← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 14/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (30)

Pembacaan Alkitab:

Kis. 24:22-27; Gal. 1:17; Kol. 1:25; 1 Tim. 1:34; 2 Tim. 1:14; 2:2, 22

Dalam 24:1-9, Paulus dituduh oleh pengacara orang Yahudi, dan dalam 24:10-21 ia membela diri di hadapan Feliks, gubernur Roma di Yudea. Kemudian dalam 24:22-27 ia ditahan di dalam tahanan politisi Roma yang tidak adil dan bobrok. Kisah Para Rasul 24:27 mengatakan, “Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, Feliks membiarkan Paulus tetap dalam penjara.” Lukas tidak memperlihatkan apa yang Paulus lakukan selama dua tahun itu. Dalam berita ini kita akan melihat apa yang mungkin Paulus lakukan selama periode waktu itu.

MENERIMA WAHYU MELALUI PENGETAHUAN TERHADAP PERJANJIAN LAMA

Lukas tidak memberi tahu kita apa-apa tentang dua tahun Paulus ditahan di Kaisarea. Lukas juga tidak mengatakan apa-apa tentang waktu yang Paulus habiskan di tanah Arab setelah ia bertobat. Mengenai hal ini, Paulus berkata, “Juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik” (Gal. 1:17). Sukar ditelusuri kota mana yang dituju Paulus di tanah Arab dan berapa lama ia tinggal di sana setelah pertobatannya. Namun, tempat yang dikunjunginya pasti jauh dari orang Kristen, dan masa tinggalnya di sana pasti cukup lama. Tujuan Paulus menyinggung menetapnya dia di tanah Arab adalah untuk mempersaksikan bahwa ia tidak menerima Injil dari manusia (Gal. 1:12). Di tanah Arab, ia pasti telah menerima wahyu mengenai Injil secara langsung dari Tuhan.

Tidak diragukan lagi, wahyu ilahi yang diterima Paulus dari Tuhan di tanah Arab itu datang melalui pengetahuan-nya terhadap Perjanjian Lama. Paulus adalah seorang pelajar Perjanjian Lama yang sangat baik. Hal ini terlihat dari cara Paulus menerangkan Perjanjian Lama dalam kitab Roma, Galatia, dan Ibrani. Sewaktu kita membaca kitab-kitab ini, kita melihat bahwa Paulus memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap Perjanjian Lama. Selain itu, ia memiliki pandangan ke dalam Kitab Suci. Satu contoh dari pandangan ini adalah Paulus mengiaskan Sara, istri Abraham, dan Hagar, gundik Abraham, sebagai dua perjanjian (Gal. 4:22-26). Di luar kiasan Paulus tentang perempuan-perempuan dalam Galatia 4 ini, kita mungkin dapat mem-baca kitab Kejadian berkali-kali tanpa melihat bahwa Sara dan Hagar itu melambangkan dua perjanjian. Tetapi Paulus, yang memiliki sangat banyak pengetahuan dalam kebenaran di dalam Perjanjian Lama, memiliki pandangan untuk melihat hal ini. Melalui pengetahuannya terhadap Perjanjian Lama, terang ilahi datang kepadanya. Karena itu, seperti yang ditunjukkan oleh tulisan-tulisannya, Paulus dapat memahami lambang-lambang di dalam Perjanjian Lama mengenai Persona dan pekerjaan Kristus. Pengetahuan Paulus terhadap Kitab Suci adalah adalah salah satu penyebab dari ia menerima begitu banyak wahyu ilahi.

MENERIMA WAHYU SECARA LANGSUNG

DARI TUHAN

Meskipun Paulus menerima banyak wahyu dari Tuhan melalui pengetahuannya terhadap Perjanjian Lama, ada aspek-aspek tertentu yang ia terima dari Tuhan itu bukan berdasar pada Perjanjian Lama. Kita dapat mengambil sebagai contoh apa yang Paulus katakan mengenai bermacam-macam hukum dalam Roma 7-8. Dalam Roma 8:2 ia berkata, “Sebab hukum Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut”(Tl.). Di sini Paulus membicarakan dua hukum hukum dosa dan maut dan hukum Roh hayat. Dalam Roma 7, sebagai tambahan bagi hukum Allah (ay. 22), Paulus membicarakan tentang “hukum akal budiku” (ay. 23), yang adalah hukum kebajikan. Dalam Roma 7:23 ia juga menyebutkan “hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” Karena itu, dalam dua pasal ini Paulus membicarakan tentang empat hukum: hukum Allah yang tertulis, hukum kebajikan, hukum dosa dan maut, dan hukum Roh hayat. Berlawanan dengan hukum Allah (yang tertulis), hukum kebajikan, hukum dosa dan maut, dan hukum Roh hayat tidak ada hukum-hukum yang tertulis, yang ada adalah prinsip-prinsip hayat.

Setiap jenis hayat memiliki hukumnya masing-masing. Hukum kebajikan adalah hukum hayat insani. Hukum dosa dan maut adalah hukum hayat setan, yang penuh dosa. Hukum Roh hayat adalah hukum hayat ilahi. Tiga hukum ini berdasar pada prinsip-prinsip yang tegas dari masing-masing hayatnya. Hayat insani memiliki hukumnya sendiri; hayat setan memiliki hukum dosa; dan hayat ilahi, yang adalah hayat paling tinggi, tentunya memiliki hukum ilahi.

Apakah sumber dari wahyu yang dilihat oleh Paulus mengenai tiga hukum ini? Saya telah menyelidiki perkara ini dalam usaha mempelajari sumbernya, tetapi saya tidak dapat menemukannya. Mungkin Paulus menerima wahyu mengenai tiga hukum ini secara langsung dari Tuhan. Selain itu, pengetahuannya terhadap hukum-hukum ini berdasar pada pengalamannya. Paulus mengalami hukum pikiran, hukum kebajikan. Paulus juga mengalami hukum dosa dan maut. Mengenai hal ini, ia dapat berkata, “Tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm. 7:23). Sebelumnya Paulus berkata dalam Roma 7, “Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (ay. 18-21). Karena itu, dari pengalamannya Paulus tahu bahwa ada hukum yang demikian, yaitu hukum dosa dan maut. Dari pengalaman Kristianinya Paulus menemukan bahwa ada satu hukum yang lebih tinggi di dalamnya — hukum hayat ilahi. Paulus benar-benar menerima wahyu mengenai hukum kebajikan, hukum dosa dan maut, dan hukum Roh hayat.

Karena Paulus menerima begitu banyak wahyu dari Tuhan, maka ketika ia keluar untuk memberitakan, ia dapat meministrikan kekayaan-kekayaan dari wahyu ini kepada orang lain. Ia dapat menulis surat-surat seperti surat 1 dan 2 Tesalonika, Roma, Galatia, dan 1 dan 2 Korintus. Sewaktu kita membaca tulisan-tulisan Paulus, kita melihat bahwa setiap tulisan itu penuh dengan wahyu ilahi. Butir yang kita tekankan di sini adalah Paulus pasti telah menerima banyak wahyu dari Tuhan selama ia berada di tanah Arab.

PAULUS DI KAISAREA

Menurut Kisah Para Rasul 24:27, Tuhan menyisihkan dua tahun masa Paulus ditahan di Kaisarea. Dalam tahun-tahun itu, Paulus pasti memikirkan apa yang telah terjadi dalam Kisah Para Rasul 15 dan 21.

Dalam Kisah Para Rasul 21 kita melihat kelemahan Paulus dalam menghadapi percampuran agamawi di Yerusalem. Meskipun Petrus dan Yohanes ada bersama-sama dengan Tuhan di Gunung Pengubahan, tetapi mereka diam saja mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah dalam Kisah Para Rasul 21. Seperti yang telah kita lihat, Yakobus berbicara demi orang-orang Yahudi yang percaya yang masih bergairah terhadap hukum Taurat (21:20). Apakah Yakobus tidak memiliki terang mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah? Kelihatannya ia sangat tumpul dalam pemahamannya akan hal ini. Meskipun Petrus dan Yohanes telah diterangi mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah, mereka tidak melakukan apa-apa terhadap situasi di Yerusalem tentang percampuran kasih karunia Perjanjian Baru dengan hukum Taurat Perjanjian Lama. Kelihatannya hanya Paulus satu-satunya orang yang berbeban tentang situasi itu.

Sewaktu kita melihat pemandangan yang digambarkan dalam pasal-pasal kitab Kisah Para Rasul ini, kita melihat bahwa tokoh sentralnya sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Dia memainkan peranan penting dalam pasal-pasal ini sebagai Yang berdaulat atas segala sesuatu. Akhirnya, Tuhan membebaskan Paulus dari situasi sulit di Yerusalem itu, memelihara nyawanya dari orang-orang Yahudi yang ber-komplot, dan menempatkan dia di dalam tahanan di bawah pemerintahan Romawi di Kaisarea. Meskipun Paulus berada di dalam tahanan, tetapi ia sebenarnya bukan berada di dalam penjara. Feliks “menyuruh perwira itu tetap menahan Paulus, tetapi dengan tahanan ringan, dan tidak boleh mencegah seorang pun dari sahabat-sahabatnya melayani dia” (24:23). Seperti ditunjukkan dalam 24:26, tujuan Feliks dalam membiarkan sahabat-sahabat Paulus mengunjunginya adalah untuk mendapatkan uang. Meskipun tujuan Feliks adalah untuk mendapatkan uang, Tuhan memiliki tujuan-Nya sendiri dalam memelihara Paulus di dalam tahanan di Kaisarea itu. Di Kaisarea Paulus tidak memiliki apa-apa untuk dilakukan, dan ia dipelihara dengan aman dari kesulitan.

DIPERSIAPKAN UNTUK MENULIS LEBIH BANYAK SURAT-SURAT KIRIMAN

Menurut Anda, apa yang Paulus lakukan selama dua tahun ditahan di Kaisarea? Apakah Anda mengira bahwa setelah melalui begitu banyak huru-hara, Paulus tidak melakukan apa-apa selain membaca Kitab Suci? Paulus pasti merenungkan kembali pengalamannya dalam pasal 15 dan 21. Ia pasti telah memikirkan hal-hal yang telah ia lalui itu. Ia mungkin membandingkan pengalaman-pengalamannya belakangan ini dengan wahyu yang telah diterimanya dulu, khususnya dengan wahyu yang diterimanya di tanah Arab. Saya percaya bahwa Paulus merenungkan kembali seluruh situasi dari Kisah Para Rasul 15 dan seterusnya di dalam terang dari wahyu yang telah diberikan kepadanya. Sewaktu ia merenungkan kembali perkara-perkara itu secara demi-kian, terangnya mungkin menjadi semakin jelas. Hal ini, tentunya, adalah kesimpulan kita berdasarkan mempelajari Perjanjian Baru.

Sewaktu Paulus merenungkan situasi dalam Kisah Para Rasul 21, ia mungkin merasa tidak senang dengan Yakobus dan juga dengan Petrus dan Yohanes. Ia mungkin menyesali apa yang telah terjadi. Kemudian Paulus mungkin sadar bahwa ia perlu menulis lebih banyak Surat Kiriman. Isi kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose telah ada di dalam dirinya selama tahun-tahun itu di Kaisarea.

Saya telah meluangkan waktu mempelajari apakah yang Paulus lakukan selama dua tahun di Kaisarea. Saya percaya bahwa selama waktu itu Paulus merenungkan kembali pengalamannya dari Kisah Para Rasul 15 dan 21, dengan membandingkannya dengan wahyu yang telah ia terima dari Tuhan dan dengan situasi yang telah ia perhatikan di Yerusalem atas diri Yakobus, Petrus, dan Yohanes. Saya percaya bahwa semakin Paulus merenungkan kembali peng-alamannya, ia makin berbeban untuk mengirimkan tulisan-tulisannya. Paulus mungkin telah menyadari bahwa ia tidak akan segera dibebaskan dari tahanan pemerintahan Romawi. Ia mungkin telah mengantisipasi lamanya ia tinggal di Kaisarea. Saya percaya bahwa selama dua tahun ia di sana, ia dipersiapkan oleh Tuhan untuk menulis delapan Surat Kiriman: kitab Ibrani, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Timo-tius, Titus, dan Filemon.

Kitab-kitab seperti kitab Ibrani dan kitab Efesus tidak mungkin ditulis tanpa persiapan yang memadai. Penulisan Surat Kiriman yang demikian itu memerlukan sejumlah besar persiapan. Sebelum Paulus dapat menulis kitab Ibrani dan kitab Efesus, pertama-tama ia harus masuk ke dalam lubuk dari wahyu Allah. Sebelum menulis Surat-surat Kirim-an itu, ia perlu sejangka waktu untuk mempertimbang-kannya secara menyeluruh. Paulus diberi waktu ini, waktu persiapan, selama dua tahun ia ditahan di Kaisarea. Kemudian, ketika ia dipindahkan dari Kaisarea ke Roma, ia memiliki kesempatan untuk mengeluarkan kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose. Tentunya, ia juga dapat menulis kitab 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon. Akan sangat membantu bila kita melihat lagi, khususnya kitab Ibrani, Efesus, Filipi, dan Kolose berkaitan dengan latar belakang dari Kisah Para Rasul 15-24. Jika kita melakukan ini, kita akan dapat menggambarkan keempat Surat Kiriman ini dengan cara yang baru dengan lebih banyak terang.

BERBEBAN TERHADAP

EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Paulus sangat berbeban terhadap ekonomi Perjanjian Baru Allah. Meskipun ia tidak dapat terus-menerus me-ngerjakan hal ini secara pribadi, tetapi ia diberi kesempatan untuk menuliskan wahyu ilahi ini. Dalam Kolose 1:25 ia berkata, “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu.” Di sini kita melihat bahwa Paulus menulis kitab Kolose adalah untuk melengkapi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tanpa kitab-kitab seperti kitab Kolose, Filipi, Efesus, dan Ibrani, kita tidak akan memiliki pandangan yang jelas tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Sebenarnya, kata Yunani untuk “ekonomi” (oikonomia) adalah satu kata yang khusus dipakai oleh Paulus, khu-susnya dalam kitab Efesus. Meskipun Paulus memakai kata ini dalam 1 Korintus 9:17, ia tidak memakainya di sana untuk tujuan khusus dalam menyingkapkan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tetapi ia memakai kata oikonomia untuk tujuan ini dalam kitab Efesus. Kita tahu, kitab Efesus adalah sebuah kitab tentang gereja. Tetapi jika kita hanya memiliki pemahaman yang demikian saja tentang kitab Efesus, maka pemahaman kita terhadap kitab ini terlalu dangkal. Kita perlu melihat bahwa kitab Efesus adalah sebuah kitab tentang ekonomi Allah.

Kita telah menekankan fakta bahwa mengenai situasi dalam kitab Kisah Para Rasul kita dapat melihat kedaulatan Tuhan. Baik agama Yahudi maupun politisi-politisi Romawi tidak dapat mengalahkan Tuhan yang berdaulat. Sebaliknya, segala sesuatu mendatangkan faedah bagi kehendak-Nya. Bahkan ketakutan Petrus (Gal. 2:12) dan orang-orang Yahudi yang bekomplot juga berfaedah bagi kehendak Tuhan ini. Kelihatannya, hal-hal itu menghalangi pergerakan-Nya. Sebenarnya, hal-hal itu berfaedah bagi kehendak-Nya dalam menyingkapkan dan merampungkan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Hari ini kita berbeban untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Inilah alasannya saya sering kali menunjukkan bahwa dalam pemulihan Tuhan kita bukan sedang melakukan satu pekerjaan kekristenan yang biasa. Sebaliknya, oleh belas kasihan dan kasih karunia Tuhan, kita di sini adalah untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah.

MELIHAT VISI TENTANG

EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Setelah mempelajari semua kitab dari Alkitab selama bertahun-tahun, kita mulai melihat wahyu yang menyeluruh dalam Kitab Suci mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Melalui firman-Nya, Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa dalam ekonomi ini Allah Tritunggal menjadi manusia di dalam Putra. Ini berarti penggenapan ekonomi Perjanjian Baru Allah itu dimulai dengan inkarnasi. Melalui kehidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, setiap hal yang diperlukan bagi penggenapan ekonomi Perjanjian Baru Allah ini telah dilakukan. Setelah menghembuskan Roh itu ke dalam murid-murid secara esensial (Yoh. 20:22), Tuhan, dalam kenaikan-Nya, mencu-rahkan Roh itu ke atas Tubuh-Nya secara ekonomikal (Kis. 2:17). Pencurahan Roh itu adalah penggenapan dari perampungan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Sekarang Allah Tritunggal sebagai Roh almuhit yang telah melalui proses ada di dalam umat pilihan-Nya dan di atas mereka, dan bersama mereka Dia sedang melaksanakan ekonomi Per-janjian Baru. Tuhan sedang mengembangbiakkan diri-Nya sendiri dengan menyalurkan diri-Nya kepada kaum beriman-Nya untuk membuat mereka menjadi anggota-anggota yang hidup dari Tubuh universal-Nya, menjadi bejana korporat-Nya bagi ekspresi-Nya. Hari ini bejana korporat ini dieks-presikan di berbagai tempat sebagai gereja-gereja lokal, dan semua gereja ini adalah kaki-kaki dian yang bercahaya di dalam zaman yang gelap ini. Akhirnya, semua gereja lokal yang bercahaya ini akan rampung dalam Yerusalem Baru, yang akan menjadi perampungan akhir dari pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya.

Fokus penting dari ekonomi Perjanjian Baru Allah ada-lah Kristus yang almuhit sebagai hayat kita, persona kita, dan segala sesuatu kita. Ekonomi ilahi ini bukan difokuskan pada hukum Taurat, peraturan, pengajaran, filsafat, atau praktek apa pun. Ekonomi Allah difokuskan pada satu Per-sona yang almuhit, yang ajaib. Persona ini adalah perwujudan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dan Dia direalisasikan sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit, yang ada di dalam kita dan di atas kita. Roh ini sedang be-kerja di dalam kita supaya kita dapat dibawa kembali kepada Kristus untuk menikmati Dia sebagai segala sesuatu. Saya harap kita semua memiliki pandangan yang jelas mengenai hal ini.

Jika kita melihat visi tentang ekonomi ilahi, kita akan memuji Tuhan untuk dua tahun Tuhan menjaga Paulus di dalam tahanan di Kaisarea. Tahun-tahun itu adalah waktu persiapan bagi Paulus, bejana pilihan, untuk menbentang-kan wahyu pelengkap yang ia terima dari Tuhan. Setelah persiapan di Kaisarea, Paulus dipindahkan ke Roma. Ke-mudian ia menulis surat-surat Efesus, Filipi, Kolose, dan Ibrani yang bersifat melengkapi. Jika kita ingin disusun dengan ministri Paulus, kita perlu mempelajari keempat kitab tersebut. Selain menulis keempat surat itu, Paulus juga menulis surat 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon. Dalam 1 Timotius 1:3-4 Paulus berkata kepada Timotius, “Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang menghasilkan angan-angan belaka, dan bukan tata hidup keselamatan yang diberikan Allah dalam iman.” Di sini Paulus memerintahkan kita agar tidak mengajarkan ajaran yang lain, tetapi melainkan mengajarkan ekonomi Allah. Menurut surat 1 Timotius, ekonomi Allah dipusatkan pada manifestasi Allah dalam daging (1 Tim. 3:16). Menurut 1 Timotius 3:15, gereja dari Allah yang hidup, rumah Allah, adalah tiang penopang dan dasar kebenaran, dan kebenaran ini sebenarnya adalah realitas dari ekonomi Perjanjian Baru.

Dalam 2 Timotius 1:14 kita memiliki perintah ini: “Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang tinggal di dalam kita.”

Kemudian dalam 2 Timotius 2:2 Paulus melanjutkan berkata, “Apa yang telah engkau dengar dariku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga pandai mengajar orang lain.” Di sini Paulus memerintahkan Timotius untuk mempercayakan apa yang telah ia terima kepada orang lain, supaya mereka dapat mengajar orang lain.

Selain itu Paulus menyuruh Timotius, “Kejarlah keadil-an, kesetiaan, kasih, dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Tim. 2:22). Di sini kita melihat bahwa berseru kepada nama Tuhan memiliki kedudukan yang pasti dalam pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita perlu berseru kepada nama Tuhan terus-menerus. Bukan hanya kita sendiri harus berseru secara perorangan, kita juga harus berseru kepada Dia bersama-sama dengan orang-orang yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

Kita bersyukur kepada Tuhan untuk delapan Surat Kiriman terakhir yang ditulis oleh Paulus. Jika kita tidak memiliki kitab-kitab itu, saya tidak tahu di mana kita akan berada pada hari ini dalam hubungannya dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita juga bersyukur kepada Tuhan untuk gambaran yang Tuhan berikan dalam kitab Kisah Para Rasul kepada kita. Setelah membahas pasal-pasal yang tersisa dari kitab ini, kita akan memiliki pandangan yang lebih jelas tentang pelaksanaan ekonomi Perjanjian Baru Allah.