PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (34)
Pembacaan Alkitab: Kis. 26:1-32
Dalam berita ini kita akan mulai membahas pembelaan Paulus di hadapan Agripa dan penghakiman Agripa (26:1-32)
PAULUS MEMBELA DIRI DI HADAPAN AGRIPA
DAN DIRINYA SEBAGAI SEORANG FARISI
Setelah Agripa memberi tahu Paulus bahwa ia diizinkan untuk membela diri, Paulus memberi isyarat dengan tangannya dan mulai mengatakan pembelaannya dengan berkata, “Ya Raja Agripa, aku merasa beruntung, karena pada hari ini aku dapat membela diriku di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diri ku, terutama karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan-persoalan di antara orang Yahudi. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar” (ay. 2-3). Seperti yang telah berkali-kali kita tunjukkan, dalam menghadapi para penentangnya, Paulus perlu mengadakan pembelaan untuk menyelamatkan nyawanya dari para penganiayanya. Dengan mengadakan pembelaan untuk menyelamatkan nyawanya demikian, ia akan dapat merampungkan perjalanan ministrinya.
Paulus membela dirinya di hadapan Agripa sebagai orang yang tahu benar-benar dalam segala adat istiadat dan persoalan-persoalan di antara orang Yahudi. Kalimat “karena engkau tahu benar-benar,” juga dapat diterjemahkan “karena engkau adalah ahlinya.”
Dalam ayat 4-5 Paulus melanjutkan, “Semua orang Yahudi mengetahui jalan hidupku sejak masa mudaku, sebab sejak semula aku hidup di tengah-tengah bangsaku di Yerusalem. Sudah lama mereka mengenal aku dan sekira-nya mereka mau, mereka dapat bersaksi bahwa aku telah hidup sebagai seorang Farisi menurut aliran yang paling keras dalam agama kita.” Di sini Paulus membenarkan dirinya dengan mengatakan bahwa bahkan sebelum bertobat, ia adalah orang yang tepat dan menempuh suatu kehidupan yang ketat sebagai seorang Farisi. Tentu, di pandangan Al-lah, Paulus itu tidak tepat. Tetapi secara manusia, ia benar-benar menempuh suatu kehidupan yang tepat, dan tidak ada dasar bagi siapa pun untuk menyalahkannya.
PENTINGNYA KEBANGKITAN
Dalam ayat 6-8 Paulus melanjutkan membicarakan tentang kebangkitan: “Sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh karena aku mengharapkan janji yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita. Pemenuhan janji itulah yang dinantikan oleh kedua belas suku kita, sementara mereka siang malam melakukan ibadahnya dengan tekun. Karena pengharapan itulah, ya Raja Agripa, aku dituduh orang-orang Yahudi. Mengapa kamu menganggap mustahil bahwa Allah membangkitkan orang mati?” Dalam ayat-ayat ini Paulus menunjukkan bahwa berkebalikan dengan orang Saduki, ia selalu percaya kepada kebangkitan. Dalam Perjanjian Lama, ada pengajaran tentang kebangkitan, khususnya dalam Daniel 12. Kita perlu mempertim-bangkan hal ini dengan teliti.
Dalam Alkitab, kebangkitan menyiratkan penghakiman yang akan datang, dan penghakiman menyiratkan eskatologi. Karena itu, kebangkitan berhubungan dengan masa depan seseorang pada masa yang akan datang, entah dalam kekekalan ia akan bahagia atau menderita kebinasaan. Masa depan seseorang dalam kekekalan itu tergantung pada peng-hakiman, dan penghakiman itu memerlukan kebangkitan. Dari hal ini kita melihat bahwa kebangkitan adalah satu perkara penting dalam Kitab Suci, karena hal ini ber-hubungan dengan nasib kekal kita. Bahkan sebelum ber-tobat, Paulus, sebagai seorang Farisi, sudah percaya kepada kebangkitan.
Tuhan Yesus membicarakan dengan jelas mengenai kebangkitan dalam Yohanes 5:28-29: “Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.” Kita telah melihat bahwa kebangkitan kepada hayat adalah kebangkitan kaum beriman yang beroleh selamat sebelum Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4, 6; 1 Kor. 15:23, 52; 1 Tes. 4:16). Kaum beriman yang telah mati akan bangkit pada waktu kedatangan kembali Tuhan Yesus untuk menikmati hayat yang kekal. Kebangkitan kepada penghakiman adalah kebang-kitan untuk dihukum dari orang-orang yang tidak percaya setelah Kerajaan Seribu Tahun itu (Why. 20:5, 12). Semua orang yang tidak percaya yang telah mati akan bangkit setelah seribu tahun itu untuk dihakimi di hadapan takhta putih besar (Why. 20:11-15). Bahkan sebelum ia beroleh selamat, Paulus percaya kepada kebangkitan kepada hayat dan kebangkitan kepada penghakiman, seperti yang diajar-kan dalam Daniel 12:2.
MELAKUKAN BANYAK HAL UNTUK
MENENTANG NAMA YESUS
Dalam 26:9-11 Paulus mengaku kepada Agripa bahwa ia melakukan banyak hal untuk menentang nama Yesus: “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka bahwa aku harus bertindak keras menentang nama Yesus dari Nazaret. Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksa mereka untuk menyangkal imannya dan dengan kemarahan yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing.” Kata “asing” dalam ayat 11 berarti “ke luar kota”. Paulus bukan hanya menentang Yesus orang Nazaret, tetapi juga menyerang Dia. Dalam kebutaannya, Paulus menganggap Tuhan Yesus tidak lebih daripada seorang Nazaret yang miskin. Ia menyerang nama Yesus orang Nazaret sedemikian rupa sehingga ia memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara. Sekarang di hadapan Agripa, ia mengakui perbuatan-perbuatannya yang bodoh.
PENAMPAKAN DIRI TUHAN
Selanjutnya Paulus memberi tahu Agripa bahwa sewaktu ia berada dalam perjalanan untuk menganiaya orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia sendiri didapatkan oleh Tuhan. “Dalam keadaan demikian, ketika aku dengan kuasa penuh dan penugasan dari imam-imam kepala sedang dalam perjalanan ke Damsyik, tiba-tiba, ya Raja Agripa, pada tengah hari aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang daripada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menentang Dia yang berkuasa atasmu. Tetapi aku menjawab: Siapa Engkau, Tuhan? Kata Tuhan: Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.” Kita telah menekankan dengan tegas fakta bahwa “Aku” ini adalah korporat, yang meliputi Yesus Tuhan dan semua kaum beriman-Nya. Kita juga telah melihat bahwa Paulus secara spontan menyebut Yesus sebagai Tuhan, bahkan tanpa mengenal-Nya.
DITETAPKAN UNTUK MENJADI MINISTER DAN SAKSI
Ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada Paulus, Dia memberikan amanat kepadanya, menetapkan dia untuk menjadi pelayan (minister) dan saksi. Mengenai hal ini, Tuhan berkata kepadanya, “Tetapi sekarang, bangunlah dan berdirilah. Aku menampakkan diri kepadamu untuk mene-tapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari Aku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (ay. 16). Di sini kita melihat bahwa Tuhan menetapkan Paulus menjadi minister dan saksi. Seorang minister adalah untuk ministri; seorang saksi adalah untuk kesaksian. Ministri terutama berhu-bungan dengan pekerjaan, dengan apa yang dilakukan minister; kesaksian berhubungan dengan orangnya, dengan apa adanya saksi itu.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa yang akan dipakai oleh Kristus yang naik ke surga untuk melaksana-kan ministri surgawi-Nya bagi pengembangbiakan diri-Nya sendiri, supaya Kerajaan Allah dapat didirikan, bagi pem-bangunan gereja-gereja, menjadi ekspresi-Nya, bukanlah sekelompok pengkhotbah yang dilatih oleh pengajaran manu-sia untuk melakukan suatu pekerjaan pengkhotbahan. Melainkan, Tuhan ingin memakai sekelompok orang sebagai saksi-saksi, yang menjadi kesaksian yang hidup dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik ke surga. Menurut kitab Kisah Para Rasul, Iblis dapat menghasut para agamawan Yahudi dan memanfaatkan politisi-politisi Kafir untuk membelenggu para rasul dan ministri pemberitaan Injil mereka, tetapi ia tidak dapat membelenggu saksi-saksi Kristus yang hidup dan kesaksian hidup mereka. Semakin para agamawan Yahudi dan politisi-politisi Kafir membelenggu para rasul dan ministri pemberitaan Injil mereka, semakin kuat dan terang saksi-saksi Kristus dan kesaksian hidup mereka itu. Dalam penampakan-Nya kepada Paulus dalam perjalanan ke Damsyik, Tuhan dengan jelas memberi tahu dia bahwa Tuhan menetapkannya bukan hanya menjadi seorang minister, tetapi juga menjadi seorang saksi. Kita telah melihat bahwa sebagai saksi Kristus yang hidup, Paulus bersaksi tentang Dia di Yerusalem dan juga akan bersaksi tentang Dia di Roma (23:11).
Dalam 1:8 Tuhan berkata kepada murid-murid, “Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Saksi-saksi adalah sekelompok orang yang memikul kesaksian yang hidup tentang Kristus yang bangkit dan naik ke surga dalam hayat. Mereka berbeda dengan pengkhotbah-pengkhotbah yang hanya memberitakan doktrin harfiah. Kitab Kisah Para Rasul mencatat, dalam kenaikan-Nya Kristus akan merampungkan ministri-Nya di surga melalui martir-martir ini di dalam hayat kebangkitan-Nya dan dengan kekuatan dan kuasa kenaikan-Nya, untuk menyebarluaskan diri-Nya sendiri menjadi perkembangan Kerajaan Allah sampai ke ujung bumi.
Dalam semua cobaan yang telah ia lalui, Paulus bukan hanya mengajar atau meministrikan; ia juga terus-menerus memikul satu kesaksian. Ia adalah satu kesaksian di hadapan orang-orang Yahudi yang menentang dan di hadapan kepala pasukan dari pasukan Roma. Paulus adalah satu kesaksian di hadapan Feliks, gubernur Yudea, dan di hadap-an Festus, yang menggantikan Feliks menjadi gubernur. Sekarang dalam Kisah Para Rasul 26 kita melihat bahwa Paulus sekali lagi menjadi saksi yang hidup, kali ini di ha-dapan Agripa. Namun, Paulus tidak memberitakan kepada Agripa dengan berkata, “Raja Agripa, kamu harus tahu bahwa aku adalah saksi Kristus.” Sebaliknya, Paulus bersaksi kepada Agripa bahwa Tuhan telah menjumpainya dan menetapkannya sebagai seorang minister dan saksi.
MEMPERSAKSIKAN HAL-HAL YANG KITA LIHAT
TENTANG KRISTUS
Dalam ayat 16 Tuhan Yesus berkata kepada Paulus, “Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari Aku dan tentang apa yang akan Ku perlihatkan kepadamu nanti. Frasa “segala sesuatu yang telah kaulihat dari Aku” dan “apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu,” mengandung arti “ kamu pernah melihat Aku dalam hal-hal ini” dan “Aku akan menampakkan diri kepadamu dalam hal-hal ini”. Di sini Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah menetapkannya untuk menjadi minister dan saksi dari hal-hal yang telah Dia wahyukan kepada Paulus dan dari hal-hal yang akan Dia wahyukan kepada-nya. Meskipun ini adalah maksud Paulus, tetapi ia tidak secara demikian menyajikan perkara itu. Sebaliknya, ayat ini membicarakan tentang hal-hal yang di dalamnya Paulus telah melihat Tuhan dan hal-hal yang di dalamnya Tuhan akan menampakkan diri kepadanya.
Kisah Para Rasul 26:16 menunjukkan bahwa Paulus tidak menerima wahyu tentang hal-hal itu tanpa melihat Kristus. Sebaliknya, ia menerima hal-hal yang di dalamnya ia melihat Kristus. Dengan kata lain, Kristus tidak memberi wahyu kepada Paulus tanpa diri-Nya sendiri sebagai isi dari hal-hal itu. Inilah alasannya Paulus akan menjadi saksi dari hal-hal yang di dalamnya ia telah melihat Tuhan. Dalam semua visi yang Paulus lihat, ia melihat Kristus. Selain itu, ia akan menjadi saksi dari hal-hal yang di dalamnya Tuhan akan menampakkan diri kepadanya. Di sini Tuhan seolah-olah berkata kepada Paulus, “Di dalam semua visi dan wahyu yang akan kau terima, Aku akan menampakkan diri kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa jika kita hanya melihat visi dan wahyu tetapi tidak melihat Tuhan, maka apa yang kita lihat itu adalah sia-sia.
Kita tidak setuju dengan mempelajari Alkitab hanya secara teologis. Orang-orang yang mempelajari Alkitab dengan cara ini mungkin mempelajari teologi, tetapi mereka tidak melihat Kristus. Ada satu perbedaan yang besar antara mempelajari Alkitab untuk mempelajari teologi dengan mempelajari Alkitab untuk melihat Kristus.
Ketika Paulus berada dalam perjalanan ke Damsyik, Kristus mewahyukan hal-hal tertentu kepadanya, dan di dalam hal-hal itu Paulus melihat Kristus. Tuhan menun-jukkan bahwa Dia akan mewahyukan lebih banyak hal kepada Paulus, dan di dalam hal-hal itu Tuhan sendiri akan menampakkan diri kepadanya. Karena itu, apa yang Paulus lihat itu bukan hanya hal-hal itu sendiri, lebih-lebih Kristus sebagai Dia yang menampakkan diri dalam semua hal ini.
Dalam pengalaman Anda, Anda mungkin menyatakan menerima terang dari Tuhan atau melihat visi atau wahyu. Namun, Anda perlu memikirkan, apakah Kristus menampa-kkan diri kepada Anda di dalam terang, visi, atau wahyu itu. Di dalam terang, visi, atau wahyu itu, sudahkah Anda melihat Kristus?
Kadang-kadang beberapa saudara datang kepada saya dengan gembira atas beberapa terang baru yang telah mereka terima. Misalnya, suatu kali ada seorang saudara berkata, “Aku memuji Tuhan bahwa hari ini selama mu-najat pagi aku melihat beberapa terang yang baru.” Ketika saya bertanya mengenai terang yang dilihatnya, ia men-jawab, “Aku telah diterangi untuk melihat bahwa aku harus memotong pendek rambutku.” Saya bertanya kepadanya makna dari terang itu, dan ia mengatakan bahwa memotong pendek rambutnya akan membuatnya menjadi lebih bersih. Terhadap hal ini saya menjawab, “Apa salahnya bila rambut Anda agak panjang? Orang-orang Nazir dalam Perjanjian Lama membiarkan rambut mereka panjang. Kemudian pada akhir nazar mereka, mereka mencukur rambut kepala mereka dan dengan cara ini mereka ditahirkan. Kelihatannya cara Anda memotong pendek rambut Anda itu tidak sebaik orang-orang Nazir itu.” Saya berbicara kepada saudara itu dengan cara demikian mengenai terang yang ia nyatakan diterimanya dari Tuhan, karena di dalam hal yang ia sebut terang itu tanpa Kristus.
Dalam terang apa pun yang kita terima dari Tuhan, kita harus melihat Kristus. Kristus harus menampakkan diri kepada kita dalam apa pun yang kita lihat baik melalui terang, visi, atau wahyu. Jika kita melihat satu visi tanpa melihat Kristus, visi itu tidak berarti apa-apa. Demikian juga, jika kita mempelajari Alkitab dan mendapatkan penge-tahuan Alkitab tanpa melihat Kristus, maka pengetahuan itu adalah sia-sia. Kita semua perlu belajar untuk melihat Kristus di dalam hal-hal yang diwahyukan kepada kita.
Saya mengapresiasi frasa “di dalam hal-hal ini” (Tl.) yang dipakai dua kali dalam 26:16. Tuhan mula-mula mem-bicarakan tentang “hal-hal yang di dalamnya engkau telah melihat Aku.” Kemudian Dia melanjutkan membicarakan tentang “hal-hal yang di dalamnya Aku akan menampakkan diri kepadamu.” Di sini Tuhan berkata kepada Paulus, “Aku bukan hanya akan mewahyukan hal-hal tertentu kepadamu, lebih-lebih dalam hal-hal yang diwahyukan itu Aku sendiri akan menampakkan diri kepadamu.”
Kitab Wahyu adalah satu contoh yang sangat baik tentang Tuhan menampakkan diri dalam hal-hal yang diwah-yukan kepada Rasul Yohanes. Yohanes melihat sejumlah visi, tetapi di dalam visi-visi itu Tuhan sendiri menampak-kan diri kepadanya. Perhatikan visi pertama dalam kitab Wahyu, visi tentang kaki dian emas. Mengenai visi ini, Yohanes berkata, “Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. Di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia . . . (Why. 1:12-13a). Dalam visi tentang kaki dian, Yohanes melihat Tuhan berjalan di antara kaki dian itu sebagai Imam Besar yang membereskan kaki dian.
Dalam visi lainnya, Tuhan memperlihatkan kepada Yohanes administrasi universal Allah. Mengenai hal ini Yohanes berkata, “Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di surga dan suara yang dahulu kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, ada sebuah takhta di surga, dan di takhta itu duduk Seorang” (Why. 4:1-2). Yohanes melanjutkan mengatakan bahwa dalam visi ini ia “melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi” (5:6).
Secara prinsip, pengalaman kita pada hari ini seharus-nya sama dengan pengalaman Paulus dan Yohanes. Misalnya dalam mempelajari Perjanjian Baru, Anda menyatakan memiliki sejumlah pemahaman terhadap Efesus 5. Namun, persoalan pentingnya adalah: Apakah Anda melihat Kristus dalam Efesus 5? Jika Anda hanya melihat perkara suami-suami mengasihi istri-istri mereka dan istri-istri tunduk kepada suami-suami mereka tanpa melihat Kristus, maka pemahaman Anda terhadap Efesus 5 itu sangat miskin, bahkan sia-sia. Anda mungkin tahu pengajaran-pengajaran tertentu dalam Alkitab, tetapi dalam pengajaran-pengajaran itu Anda tidak melihat Kristus. Anda mungkin mempelajari doktrin-doktrin dari Kitab Suci, tetapi dalam hal-hal itu Kristus tidak menampakkan diri kepada Anda. Kiranya kita semua mempelajari pentingnya melihat Kristus dalam hal-hal yang kita katakan bahwa kita telah melihat dan ketahui di dalam firman itu.
Pemikiran kita terhadap frasa “di dalamnya” dalam Kisah Para Rasul 26:16, mungkin akan membantu dalam memperlihatkan cara mempelajari Alkitab kepada kita. Sewaktu kita mempelajari Kitab Suci, kita perlu memikir-kan perkara-perkara seperti ini. Jika kita meluangkan wak-tu untuk memikirkan frasa “di dalamnya” yang dipakai dua kali dalam 26:16, kita akan menyadari betapa menakjubkannya Tuhan mengatakan kepada Paulus, bahwa Dia menetapkan Paulus untuk menjadi minister dan saksi dari hal-hal yang di dalamnya ia telah melihat Tuhan dan dari hal-hal yang di dalamnya Tuhan akan menampakkan diri kepadanya.