← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 15/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (31)

Pembacaan Alkitab: Kis. 25:1-27

Dalam empat pasal yang terakhir dari kitab Kisah Para Rasul, pasal 25-28, Paulus membela diri dua kali. Pertama, ia membela diri di hadapan Festus (25:6-8), dan kemudian di hadapan Agripa (26:1-29). Setelah pembelaannya di hadap-an Agripa, Paulus mengadakan perjalanan yang keempat (27:1—28:31). Dalam pasal-pasal ini kita memiliki satu gambaran tentang orang-orang dalam tiga macam situasi. Kita memiliki gambaran tentang agamawan-agamawan Yahudi, politisi-politisi Romawi, dan orang-orang dalam gereja.

AGAMAWAN-AGAMAWAN YAHUDI

Marilah kita pertama-tama melihat gambaran tentang agamawan-agamawan Yahudi. Yudaisme dibentuk menurut firman Allah. Karena itu, agama Yahudi sesuai dengan Kitab Suci. Para agamawan Yahudi memiliki Kitab Suci, tanah suci, kota suci, bait suci, imamat yang suci, dan semua hal suci lainnya. Meskipun demikian, apa yang dilakukan oleh agamawan yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul ini mutlak bukan berasal dari Allah melainkan dari Iblis.

Kisah Para Rasul 25:1-3 mengatakan, “Tiga hari sesudah tiba di provinsi itu berangkatlah Festus dari Kaisarea ke Yerusalem. Di situ imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang terkemuka datang menghadap dia dan menyampaikan dakwaan terhadap Paulus. Kepadanya mereka meminta suatu anugerah yang merugikan Paulus, yaitu menyuruh Paulus datang ke Yerusalem. Sebab mereka sedang membuat rencana untuk membunuh dia di tengah jalan.” Di sini kita melihat bahwa orang-orang Yahudi ingin menyerang secara tiba-tiba untuk membunuh Paulus. Selain itu, agamawan Yahudi itu berdusta dan berlaku munafik. Pada mereka tidak ada sesuatu yang kudus atau benar. Pada mereka tidak ada yang dapat dihitung sebagai sesuatu bagi Allah. Dalam agama ini kita tidak dapat melihat sesuatu yang rohani atau ilahi. Sebaliknya, apa yang dipraktekkan di antara agamawan-agamawan Yahudi dalam perkara Paulus ini bukan hanya bersifat daging dan penuh dosa, bahkan jahat dan kejam. Sumber perbuatan mereka adalah Iblis.

POLITISI-POLITISI ROMAWI

Dalam Kisah Para Rasul kita juga melihat satu gambaran tentang politisi-politisi Romawi. Khususnya, kita memiliki catatan mengenai kepala pasukan, Feliks, Festus, dan Agripa. Semakin tinggi politisi-politisi Romawi itu, semakin bobrok keadaan mereka. Feliks lebih bobrok daripada kepala pasukan, Festus lebih bobrok daripada Feliks, dan Agripa lebih bobrok daripada Festus. Menurut catatan dalam firman ilahi, dalam lingkungan politik Romawi ada banyak kebobrokan. Seperti yang telah kita tunjukkan, di samping agama Ibrani dan kebudayaan Yunani, politik Romawi adalah salah satu dari tiga unsur yang menyusun kebuda-yaan Barat. Tetapi menurut kitab Kisah Para Rasul, politik Romawi itu bobrok.

Kisah Para Rasul 24:24 membicarakan tentang Feliks dan Drusila istrinya. Drusila adalah anak perempuan Raja Herodes Agripa. Feliks sangat terpikat kepadanya, lalu membujuk perempuan itu meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Ini menunjukkan tiadanya pengen-dalian diri dan kebobrokan Feliks, politisi Romawi. Kebobrokan Feliks juga terlihat dalam hal ia sering memanggil Paulus dengan harapan Paulus akan memberinya uang (24:26).

Kisah Para Rasul 25:13 membicarakan tentang Agripa dan Bernike. Bernike adalah saudara perempuan Drusila, istri Feliks. Dia juga adalah saudara perempuan Agripa, yang hidup dan tinggal bersama (hubungan seks antar anggota keluarga sendiri) dengannya. Inilah mungkin alasannya bahwa dalam 25:13 Bernike tidak dikenal sebagai istri Agripa. Politisi-politisi Romawi itu sungguh gelap dan bobrok, penuh dengan seks yang amoral dan cinta akan uang. Catatan dalam kitab Kisah Para Rasul ini menelanjangi kebobrokan politisi-politisi Romawi.

SITUASI YANG MENGECEWAKAN

DARI GEREJA DI YERUSALEM

Dalam 1 Korintus 10:32 Paulus membicarakan tentang orang Yahudi, orang Yunani, dan gereja Allah. Ini menun-jukkan bahwa dalam zaman Perjanjian Baru, orang-orang itu terdiri atas tiga kelas: orang Yahudi umat pilihan Allah; orang Yunani orang-orang Kafir yang tidak percaya; dan gereja satu susunan dari kaum beriman dalam Kristus. Kita telah melihat bahwa menurut gambaran yang terdapat dalam kitab Kisah Para Rasul, agamawan-agama-wan Yahudi itu munafik bahkan jahat dan bahwa politisi-politisi Romawi itu gelap dan bobrok. Lalu, bagaimanakah dengan situasi gereja? Ketika Paulus berada di dalam tahanan selama dua tahun di Kaisarea, ia pasti kecewa dengan gereja di Yerusalem. Apa yang ia lihat di dalam gereja di sana adalah kelemahan dan kompromi.

Sebagai satu bejana yang dipilih oleh Allah, Paulus diterangi mengenai alam semesta ini sampai pada puncak-nya. Dalam surat 2 Korintus, surat Rasul yang ditulis tidak lama sebelum perjalanannya yang terakhir ke Yerusalem, Paulus bersaksi bahwa ia dibawa ke langit tingkat tiga (2 Kor. 12:2) dan juga dibawa ke dalam Firdaus (ay. 4), bagian yang menyenangkan di alam maut. Setelah melihat se-jumlah wahyu yang berlimpah, Paulus diterangi mengenai rahasia-rahasia dari alam semesta. Tentunya, ia menerima banyak wahyu khususnya mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sekarang, dalam pasal-pasal yang terakhir dari kitab Kisah Para Rasul ini, Paulus berada dalam satu situasi di mana ia dikepung oleh para agamawan Yahudi, politisi-politisi Romawi, dan sesama sekerjanya dalam kehidupan gereja. Ia pasti merasakan situasi ini sangat mengecewakan.

Kelemahan, Kompromi, dan Kekurangan Wahyu

Sebagai orang yang telah memiliki kelimpahan wahyu ilahi yang tersimpan dalam dirinya, Paulus menghadapi situasi di antara orang-orang Yahudi, politisi-politisi Romawi, dan orang-orang gereja. Di antara agamawan-agamawan Yahudi ia melihat kemunafikan, dan di antara politisi-politisi Romawi ia melihat kebobrokan. Selain itu dalam kehidupan gereja ia melihat kelemahan, kompromi, dan kekurangan terang dan wahyu. Kelihatannya tidak ada seorang pun di dalam gereja yang cukup berani berdiri untuk wahyu yang telah mereka terima dan untuk visi yang telah mereka lihat. Di tengah-tengah situasi itu Petrus seharusnya berdiri dengan berani untuk wahyu yang telah ia terima dari Tuhan, tetapi ia tidak melakukan hal ini.

Dalam Kisah Para Rasul 2-5 Petrus dan Yohanes sangat kuat dan berani. Akibat dari keberanian mereka, mereka dibawa ke hadapan Mahkamah Agama dalam pasal 4, dan mereka ditempatkan di dalam tahanan umum oleh Mahkamah Agama dalam pasal 5. Tidak ada tanda kelemahan atau kompromi di dalam diri Petrus dan Yohanes dalam pasal-pasal yang pertama ini. Tidak ada petunjuk bahwa mereka takut terhadap agamawan-agamawan Yahudi atau berkom-promi dengan mereka. Namun, sewaktu kita membaca Kisah Para Rasul 15 dan seterusnya dan juga membaca Galatia 2, kita melihat bahwa Petrus akhirnya disingkapkan dalam kelemahannya dan bahkan dalam kemunafikannya.

Penghancuran Yerusalem

Karena sikap dan pendirian yang tegas yang diambil oleh Petrus, Yohanes, dan orang beriman lainnya, maka orang-orang Yahudi menganiaya orang-orang kudus sedekimian rupa sehingga, kecuali rasul-rasul, mereka semua meninggalkan Yerusalem (8:1). Tetapi menjelang waktu Paulus melakukan kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 21, Yakobus dapat mengatakan, “Beribu-ribu orang Yahudi telah percaya dan mereka semua rajin memelihara hukum Taurat” (ay. 20). Ribuan orang beriman ini semuanya tetap tinggal di Yerusalem. Jika Petrus dan Yohanes memiliki sikap dan pendirian yang tegas dalam pasal 21 seperti yang mereka miliki dalam pasal 2-5, maka banyak dari antara orang-orang Yahudi ini yang akan tersebar, dan penyebaran ini akan menjadi keselamatan mereka terhadap percampuran agama di Yerusalem. Namun, ribuan orang beriman ini, yang masih bergairah terhadap hukum Taurat, tinggal di Yerusalem dan tetap tinggalnya mereka di Yerusalem itu membawa mereka masuk ke dalam bahaya besar. Tidak terlalu lama setelah kunjungan Paulus yang terakhir ke Yerusalem, mungkin tidak lebih dari sepuluh tahun kemudian, Titus datang dengan pasukan Romawi untuk menghancurkan Yerusalem dan membinasa-kan orang-orang yang terus-menerus tinggal di sana. Mungkin ada banyak orang Kristen yang dibunuh pada waktu itu.

Dalam perumpamaan dalam Matius 21:33-46 dan 22:1-14, Tuhan Yesus telah mengungkapkan murka Allah terhadap situasi di Yerusalem. Tuhan menunjukkan bahwa Allah, “tuan dari kebun anggur”, akan membunuh penggarap-penggarap kebun anggur yang jahat. Hal ini digenapkan ketika Titus, pangeran Romawi, dan pasukannya menghancurkan Yerusalem pada tahun 70 M. Dalam Matius 22:7 Tuhan menubuatkan bahwa Allah akan mengutus “pasukannya,” pasukan Romawi di bawah kepemimpinan Titus, dan menghancurkan kota Yerusalem. Kehancuran Yerusalem mungkin mencakup kehancuran gereja di Yerusalem. Karena sikap kompromi Yakobus dan kelemahan Petrus, maka gereja di Yerusalem dihancurkan bersama kotanya. Tetapi, situasi gereja akan berbeda jika Petrus dan Yohanes dalam Kisah Para Rasul 21 sama beraninya seperti pada mulanya. Jika mereka terus kuat dan berani, orang-orang kudus itu akan tersebar, atau dianiaya sampai mati oleh agamawan-agamawan Yahudi.

Mati Martirnya Yakobus

Menurut sejarah, Yakobus dalam Kisah Para Rasul 21 mati martir di tangan para penentang Yahudi. Para pimpinan Mahkamah Agama berpikir bahwa Yakobus itu sangat condong kepada Yudaisme. Mereka mengumpulkan orang banyak dan meminta Yakobus berbicara kepada mereka, mengira ia akan berbicara secara positif tentang Yudaisme. Namun, Yakobus setia memberitakan Kristus dengan tegas. Para pimpinan Mahkamah Agama itu sakit hati, dan mereka membunuh Yakobus. Mereka telah menerima kesan yang salah tentang Yakobus, karena ada begitu banyak orang beriman Yahudi di Yerusalem yang bergairah terhadap hukum Taurat. Ini mungkin menyebabkan para pimpinan Mahkamah Agama mengira bahwa Yakubus adalah untuk Yudaisme.

Dari catatan dalam Kisah Para Rasul 21 kita melihat bahwa Yakobus justru menyimpang begitu jauh sampai mendorong Paulus ke dalam “perangkap” dari situasi yang sangat sulit itu. Seperti yang telah kita tunjukkan, Tuhan tidak bertoleransi terhadap situasi yang kompromi di Yerusalem.

PERJALANAN PAULUS YANG TERAKHIR

KE YERUSALEM

Sulit untuk dipercaya bahwa Petrus dan Yohanes diam saja mengenai situasi di Yerusalem. Mereka seharusnya memikul beban untuk menjernihkan perkara itu; tidak perlu Paulus yang melakukannya. Tetapi Petrus dan Yohanes ti-dak melakukan kewajiban mereka di Yerusalem. Sebaliknya, gereja di sana tetap dibiarkan dalam keadaan merosot, dan Paulus sangat tidak senang terhadap situasi itu. Meskipun ia sangat berbeban untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah di dunia Kafir, ia sadar bahwa sumber di Yerusalem telah tercemar dan aliran racun itu telah menyebar ke dalam dunia Kafir. Seperti yang ditunjukkan surat Rasul Paulus, ia harus menghadapi agamawan-agamawan Yahudi di mana-mana. Menurut kitab Galatia, gereja-gereja di Galatia dipersulit oleh agamawan-agamawan Yahudi. Oleh karena itu, Paulus tahu bahwa ia tidak dapat melanjutkan pekerjaannya di dunia Kafir sampai situasi di Yerusalem diberes-kan. Tahu bahwa hal utama yang merusak kehidupan gereja di dunia Kafir adalah Yudaisme, maka Paulus berbeban untuk kembali ke Yerusalem. Inilah penyebabnya ia di dalam rohnya memutuskan untuk pergi ke Yerusalem (19:21). Ia berbeban untuk membereskan sumber pencemaran itu.

Dalam membaca Kisah Para Rasul 18-21, sulit dipu-tuskan apakah Paulus benar atau tidak pergi ke Yerusalem untuk kali terakhir. Kisah Para Rasul 19:21 mengatakan, “Setelah peristiwa itu, atas dorongan Roh, Paulus memutuskan untuk pergi ke Yerusalem melalui Makedonia dan Akhaya. Katanya: Sesudah berkunjung ke situ aku harus melihat Roma juga.” Dalam 20:22-23 Paulus berkata, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yersalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.” Kesaksian Roh Kudus hanyalah satu nubuat, satu pemberitahuan lebih dulu, bukan perintah. Ketika Paulus berada di Tirus, “Karena bisikan Roh murid-murid itu menasihati Paulus, supaya ia jangan pergi ke Yerusalem” (21:4). Di sini, setelah Paulus tahu bahwa penjara dan sengsara menunggu dia di Yerusalem, Roh itu melalui beberapa anggota Tubuh Kristus memberi tahu dia lebih lanjut untuk tidak pergi ke Yerusalem. Selain itu nabi Agabus “Mengambil ikat pinggang Paulus. Sambil mengikat kaki dan tangannya sendiri ia berkata: Demikianlah kata Roh Kudus: Beginilah pemilik ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain” (21:11). Lukas selanjutnya mengatakan, “Mendengar itu kami bersama-sama dengan orang-orang di tempat itu meminta, supaya Paulus jangan pergi ke Yerusalem. Tetapi Paulus menjawab: Mengapa kamu menangis, sehingga mem-buat hatiku hancur? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem demi nama Tuhan Yesus. Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: Jadilah kehendak Tuhan!” (ay. 12-14). Semakin kita merenungkan semua ayat ini, semakin kita sadar betapa sulitnya untuk memutuskan apakah Paulus benar atau salah pergi ke Yerusalem kali terakhir itu. Di satu pihak, Roh itu menunjukkan kepada Paulus bahwa penjara dan sengsara menunggu dia di Yerusalem. Di pihak lain, melalui anggota-anggota Tubuh, Roh itu memberi tahu Paulus agar tidak pergi ke Yerusalem. Tuhan sangat jelas tentang situasi di sana.

DORONGAN TUHAN

Oleh kedaulatan Tuhan, Paulus diselamatkan dari tangan orang-orang Yahudi yang mengacau ke dalam tangan kepala pasukan Romawi (21:27-39). Setelah Paulus membela diri di hadapan orang-orang Yahudi (21:40-22:21), dibelenggu oleh orang-orang Romawi (22:22-29), dan membela diri di hadapan Mahkamah Agama (22:30-23:10), ia memperoleh dorongan Tuhan. Mengenai hal ini, 23:11 mengatakan, “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma.” Ini adalah satu perkataan tegas yang meneguhkan Paulus. Memang Paulus takut. Jika ia tidak takut, Tuhan tidak perlu memberi tahu dia agar menguatkan hati. Paulus benar-benar berada di dalam situasi yang sangat menakutkan. Tetapi secara berdaulat Tuhan menyelamatkan dia dari situasi itu, dan kemudian Dia datang untuk meneguhkan-nya agar ia mau bersaksi tentang Dia di Roma. Dengan cara ini keinginan Paulus untuk melihat Roma akan terpenuhi.

VISI PAULUS TENTANG

EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Marilah kita perhatikan kembali gambaran dari situasi di mana Paulus berada. Gereja lemah, berkompromi, dan keku-rangan terang. Tidak ada kesaksian yang sejati pada gereja di Yerusalem. Para agamawan yang bergairah di dalam Yudaisme itu buta, jahat, dan penuh dengan kebencian, dan politisi-politisi Romawi bobrok. Berkebalikan dengan latar belakang yang demikian, kita melihat Paulus, seorang yang berbeban dan dijenuhi dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sewaktu Paulus melihat situasi yang melibatkan gereja, Yudaisme, dan pemerintahan Romawi, ia tahu bahwa hal yang paling diperlukan adalah ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu? Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah mengembangbiakkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam Persona Kristus yang bangkit, yang almuhit. Perkembangbiakan Kristus yang bangkit inilah satu-satunya jawaban untuk situasi yang kasihan di bumi ini. Yang kita perlukan ialah membiarkan Allah melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya dalam mengembangbiakkan Kristus yang bangkit. Paulus pasti telah banyak mempertimbangkan hal ini selama dua tahun di dalam tahanan di Kaisarea. Karena itu, ketika ia dibawa ke Roma, ia mulai menulis delapan Surat Kirimannya yang terakhir: Kolose, Efesus, Filipi, Filemon, 1 Timotius, Titus, Ibrani, dan 2 Timotius. Surat-surat Rasuli ini memberikan satu pandangan yang jelas kepada kita tentang pelaksanaan ekonomi perjanjian Baru Allah.

Tidak lama setelah Paulus memberikan pandangan yang jelas tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan melengkapi tulisan-tulisannya tentang wahyu ilahi, ia mati martir. Kirakira seperempat abad kemudian, kitab Wahyu ditulis. Dalam ketujuh Surat Kiriman dalam Wahyu 2 dan 3, kita dapat melihat bahwa gereja-gereja, yang telah didirikan terutama oleh Paulus bagi penggenapan ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan mengembangbiakkan Kristus yang bangkit, telah merosot. Kemerosotan itu karena kehilangan Kristus yang almuhit dan mengambil hal-hal lain sebagai pengganti Kristus. Kecuali surat untuk gereja di Filedelfia, kita melihat bahwa dalam ketujuh gereja itu ada berbagai macam hal yang telah menyusup masuk untuk menggantikan Kristus.

Hampir sembilan belas abad telah berlalu sejak kitab Wahyu ditulis. Sepanjang abad-abad ini pergumulan telah terjadi di antara Iblis dengan Allah. Iblis telah mencoba berbagai cara untuk menggantikan Kristus. Akibatnya, ba-nyak dari kita, termasuk saya, lahir ke dalam satu Kekristenan yang terorganisir yang memiliki sangat sedikit Kristus. Misalnya, berapa banyak Kristus yang ada di dalam perayaan hari Natal? Dalam kekristenan hari ini ada percampuran kebenaran dan kepalsuan. Sangat sedikit orang beriman yang mengenal kebenaran dengan mendalam dan menyeluruh.

Setelah saya beroleh selamat, saya segera mulai mengasihi Alkitab dan mempelajarinya. Perlahan-lahan terang itu datang melalui firman mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Melalui penerangan Tuhan kita dapat melihat bahwa Paulus berbeban terhadap wahyu yang penuh tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Penggenapan ekonomi ilahi itu melibatkan inkarnasi, kehidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus supaya Dia dapat mengembangbiakan diri-Nya sendiri dengan membagikan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Dengan demikian umat Allah dapat menjadi putra-putra-Nya dan anggota-anggota Kristus untuk menjadi satu Tubuh yang korporat untuk mengekspresikan Dia. Ekspresi ini ada di dalam gereja-gereja lokal pada zaman ini dan akan ada di dalam Yerusalem Baru dalam kekekalan.

Inilah visi yang Paulus lihat, dan inilah yang perlu kita lihat pada hari ini. Visi Paulus mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah sepenuhnya diwahyukan dan dikembangkan dalam delapan Surat Kiriman yang terakhir. Karena itu, dengan bantuan Berita-berita Pelajaran-Hayat, kita perlu mempelajari Surat-surat Kiriman ini, khususnya kitab Efesus dan Ibrani. Dengan mempelajari Surat-surat Kiriman Paulus, pengalaman kita akan Kristus yang berkembang biak akan diperkaya dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.