Hayat dan Perasaan
“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.”
Yohanes 1:4
“Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Roma 8:16
“Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.”
1 Korintus 12:26
Hayat itu berperasaan, terlebih pula hayat Allah. Ditinjau dari pihak manusia, hayat itu memang abstrak, sukar diraba dan dipegang, lain dengan perasaan. Perasaan lebih konkret daripada hayat, sebab dapat kita rasakan. Siapa pun tidak dapat mengeluarkan dan melihat hayat. Tetapi kita dapat mengenal hayat melalui perasaan. Anda tidak dapat mewujudkan atau memperlihatkan hayat kepada orang lain. Kita tidak dapat, orang lain pun tidak. Tetapi kita dapat mengenalnya melalui perasaan hayat. Puji syukur kepada Allah, karena hayat yang Ia karuniakan kepada kita adalah hayat yang berperasaan, dan hayat ini dapat kita kenal melalui perasaan. Karena itu, meskipun Anda tidak dapat mengeluarkan atau memperlihatkan hayat, tetapi karena di dalam Anda ada perasaan yang baru, maka Anda dapat mengetahui bahwa Anda sudah mempunyai satu hayat yang baru.
Seseorang yang telah menerima Tuhan tidak saja berarti telah beroleh selamat, juga berarti sudah dilahirkan kembali, yaitu telah dilahirkan oleh Allah — orang itu telah memperoleh satu hayat baru dari Allah. Hal ini sukar dijelaskan. Bagaimana ia mengetahui bahwa dirinya telah memperoleh hayat Allah? Bagaimana orang lain atau gereja mengetahui bahwa seseorang telah memperoleh hayat Allah? Adanya hayat Allah dapat dibuktikan dengan perasaan hayat. Kalau hayat Allah ada di dalam dirinya, tentu perasaan itu juga ada di dalamnya. Apakah yang dimaksud dengan perasaan hayat? Umpamanya ada seorang Kristen secara tidak sengaja berbuat dosa, setelah itu, pasti ia merasa tidak enak, inilah yang dimaksud perasaan. Pada saat ia berbuat dosa, hatinya merasa tidak tenteram dan seolah-olah ada sekatan antara dirinya dengan Allah, ini pun perasaan hayat. Pada saat ia berbuat dosa, segera di dalamnya terasa tidak ada sukacita, inilah perasaan hayat. Hayat Allah benci akan dosa, maka orang yang telah memperoleh hayat-Nya, tentu mempunyai perasaan terhadap dosa. Jika seseorang telah mempunyai perasaan hayat ini, berarti ia telah memperoleh hayat Allah.
Kalau ada orang mengaku bahwa dirinya berdosa, juga mengaku sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, namun tidak pernah mempunyai perasaan terhadap dosa, apakah ia benar-benar sudah dilahirkan kembali? Jika setelah seseorang berbuat dosa, masih perlu diberi tahu atau dinasihati orang lain, baru sadar dan mengakui dosanya; dan terus demikian berulang-ulang, itu bukan berarti ia tidak mendengar nasihat orang lain, melainkan ia tidak mempunyai perasaan sedikit pun terhadap dosa. Dapatkah orang seperti itu disebut telah memperoleh hayat Allah? Kalau seseorang sungguh-sungguh telah memperoleh hayat Allah, ia pasti mempunyai perasaan terhadap dosa, tidak mungkin tidak mempunyai perasaan hayat. Hayat Allah bukan suatu benda yang kabur atau abstrak, ia sangat konkret dan riil. Mengapa? Sebab hayat Allah itu mempunyai perasaan.
Orang yang sudah mempunyai hayat Allah, tidak saja mempunyai perasaan terhadap dosa, ia pun dapat mengenal diri Allah sendiri. Sebab Roh yang kita terima bukanlah roh hamba melainkan Roh Anak, maka otomatis kita dapat merasakan bahwa Allah dapat kita hampiri, dan ketika kita menyeru “Aba Bapa”, hati kita merasa manis sekali. “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Kita bisa mengenal Allah sebagai Bapa, itu pun melalui perasaan yang timbul dari hayat. Ada orang yang mengerti hal ini dalam teori saja, dan belum pernah berhubungan dengan Allah, maka ia takut kepada Allah, tidak pernah menjamah-Nya. Ia belum pernah berhubungan dengan Allah. Roh Kudus tidak bersaksi bersama rohnya bahwa ia adalah anak Allah; ia tidak bisa berseru Aba Bapa. Mungkin ia bisa berdoa, namun doanya tidak berperasaan akan dosa, ia juga tidak merasakan hadir Allah; tidak merasakan betapa dosa itu adalah perkara yang menakutkan, dan tidak merasakan betapa Allah itu manis. Orang yang demikian belum menerima hayat baru Allah; belum berhubungan dengan Allah. Ia tidak merasa bahwa dirinya dekat dengan Allah, tidak merasa bahwa Kristus telah melenyapkan sekatan di antara dia dengan Allah. Ia tidak ada perasaan sebagai anak Allah. Ia mengaku sebagai orang Kristen, tetapi perasaannya di hadapan Allah tidak benar. Mulutnya bisa saja menyebut Bapa yang di surga, namun di dalam hatinya tidak ada perasaan itu. Maka dengan adanya perasaan, kita dapat membuktikan adanya hayat. Jika selamanya tidak pernah mempunyai perasaan itu, bagaimana bisa disebut sudah memperoleh hayat itu?
Demikian pula dengan Tubuh Kristus. Banyak saudara bertanya, “Bagaimana baru dapat dikatakan sudah tampak Tubuh Kristus? Bagaimanakah baru dapat dikatakan telah memperhidupkan hayat Tubuh?” Jawabannya, “Orang yang telah mengenal Tubuh Kristus, pasti mempunyai perasaan Tubuh Kristus. Jika Anda telah tampak Tubuh Kristus, Anda tidak mungkin tidak mempunyai perasaan hayat Tubuh. Kalau hayat itu memang adalah kenyataan dalam Anda, dan sudah menjadi pengalaman Anda, maka hayat itu bisa menimbulkan perasaan. Anda tidak saja tampak bahwa Tubuh Kristus adalah suatu prinsip dan teori, bahkan tampak bahwa Tubuh Kristus adalah suatu perasaan.
Surat 1 Korintus 12:26 mengatakan, “Karena itu, jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Baik menderita maupun bersukacita adalah suatu perasaan. Meskipun anggotanya banyak, tetapi hayat dan perasaannya satu. Misalnya seorang yang berkaki palsu, meski dilihat dari luar hampir sama dengan kaki asli, namun karena kaki palsu tak berhayat, maka sedikit pun ia tidak memiliki perasaan tubuh. Saat anggota lain menderita, kaki palsu itu tidak merasakan apa-apa, dan jika anggota lain bersukacita, kaki itu pun tidak memiliki perasaan apa-apa. Semua anggota berperasaan, hanya kaki itu tidak, sebab semua anggota berhayat kecuali kaki itu. Hayat tidak dapat ditiru dan tidak perlu ditiru; kalau ada ya ada, tidak perlu dibuat-buat supaya ada; kalau tidak ada ya tidak ada, dibuat-buat pun tidak akan berhasil. Ekspresi yang paling nyata dari hayat ialah perasaan. Seorang Kristen yang sudah tampak hayat Tubuh pasti mempunyai perasaan Tubuh, pasti mempunyai perasaan yang sama dengan anggota Tubuh lainnya.
Dalam hal rohani, kalau hanya mengetahui teori tetapi tidak mempunyai perasaan, tidaklah berguna. Misalnya, ada orang karena mendengar bahwa dusta adalah dosa dan tidak sewajarnya kalau hal itu terjadi atas diri orang Kristen, maka ia juga mengatakan bahwa dusta itu dosa, aku tidak seharusnya berdusta. Namun masalahnya bukan wajar atau tidak wajar berdusta, melainkan ketika ia berdusta apakah di dalamnya ada perasaan atau tidak ada perasaan. Jikalau setelah ia berdusta, di dalamnya tidak merasakan itu adalah dosa, maka walaupun ia selalu berkata bahwa dusta adalah dosa, itu sama sekali tidak berguna. Dan mungkin sekali ketika ia mengatakan tidak seharusnya berdusta, ia masih saja berdusta. Keistimewaan orang yang telah beroleh hayat Allah ialah ketika ia berdusta, dalam hatinya akan merasa tidak benar. Bukan teori atau ajarannya yang benar atau salah, melainkan perasaannya. Di dalamnya ada hayat dan perasaan, inilah orang Kristen. Perasaan hayat, itulah keistimewaan orang Kristen. Orang yang tidak mempunyai hayat, tidak mempunyai perasaan di dalam, bukanlah orang Kristen. Segala peraturan dan tata tertib di luar hanyalah suatu standar, bukan hayat. Tidaklah cukup kalau hanya bisa mengatakan, “Aku telah mengerti ajaran tentang Tubuh Kristus, karena itu tidak seharusnya aku bertindak secara individualistis.” Haruslah di dalamnya juga mempunyai perasaan itu. Orang yang mengatakan tak mau bertindak secara individu, tetapi tidak berperasaan ketika ia sendiri berbuat demikian, maka orang itu sebenarnya belum pernah tampak Tubuh Kristus. Ini bukan karena ia belum pernah mendengar teori atau ajaran tentang Tubuh Kristus, melainkan ia belum tampak realitas Tubuh Kristus. Mendengar dan melihat adalah dua perkara yang mutlak berbeda. Mendengar teori itu hanyalah secara luaran memahami suatu prinsip, sedang melihat ialah merasakan hal itu dalam batin. Mendengar teori tentang karunia keselamatan membuat orang mengerti bagaimana Allah menyelamatkan manusia, tetapi menerima Tuhan sebagai Juruselamat adalah timbulnya perasaan terhadap dosa dan Tuhan di dalam batin. Saudara saudari, sudahkah kalian tampak perbedaan kedua hal itu? Kita sekali-kali tidak boleh melalaikan perasaan hayat (bukan perasaan yang dirasakan secara lahiriah, melainkan batiniah). Perasaan ini adalah pernyataan hayat. Ada tidaknya perasaan menyatakan benar dan palsunya yang di dalam; menampakkan kepada kita ada tidaknya hayat Allah di dalam.
Perasaan hayat mempunyai keistimewaan pula, yakni tidak perlu diberitahukan oleh orang lain, ia tahu dengan sendirinya. Kalau harus diberi tahu dulu kemudian baru sadar, itu sangatlah terlambat. Perbuatan orang Kristen bukan menuruti petunjuk orang lain, melainkan menuruti pimpinan hayat, penerangan atau perasaan yang ada di dalamnya. Kita wajib memperhatikan perasaan batin itu, sebab ia berasal dari pancaran cahaya Allah, dari hayat Allah sendiri, bukan mendengar dari manusia.
Pada saat kita dilahirkan kembali, kita segera memperoleh satu hayat yang sejati, dalam batin kita pun ada perasaan yang demikian. Perasaan yang sejati ini membuktikan adanya hayat yang sejati. Sungguh kita harus mohon karunia Allah, agar kita bisa menjamah perasaan hayat, dan bisa hidup di dalamnya. Semoga Allah mengaruniai kita perasaan hayat yang kaya limpah, sehingga dalam segala hal kita dapat berperasaan; dapat merasakan hal dosa, dapat merasakan hal Allah, dapat merasakan Tubuh Kristus, dan dapat merasakan segala realitas rohani. Semoga Allah memimpin kita berjalan dan maju ke depan, mulia bagi nama-Nya.