PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (29)
Pembacaan Alkitab: Kis. 24:1-27
Dalam berita ini kita sampai kepada 24:1-27. Dalam bagian dari kitab Kisah Para Rasul ini Paulus dituduh oleh pengacara orang Yahudi (ay. 1-9), ia membela diri di hadapan Feliks (ay. 10-21), dan ia ditahan di dalam tahanan politisi Romawi yang tidak adil dan bobrok (ay. 22-27).
DITUDUH OLEH PENGACARA ORANG YAHUDI
Kisah Para Rasul 24:1 mengatakan, “Lima hari kemudian datanglah Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa tua-tua dan seorang pengacara bernama Tertulus. Mereka menghadap gubernur dan menyampaikan dakwaan mereka terhadap Paulus.” Juru bicara Tertulus adalah seorang pengacara, pembela, orang yang mengerti prosedur hukum Romawi.
Ayat 2-4 melanjutkan, “Paulus dipanggil menghadap dan Tertulus mulai mendakwa dia, katanya: Feliks yang mulia, oleh usahamu kami terus-menerus menikmati kesejahteraan, dan oleh kebijaksanaanmu banyak sekali perbaikan yang telah terlaksana untuk bangsa ini. Semuanya itu senantiasa dan di mana-mana kami sambut dengan sangat berterima kasih. Akan tetapi supaya jangan terlalu banyak menghabiskan waktumu, aku minta, supaya engkau mendengarkan kami sebentar dengan kemurahan hatimu yang terkenal itu.” Perkataan Tertulus di sini menunjukkan kerendahannya, tidak memiliki standar moral.
Dalam 24:5 Tertulus berkata mengenai Paulus, “Kami dapati bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari aliran Nasrani.” Di sini kita memiliki tuduhan tiga lapis. Pertama, Tertulus menuduh Paulus adalah penyakit sampar. Penyakit sampar itu penuh dengan “kuman-kuman” yang jahat. Namun, Paulus penuh dengan kuman-kuman yang positif kuman-kuman dari Kristus yang bangkit bagi perkembangbiakan Kristus dengan menyalurkan Kristus kepada orang lain. Kita semua harus menjadi “penyakit sampar” yang demikian.
Kedua, Tertulus memberi Paulus gelar “pengacau.” Ia menuduh Paulus adalah seorang pengacau yang menimbul-kan kekacauan di antara orang Yahudi di seluruh bagian bumi yang berpenghuni.
Ketiga, Tertulus menyatakan bahwa Paulus adalah seorang tokoh dari aliran Nasrani. Kata “aliran” di sini sedikit banyak sama dengan “ajaran sesat “ pada hari ini. Perkataan Tertulus menunjukkan bahwa orang Yahudi menganggap orang-orang yang percaya dalam Tuhan Yesus sebagai orang Nasrani. Dalam Kisah Para Rasul 13 kaum beriman untuk kali pertama disebut Kristen di Antiokhia. Orang-orang Kristen adalah orang-orang Kristus, orang-orang yang memperhidupkan Kristus. Di sini pengacara Yahudi memberikan julukan lain kepada orang beriman orang Nasrani. Pemakaian julukan ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman dianggap pengikut-pengikut Yesus, orang Nazaret.
MEMBELA DIRI DI HADAPAN FELIKS
Dalam 24:10 Paulus mulai membuat pembelaannya di hadapan Feliks: “Gubernur memberi isyarat kepada Paulus bahwa ia boleh berbicara. Lalu berkatalah Paulus: Aku tahu bahwa sudah bertahun-tahun engkau menjadi hakim atas bangsa ini. Karena itu tanpa ragu-ragu aku membela perkaraku ini di hadapanmu.” Kita telah melihat bahwa berlawanan dengan cara Tuhan Yesus menghadapi para penentang-Nya, Paulus perlu membuat satu pembelaan dan menggunakan hikmatnya untuk menyelamatkan nyawanya dari para penganiayanya, supaya ia dapat menyelesaikan perjalanan ministrinya.
Melayani Allah dan Berperilaku menurut Kitab Suci
Dalam ayat 11-14 Paulus melanjutkan, “Engkau dapat memastikan bahwa tidak lebih dari dua belas hari yang lalu aku datang ke Yerusalem untuk beribadah. Tidak pernah orang mendapati aku sedang bertengkar dengan seseorang atau mengadakan huru-hara, baik di dalam Bait Allah, maupun di dalam rumah ibadat, atau di tempat lain di kota. Mereka tidak dapat membuktikan kepadamu apa yang sekarang dituduhkan mereka kepada diriku. Tetapi aku mengakui kepadamu bahwa aku berbakti kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan yang mereka sebut aliran. Aku percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.” Di sini kita melihat bahwa apa yang disebut aliran oleh orang-orang Yahudi yang menentang itu disebut jalan oleh Paulus. Seperti yang telah kita tunjukkan, jalan, yang disebutkan beberapa kali dalam kitab Kisah Para Rasul (9:2; 18:25-26; 19:9, 23; 22:4), menunjukkan keselamatan sempurna Tuhan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Dalam ayat 14 Paulus menyaksikan bahwa menurut jalan yang disebut aliran oleh para penentang itu ia melayani Allah nenek moyang mereka. Dalam bahasa aslinya kata “melayani” adalah “melayani sebagai imam”. Cara Paulus melayani Allah adalah cara ekonomi Perjanjian Baru Allah. Karena itu, cara Paulus melayani berbeda dengan cara orang Yahudi lainnya.
Dalam ayat 14 Paulus juga mengatakan bahwa ia percaya kepada segala sesuatu yang tertulis dalam hukum Taurat dan dalam kitab Nabi-nabi. Di sini Paulus me-ngatakan bahwa ia bertindak menurut Perjanjian Lama, yang terdiri dari hukum Taurat dan para Nabi. Karena itu, Paulus menegaskan dirinya sebagai seorang yang ber-perilaku menurut Kitab Suci.
Kebangkitan Orang-orang Benar dan Orang-orang yang Tidak Benar
Dalam 24:15 Paulus membicarakan tentang kebang-kitan: “Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga bahwa akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar.” Kebangkitan orang-orang yang benar akan terjadi sebelum Kerajaan Seribu Tahun, ketika Tuhan datang kembali (1 Kor. 15:23; 1 Tes. 4:16). Inilah kebangkitan kepada hidup (Yoh. 5:28-29a; Dan. 12:2). Kebangkitan kepada hidup ini adalah kebangkitan kaum beriman yang telah diselamatkan sebelum Karajaan Seribu Tahun. Kaum beriman yang telah mati akan dibangkitkan untuk menikmati hayat yang kekal pada saat Tuhan Yesus datang kembali. Maka, kebangkitan ini disebut kebangkitan kepada hidup. Ini juga kebangkitan untuk pahala (Luk. 14:14), ketika Allah memberikan pahala kepada orang-orang kudus (Why. 11:18) pada saat Tuhan kembali (1 Kor. 4:5).
Kebangkitan orang benar yang adalah kebangkitan kepada hidup, juga meliputi kebangkitan yang pertama, atau yang terbaik (Why. 20:4-6). Wahyu 20:5-6 membicarakan kebangkitan yang pertama, atau yang terbaik. Kebangkitan yang pertama adalah kebangkitan yang terbaik. Ini bukan hanya kebangkitan kepada hayat, tetapi juga kebangkitan untuk pahala, kebangkitan yang unggul, kebangkitan yang luar biasa yang dituntut oleh Rasul Paulus (Flp. 3:11), ke-bangkitan kerajaan sebagai satu pahala bagi para pemenang, supaya mereka dapat memerintah sebagai raja-raja bersama dengan Kristus di dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4-6) bukan hanya para pemenang yang bangkit, seperti anak laki-laki dalam Wahyu 12:5 dan para martir yang kemudian dalam Wahyu 15:2, tetapi juga orang-orang hidup yang terangkat, seperti buah sulung dalam Wahyu 14:1-5, akan mendapat “bagian dalam kebangkitan pertama” (Why. 20:6).
Dalam Filipi 3:11 Paulus menyinggung kebangkitan yang pertama, atau yang terbaik, sebagai kebangkitan yang ekstra: “Supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” Ini adalah kebangkitan yang luar biasa, kebangkitan ekstra, yang akan menjadi hadiah bagi kaum saleh yang menang. Semua orang beriman yang telah mati dalam Kristus akan berbagian dalam kebangkitan dari an-tara orang mati. Pada saat kedatangan Tuhan (1 Tes. 4:16; 1 Kor. 15:52). Tetapi orang kudus pemenang akan menikmati suatu bagian ekstra dan luar biasa dari kebangkitan itu. Ini disebut “kebangkitan yang lebih baik” dalam Ibrani 11:35.
Mencapai kebangkitan yang luar biasa menunjukkan bahwa seluruh diri kita secara berangsur-angsur dan terus-menerus dibangkitkan. Mula-mula Allah membangkitkan roh kita yang mati (Yoh. 5:25; Ef. 2:5-6); lalu dari roh kita Ia maju untuk membangkitkan jiwa kita (Rm. 8:6) dan tubuh fana kita (Rm. 8:11), sampai seluruh diri kita roh, jiwa, dan tubuh dibangkitkan sepenuhnya dari diri kita yang usang oleh dan dengan hayat-Nya. Ini adalah suatu proses dalam hayat yang harus kita lalui dan suatu perlombaan lari yang harus kita tempuh sampai kita mencapai kebangkitan yang luar biasa sebagai hadiah. Karena itu, kebangkitan yang luar biasa seharusnya menjadi sasaran dan tujuan hidup kita sebagai orang Kristen. Kita dapat mencapai sasaran ini hanya dengan cara diserupakan dengan kematian Kristus (Flp. 3:10), dengan menempuh hidup tersalib. Dalam kematian Kristus kita diproses dalam kebangkitan dari ciptaan lama kepada ciptaan baru.
Kita telah menunjukkan bahwa dalam Kisah Para Rasul 24:15 Paulus mengatakan bahwa akan ada satu kebangkitan baik bagi orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar. Kebangkitan orang-orang yang tidak benar akan terjadi setelah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:5). Ini menjadi kebangkitan kepada penghakiman (Yoh. 5:29), kebangkitan yang memalukan dan selamanya dihina (Dan. 12:2b). Kebangkitan untuk penghakiman ini akan menjadi kebangkitan penghukuman orang-orang yang tidak percaya setelah Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:5, 12). Semua orang tidak percaya yang mati akan dibangkitkan setelah seribu tahun untuk dihakimi di takhta putih besar (Why. 20:11-15). Maka, kebangkitan ini disebut kebangkitan penghakiman. Dalam Wahyu 20:12 kata “berdiri” menun-jukkan orang-orang mati telah bangkit. Hal ini mengacu kepada kebangkitan orang-orang yang tidak beriman sesudah Kerajaan Seribu Tahun, yaitu bangkit untuk dihakimi. Inilah kebangkitan yang mengenainya Rasul Paulus mem-peringatkan Feliks yang tidak benar dalam Kisah Para Rasul 24:15.
Semua orang yang belum beroleh selamat akan berada di dalam kebangkitan kepada penghakiman ini. Karena mereka akan dihukum dengan hukuman kekal, kebangkitan mereka akan menjadi kebangkitan yang memalukan dan selamanya dihina. Dalam hikmatnya, Paulus menyinggung kebangkitan ini sebagai satu peringatan bagi Feliks. Per-kataan Paulus menunjukkan bahwa Feliks harus memper-siapkan diri sendiri untuk menghadapi kebangkitan kepada penghakiman yang akan datang. Seperti yang akan kita lihat, Paulus kemudian berbicara kepada Feliks secara langsung mengenai penghakiman yang akan datang.
Paulus melatih Dirinya untuk Hidup
dengan Hati Nurani yang Tanpa Cela
Dalam 24:16 Paulus berkata kepada Feliks, “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” Paulus mengungkapkan perkataan yang mirip ketika ia membela diri di hadapan Mahkamah Agama: “Sampai hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah” (23:1). Kita telah melihat bahwa perilaku Paulus dalam hati nurani yang baik di hadapan Allah adalah satu peralihan yang besar kepada Allah dari kejatuhan manusia. Paulus mengatakan perkataan ini untuk membela dirinya di hadapan orang-orang yang menuduhnya sebagai seorang pelanggar hukum dan bahkan seorang yang tercela dalam perilaku. Kesaksian Paulus dalam 23:1 dan 24:16 mengenai hati nuraninya memperlihatkan standar moralitasnya yang tinggi yang berlawanan dengan kemunafikan para agama-wan Yahudi dan kebobrokan politisi-politisi Romawi. Jika kita melanjutkan melihat Kisah Para Rasul 24, kita akan nampak lebih banyak mengenai kebobrokan politisi-politisi Romawi.
DITAHAN DI DALAM TAHANAN POLITISI ROMA
YANG TIDAK ADIL DAN BOBROK
Kisah Para Rasul 24:22-23 mengatakan, “Tetapi Feliks yang tahu benar-benar tentang Jalan Tuhan, menangguhkan perkara mereka, katanya: Setibanya kepala pasukan Lisius di sini, aku akan mengambil keputusan dalam perkaramu. Lalu ia menyuruh perwira itu tetap menahan Paulus, tetapi dengan tahanan ringan, dan tidak boleh mencegah seorang pun dari sahabat-sahabatnya melayani dia.” Menurut ayat 24, “Setelah beberapa hari, datanglah Feliks bersama-sama dengan istrinya Drusila, seorang Yahudi; ia menyuruh me-manggil Paulus, lalu mendengar dia berbicara tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus.” Drusila adalah anak perempuan Raja Herodes Agripa. Feliks sangat terpikat kepadanya, lalu membujuk perempuan itu meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Ini menunjukkan tiadanya pengendalian diri dan kebobrokan Feliks, politisi Roma-wi. Dia adalah orang yang amoral dan tanpa pengendalian diri.
Ayat 24 mengatakan bahwa Feliks mendengar Paulus berbicara tentang kepercayaan kepada Yesus Kristus.
Berbicara tentang Kebenaran, Penguasaan Diri, dan Penghakiman yang Akan Datang
Kisah Para Rasul 24:25 mengatakan, “Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan memanggil engkau.” Kata “berbicara” di sini dalam bahasa aslinya berarti mengatakan dengan tuntas (dalam perdebatan atau nasihat), berdiskusi, berbantahan, sama seperti dalam 17:2 dan 18:4, 19.
Menyadari ketidakbenaran (ay. 26-27) dan tiadanya pengendalian diri pada Feliks, rasul berbicara dengan Feliks tentang kebenaran, dan pengendalian diri, pengendalian terhadap nafsu dan keinginan; di sini terutama ditujukan kepada keinginan-keinginan seks. Penghakiman yang akan datang berhubungan dengan kebangkitan orang-orang yang tidak benar, yang rasul beritakan dalam ayat 15. Rasul berbincang-bincang dengan Feliks tentang penghakiman yang akan datang juga, ini adalah peringatan bagi Feliks. Karenanya, Feliks menjadi takut.
Feliks adalah seorang politisi yang sangat tidak benar. Seperti yang ditunjukkan dalam ayat 26, ia berharap bahwa Paulus akan memberi uang kepadanya. Ia mengharapkan suap, uang yang diberikan secara tidak benar. Berdasarkan fakta ini, Paulus berbicara kepadanya tentang kebenaran.
Kita telah melihat bahwa Feliks juga kehilangan penguasaan diri. Karena hawa nafsu Feliks yang tidak terkendali, dan untuk memperlihatkan keadaan Feliks yang penuh dosa, Paulus juga membicarakan penguasaan diri kepadanya. Terakhir, dalam pembicaraannya dengan Feliks, Paulus sampai kepada perkara penghakiman yang akan datang. Dalam pemberitaan mereka kepada orang Kafir, baik Petrus dalam 10:42 dan Paulus di sini dan dalam 17:31, menekankan penghakiman Allah yang akan datang. Kristus yang bangkit pada kedatangan-Nya kembali akan menjadi Hakim orang yang hidup sebelum seribu tahun pada takhta kemuliaan-Nya (Mat. 25:31-46). Ini berhubungan dengan kedatangan-Nya kali kedua (2 Tim. 4:1). Dia juga akan menjadi Hakim dari orang-orang mati sesudah seribu tahun pada takhta putih besar (Why. 20:11-15).
Perkataan Paulus kepada Feliks adalah peringatan yang keras. Feliks menjadi takut, tetapi ia tidak tergerak. Ia menyuruh Paulus pergi dan berkata, “Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan memanggil engkau” (ay. 25).
Feliks memanggil Paulus beberapa kali. Mengenai hal ini, 24:26 mengatakan, “Sementara itu ia berharap bahwa Paulus akan memberikan uang kepadanya. Karena itu ia sering memanggilnya untuk bercakap-cakap dengan dia.” Ini menunjukkan bobroknya politisi Romawi. Maksudnya memanggil Paulus bukanlah untuk mendengar Injil, melainkan untuk mendapatkan uang.
Dua Tahun di Kaisarea
Ayat 27 menyimpulkan, “Tetapi sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk mengambil hati orang Yahudi, Feliks membiarkan Paulus tetap dalam penjara.” Perkius Festus adalah pengganti Feliks sebagai gubernur Yudea. Feliks membiarkan Paulus tetap dalam penjara sekali lagi menunjukkan kebobrokan politik Romawi.
Lukas tidak menyebutkan apa yang Paulus lakukan selama dua tahun ini. Mungkin dia menggunakan waktu itu beserta Tuhan bagi pergerakan-Nya di bumi. Jika demikian, ini mungkin telah mempengaruhi surat-surat kiriman yang ditulisnya selama naik banding ke Roma Kolose, Efesus, dan Filipi yang merupakan surat-surat yang paling misterius, paling dalam, dan paling kaya akan wahyu ilahi. Suplai yang dibawakan oleh surat-surat ini kepada gereja sepanjang zaman sulit diutarakan sepenuhnya.
GAMBAR KEMUNAFIKAN DAN KEBOBROKAN
Dalam pasal-pasal kitab Kisah Para Rasul ini, kita melihat gambar kemunafikan dalam agama dan kebobrokan dalam politik. Betapa parahnya kemunafikan dalam Yudaisme! Orang-orang Yahudi berpura-pura melayani Allah, menyenangkan Allah, dan memuliakan Allah, tetapi mereka melakukan banyak hal yang jahat. Pasal-pasal ini menying-kapkan kejahatan orang yahudi. Mereka bersifat agamawi secara jahat, bahkan bersekongkol untuk membunuh Paulus. Walaupun mereka jahat, mereka masih berpura-pura menjadi orang yang menyembah Allah dan mencari perkenan-Nya. Karena itu, dalam Yudaisme terdapat kemu-nafikan.
Dalam politik Romawi kita melihat kebobrokan dan ketidakbenaran. Feliks tahu bahwa Paulus tidak melakukan sesuatu yang salah. Sebab itu dalam keadilan, Feliks se-harusnya membebaskan Paulus. Namun, untuk mendapatkan sambutan dari orang-orang Yahudi, dan berharap menerima uang dari Paulus dan teman-temannya, dia membiarkan Paulus di penjara selama dua tahun. Feliks mengizinkan teman-teman Paulus mengunjunginya, tetapi tujuannya adalah untuk mendapat uang. Akibatnya, secara tidak adil Paulus dipenjara selama dua tahun. Dalam berita selanjutnya kita akan membahas hal-hal yang mungkin dilakukan oleh Paulus selama tahun-tahun itu.