ALLAH TRITUNGGAL SEPERTI YANG DIWAHYUKAN DI DALAM INJIL DAN DI DALAM KISAH PARA RASUL
Pembacaan Alkitab
Luk. 15:4-32; Kis. 2:21; 9:14; 22:16; 8:16; 19:5.
Garis Besar
I. Kasih Allah Tritunggal terhadap orang-orang berdosa (Luk. 15)
II. Allah Tritunggal di dalam Kisah Para Rasul
A. Menyeru (memanggil) nama Tuhan
B. Dibaptis ke dalam Tuhan
Dari Kejadian sampai Wahyu, Allah Tritunggal diwahyukan kepada kita dengan semakin maju. Walaupun kita banyak melihat tentang Trinitas di dalam Perjanjian Lama, namun itu tidaklah cukup untuk pemahaman kita. Hal itu masih agak tersembunyi dan simbolis. Dimulai dengan Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, Perjanjian Baru mewahyukan Allah Tritunggal dengan lebih lanjut dan lebih jelas kepada kita. Matius 28:19 adalah tempat pertama di dalam Alkitab yang menyinggung dengan jelas keseluruhan Trinitas bersama-sama. Injil adalah penyingkapan utama dari perbedaan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita melihat bahwa Allah secara ekonomikal adalah tiga untuk perampungan tujuanNya.
Matius, Markus, dan Lukas terutama memberitahu kita tentang kedatangan Yesus Putra dan pekerjaan penebusanNya. Injil Yohanes maju lebih jauh lagi untuk memperlihatkan kepada kita bahwa Yesus ini adalah Allah Tritunggal yang datang untuk menjadi hayat kita secara esensial. Yohanes berbicara lebih banyak tentang hayat ilahi dan lebih banyak memperlihatkan kepada kita hubungan antara Bapa, Putra, dan Roh dibandingkan kitab lain di dalam Alkitab. Kita telah menggunakan banyak ayat dari kitab Yohanes untuk menggambarkan Allah Tritunggal dan pengalaman kita akan Dia. Namun ada satu bagian di dalam kitab Lukas yang harus kita lihat di dalam pelajaran ini.
I. KASIH ALLAH TRITUNGGAL TERHADAP ORANG-ORANG BERDOSA (LUK. 15)
Lukas 15 menyingkapkan kepada kita kasih Allah Tritunggal terhadap orang-orang berdosa. Di dalam pasal ini ada tiga perumpamaan yang merupakan gambaran yang menakjubkan dari keselamatan Allah yang dilaksanakan oleh Trinitas ilahi. Ketiga perumpamaan ini mengacu kepada Sang Tiga dari Trinitas ilahi. Perumpamaan yang pertama adalah tentang gembala yang pergi mencari seekor domba yang hilang (ay. 4-7); perumpamaan ini mengacu kepada Putra. Yang kedua adalah perumpamaan tentang perempuan yang menyalakan pelita untuk mencari satu dirham yang hilang (ay. 8-10); perumpamaan ini mengacu kepada Roh Kudus. Yang ketiga adalah tentang bapa yang pengasih yang menerima kembali putranya yang hilang (pemboros) (ay. 11:32); perumpamaan ini mengacu kepada Bapa sorgawi.
Urutannya tidak berdasarkan Persona Trinitas, seperti di dalam Matius 28:19, tetapi menurut jalan masuk (pintu masuk) kita ke dalam Allah Tritunggal, seperti di dalam Efesus 2:18. Di dalam keempat Injil, Putra, yang digambarkan sebagai gembala yang baik, datang pertama-tama untuk menggenapkan penebusan, pondasi keselamatan Allah. Kemudian di dalam Kisah Para Rasul Roh itu datang untuk menemukan kita. Ini menghasilkan pertobatan kita. Kemudian kita datang kembali kepada Allah Bapa yang sedang menunggu untuk menerima kita.
Putra sebagai Gembala datang ke padang belantara untuk mencari seekor domba yang hilang (ay. 4). Di mata Allah, seluruh dunia adalah padang belantara, tempat yang liar dan gersang, tempat dimana di dalamnya setiap orang tersesat. Cara Putra untuk mencari kita adalah dengan mati bagi kita (Yoh. 10:15). Roh Kudus datang untuk menemukan kita, sama seperti perempuan yang mencari dirham yang hilang di dalam rumah (ay. 8). Rumah itu mengacu kepada diri kita. Pekerjaan "menyapu" dari Roh itu adalah untuk menerangi pikiran, emosi, tekad, dan hati nurani kita---seluruh bathin kita---dengan halus dan dengan teliti, sampai kita ditemukan. Pelita yang digunakan oleh perempuan itu melambangkan firman Allah (Mzm. 119:105, 130). Firman ini digunakan oleh Roh itu untuk menelanjangi posisi dan kondisi kita. Inilah yang dimaksud dengan "ditemukan." Kemudian, setelah diterangi, kita bertobat; yaitu, kita mengambil keputusan untuk kembali kepada Bapa. Bapa sedang menunggu kita untuk kembali (ay. 20), dan akhirnya Dia membawa kita kembali ke dalam rumahNya (ay. 25), yang adalah gereja.
Betapa menakjubkannya kasih ilahi yang diekspresikan di dalam perumpamaan-perumpamaan ini! Pernahkan Anda menganggap diri Anda sendiri sebagai seekor domba yang hilang (tersesat) di padang belantara? Bacalah lagi Lukas 15 sambil mempertimbangkan pelajaran ini. Anda harus mengapresiasikan betapa berharganya kita bagi Allah Tritunggal.
II. ALLAH TRITUNGGAL DI DALAM KISAH PARA RASUL
Kitab Injil mencatat ministri Yesus yang berinkarnasi di bumi. Kemudian Kisah Para Rasul mencatat pekerjaan Kristus yang telah bangkit dan naik di sorga. Pekerjaan ini dilaksanakan di bumi melalui kaum imani yang memiliki Kristus tinggal di dalam mereka. Hal ini mungkin terjadi sebab Tuhan telah menjadi Roh pemberi hayat. Dalam bentuk Roh, Dia dapat masuk ke dalam mereka. Semua yang telah digenapkan Tuhan Yesus didispensikan ke dalam dan digarapkan pada murid-murid sehingga mereka dapat menyebarkan Kristus dan mendirikan gereja-gereja di seluruh bumi. Pada saat yang sama, Kisah Para Rasul menunjukkan kepada kita dua praktek yang dengannya kita dapat berpartisipasi dalam dan menikmati Allah Tritunggal: menyeru nama Tuhan dan baptisan.
A. Menyeru (Memanggil) Nama Tuhan
Meskipun perkara menyeru nama Tuhan sering disinggung di dalam Perjanjian Lama, perkara menyeru ini pertama kali disinggung di dalam Perjanjian Baru di dalam Kisah Para Rasul 2:21 ketika Petrus sedang memberitakan injil. Orang Kristen yang sebermula di dalam Kisah Para Rasul dikenal oleh orang lain karena mereka menyeru nama Tuhan (Kis. 9:14, 21). Segera setelah Saulus dari Tarsus (yang menjadi Paulus) ditangkap oleh Tuhan, Ananias menyuruh dia untuk dibaptis, menyeru nama Tuhan (Kis. 22:16).
Menyeru nama Tuhan adalah jalan bagi kita untuk menikmati segala apa adanya Allah Tritunggal, seperti kasih dan terang, segala sesuatu yang telah Dia genapkan, seperti pengampunan atas dosa-dosa, dan semua yang telah Dia capai, seperti kenaikanNya. Dan kita tahu bahwa namaNya hari ini adalah "Tuhan Yesus." Allah Tritunggal yang telah melalui proses di dalam Kitab Injil kini dapat kita nikmati dengan kaya dan penuh kegembiraan ketika kita melatih roh kita dan menyeru, "Tuhan Yesus!"
B. Dibaptis ke dalam Tuhan
Di dalam Matius 28:19 Tuhan menyuruh murid-murid untuk membaptis kaum imani ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi kemudian, di dalam Kisah Para Rasul, mereka membaptis kaum imani ke dalam nama Tuhan Yesus (Kis. 8:16; 19:5). Apakah mereka telah membuat suatu kesalahan? Tentu saja tidak. Di sini kembali membuktikan apa yang telah kita katakan sebelumnya: Tuhan Yesus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Dia adalah Allah Tritunggal. Jadi, dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus adalah sama dengan dibaptis ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Apabila Anda dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus, Anda dileyakkan ke dalam Persona Tuhan, Allah Tritunggal. Anda tidak lagi di dalam diri Anda sendiri atau di dalam dunia tapi di dalam Allah!
Saulus membenci gereja dan menganiaya kaum imani sampai dia diselamatkan oleh Tuhan. Ketika dia dibaptis, seluruh masa lalunya dikuburkan dan dia diletakkan ke dalam Kristus. Melalui seruannya dia menikmati pembasuhan dosa-dosanya. Melalui menyeru dia menerima Persona itu yang ke dalamNya dia telah dibaptis.
Anda mungkin tidak merasa bahwa Anda seburuk Saulus yang menjebloskan kaum imani ke dalam penjara. Tetapi barangkali Anda kelihatannya selalu terlibat dalam perdebatan dengan anggota keluarga Anda. Sebenarnya, bagi Tuhan, ini juga adalah dosa. Misalnya Anda baru saja berselisih pendapat dengan ibu Anda. Satu jam kemudian Anda masih kesal dan terganggu. Anda tidak dapat memahami mengapa dia tidak berpikir seperti Anda. Semakin Anda memikirkan hal ini, bagian dalam diri Anda semakin mendidih. Pada saat yang seperti itu Anda sepenuhnya berada di dalam diri Anda sendiri. Anda "tahu" bahwa Anda benar, namun Anda merasa sengsara sehingga Anda mulai menyeru kepada Tuhan dengan lembut. Semakin Anda menyeru semakin "uap panas" di dalam Anda mendingin. Segera Anda menyadari bahwa Anda telah mempermalukan ibu Anda; Anda merasa sangat malu. Maka Anda berdoa, "Tuhan, saya telah bersalah, ampunilah saya." Anda bahkan meminta maaf kepada ibu Anda. Kemudian Anda merasa begitu bebas dan Tuhan (dan ibu Anda) kelihatannya begitu terkasih bagi Anda.
Ini adalah pengalaman dari menyeru nama Tuhan dan baptisan Anda. Di dalam situasi yang demikian dapatkah Anda, dengan diri Anda sendiri, mengaku bahwa Anda telah bersalah dan meminta maaf? Mungkin tidak. Seruan Anda membawa lebih banyak Allah Tritunggal sebagai Roh itu masuk ke dalam Anda. Dia datang sebagai terang, pengampunan, dan kasih. Begitu Anda menyeru kepadaNya, Tuhan menerangi keberdosaan Anda. Tetapi Dia juga datang sebagai pengampunan dan kasih. Puji Tuhan! Anda dibawa keluar dari ego Anda dan perasaan Anda dan diletakkan ke dalam Allah Tritunggal. Kita perlu mengingat ini setiap saat---menyeru nama Tuhan dan menyadari bahwa kita tidak lagi di dalam dunia, ego kita, dan dosa-dosa kita. Kita telah dibaptis ke dalam Tuhan Yesus, dan kita adalah orang-orang yang menyeru nama Tuhan kita yang terkasih.
Pertanyaan
1. Terangkan bagaimana Lukas 15 mewahyukan kasih Allah Tritunggal terhadap manusia.
2. Apakah yang diperlihatkan Matius 28:19, Kisah Para Rasul 8:6, dan Kisah Para Rasul 19:5 kepada kita tentang Allah Tritunggal?