Yang Lahiriah Tidak Terhitung, yang Batiniah Baru Terhitung
Pembacaan Alkitab: Roma 2:28-29; Galatia 1:11-16
Dalam Roma pasal 2 yang telah kita baca, ada beberapa kata yang perlu kita perhatikan: yang lahiriah tidak terhitung, yang batiniah baru terhitung; secara rohani, bukan harfiah; bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Di sini ada beberapa perbandingan, yaitu lahiriah — di hati (batin); harfiah — roh; manusia — Allah. Melalui beberapa perbandingan ini,dengan jelas Alkitab memberi tahu kita satu perkara, yaitu: kekristenan bukan menekankan peraturan, liturgi, tata cara lahiriah. Kekristenan menekankan hayat yang batini. Kekristenan bukan agama yang lahiriah, bukan hasil pikiran manusia. Kekristenan adalah wahyu yang di dalam, adalah agama yang bersifat hayat.
Apakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang telah mempunyai hayat Tuhan. Banyak orang sejak kecil telah dibaptis, sering pergi kebaktian, mempunyai satu Alkitab, bisa menghafal doa Bapa kami, mengetahui sepuluh hukum Taurat, bisa menyanyikan puji-pujian, ketika orang lain berdoa bisa berkata amin, tahu cerita Alkitab. Setelah demikian, mereka mengira dirinya adalah orang Kristen. Benarkah demikian? Alkitab memberi tahu kita, apa yang dilakukan di lahir, apa yang diajarkan, yang dipelajari di lahir, semuanya bukan kekristenan. Orang Kristen adalah orang yang melakukan sesuatu dari batinnya. Orang Kristen adalah orang yang di dalamnya mempunyai hayat Tuhan. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh. 10:10). Orang Kristen pasti ada hubungannya dengan hayat, pasti bukan yang dilakukan di luar melainkan yang di dalam.
Hayat adalah pemberian Tuhan, hayat adalah Tuhan sendiri. Bisa tidaknya manusia mendapatkan hayat tergantung pada pengenalannya terhadap Tuhan Yesus; mengenal Dia adalah Anak Allah, mengenal Dia adalah Kristus Allah. Pengenalan ini berasal dari wahyu Allah. Kita lihat Paulus, semula dia diajar dengan keras menurut hukum Taurat nenek moyangnya; kemudian dia dengan sekuat tenaga menganiaya gereja, mengira dengan berbuat demikian ia telah bergairah melayani Allah. Sampai suatu hari, Tuhan menyatakan diri kepadanya, barulah ia bertobat dan beroleh selamat. Sebab itu dalam Galatia pasal 1, ia berkata, bahwa Injil yang dia beritakan bukan diterimanya dari manusia, bukan diajarkan oleh manusia, melainkan dari wahyu Yesus Kristus. Oh, kalau tidak mendapatkan wahyu dari Allah, semua akan sia-sia. Meskipun dia telah melakukan semua ajaran nenek moyangnya, tetapi hayat Tuhan tidak bisa didapatkannya dari ajaran nenek moyangnya itu. Paulus menjadi orang Kristen bukan karena manusia, melainkan karena Allah dengan sukarela mewahyukan Putra-Nya di dalamnya, barulah dia menjadi orang Kristen.
Pada suatu hari, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu? Jawab mereka: ‘Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.’Lalu Yesus bertanya kepada mereka, ‘Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Simon Petrus, ‘Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!’ Kata Yesus kepadanya, ‘Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16:13-17). Ini dengan jelas memperlihatkan kepada kita, bahwa orang Kristen harus mempunyai wahyu dari Allah. Kalau Anda mau menjadi orang Kristen, Anda harus memiliki wahyu ini, harus mempunyai pengenalan ini. Kalau Anda berkata, “Saya sangat salut kepada apa yang diperbuat Tuhan Yesus.” Ini belum bisa menyebabkan Anda menjadi orang Kristen. Atau Anda berkata, “Ajaran Tuhan Yesus mengandung filsafat yang dalam.” Ini juga tidak bisa membuat Anda menjadi orang Kristen. Mungkin, setelah Anda mendengar kata-kata ini Anda merasa tidak terima dan berkata, “Saya salut kepada Tuhan Yesus, saya menyanjung Tuhan Yesus, terhadap agama Kristen saya sangat simpatik.” Demikian, apakah saya belum bisa menjadi orang Kristen? Belum bisa! Karena menjadi orang Kristen bukan masalah salut, bukan masalah simpatik. Saat itu, orang mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Yohanes Pembaptis, adalah Elia, adalah Yeremia. Apakah Yohanes Pembaptis tidak baik? Apakah Elia tidak baik? Apakah Yeremia tidak baik? Tetapi semuanya itu adalah pandangan manusia, pendapat manusia. Kekristenan sama sekali bukan berasal dari manusia, sebab itu pandangan manusia, pendapat manusia, tidak bisa menggantikan kekristenan. Kekristenan adalah agama wahyu. Ada orang mendapatkan wahyu dari Allah, mengenal Tuhan Yesus adalah Kristus, Anak Allah; orang yang demikian baru disebut berbahagia oleh Tuhan.
Bila seseorang mendapatkan wahyu, berarti di dalam Roh Kudus, ia berkontak dengan Tuhan Yesus, bertemu dengan Tuhan Yesus. Dia mempunyai hubungan yang langsung dengan Tuhan Yesus. Dia bertatapan langsung dengan Tuhan. Mari kita mengambil satu contoh. Suatu hari, sebuah kabel listrik di rumah seorang saudara rusak terkelupas, keadaan ini tentu akan membuat orang mudah tersengat aliran listrik. Ketika saudara itu tidak hati-hati, menyentuh kabel itu, dia segera tersentak dan segera menarik tangannya sambil berseru, “Aduh!” Salah seorang anaknya yang kecil, melihat tangan ayahnya begitu menyentuh sesuatu lalu segera menarik kembali sambil berseru, datang ke sana dan mencontoh ayahnya. Ia pura-pura menyentuh sesuatu dan kemudian menarik tangannya sambil berseru, “Aduh!” Kita tahu, anak kecil ini pura-pura melakukan, secara lahiriah mencontoh ayahnya, ia tidak merasakan bagaimana sengatan aliran listrik; tetapi ayahnya benar-benar tersengat oleh listrik dan merasakannya.
Saudara saudari, meniru secara luaran itu tidaklah terhitung, kalau benar-benar merasakan barulah terhitung. Anda sendiri harus bertemu dengan Tuhan Yesus seperti saudara itu menyentuh listrik. Hari ini apakah Anda benar-benar telah mengenal Yesus orang Nazaret, Anak Allah ini? Bukan orang lain berkata demikian, melainkan di dalam Anda sendiri berkata demikian. Kalau bukan Anda sendiri yang mengetahui, hanya di luar mendengarkan orang berkata bahwa Yesus adalah Anak Allah, lalu Anda juga mengatakan Yesus adalah Anak Allah; orang mengatakan Yesus adalah revolusioner masyarakat, Anda juga mengatakan Yesus adalah revolusioner masyarakat; maka kepercayaan Anda itu membuntuti orang lain, mungkin sekali Anda sendiri belum mengetahui apa sebenarnya yang Anda percayai.
Dalam Yohanes pasal 3, Tuhan Yesus berbincang-bincang mengenai kelahiran kembali dengan Nikodemus. Nikodemus berkata, “Rabi, kami tahu bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah.” Tetapi Tuhan Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Yang diperhatikan oleh guru adalah mengajar dan belajar, adalah masalah lahiriah; yang diperhatikan oleh kelahiran kembali adalah roh dan hayat, adalah masalah di dalam. Banyak orang yang disebut orang Kristen, mereka masuk dari pintu guru ini. Mereka mengira setelah mengerti ajaran kekristenan, telah dibaptis, mampu menjelaskan nubuat-nubuat dalam Alkitab, bisa mengikuti sejumlah aktivitas kekristenan seperti berdoa, berbakti, menyumbang dan sebagainya, sudah belajar mirip sekali, lalu mengira dirinya adalah orang Kristen. Orang sedemikian telah memandang salah kekristenan. Alkitab memperlihatkan kepada kita, menjadi orang Kristen harus dimulai dari dilahirkan kembali. Kalau seseorang belum dilahirkan kembali, di dalamnya belum ada hayat Tuhan, orang ini sama sekali bukan orang Kristen. Saya ulangi sekali lagi, kekristenan bukan agama lahiriah melainkan wahyu batiniah. Orang Kristen bukan melakukan sesuatu secara lahiriah, melainkan melakukan sesuatu dari batin.
Dalam Yohanes pasal 6, Tuhan Yesus dengan lima roti dan dua ekor ikan memberi makan sampai kenyang 5.000 orang. Keesokan harinya, sekelompok orang itu kembali mencari Tuhan Yesus. Tuhan Yesus dengan tegas memberi tahu mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu” (ayat 2627). Kata-Nya lagi, “Akulah roti kehidupan; Siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan pernah lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan pernah haus lagi” (ayat 35). Sekelompok orang itu mencari Tuhan Yesus untuk makan roti dan kenyang, mereka tidak tahu apakah keperluan mereka yang sejati, mereka bahkan tidak tahu Tuhan Yesus datang ke dunia akan memberikan apa kepada manusia. Mereka hanya tampak roti material yang di luar, mereka tidak tampak kemustikaan dan keindahan hayat di dalam. Tuhan Yesus adalah Tuhan yang penuh belas kasihan, terhadap sekelompok orang yang tidak mengerti ini Dia tidak menyembunyikan diri-Nya, Dia mau membuka diri-Nya kepada mereka dan memberi tahu mereka bahwa Dia adalah roti hayat. Dia akan memberikan hayat kepada orang yang percaya kepada-Nya. Namun sekelompok orang itu selalu berputar-putar di luar. Mereka berkata, “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapak-Nya kita kenal?” (ayat 42). Mereka hanya dari lahir mengenal Tuhan Yesus, Tuhan Yesus berkata lagi kepada mereka, “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (ayat 51). Kemudian sekelompok orang Yahudi itu bertengkar karena perkataan ini. Mata mereka hanya melihat yang di luar, mereka dari luar mengenal Tuhan Yesus, dari luar mengerti dan memahami perkataan Tuhan Yesus. Mereka tidak akan bisa mengenal dan tidak akan bisa mengerti.
Kita harus lebih memperhatikan perkataan selanjutnya yang dicatat dalam Alkitab. Sepotong perkataan Tuhan Yesus ini tidak saja tak dimengerti oleh sekelompok orang Yahudi itu, bahkan kebanyakan murid-murid-Nya juga tidak mengerti. Banyak dari murid-murid Yesus berkata, “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (ayat 60). Mulai dari waktu itu banyak murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia. Mereka telah jatuh, mereka tidak mau menjadi murid Tuhan lagi. Lima roti dan dua ikan yang di luar bisa menarik banyak orang mengikuti Tuhan Yesus, tetapi begitu roti hayat yang di dalam dikeluarkan, banyak orang, bahkan yang disebut sebagai murid-murid tidak bisa menerima. Oh, betapa manusia sangat mudah memperhatikan yang di luar, manusia juga sangat mudah menolak dan mengabaikan yang di dalam! Saudara saudari, di sini kita harus mendapatkan satu peringatan! Orang yang disebut sebagai murid memang banyak, tetapi yang kandas di tengah jalan juga tidak sedikit. Orang-orang yang hanya secara lahiriah menjadi orang Kristen, pasti akan mundur di tengah jalan. Orang-orang yang tidak menjamah hayat yang di dalam, pasti akan mundur di tengah jalan. Orang yang di dalamnya tidak menerima hayat Tuhan, tidak mungkin bisa menjadi murid Tuhan. Bukan orang lain menyuruh dia supaya tidak menjadi orang Kristen, melainkan dia sendiri tidak sanggup melakukannya.
Penyebab sekelompok orang yang disebut murid-murid itu mundur, bukan karena ada penderitaan atau pencobaan menimpa mereka. Mereka mundur hanya karena satu sebab, yaitu “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” Mereka jatuh di depan kebenaran! Oh, saudara saudari, apa yang dilakukan di luar tidaklah terhitung. Orang yang menjadi Kristen secara luaran, pasti tidak tahan berdiri di hadapan kebenaran; lebih-lebih tidak akan tahan ujian. Ada sekelompok orang yang menyebut dirinya orang Kristen, tetapi mereka tidak menerima firman Tuhan. Begitu mereka bertemu dengan kebenaran kekristenan, mereka tidak mengerti, lalu curiga, salah paham, bahkan menghina dan menolak. Mereka hanya mau merek kekristenan, tetapi tidak mau kebenaran kekristenan. Mereka menjadi orang Kristen menurut “teologi” mereka sendiri, bukan menurut Firman Tuhan.
Tuhan berkata, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (ayat 63). Orang menerima Firman Tuhan berarti menerima hayat Tuhan. Orang yang menjadi Kristen secara lahiriah umumnya memiliki satu ciri, yaitu mereka tidak mengerti Firman Tuhan, tidak percaya Firman Tuhan, tidak menerima Firman Tuhan dan tidak menghargai Firman Tuhan. Sebaliknya ada satu sikap mendasar yang dimiliki oleh setiap anak-anak Allah terhadap Firman Tuhan — Alkitab, yaitu percaya Alkitab, menghormati Alkitab, menghargai Alkitab. Sikap percaya, menghormati dan menghargai terhadap Alkitab adalah satu sikap paling dasar, yang paling penting yang seharusnya dimiliki oleh orang Kristen. Kalau ada orang menyebut dirinya orang Kristen, tetapi terhadap Alkitab tidak percaya malahan curiga, tidak menghormati malahan mengkritik, tidak menghargai malahan menginjak-injak, ia pasti bukan orang Kristen yang sejati. Sekelompok orang yang begitu mendengarkan firman Tuhan segera mundur, meskipun secara lahir mereka disebut murid-murid, sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak percaya. Alkitab dengan jelas memberi tahu, “Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia” (ayat 64). Orang-orang yang menjadi Kristen secara luaran itu, kalau tidak mundur di tengah jalan, mereka akan membaurkan dirinya di tengah-tengah murid-murid yang lain, tetapi akhirnya akan menjual Tuhan!
Ketika orang-orang yang disebut murid-murid itu mundur, Tuhan Yesus berkata kepada kedua belas murid, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Simon Petrus menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu.” Petrus adalah seorang yang mempunyai wahyu. Bapa yang di surga pernah memberi wahyu kepadanya sehingga dia mengenal Yesus orang Nazaret ini adalah Anak Allah yang hidup. Sebab itu, ketika orang banyak itu mundur, ia masih mau ikut Tuhan. Firman Tuhan seperti batu uji yang akan menyatakan siapa yang sungguh-sungguh percaya Dia dan siapa yang tidak percaya Dia, siapa yang melakukan secara batiniah dan siapa yang melakukan secara lahiriah.
Orang Kristen yang mempunyai wahyu, orang yang menjadi Kristen dari dalam pasti tahan uji. Mereka menghargai kebenaran Allah, mereka tidak takut ujian macam apa pun. Kita lihat Paulus, karena nama Tuhan ia mengalami banyak aniaya dan penderitaan. Suatu hari, ia dibelenggu dengan rantai dan dibawa ke Kaisarea, dia diadili oleh Festus. Festus sendiri berkata, bahwa Paulus tidak melakukan kejahatan apa-apa, tetapi ia dituduh hanya karena seorang yang bernama Yesus yang sudah mati, sedangkan Paulus mengatakan dengan pasti bahwa Ia hidup (Kis. 25:18-19). Saudara saudari, ini adalah satu persoalan yang serius. Anda menjadi orang Kristen secara lahiriah atau secara batiniah? Paulus karena mempunyai pengalaman itu — Allah dengan rela mewahyukan Putra-Nya di dalamnya — maka ketika orang lain mengatakan Yesus mati, ia mengatakan Yesus hidup. Orang memenjarakan dia, dia berkata demikian; orang memfitnah, menuduh dia dengan banyak tuduhan palsu, dia tetap berkata demikian. Karena Paulus, pada suatu hari di jalan yang menuju Damsyik, benar-benar telah bertemu dengan Yesus yang telah bangkit dari kematian itu, maka dia bisa di dalam pencobaan apa pun tetap berdiri dan memberikan kesaksian yang indah bagi Tuhan.
Oh, saudara saudari, setiap orang yang menjadi Kristen secara luaran, pasti tidak tahan pencobaan. Semoga setiap orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen dapat menyelesaikan masalah ini: kekristenan yang Anda kenal itu, Anda kenal secara lahiriah atau secara batiniah? Anda menjadi orang Kristen karena keturunan, karena pelajaran atau karena wahyu? Tuhan Yesus yang Anda kenal ini, sebenarnya Anda kenal secara otak atau Anda kenal secara hayat karena wahyu? Kekristenan Anda itu berasal dari manusia atau berasal dari Allah?
Akhirnya, kami tetap akan menekankan: yang lahiriah tidak terhitung, yang batiniah baru terhitung.