MENGULANG HAL-HAL YANG LAMPAU (2)
Pembacaan Alkitab: Ul. 4:1-40
Dari Kitab Kejadian sampai Wahyu, seluruhnya melakukan tiga hal: menyatakan Allah, menyingkapkan manusia, dan mengungkapkan Kristus. Sebelum memperhatikan perkara mengulang hal-hal yang lampau, saya ingin menyampaikan perkataan tambahan tentang tiga fungsi Alkitab. Pertama, Alkitab memperlihatkan kepada kita Allah macam apa yang kita miliki. Dalam Alkitab Allah dinyata-kan sebagai Allah yang pengasih, adil, dan setia. Selanjutnya, dalam Alkitab kita melihat Allah adalah Allah yang memberkati. Hati Allah penuh dengan kasih, tangan-Nya atau perbuatan-Nya adil, mulut-Nya atau perkataan-Nya adalah setia, dan mata-Nya terutama untuk memberkati. Inilah Allah kita.
Kedua, Alkitab menyingkapkan manusia. Alkitab adalah satu-satunya kitab yang memperlihatkan kepada kita kondisi sesungguhnya manusia. Ketika kita datang kepada Alkitab, kita melihat diri kita. Alkitab menyingkapkan kita dan memperlihatkan bahwa kita bukan apa-apa, kita tidak memiliki apa-apa, dan kita tidak dapat melakukan apa-apa. Dengan kata lain, kita adalah nol. Sebenarnya, inilah yang Allah inginkan, karena Dia tidak ingin kita menjadi sesuatu di dalam diri kita sendiri. Inilah alasan Paulus mengatakan bahwa dia telah disalibkan dengan Kristus (Gal. 2:19b). Dalam ekonomi-Nya, dalam rencana dan pengaturan ilahi-Nya, Allah menginginkan kita disalibkan. Ini berarti Dia menginginkan kita ditiadakan, menjadi nol.
Ketiga, Alkitab mengungkapkan Kristus. Kristus itu tersembunyi, rahasia, dan abstrak; tidak seorang pun dapat mengenal Dia. Namun, Alkitab mengungkapkan Dia kepada kita. Kita telah menekankan bahwa seluruh Alkitab tersirat dalam Kitab Ulangan. Kita juga berkata bahwa Kitab Ulangan adalah satu inti sari Alkitab. Secara keseluruhan, Alkitab menyatakan Allah, menyingkapkan manusia, dan mengungkapkan Kristus, dan Kitab Ulangan, sebagai inti sari Alkitab, juga menyatakan Allah, menyingkapkan manusia, dan mengungkapkan Kristus. Mari kita sekarang melanjutkan pembahasan kita atas perkara yang berhubungan dengan mengulang hal-hal yang lampau.
VIII. MENGEMBARA DARI KADESH-BARNEA KE PENYEBERANGAN ANAK SUNGAI ZERED
A. Mengembara Tiga Puluh Delapan Tahun
Ulangan 2:1-23 membicarakan pengembaraan dari Kadesh-Barnea ke penyeberangan anak sungai Zered. Ayat 14a mengatakan, “Lamanya kita berjalan sejak dari Kadesh-Barnea sampai kita ada di seberang sungai Zered, ada tiga puluh delapan tahun.” Walaupun Kadesh-Barnea adalah pintu masuk ke tanah permai, Allah memerintahkan orang Israel meninggalkan tempat itu dan mengembara di padang gurun selama tiga puluh delapan tahun.
B. Untuk Menghabisi Daging dan Ketidakpercayaan Manusia dan untuk Menyatakan Belas Kasihan dan Berkat Allah
Tujuan tahun-tahun pengembaraan ini adalah untuk menghabisi daging dan ketidakpercayaan manusia dan untuk menyatakan belas kasihan dan berkat Allah (ayat 7). Dalam diri kita sendiri kita tidak lain daging dan ketidakpercayaan, yang menyebabkan kita meninggalkan Allah. Daging dan ketidakpercayaan kita perlu dihabisi. Ini mudah dibicarakan, tetapi perlu bertahun-tahun untuk mengalaminya. Bagi orang Israel, perlu tiga puluh delapan tahun. Di satu pihak, ini adalah tahun-tahun yang terbuang; di pihak lain, tahun-tahun ini berguna untuk menghabisi daging dan ketidakpercayaan mereka. Dalam tahun-tahun ini belas kasihan dan berkat Allah telah dinyatakan. Selama tiga puluh delapan tahun mengembara di padang gurun, Allah sangat sabar terhadap umat-Nya. Sekalipun mereka tidak percaya, Dia memperluas kasih-Nya kepada mereka. Bagaimana Allah melakukan hal ini? Dia melakukannya melalui memperlihatkan belas kasihan kepada mereka dan melalui memberkati mereka. Dalam tahun-tahun pengembaraan, Allah membelaskasihani umat-Nya dan memberkati mereka, sekalipun mereka bersifat daging dan penuh ketidakpercayaan.
Karena kita begitu jauh meninggalkan Allah dan karena situasi kita begitu miskin, anugerah Allah tidak dapat mencapai kita kalau Dia tidak membelaskasihani kita lebih dulu. Belas kasihan Allah menjangkau lebih jauh dibandingkan anugerah-Nya. Kita dapat mengatakan bahwa belas kasihan adalah anugerah Allah yang mencapai lebih jauh dibandingkan yang dapat dicapai anugerah itu sendiri. Dengan kata lain, ketika anugerah Allah menjangkau lebih jauh mencapai kita di mana kita berada, anugerah ini menjadi belas kasihan. Karena belas kasihan-Nya telah mencapai kita dan karena kita sekarang berada di bawah belas kasihan-Nya, Allah dapat memberkati kita. Jika kita menyadari betapa kasihannya situasi kita dan betapa besar jarak antara kita dengan Allah, kita akan berdoa seperti ini: “Tuhan, kami perlu belas kasihan-Mu, karena situasi kami sangat jauh dari anugerah-Mu. Syukur kepada-Mu, Tuhan, bahwa belas kasihan-Mu dapat mencapai kami di mana kami berada.” Sebagai orang yang ada di bawah belas kasihan Allah, kita juga harus berdoa untuk berkat Allah, dengan mengatakan, “Tuhan, kami tidak percaya kepada apa yang dapat kami lakukan. Kami juga tidak mempercayai jerih lelah kami. Kepercayaan kami, Tuhan, ada pada berkat-Mu.”
C. Menghabisi Semua Orang yang Tidak Percaya
Selama tiga puluh delapan tahun mengembara, semua orang yang tidak percaya dihabisi. Mengenai ini, Allah sangat sabar. Dia tidak menghabisi orang yang tidak percaya sekaligus, sebaliknya, Dia memakai tiga puluh delapan tahun untuk menghabisi mereka.
D. Menghasilkan Generasi Baru untuk
Menggenapkan Kehendak Allah
Akhirnya, tiga puluh delapan tahun ini dipakai Allah untuk menghasilkan generasi baru untuk menggenapkan kehendak Allah. Di satu pihak, Musa mungkin senang dengan generasi baru ini; di pihak lain, dia mungkin sedih karena kehilangan generasi pertama. Allah telah mengubah generasi dengan cara menghabisi generasi tua. Ini adalah perkara serius. Karena Musa telah menyaksikan musnahnya generasi pertama, dia mungkin berkeluh kesah seperti perkataannya yang dicatat dalam pasal 2. Selain Kaleb dan Yosua, semua nenek moyang telah mati, dan hanya anak-anak mereka yang tersisa.
IX. MENGALAHKAN RAJA SIHON
DAN RAJA OG DAN MENGAMBIL
TANAH MILIK MEREKA DI SEBELAH TIMUR YORDAN
Dalam 2:24—3:22 Musa berkata tentang mengalahkan raja Sihon dan raja Og dan mengambil tanah milik mereka di sebelah timur Yordan. Sihon adalah raja Hesybon, dan Og adalah raja Basan. Perihal orang Israel mengalahkan raja-raja ini dan mengambil tanah-tanahnya bukanlah hal kecil. Ini tentu menjadi sukacita Musa.
A. Mengalahkan Dua Penjaga Pintu Tanah Kanaan
Mengalahkan raja Sihon dan raja Og adalah mengalahkan dua penjaga pintu tanah Kanaan.
B. Mulai Merampas Tanah Permai
Setelah orang Israel mengalahkan Sihon dan Og, orang Israel merampas tanah mereka, yang ada di sebelah timur Yordan. Musa berkata, “Jadi pada waktu itu dari tangan kedua raja orang Amori itu kita merampas negeri yang di seberang sungai Yordan, mulai dari sungai Arnon sampai gunung Hermon” (3:8). Ini adalah permulaan merampas tanah permai.
C. Tanah yang Diambil Diberikan kepada Suku Ruben dan Gad dan Setengah Suku Manasye
Tanah yang diambil dari Sihon dan Og diberikan kepada suku Ruben dan Gad dan setengah suku Manasye sebagai buah sulung kenikmatan atas tanah permai yang dijanjikan Allah (3:12-20).
D. Sebagai Jaminan untuk Kemenangan dan Kepemilikan Sisa Tanah Permai yang Dijanjikan Allah
Dalam 3:21 dan 22 Musa berkata, “Dan kepada Yosua kuperintahkan pada waktu itu, demikian: Matamu sendirilah yang melihat segala yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap kedua raja itu. Demikianlah akan dilakukan TUHAN terhadap segala kerajaan, ke mana engkau pergi. Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu.” Perkataan ini menunjukkan bahwa mengalahkan Sihon dan Og dan merampas tanah mereka adalah jaminan untuk kemenangan dan kepemilikan sisa tanah permai yang dijanjikan Allah.
X. MUSA DITOLAK DALAM HAL MEMASUKI
TANAH PERMAI YANG DIJANJIKAN ALLAH,
YOSUA DIANGKAT UNTUK MEMBAWA
UMAT ITU MEMPEROLEH TANAH ITU SEBAGAI WARISAN MEREKA
Dalam 3:23-29 kita melihat bahwa Musa ditolak dalam hal memasuki tanah permai yang dijanjikan Allah, dan Yosua diangkat untuk membawa umat itu memperoleh tanah itu sebagai warisan mereka.
A. Memperlihatkan Pengaturan Pemerintahan Allah yang Adil
Musa ditolak oleh Allah dalam hal ini, memperlihatkan pengaturan pemerintahan Allah yang adil. Dalam Bilangan 20, Musa telah membuat kesalahan serius, kesalahan yang tidak dapat ditoleransi, karena hal itu menjamah pemerintahan Allah. Pengaturan pemerintahan Allah itu adil, dan sekalipun Dia mengasihi Musa, Dia tidak dapat tidak melaksanakan pemerintahan-Nya karena hal itu. Musa melayani Allah dengan setia selama empat puluh tahun, tetapi karena kesalahannya yang melibatkan pengaturan pemerintahan Allah, dia kehilangan hak memasuki tanah permai.
B. Membuat Orang Israel Semakin Takut kepada Penanggulangan Allah yang Adil
Cara Allah menanggulangi Musa dalam hal tidak mengizinkan dia memasuki tanah permai menyebabkan orang Israel semakin takut kepada penanggulangan Allah yang adil. Memang, Allah adalah Allah yang mengasihi, tetapi kasih-Nya adalah kasih yang menyempurnakan, bukan kasih yang memanjakan. Penanggulangan Allah atas Musa membantu menyempurnakan orang Israel. Dari hal ini, mereka seharusnya mengenal, betapa menakutkan Allah yang adil dalam penanggulangan pemerintahan-Nya. Hukuman yang Musa alami menyempurnakan orang Israel.
XI. NASIHAT SERIUS MUSA
KEPADA BANGSA ISRAEL
Dalam Ulangan 4:1-40 kita memiliki nasihat serius Musa kepada bangsa Israel. Sebagai orang yang berpengalaman dan yang telah didisiplinkan Allah, dia bersyarat memberikan nasihat ini.
A. Seperti Seorang Bapak Tua yang Mengasihi kepada Anak-anaknya yang Dikasihi
Musa telah mengalami tangan penanggulangan Allah yang serius. Maka dalam memberikan nasihat seriusnya, dia seperti bapak tua yang mengasihi berbicara kepada anak-anaknya yang dikasihi.
B. Memerintahkan Orang Israel untuk
Memperhatikan Ketetapan dan Keputusan Allah,
Khususnya Jangan Membuat Berhala
dan Menyembahnya
Musa memerintahkan orang Israel untuk memperhatikan ketetapan dan keputusan Allah, khususnya jangan membuat berhala dan menyembahnya (Ul. 4:1, 16-19, 23-25, 39). Ada perbedaan antara ketetapan dan keputusan. Perjanjian Lama sering membicarakan perintah (hukum Taurat) Allah, ketetapan, dan peraturan. Sepuluh Perintah adalah hukum dasar. Karena perintah-perintah ini tidak lengkap, mereka ditambah dengan ketetapan. Untuk alasan ini, setelah perintah dalam Keluaran 20, dalam Keluaran 21—23 tercatat banyak ketetapan, yang adalah rincian Sepuluh Perintah dan yang adalah tambahan untuk perintah ini. Namun, ketetapan ini tanpa keputusan. Begitu keputusan ditambahkan kepada ketetapan, ketetapan menjadi peraturan. Sebagai contoh, satu dari Sepuluh Perintah menyinggung memperingati hari Sabat (Kel. 20:8-11). Ketetapan yang ditambahkan kepada perintah ini memberikan banyak rincian kepada apa yang dapat dilakukan pada hari Sabat. Satu ketetapan mungkin membicarakan hal bepergian dan yang lain membicarakan hal memasak (Kel. 35:3). Ketetapan demikian tidak menjadi peraturan sebelum keputusan ditambahkan kepadanya. Selanjutnya kita diberi tahu bahwa orang yang tidak memperingati hari Sabat harus dilenyapkan (Kel. 31:14-15). Ini bukan perintah atau ketetapan, melainkan satu peraturan dengan keputusan. Karena itu, perintah adalah hukum Taurat dasar, rincian hukum Taurat adalah ketetapan, dan ketetapan dengan keputusan adalah peraturan. Dalam Ulangan 4, Musa menyuruh bangsa itu untuk memelihara ketetapan dan keputusan Allah.
Musa khusus memerintahkan orang Israel untuk tidak membuat berhala dan menyembahnya. Hukum Allah mengenai menyembah berhala adalah satu perintah, rincian perintah ini adalah ketetapan, dan tambahan keputusan menyebabkan ketetapan menjadi peraturan.
C. Memperingatkan Mereka dengan
Penghakiman Allah
“Maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah. TUHAN akan menyerakkan kamu di antara bangsa-bangsa dan hanya dengan jumlah yang sedikit kamu akan tinggal di antara bangsa-bangsa, ke mana TUHAN akan menyingkirkan kamu” (Ul. 4:26-27). Di sini kita melihat bahwa Musa memperingatkan orang Israel dengan penghakiman Allah.
D. Menjamin Mereka dengan Belas Kasihan dan Berkat Allah
Musa bukan hanya memperingatkan bangsa itu dengan penghakiman Allah, tetapi juga menjamin mereka dengan belas kasihan dan berkat Allah (ayat 30-31, 40).
XII. MUSA MENGKHUSUSKAN TIGA KOTA PERLINDUNGAN DI SEBELAH TIMUR YORDAN
Akhirnya, dalam 4:41-43 Musa mengkhususkan tiga kota perlindungan di sebelah timur Yordan. Setelah mengisahkan kembali hal-hal yang lampau, Musa memikirkan orang yang membunuh sesamanya tanpa sengaja.
A. Orang yang Membunuh Kehilangan Hak Hidup di Tanah Permai
Orang yang membunuh dapat kehilangan hak hidup di tanah permai. Karena itu, kota-kota perlindungan diperlukan bagi mereka yang membunuh orang lain tanpa sengaja.
B. Oleh Kota-kota Perlindungan,
Orang yang Membunuh Masih Bisa Hidup di Tanah Itu
“Lalu Musa mengkhususkan tiga kota di seberang sungai Yordan, di sebelah timur, supaya orang yang membunuh sesamanya manusia dengan tidak sengaja dan dengan tidak memusuhinya lebih dahulu, dapat melarikan diri ke sana, sehingga ia, apabila melarikan diri ke salah satu kota itu, dapat tetap hidup” (ayat 41-42). Ini menunjukkan bahwa melalui melarikan diri ke satu kota perlindungan, orang yang membunuh masih bisa hidup di tanah itu.