← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 21/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (37)

Pembacaan Alkitab: Kis. 28:1-31

Dalam berita ini kita akan membahas pasal 28, pasal yang terakhir dari Kisah Para Rasul. Dalam 28:1-10 Paulus tiba ke pulau Malta dan di sana melakukan banyak mujizat. Kemudian dalam 28:11-31 ia tiba di Roma, mengakhiri perjalanan kali keempat. Pertama ia melalui Sirakusa, Regium, Putioli, Forum Apius, dan Tres Taberne (ayat 11-16). Ia mengontaki para pemimpin Yahudi (ayat 17-22) dan melayani di Roma (ayat 23-31).

KE PULAU MALTA, MELAKUKAN MUJIZAT

Kisah Para Rasul 28:1-2 mengatakan, “Setelah tiba dengan selamat di pantai, barulah kami tahu bahwa daratan itu adalah pulau Malta. Penduduk asli pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api dan mengajak kami semua ke situ karena sudah mulai hujan dan hawanya dingin.” Dalam bahasa aslinya kata “penduduk” dalam ayat 2-4 berarti orang-orang primitif yang tidak berbicara dalam bahasa Yunani dan Latin tetapi belum tentu tidak beradab.

Ayat 3-5 melanjutkan, “Ketika Paulus memungut se-berkas ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular berbisa karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Ketika penduduk asli pulau itu melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: Orang ini pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan. Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api dan sama sekali tidak menderita sesuatu.” Secara harfiah, kata Yunani untuk “ular” di dalam ayat 4-5 adalah “binatang.” Tetapi para penulis medis memakai istilah ini untuk menekankan kepada ular-ular beracun. Mulanya, penduduk asli pulau itu mengira Paulus adalah seorang pembunuh karena Paulus digigit oleh seekor ular beracun. Namun, seperti ayat 6 menunjukkan, mereka akhirnya berubah pikiran mengenainya: “Namun mereka menyangka bahwa ia akan bengkak atau tiba-tiba akan mati rebah. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat bahwa tidak terjadi apa pun padanya, maka sebaliknya mereka ber-pendapat bahwa ia seorang dewa.” Rasul bukanlah seorang dewa dalam ketakhayulan dari rasa ingin tahu penduduk asli itu, melainkan di dalam kehidupan dan ministrinya, ia mengekspresikan Allah yang sejati. Allah yang sejati ini di dalam Yesus Kristus telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan, menjadi Roh yang almuhit hidup di dalam Paulus dan diperhidupkan dari diri rasul.

Dalam pengajarannya yang tercatat dalam Surat-surat Kirimannya, Paulus menekankan hal hidup dan bertindak di dalam Roh. Selama pelayaran itu dan sekarang di pulau Malta, Paulus sungguh hidup dan bertindak di dalam Roh. Ia sungguh menempuh suatu kehidupan yang adalah Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik. Kehidupan Paulus sebenarnya adalah ekspresi dari Roh pemberi-hayat. Di dalam setiap situasi dari kehidupannya sehari-hari, Paulus adalah ekspresi dari Kristus yang ia beritakan. Ia memberitakan Kristus yang telah berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan naik sebagai Roh pemberi-hayat, dan di pulau Malta ia memperhidupkan Kristus sebagai Roh yang almuhit. Ini ditunjukkan oleh perkataan Paulus, yang ditulis kemudian, dalam Filipi 1:20-21a, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus . . .” Paulus hanya memperhatikan memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia. Di pulau Malta Paulus memperhidupkan Kristus dan memperbesar Dia sebagai Roh pemberi-hayat. Sewaktu kita membaca catatan Lukas tentang kehidupan Paulus, kita melihat bahwa yang ia perhidupkan adalah Roh yang almu-hit sebagai perampungan dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan ditinggikan Allah.

Ayat 7-8 mengatakan, “Tidak jauh dari tempat itu ada tanah milik pejabat pulau itu, yang bernama Publius. Ia menyambut kami dan menjamu kami dengan ramah selama tiga hari. Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya; ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuh-kan dia.” Disentri adalah satu penyakit biasa, tetapi penyakit ini sulit diobati. Namun, Paulus, yang telah hidup seperti seorang raja yang memerintah, sekarang menjadi seorang tabib untuk menyembuhkan ayah Publius.

Ayat 9 selanjutnya mengatakan, “Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu dan mereka pun disembuhkan juga.” Di sini kita melihat bahwa Paulus menjadi tabib, dan bahkan seorang penyelamat bagi seluruh pulau itu. Semua orang sakit yang dibawa kepada Paulus disembuhkan.

Di laut yang berbadai, Tuhan tidak saja membuat rasul menjadi tuan orang-orang di atas kapal (27:4), tetapi juga penjamin hidup dan penghibur mereka (27:22-25). Sekarang di darat, dalam keadaan damai, Tuhan berbuat lebih lanjut, bukan hanya membuat Paulus menjadi daya tarik ajaib dalam pandangan penduduk pribumi yang takhayul (ay. 3-6), juga menjadi penyembuh dan sukacita mereka (ay. 8-9). Selama perjalanan laut yang panjang, naas, dan terpenjara, Tuhan menjaga rasul di dalam keunggulan-Nya dan memungkinkan dia menempuh hidup yang melampaui alam kekhawatiran. Hidup demikian penuh wibawa, memiliki standar kebajikan insani yang tertinggi, mengekspresikan atribut-atribut ilahi yang terunggul, suatu hidup yang serupa dengan hidup Tuhan sendiri di bumi beberapa tahun sebelumnya. Inilah Yesus kembali hidup di bumi di dalam keinsanian-Nya yang dipenuhi oleh sifat ilahi! Inilah manusia Allah yang ajaib, unggul, dan misterius, yang dulu hidup di dalam kitab-kitab Injil, yang terus hidup di dalam Kisah Para Rasul melalui salah satu anggotanya! Inilah saksi hidup dari Kristus yang berinkarnasi, tersalib, bangkit, dan ditinggikan oleh Allah! Paulus memperhidupkan Kristus dan memperbesar Kristus dalam perjalanan pelayarannya (Flp. 1:20-21). Tidak heran orang-orang sangat menghormati dia dan teman-temannya (ay.10), memberi mereka penghormatan yang terbesar dan penghargaan yang tertinggi. Kisah Para Rasul 28:10 mengatakan, “Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan.” Ayat ini menunjukkan bahwa penduduk asli pulau Malta itu mem-perlakukan Paulus dan sekerjanya seakan-akan mereka ada-lah anggota-anggota dari satu keluarga raja. Paulus adalah raja, dan Lukas adalah salah satu dari keluarga ini.

Menurut ayat 10, penduduk pribumi itu menyediakan segala sesuatu yang diperlukan di kapal untuk pelayaran itu. Tuhan secara berdaulat menyediakan makanan untuk dua ratus tujuh puluh enam orang. Raja mana pun harus me-nyediakan makanan bagi rakyatnya. Sebagai seorang raja, Paulus menerima suplaian dari penduduk. Namun, ia tidak berhutang apapun untuk hal ini, karena ia telah menyem-buhkan begitu banyak orang sakit di antara mereka. Jadi, orang-orang itu membayar Paulus dengan menyimpan suplai-an makanan di kapal yang diperlukan untuk pelayaran itu.

KE ROMA, MENGAKHIRI PERJALANAN KALI KEEMPAT

Melalui Sirakusa, Regium, Putioli,

Forum Apius, dan Tres Taberne

Kisah Para Rasul 28:11 mengatakan, “Tiga bulan kemudian kami berangkat dari situ naik sebuah kapal dari Aleksandria yang selama musim dingin berlabuh di pulau itu. Kapal itu memakai lambang Dioskuri.” Kata “Dioskuri” mengacu kepada anak laki-laki kembar dari Zeus, Castor dan Pollux. Ini adalah lambang dari dewa-dewa pelindung para pelaut yang diletakkan pada buritan kapal.

Setelah tinggal tiga hari di Sirakusa, mereka tiba di Regium, dan kemudian mereka sampai ke Putioli, di mana mereka bertemu dengan saudara-saudara (ay. 12-14). Dalam ayat 14b Lukas berkata, “Sesudah itu kami berangkat ke Roma.” Dalam ayat 15-16 ia melanjutkan, “Saudara-saudara seiman yang di sana telah mendengar kabar tentang kami dan mereka datang menjumpai kami sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Ketika Paulus melihat mereka, ia mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya. Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang menga-walnya.” Forum Apius adalah sebuah tempat yang jauhnya 60 kilometer lebih dari Roma. Tres Taberne adalah sebuah tempat yang jauhnya 40kilometer lebih dari Roma.

Sambutan hangat saudara-saudara dari Roma dan per-hatian kasih dari orang-orang di Putioli (ay. 13-14) menunjukkan kehidupan Tubuh yang indah di antara gereja-gereja sebermula dengan rasul. Kehidupan ini adalah bagian dari kehidupan kerajaan surgawi di bumi yang dihuni oleh orang-orang yang dibutakan oleh Iblis. Secara lahiriah, rasul adalah tawanan yang dibelenggu, memasuki ibukota gelap dari kerajaan yang dijajah oleh Iblis. Namun sesungguhnya ia adalah duta besar Kristus, membawa kuasa Kristus (Ef. 6:20; Mat. 28:18-29), mengambil bagian dalam bagian lain dari kehidupan Tubuh gereja-Nya di dalam Kerajaan Allah di bumi.

Ketika dia menderita penganiayaan agama dalam kerajaan Iblis, ia menikmati kehidupan gereja di dalam Kerajaan Allah. Ini merupakan satu hiburan dan satu dorongan baginya.

Menurut ayat 15, ketika Paulus melihat saudara-saudara, ia bersyukur kepada Allah dan dikuatkan. Ini menunjukkan bahwa rasul sangat manusiawi. Walaupun ia telah didorong oleh Tuhan secara langsung (23:11) dan sangat berani sepanjang perjalanan pelayarannya (27:22-25, 33-36), ia masih perlu dikuatkan oleh sambutan hangat dari saudara-saudara. Di dalam keinsaniannya yang dipertinggi dengan kebajikan-kebajikan insaninya, Kristus beserta atribut-atribut ilahi-Nya terekspresi selama perjalanan pela-yarannya. Dia terus-menerus memperbesar Kristus dalam situasinya yang buruk (Flp. 1:20).

Sebelum Paulus tiba di Roma, saudara-saudara di sana telah mendengar kabar tentang dia dan sekerja-sekerjanya; saudara-saudara itu datang menemui mereka sampai ke Forum Apius dan Tres Taberne. Bagaimana mereka menerima kabar tentang Paulus? Ini sulit sekali dijawab. Mungkin ada beberapa saudara dari Putioli, di mana Paulus didesak untuk tetap tinggal selama tujuh hari, yang mem-bawa kabar kepada saudara-saudara di Roma, yang kemudian datang menyambutnya. Perkara yang penting adalah bahwa di sini kita melihat satu gambaran tentang kehidupan gereja pada zaman dulu, kehidupan gereja yang sangat nikmat. Kita perlu memiliki satu kehidupan gereja yang nikmat sedemikian pada hari ini, mengikuti teladan yang disajikan dalam ayat-ayat ini.

Dalam pasal 28 keinginan Paulus untuk melihat Roma telah dipenuhi. Orang-orang Yahudi terus berusaha untuk menghalangi dia pergi kepada bangsa-bangsa Kafir, tetapi Tuhan secara berdaulat membawa Paulus ke Roma. Pada zaman dulu, mengadakan satu perjalanan dari Yerusalem ke Roma adalah satu perkara besar. Tetapi Tuhan membawa Paulus jauh ke dalam dunia Kafir, bahkan ke dalam ibukota dari kekaisaran Roma. Paulus pasti penuh dengan sukacita ketika ia tiba di Roma. Secara jasmani ia dibelenggu, tetapi secara batini ia penuh dengan kemuliaan dan sukacita yang tak terkatakan.

Mengontaki Para Pemimpin Yahudi dan Menunaikan Ministri di Roma

Segera setelah tiba di Roma, Paulus mengontaki para pemimpin Yahudi (ay. 17-22). Paulus berhikmat dalam melakukan hal ini. Kemudian Paulus mulai menunaikan ministrinya menyuplai mereka. Tentunya, ada orang yang menerima ministrinya juga ada orang yang menolak ministrinya.

Kehadiran Paulus di Roma adalah satu kekuatan bagi gereja di Roma, khususnya karena ada sejumlah orang Yahudi yang telah diselamatkan. Paulus datang ke Roma tidak lama setelah ia menuliskan surat kirimannya kepada orang-orang Roma. Beberapa tahun setelah menuliskan surat kiriman ini, ia, sang penulis, datang ke Roma.

Kisah Para Rasul 28:23-24 mengatakan, “Lalu mereka menentukan suatu hari untuk Paulus. Pada hari itu datanglah mereka dalam jumlah besar ke tempat tumpangannya. Ia menerangkan dan bersaksi kepada mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para nabi ia berusaha meyakinkan mereka tentang Yesus. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore. Ada yang dapat diyakinkan oleh perkataannya, ada yang tetap tidak percaya.” Di sini Paulus bersaksi mengenai Kerajaan Allah. Seperti yang telah kita tunjukkan, Kerajaan Allah adalah topik utama pemberitaan para rasul. Ini bukanlah kerajaan material yang terlihat oleh mata manusia, melainkan kerajaan hayat ilahi. Inilah perkembangluasan Kristus sebagai hayat ke dalam orang-orang beriman-Nya, sehingga membentuk suatu ruang lingkup yang di dalamnya Allah berkuasa dalam hayat-Nya.

Ayat 25-27 mengatakan, “Lalu bubarlah pertemuan itu tanpa ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan hal yang satu ini: Tepatlah firman yang disam-paikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan Nabi Yesaya: Pergilah kepada bangsa ini dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.” Allah Bapa pernah mengatakan perkataan ini kepada orang Israel yang keras kepala dalam Yesaya 6:9-10. Allah Putra mengutip perkataan ini kepada orang-orang Yahudi yang menolak dalam Matius 13:14-15. Dan sekarang Allah Roh melalui rasul mengulangi perkataan ini kepada orang-orang yang keras hati. Ini menunjukkan bahwa di dalam semua pergerakan Trinitas ilahi, umat Israel selalu tidak taat kepada Allah yang berkasih karunia. Karena itu Dia berpaling kepada orang Kafir, melalui pengembangbiakan Kristus yang bangkit dan naik ke surga memperluas Kerajaan-Nya, membangun gereja-gereja, dengan demikian merampungkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya.

Kisah Para Rasul 28:30 mengatakan, “Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.” Selama waktu ini rasul menulis Surat-surat Kirimannya kepada orang-orang Kolose (cf. Kol. 4:3, 10, 18), orang-orang Efesus (cf. 3:1; 4:1; 6:20), orang-orang Filipi (cf. Flp. 1:7, 14, 17), dan kepada Filemon (cf. Flm. 1, 9). Dalam Filipi 1:25 dan 2:24 dan Filemon 22, Paulus berharap dibebaskan dari penjara. Mungkin dua tahun setelah ini dia dibebaskan dan mengunjungi Efesus dan Makedonia (1 Tim. 1:3), di situlah kemungkinan ia menulis Surat Kirimannya yang pertama kepada Timotius. Kemudian ia mengunjungi Kreta (Tit. 3:5), Nikopolis (Tit. 3:12), Miletus (2 Tim. 4:13, 20), di mana ia mungkin menuliskan Surat Kirimannya kepada orang-orang Ibrani.

Kisah Para Rasul 28:31 mengatakan bahwa selama dua tahun Paulus berada di rumah yang disewanya di Roma, ia “dengan terus-terang dan tanpa rintangan apa-apa ia mem-beritakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus.” Kerajaan Allah adalah satu perkara yang ditekankan dalam kitab ini. Tulisan Lukas dimulai dan juga diakhiri dengan Kerajaan Allah.

Paulus memberitakan Kerajaan Allah, ini adalah mengembangbiakan Kristus yang bangkit. Bagaimana kita mengetahui hal ini? Fakta bahwa Kerajaan Allah adalah mengembangbiakan Kristus yang bangkit dibuktikan dengan kata-kata, “mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus” dalam ayat 31. Ini menunjukkan bahwa Kerajaan Allah berjalan seiring dengan hal-hal tentang Tuhan Yesus Kristus. Mengajar orang-orang hal-hal tentang Kristus ada-lah menyebarkan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, Kerajaan Allah sebenarnya adalah perkembangbiakan dari Kristus yang bangkit.