MENGULANG HAL-HAL YANG LAMPAU (1)
Pembacaan Alkitab: Ul. 1:2-46
Sembilan butir penting dalam Kitab Ulangan yang dibahas dalam berita yang lalu mewahyukan tiga persona: Allah, manusia, dan Kristus sebagai firman. Dalam sembilan butir ini Allah dinyatakan, manusia disingkapkan, dan Kristus disajikan. Menurut kitab ini, pada Allah ada kasih, keadilan, kesetiaan, dan berkat. Allah memiliki hati, tangan, mulut, dan mata. Hati Allah adalah pengasih, tangan-Nya atau perbuatan-Nya itu adil, dan mulut-Nya atau perkataan-Nya itu setia. Apa pun yang keluar dari mulut Allah akan digenapkan. Mata Allah adalah untuk berkat atau kutuk. Ini adalah Allah yang diwahyukan bukan hanya dalam Kitab Ulangan, tetapi di seluruh Alkitab. Mengenai manusia, Kitab Ulangan mewahyukan bahwa manusia bukan apa-apa. Kita bukan apa-apa, kita tidak memiliki apa-apa, dan kita tidak dapat melakukan apa-apa. Lalu, bagaimana Allah yang pengasih, adil, setia, dan pemberi berkat bisa mengharapkan kita melakukan sesuatu untuk Dia? Allah tidak memiliki pengharapan yang demikian. Sebagai Allah yang berhikmat, Dia tahu bahwa kita mengasihi diri sendiri dan bahwa kita adil dalam cara kita sendiri yang ceroboh dan untuk keuntungan kita sendiri. Jika kita berpikir sesuatu untuk kita, kita melaksanakannya. Ini adalah jenis keadilan kita. Selain itu, jika kita setia, kita setia hanya dalam kepentingan kita sendiri, Terakhir, kita tidak suka memberkati orang lain atau memberi kepada orang lain, kita lebih suka menerima. Karena itu, sungguh menggelikan jika kita berpikir bahwa orang semacam ini dapat melaksanakan tujuan kekal Allah atau menggenapkan ekonomi-Nya.
Butir penting Kitab Ulangan juga adalah butir penting Surat Kiriman Paulus. Tulisan Paulus juga menyatakan Allah sebagai Dia yang mengasihi, adil, dan setia dan sebagai Allah yang memberkati. Selain itu, tulisan Paulus mewahyukan bahwa dalam diri kita sendiri, kita bukan apa-apa. Jika Kitab Ulangan hanya mewahyukan Allah sebagai Dia yang mengasihi, adil, setia, dan memberkati, dan kita sebagai orang yang bukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa dan tidak dapat melakukan apa-apa, situasi kita akan tanpa pengharapan. Namun, Kitab Ulangan juga mewahyukan Kristus sebagai firman. Kita tidak dapat melakukan sesuatu untuk Allah, tetapi kita dapat menerima firman sebagai hayat kita dan suplai hayat kita.
Allah yang mengasihi, adil, setia, dan memberkati tidak menginginkan kita melakukan sesuatu untuk Dia. Dia tahu bahwa kita bukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, dan tidak dapat melakukan apa-apa. Ekonomi-Nya, cara-Nya, bukanlah mengizinkan kita melakukan sesuatu sendiri, melainkan menghendaki kita melakukan sesuatu berdasarkan Kristus, oleh Kristus, melalui Kristus, dan di dalam Kristus. Kristus adalah hayat kita dan suplai hayat kita; karena itu, setiap hari kita perlu makan Dia. Kristus juga kesetiaan dan perwujudan, substansi, dari semua kebutuhan kita (Kol. 2:17). Untuk suplai kita, Kristus adalah firman, dan secara terus-menerus kita perlu mengontak Dia dalam firman dan oleh firman.
Apakah Anda tahu Alkitab? Alkitab bukan hanya kitab sejarah, cerita, dan pengajaran. Alkitab adalah perwujudan Kristus. Apa pun adanya Kristus dan apa pun yang Kristus miliki serta apa pun yang Kristus telah kerjakan, sedang kerjakan, akan kerjakan, dan dapat kerjakan diwujudkan dalam Alkitab. Karena itu, membaca Alkitab adalah berbagian dalam Kristus. Karena Alkitab adalah embusan Allah, nafas Allah, cara terbaik mempelajari Alkitab adalah menghirupnya. Mari kita belajar menghirup Allah Tritunggal dalam firman kudus! Kita tidak seharusnya berpikir bahwa firman itu jauh, dan kita tidak seharusnya bertanya siapa yang akan naik ke surga untuk membawa firman turun atau siapa yang akan pergi menyeberangi laut untuk membawa firman datang kepada kita (Ul. 30:11-13; Rm. 10:6-7). Firman itu sangat dekat, ada di dalam mulut kita dan di dalam hati kita (Ul. 30:14; Rm. 10:8).
Kristus sebagai firman telah turun dalam inkarnasi-Nya, dan Dia telah keluar dari jurang maut, keluar dari alam maut, dalam kebangkitan-Nya. Dalam kebangkitan, Dia menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45) sebagai nafas untuk kita hirup. Ini berarti Dia bukan saja firman, tetapi juga Roh itu. Ketika kita menerima firman-Nya, kita menerima Roh itu, sebab perkataan yang Dia katakan kepada kita adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63). Belajarlah menghirup Bapa, Putra, dan Roh. Jika kita menghirup Allah Tritunggal yang telah melalui proses, anugerah Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh akan menyertai kita (2Kor. 13:13).
Ketika kita menerima firman melalui menghirup Alkitab, kita akan dapat melakukan di dalam Kristus apa yang tidak dapat kita lakukan di dalam diri kita sendiri. Perhatikan apa yang Paulus katakan dalam Surat Filipi, yang adalah pengulangan, pembicaraan ulang perkataan Musa. Dalam Filipi 4:13 Paulus dapat menyatakan, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” “Segala hal” di sini dirinci dalam ayat 8, di mana Paulus mengatakan, “Semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” Sebelum Paulus ada di dalam Kristus, dia tidak dapat melakukan hal-hal ini. Tetapi di dalam Kristus, Yang memberi kekuatan kepada dia, dia dapat melakukan semuanya. Ini juga dapat menjadi pengalaman kita hari ini. Jika kita mau memiliki pengalaman ini, kita perlu menikmati Allah Tritunggal melalui menghirup Alkitab, perwujudan Kristus. Sekarang kita telah melihat bahwa butir penting dalam Kitab Ulangan menyatakan Allah, menyingkapkan manusia, dan menyajikan Kristus, mari kita lanjutkan dengan memperhatikan perkara mengulang hal-hal yang lampau.
I. MANFAAT MENGULANG HAL-HAL
YANG LAMPAU
Mengulang hal-hal yang lampau memiliki manfaat tiga ganda.
A. Membawakan Kita Terang Baru dan Wahyu Baru
Mengulang hal-hal yang lampau membawakan kita terang baru dan wahyu baru. Jika kita mau memiliki terang dan wahyu ini, kita perlu ada di dalam hadirat Tuhan saat kita mengulang masa lampau kita. Kalau tidak, kita akan hanya mengenang kembali, dan ini tidak akan membantu. Jika kita memandang masa lalu kita di hadirat Tuhan, Dia dapat memberi kita terang baru dan wahyu baru menurut apa adanya kita di masa lampau.
B. Membantu Kita Mengenal Hati Allah dan Tangan Allah
Mengulang hal-hal yang lampau juga dapat membantu kita mengenal hati Allah dan tangan Allah. Hati Allah adalah pengasih dan tangan-Nya adalah adil. Ditinjau dari hati-Nya, Allah adalah pengasih; ditinjau dari tangan-Nya, Dia itu adil.
C. Membantu Kita Mengenal Diri Sendiri,
Menghukum Daging,
dan Belajar Menolak Ego dan Daging
Mengulang hal-hal yang lampau membantu kita mengenal diri kita sendiri, menghukum daging, dan belajar menolak ego dan daging. Ketika kita melakukan hal-hal tertentu atau melewati hal-hal tertentu di masa lampau, kita sulit mengenal diri kita sendiri. Tetapi sesudah itu, ketika kita melihat ke belakang, kita dapat menerima terang untuk mengenal diri kita sendiri dan daging kita, supaya kita dapat menolak ego dan daging.
II. PIKIRAN PENGENDALI DARI MENGULANG HAL-HAL YANG LAMPAU
Mengenai mengulang hal-hal yang lampau, ada pikiran pengendalinya. Ketika kita mengulang hal-hal lampau kita, kita harus melakukannya menurut pikiran pengendali ini.
A. Memperlihatkan Hati Allah yang Pengasih dan Penanggulangan Pemerintahan Allah yang Adil
Pengulangan kita atas hal-hal yang lampau harus dikendalikan oleh pikiran bahwa hati Allah adalah pengasih dan bahwa penanggulangan pemerintahan Allah itu adil.
B. Berkat Allah Memerlukan Ketaatan dan Kesetiaan Manusia
Berkat Allah memerlukan ketaatan dan kesetiaan manusia. Ketaatan dan kesetiaan adalah dua syarat yang harus dipenuhi jika kita mau bersyarat menerima berkat Allah. Ketidaktaatan dan ketidaksetiaan adalah halangan terhadap berkat Allah. Jika kita ingin berkat Allah dalam kehidupan pribadi kita, kehidupan sehari-hari kita, kehidupan keluarga kita, dan kehidupan gereja kita, kita harus belajar taat dan setia.
C. Hati Manusia yang Berpaling dari Allah Mengakibatkan Tragedi yang Serius
Berpalingnya hati manusia dari Allah mengakibatkan tragedi yang serius. Berpaling dari Allah dan dari firman-Nya, yang adalah Kristus, berarti kehilangan semua berkat dan mengalami kutuk. Tiga butir ini, yang berhubungan dengan hati pengasih Allah dan penanggulangan pemerintahan Allah yang adil, ketaatan dan kesetiaan manusia, dan akibat yang tragis karena manusia memalingkan hatinya dari Allah menyusun pikiran pengendali dari pengulangan hal-hal yang lampau. Pikiran ini, yang terdapat di seluruh Alkitab dan yang tampak jelas dalam Perjanjian Baru, harus mengendalikan kita setiap kali kita bermaksud meninjau keadaan kita.
III. PERJALANAN DARI GUNUNG ALLAH
SAMPAI PINTU MASUK TANAH KUDUS
Dalam Kitab Ulangan mengulang hal-hal yang lampau membahas perjalanan dari gunung Allah sampai pintu masuk tanah kudus (1:2, 19). Gunung Allah, disebut Gunung Horeb, adalah satu dari banyak puncak gunung di sekitar Sinai. Gunung Horeb adalah tempat Musa tinggal bersama Allah dan menerima perkataan Allah. Dalam pengalaman kita hari ini, Gunung Horeb adalah tempat Allah berbicara. Melalui pembicaraan Allah di Gunung Horeb, kita diperlengkapi dengan visi mengenai Kristus dan gereja, kita dibangunkan sebagai jabatan imam, dan kita dibentuk menjadi pasukan. Perjalanan orang Israel dimulai dari gunung Allah. Dari Gunung Horeb, mereka berjalan sampai Kadesh-Barnea, pintu masuk tanah permai.
A. Telah Diperlengkapi dengan Pengenalan atas Hukum Taurat
Di Gunung Horeb Allah memperlengkapi, atau melatih, bangsa itu dengan pengenalan atas hukum Taurat (Kel. 20—23). Kita dapat berkata bahwa perihal memperlengkapi ini adalah arahan yang diberikan Allah kepada mereka.
B. Telah Diperlengkapi dengan Wahyu tentang Kemah Suci dan Tabut
Orang Israel juga diperlengkapi dengan wahyu, visi mengenai Kemah Suci dan tabut (Kel. 25—27). Tabut adalah lambang Kristus, dan Kemah Suci adalah lambang gereja. Jika kita mau berjalan bersama Allah dan berperang untuk Dia hari ini, kita harus diperlengkapi dengan wahyu mengenai Kristus dan gereja.
C. Telah Berbagian dalam Pembangunan
Tempat Tinggal Allah di Bumi
Setelah melihat wahyu mengenai Kemah Suci dan tabut, orang Israel berbagian dalam pembangunan Kemah Suci sebagai tempat tinggal Allah di bumi (Kel. 36-38). Situasinya sama dengan kita hari ini. Pertama kita melihat wahyu mengenai Kristus dan gereja, kemudian kita berbagian dalam pembangunan tempat tinggal Allah di bumi.
D. Telah Dibangunkan Menjadi Susunan Imamat untuk Melayani Allah
Selain pembangunan Kemah Suci, ada pembangunan susunan imamat untuk melayani Allah (Kel. 28—30). Pelayanan yang tepat terhadap Allah hanya dapat diberikan kepada Dia oleh susunan imamat. Dari sini kita melihat bahwa melayani Allah bukan hal biasa, melainkan luar biasa. Pelayanan ini diberikan oleh sekelompok orang yang terlatih yang melayani Allah sebagai imam dalam tempat tinggal-Nya.
E. Telah Dibentuk Menjadi Pasukan untuk Berjalan dan Berperang Bersama Allah
Orang Israel juga dibentuk, atau disusun, menjadi pasukan untuk berjalan dan berperang bersama Allah (Bil. 1—9). Perjalanan mereka adalah perjalanan peperangan, karena dalam perjalanan ini mereka harus berperang berkali-kali. Sebelum umat Allah dapat berperang untuk Dia, mereka harus terbangun sebagai tempat tinggal-Nya, dibangun sebagai satuan pelayanan, dan dibentuk menjadi pasukan imam. Karena itu, orang Israel memiliki tiga status: mereka adalah tempat tinggal, susunan imamat, dan pasukan.
F. Di Bawah Pimpinan Allah dalam Awan
Orang Israel berjalan di bawah pimpinan Allah dalam awan (Bil. 10:11-28, 33-36). Walaupun mereka berjalan di bumi, mereka ada di bawah pimpinan surgawi. Mereka dipimpin bukan oleh sesuatu di bumi, tetapi oleh Allah yang ada di surga. Allah mengambil pimpinan dalam perjalanan mereka.
G. Dari Gunung TUHAN
Orang Israel memulai perjalanan mereka dari gunung TUHAN (Bil. 10:33; Kel. 3:1; 24:13, 16). Hari ini, gunung Allah kita adalah tempat kita diperlengkapi, dibangun, dan dibentuk menjadi pasukan. Dari tempat inilah kita memulai perjalanan kita. Sebelum orang Israel memulai perjalanan mereka dari gunung Allah sampai memasuki tanah kudus, mereka diperlengkapi, dibangun, dan dibentuk menjadi pasukan. Ini menunjukkan bahwa jika kita belum diperlengkapi, dibangun, dan dibentuk menjadi pasukan imam, kita tidak dapat berjalan bersama Allah. Ada jutaan orang Kristen hari ini yang tidak menerima perlengkapan yang tepat, yaitu belum dilatih dan disempurnakan. Selain itu, orang-orang Kristen ini belum dibangun sebagai tempat tinggal dan sebagai susunan imamat dan belum dibentuk menjadi pasukan untuk berperang bagi Allah. Sebagai akibatnya, mereka tidak dapat berjalan bersama Allah. Agar bisa berjalan bersama Allah di bawah pimpinan surgawi-Nya, kita harus lebih dulu diperlengkapi, dibangun, dan dibentuk menjadi pasukan.
H. Ke Kadesh-Barnea—Pintu Masuk Tanah Kudus
Bangsa itu berjalan sampai Kadesh-Barnea, tempat yang dianggap sebagai pintu masuk tanah kudus (Bil. 12:16; 13:3, 26).
I. Jarak Sebelas Hari Perjalanan
Jarak dari gunung Allah sampai Kadesh-Barnea adalah sebelas hari perjalanan (Ul. 1:2).
J. Hampir Empat Puluh Tahun Terbuang dalam
Pengembaraan di Padang Gurun
Orang Israel berdosa kepada Allah oleh ketidakpercayaan mereka. Karena ketidakpercayaan mereka, mereka membuang hampir empat puluh tahun dalam pengembaraan di padang gurun (1:3).
IV. MEMBUNUH SIHON, RAJA ORANG AMORI, DAN OG, RAJA BASAN
Setelah empat puluh tahun di padang gurun, bangsa itu sampai ke dataran selatan Yordan, dan mereka membunuh dua raja yang adalah penjaga pintu ke tanah permai, Sihon, raja orang Amori, dan Og, raja Basan (1:4).
A. Akhir Pengembaraan Orang Israel di Padang Gurun
Membunuh dua raja ini adalah akhir pengembaraan orang Israel di padang gurun. Jika ingin pengembaraan kita berakhir, kita perlu membunuh Sihon dan Og hari ini.
B. Membuka Pintu Gerbang
ke Dalam Tanah yang Dijanjikan
Membunuh dua raja ini juga membuka pintu gerbang ke dalam tanah yang dijanjikan.
V. PERINTAH ALLAH KEPADA
ORANG ISRAEL UNTUK MENINGGALKAN
GUNUNG ALLAH
Allah memerintahkan orang Israel untuk meninggalkan gunung Allah supaya mereka memasuki tanah permai yang Dia janjikan kepada nenek moyang mereka (1:5-8). Mereka telah dilatih oleh Allah dan dibentuk menjadi pasukan imam dan mereka memiliki sasaran pasti dalam perjalanan, tanah permai yang dijanjikan kepada nenek moyang mereka.
VI. MENUNJUK HAKIM-HAKIM
Ulangan 1:9-18 menggambarkan penunjukan hakimhakim.
A. Menunjukkan bahwa Tidaklah Mudah Menjaga Kondisi Orang Israel dalam Pengaturan yang Baik
Menunjuk hakim-hakim menyatakan bahwa tidaklah mudah menjaga kondisi orang Israel dalam pengaturan yang baik. Bangsa itu lebih dari dua juta jumlahnya, dan tidak mungkin Musa sendiri menjaga mereka tetap tertib.
B. Menjaga Pengaturan yang Baik Diperlukan untuk
Tempat Tinggal Allah, untuk Pelayanan kepada-Nya dan untuk Memerangi Musuh
Menjaga keteraturan diperlukan untuk tempat tinggal Allah, untuk pelayanan kepada-Nya, dan untuk memerangi musuh. Tempat tinggal, susunan imamat, dan pasukan semuanya memerlukan pengaturan yang baik.
C. Perlu Wakil Kekuasaan dan Ketaatan
Untuk memelihara keteraturan di antara orang Israel perlu wakil kekuasaan dan ketaatan. Wakil kekuasaan mewakili Allah sebagai kekuasaan. Bangsa itu perlu taat kepada wakil kekuasaan ini.
VII. KEGAGALAN DI KADESH-BARNEA
Orang Israel memiliki kegagalan yang besar di Kadesh-Barnea (Ul. 1:19-46; 2:14-15). Kegagalan ini menyebabkan “sampai seluruh angkatan itu, yakni prajurit, habis binasa dari perkemahan” (2:14).
A. Karena Ketidakpercayaan Mereka kepada Allah dan kepada Janji-Nya
Kegagalan orang Israel di Kadesh-Barnea dikarenakan ketidakpercayaan mereka kepada Allah dan kepada janji-Nya (1:32, 35). Allah adalah setia, dan firman-Nya, yang adalah janji-Nya, tidak dapat gagal. Namun, bangsa itu tidak percaya kepada Allah atau pun kepada janji-Nya. Ketidakpercayaan mereka ini menyalahi Allah.
B. Walaupun Allah Mendukung Mereka
Dalam 1:31 Musa berkata, “Dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa Tuhan, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.” Allah mendukung bangsa itu melalui padang gurun yang mengerikan dari gunung Allah sampai Kadesh-Barnea. Namun, walaupun Allah mendukung mereka, orang Israel tidak percaya kepada-Nya atau kepada janji-Nya.
C. Semua Orang yang Tidak Percaya Dihabisi di Padang Gurun dalam Pengembaraan Selama Tiga Puluh Delapan Tahun
Semua orang yang tidak percaya dihabisi di padang gurun dalam pengembaraan selama tiga puluh delapan tahun (2:14-15). Ini memperlihatkan kepada kita bahwa tidak percaya kepada Allah adalah hal yang mengerikan. Kita perlu berhati-hati mengenai ketidakpercayaan.
D. Hanya Kaleb dan Yosua yang Terkecuali
Semua orang yang bisa berperang tewas, kecuali Kaleb dan Yosua (1:36-38).
E. Ketidakpercayaan Menyebabkan Ketidaktaatan kepada Allah
Dalam 1:41-45 kita melihat bahwa ketidakpercayaan menyebabkan ketidaktaatan kepada Allah. Alasan kita tidak taat kepada Allah adalah kita tidak percaya kepada-Nya. Ketidakpercayaan menyebabkan ketidaktaatan kita kepada Allah. Ministri Perjanjian Baru adalah ministri iman, dan firman Perjanjian Baru adalah firman iman. Maka kita memulai kehidupan kristiani kita dan hidup gereja kita oleh iman. Tanpa iman kita tidak dapat menempuh kehidupan kristiani atau pun hidup gereja. Ketidakpercayaan merusak kita dan membawa kita ke dalam tragedi.
Berkenaan dengan percaya kepada Allah, kita harus melupakan masa lalu kita, tetapi berkenaan dengan mengenal Allah dan diri kita sendiri, kita seharusnya mengingat masa lalu kita. Pengulangan yang tepat atas hal-hal lampau akan membantu kita tidak lagi percaya kepada diri sendiri, melainkan meletakkan kepercayaan kita mutlak kepada Allah. Melalui mengulang hal-hal yang lampau kita dapat belajar untuk tidak percaya kepada diri sendiri. Apa adanya kita tidak lain adalah ego yang tidak dapat dipercaya; apa yang kita miliki tidak lain adalah daging. Karena itu, kita harus belajar menolak ego dan daging dan meletakkan kepercayaan kita mutlak kepada Allah, Dia adalah Sang setia, firman-Nya tidak pernah gagal.