PERKEMBANGBIAKAN DI ASIA KECIL DAN EROPA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK SEKERJA PAULUS (27)
Pembacaan Alkitab: Kis. 22:1-21
PAULUS DIBAPTIS
Dalam 22:1-21 Paulus membela dirinya sendiri di hadapan orang-orang Yahudi yang melakukan kerusuhan. Dalam berita ini kita akan memfokuskan perhatian kita pada perkataan Ananias kepada Paulus dalam ayat 16: “Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan dengan berseru kepada nama Tuhan!”
Dalam perkara Paulus, seperti juga perkara sida-sida dari Etiopia, hal baptisan air ditekankan. Kita perlu mem-perhatikan baptisan air dan baptisan Roh. Baptisan air menandakan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-5; Kol. 2:12), dan baptisan Roh menandakan realitas dari kesatuan kaum beriman dengan Kristus di dalam hayat secara esensial dan di dalam kuat kuasa secara ekonomikal. Baptisan air adalah penegasan kaum beriman tentang realitas Roh. Kedua baptisan ini diperlukan, dan tidak dapat menggantikan satu dengan yang lainnya. Semua orang beriman dalam Kristus harus dengan tepat mengalami kedua baptisan ini.
Menurut perkataan Tuhan dalam Markus 16:16, untuk diselamatkan, seseorang harus percaya dan dibaptis. Percaya adalah menerima Tuhan (Yoh. 1:12) tidak hanya untuk pengampunan dosa-dosa (Kis. 10:43), tetapi juga untuk kelahiran kembali (1 Ptr. 1:21, 23), supaya siapa saja yang percaya, menjadi anak Allah (Ef. 5:30) dalam Kesatuan yang organik dengan Allah Tritunggal (Mat. 28:19). Dibaptis berarti menegaskan hal ini dengan dikuburkan guna mengakhiri ciptaan lama melalui kematian Kristus dan dengan dibangkitkan menjadi ciptaan baru Allah melalui kebang-kitan Kristus. Baptisan yang sedemikian ini jauh lebih maju daripada baptisan pertobatan oleh Yohanes (Mrk. 1:4; Kis. 19:3-5).
Percaya dan dibaptis merupakan dua bagian dari satu langkah yang lengkap untuk menerima keselamatan Allah yang sempurna. Dibaptis tanpa percaya hanyalah upacara agama yang kosong; percaya tanpa dibaptis berarti hanya diselamatkan pada bagian batiniah tanpa penegasan lahiriah dari keselamatan yang di dalam itu. Kedua hal ini harus berjalan bersama.
DIALIHKAN KELUAR DARI ADAM
MASUK KE DALAM KRISTUS
Baptisan sebenarnya merupakan suatu pengalihan yang besar. Karena itu, ministri Perjanjian Baru dimulai dengan baptisan. Kita telah menekankan fakta bahwa baptisan pertama-tama melibatkan pengakhiran dan kemudian penu-nasan. Melalui pengakhiran dan penunasan terjadilah suatu pengalihan yang riil. Maka, tidak heran, Perjanjian Baru dimulai dengan baptisan untuk menunjukkan bahwa hal-hal dari Perjanjian Lama harus diakhiri untuk memiliki suatu permulaan yang baru. Namun, di antara kebanyakan orang Kristen pada hari ini, baptisan itu hanyalah suatu liturgi di mana orang masuk ke dalam suatu jenis agama lainnya.
Ketika kita dibaptis, kita dialihkan keluar dari Adam masuk ke dalam Kristus. Banyak orang Kristen belum pernah diajar mengenai hal ini dengan memadai. Ada orang-orang yang tahu bahwa dalam baptisan mereka dialihkan keluar dari Adam masuk ke dalam Kristus, tetapi bagi mereka hal ini hanyalah suatu doktrin saja, bukan suatu yang riil dalam kehidupan Kristen mereka. Dalam kehi-dupan kita sebagai orang Kristen, kita harus keluar dari Adam dan berada di dalam Kristus. Kita bukan lagi hidup di dalam ruang lingkup Adam; sebaliknya, kehidupan kita mutlak harus berada di dalam ruang lingkup Kristus.
BERSERU KEPADA NAMA TUHAN
Dalam 22:16 Ananias menyuruh Paulus dibaptis dan membasuh dosa-dosanya, sambil berseru kepada nama Tuhan. Dalam ayat ini “berseru kepada nama Tuhan” menerangkan “dibaptis” dan “disucikan.” Di sini Ananias kelihatannya hendak berkata, “Paulus, bangunlah dan berilah dirimu dibaptis. Sewaktu kamu dibaptis, kamu harus berseru kepada nama Tuhan. Berseru kepada nama Tuhan adalah syarat kamu dibaptis.”
Ini merupakan suatu praktek yang baik bagi kita ketika membaptiskan orang-orang yang baru percaya untuk mengajak mereka berseru kepada nama Tuhan Yesus. Ini berarti sewaktu mereka dibaptis, mereka berseru kepada nama Tuhan. Sebagaimana kita bernafas dan makan pada waktu yang sama, demikian juga pada waktu yang sama seseorang dibaptis dan berseru kepada Tuhan. Pengalihan yang terjadi melalui baptisan itu dikuatkan dengan seruan seseorang kepada nama Tuhan. Karena itu, marilah kita mengajak orang-orang yang akan kita baptis untuk berseru kepada nama Tuhan Yesus dan dengan demikian memiliki suatu pengalihan yang lebih kuat, keluar dari Adam dan masuk ke dalam Kristus.
Syarat untuk Baptisan dan Penyucian Dosa
Dalam 22:16 Ananias menyuruh Paulus bangun, dibaptis, dan menyucikan dosa-dosanya. Kita telah melihat bahwa “berseru kepada nama-Nya” menerangkan “dibaptis” dan “disucikan.” Berseru adalah syarat dibaptis dan syarat penyucian dosa. Berseru kepada nama Tuhan adalah sarana Paulus untuk menyucikan dosa-dosanya.
Menurut pengertian Ananias, apakah dosa-dosa Paulus yang harus disucikan itu? Tidak diragukan lagi, menurut Ananias, dosa-dosa yang paling serius adalah dosa menganiaya dan menangkapi orang-orang yang berseru kepada nama Yesus. Kepergian Paulus untuk menangkap orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan adalah dosanya yang utama. Dalam perkara ini ia dihakimi bukan hanya oleh Allah, tetapi juga oleh kaum beriman, baik di Yerusalem maupun di tempat lainnya. Semua orang beriman menghakimi Paulus sebagai seorang penganiaya. Paulus menganggap berseru kepada nama Tuhan sebagai suatu tanda dari kaum ber-iman. Karena itu, ke mana saja Paulus pergi, ia mencari orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan.
Dalam 22:16 Ananias seolah-olah berkata, “Paulus, di mata kaum beriman, dosamu yang paling serius adalah menganiaya dan menangkapi orang-orang yang berseru kepada Tuhan. Sekarang kamu telah bertobat dan telah ber-paling, dosa-dosamu perlu disucikan. Khususnya, kamu perlu menyucikan dosa menganiaya orang-orang kudus. Untuk menyucikan dosa-dosamu, kamu perlu berseru kepada nama Tuhan. Jika kamu berseru, ‘O Tuhan Yesus’, berkali-kali, orang-orang kudus akan mengampuni kamu. Seruanmu akan menjadi syarat untuk penyucian dosa-dosamu. Paulus, kamu tidak dapat menjadi seorang beriman yang diam saja, orang beriman yang berseru kepada nama Tuhan dengan tidak bersuara. Jika kamu diam, kaum saleh tidak akan mengenal kamu sebagai salah satu dari mereka, dan mereka tidak akan mengampuni kamu. Karena itu, kamu sekarang harus melaksanakan hal yang paling kamu hakimi berseru kepada nama Tuhan Yesus. Dulu kamu memakai hal berseru kepada nama Tuhan ini sebagai suatu tanda dari orang-orang yang kauaniaya dan kautangkap. Sekarang hal ini harus menjadi satu tanda bahwa kamu telah percaya kepada Tuhan Yesus dan telah diselamatkan. Paulus, ba-ngunlah, berilah dirimu dibaptis, dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama-Nya. Bila kamu melakukan hal ini, kamu akan diampuni oleh semua orang yang mengasihi Tuhan Yesus.”
Tahap Awal dari Pengalihan Paulus
Seruan Paulus kepada nama Tuhan Yesus adalah tahap awal dari pengalihannya. Ia dialihkan dari menghakimi se-ruan ini kepada mempraktekkannya. Beberapa orang mung-kin mengatakan bahwa berseru kepada nama Tuhan adalah satu bagian dari pertobatan Paulus. Memang benar, tetapi hal itu bukan hanya satu bagian dari pertobatannya; melainkan juga permulaan pengalihannya dari satu alam ke dalam alam lainnya.
Sulit untuk memahami mengapa orang Yahudi menentang perkara berseru kepada nama Tuhan. Perkara-perkara yang penting bagi orang Yahudi adalah memelihara hukum Taurat dan mempraktekkan sunat serta mengikuti tradisi-tradisi. Namun, sebelum pengalihannya, Paulus menentang khususnya perkara berseru kepada nama Tuhan.
Prinsip yang sama berlaku di antara orang-orang yang menentang praktek berseru kepada nama Tuhan Yesus pada hari ini. Beberapa orang mengecam kita karena berseru kepada nama Tuhan. Sebenarnya, mereka tidak memiliki alasan untuk menentang praktek ini. Namun ada beberapa yang mengatakan dengan salah bahwa berseru kepada nama Tuhan itu hanyalah berteriak saja. Tetapi apa salahnya kaum beriman berseru kepada nama Tuhan? Praktek ini dengan tegas diwahyukan dalam Kitab Suci. Lebih baik berseru kepada nama Tuhan daripada diam saja, mati, dan tanpa adanya kontak yang sejati dengan Tuhan.
Beberapa orang yang menentang berseru kepada nama Tuhan Yesus berkata, “Kekristenan telah ada di bumi selama seribu sembilan ratus tahun, tetapi kami belum pernah mendengar pengajaran ini bahwa kaum beriman harus berseru kepada nama Tuhan.” Terhadap perkara ini kita dapat menjawab, “Mungkin Anda belum pernah mendengar pengajaran yang demikian ini, tetapi tentu Anda telah mendengar kaum beriman berseru kepada nama Tuhan. Pada kenyataannya, selama Anda menjadi seorang Kristen, Anda sendiri sedikitnya telah memiliki beberapa pengalaman terhadap berseru kepada nama Yesus.”
Ada banyak perkara dari orang-orang yang berseru kepada nama Tuhan tanpa menerima pengajaran apa pun mengenai praktek ini. Ada satu orang yang dengan tegas menentang kita berseru kepada nama Tuhan. Suatu hari pada waktu ia mengendarai sepedanya, ia ditabrak sebuah mobil, dan sepedanya terlempar. Sewaktu ia jatuh ke tanah, ia dengan spontan berseru, “O Tuhan Yesus!”
Saya juga mengenal seorang suami Kristen yang tidak pernah berdoa. Suatu hari istrinya mengalami kecelakaan. Tahukah Anda apakah yang ia lakukan? Ia berseru kepada nama Tuhan.
Tahukah Anda siapa dari orang Kristen sejati yang dapat mengatakan bahwa ia belum pernah berseru kepada nama Tuhan Yesus? Sesungguhnya setiap orang beriman sejati dalam Kristus pada waktu-waktu tertentu berseru kepada nama-Nya. Saudara yang ditabrak mobil sewaktu ia mengendarai sepeda itu harus tinggal beberapa hari di rumah sakit, dan hari demi hari ia berseru, “O Tuhan Yesus.” Tidak ada seorang pun yang mengajarnya untuk berseru; ia berseru secara otomatis. Banyak dari antara kita yang dapat bersaksi bahwa ketika kita berseru kepada Tuhan Yesus, kita benar-benar berkontak dengan Dia.
Pernahkah Anda memiliki pengalaman tertidur sewaktu Anda ingin berdoa? Hal ini berkali-kali terjadi pada diri saya sewaktu saya berdoa dengan tidak bersuara, khususnya di larut malam. Dari pengalaman kita tahu bahwa doa yang tidak bersuara sering kali membawa kita tertidur. Lagi pula, dalam doa yang demikian mungkin hanya ada sedikit kenikmatan terhadap Tuhan. Namun, sewaktu kita berseru kepada nama Tuhan, kita menikmati Dia. Kita mungkin berseru dengan perlahan-lahan agar tidak mengganggu or-ang lain, tetapi kita masih menikmati Tuhan dengan berseru kepada nama-Nya.
Keperluan dalam Kehidupan Kristiani Kita
Saya prihatin terhadap orang-orang yang merasa terganggu karena kita menekankan berseru kepada nama Tuhan Yesus. Tidaklah tepat bila mengatakan bahwa kita terlalu menekankan perkara ini. Sebenarnya, berseru kepada nama Tuhan adalah suatu keperluan dalam kehidupan kristiani kita. Jika Anda mempraktekkan berseru kepada nama Tuhan, Anda akan berada di dalam tahap awal dari pengalihan zaman. Saya menjamin Anda bahwa semakin Anda berseru kepada nama Tuhan Yesus, Anda akan semakin dibawa keluar dari hal-hal yang lama ke dalam halhal yang baru.
Ada beberapa orang beriman yang telah menjadi orang Kristen selama bertahun-tahun. Setelah tahun-tahun itu berlalu, kehidupan kristiani mereka menjadi sangat usang. Karena keusangan itu, mereka perlu mengalami suatu pengalihan secara riil. Cara yang paling efektif untuk mengalami pengalihan yang demikian adalah berseru, “O Tuhan Yesus!” Saya mendorong Anda untuk mempraktekkan hal ini. Jika Anda berseru kepada nama Tuhan hari demi hari, Anda akan dapat menyaksikan banyak hal mengenai pengalaman Anda terhadap Tuhan.
Berseru kepada nama Tuhan adalah satu bantuan yang besar bagi suami-suami Kristen. Saudara-saudara yang telah menikah sering kali memiliki kesulitan dalam mengasihi istri mereka. Jika seorang saudara yang menikah mau berseru kepada nama Tuhan Yesus, ia akan mengalami satu perubahan sejati dalam hubungannya dengan istrinya dan benar-benar mengasihinya.
Demikian juga, seorang saudari yang telah menikah dapat dibantu dengan berseru kepada nama Tuhan untuk taat kepada suaminya. Jika saudari yang demikian tidak berkontak dengan Tuhan melalui berseru kepada-Nya, ia mungkin berkata kepada dirinya sendiri, “Sungguh tidak adil bahwa aku harus taat kepada suamiku. Mengapa aku harus taat kepadanya? Allah tidak adil menentukan bahwa ia menjadi kepala menggantikanku.” Tetapi, firman Allah tidak dapat diubah. Saudari yang telah menikah ini tidak dapat mengabaikan tuntutan bahwa ia harus taat kepada suaminya. Lalu, bagaimana ia dapat dibantu? Cara yang paling baik baginya untuk menerima bantuan dalam perkara taat kepada suaminya adalah berseru kepada nama Tuhan. Bila ia mau berseru kepada-Nya hari demi hari, ia akan dapat taat kepada suaminya.
Ketika kita berseru kepada nama Tuhan, kita akan mengalami satu pengalihan yang riil. Kita akan dibawa masuk ke dalam alam yang lain; kita akan dibawa ke dalam Kerajaan Allah, yang sebenarnya adalah Kristus yang berkembang biak itu sendiri. Jika kita menyadari hal ini, kita akan memahami mengapa perkara berseru kepada nama Tuhan itu begitu ditekankan dalam Alkitab.
Kapan saja kita berseru kepada nama Tuhan, Dia memiliki kesempatan dan kedudukan untuk menyebarkan diri-Nya sendiri di dalam kita. Hal ini bukanlah suatu doktrin saja; ini adalah sesuatu yang sangat riil bagi pengalaman kristiani kita. Hari ini Tuhan kita adalah Roh yang almuhit. Sebagai Roh itu, Dia itu mahaada, dan Dia sekarang bekerja di dalam kita, menunggu kesempatan untuk menyebar di dalam kita. Bila kita berseru kepada nama-Nya, kita akan memberikan jalan bagi-Nya untuk berkembang di dalam kita.
Untuk Berbagian dalam Kekayaan Tuhan
Satu ayat yang penting yang berhubungan dengan berseru kepada nama Tuhan adalah Roma 10:12: “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Tuhan yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang dan murah hati kepada semua orang yang berseru kepada-Nya.” Selama bertahun-tahun saya hanya mengenal ayat berikutnya dalam Roma 10: “Sebab, “siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (ay. 13). Saya telah diberi tahu bahwa siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan, tetapi saya belum pernah mendengar bahwa Tuhan itu kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Dia itu kaya bukan hanya dalam permulaan keselamatan Dia kaya dalam semua hal ilahi dan rohani. Jika kita mau berbagian dalam kekayaan Tuhan, kita perlu berseru kepada-Nya. Siang dan malam, kita harus berseru kepada nama Tuhan. Meskipun kita dapat berseru dengan tenang supaya tidak mengganggu orang lain, kita dapat dengan lembut berseru, “O, Tuhan Yesus!”
Dibawa Masuk ke dalam Roh Kita
Begitu kita berseru kepada nama Tuhan, kita tidak dapat tetap tinggal dalam pemikiran-pemikiran dan alasan-alasan alamiah kita. Dari pengalaman kita tahu bahwa ketika kita berseru kepada nama Tuhan kita dibawa masuk ke dalam lubuk diri kita, yaitu dibawa masuk ke dalam roh kita. Kita tidak dapat berseru kepada nama Tuhan dan pada waktu yang sama kita tinggal di dalam pikiran alamiah kita. Orang-orang yang menyoroti seruan ini mungkin berkata, “Apakah benar berseru kepada nama Tuhan itu? Apakah praktek ini sesuai dengan Alkitab? Jika sesuai dengan Alkitab, mengapa selama 19 abad yang lalu tidak diajarkan orang?” Jika orang yang demikian mau berseru kepada nama Tuhan, ia akan diselamatkan dari pemikiran-pemikiran dan alasan-alasan alamiahnya. Bila kita menolak untuk berseru, kita akan tetap tinggal di dalam pikiran yang alamiah. Tetapi bila kita berseru kepada nama Tuhan, kita akan dibawa masuk ke dalam roh. Oh, betapa kita perlu berseru kepada nama Tuhan supaya kita dapat menikmati Dia!
Untuk Mengalami Kedekatan Tuhan
Berseru kepada nama Tuhan adalah suatu realitas, karena ketika kita berseru kepada Dia kita akan menjamah-Nya. Dalam satu ayat yang berhubungan dengan seruan ini Paulus berkata, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu” (Rm. 10:8). Sesungguhnya, firman itu di sini sama dengan Tuhan. Maka, firman itu dekat berarti Tuhan itu dekat. Kapan saja kita berseru kepada nama Tuhan, kita mengalami kedekatan-Nya, kehadiran-Nya yang akrab.
Bagaimana kita tahu bahwa Tuhan itu dekat kepada kita? Kita mengetahui hal ini dengan berseru kepada nama Tuhan. Anda tidak dapat meyakinkan seseorang bahwa Tuhan itu dekat kepadanya dengan berargumentasi atau berdebat dengannya. Semakin kita berargumentasi, Tuhan seolah-olah semakin jauh. Tetapi jika kita mengganti argumentasi dengan berseru kepada nama-Nya beberapa kali, kita akan merasa bahwa Dia itu dekat. Jika kita terus-menerus berseru kepada-Nya, kita akan sadar bahwa Dia itu bukan hanya dekat, bahkan ada di dalam kita. Semakin kita berseru kepada Tuhan, Dia makin menjadi kenikmatan kita. Melalui berseru kepada-Nya, Dia juga menjadi damai sejahtera, perhentian, penghiburan, dan pemecahan dalam segala macam situasi kita. Ini bukan suatu doktrin atau pengajaran yang dangkal; ini adalah satu kebenaran untuk kita alami.
TETAP TINGGAL DI DALAM PENGALIHAN INI,
SETIA KEPADA PENGLIHATAN KITA
Bersama Paulus, kita semua harus belajar berseru kepada nama Tuhan Yesus agar mengalami satu pengalihan yang lengkap. Kemudian, juga bersama Paulus, kita harus setia kepada penglihatan kita. Seperti akan kita lihat, Paulus dapat bersaksi, “Kepada penglihatan yang dari surga itu tidak pernah aku tidak taat” (26:19). Kesetiaan Paulus terlihat dalam sikapnya yang tidak menghindari pemakaian kata “bangsa-bangsa Kafir” dalam 22:21. Kiranya kita semua belajar setia kepada penglihatan yang telah kita lihat mengenai gereja, kedudukan gereja, dan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat.
Kita harus belajar dari Paulus untuk menyajikan kebenaran dengan baik. Namun, ini bukan berarti kita akan selalu dapat menghindar dari penentangan dan serangan. Tidak peduli bagaimana penyajian kebenaran kita, orang-orang tertentu masih akan menentang. Meskipun demikian, kita harus setia. Kapan saja kita tidak setia kepada penglihatan Tuhan, maka kita tidak akan lagi berada di dalam pengalihan zaman ini. Cara untuk menjaga diri kita di dalam pengalihan ini adalah setia. Pertama, kita meng-alami pengalihan ini dengan berseru kepada nama Tuhan. Kemudian kita tetap tinggal di dalam pengalihan ini, setia kepada penglihatan kita.