PENGULANGAN HUKUM TAURAT (1)
Pembacaan Alkitab: Ul. 5:1-21
Sebelum kita melihat pengulangan hukum Taurat, saya ingin sedikit membicarakan Trinitas Ilahi, yang adalah dasar untuk wahyu dalam Alkitab. Mengenai Trinitas Ilahi, dalam Alkitab ada satu prinsip penting. Prinsip ini adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Bapa, yang adalah sumber, adalah satuan yang pertama; segala sesuatu yang berhubungan dengan Putra, yang adalah arus, adalah satuan kedua; dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Roh, yang adalah aliran, perampungan sempurna, totalitas Allah Tritunggal, adalah satuan ketiga. Ketika keselamatan Allah atau setiap atribut-Nya mencapai kita, keselamatan ini mencapai kita dalam tiga ganda, karena yang mencapai kita mencakup tiga Trinitas Ilahi, Bapa, Putra, dan Roh.
Untuk memahami prinsip ini, kita perlu memperhatikan bagaimana Allah Tritunggal mencapai kita. Bapa mencapai kita di dalam Putra sebagai Roh. Bapa ada di dalam Putra, dan Putra mencapai kita sebagai Roh. Ini berarti ketika Roh mencapai kita, Bapa dan Putra juga mencapai kita. Injil Yohanes mewahyukan bahwa ketika Bapa mengutus Putra, Putra tidak datang sendiri, tetapi datang bersama Bapa (Yoh. 8:29; 16:32b). Selain itu, ketika Putra mengutus Roh, Roh yang diutus-Nya itu adalah diri-Nya sendiri (Yoh. 15:26; 14:26). Jadi, ketika Roh datang, Bapa dan Putra juga datang. Ini adalah Allah Tritunggal mencapai kita sebagai Roh.
Setiap atribut adalah satu rangkap pada Bapa, dua rangkap pada Putra, dan tiga rangkap pada Roh. Kasih adalah atribut Allah terbesar. Pada Bapa kasih adalah satu rangkap, pada Putra adalah dua rangkap, dan pada Roh adalah tiga rangkap. Kita melihat ketiga rangkap ini dalam 2Korintus 13:13, yang mengatakan, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Kasih adalah sumber anugerah; anugerah adalah pengaliran, ekspresi, dari kasih; persekutuan adalah transmisi anugerah yang adalah perwujudan kasih. Kasih Allah ada dalam anugerah Kristus, dan anugerah Kristus dengan kasih Allah ditransmisikan dalam persekutuan Roh Kudus. Dari sini kita melihat bahwa sesuatu dari Allah Tritunggal mencapai kita, hal itu datang kepada kita secara tiga rangkap.
Walaupun Kitab Ulangan sering memakai ungkapan “TUHAN Allahmu”, kitab ini tidak dengan jelas menyebutkan Kristus atau Roh. Namun, dalam kitab ini ada sinonim Kristus. Sinonim-sinonim ini adalah firman, hukum Taurat, perintah, kesaksian, ketetapan, dan keputusan (peraturan). Karena semua ini adalah hal-hal yang dikatakan Allah, secara keseluruhan itu adalah firman. Hukum Taurat, perintah, kesaksian, ketetapan, dan keputusan, semuanya adalah firman, dan firman adalah Kristus. Dalam Roma 10, Paulus menjelaskan firman dalam Kitab Ulangan sebagai Kristus, yang dalam ayat 8 disebut “firman iman.” Kita mungkin berpikir bahwa firman dalam Kitab Ulangan adalah firman dari hukum Taurat, tetapi Paulus menganggapnya sebagai firman iman. Perintah, kesaksian, ketetapan, dan keputusan adalah firman, dan firman itu adalah firman iman.
Karena semua ini adalah sinonim Kristus, maka ketika kita membaca Kitab Ulangan, kita mungkin ingin mengganti mereka dengan kata Kristus. Memelihara hukum Taurat adalah memelihara Kristus. Mengasihi perintah adalah mengasihi Kristus. Menerima kesaksian dan keputusan adalah menerima Kristus. Kita telah menunjukkan bahwa Kitab Ulangan tidak membicarakan Roh. Namun, penjelasan Paulus dalam Roma 10 menyiratkan Roh; menyiratkan bahwa Kristus yang dia gambarkan adalah Roh. Paulus berkata, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu” (ayat 8). Ada di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, firman ini (yang adalah Kristus), tentunya adalah Roh itu.
Dalam penjelasannya atas Ulangan 30:11-14, Paulus menyajikan gambaran Kristus yang sangat indah sebagai Dia yang berinkarnasi, disalibkan, dan dibangkitkan. Kristus adalah Dia yang turun dari surga dalam inkarnasi, maka, tidak perlu seseorang naik ke surga untuk membawa Dia turun. Kristus juga Dia yang keluar dari jurang maut, keluar dari alam maut, dalam kebangkitan, maka, tidak perlu seseorang turun ke jurang maut untuk membawa Dia naik. Di manakah Kristus yang turun dari surga dalam inkarnasi dan yang keluar dari jurang maut dalam kebangkitan, dan Kristus macam apakah Dia hari ini? Kristus ini ada di dalam mulut kita dan di dalam hati kita, karena Dia sekarang adalah Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45b). Ini adalah Kristus yang alkitabiah, Kristus yang diungkapkan dalam menjelaskan Kitab Ulangan dalam Roma 10.
Kristus yang diungkapkan dalam Kitab Ulangan dan Roma adalah Allah yang berinkarnasi menjadi seorang manusia. Orang ini disalibkan dan dibangkitkan, dan dalam kebangkitan Dia menjadi Roh pemberi-hayat, yang adalah “udara” untuk kita hirup melalui menyeru Dia. Dia ada di segala tempat, menunggu orang menyeru Dia. Roma 10:12 memberi tahu kita bahwa Dia adalah “kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” Ketika kita untuk pertama kalinya menyeru, kita menerima Dia sebagai hayat. Ketika kita terus menyeru nama Tuhan, Dia menjadi suplai hayat kita, kekuatan kita, dan segala sesuatu kita.
Jika kita memahami mengenai Kristus yang ditemukan dalam Roma 10, kita akan datang kepada Kitab Ulangan dalam cara yang baru. Kita akan menganggap Kitab Ulangan sebagai inti sari seluruh Alkitab. Saya harap kita semua memiliki pemahaman yang demikian ketika kita sekarang mulai memperhatikan pengulangan hukum Taurat dalam 5:1-21.
I. UNTUK MELATIH GENERASI BARU
SETELAH MEMBERSIHKAN GENERASI TUA
MELALUI PENGEMBARAAN MEREKA
SELAMA TIGA PULUH DELAPAN TAHUN
DI PADANG GURUN
Pengulangan hukum Taurat adalah pembicaraan ulang hukum Taurat. Pengulangan ini, pembicaraan ulang ini adalah untuk melatih generasi baru setelah membersihkan generasi tua melalui pengembaraan mereka selama 38 tahun di padang gurun. Pengembaraan kali itu dipakai Allah untuk menghasilkan generasi baru, dan generasi ini memerlukan latihan atas hukum Taurat. Mereka perlu dilatih dengan dan oleh hukum Taurat.
II. MENGULANGI SEPULUH PERINTAH
Ulangan 5:1-31 adalah pengulangan Sepuluh Perintah.
A. Sepuluh Perintah Adalah Perjanjian yang Allah Buat dengan Orang Israel di Horeb
Ayat 2-3 mengatakan, “TUHAN, Allah kita, telah mengikat perjanjian dengan kita di Horeb. Bukan dengan nenek moyang kita TUHAN mengikat perjanjian itu, tetapi dengan kita, kita yang ada di sini pada hari ini, kita semuanya yang masih hidup.” Ini menunjukkan bahwa Sepuluh Perintah adalah perjanjian yang Allah buat dengan orang Israel di Horeb, khususnya dengan generasi baru Israel hari itu. Ini sesuai dengan prinsip alkitabiah bahwa anak-anak selalu tercakup dalam bapaknya. Inilah alasannya perjanjian yang dibuat di Horeb melibatkan orang-orang Israel yang belum lahir pada saat itu. Di mata Allah, perjanjian yang dibuat di Horeb sebenarnya dibuat dengan generasi baru Israel yang sekarang.
B. Sepuluh Perintah Adalah Dasar Seluruh Hukum Taurat
Sepuluh Perintah adalah dasar seluruh hukum Taurat (Ul. 5:6-21). Dalam Kitab Ulangan Sepuluh Perintah juga disebut “Sepuluh Firman” (4:13; 10:4).
1. Perintah Pertama
Perintah pertama adalah jangan memiliki allah lain di samping TUHAN. “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Ul. 5:6-7). Kata Ibrani yang diterjemahkan “di hadapan” dapat juga diterjemahkan “di samping”, “selain kepada”.
2. Perintah Kedua
Perintah kedua adalah perintah jangan membuat berhala dan jangan sujud menyembah atau beribadah kepada berhala. “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya” (Ul. 5:8-9a). Tiga perkara ini: jangan membuat berhala, jangan sujud menyembahnya, dan jangan beribadah kepada berhala adalah isi dari perintah kedua.
3. Perintah Ketiga
Perintah ketiga adalah jangan menyebut nama TUHAN dengan sia-sia. “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan (sia-sia), sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan (sia-sia)” (Ul. 5:11).
4. Perintah Keempat
Perintah keempat mengenai memelihara hari Sabat (Ul. 5:12-15). “Tetaplah ingat dan kuduskanlah hari Sabat, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (ayat 12).
5. Perintah Kelima
Dalam ayat 16 kita memiliki perintah kelima. “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Lanjut umurmu adalah perkara panjang umur, dan “baik keadaanmu” adalah perkara diberkati. Jika kita menghormati orang tua kita, kita akan berumur panjang dan kita akan diberkati. Ini adalah alasan Paulus memberi tahu kita bahwa perintah menghormati orang tua kita adalah perintah pertama yang mengandung janji (Ef. 6:2).
Sepuluh Perintah, yang ditulis pada dua loh batu, dibagi dalam dua kelompok, masing-masing lima. Kelompok pertama termasuk tiga perintah yang berhubungan dengan Allah, perintah mengenai hari kudus Allah, dan perintah menghormati orang tua kita. Sangat bermakna bahwa perintah menghormati orang tua kita digabungkan dengan perintah yang berhubungan dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa kita harus menghormati orang tua kita seperti kita menghormati Allah. Allah adalah sumber kita, dan orang tua adalah sarana yang dipakai Allah untuk melahirkan kita. Karena itu, melalui menghormati orang tua kita, kita menghormati Allah sebagai sumber kita yang unik.
6. Perintah Keenam
Perintah keenam adalah perintah jangan membunuh (Ul. 5:17).
7. Perintah Ketujuh
Perintah ketujuh adalah perintah jangan melakukan perzinaan (Ul. 5:18). Perzinaan merusak keinsanian.
8. Perintah Kedelapan
Perintah kedelapan adalah perintah jangan mencuri (Ul. 5:19).
9. Perintah Kesembilan
Perintah kesembilan adalah perintah agar jangan bersaksi dusta terhadap sesama kita (Ul. 5:20). Perintah ini melarang berdusta. Kita tidak boleh berdusta, tetapi harus berkata benar.
10. Perintah Kesepuluh
Perintah kesepuluh mengenai mengingini. “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Ul. 5:21). Mengingini dapat mendorong untuk mencuri. Kita mungkin terlebih dulu mengingini barang tertentu dan kemudian memutuskan untuk mencurinya. Maka, mencuri adalah pelaksanaan atas keinginan kita.
III. NASIHAT DAN PERINGATAN SECARA UMUM
Ulangan 5:32—13:18 adalah bagian panjang yang berhubungan dengan nasihat dan peringatan secara umum. Karena beban, perhatian, dan kasihnya, Musa berbicara di sini secara rinci, berulang.
A. Memelihara Perintah, Ketetapan, dan Peraturan Allah
Dalam 6:1-3 Musa memerintahkan orang Israel untuk memelihara perintah, ketetapan, dan peraturan Allah, supaya mereka dapat panjang umur, supaya kebaikan menyertai mereka, dan mereka bisa bertambah jumlahnya secara besar-besaran di tanah yang mengalirkan susu dan madu. Ketetapan adalah butir-butir tambahan hukum Taurat. Ketika keputusan ditambahkan kepada ketetapan, ketetapan menjadi peraturan. Orang Israel diperintahkan untuk memelihara perintah, ketetapan, dan peraturan, kita hari ini perlu memelihara Kristus.
B. Mengasihi TUHAN Allah Mereka dan Memelihara, Mengajarkan, dan Menuliskan Firman-Nya
Dalam 6:4-9 Musa melanjutkan perkataannya mengenai mengasihi TUHAN Allah mereka dengan segenap hati mereka, dengan segenap jiwa mereka, dan dengan segenap kekuatan mereka, menaruh firman Allah dalam hati mereka, mengajarkannya dengan setia kepada anak-anak mereka, mengikatkannya pada tangan mereka sebagai tanda, mengenakannya sebagai ikat kepala di dahi mereka, dan menuliskannya pada tiang pintu rumah mereka dan pada pintu gerbang mereka. Hari ini kita perlu mengasihi Kristus, memelihara Kristus, mengajarkan Kristus, mengenakan Kristus, dan menuliskan Kristus.
C. Dalam Kenikmatan, Mereka Mengingat TUHAN,
Takut akan Dia, Melayani Dia,
dan Tidak Mengikuti Allah Lain
Ayat 10-12 mengatakan, “Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu, kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kau tanami dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang, maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.” Musa khawatir, saat mereka berada dalam kenikmatan, bangsa itu akan melupakan TUHAN Allah mereka. Selain itu, dalam ayat 13-15 dia selanjutnya memerintahkan mereka untuk takut akan TUHAN, melayani Dia, dan jangan mengikuti allah-allah lain sehingga membangkitkan murka Allah mereka, yang adalah Allah yang cemburu.
D. Tidak Mencobai TUHAN Allah Mereka,
Setia Memelihara Perintah, Kesaksian,
dan Ketetapan-Nya, dan Melakukan Apa yang Benar
dan Baik di Mata Allahnya
Dalam ayat 16-19 kita memiliki ekspresi keprihatinan Musa lebih lanjut. Di sini dia berpesan kepada orang Israel, agar jangan mencobai TUHAN Allah mereka, harus setia memelihara perintah, kesaksian, dan ketetapan-Nya, dan melakukan apa yang benar dan baik di mata-Nya, supaya kebaikan menyertai mereka dan mereka dapat masuk dan memiliki tanah permai yang Dia janjikan kepada mereka.
E. Memberi Tahu Anak-anak Mereka tentang Makna Kesaksian, Ketetapan, dan Peraturan
Dalam ayat 20-25, Musa memberi tahu bangsa itu apa yang harus dikatakan kepada anak-anak yang bertanya tentang makna kesaksian, ketetapan, dan peraturan. Mereka perlu mengatakan bahwa mereka tadinya adalah budak Firaun di Mesir, bahwa TUHAN membawa mereka keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat untuk memimpin mereka ke dalam tanah yang dijanjikan, dan bahwa TUHAN memerintahkan mereka untuk memelihara kesaksian, ketetapan, dan peraturan-Nya, supaya mereka takut akan Dia untuk kebaikan mereka dan Dia akan memelihara mereka tetap hidup; demikianlah ketaatan mereka, menjadi kebenaran mereka.