← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 20/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (36)

Pembacaan Alkitab: Kis. 27:1-44

Dalam Kisah Para Rasul 27-28 Lukas memberikan satu narasi yang panjang tentang perjalanan Paulus dari Kaisarea ke Roma. Kita mungkin heran mengapa Lukas membahas catatan yang demikian panjang dan terperinci. Dalam hal-hal tertentu ia mencatat dengan sangat ringkas, tetapi catatan tentang perjalanan ini sangat terperinci dan mengharukan. Setelah merenungkan hal ini, saya percaya bahwa alasan untuk catatan yang terperinci ini adalah Lukas bermaksud menyajikan satu gambaran yang menyampaikan beberapa butir yang penting.

SERANGAN IBLIS

Butir pertama yang disampaikan dalam narasi Lukas yang panjang tentang perjalanan Paulus ini adalah serangan Iblis atas rasul. Iblis selalu berada di balik layar itu menyerang Paulus. Inilah alasannya yang membuat perjalanan sulit, penuh kesukaran, dan mengambil waktu yang demi-kian lama. Khususnya cuacanya sangat buruk. Kisah Para Rasul 27:4 mengatakan, “Oleh karena angin sakal kami berlayar dari situ menyusur pantai Siprus.” Kemudian, setelah menemukan kapal dari Aleksandria, “selama beberapa hari berlayar, kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah kami mendekati Knidus” (ay. 7). Kemudian dengan susah payah mereka sampai ke suatu tempat yang bernama Pelabuhan Indah. Akhirnya, setelah berlayar ke laut, “turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin Timur Laut” (ay. 14). Iblis berada di belakang kesulitan-kesulitan itu, menyerang rasul.

PERAWATAN KEDAULATAN TUHAN

Dalam gambaran yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 27 dan 28, kita juga melihat perawatan kedaulatan Tuhan. Tuhan ada di atas segala sesuatu, termasuk angin dan badai. Tuhan berdaulat atas perwira bernama Yulius yang membawa Paulus ke Roma dan atas semua prajurit yang bersama-sama dengannya. Di dalam kedaulatan-Nya, Tuhan membuat perwira ini berlaku ramah kepada Paulus. Mengenai hal ini, 27:3 mengatakan, “Keesokan harinya kami singgah di Sidon. Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan memperbolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya, supaya mereka memenuhi keperluannya.” Mungkin ada beberapa prajurit yang menemani Paulus, dan kelihatannya Paulus masih tetap dibelenggu dengan rantai. Bagaimanapun, dengan penuh kedaulatan Tuhan merawat Paulus.

Di dalam kedaulatan-Nya Tuhan juga mengutus seorang malaikat kepada Paulus di tengah-tengah badai yang dahsyat, ketika orang-orang di kapal itu kehilangan semua harapan akan diselamatkan (ay. 20, 23). Paulus bersaksi bahwa malaikat itu telah berkata kepadanya, “Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar. Sesungguhnya karena rahmat Allah kepadamu, maka semua orang yang berada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat (ay. 24). Seperti yang akan kita lihat, perkataan ini menunjukkan bahwa di kapal itu Paulus memiliki sebuah kerajaan kecil yang tersusun dari dua ratus tujuh puluh enam warga negara.

Lukas dan Aristarkhus, seorang Makedonia dari Tesalo-nika, ada bersama-sama dengan Paulus di kapal itu. Lukas berfungsi ganda. Pertama, sebagai seorang dokter medis, ia merawat kesehatan Paulus. Kedua, ia berfungsi sebagai seorang wartawan untuk mencatat rincian perjalanan itu. Kita besyukur kepada Tuhan untuk catatan ini. Semakin kita membacanya, semakin kita menyadari betapa ber-maknanya catatan ini. Dalam rincian catatan Lukas tentang perjalanan ini, kita melihat bahwa Tuhan menangkis serangan Iblis. Segala sesuatu yang terjadi itu berlangsung pada waktu yang tepat sehingga nyawa Paulus terpelihara.

KEHIDUPAN PAULUS

Gambaran dalam pasal-pasal dari kitab Kisah Para Rasul ini juga memperlihatkan kehidupan, tingkah laku, dan karakter Paulus. Kita melihat pengaruh Paulus yang unggul atas situasi itu. Kita juga melihat hikmat dan martabat kehidupan insaninya. Tidak diragukan lagi, kehidupan Paulus adalah suatu kehidupan yang memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia.

Jika kita membaca bagian ini dengan teliti, kita akan melihat bahwa kehidupan yang Paulus tempuh di sini adalah kehidupan yang didambakannya dalam Filipi 3. Dalam pasal itu Paulus mengatakan bahwa ia mencari (menuntut) Kristus agar orang lain menemukan bahwa ia berada di dalam Kristus (ay. 9, 12). Ketika saya membaca Kisah Para Rasul 27 dan 28, saya menemukan Paulus berada di dalam Kristus. Sepanjang perjalanan yang keras dan sulit itu, Paulus menempuh suatu kehidupan yang unggul, bermar-tabat, dan penuh dengan hikmat. Meskipun ia adalah seorang tawanan, ia bertingkah laku seperti seorang raja. Selain itu, ia memiliki pandangan dan hikmat untuk menangani urusan.

Tidak diragukan lagi, Tuhan menyertai Paulus. Di satu pihak, ia adalah seorang tawanan, di antara dua ratus tujuh puluh enam penumpang. Di pihak lain, ia adalah sentral, fokus, dari situasi itu, baik di kapal itu maupun di pulau di mana mereka terdampar setelah kapal itu hancur. Dalam setiap keadaan, Paulus menempuh suatu kehidupan yang unggul.

PEMBERITAHUAN DINI AKAN BAHAYA

DARI PELAYARAN ITU

Marilah kita membahas beberapa rincian yang tercatat dalam 27:1-44. Kisah Para Rasul 27:1 mengatakan, “Setelah diputuskan bahwa kami akan berlayar ke Italia, maka Paulus dan beberapa orang tahanan lain diserahkan kepada seorang perwira yang bernama Yulius dari pasukan Kaisar.” Kata ganti “kami” menunjukkan bahwa Lukas, penulis, termasuk di dalamnya. Pasukan Kaisar mungkin adalah pasukan kerajaan yang diberi nama oleh Kaisar Agustus (lih. Luk. 2:1). Satu pasukan adalah salah satu dari sepuluh divisi pasukan Roma pada zaman kuno. Satu divisi ini terdiri atas 600 prajurit.

Ayat 2 melanjutkan, “Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia, lalu kami bertolak. Aristarkhus, seorang Makedonia dari Tesalonika, menyertai kami.” Inilah permulaan perjalanan ministri rasul kali keempat, yang berakhir dalam 28:31.

Dalam catatannya, Lukas mengatakan bahwa di Mira “Perwira itu menemukan sebuah kapal dari Aleksandria yang hendak berlayar ke Italia. Ia memindahkan kami ke kapal itu” (ay. 6). Ayat 9-10 mengatakan, ‘Sementara itu sudah banyak waktu yang hilang. Hari Puasa sudah berlalu dan sudah berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Sebab itu Paulus memperingatkan mereka, katanya, Saudara-saudara, aku lihat bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita.” Puasa dalam ayat 9 mengacu kepada Hari Pendamaian (Im. 16:29-31; 23:27-29; Bil. 29:7).

Dalam ayat 10 Paulus mengatakan perasaannya tentang bahaya dari pelayaran itu. Pelaut-pelaut itu adalah orang-orang yang ahli dalam menjalankan kapal, dan mereka tahu banyak tentang angin dan laut, tetapi mereka tidak memiliki pandangan seperti yang dimiliki Paulus. Meskipun Paulus telah memperingatkan mereka akan bahaya dan kerugian yang akan mereka hadapi, “tetapi perwira itu lebih percaya kepada juru mudi dan nakhoda daripada kepada perkataan Paulus” (ay. 11). Jurumudi dan nakhoda kapal itu meyakinkan perwira itu agar tidak memperhatikan perkataan Paulus. Karena itu, menurut konsepsi mereka yang salah, mereka melanjutkan pelayaran itu. Memang, Paulus bukan seorang pelaut atau seorang jurumudi, melainkan seorang pengkhotbah yang saat itu menjadi tawanan. Namun, ia memiliki lebih banyak pandangan daripada perwira, prajurit, pelaut, jurumudi, dan nakhoda kapal itu. Di sini kita melihat karakter Paulus.

BADAI DAN PREDIKSI KEAMANAN OLEH PAULUS

Kisah Para Rasul 27:13-26 menggambarkan badai dan prediksi keamanan oleh Paulus. Ayat 13-14 mengatakan, “Pada waktu itu angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Mereka menyangka bahwa maksud mereka sudah tentu akan tercapai. Mereka membongkar sauh, lalu berlayar dekat sekali menyusur pantai Kreta. Tetapi tidak berapa lama kemudian turunlah dari arah pulau itu angin badai, yang disebut angin “Timur Laut”. Ayat 15-17 melanjutkan, “Kapal itu dilandanya dan tidak tahan menghadapi angin haluan. Karena itu kami menyerah saja dan membiarkan kapal kami terombang-ambing. Kemudian kami hanyut sampai ke pantai sebuah pulau kecil bernama Kauda, dan di situ dengan susah payah kami dapat menguasai sekoci kapal itu. Setelah sekoci itu dinaikkan ke atas kapal, mereka memasang alat-alat penolong dengan meliliti kapal itu dengan tali. Karena takut terdampar di dasar pasir Sirtis, mereka menurunkan layar dan membiarkan kapal itu terapung-apung saja.” “Menguasai sekoci kapal” adalah menurunkan sekoci, yang dalam cuaca cerah diikatkan dengan tambang ke buritan kapal (Vincent). Memasang alat-alat penolong yang disebutkan dalam ayat 17 adalah benda-benda seperti tambang dan rantai. Mengikat kapal dengan alat-alat penolong ini adalah mengikat badan kapal dengan tali. Sirtis, tempat yang mereka takut akan mengandaskan mereka adalah sebuah beting di sebelah barat daya pulau Kreta.

Menurut ayat 18-19, mereka mulai membuang muatan dan melemparkan alat-alat, atau perlengkapan kapal ke luar kapal. Ayat 20 menunjukkan bahwa badai itu begitu kuat sehingga akhirnya mereka kehilangan harapan: “Setelah beberapa hari tidak kelihatan matahari dan bintang-bintang dan angin badai yang dashyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.” Seperti yang akan kita lihat, waktu itu adalah kesempatan baik bagi Paulus untuk mengatakan sesuatu kepada orang-orang di kapal itu.

Mengenai hal ini, ayat 21 mengatakan, “Karena mereka beberapa lamanya tidak makan, berdirilah Paulus di tengah-tengah mereka dan berkata: Saudara-saudara, sekiranya nasihatku dituruti supaya kita jangan berlayar dari Kreta, kita pasti terhindar dari kesukaran dan kerugian ini!” Walaupun Paulus adalah tawanan yang terbelenggu, perilakunya menunjukkan keunggulan dengan kewibawaan. Catatan yang ditulis oleh Lukas sebagai catatan pergerakan Tuhan di bumi, tidak menekankan doktrin tetapi kesaksian dari saksi-saksi Tuhan (1:8). Karena itu, di dalam catatannya tidak ada rincian doktrin, tetapi perkara-perkara yang terjadi pada saksi-saksi-Nya untuk menggambarkan kesasian-kesaksian dalam hidup mereka. Hal ini terutama terlihat dalam catatan perjalanan Paulus dalam dua pasal terakhir kitab ini.

Di sini Paulus adalah seorang saksi Tuhan. Karena itu, kita tidak seharusnya membaca catatan Lukas hanya se-bagai suatu kisah tentang badai di laut. Melainkan, kita perlu melihat bahwa dalam kisah ini ada gambaran tentang kehidupan dari seorang saksi Kristus yang hidup.

Dalam 27:21 Paulus terus terang. Orang lain di kapal itu tidak dapat mengatakan apa-apa. Setiap orang, termasuk perwira dan nakhoda, ditaklukkan.

Dalam ayat 22 Paulus selanjutnya berkata, “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bersemangat, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.” Mereka semua telah putus asa dan sedang menunggu kematian. Namun, Paulus menyuruh mereka untuk tetap bersemangat, meyakinkan mereka bahwa tidak ada seorang pun yang akan binasa, kecuali kapal itu. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Tidak ada seorang pun yang akan kehilangan nyawanya di antara kita, tetapi kapal ini akan kandas. Karena kalian tidak mendengarkan aku, maka ka-lian akan kehilangan kapal kalian.”

Ayat 23-24 melanjutkan, “Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, dan ia berkata: Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar. Sesung-guhnya karena rahmat Allah kepadamu, maka semua orang yang berada bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat.” Dalam ayat 23 Paulus pertama-tama menunjukkan bahwa ia adalah milik Allah, kemudian menunjukkan bahwa ia melayani Allah. Kata “sembah” dalam bahasa aslinya “melayani sebagai seorang imam”.

Dalam ayat 24 malaikat itu menjamin Paulus bahwa ia akan berdiri di hadapan Kaisar. Ini adalah untuk menggenapkan janji Tuhan dalam 23:11 dan mewujudkan keinginan rasul dalam 19:21.

Menurut ayat 24, Allah telah mengaruniakan kepada Paulus semua orang yang bersama-sama dengan dia. Ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan mereka kepada Paulus dan bahwa mereka semua ada di bawah kuasanya. Tanpa kehadiran Paulus, mereka akan kehilangan nyawa mereka. Di sini Paulus seolah-olah akan berkata, “Karena akulah, nyawa kalian akan terpelihara. Tuhan telah memberikan kalian semua kepadaku.”

Dalam ayat 25-26 Paulus melanjutkan, “Sebab itu tetaplah bersemangat, Saudara-saudara! Karena aku percaya kepada Allah bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dikatakan kepadaku. Namun kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau.” Kita mungkin mengang-gap perkataan ini sebagai satu petunjuk dan sebagai satu nubuat. Paulus memiliki hikmat untuk melihat/menembus situasi itu dan memahami apa yang akan terjadi. Karena ia mengucapkan perkataan yang tegas tentang mendamparkan kapal ke satu pulau tertentu, maka kita dapat menganggap perkataan ini sebagai satu nubuat.

KEUNGGULAN DAN HIKMAT PAULUS

BERLAWANAN DENGAN KERENDAHAN

DAN KEBODOHAN AWAK-AWAK KAPAL

DAN PARA PRAJURIT

Dalam 27:27-44 kita memiliki suatu pertentangan antara kerendahan dan kebodohan awak-awak kapal dan para prajurit dengan keunggulan dan hikmat Paulus. Ini menunjukkan bahwa orang-orang yang tanpa Kristus itu rendah dan bodoh. Para pelaut itu berusaha melarikan diri dari kapal, tetapi mereka ditangkap oleh Paulus, yang mengamat-amati mereka seperti seorang raja: “Akan tetapi para awak kapal berusaha untuk melarikan diri dari kapal. Mereka menurunkan sekoci dan berbuat seolah-olah mereka hendak melabuhkan beberapa sauh di haluan. Karena itu Paulus berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya: Jika mereka tidak tinggal di kapal, kamu tidak mungkin selamat. Lalu prajurit-prajurit itu memotong tali sekoci dan membiarkannya hanyut” (ay. 30-32). Paulus memberi tahu perwira dan prajurit-prajurit itu bahwa mereka tidak dapat selamat kecuali para awak kapal itu tetap tinggal di kapal. Paulus bagaikan seorang pemegang perintah, memberi perintah kepada “pasukannya” untuk melakukan apa yang diperlukan.

Ayat 33-34 melanjutkan, “Menjelang fajar, Paulus mengajak semua orang untuk makan, katanya: Sudah em-pat belas hari kamu menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. Karena itu aku menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk kesela-matanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun dari rambut kepalanya.” Mereka telah menghadapi badai itu selama empat belas hari, dan mereka tidak berselera untuk makan sesuatu. Sekarang Paulus mendorong mereka untuk makan, karena ini penting untuk keselamatan mereka. Kata “keselamatan” di sini berarti bah-wa tanpa makan orang-orang itu tidak akan diselamatkan dari badai. Mereka perlu makan agar mendapatkan kekuatan untuk berenang dan untuk melakukan apa yang perlu begitu mereka tiba di pulau.

Ayat 35 mengatakan, “Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan.” Di sini Paulus bertindak bagaikan seorang raja, atau sedikitnya seperti kepala dari satu keluarga besar. Ia bersyukur untuk makanan itu dan kemudian makan. Badai masih berkecamuk, kapal itu bergoyang-goyang, dan mereka takut kehilangan nyawa mereka. Meskipun demikian, Paulus menyuruh mereka tetap bersemangat supaya tenang, dan makan untuk mendapatkan kekuatan yang mereka perlukan. Kemudian, di hadapan mereka semua, ia memelopori makan. Semua orang itu takut dan tidak berselera untuk makan. Karena alasan ini, Paulus memberikan satu teladan dan sepertinya ia berkata, “Aku gembira dan tenang. Aku mendorong kalian semua mengikuti aku, karena aku adalah seorang manusia yang memperhidupkan Kristus.” Karena Paulus memelopori bersikap gembira dan makan, “Semua orang itu kembali bersemangat dan mereka pun makan juga” (ay. 36). Menurut ayat 37, semuanya ada “dua ratus tujuh puluh enam jiwa.” Seperti yang telah kita tunjukkan, mereka semua sebenarnya takluk dalam kerajaan yang diperintah oleh Paulus.

Dalam 27:30 para awak kapal itu ingin melarikan diri, dan dalam ayat 42 prajurit-prajurit ingin membunuh tahanan-tahanan: “Pada waktu itu prajurit-prajurit ber-maksud untuk membunuh tahanan-tahanan, supaya jangan ada seorang pun yang melarikan diri dengan berenang.” Namun, Tuhan dalam kedaulatan-Nya melindungi Paulus. “Tetapi perwira itu ingin menyelamatkan Paulus. Karena itu ia mencegah mereka melaksanakan niat mereka, dan me-merintahkan, supaya orang-orang yang pandai berenang lebih dahulu terjun ke laut dan naik ke darat, dan supaya orang-orang lain menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal. Demikianlah mereka semua selamat naik ke darat” (ay. 43-44). Apa yang dilakukan perwira itu dalam menggagalkan maksud prajurit-prajurit itu sekali lagi adalah kedaulatan Tuhan untuk memelihara nyawa hamba-Nya. Karena perlindungan kedaulatan Tuhan terhadap Paulus, maka semua orang di kapal itu dibawa dengan selamat ke darat, ke sebuah pulau yang bernama Malta (28:1).