← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 2/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (18)

Pembacaan Alkitab: Kis. 19:23 — 20:12

Dalam berita ini kita akan membahas 19:23 — 20:12. Dalam 19:23-41 kita memiliki satu catatan tentang huru hara besar di Efesus. Dalam 20:1-12 kita memiliki satu uraian tentang perjalanan Paulus melalui Makedonia dan Yunani ke Troas.

HURU HARA BESAR DI EFESUS

Kisah Para Rasul 19:23 mengatakan, “Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan.” Seperti yang telah kita tunjukkan, “jalan” dalam Kisah Para Rasul menunjukkan keselamatan sempurna Tuhan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Penentangan Iblis terhadap Penyebaran

Kerajaan Allah

Ayat 24-26 melanjutkan, “Penyebabnya adalah seorang laki-laki bernama Demetrius, seorang tukang perak, yang membuat kuil-kuilan dewi Artemis dari perak. Usahanya itu mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi tukang-tukangnya. Ia mengumpulkan mereka bersama-sama dengan pekerja-pekerja lain dalam usaha yang sejenis dan berkata: Saudara-saudara, kamu tahu bahwa kemakmuran kita adalah hasil usaha ini! Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa.” Demetrius dalam ayat 24 ini bukanlah Demetrius dalam 3 Yohanes 12. Demetrius ini adalah seorang tukang perak yang membuat kuil-kuilan dewi Artemis, dewi orang Efesus dari perak. Dalam bahasa Latin disebut Diana, dewi bagi orang Roma. Membuat kuil-kuilan dari perak adalah satu perdagangan yang kotor dan setani. Mereka yang mempraktekkan perdagangan ini bekerja sama dengan roh-roh jahat untuk menguasai dan merampas orang-orang bagi kerajaan Iblis yang jahat (Mat. 12:26). Di belakang penyembahan berhala ada roh-roh jahat yang menghasut timbulnya keributan melawan rasul, untuk mengganggu dan menghalangi pemberitaan Injil. Ini adalah penentangan Iblis terhadap perluasan Allah Kerajaan Allah di bumi.

Pemberitaan Paulus di Efesus itu hebat dan membuat orang-orang membicarakan berhala-berhala di kota itu. Tukang-tukang itu takut bahwa usaha mereka akan terhina (ay. 27). Akibatnya, timbullah satu huru hara besar. Orang-orang yang dikumpulkan Demetrius itu menjadi meluap amarahnya lalu “mereka berteriak-teriak: Besarlah Artemis dewi orang Efesus! Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus” (ay. 28-29). Gayus yang disebutkan dalam ayat 29 ini bukanlah Gayus dari Derbe yang disebutkan dalam 20:4, juga bukan Gayus dari Korintus yang disebutkan dalam 1 Korintus 1:14 dan Roma 16:23, juga bukan Gayus yang dikirimi surat oleh Yohanes dalam 3 Yohanes 1. Nama Gayus pada waktu itu sangat umum.

Melalui Ministri yang Hebat

Menimbulkan Kesulitan

Dalam Kisah Para Rasul 19:23-41 kita melihat satu prinsip yang penting. Prinsip ini adalah jika kita tinggal di satu tempat lebih lama kita harus memiliki ministri yang hebat, ministri yang dapat menggugah orang lain. Di satu pihak, ketika Paulus di Efesus ia adalah seorang pembuat kesulitan. Sebelum ia tiba, kota itu damai, menyembah dewi Artemis. Tetapi kehadiran Paulus di Efesus akhirnya menyebabkan satu huru hara besar. Ia tidak menyerang nama dewi Artemis. Sebaliknya, ia melakukan ministri yang menang, dan ministri itu menggugah seluruh kota itu, mempengaruhi masyarakat. Ini menunjukkan bahwa jika kita tinggal di tempat tertentu, ministri kita harus sangat hebat sehingga menggugah situasi di sana dengan benar.

Dalam 19:23-40 kita memiliki teladan lainnya melalui ministri yang hebat menimbulkan kesulitan. Jika kita mengikuti teladan ini, kita akan melalui pemberitaan Injil yang hebat menimbulkan kesulitan. Sebelum kita datang ke satu tempat, orang-orang di sana mungkin hidup penuh damai sejahtera dan menyembah berhala. Tetapi setelah kita tinggal di sana untuk sejangka waktu, kota itu mungkin mengalami huru hara yang disebabkan oleh ministri kita yang hebat.

Ada perkara-perkara tertentu yang berhubungan dengan huru hara di Efesus yang menggelikan. Dapat kita baca bahwa “Sementara itu orang yang berkumpul di dalam gedung itu berteriak-teriak; yang seorang mengatakan ini dan yang lain mengatakan itu, sebab kumpulan itu kacau balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul” (ay. 32). Lagi pula, “Lalu seorang bernama Alek-sander didorong ke depan oleh orang-orang Yahudi. Ia mendapat keterangan dari orang banyak tentang apa yang terjadi. Segera ia memberi isyarat dengan tangannya dan mau memberi penjelasan sebagai pembelaan di depan rakyat itu. Tetapi ketika mereka tahu bahwa ia orang Yahudi, berteriaklah mereka bersama-sama kira-kira dua jam lamanya: Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” Mungkin bukan karena Aleksander adalah orang yang bertobat karena pemberitaan Paulus. Ia juga bukan Aleksander yang di sebut dalam 1 Timotius 1:20 dan 2 Timotius 4:14. Mengenai huru hara itu, panitera kota berkata, “Sebab kita berada dalam bahaya akan dituduh bahwa kita menimbulkan huru hara pada hari ini, karena tidak ada alasan yang dapat kita kemukakan untuk membenarkan kumpulan yang kacau balau ini” (ay. 40). Dari ayat-ayat ini kita melihat betapa besar huru hara yang disebabkan oleh ministri Paulus yang hebat.

Beberapa orang setelah membaca catatan tentang huru hara di Efesus ini mungkin berkata, “Bila aku pergi ke suatu tempat untuk bekerja bagi Tuhan, aku tidak mau melihat huru hara yang begitu.” Namun, jika pekerjaan Anda itu benar-benar hebat, pada akhirnya kehebatan itu akan menjamah jantung kuasa kegelapan. Di Efesus jantung kuasa kegelapan itu adalah kuil dewi Artemis. Semakin or-ang Efesus percaya kepada Tuhan, semakin sedikit pengaruh kuil itu. Kelihatannya, huru hara itu disebabkan oleh tu-kang-tukang tertentu. Sebenarnya, huru hara itu dirangsang oleh setan-setan yang berada di balik layar.

Ministri kita adalah untuk mengembangbiakan Kristus yang bangkit sebagai Kerajaan Allah. Tetapi hari ini setiap kota adalah kerajaan Iblis. Karena itu, ministri yang hebat bagi perkembangbiakan Kristus itu adalah suatu peperangan bagi Kerajaan Allah. Seluruh bumi ini adalah kerajaan kegelapan. Jika kita sangat baik dan lembut dalam melaksanakan pekerjaan kita, mencari kesenangan setiap orang, maka tidak peduli berapa lama kita tinggal di satu tempat, tidak akan ada penentangan yang akan timbul. Jika ministri kita itu benar-benar hebat, maka akan timbul penentangan.

Namun, kita tidak boleh berdasarkan diri sendiri me-lakukan sesuatu sehingga timbul kesulitan, lalu menyangka bahwa itu adalah satu bukti bahwa ministri kita itu penuh kuasa dan hebat. Berbuat demikian sangat berbahaya, krena hal itu akan dipakai oleh kuasa kegelapan. Kalau begitu, kita bukannya menjadi bagian dari pengembangbiakan Kristus bagi Kerajaan Allah, malahan sebenarnya kita menjadi bagian dari kerajaan kegelapan.

Kita semua perlu sadar bahwa peperangan sedang berlangsung antara Allah dan Iblis. Karena itu, kita perlu jelas bahwa apa pun yang kita lakukan mutlak di pihak Kerajaan Allah dan tidak ada sesuatu pun yang terlibat dengan kerajaan kegelapan.

Karena peperangan sedang berlangsung antara Allah dan Iblis, maka kita harus siap menghadapi serangan musuh. Jika kita melaksanakan satu ministri yang hebat, akhirnya kita akan diserang. “Panah-panah” jahat akan darahkan kepada kita. Namun, kita, seperti Paulus, harus terdorong dan bukan dikecewakan oleh hal-hal itu.

Paulus sangat kuat dalam menghadapi serangan. Ia tidak lari dari keributan jahat yang terjadi di Efesus. Sebaliknya, ia bahkan ingin masuk ke tengah-tengah rakyat itu, tetapi murid-murid tidak mengizinkannya (ay. 30). “Bahkan beberapa pembesar Asia, yang bersahabat dengan Paulus, mengirim pesan dan mendesaknya, supaya jangan masuk ke gedung kesenian itu” (ay. 31). Pembesar-pembesar Asia ini adalah orang-orang penting di propinsi Asia. Di sini kita nampak bahwa bahkan teman-teman Paulus yang berada di dalam lingkungan politik memperhatikan keselamatannya. Jika Paulus masuk ke dalam gedung kesenian itu, orang-orang Yahudi yang menentang dia mungkin memakai kesempatan itu untuk membunuhnya.

Kisah Para Rasul 19:35-40 menggambarkan bagaimana kumpulan itu ditenangkan. Setelah panitera kota berbicara kepada kumpulan itu, ia membubarkan kumpulan rakyat itu (ay. 40). Ini adalah kedaulatan Tuhan yang melindungi rasul-Nya agar terlepas dari huru-hara Iblis.

Pemeliharaan Kedaulatan Tuhan terhadap Paulus

Dalam ministrinya, Paulus sering kali berperang melawan kuasa kegelapan. Seperti yang telah kita tunjukkan, kuasa kegelapan ada di belakang penyembahan berhala di Efesus. Secara manusia, tidak ada alasan bagi orang-orang di Efesus untuk bertindak begitu bodoh, berteriak-teriak tanpa mengetahui apa yang mereka lakukan. Tindakan mereka itu dihasut oleh setan-setan. Setan-setan di dalam para penyembah berhala itu menghasut mereka untuk melakukan sesuatu melawan ministri perkembangbiakan Allah. Adalah kedaulatan Tuhan bahwa huru hara ini terjadi pada akhir dari tiga tahun masa tinggal Paulus di kota itu. Seperti 20:1 memberi tahu kita, “Setelah reda keributan itu, Paulus memanggil murid-murid dan menguatkan hati mereka. Sesudah minta diri, ia berangkat ke Makedonia.”

MELALUI MAKEDONIA DAN YUNANI KE TROAS

Dalam 20:1-3 kita dapat melihat lebih jelas situasi di mana Paulus berada. Ayat 1 mengatakan bahwa Paulus meninggalkan murid-murid dan berangkat ke Makedonia. Di sinilah Paulus menulis suratnya yang kedua kepada gereja di Korintus (2 Kor. 2:13; 7:5-6; 8:1; 9:2, 4). Surat Rasul Paulus yang pertama kepada gereja di Korintus (1 Kor. 16:3-10, 19) ditulis dari Efesus pada waktu 19:22. Kita juga telah melihat bahwa pada waktu 18:5 Paulus menulis surat kirimannya yang pertama kepada orang-orang Tesalonika. Tampaknya surat kirimannya yang kedua kepada orang-orang Tesalonika ditulis tidak lama setelah itu. Lagi pula, selama kurun waktu ini Paulus mungkin menulis surat kiriman kepada orang-orang Galatia.

Menurut Kisah Para Rasul 20:2-3, setelah Paulus melalui Makedonia, ia masuk ke Yunani dan meluangkan waktu tiga bulan di sana. Pada waktu inilah, di Korintus, rasul menulis suratnya kepada kaum saleh di Roma (Rm. 15:22-32; cf. Kis. 19:21; 1 Kor. 16:3-7).

Beban Empat Ganda

Dalam membaca Kisah Para Rasul pasal 18-20 kita melihat bahwa Paulus sedikitnya memiliki beban empat ganda: satu beban untuk gereja di Korintus, satu beban untuk gereja di Efesus, bahkan satu beban yang lebih berat untuk gereja di Yerusalem, dan juga satu beban untuk gereja di Roma. Dalam berita sebelumnya kita menekankan fakta bahwa hati Paulus tertuju kepada Yerusalem. Ia di dalam rohnya menetapkan untuk pergi ke Yerusalem dan kemudian mengunjungi Roma. Karena bebannya, Paulus menulis dua surat kiriman kepada orang-orang Korintus dan surat kepada orang-orang Roma. Meskipun ia berbeban berat dengan pekerjaan di daerah Laut Tengah, ia juga sangat berbeban untuk situasi gereja di Yerusalem.

Kisah Para Rasul 20:3 mengatakan, “Sesudah tiga bulan tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu, ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia.” Asalnya Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem dari Akhaya di Yunani melewati Siria (19:21; 1 Kor. 16:3-7). Tetapi karena orang-orang Yahudi berencana mencelakai dia, dia megubah rute perjalanannya, mengarah ke Utara ke Makedonia. Dari sana dia kembali ke Yerusalem. Dia tahu bahwa orang-orang Yahudi berencana mencelakai dia dan dia akan menderita karena hal ini (Kis. 20:19). Karena itu, dia mohon kaum beriman di Roma berdoa bagi kepergiannya ke Yerusalem (Rm. 15:25-26, 30-31). Ini mungkin juga karena dia tertawan di dalam rohnya untuk pergi ke Yerusalem (Kis. 20:22). Akhirnya, setelah kembali ke Yerusalem, dia ditangkap oleh orang-orang Yahudi (21:27-30), yang ingin membunuhnya (21:31; 23:12-15).

Paulus sangat berhati-hati terhadap orang-orang Yahudi yang berkomplot melawannya. Ketika ia mengetahui komplotan ini, ia dengan hikmat mengubah rutenya. Melalui hal ini kita dapat melihat situasi yang sulit dimana Paulus berada. Meskipun ia berada di dalam situasi yang demikian, ia masih tetap memiliki beban untuk memperhatikan kepentingan Tuhan secara universal, tidak hanya di Korintus dan Makedonia saja, tetapi juga di Yerusalaem dan Roma. Penting sekali bagi kita untuk melihat empat ganda beban Paulus untuk Korintus, Efesus, Yerusalem, dan Roma.

Memecahkan Roti di Troas

Menurut 20:5-6, Paulus dan teman-teman sekerjanya datang ke Troas, di situ mereka tinggal tujuh hari lamanya. “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara seiman di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam” (ay. 7). Hari pertama dari minggu itu adalah hari Tuhan (Why. 1:10). Paulus tinggal di Troas selama tujuh hari (ay. 6), tetapi hanya pada hari pertama dalam minggu itu mereka berkumpul bersama-sama untuk memecahkan roti memperingati Tuhan. Ini menunjukkan bahwa waktu itu rasul dan gereja menganggap hari pertama dalam satu minggu sebagai hari berkumpul untuk Tuhan.

Perjanjian Baru tidak mengatakan dengan jelas bahwa ada sebuah gereja di Troas. Tetapi dengan membaca bagian yang pendek ini dari firman ini, kita dapat dengan mudah nampak bahwa ada sebuah gereja yang cukup baik di sana. Meskipun Paulus sangat sibuk, tetapi ia tinggal bersama orang-orang kudus di Troas selama tujuh hari, dan pada hari Tuhan ia mengambil kesempatan untuk melayani mereka sampai tengah malam. Dari hal ini kita nampak bahwa Paulus benar-benar berbeban terhadap Tubuh Tuhan.

Sewaktu bersidang bersama orang-orang kudus di Troas pada hari Tuhan, Paulus memperpanjang beritanya sampai tengah malam. Kemudian, setelah peristiwa seorang muda yang jatuh dari jendela, mereka memecahkan roti (ay. 8-11a). Setelah itu Paulus “berbicara lama lagi sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat” (ay. 11b). Ini menan-dakan bahwa Paulus sepenuhnya berbeban terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Perhatian Paulus tentang Situasi di Yerusalem

Kita perlu melihat gambaran dari rasul Paulus yang disajikan dalam pasal-pasal dari kitab Kisah Para Rasul ini, dan juga dalam surat-surat kiriman seperti Galatia, Roma, dan 1 dan 2 Korintus. Sewaktu kita mempelajari bagian-bagian dari Perjanjian Baru ini, kita dapat melihat bahwa atas diri Paulus Tuhan telah mendapatkan satu bejana yang sempurna. Paulus adalah seorang manusia yang sepenuhnya disusun dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena ia di-susun sedemikian, ia berbeban terhadap gereja di Yerusalem.

Sebenarnya, gereja di Yerusalem dan gereja-gereja di Yudea tidak diserahkan kepada Paulus agar ia berbeban terhadap mereka. Dalam Galatia 2:8 Paulus mengatakan dengan jelas bahwa Tuhan menunjuk Petrus untuk menjadi rasul untuk orang-orang bersunat, termasuk gereja-gereja di tanah Yahudi, dan Tuhan menunjuk Paulus untuk menjadi rasul bagi orang-orang tak bersunat, yaitu, bagi orang-orang Kafir. Karena itu, tampaknya Paulus cukup memikul beban semua gereja Kafir dari Antiokhia sampai Asia dan dari Makedonia sampai Roma. Kelihatannya Paulus tidak perlu berbeban terhadap Yerusalem. Akan tetapi, ia telah melihat situasi di sana. Sebagai seorang yang telah melihat situasi itu dan yang setia, Paulus tidak dapat tenang memikirkan Yerusalem. Paulus prihatin bahwa “racun” dari sumber di Yerusalem itu akan mencemari seluruh Tubuh Kristus.

Meskipun waktu itu adalah zaman kuno, namun lalu lintas di daerah sekitar laut Tengah cukup ramai. Pemerintahan Romawi telah membangun banyak jalan. Ada lalu lin-tas ke Yerusalem dari berbagai kota, khususnya pada waktu hari-hari raya. Karena adanya lalu lintas ini, maka percam-puran agama di Yerusalem dapat dengan mudah menyebar ke dunia Kafir.

Seperti yang telah kita lihat, Petrus dan Yohanes seharusnya memecahkan masalah itu di Yerusalem. Namun, mereka agak lemah dan takut, tidak membereskan perkara ini. Akibatnya, Paulus akhirnya berbeban untuk memperhatikan situasi di sana.

Dalam Kisah Para Rasul 15 Paulus dan Barnabas pergi ke Yerusalem dengan tujuan untuk membereskan masalah mengenai sunat. Masalah itu telah diselesaikan, tetapi pemecahannya tidak mutlak. Karena pemecahan yang kompromi itu, maka masalah itu tidak dicabut sampai ke akar-akarnya. Sebaliknya, akarnya dibiarkan tetap ada. Karena itu Paulus tidak tenang memikirkan situasi di Yerusalem.

Yakobus berkompromi, Petrus lemah, dan situasi yang kasihan itu terus berlanjut di Yerusalem. Karena hal ini, maka Paulus, hamba Tuhan yang setia, berbeban dengan perhatian yang sangat berat. Paulus tidak memiliki “rasa terang” untuk melanjutkan ministrinya di dunia Kafir karena racun dari sumber di Yerusalem sedang mengalir ke Asia, Eropa, dan bahkan Roma. Inilah penyebab Paulus tidak memiliki rasa terang, kepastian, dan hiburan untuk melanjutkan melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah di dunia Kafir. Hatinya adalah untuk Yerusalem, dan ia di dalam roh menetapkan untuk membersihkan sumber percampuran itu.

Paulus pergi ke Yerusalem dalam pasal 15, dan kemudian dalam pasal 18, pada akhir dari perjalanan ministrinya kali kedua (ay. 22). Setelah ia menyelesaikan perjalanan ministrinya kali kedua, Paulus tiba di Kaisarea. Menurut rute perjalanan itu, ia seharusnya langsung kembali ke Antiokhia. Namun, ia sengaja pergi ke Yerusalem untuk melakukan sesuatu secara perlahan-lahan guna membersihkan racun yang ada di sana. Sekarang Paulus di dalam rohnya menetapkan untuk pergi sekali lagi ke Yerusalem.

Jika kita memperhatikan gambaran yang terlukis dalam kitab Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa sewaktu Paulus sedang berjerih lelah memperhatikan pergerakan Tuhan di daerah sekitar Laut Tengah, ia masih berbeban terhadap Yerusalem, karena Yerusalem adalah sumber dari racun yang sedang menyebar ke dalam dunia Kafir. Karena tidak memiliki rasa terang untuk melanjutkan pekerjaannya di Eropa dan Asia, ia berusaha dalam kesetiaannya untuk pergi ke Yerusalem guna membereskan sumber racun per-campuran agama yang mengalir keluar dari Yerusalem ke dunia Kafir.