PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (32)
Pembacaan Alkitab: Kis. 25:1-27
Dalam berita sebelumnya kita membahas situasi Paulus dalam hubungannya dengan agama Yahudi, politisi-politisi Romawi, dan kehidupan gereja. Sekarang kita akan mem-bahas bermacam-macam perkara dalam 25:1-27, di mana Lukas menyajikan gambaran yang lebih jelas tentang Yudaisme, pemerintahan Romawi, dan kehidupan gereja.
PERMINTAAN PARA PEMIMPIN ORANG YAHUDI
YANG DITOLAK
Menurut 24:27, “Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, Feliks membiarkan Paulus tetap dalam penjara.” Perkius Festus adalah pengganti Feliks sebagai gubernur Yudea. Dalam 25:1—26:32 kita melihat bahwa Paulus diserahkan kepada Festus, pengganti Feliks.
Kisah Para Rasul 25:1-3 mengatakan, “Tiga hari sesudah tiba di provinsi itu berangkatlah Festus dari Kaisarea ke Yerusalem. Di situ imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang terkemuka datang menghadap dia dan menyampaikan dakwaan terhadap Paulus. Kepadanya mereka meminta suatu anugerah yang merugikan Paulus, yaitu menyuruh Paulus datang ke Yerusalem. Sebab mereka sedang membuat rencana untuk membunuh dia di tengah jalan.” Di sini kita melihat bahwa para pemimpin orang Yahudi meminta Festus untuk membawa Paulus kembali ke Yerusalem dari Kaisarea. Dua tahun sebelumnya, kepala pasukan Romawi memakai empat ratus tujuh puluh prajurit untuk membawa Paulus dari Yerusalem ke Kaisarea. Se-karang para pemimpin orang Yahudi ini meminta Festus untuk membawa Paulus kembali, supaya mereka dapat menyerangnya secara tiba-tiba untuk membunuhnya.
Ayat 4-5 melanjutkan, “Tetapi Festus menjawab bahwa Paulus tetap ditahan di Kaisarea dan bahwa ia sendiri bermaksud untuk segera kembali ke sana. Katanya: Karena itu baiklah orang-orang yang berwewenang di antara kamu turut ke sana bersama-sama dengan aku dan mengajukan dakwaan terhadap dia, jika ada kesalahannya.” Dalam bahasa aslinya kata “kesalahan” dalam ayat 5 juga dapat diterjemahkan “tidak pada tempatnya,” “menyeleweng.”
Kita telah menunjukkan dalam berita-berita sebelumnya bahwa catatan dari kitab Kisah Para Rasul menunjukkan politisi-politisi Romawi itu bobrok. Namun, hukum Romawi itu sangat kuat. Meskipun politisi-politisi di dalam pemerintahan Romawi itu bobrok, mereka masih memperhatikan hukum. Karena itu, ketika Festus diminta untuk membawa Paulus kembali ke Yerusalem, ia menganggap bahwa tindakan demikian itu tidak sesuai dengan hukum Romawi, dan ia menolak permintaan dari pemimpin-pemimpin orang Yahudi itu.
MEMBELA DIRI DI HADAPAN FESTUS
Kita telah menunjukkan bahwa berkebalikan dengan Tuhan Yesus, Paulus perlu membela diri untuk menyelamat-kan nyawanya dari para penganiayanya, supaya ia dapat merampungkan perjalanan ministrinya. Dalam 25:6-8 Paulus membela diri di hadapan Festus. Ayat 6-7 mengatakan, “Festus tinggal tidak lebih dari delapan atau sepuluh hari di Yerusalem. Sesudah itu ia pulang ke Kaisarea. Keesokan harinya ia mengadakan sidang pengadilan, dan menyuruh menghadapkan Paulus. Sesudah Paulus tiba di situ, semua orang Yahudi yang datang dari Yerusalem berdiri mengelilinginya dan mereka mengemukakan banyak tuduhan berat terhadap dia yang tidak dapat mereka buktikan.” Di sini kita melihat bahwa para pemimpin orang Yahudi memenuhi permintaan Festus dalam ayat 5.
Sebenarnya, dalam membela diri di hadapan Festus, Paulus tidak berkata-kata terlalu banyak. Ia hanya menyangkal melakukan sesuatu yang berlawanan dengan hukum Taurat orang Yahudi atau hukum Roma: “Sebaliknya Paulus membela diri, katanya: Aku sedikit pun tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun terhadap Bait Allah atau terhadap Kaisar” (ay. 8).
NAIK BANDING KEPADA KAISAR
Dalam memperlakukan Paulus, Festus bagaikan seekor rubah; ia mengusulkan agar Paulus pergi ke Yerusalem dan dihakimi di sana di hadapan Festus. Mengenai hal ini, 25:9 mengatakan, “Tetapi Festus yang yang hendak meng-ambil hati orang Yahudi, berkata: Apakah engkau bersedia pergi ke Yerusalem, supaya engkau dihakimi di sana di hadapanku tentang perkara ini?” Usulan ini menyingkapkan kebobrokan politisi Roma yang lain. Di sini kembali kita melihat kebobrokan politisi-politisi Romawi.
Paulus berhikmat dan melihat tipu muslihat dari usulan Festus. Menurut ayat 10, Paulus berkata dengan tegas, “Aku sekarang berdiri di sini di hadapan pengadilan Kaisar dan di sinilah aku harus dihakimi. Seperti engkau sendiri tahu benar-benar, sedikit pun aku tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi.” Perkataan Paulus mengenai “pengadilan Kaisar” menunjukkan kepada Festus bahwa ia bermaksud naik banding kepada Kaisar.
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, “Jadi, jika aku bersalah dan melakukan kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku tidak benar, tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan aku kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!” Kaisar yang kepadanya Paulus naik banding adalah Kaisar Nero.
Untuk pembelaannya, Paulus naik banding kepada Kaisar. Tanpa naik banding ini, mungkin Paulus akan dibunuh oleh orang Yahudi melalui penanganan Festus yang tidak adil terhadapnya, dan dengan demikian nyawanya tidak dapat dipelihara untuk menyelesaikan perjalanan ministrinya. Naik banding Paulus kepada Kaisar akan memenuhi keinginannya untuk melihat Roma bagi kemajuan kesaksian Tuhan (19:21; 23:11). Tanpa naik banding ini, ia akan dibunuh oleh komplotan orang Yahudi yang menentang dia (23:12-15; 25:1-3, 9), dan ia tidak akan bisa menulis kedelapan Surat Kirimannya yang terakhir.
Sebelum naik banding ke Roma, Paulus hanya menulis enam Surat Kiriman: 1 dan 2 Tesalonika, Galatia, Roma, serta 1 dan 2 Korintus. Ketika untuk kali pertama dipenjara di Roma, ia menulis surat Kolose, Efesus, Filipi, dan Filemon. Setelah keluar dari penjara, ia menulis 1 Timotius, Titus, dan Ibrani. Kemudian, pada kali kedua dipenjara, dia menulis 2 Timotius. Tanpa kedelapan Surat Kiriman yang terakhir ini, betapa kurangnya wahyu ilahi dan betapa besarnya kerugian yang akan diderita gereja! Naik banding Paulus benar-benar membawakan kebaikan dan faedah bagi kepentingan Tuhan.
Kisah Para Rasul 25:12 mengatakan, “Setelah berunding dengan anggota-anggota pengadilan, Festus menjawab: Engkau telah naik banding kepada Kaisar, jadi engkau harus pergi menghadap Kaisar.” Anggota-anggota pengadilan di sini adalah anggota-anggota pengadilan propinsi Romawi, yang terdiri atas anggota-anggota dewan atau para penasihat yang dipilih oleh gubernur propinsi itu, gubernur biasanya berkonsultasi tentang naik banding seperti kasus Paulus ini dengan mereka.
Mengapa Paulus demikian kuat, berani untuk naik banding kepada Kaisar? Paulus kuat dalam perkara ini karena sebagai orang Roma, ia mengetahui hukum Roma. Ia tahu bahwa bila ia naik banding kepada hukum Roma, Festus tidak memiliki pilihan lain kecuali menghargai perihal naik banding ini. Memang, politisi-politisi Romawi itu bobrok, tetapi pemerintahan Romawi memiliki hukum yang kuat yang memberi dasar kepada Paulus untuk naik banding kepada Kaisar.
Pada dua peristiwa sebelumnya Paulus berdiri pada fakta bahwa ia adalah warga negara Roma. Dalam pasal 16 Paulus berbicara kepada orang-orang yang menahannya: “Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warga negara Roma, di depan umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami keluar. Pejabat-pejabat itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota. Ketika mereka mendengar bahwa Paulus dan Silas adalah warga negara Roma, maka takutlah mereka” (ay. 37-38). Kemudian, ketika Paulus akan diperiksa dengan dicambuk, ia berkata kepada perwira yang bertugas: “Bolehkah kamu mencambuk seorang warga negara Roma, apalagi tanpa diadili? Mendengar perkataan itu perwira itu me-laporkannya kepada kepala pasukan, katanya: Apa yang hendak engkau perbuat? Orang itu warga negara Roma?” (22:25-26). Paulus tahu nilai kewarganegaraan Roma. Ia tahu bahwa hukum Roma melindungi orang-orang yang berwarga negara Roma. Hukum itu tidak memberikan hak kepada seseorang untuk memperlakukan seorang warga negara Roma dengan seenaknya. Sekarang dalam pasal 25, berdasarkan hukum Roma, Paulus naik banding kepada Kaisar.
DISERAHKAN KEPADA RAJA AGRIPA
Dalam 25:13-27 perkara Paulus diserahkan kepada Raja Agripa. Ayat 13 mengatakan, “Beberapa hari kemudian datanglah Raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus.” Agripa ini adalah Herodes Agripa II, yang memerintah atas wilayah bagian utara dan timur Galilea. Ia adalah putra Herodes dalam pasal 12 dan menurut agama ia adalah seorang Yahudi.
Bernike, yang datang bersama Agripa, adalah saudara perempuan Drusila, istri Feliks (24:24). Dia juga adalah saudara perempuan Agripa, yang hidup dan tinggal bersama dengannya. Ini sekali lagi menunjukkan kebobrokan para politisi dalam lingkungan politik Romawi. Agripa itu sangat rumit. Ia memiliki ayah atau ibu Yahudi. Drusila, saudaranya perempuan, disebut orang Yahudi dalam 24:24. Karena Agripa menurut agama adalah seorang Yahudi, maka Festus berhati-hati dalam berbicara kepadanya mengenai perkara-perkara Yahudi. Dalam 25:19 Festus berkata kepada Agripa mengenai Paulus dan orang Yahudi, “Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti bahwa Ia hidup.” Di sini kita melihat bahwa Festus berhati-hati dalam menyinggung Yudaisme.
Meskipun Festus menyerahkan perkara Paulus kepada Agripa dan mengadakan pertemuan dengannya mengenai hal ini, hal ini sebenarnya tidak berada dalam wilayah hukum Agripa. Festus memerintah Yudea dari Kaisarea sebagai pusatnya, dan Agripa memerintah daerah lainnya. Namun, mereka adalah kerabat dan saling mengenal satu sama lainnya dengan baik. Karena itu, ketika Agripa datang ke Kaisarea untuk mengunjungi Festus, Festus menyerahkan perkara Paulus kepadanya.
Sewaktu kita membaca 25:13-22, kita melihat bahwa Festus dan Agripa, pejabat-pejabat pemerintahan Romawi itu, sedang “bermain” dengan perkara Paulus. Ketika Festus memberi tahu Agripa bahwa orang-orang Yahudi berselisih paham dengan Paulus “tentang soal-soal agama mereka dan tentang seorang bernama Yesus” (ay. 19), Festus hanya basa-basi saja. Cara bicaranya menelanjangi orang macam apakah dia itu. Setelah Festus memberi tahu Agripa bahwa Paulus telah naik banding untuk ditahan di dalam tahanan menunggu keputusan Kaisar dan bahwa Festus telah memerintahkan dia untuk ditahan di dalam tahanan sampai ia dikirimkan kepada Kaisar (ay. 21), Agripa berkata kepada Festus, “Aku sendiri ingin mendengar orang itu” (ay. 22). Kemudian Festus menjawab bahwa Agripa akan mendengar Paulus pada keesokan harinya. Semakin kita mempelajari percakapan di antara Festus dan Agripa, semakin kita menyadari bahwa kedua politisi Romawi itu jahat.
Kisah Para Rasul 25:23, “Keesokan harinya datanglah Agripa dan Bernike dengan segala kebesaran dan sesudah mereka masuk ke ruang pengadilan bersama-sama dengan kepala-kepala pasukan dan orang-orang yang terkemuka dari kota itu, Festus memberi perintah, supaya Paulus dihadapkan.” Penggambaran Lukas tentang cara Agripa dan Bernike masuk ke dalam ruang pengadilan menunjukkan orang macam apakah mereka itu. Sekali lagi, tidak ada jabatan yang diberikan kepada Bernike. Kita tidak diberi tahu apakah ia itu ratu atau bukan. Lukas dengan sederhana mengatakan bahwa mereka masuk ke dalam ruang pengadilan itu dengan segala kebesaran.
Setelah Paulus dibawa masuk, Festus berkata, “Ya Raja Agripa serta semua yang hadir di sini bersama-sama dengan kami. Lihatlah orang ini, yang dituduh oleh semua orang Yahudi, baik yang di Yerusalem, maupun yang di sini. Mereka telah datang kepadaku dan sambil berteriak-teriak mereka mengatakan bahwa ia tidak boleh hidup lebih lama. Tetapi aku dapati bahwa ia tidak berbuat sesuatu pun yang setimpal dengan hukuman mati dan karena ia naik banding kepada Kaisar, aku memutuskan untuk mengirim dia menghadap Kaisar. Tetapi tidak ada sesuatu yang pasti yang harus kutulis kepada Kaisar tentang dia. Itulah sebabnya aku menghadapkan dia di sini kepada kamu semua, terutama kepadamu, Raja Agripa, supaya, setelah diadakan pemeriksaan, aku dapat menuliskan sesuatu. Sebab menurut pendapatku tidaklah masuk akal untuk mengirim seorang tahanan tanpa menyatakan tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap dia” (ay. 24-27). Dalam ayat 26 kata ganti Yunani yang diterjemahkan “kamu” adalah jamak dan mengacu kepada kepala-kepala pasukan dan orang-orang terkemuka yang hadir (ay. 23). Seperti yang akan kita lihat, Agripa kemudian memberi izin kepada Paulus untuk berbicara, dan Paulus membela diri di hadapan Agripa (26:1-29).
SAKSI KRISTUS
Dalam Kisah Para Rasul 25 kita melihat satu gambaran tentang situasi di mana Paulus berada. Sebagai orang yang berdiri di tengah-tengah situasi itu, Paulus berbeda dengan orang-orang Yahudi dalam agama mereka, dengan politisi-politisi Romawi, dan juga dengan gereja di Yerusalem. Gambaran ini mewahyukan bahwa Paulus adalah seorang yang memperhidupkan Kristus. Paulus adalah seorang saksi Kristus sejati. Tidak heran, Tuhan Yesus menganggapnya seorang saksi ketika Dia berkata kepada Paulus, “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma” (23:11). Menurut 26:16, Tuhan telah menetapkan Paulus sebagai seorang minister dan saksi. Sebenarnya, dalam semua pembelaannya, Paulus tidak banyak mengatakan tentang Kristus. Meskipun demikian, Tuhan Yesus mengenal bahwa Paulus dengan khidmat bersaksi tentang Dia.
Paulus dapat bersaksi tentang Tuhan karena ia memperhidupkan Kristus. Sebagai orang yang memperhidupkan Kristus dan sebagai satu kesaksian yang hidup dari Dia, Paulus mutlak berbeda dengan agamawan-agamawan Yahudi, politisi-politisi Romawi, dan orang-orang dalam gereja di Yerusalem.
Kita perlu memiliki kesan yang dalam terhadap fakta bahwa dalam pasal-pasal kitab Kisah Para Rasul ini, Paulus adalah seorang saksi Kristus sejati. Kita telah melihat bahwa pasal-pasal ini menggambarkan tiga kategori orang: agamawan-agamawan Yahudi, politisi-politisi Romawi dan orang-orang di dalam gereja di Yerusalem yang lemah dan berkompromi. Sekarang atas diri Paulus kita memiliki kategori yang keempat. Dalam kategori ini Paulus berdiri seorang diri sebagai orang yang memperhidupkan Kristus. Paulus bukan hanya memberitakan perkembangbiakan Kristus yang bangkit, ia bahkan memperhidupkan Kristus ini. Paulus menempuh suatu kehidupan yang merupakan perkembangbiakan Kristus yang bangkit. Sungguh mulia! Sungguh jaya! Suatu kemenangan bagi Tuhan dan malu bagi si musuh bahwa Paulus memberitakan Kristus dan memperhidupkan Kristus! Di tengah-tengah aktivitas musuh, berdiri Paulus, orang yang memperhidupkan Kristus. Kristus yang bangkit telah mengembangbiakkan diri-Nya sendiri dengan masuk ke dalam Paulus dan membuat dia menjadi seorang saksi Kristus yang hidup.