PENETAPAN PERJANJIAN
Pembacaan Alkitab: Ul. 29—30
Setelah pengulangan hukum Taurat dan perkataan peringatan dengan berkat dan kutuk, Allah memerintahkan Musa untuk membuat perjanjian dengan generasi yang baru. Generasi yang lalu telah menerima perjanjian empat puluh tahun berselang di Horeb, tetapi pada pasal 29 dan 30, Allah memerintahkan Musa untuk menetapkan perjanjian lain dengan generasi yang baru. Dalam berita ini kita akan melihat penetapan perjanjian ini.
I. PENDAHULUAN
Dalam 29:1-17 terdapat pendahuluan.
A. Perjanjian Selain Perjanjian yang Allah Buat dengan Bangsa Itu di Horeb
Perjanjian yang ditetapkan dalam pasal 29 dan 30 adalah perjanjian yang TUHAN perintahkan kepada Musa untuk dibuat dengan orang Israel di tanah Moab. Ini berarti perjanjian ini berbeda dengan perjanjian yang Dia buat dengan mereka di Horeb, yaitu, di Gunung Sinai (29:1). Peringatan bertujuan untuk mengingatkan bangsa itu, sedangkan penetapan perjanjian adalah untuk menguatkan peringatan ini.
B. Berdasarkan Pengalaman yang Lampau
Penetapan perjanjian ini berdasar pada pengalaman yang lampau (Ul. 29:2-8, 16-17).
1. Semua Perbuatan TUHAN yang Orang Israel Lihat
di Tanah Mesir dengan Tanda-tanda
dan Mukjizat-mukjizat yang Besar
Penetapan perjanjian ini berdasar pada semua perbuatan TUHAN yang orang Israel lihat di tanah Mesir dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang besar, untuk hal itu TUHAN tidak memberi mereka hati untuk memahami, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar sampai hari itu (Ul. 29:2-4, 16a). Karena orang Israel memberontak di padang gurun, mereka tidak memahami apa yang Allah lakukan atas mereka. Mereka mengalami banyak hal, tetapi mereka berada dalam kegelapan dan tidak tahu apa yang terjadi.
2. Semua yang Mereka Alami di Padang Gurun
Penetapan perjanjian ini juga berdasar pada semua yang orang Israel alami di padang gurun selama empat puluh tahun (Ul. 29:5a, 16b-17). Pakaian mereka tidak lapuk, dan mereka tidak makan roti atau minum anggur atau minuman keras, supaya mereka tahu bahwa TUHAN adalah Allah mereka (Ul. 29:5b-6).
3. Membunuh Sihon, Raja Hesybon, Og, Raja Basan, dan Mengambil Tanah Mereka
Orang Israel membunuh Sihon, raja Hesybon, Og, raja Basan, dan mengambil tanah mereka untuk diwariskan kepada dua setengah suku: Ruben dan Gad dan Manasye (Ul. 29:7-8). Semua hal ini adalah mukjizat yang dilakukan TUHAN di depan mata bangsa itu, supaya menguatkan orang Israel dan menjamin mereka bahwa Dia akan memenuhi apa pun yang Dia janjikan. Jadi, pengalaman yang lampau ini menjadi dasar untuk penetapan perjanjian.
C. Sasaran dan Tujuan Penetapan Perjanjian
Dalam 29:9-15 kita memiliki sasaran dan tujuan penetapan perjanjian.
1. Sasaran
Sasaran perjanjian ini adalah para kepala suku, para tua-tua, para pengatur pasukan, semua laki-laki Israel, anak-anak, istri-istri, dan orang-orang asing yang bersama mereka, dari tukang-tukang belah kayu mereka sampai tukang-tukang timba air mereka (Ul. 29:10-11). Sasaran ini juga termasuk semua orang yang saat itu ada di sana, berdiri di hadapan TUHAN dan orang yang tidak ada di sana (Ul. 29:14-15).
2. Tujuan
a. Agar Orang Israel Masuk ke Dalam Perjanjian dengan TUHAN Allah Mereka dan ke Dalam Sumpah Janji-Nya
Tujuan penetapan perjanjian ini adalah agar orang Israel masuk ke dalam perjanjian dengan TUHAN Allah mereka, dan ke dalam sumpah janji-Nya yang Dia buat dengan mereka, agar mereka memegang perjanjian ini dan melakukannya, supaya mereka dapat berhasil dalam semua yang mereka kerjakan (Ul. 29:12, 9). Perjanjian ini bukan satu keputusan perjanjian, melainkan sumpah. Perjanjian di sini dapat dibandingkan dengan satu kontrak di mana kedua pihak yang terlibat menandatangani surat ini. Perjanjian demikian dibuat oleh Allah melalui Musa, sebagai perantara.
b. Agar Allah Menetapkan Orang Israel Menjadi Umat-Nya, Diri-Nya Menjadi Allah Mereka
Tujuan penetapan perjanjian ini juga agar Allah menetapkan orang Israel menjadi umat-Nya dan diri-Nya menjadi Allah mereka (Ul. 29:13). Kedua pihak, Allah dan orang Israel, ada dalam persetujuan dan “menandatangani” perjanjian ini. Bani Israel harus melakukan bagian mereka, dan Allah harus melakukan bagian-Nya. Ini adalah penetapan perjanjian.
II. ISI PERJANJIAN
Dalam 29:18—30:10 kita memiliki isi perjanjian. Ini adalah perkara penting.
A. Janganlah di Antara Orang Israel Ada Laki-laki
atau Perempuan, Kaum Keluarga atau Suku
yang Hatinya Berpaling Meninggalkan TUHAN,
Allah Mereka, untuk Pergi Berbakti kepada Allah
Bangsa-bangsa Itu; Janganlah di Antara Mereka
Ada Akar yang Menghasilkan Racun atau Ipuh
Di antara orang Israel tidak boleh ada laki-laki atau perempuan, kaum keluarga atau suku yang hatinya berpaling meninggalkan TUHAN, Allah mereka, untuk pergi berbakti kepada allah bangsa-bangsa itu (Ul. 29:18a). Ini adalah keprihatinan Allah satu-satunya sehubungan Israel. Dia prihatin bahwa suatu hari mereka akan berpaling meninggalkan Dia dan pergi mengikuti berhala. Ini adalah suatu penghinaan kepada Allah, dan ini akan menyebabkan Dia menghukum bangsa itu dengan keras.
Selain itu, di antara mereka jangan ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh (Ul. 29:18b), jangan ada orang yang menyangka dirinya tetap diberkati, berkata, “Aku akan selamat, walaupun aku berlaku degil, dengan demikian dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan” (Ul. 29:19). “Akar yang menghasilkan racun” di sini mengacu kepada orang yang memberontak yang bangkit dari antara bangsa itu, serupa dengan orang yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 20:30, orang “yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka.” Akhirnya, orang yang memberontak demikian menjadi akar yang menghasilkan racun atau ipuh. Pernyataan dilenyapkannya baik tanah yang kegenangan maupun yang kekeringan adalah idiom Ibrani yang menunjukkan penghancuran segala sesuatu sepanjang jalannya. TUHAN tidak akan mengampuni orang demikian, tetapi sebaliknya murka dan cemburu-Nya akan menyala-nyala terhadap orang itu, segala kutuk dalam kitab ini akan dicurahkan ke atas dia, dan TUHAN akan menghapuskan namanya dari kolong langit (Ul. 29:20). Terlebih lagi, TUHAN akan memisahkan dia dari segala suku Israel supaya dia mendapat celaka (Ul. 29:21).
B. Keturunan yang Akan Datang dari Orang Israel
dan Orang Asing yang Datang dari Negeri Jauh, Melihat Hajaran dan Penyakit
Keturunan yang akan datang dari orang Israel dan orang asing yang datang dari negeri jauh, melihat hajaran dan penyakit, dan seluruh tanah itu yang telah hangus oleh belerang dan garam, yang tidak ditaburi, tidak menumbuhkan apa-apa dan tidak ada tumbuh-tumbuhan apa pun yang timbul dari padanya, berkata: “Apakah sebabnya TUHAN berbuat demikian kepada negeri ini?” (Ul. 29:22-24). Jawabannya adalah karena orang Israel meninggalkan perjanjian TUHAN dan melayani allah lain, murka TUHAN menyala terhadap tanah itu, menimpakan ke atasnya segala kutuk; dan TUHAN telah menyentakkan mereka dari tanah mereka dalam murka dan kepanasan amarah dan gusar-Nya yang hebat, lalu melemparkan mereka ke negeri lain (Ul. 29:25-28).
Ayat 29 menutupnya, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” Ini menunjukkan bahwa kita harus memperhatikan hal-hal yang dinyatakan dan tidak mencari hal-hal yang tersembunyi. Untuk orang Israel dalam Ulangan 29, hal-hal yang dinyatakan adalah hukum Taurat, perintah-perintah, peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan. Mereka harus memperhatikan hal-hal ini supaya mereka dapat melakukan semua perkataan hukum Taurat.
C. Jika Ketika Hidup di Antara Bangsa-bangsa,
Orang Israel Berbalik kepada TUHAN Allah Mereka
dan Mendengarkan Suara-Nya dengan Segenap Hati
dan dengan Segenap Jiwa,
Dia Akan Mengembalikan Mereka dari Pembuangan
Jika ketika hidup di antara bangsa-bangsa, yang kepadanya TUHAN Allah telah menghalau mereka, orang Israel dan anak-anak mereka berbalik kepada Dia dan mendengarkan suara-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa mereka, Allah akan mengembalikan mereka dari pembuangan dan menjadi penghiburan bagi mereka, dan Dia akan mengumpulkan mereka dari segala bangsa yang ke tengahnya mereka telah Dia serakkan dan membawa mereka ke dalam tanah yang dimiliki nenek moyang mereka dan akan melakukan yang baik untuk mereka dan melipatgandakan mereka (Ul. 30:1-5). Dia akan menyunat hati mereka (Ul. 30:6a), berarti Dia akan mengubah sifat pemberontak mereka. Mereka kemudian akan mengasihi Dia dengan segenap hati mereka dan dengan segenap jiwa mereka (Ul. 30:6b). Dia akan meletakkan semua kutuk ke atas musuh mereka dan akan memberi mereka kemakmuran yang berlebih dalam segala usaha mereka, dan akan bersukaria atas mereka karena kebaikan (Ul. 30:7-10).
Janji ini, yang adalah nubuat, belum digenapi, tetapi kita sedang menantikan pengenapannya. Situasi dunia sudah sangat dekat dengan penggenapan nubuat ini. Akhirnya, orang Yahudi akan membangun kembali bait, dan bahkan sekarang mereka sedang bersiap untuk hal ini. Segera setelah mereka menemukan situs bait Allah yang lama. Bait Allah akan didirikan. Ketika kita melihat hal-hal ini terjadi, kita akan tahu bahwa “musim panas” waktu pemulihan sudah dekat (Mat. 24:32 dan kuningcatatannya). Kita semua harus menyiapkan diri untuk hal ini dan harus berjaga-jaga dan berdoa.
III. PENUTUP
Dalam 30:11-20 kita memiliki kata penutup Musa.
A. Perintah yang Musa Perintahkan kepada Orang Israel
Tidak Terlalu Sukar bagi Mereka, ataupun Terlalu Jauh
Perintah yang Musa perintahkan kepada orang Israel tidak terlalu sukar bagi mereka, ataupun terlalu jauh (Ul. 30:11). Tidak di langit tempatnya, sehingga mereka harus berkata: “Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?” (Ul. 30:12). Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga mereka harus berkata: “Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?” (Ul. 30:13). Tetapi perintah ini sangat dekat kepada mereka, yakni di dalam mulut mereka dan di dalam hati mereka, supaya mereka dapat melakukannya (Ul. 30:14). Seperti telah kita tekankan, dalam Roma 10:6-10 Paulus menghubungkan firman yang dikatakan di sini kepada Kristus agar kaum beriman Perjanjian Baru menerima keselamatan. Ini adalah dasar kita mengatakan bahwa Kristus disingkapkan seluruhnya di Kitab Ulangan.
B. Musa Menghadapkan kepada Orang Israel
Kehidupan dan Keberuntungan,
Kematian dan Kecelakaan
Musa menghadapkan kepada orang Israel kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan (Ul. 30:15). Jika mereka menaati perintah TUHAN Allah mereka untuk mengasihi Dia, berjalan dalam jalan-Nya, dan memegang perintah, ketetapan, dan peraturan-Nya, mereka akan hidup dan berkembang biak, dan Dia akan memberkati mereka di tanah yang mereka masuki dan miliki (Ul. 30:16). Namun, jika hati mereka berpaling dan mereka tidak mau mendengarkan, bahkan sebaliknya mereka mengikuti penyembahan kepada allah lain dan melayani allah lain, mereka pasti akan dihukum (Ul. 30:17-18a). Umur mereka tidak akan panjang di atas tanah yang akan mereka miliki di seberang Sungai Yordan (Ul. 30:18b). Musa memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka: ia membentangkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk (Ul. 30:19a). Dia menasihati mereka untuk memilih kehidupan supaya mereka dan keturunan mereka dapat hidup, mengasihi TUHAN Allah mereka melalui mendengarkan suaraNya dan berpaut kepada Dia; sebab Dia adalah kehidupan mereka dan panjang umur mereka, supaya mereka dapat tinggal di atas tanah yang Dia janjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka (Ul. 30:19b-20).
Melalui memperhatikan penetapan perjanjian dalam Ulangan 29 dan 30, kita dapat melihat bahwa apa yang Allah inginkan atas umat-Nya adalah mereka mau bekerja sama dengan Dia. Memegang perintah, ketetapan, dan peraturan, yaitu bekerja sama dengan Allah. Ini adalah apa yang Allah ingin kita lakukan. Kita perlu berkata, “Tuhan, aku berdiri di pihak-Mu. Aku menerima-Mu, kehendak-Mu, dan firman-Mu.” Namun, kita seharusnya tidak mencoba melakukan ini dalam diri sendiri dan oleh diri sendiri. Berbuat demikian adalah menghina Tuhan. Kita seharusnya cukup bekerja sama dengan Dia melalui membiarkan Dia melakukan segala sesuatu. Jika kita berbuat demikian, kita bukan menjadi pelaku, tetapi penikmat. Kemudian segala sesuatu akan digenapi. Mari kita mengingat bahwa seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, pada pintu masuk tanah permai ada tugu yang ditulisi tuntutan Allah, meminta kita memuaskan kedambaan Allah. Ketika kita mengakui bahwa kita tidak dapat memenuhi tuntutan ini, kita harus berpaling ke mezbah dengan kurban persembahan, yang melambangkan Kristus sebagai Pengganti kita, dan menjadi penikmat dan bukan pelaku. Kemudian kita akan menerima berkat demi berkat.