NASIHAT DAN PERINTAH TERAKHIR
Pembacaan Alkitab: Ul. 31:1-13, 24-29
Dalam berita ini kita akan melihat nasihat dan perintah terakhir. Walaupun Musa telah membicarakan banyak hal dalam pasal-pasal di depan, dalam pasal 31, dia seperti bapak yang tua yang memperhatikan anak-anaknya, masih memiliki sesuatu untuk dikatakan. Karena dia begitu memperhatikan orang Israel, maka dia menyampaikan beberapa hal yang sama berulang-ulang.
I. NASIHAT MUSA KEPADA BANGSA ITU
Dalam 31:1-6 kita memiliki nasihat Musa kepada bangsa itu.
A. Musa Membicarakan Perkataan Ini kepada Seluruh Orang Israel
Perkataan Musa dalam ayat-ayat ini dikatakan kepada seluruh orang Israel (Ul. 31:1).
B. Berkata kepada Mereka bahwa Dia Telah Berusia Seratus Dua Puluh Tahun
dan Tidak Dapat Lagi Keluar dan Masuk
Musa memberi tahu bangsa itu bahwa dia telah berusia seratus dua puluh tahun dan tidak dapat lagi keluar dan masuk, dan TUHAN telah memberi tahu dia bahwa dia tidak dapat menyeberang Sungai Yordan (Ul. 31:2). Ini adalah perkataan yang menyedihkan, sebab Musa ingin menyeberang Sungai Yordan, tetapi tidak diizinkan melakukannya.
C. TUHAN Allah Mereka Menyeberang di Depan
Mereka dan Memunahkan Bangsa-bangsa di Hadapan Mereka
Dalam ayat 3 Musa memberi tahu orang Israel bahwa TUHAN Allah mereka menyeberang di depan mereka dan akan memunahkan bangsa-bangsa di hadapan mereka, dan mereka akan memiliki negerinya. Dalam ayat ini Musa juga berkata bahwa Yosua adalah orang yang menyeberang di depan mereka, seperti yang TUHAN katakan. Perkataan Musa di sini adalah ekspresi perhatian dalam hatinya untuk Israel.
D. TUHAN Melakukan terhadap Bangsa-bangsa
Sama seperti yang Dia Lakukan terhadap
Sihon dan Og dan Tanah Mereka
Dalam ayat 4 dan 5 Musa berkata bahwa TUHAN akan melakukan terhadap bangsa-bangsa itu sama seperti yang Dia lakukan terhadap Sihon dan Og dan terhadap negeri mereka. Dia akan menyerahkan bangsa-bangsa itu di depan orang Israel. Kemenangan Allah atas Sihon dan Og adalah jaminan untuk bangsa itu bahwa Dia akan mengalahkan semua raja di Kanaan, merebut tanah mereka, dan memberikannya kepada orang Israel sebagai warisan mereka.
E. Mendorong Seluruh Orang Israel Menjadi Kuat dan Teguh, Tidak Takut, maupun Gemetar terhadap Bangsa-bangsa
Akhirnya, dalam ayat 6 Musa mendorong seluruh orang Israel menjadi kuat dan teguh, tidak takut, maupun gemetar terhadap bangsa-bangsa, sebab TUHAN Allah mereka berjalan menyertai mereka dan Dia tidak akan membiarkan mereka atau meninggalkan mereka.
II. NASIHAT MUSA KEPADA YOSUA
Ayat 7 dan 8 adalah nasihat Musa kepada Yosua.
A. Musa Memanggil Yosua dan Berbicara kepada Dia di Depan Seluruh Orang Israel
Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya” (Ul. 31:7).
B. Musa Memberi Tahu Yosua bahwa TUHAN Berjalan di Depan Dia dan Akan Menyertai Dia
Musa juga menjamin Yosua bahwa TUHAN akan berjalan di depan dia dan TUHAN akan menyertai dia. Selain itu, TUHAN tidak akan membiarkan dia atau meninggalkan dia (Ul. 31:8a). Maka, Musa menutup nasihatnya kepada Yosua dengan perintah ini: “Janganlah takut dan janganlah patah hati” (Ul. 31:8b).
III. NASIHAT MUSA KEPADA IMAM-IMAM,
ANAK-ANAK LEWI, DAN PARA TUA-TUA ISRAEL
Dalam ayat 9-13 dan 24-29 kita memiliki nasihat Musa kepada imam-imam, anak-anak Lewi, dan para tua-tua Israel.
A. Musa Memerintahkan Mereka bahwa pada Akhir
Setiap Tujuh Tahun, pada Tahun Pembebasan,
pada Hari Raya Pondok Daun, Mereka Harus
Membacakan Hukum Taurat Ini
di Hadapan Seluruh Orang Israel
Ayat 9 mengatakan, “Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel.” Musa memerintahkan mereka bahwa pada akhir setiap tujuh tahun, pada tahun pembebasan, pada Hari Raya Pondok Daun, ketika seluruh orang Israel datang bersama di hadapan TUHAN Allah mereka di tempat yang Dia pilih, mereka harus membacakan hukum Taurat di depan seluruh orang Israel (Ul. 31:10-11). Mereka harus mengumpulkan bangsa itu, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang-orang asing yang bersama mereka, bahwa mereka harus mendengar, belajar, dan takut kepada TUHAN Allah mereka dan melakukan segala perkataan hukum Taurat ini (Ul. 31:12). Mereka harus melakukan ini supaya anak-anak mereka, yang tidak tahu hal-hal ini, dapat mendengar dan belajar untuk takut kepada TUHAN seumur hidup, supaya mereka dapat hidup di atas tanah yang akan mereka seberangi dan yang akan mereka miliki (Ul. 31:13).
B. Musa Memerintahkan Orang Lewi Pengangkut
Tabut Perjanjian Mengambil Kitab Hukum Taurat
Ini dan Meletakkannya di Samping Tabut,
supaya Menjadi Saksi terhadap Mereka
Ketika Musa selesai menulis perkataan dari hukum Taurat ini dalam satu kitab sampai perkataan penghabisan, dia memerintahkan orang Lewi pengangkut tabut perjanjian mengambil kitab ini dan meletakkannya di samping tabut, supaya menjadi saksi terhadap mereka (Ul. 31:24-26). Musa memberi perintah ini karena dia tahu kedegilan orang Israel dan tegar tengkuknya mereka (Ul. 31:27a). Ketika dia masih hidup bersama mereka, mereka telah memberontak terhadap TUHAN. Terlebih lagi setelah dia mati (Ul. 31:27b)! Perkataan Musa di sini disampaikan menurut keperihatinan hatinya kepada umat Allah.
C. Musa Mengumpulkan Semua Tua-tua Suku
dan Pengatur Pasukan supaya Dia Dapat Menyampaikan Perkataan Ini
dan supaya Dia Dapat Memanggil Langit dan Bumi Menjadi Saksi terhadap Mereka
Musa mengumpulkan semua tua-tua suku dan pengatur pasukan supaya dia dapat menyampaikan perkataan ini dan supaya dia dapat memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka (Ul. 31:28). Dia tahu bahwa setelah dia mati, orang Israel akan berlaku busuk dan menyimpang dari jalan yang telah dia perintahkan kepada mereka (Ul. 31:29a). Akibatnya, malapetaka akan menimpa mereka di kemudian hari, sebab mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN sehingga menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tangan mereka (Ul. 31:29b).
Karena Musa akan pergi, hatinya tertuju kepada orang Israel, tetapi dia tidak tenang. Tahu bahwa Israel akan memberontak terhadap Allah, Musa mengulang-ulang perintahnya. Dia seolah-olah berkata kepada bangsa itu, “Aku tidak tenang memikirkan kalian, dan aku tidak percaya kepada kalian. Kalian sering memberontak ketika aku masih hidup, dan aku prihatin setelah aku pergi, kalian akan memberontak lagi.” Akhirnya, apa yang Musa khawatirkan terkait dengan orang Israel menjadi fakta, karena tidak lama setelah itu, mereka memberontak sekali lagi. Karena itu keprihatinan Musa, bapak yang tua, adalah benar.
Kita seharusnya tidak berpikir bahwa perhatian Musa adalah berlebihan. Dia tahu bahwa orang Israel adalah pemberontak dalam sifat, bahwa pemberontakan adalah bagian dari diri mereka. Karena mereka memiliki sifat pemberontak, mereka akhirnya akan memberontak terhadap Allah. Tidak peduli berapa banyak pengajaran yang diterima bangsa itu melalui Musa, hakim-hakim, dan imam-imam, mereka masih mengikuti allah lain dan menyembah berhala. Mereka berbuat terlalu jauh sampai menempatkan berhala dalam bait. Kelihatannya orang Israel ini menjadi lebih kafir dibandingkan orang kafir. Walaupun mereka menerima banyak pelatihan, mereka masih sama dan terus memberontak.
Kita perlu mengingat bahwa apa yang digambarkan mengenai orang Israel adalah gambaran kita hari ini. Gambaran ini memperlihatkan kepada kita apa adanya kita. Karena sifat kita sama seperti orang Israel, penyingkapan mereka adalah penyingkapan kita. Banyak orang di antara kita telah ada dalam hidup gereja bertahun-tahun; kita telah mendengar khotbah dan membaca Alkitab Versi Pemulihan. Namun, kita seharusnya tidak memiliki kepercayaan dalam diri kita sendiri, karena kita memiliki sifat pemberontak, dan kita adalah pemberontak. Kita tersusun dari pemberontakan. Karena itu, kita benar-benar perlu belas kasihan dan anugerah Tuhan.
Sekarang kita dapat memahami bahwa Musa, sebelum dia mati, tidak tenang sehubungan dengan orang Israel. Nasihat terakhirnya sebenarnya pengulangan dari banyak perkataan yang telah dia katakan sebelumnya. Khususnya, dia menasihati mereka agar jangan menyimpang dari TUHAN Allah mereka dan mengikuti allah lain. Dia seolah-olah memberi tahu mereka, “Jangan lupakan apa adanya kalian, dan jangan lupa apa yang TUHAN Allahmu inginkan dari kalian. Ingatlah perintahku kepada kalian dan perkataan yang telah aku katakan kepada kalian. Tujuh tahun sekali hukum Taurat ini harus dibacakan di hadapan kalian oleh imam-imam. Dalam tahun ketujuh, ketika kalian menikmati Hari Raya Pondok Daun, kalian harus mendengarkan perkataan dari hukum Taurat ini.”
Hari ini kita semua perlu menyadari bahwa sifat kita sama seperti orang Israel dan seharusnya kita tidak mempercayai diri kita. Kita seharusnya tidak menjamin bahwa di dalam diri kita, kita dapat berdiri dan tinggal dalam hidup gereja. Kita mungkin menikmati Tuhan di pagi hari, tetapi beberapa jam kemudian kita mungkin memberontak terhadap Dia. Karena kita tidak memiliki jaminan bahwa kita dapat tetap setia kepada Tuhan, mari secara konstan kembali kepada Dia dan menghirup Dia, menerima Dia sebagai firman ke dalam diri kita.