← Daftar isi Kisah para Rasul (3) · bab 12/22

PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (28)

Pembacaan Alkitab: Kis. 22:30—23:35

MEMBELA DIRI DI HADAPAN MAHKAMAH AGAMA

Kita telah melihat bahwa dalam 21:31-39 kepala pasukan Romawi campur tangan untuk menyelamatkan Paulus dari orang-orang Yahudi yang berusaha membunuhnya. Kemudian Paulus diberi kesempatan untuk membela diri di hadapan orang-orang Yahudi yang membuat ke-rusuhan (21:40—22:21). Orang-orang Yahudi mendengar Paulus sampai pada butir tertentu, tetapi akhirnya mereka mulai membuat keributan. Paulus kemudian dibelenggu oleh orang-orang Roma (22:22-29). Dalam hikmatnya, Paulus memakai kewarganegaraan Romanya untuk menyelamatkan dirinya dari penganiayaan (ay. 25-29). Kemudian kepala pasukan Romawi itu memberi Paulus kesempatan untuk membela diri di hadapan Mahkamah Agama (22:30—23:10). Kisah Para Rasul 22:30 mengatakan, “Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu, keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan para anggota Mahkamah Agama lainnya berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka.”

Hidup dan Berperilaku

dengan Hati Nurani yang Murni

Kisah Para Rasul 23:1 mengatakan, “Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: Saudara-saudara, sampai hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” Setelah manusia jatuh dan diusir dari Taman Eden (Kej. 3:23), Allah di dalam pengaturan ekonomi-Nya menghendaki manusia ber-tanggung jawab kepada hati nuraninya sendiri. Tetapi manusia tidak hidup dan berperilaku menurut hati nuraninya, malah jatuh lebih jauh lagi ke dalam perbuatan jahat (Kej. 6:5). Setelah penghakiman oleh air bah, Allah menetapkan manusia akan berada di bawah pemerintahan manusia (Kej. 9:6), tetapi manusia juga gagal dalam hal ini. Kemudian Allah berjanji kepada Abraham bahwa bangsa-bangsa akan mendapat berkat di dalam keturunannya, Kristus (Kej. 12:3; Gal. 3:8). Sebelum janji ini digenapi, terlebih dulu Allah menaruh manusia di bawah ujian hukum Taurat (Rm. 3:20; 5:20). Tetapi manusia juga gagal total dalam ujian ini. Semua kegagalan ini menunjukkan bahwa manusia telah jatuh dari Allah ke hati nurani, dari hati nurani jatuh pemerintahan manusia, dan dari pemerintahan manusia jatuh ke kedurhakaan; artinya, manusia telah jatuh ke titik yang paling rendah.

Karena itu, hidup dengan hati nurani yang tidak bercela di hadapan Allah, seperti yang Paulus lakukan, adalah satu perpalingan yang besar dari kejatuhan manusia kepada Al-lah. Paulus mengatakan perkataan ini untuk membela dirinya di hadapan mereka yang menuduhnya durhaka, bahkan semena-mena. Ketika membela dirinya dalam 24:16, Paulus kembali menyinggung tentang hati nuraninya. Ini menunjukkan standar moralitasnya yang tinggi yang ber-lawanan dengan kemunafikan kaum agamawan Yahudi dan kelicikan politisi Romawi (orang-orang Kafir).

Dalam pembelaannya di hadapan Mahkamah Agama di hadapan wakil-wakil pemerintahan Roma, Paulus dapat mengatakan bahwa tidak ada kesalahan apa pun dari perilaku pribadinya. Ia melakukan segala sesuatu menurut hati nuraninya, bertingkah laku dalam standar moralitas yang tertinggi.

Keberanian dan Hikmat Paulus

Kisah Para Rasul 23:2-3 melanjutkan, “Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. Membalas itu Paulus berkata kepadanya: Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat dengan perintahmu untuk menampar aku.” Di sini kita melihat keterusterangan dan keberanian Paulus dalam menghadapi para penganiayanya. Orang-orang yang hadir di situ berkata, “Engkau mengejek Imam Besar Allah?” (ay. 4). “Jawab Paulus: Hai saudara-saudara, aku tidak tahu bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!” (ay. 5).

Kisah Para Rasul 23:6 mengatakan, “Karena tahu bahwa sebagian dari mereka orang Saduki dan sebagian orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu: Saudara-saudara, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharapkan kebangkitan orang mati.” Orang-orang Farisi adalah orang-orang sekte agama Yahudi yang paling ketat (26:5). Sekte ini dibentuk kurang lebih 200 SM. Mereka membanggakan kehidupan keagamaan, pengabdian kepada Allah, dan pengetahuan Alkitab mereka yang sangat tinggi. Sebenarnya, mereka sudah merosot ke dalam kepura-puraan dan kemunafikan (Mat. 23:2-33). Orang-orang Saduki adalah orang-orang sekte lain dalam agama Yahudi. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan, malaikat, atau roh-roh. Orang-orang Farisi dianggap kaum ortodoks, sedangkan orang-orang Saduki adalah kaum modernis zaman dulu.

Ketika Paulus mengumumkan bahwa ia adalah orang Farisi dan bahwa ia dihakimi mengenai pengharapan dan kebangkitan orang mati, “Timbullah pertengkaran antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. Sebab orang-orang Saduki mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. Lalu terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari aliran Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya” (ay. 7-9). Paulus dengan bijaksana memanfaatkan situasi itu, tahu bahwa orang Farisi akan berada di pihaknya dan kemudian ber-debat dengan orang Saduki.

Ketika Paulus menemukan bahwa menyatakan identitasnya sebagai warga negara Roma sangat membantu dirinya, ia berbuat demikian, dan hal ini menakutkan petugas-petugas Romawi. Di sini ia menyerukan bahwa ia adalah seorang Farisi, tahu bahwa hal ini akan menyulut satu pertentangan antara orang Farisi dengan orang Saduki. Sekali lagi Paulus memakai hikmatnya untuk menghindari penganiayaan. Seperti yang telah kita lihat, Paulus meng-hadapi para penentangnya dengan cara yang berbeda dari yang Kristus lakukan. Ketika Kristus demi penggenapan penebusan dihakimi oleh orang-orang, Dia tidak membuka mulut-Nya (Yes. 53:7; Mat. 26:62-63; 27:12, 14). Tetapi Paulus, sebagai seorang rasul yang setia dan berani yang diutus Tuhan, menggunakan hikmatnya untuk menyelamatkan nyawanya dari para penganiayanya, supaya ia dapat menyelesaikan perjalanan ministrinya. Demi melaksanakan ministrinya, ia berusaha untuk hidup selama mungkin.

Kisah Para Rasul 23:10 melanjutkan, “Pertengkaran besar pun terjadi, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan meng-ambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.” Inilah kedaulatan Tuhan, menyelamatkan Paulus dari tangan orang-orang Yahudi.

DORONGAN TUHAN

Kisah Para Rasul 23:11 mengatakan, “Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah engkau harus bersaksi di Roma.” Tuhan hidup selamanya di dalam Paulus secara esensial (Gal. 2:20). Sekarang, Tuhan berdiri di sisinya secara ekonomikal untuk menguatkan dan mendorong dia. Ini menunjukkan kesetiaan dan perawatan yang baik dari Tuhan terhadap hamba-Nya.

Perkataan Tuhan dalam 23:11 tentang Paulus dengan berani mempersaksikan Dia di Yerusalem menandakan bahwa Tuhan mengakui bahwa rasul benar-benar memikul kesaksian tentang Dia di Yerusalem. Kesaksian berbeda dengan sekadar pengajaran. Bersaksi memerlukan pengalaman akan melihat, berbagian, dan menikmati.

Untuk merampungkan ministri surgawi-Nya bagi pengembangbiakan diri-Nya supaya Kerajaan Allah dapat didirikan bagi pembangunan gereja-gereja sebagai kepenuhan-Nya, Kristus yang naik ke surga tidak menggunakan sekelompok pemberita yang dilatih oleh pengajaran manusia untuk melakukan pekerjaan pemberitaan, tetapi sekelompok saksi-saksi, para martir, yang memikul kesaksian hidup bagi Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga. Saksi-saksi itu memikul kesaksian yang hidup dari Kristus yang bangkit dan naik ke surga dalam hayat. Mereka berbeda dengan pemberita-pemberita yang hanya memberitakan doktrin-doktrin dalam huruf-huruf saja. Dalam inkarnasi-Nya Kristus melaksanakan ministri-Nya di bumi, seperti yang tercatat dalam kitab-kitab Injil, oleh dirinya untuk menaburkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah hanya di tanah Yahudi. Dalam kenaikan-Nya ke surga, Ia melaksanakan ministri-Nya di surga (di atas segala langit), seperti yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul, melalui saksi-saksi dalam hayat kebangkitan-Nya dan dengan kekuatan dan kuat kuasa kenaikan-Nya untuk menyebarkan diri-Nya sendiri sebagai pengembangan Kerajaan Allah dari Yerusalem sampai ke ujung bumi, sebagai perampungan ministri-Nya di dalam Perjanjian Baru. Semua rasul dan murid-murid dalam kitab Kisah Para Rasul adalah saksi-saksi Kristus yang demikian.

Seperti yang akan kita lihat, dalam 26:16 Paulus mempersaksikan bahwa Tuhan telah menunjuk dia menjadi seorang minister dan saksi. Seorang minister adalah untuk ministri; saksi adalah untuk kesaksian. Ministri terutama berhubungan dengan pekerjaan, dengan apa yang dilakukan minister; kesaksian berhubungan dengan orangnya, dengan apa adanya saksi itu.

Iblis dapat menghasut para agamawan Yahudi dan memanfaatkan politisi-politisi Kafir untuk membelenggu para rasul dan ministri penginjilan mereka, tetapi ia tidak dapat membelenggu saksi-saksi hidup Kristus dan kesaksian-kesaksian hidup mereka. Semakin para agamawan Yahudi dan politisi-politisi Kafir membelenggu para rasul dan ministri penginjilan mereka, semakin kuat dan semakin cemerlang para martir Kristus dan kesaksian-kesaksian hidup mereka. Dalam 23:11, dalam penampakan-Nya kepada rasul, Tuhan menunjukkan bahwa Dia tidak akan segera menyelamatkannya dari belenggunya, tetapi akan membiarkan Paulus dalam belenggunya dan membawanya ke Roma supaya rasul dapat bersaksi tentang Dia, seperti yang telah dilakukannya di Yerusalem. Tuhan mendorong Paulus melakukan hal ini.

Dalam 23:11 Tuhan memberi tahu Paulus bahwa ia akan bersaksi tentang Dia di Roma. Hal ini akan menggenapkan niat Paulus, yang terekspresi dalam 19:21, untuk melihat Roma. Kemudian, janji Tuhan dan keinginan Paulus terpenuhi.

Paulus dikuatkan dan didorong oleh perkataan Tuhan dalam ayat 11. Perkataan ini memberikan jaminan kepada Paulus bahwa Tuhan akan membawanya dengan selamat dari Yerusalem ke Roma. Dijamin dengan perkataan yang jelas dari mulut Tuhan, Paulus tahu bahwa ia akan pergi ke Roma dan memikul kesaksian Tuhan Yesus di sana.

KOMPLOTAN ORANG-ORANG YAHUDI

Kisah Para Rasul 23:12-15 menggambarkan komplotan orang Yahudi yang melawan Paulus. Ayat 12-13 mengatakan, “Setelah hari siang orang-orang Yahudi mengadakan komplotan dan mengikat diri dengan sumpah bahwa mereka tidak akan makan atau minum, sebelum mereka membunuh Paulus. Jumlah mereka yang mengadakan komplotan itu lebih dari empat puluh orang.” Siasat jahat dalam ayat 12-15 menyatakan kepalsuan dan kebencian setani (Yoh. 8:44; Mat. 23:34) dalam para agamawan Yahudi yang munafik.

Dalam ayat-ayat ini kita melihat betapa hebatnya orang-orang Yahudi dalam membenci Paulus. Empat puluh orang yang membentuk komplotan itu mungkin adalah orang-orang muda. Mereka datang kepada imam-imam kepala dan tua-tua dan berkata, “Kami telah mengikat diri dengan sumpah bahwa kami tidak akan makan atau minum, sebelum kami membunuh Paulus. Karena itu sekarang hendaklah kamu bersama-sama dengan Mahkamah Agama menganjurkan kepada kepala pasukan, supaya ia menghadapkan Paulus lagi kepada kamu, seolah-olah kamu hendak memeriksa perkaranya lebih teliti. Sementara itu kami sudah siap sedia untuk membunuh dia sebelum ia sampai kepada kamu” (ay. 14-15). Dalam bahasa aslinya, kalimat “kami telah mengikat diri dengan sumpah” adalah “Kami telah mengutuk diri kami dengan kutukan.” Ini berarti bahwa mereka terikat di bawah sumpah dan tidak dapat melanggar sumpah mereka. Ini adalah ungkapan yang sangat kuat. Seolah-olah keempat puluh orang yang berkomplot itu berkata bahwa jika mereka tidak dapat mem-bunuh Paulus, maka mereka tidak mau hidup lagi. Kelihatannya orang-orang yang berkomplot melawan Paulus bermaksud membunuhnya dalam waktu dua puluh empat jam. Rencana mereka adalah menyerang Paulus secara tiba-tiba sewaktu ia dibawa kepada imam-imam kepala dan tua-tua untuk pemeriksaan lebih lanjut.

DIPINDAHKAN SECARA RAHASIA KEPADA FELIKS GUBERNUR ROMAWI DI KAISAREA

Dalam 23:16—24:27 kita melihat bahwa Paulus di-pindahkan kepada Feliks, gubernur Romawi di Kaisarea. Menurut 23:16-25, pemindahan ini dilaksanakan secara rahasia. Kisah Para Rasul 23:16-18 mengatakan, “Akan tetapi kemenakan Paulus, anak dari saudaranya perempuan, mendengar tentang penghadangan itu. Ia datang ke markas dan masuk untuk memberitahukan hal itu kepada Paulus. Lalu Paulus memanggil salah seorang perwira dan berkata kepadanya: Bawalah anak muda ini kepada kepala pasukan, karena ada sesuatu yang perlu diberitahukannya kepadanya. Perwira itu membawanya kepada kepala pasukan dan ber-kata: Paulus orang tahanan itu, memanggil aku dan meminta, supaya aku membawa anak muda ini kepadamu, sebab ada yang perlu diberitahukannya kepadamu.” Apa yang tercatat di sini juga memperlihatkan kedaulatan Tuhan yang secara diam-diam menyelamatkan hidup Paulus.

Ketika kepala pasukan Romawi mendengar komplotan yang melawan Paulus, ia memakai kuasa dan hikmatnya untuk mengirimkan Paulus dari Yerusalem ke Kaisarea, di mana gubernur propinsi Yudea berada. Mengenai hal ini, ayat 23-24 mengatakan, “Kemudian kepala pasukan memanggil dua orang perwira dan berkata: Siapkan dua ratus orang prajurit untuk berangkat ke Kaisarea beserta tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bertombak kira-kira pada jam sembilan malam ini. Sediakan juga beberapa keledai tunggangan untuk Paulus dan bawalah dia dengan selamat kepada Gubernur Feliks.” Prajurit-prajurit yang bersenjatakan lembing ini mungkin adalah tentara-tentara pelempar, penjepret bersenjata ringan. Feliks, yang kepadanya Paulus dibawa dengan selamat, adalah gubernur Romawi di propinsi Yudea.

Kepala pasukan Romawi memakai kekuasaannya sedemikian rupa sehingga ia menyuruh dua ratus orang prajurit, tujuh puluh orang berkuda dan dua ratus orang bertombak untuk memindahkan Paulus dari Yerusalem ke Kaisarea. Orang-orang yang berkomplot melawan Paulus tidak pernah membayangkan bahwa kepala pasukan Romawi akan melakukan tindakan demikian. Mereka berharap membunuh Paulus pada hari berikutnya. Tetapi pada ma-lam itu, kepala pasukan Romawi mengirimkan Paulus keluar dari Yerusalem di tengah-tengah pengawalan empat ratus tujuh puluh prajurit. Di sini kita kembali melihat kedaulatan Tuhan.

Kisah Para Rasul 23:31 mengatakan, “Lalu prajurit-prajurit itu mengambil Paulus sesuai dengan yang diperintahkan kepada mereka dan membawanya pada malam hari ke Antipatris.” Antipatris adalah suatu tempat sekitar 59 km Roma jauhnya dari Yerusalem dan sekitar 38 km jauhnya dari Kaisarea.

Kisah Para Rasul 23:33-35 menceritakan apa yang terjadi ketika Paulus dibawa ke Kaisarea: “Setibanya di Kaisarea orang-orang berkuda itu menyampaikan surat itu kepada gubernur serta menyerahkan Paulus kepadanya. Setelah membaca surat itu, gubernur bertanya kepada Paulus dari propinsi mana asalnya. Ketika ia mendengar bahwa Paulus dari Kilikia, ia berkata: Aku akan memeriksa perkaramu, bila para pendakwamu juga telah tiba di sini. Lalu ia menyuruh menahan Paulus di istana Herodes.” Istana, yang dibangun oleh Herodes Agung ini, adalah istana raja-raja sebelumnya. Tempat itu menjadi kediaman resmi gubernur Romawi untuk propinsi Yudea. Di sana Paulus dijaga secara longgar, tidak dikurung di dalam penjara yang umum. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat apa yang terjadi atas diri Paulus di bawah pemerintahan Feliks, gubernur Romawi, di Kaisarea.