← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 19/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (35)

Pembacaan Alkitab: Kis. 26:1-32

Dalam berita ini kita akan melanjutkan membahas pembelaan Paulus di hadapan Agripa (26:1-29). Kemudian kita akan melanjutkan membahas penghakiman Agripa tentang perkara Paulus (26:30-32).

Dalam pembelaannya di hadapan Agripa, Paulus bersaksi tentang Tuhan menampakkan diri kepadanya dan berkata, “Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari Aku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan menyelamatkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Aku akan mengutus engkau kepada mereka” (ay. 16-17). Kita telah melihat bahwa Paulus ditetapkan bukan hanya menjadi pelayan (minister), tetapi juga menjadi saksi. Dalam ayat 17 Tuhan memberi tahu Paulus bahwa Dia akan menyelamatkannya dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa Kafir.

ISI AMANAT YANG DITERIMA PAULUS

Untuk Membuka Mata Orang

Dalam ayat 18 kita memiliki isi dari amanat yang diterima Paulus: “Untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.” Di sini membuka mata orang adalah melak-sanakan penggenapan Yobel Allah, tahun rahmat Tuhan, yang diproklamirkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:18-21 menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tahun rahmat Tuhan dalam Lukas 4:19 adalah zaman Perjanjian Baru yang dilambangkan oleh tahun Yobel (Im. 25:8-17). Pada zaman ini Allah akan menerima tawanan-tawanan dosa yang kembali (Yes. 49:8; 2 Kor. 6:2) dan mereka yang tertindas di bawah belenggu dosa akan menikmati pembebasan keselamatan Allah. Butir pertama berkat rohani dan ilahi dari yobel Perjanjian Baru, yang adalah berkat Injil Allah, adalah membuka mata orang yang telah jatuh dan memalingkan mereka dari kegelapan kepada terang, supaya me-reka dapat melihat hal-hal ilahi dalam alam yang rohani. Untuk melihat hal-hal ini diperlukan pandangan rohani dan terang ilahi.

Banyak dari antara kita yang memiliki pengalaman mendengar berita-berita tertentu yang membawa kita ke dalam kegelapan, atau mendengar berita-berita lain yang membawa kita ke dalam terang. Misalnya Anda mendengar satu khotbah seorang pengkhotbah, pendeta, atau pemberita. Semakin Anda mendengar khotbah itu, Anda semakin dibawa ke dalam kegelapan, dan segala sesuatunya menjadi kabur. Namun, Anda mungkin mendengar berita-berita lain, dan semakin Anda mendengarnya, terang ilahi itu makin bersinar di dalam Anda. Fajar menyingsing, mata Anda terbuka, dan Anda mulai melihat hal-hal rohani. Inilah berita yang membuka mata orang.

Berpaling dari Kegelapan kepada Terang, dari Kuasa Iblis kepada Allah

Kisah Para Rasul 26:18 bukan hanya membicarakan tentang membuka mata orang, tetapi juga berpaling dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah. Perpalingan inilah yang kita sebut sebagai suatu peralihan. Berpaling dari kegelapan kepada terang adalah beralih dari kegelapan ke dalam terang, dan berpaling dari kuasa Iblis kepada Allah adalah dialihkan dari kuasa Iblis ke dalam Allah. Betapa besarnya peralihan ini!

Kegelapan adalah tanda dari dosa dan kematian; terang adalah tanda dari kebenaran dan hayat (Yoh. 1:4; 8:12). Kuasa Iblis adalah kerajaan Iblis (Mat. 12:26), yang adalah milik kegelapan. Iblis adalah penguasa dunia ini (Yoh. 12:31) dan penguasa kerajaan angkasa (Ef. 2:2). Iblis memiliki kuasanya dan malaikat-malaikatnya (Mat. 25:41), yang adalah bawahan-bawahannya sebagai pemerintah-pemerin-tah, penguasa-penguasa, dan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini (Ef. 6:12). Maka, Iblis memiliki kerajaan, kuasa kegelapan (Kol. 1:13).

Menurut 26:18, kita dialihkan dari kuasa Iblis kepada Allah. Sebenarnya, dialihkan kepada Allah adalah dialihkan kepada kuasa Allah, kepada Kerajaan Allah milik terang. Sebelumnya kita berada di dalam kegelapan dan berada di bawah kuasa Iblis. Tetapi kita telah dialihkan dari kegelapan dan dari kuasa Iblis ke dalam terang dan ke dalam Allah.

Kegelapan sebenarnya adalah kuasa Iblis. Kapan saja kita berada di dalam kegelapan, kita berada di bawah kuasa Iblis. Terang adalah Allah itu sendiri (1 Yoh. 1:5). Karena itu, ketika kita berada di dalam terang, kita berada di dalam Allah. Sama seperti Iblis dan kegelapan adalah satu, demikian juga Allah dan terang adalah satu. Peralihan pal-ing besar yang bisa kita alami adalah peralihan dari gelap ke dalam terang.

Dalam Kisah Para Rasul 21 Yakobus mempromosikan hal-hal yang lama dari Yudaisme. Ketika ia melakukan hal itu, ia berada di dalam kegelapan. Yakobus berkata kepada Paulus, “Saudara, lihatlah, beribu-ribu orang Yahudi telah percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (21:20). Perkataan ini dikatakan di dalam kegelapan, dan perkataan ini menunjukkan bahwa Yakobus sendiri itu buta dan berada di dalam kegelapan. Karena ia berada di dalam kegelapan, ia juga berada di bawah kuasa Iblis. Tidaklah terlalu keras bila kita mengatakan hal ini mengenai Yakobus.

Paulus benar-benar tidak buta. Namun, dalam Kisah Para Rasul 21, ia berada di dalam bahaya ditarik kembali ke dalam kegelapan. Sebenarnya, selama hari-hari ia berada di dalam Bait Allah dengan orang lain untuk melengkapi nazar orang Nazir, ia berada di dalam kegelapan.

Pengampunan Dosa

Dalam 26:18 kita melihat bahwa ketika mata kita terbuka dan memiliki satu peralihan, satu perpalingan dari kegelapan dan kuasa Iblis kepada terang dan Allah, kita dapat menerima pengampunan dosa. Pengampunan dosa adalah dasar semua berkat dari yobel Perjanjian Baru. Peng-ampunan dosa yang sejati datang melalui membuka mata dan beralih dari Iblis kepada Allah. Karena itu, mata kita perlu terbuka dan beralih dari kuasa Iblis kepada Allah untuk menerima pengampunan dosa yang lengkap dan sempurna.

Warisan Ilahi

Kristus Adalah Perwujudan Allah Tritunggal

Hasil dari mata kita terbuka dan kita dialihkan dari kuasa Iblis kepada Allah, kita bukan hanya memiliki pengampunan dosa di pihak negatif, tetapi juga menerima satu warisan di pihak positifnya. Warisan ilahi ini adalah Allah Tritunggal sendiri dengan segala yang Dia miliki, segala yang telah Dia kerjakan, dan segala yang akan Dia kerjakan bagi umat tebusan-Nya. Allah Tritunggal ini diwujudkan di dalam Kristus yang almuhit (Kol. 2:9), adalah bagian yang dibagikan kepada orang-orang kudus sebagai warisan mereka (Kol. 1:12). Roh Kudus, yang diberikan kepada kaum saleh, adalah pencicipan, jaminan, dan garansi warisan ilahi ini (Rm. 8:23; Ef. 1:13-14). Hari ini kita berbagian dan menik-mati warisan ini sebagai pencicipan dalam Yobel Perjanjian Baru Allah; pada zaman yang akan datang dan sampai kekekalan kita akan menikmati sepenuhnya (1 Ptr. 1:4). Dalam lambang Yobel (Im. 25:8-13) berkat yang terutama adalah memproklamirkan pembebasan dan kembalinya setiap orang kepada miliknya yang semula. Dalam penggenapan Yobel di sini, pembebasan dari kuasa kegelapan dan penerimaan warisan ilahi adalah berkat-berkat terutama.

Kaum beriman secara umum diajar bahwa bagian (warisan) dalam Kisah Para Rasul 26:18 adalah satu rumah surgawi. Inilah yang diberitahukan kepada saya semasih muda. Tetapi setelah lebih dari lima puluh tahun mempel-ajari Alkitab, saya mengetahui bahwa warisan ini adalah Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Kristus ini adalah bagian orang-orang kudus. Dalam Kolose 1:12 Paulus mengatakan bahwa Bapa telah melayakkan kita “untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang.” Bagian ini adalah “undian,” warisan orang-orang kudus. Warisan ini adalah satu undian, dan undian ini adalah satu bagian.

Dalam Perjanjian Lama, setiap suku dari dua belas suku Israel menerima satu undian, satu bagian dari tanah permai sebagai warisan. Tanah permai adalah lambang dari Kristus yang almuhit yang diberikan kepada kita sebagai warisan kita. Karena itu, Kristus, perwujudan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, adalah warisan kita. Warisan ini adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses yang sepenuhnya terwujud di dalam Persona Kristus yang almuhit, yang melalui kebangkitan telah menjadi Roh pemberi-hayat.

Di antara Orang-orang yang Dikuduskan

Menurut Kisah Para Rasul 26:18, warisan ilahi ini adalah di antara orang-orang yang telah dikuduskan oleh iman dalam Kristus. Pengudusan ini bukan hanya pada aspek posisi melainkan juga pada aspek watak (Rm. 6:19, 22). Pengudusan (dijadikan kudus) bukan hanya perkara posisi, yaitu bukan hanya perkara dipisahkan dari posisi yang umum, yang duniawi kepada satu kedudukan bagi Allah, seperti yang diilustrasikan dalam Matius 23:17 dan 19, di mana emas dikuduskan oleh bait dan persembahan dikudus-kan oleh mezbah melalui satu perubahan posisi, dan dalam 1 Timotius 4:3-5, di mana makanan dikuduskan oleh doa orang-orang kudus. Pengudusan juga adalah perkara watak, yaitu perkara diubah dari watak yang alamiah kepada yang rohani, seperti yang disinggung dalam 2 Korintus 3:18 dan Roma 12:2. Hal ini melibatkan satu proses yang panjang, yang dimulai dari kelahiran kembali (1 Ptr. 1:2-3; Tit. 3:5), melalui seluruh kehidupan Kristiani (1 Tes. 4:3; Ibr. 12:14; Ef. 5:26), dan disempurnakan pada waktu pengangkatan, pada waktu kematangan hayat (1 Tes. 5:23).

Dikuduskan pada aspek posisi hanya mengubah kedudukan dan kegunaan; dikuduskan pada aspek watak berarti diubah dalam sifat oleh dan dengan sifat kudus Allah. Dikuduskan berarti dijenuhi oleh Allah. Dialah warisan kita untuk kenikmatan kita hari ini. Pengudusan pada aspek watak ini akan rampung ketika kita sudah matang dalam hayat Allah, menjadi serupa dengan Allah; dan pada masa yang akan datang dan sampai kekekalan kita layak mendapatkan dan menikmati Dia sepenuhnya sebagai warisan kita.

TIDAK PERNAH TIDAK TAAT KEPADA

PENGLIHATAN SURGAWI

Dalam 26:19-20 Paulus bersaksi, “Sebab itu, ya Raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat. Tetapi mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang di Damsyik, di Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Pemakaian kata “penglihatan” oleh Paulus dalam ayat 19 menunjukkan bahwa Paulus bukan taat kepada doktrin, teori, tata cara agama, atau teologi apa pun, melainkan visi surgawi, yang di dalamnya Paulus melihat bagaimana perkara-perkara ilahi Allah Tritunggal disalurkan ke dalam orang yang Ia pilih, tebus, dan ubah. Semua pemberitaannya dalam Kisah Para Rasul dan tulisannya dalam keempat belas Surat-surat Kirimannya dari Roma sampai Ibrani, adalah penjelasan rinci dari visi surgawi yang dilihatnya.

BERSATU DENGAN ALLAH

Dalam 26:21-22 Paulus melanjutkan, “Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah dan mencoba membunuh aku. Tetapi dengan pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang dan bersaksi kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Apa yang kuberitakan itu tidak lain dari yang telah diberitahukan sebelumnya oleh para nabi dan juga oleh Musa.” Kata “pertolongan” dalam ayat 22 juga berarti “bantuan.” Akar kata Yunani ini berarti rela bergabung/bersatu. Ini menyiratkan bahwa rasul bersatu dengan Allah dan sadar akan bantuan Allah dalam kesatuan ini.

BERSAKSI BAHWA KRISTUS HARUS MENDERITA DAN MEMBERITAKAN TERANG

Istilah “hidup” dalam 26:22 dalam bahasa aslinya adalah “berdiri”. Paulus pernah berdiri di hadapan kepala pasukan Romawi dan di hadapan Feliks dan Festus. Sekarang Paulus sedang berdiri di hadapan Agripa. Sewaktu Paulus berdiri di hadapan Agripa, Paulus berani, mengatakan bahwa ia bersaksi kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Paulus bersaksi kepada orang-orang besar termasuk Feliks, Festus, dan Agripa.

Paulus memberi tahu Agripa bahwa ia tidak menyaksi-kan sesuatu yang terpisah dari hal-hal yang akan terjadi yang diberitahukan para nabi dan juga oleh Musa, “bahwa Mesias harus menderita dan bahwa Dialah yang pertama yang akan bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Ia akan memberitakan terang kepada bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain” (ayat. 23). Kalimat “bangkit dari antara orang mati”, dalam bahasa aslinya adalah “keluar dari antara kebangkitan orang mati”. Dalam 26:23 Paulus mengatakan bahwa Kristus memberitakan terang kepada umat itu dan kepada bangsa-bangsa Kafir. Kata “terang” di sini menunjukkan penerangan Allah Sang Terang (1 Yoh. 1:5), bersinar di dalam Kristus terang dunia itu (Yoh. 8:12; 9:5), melalui pemberitaan Injil kemuliaan Kristus (2 Kor. 4:4, 6). Di sini Paulus berbicara tentang terang, bukan hayat, karena orang-orang agama dan politisi-politisi Romawi itu berada di dalam kegelapan. Karena mereka berada di dalam sebuah “sel” yang gelap, maka Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah yang pertama yang bangkit dari antara or-ang mati, dan bahwa Ia memberitakan terang kepada umat itu dan kepada bangsa-bangsa Kafir.

REAKSI FESTUS DAN JAWABAN PAULUS

Kisah Para Rasul 26:24 melanjutkan, “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk membela dirinya, berkatalah Festus dengan suara keras: Engkau gila, Paulus! Pengetahuanmu yang banyak itu membuat engkau gila.” Kata “gila” di sini berarti sinting, lupa diri. Festus, yang adalah tuan rumah dan bukan tamu seperti Agripa, berkata dengan suara keras bahwa pengetahuan Paulus yang banyak membuat ia gila. Sebagai tuan rumah, Festus seharusnya tidak mengatakan apa-apa.

Dalam ayat 25-26 Paulus menjawab, “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Sebaliknya, aku mengatakan kebenaran dengan pikiran sehat! Raja juga tahu tentang hal-hal ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin bahwa tidak ada sesuatu pun dari semuanya ini yang belum diketahuinya, karena hal ini tidak terjadi di tempat yang terpencil.” Dalam ayat-ayat ini Paulus pertama-tama memberi tahu Festus bahwa ia tidak gila, ia sangat sehat dan juga memiliki pikiran sehat, mengungkapkan kata-kata dari kebenaran dan dari pikiran yang sehat. Kemudian Paulus mengatakan bahwa Agripa tahu tentang hal-hal ini. Agripa, seorang penganut agama Yahudi, tahu hal-hal tentang Perjanjian Lama dan tentang kebangkitan. Paulus seolah-olah berkata, “Agripa juga tahu tentang hal-hal ini, karena ia adalah salah satu dari orang Yahudi.”

Dalam ayat 27 Paulus berkata kepada Agripa, “Per-cayakah engkau, Raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu bahwa engkau percaya kepada mereka.” Sebagai seorang anggota agama Yahudi, Agripa tentu percaya kepada para nabi.

Dalam ayat 28 Agripa menjawab Paulus, berkata, “Dengan sedikit anjuran engkau mau meyakinkan aku menjadi orang Kristen?” (Tl.). Dalam menjawab pertanyaan Agripa, Paulus berkata, “Aku mau berdoa kepada Allah, supaya cepat atau lambat bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini” (ay. 29). Perkataan Paulus dalam ayat ini sangat menggugah hati orang.

PENGHAKIMAN AGRIPA

Kisah Para Rasul 26:30-32 mengatakan, “Lalu bangkit-lah raja dan gubernur serta Bernike dan semua orang yang duduk bersama-sama mereka. Sementara mereka keluar, mereka berkata seorang kepada yang lain: Orang itu tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara.” Kata Agripa kepada Festus: Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar.” Di sini kita melihat bahwa dalam opini Agripa, Paulus dapat dibebaskan jika ia tidak naik banding kepada Kaisar. Namun, tanpa naik banding ini, rasul mungkin telah dibunuh orang-orang Yahudi melalui penanganan Festus yang tidak adil terhadapnya (25:9), sehingga hidupnya tidak dapat dipelihara sampai hari itu. Jika Paulus tidak naik banding kepada Kaisar, ia mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menulis Surat-surat Kiriman yang penting seperti Surat Efesus, Kolose, Filipi, dan Ibrani.

Dalam bagian dari Kisah Para Rasul 21:27—26:32, suatu cerita yang panjang tentang penganiayaan akhir dari orang-orang Yahudi terhadap rasul, tersingkaplah ciri-ciri khas dari semua pihak yang terlibat: Pertama kita melihat kegelapan, kebutaan, kebencian, dan kemunafikan agama Yahudi. Kedua, kita melihat ketidakadilan dan kebobrokan politik Romawi. Ketiga, kita melihat ketransparanan, terang, kesetiaan, dan keberanian rasul. Keempat, ada rawatan dorongan Tuhan terhadap saksi-Nya dan kedaulatan-Nya atas seluruh situasi untuk merampungkan kehendak ilahi-Nya.