus Paulus memberitakan tentang Kerajaan Allah. Kita telah melihat bahwa Kerajaan Allah adalah topik utama pemberitaan para rasul dalam Kisah Para Rasul (1:3; 8:12; 14:22; 19:8; 28:23, 31). Kerajaan Allah bukanlah kerajaan material yang terlihat oleh mata manusia, melainkan kerajaan hayat ilahi.

Dalam 20:25 Paulus memberi tahu para penatua gereja di Efesus bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Ini menunjukkan bahwa Paulus telah menyadari sebelumnya bahwa dia akan mati martir.

Kisah Para Rasul 20:26-27 mengatakan, “Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.” Secara harfiah, kata-kata “pada hari ini” berarti “pada hari-hari ini,” suatu ungkapan yang sangat kuat dan mantap. Perkataan Paulus dalam ayat 27 tentang tidak lalai dalam memberitakan seluruh maksud Allah menunjukkan bahwa ia melaksanakan satu pekerjaan yang besar di Efesus. Di sini kita memiliki satu petunjuk dari ruang lingkup pengajaran Paulus kepada orang-orang kudus yang terkasih di Efesus.

ROH KUDUS MENETAPKAN PARA PENILIK DI ANTARA KAWANAN

Perkataan Paulus dalam 20:28 itu sangat penting: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri.” Seperti dalam 1 Petrus 5:2, kata “kawanan” secara harfiah berarti “kawanan kecil”. Kawanan ini kecil jumlahnya (Luk. 12:32) jika dibandingkan dengan dunia. Gereja sebagai kawanan kecil adalah sesawi yang kecil untuk menyuplai hayat, bukan satu pohon besar untuk bernaungnya burung-burung (Mat. 13:31-32 dan catatancatatannya), bukan agama besar seperti kekristenan.

Dalam 20:28 Paulus memberi tahu para penatua gereja di Efesus bahwa Roh Kudus telah menempatkan mereka di antara kawanan sebagai para penilik. Para rasul menetapkan penatua di setiap gereja (14:23). Tetapi di sini Paulus yang memimpin penetapan penatua-penatua mengatakan bahwa Roh Kudus yang melakukannya. Ini menunjukkan Roh Kudus bersatu dengan para rasul dalam menetapkan penatua, dan para rasul melakukannya menurut pimpinan Roh Kudus.

Dari perkataan Paulus mengenai Roh Kudus menempat-kan para penilik di antara kawanan kita melihat bahwa keberadaan gereja-gereja itu benar-benar karena Roh Kudus, bukan karena para rasul. Meskipun rasul-rasul telah menetapkan penatua-penatua, tetapi di sini Paulus mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan Roh Kudus. Ini mewahyukan bahwa sebuah gereja ada hanya melalui pekerjaan Roh Kudus. Dengan kata lain, pekerjaan para rasul mengenai gereja-gereja harus mutlak menjadi pekerjaan Roh Kudus. Karena Roh Kudus menetapkan para penatua, maka Roh Kuduslah yang mendirikan gereja-gereja.

Para pengawas dalam ayat 28 adalah penatua-penatua dalam ayat 17. Ini menunjukkan bahwa para penilik dan penatua itu adalah istilah yang sama artinya, menunjuk kepada orang yang sama. Menetapkan penilik menjadi uskup di suatu wilayah untuk berkuasa atas penatua dari berbagai lokal dalam wilayah itu adalah salah besar. Inilah yang diajarkan oleh Ignatius. Pengajarannya yang salah men-jadi dasar terbentuknya tingkatan dan membawa masuk sistem hierarki.

Kata Yunani untuk “penilik” adalah episkopos, dari epi, berarti atas, dan skopos, berarti menilik; jadi, penilik (uskup, dari bahasa Latin episkopus). Penilik (1 Tim. 3:2) di gereja lokal adalah penatua. Dua sebutan ini mengacu kepada orang yang sama. Penatua, menunjukkan orang yang matang, dewasa; penilik menunjukkan fungsi seorang penatua. Pada abad kedua, Ignatius mengajarkan bahwa penilik (uskup), lebih tinggi daripada penatua. Dari ajaran yang keliru ini timbullah jenjang uskup, uskup agung, kardinal, dan paus. Ajaran itu juga menjadi penyebab timbulnya sistem keuskupan (Episkopal) dari pemerintahan ge-rejawi. Jenjang dan sistem itu adalah kekejian dalam pandangan Allah.

MENGGEMBALAKAN KAWANAN

Dalam Kisah Para Rasul 20:28 Paulus membicarakan tentang penatua-penatua yang menggembalakan kawanan. Tanggung jawab utama para penatua sebagai penilik bukanlah menguasai melainkan menggembala, memberi rawatan lembut dan teliti kepada kawanan domba, yaitu gereja Allah. Para penatua bukan ditetapkan oleh Roh Kudus sebagai penguasa-penguasa, melainkan sebagai gembala-gembala. Menggembalakan kawanan domba Allah menuntut penderitaan bagi Tubuh Kristus, seperti yang juga dilakukan oleh Kristus (Kol. 1:24). Penggembalaan disertai penderitaan ini adalah untuk menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu sebagai pahala (1 Ptr. 5:4).

Menurut 1 Petrus 5:1-3, para penatua bukan memerintah atas kawanan; yaitu, mereka bukan melaksanakan penguasaan atas orang yang dikuasai (Mat. 20:25). Di antara kaum beriman, selain Kristus tidak seharusnya ada tuan lain; semua orang seharusnya adalah hamba, bahkan budak (Mat. 20:26-27; 23:10-11). Para penatua dalam gereja hanya dapat memimpin, tidak dapat menjadi tuan, dan semua orang beriman harus menghormati dan mengikuti pimpinan ini (1 Tes. 5:12; 1 Tim. 5:17).

NILAI GEREJA SEBAGAI SATU MUSTIKA BAGI ALLAH

Dalam Kisah Para Rasul 20:28 Paulus mengatakan bahwa gereja Allah telah didapatkan “melalui darah-Nya sendiri.” Ini menunjukkan kasih Allah yang berharga bagi gereja dan nilai gereja yang berharga dan unggul dalam pandangan Allah. Di sini rasul tidak membicarakan hayat dan sifat ilahi gereja seperti dalam Efesus 5:23-32, tetapi nilai gereja sebagai mustika bagi Allah, yang Dia beli dengan darah adi-Nya sendiri. Paulus berharap supaya para penatua sebagai penilik menghargai gereja seperti Allah menghargai gereja.

Roh Kudus maupun darah Allah, keduanya adalah suplai ilahi bagi gereja yang Dia mustikakan. Roh Kudus adalah Allah sendiri; darah Allah mengacu kepada pekerjaan Allah. Pekerjaan penebusan Allah untuk membeli gereja; Kemudian Allah sendiri, Roh pemberi hayat yang almuhit (1 Kor. 15:45), merawat gereja melalui para penilik-Nya.

Darah Allah adalah darah Yesus Kristus. Ini menyatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Allah. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat lebih banyak rincian tentang Allah memperoleh gereja melalui darah-Nya sendiri.