← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 1/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (17)

Pembacaan Alkitab: Kis. 19:21-22

DI DALAM ROH BERMAKSUD PERGI

KE YERUSALEM DAN ROMA

Dalam 19:21-22 Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem dan Roma. “Setelah peristiwa itu, atas dorongan Roh, Paulus memutuskan untuk pergi ke Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya. Katanya: Sesudah berkunjung ke situ aku harus melihat Roma juga. Lalu ia menyuruh dua orang pembantunya, yaitu Timotius dan Erastus, mendahuluinya ke Makedonia, tetapi ia sendiri tinggal beberapa lama lagi di Asia.” Erastus adalah bendahara kota Korintus (Rm. 16:23; cf. 2 Tim. 4:20) dari kalangan atas, tentunya ia bertobat karena pemberitaan Paulus di Korintus (cf. Kis. 18:8) dan telah menjadi pembantu Paulus.

Menurut 19:22, setelah Paulus mengutus Timotius dan Erastus ke Makedonia, ia tinggal di Asia untuk sejangka waktu. Pada waktu inilah, di Efesus, rasul menulis surat kirimannya yang pertama kepada gereja di Korintus (1 Kor. 16:3-10, 19; 4:17; cf. Kis. 19:20-23, 8-10, 17; 20:1).

Maksud Paulus dalam 19:21 adalah melaksanakan perhatian kasihnya bagi kebutuhan kaum saleh yang miskin di Yerusalem. Saat itu Paulus berada di Efesus, dalam perjalanan ministrinya kali ketiga, penuh dengan beban berat untuk merampungkan ministrinya di Asia (1 Kor. 16:8-9), Makedonia, dan Akhaya (1 Kor. 16:5-7; Kis. 20:1-3). Walaupun demikian, dia masih berbeban menyisihkan sebagian waktunya bagi kaum saleh yang membutuhkan di Yerusalem. Ketika dia tiba di Korintus, dia menulis surat kepada kaum saleh di Roma, menyatakan maksud perjalanannya dan mohon mereka berdoa baginya tentang maksud ini (Rm. 15:25-31). Walaupun Paulus adalah seorang rasul yang di-pisahkan oleh Allah untuk orang-orang Kafir (Kis. 22:21; Gal. 2:8), ia tetap memperhatikan kepentingan Tuhan di tengah-tengah orang-orang Yahudi. Perhatiannya yang utama adalah Tubuh Kristus secara universal, bukan hanya ministri Perjanjian Barunya di antara orang-orang Kafir.

Selain itu, maksud kepergian Paulus ke Yerusalem pada saat ini mungkin juga untuk bersekutu dengan Yakobus dan rasul lainnya serta para penatua di Yerusalem tentang pengaruh agama Yahudi terhadap gereja di sana. Menurut pengajaran Paulus dalam surat-suratnya kepada orang-orang di Galatia dan di Roma, keputusan yang dibuat oleh sidang para rasul dan penatua dalam pasal 15 untuk menyelesaikan masalah sunat pasti belum benar-benar memuaskan hatinya. Hal ini terus mengusik dia karena perhatiannya bagi ekono-mi Perjanjian Baru Allah, yaitu membangun Tubuh Kristus. Perkataan Yakubus dalam 21:20-22 setelah Paulus tiba di Yerusalem (21:17-18), dan usulnya agar Paulus ikut serta dalam sumpah nazir keempat orang beriman Yahudi (21:23-24) tampaknya memperkuat pandangan ini.

Dalam 19:21 kita melihat bahwa di dalam rohnya Paulus bermaksud pergi ke Yerusalem. Karena Tuhan Sang Roh berhuni di dalam roh Paulus (2 Tim. 4:22; Rm. 8:10-11), ia pasti memutuskan sesuai dengan pimpinan Tuhan Sang Roh. Roh insani Paulus (Za. 12:1; Ayb. 32:8; Ams. 20:27) telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6) dan dihuni oleh Tuhan Roh. Roh Paulus bersaksi dengan Roh itu (Rm. 8:16), dan di dalam rohnya ia menyembah Allah dan melayani Allah (Yoh. 4:24; Rm. 1:9). Paulus memang pergi ke Yerusalem (21:17), juga melihat Roma (28:14, 16). Melalui naik bandingnya ke Kaisar, keinginan Paulus ini digenapi Tuhan ketika Dia membawa Paulus ke Roma (23:11; 25:11)

SATU WAKTU YANG PENTING BAGI PAULUS

Waktu dalam 19:21 bagi Paulus adalah waktu yang sulit, juga waktu yang sangat baik. Ini adalah satu waktu yang sulit, karena orang-orang Yahudi menentangnya dan bahkan berusaha membunuhnya. Tetapi ini juga adalah waktu yang sangat baik, karena pintu terbuka bagi Paulus untuk mendapatkan banyak orang bagi Tuhan. Mengenai waktu ini, Paulus berkata, “Tetapi aku akan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta, sebab terbuka kesempatan bagiku untuk mengerjakan pekerjaan yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang” (1 Kor. 16:8-9). Perkataan-perkataan kepada gereja di Korintus ini ditulis di Efesus, ketika Paulus tinggal selama tiga tahun di sana pada perjalanan ministrinya kali ketiga. Karena itu, waktu dalam 19:21 adalah waktu yang penting; ini adalah waktu penentangan juga kesempatan yang besar untuk melaksanakan pekerjaan yang menghasilkan buah bagi Tuhan.

Fakta bahwa Paulus di dalam rohnya bermaksud pergi ke Yerusalem ini menunjukkan bahwa ia mutlak bagi Tubuh Kristus. Karena ia bagi Tubuh, maka ia sangat memperhatikan Yerusalem. Dari hal ini kita melihat bahwa Paulus benar-benar bejana yang layak untuk memikul kesaksian ekonomi Perjanjian Baru Allah. Paulus memikul kesaksian ini dengan cara yang mutakhir.

BEBAN PAULUS UNTUK YERUSALEM

Pada waktu Paulus berada di dalam situasi yang sangat sulit dan bersamaan dengan itu juga memiliki kesempatan yang baik untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah, di dalam rohnya ia bermaksud pergi ke Yerusalem. Meskipun ia diduduki oleh pekerjaannya di Efesus, rohnya berbeban untuk Yerusalem. Jika kita membaca Roma 15:25-31, kita akan melihat bahwa Paulus berbeban untuk membawa bantuan uang dari gereja-gereja di Makedonia dan Akhaya untuk orang-orang kudus yang miskin di Yudea. Paulus juga menyinggung hal ini dalam 2 Korintus 8, di mana ia menunjukkan bahwa persembahan benda-benda materi ini benar-benar perkara kasih karunia. Karena itu, tujuan Paulus pergi ke Yerusalem kelihatannya untuk meministrikan kebutuhan orang-orang kudus yang kekurangan. Sebenarnya, Paulus memiliki satu alasan yang lebih dalam tentang tujuan di dalam rohnya untuk pergi ke Yerusalem.

Saya percaya bahwa sejak peristiwa dalam Kisah Para Rasul 15, Paulus tidak tenang mengenai situasi di Yerusalem. Jika kita mempelajari kitab Kisah Para Rasul dan semua surat Rasul Paulus, kita akan memiliki satu pandangan yang jelas tentang pergerakan Tuhan di bumi di dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Pergerakan Tuhan dimulai dari Yerusalem dan akhirnya mencapai Antiokhia. “Aliran” pergerakan Tuhan berjalan dari Yerusalem ke Antiokhia, dan berpaling dari Antiokhia ke dunia Kafir. Namun, sumbernya, “mata air” dari aliran di Yerusalem ini telah “diracuni”. Karena sumbernya telah beracun, racun itu akan terbawa oleh aliran itu ke mana saja aliran itu pergi. Inilah alasannya Paulus tidak dapat tenang melihat situasi di Yerusalem.

Tampaknya Paulus memiliki beban membantu Petrus dan Yakobus untuk memperbaiki atau membetulkan situasi gereja di Yerusalem. Situasi di sana adalah satu percampuran suatu percampuran ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan hal-hal dari zaman Perjanjian Lama. Seperti yang telah kita lihat, percampuran itu ternyata jelas di dalam persekutuan Yakobus dalam 15:13-21. Dan akan kita lihat, percampuran ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan zaman yang lama itu sangat jelas ada dalam Kisah Para Rasul 21. Percampuran itu sangat melukai hati Tuhan. Sadar bahwa masalah itu masih ada di Yerusalem, Paulus tidak tenang memikirkan gereja di sana.

Kita telah melihat bahwa pada akhir dari perjalanan ministrinya kali kedua, Paulus pergi ke Yerusalem dan memberi salam kepada gereja di sana (18:22). Ia mengadakan perjalanan ke Yerusalem ini karena ia selalu berusaha keras memelihara keesaan Tubuh dan memelihara perasaan yang menyenangkan antara dirinya dengan orang-orang kudus di Yerusalem. Dari hal ini kita melihat bahwa kapan saja ada kesempatan, Paulus akan pergi ke Yerusalem mengunjungi gereja itu untuk memelihara hubungan yang menyenangkan antara dia dengan gereja dan juga untuk menyerahkan beberapa bantuan untuk situasi di sana. Karena Paulus prihatin terhadap Yerusalem, maka di dalam rohnya ia menetapkan untuk pergi ke Yerusalem, tidak peduli situasinya sulit dan pada saat yang bersamaan ada keadaaan yang menjanjikan.

HATI YANG LAPANG UNTUK

KEPENTINGAN TUHAN

Kisah Para Rasul 19:21 menunjukkan bahwa Paulus memiliki satu hati yang lapang untuk kepentingan Tuhan. Sewaktu ia menghadapi serangan di Efesus dan melaksanakan ministrinya, ia masih di dalam rohnya menetapkan untuk pergi ke Yerusalem, dan dari sana ia dengan antusias pergi ke Roma. Mengenai hal ini ia berkata: “Aku harus melihat Roma juga.” Jika Anda melihat peta, Anda akan melihat bahwa Efesus, di Asia Kecil, berada di antara Yeru-salem di sebelah timur dan Roma di sebelah barat. Sewaktu Paulus berjerih lelah dan menghadapi serangan di Efesus, ia berminat untuk memperhatikan situasi di Yerusalem dan juga untuk mengunjungi Roma. Betapa lapangnya hati Paulus!

Tidak banyak dari antara kita yang memiliki hati yang lapang sedemikian. Sebaliknya, sering kali orang-orang yang berjerih lelah di satu tempat akan berkata, “Saya sibuk sekali di sini. Saya tidak berminat untuk memperhatikan tempat lainnya. Lagi pula, saya sedang menghadapi banyak penentangan. Bagaimana saya dapat memiliki beban untuk tempat-tempat lain?”

Sikap Paulus sangat berbeda. Di tengah-tengah situasinya ia masih dapat di dalam rohnya menetapkan untuk pergi ke Yerusalem, dan kemudian menyatakan kedambaannya untuk mengunjungi Roma. Seperti yang telah kita tunjukkan, Paulus akhirnya pergi ke Yerusalem, dan dengan cara yang menakjubkan dan di bawah kedaulatan Allah, ia benar-benar mengunjungi Roma.

Menurut Galatia 2:8, bagian Paulus dalam ministri Perjanjian Baru adalah di antara bangsa-bangsa Kafir. Meskipun bebannya adalah untuk ministri di antara bangsa-bangsa Kafir, ia masih menaruh perhatian untuk kepentingan Tuhan secara universal. Perhatian utamanya adalah untuk seluruh Tubuh Kristus, bukan hanya untuk bagiannya dalam ministri Perjanjian Baru. Paulus sadar bahwa Tubuh Kristus sulit untuk dibangunkan sepenuhnya selama percampuran agama di Yerusalem itu dibiarkan tetap ada. Karena Paulus memiliki satu pandangan yang jelas tentang pergerakan Perjanjian Baru Tuhan, maka ia terganggu dengan situasi di Yerusalem, khususnya karena ini berhubungan dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah untuk membangun Tubuh Kristus.

EKONOMI ALLAH DAN PERGERAKAN TUHAN YANG MUTAKHIR

Dalam berita keempat dari pelajaran Kisah Para Rasul ini kita telah menunjukkan perlunya suatu pengalihan zaman, dari zaman yang lama ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ketika mempelajari kitab Kisah Para Rasul, sangatlah penting bila kita melihat semua perkara penting yang berhubungan dengan pengalihan ini. Jika kita jelas mengenai perkara-perkara ini, kita akan memahami situasi hari ini, dan kita akan mengetahui di mana kita perlu berada dan apa yang perlu kita lakukan. Kita tidak boleh seperti Apolos yang tetap tinggal dalam pasal 18, tetapi kita harus maju lebih jauh untuk mengikuti Rasul Paulus, seorang yang matanya terbuka untuk melihat ekonomi Perjanjian Baru Allah sepenuhnya. Karena itu, katika mempelajari kitab ini, saya tidak memiliki hati untuk perkara-perkara lainnya. Beban saya adalah memperhatikan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Jika oleh belas kasihan Tuhan kita dapat menerima bantuan untuk melihat butir-butir peralihan yang penting mengenai ekonomi Allah, saya akan puas. Kedambaan saya adalah bahwa terang mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah itu akan meresapi diri kita. Jika terang ini meresapi diri kita, kita akan melihat pergerakan Tuhan yang mutakhir di dalam ekonomi-Nya.

Saya percaya bahwa pelajaran kitab Kisah Para Rasul ini akan menjadi bantuan yang penuh bagi kita di dalam pemulihan Tuhan. Kita perlu melihat bahwa kita bukan melaksanakan pekerjaan kekristenan yang biasa. Sebaliknya, kita di sini berada di dalam pergerakan ekonomi Perjanjian Baru Allah yang mutakhir. Karena itu, kita harus memiliki visi tentang ekonomi Allah. Jika kita memiliki visi ini, kita akan diarahkan dan dibawa olehnya dalam jalan yang tepat. Jika kita memiliki visi ini, kita tidak akan diselewengkan oleh situasi hari ini, tidak peduli bagaimana situasi itu. Jika kita memiliki visi ini, kita akan tahu di mana kita berada dan ke mana kita akan pergi. Dengan memiliki pandangan yang jelas mengenai ekonomi Allah dalam zaman ini, kita akan tahu apakah sasaran kita. Kita percaya bahwa Allah kita masih bergerak, Dia terus berjalan maju. Karena itu, kita perlu berada di dalam pergerakan-Nya yang mutakhir.

Kita dapat membandingkan pandangan tentang ekonomi Allah yang disajikan dalam kitab Kisah Para Rasul ini dengan sebuah gambar susun. Pada waktu kepingan-kepingan dari sebuah gambar susun dipasang, kita memiliki satu pemandangan yang lengkap. Demikian juga, di seluruh kitab Kisah Para Rasul kita memiliki bermacam-macam “kepingan” dari sebuah “gambar susun” yang utuh. Bila kita memasang kepingan-kepingan ini dengan tepat, kita akan melihat satu pandangan yang jelas dan penuh tentang ekonomi Allah. Ketika kita membaca akhir dari pelajaran ini, kita akan memiliki semua kepingan yang diperlukan, kita akan memasang semuanya, dan kita akan melihat “pemandangan” yang utuh dari ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya berbeban khususnya agar kaum muda melihat pandangan tentang ekonomi Allah yang disajikan dalam kitab ini.

Supaya Tuhan Yesus datang kembali, mempelai-Nya perlu dipersiapkan. Perhatikan situasi pada hari ini dalam hubungannya dengan kesiapan mempelai perempuan. Sesungguhnya, mempelai perempuan itu belum siap. Satu-satunya jalan untuk mempersiapkan mempelai perempuan adalah jalan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Saya mengatakan hal ini supaya kita semua tahu apa yang sedang Tuhan lakukan di sini dalam pemulihan-Nya, kita akan tahu di mana kita berada dan apa yang seharusnya menjadi sasaran kita. Kiranya kita semua mendapat bantuan dari pengkajian kitab Kisah Para Rasul ini untuk sepenuhnya mengikuti dan berbagian dalam pergerakan Tuhan pada masa kini bagi pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah.