PENGULANGAN HUKUM TAURAT (14)
Pembacaan Alkitab: Ul. 20:1-20; 21:10-17
Dalam berita ini kita akan melihat tiga perkara: orang Israel pergi ke medan perang melawan musuh-musuh mereka (20:1-20), menikahi perempuan-perempuan cantik di antara para tawanan (21:10-14), dan hak anak sulung (21:15-17).
K. Mengenai Orang Israel Pergi ke Medan Perang
Melawan Musuh-musuh Mereka
Ulangan 20:1-20 membicarakan orang Israel pergi ke medan perang melawan musuh-musuh mereka. Hari ini kita juga ada dalam peperangan. Dalam peperangan ini, kita berperang untuk Kristus, juga berperang untuk tinggal di dalam Kristus. Tanah permai adalah lambang Kristus. Jika kita mau hidup di dalam Kristus sebagai tanah kita, kita perlu berperang.
1. Jangan Takut kepada Kuda, Kereta, dan Orang yang Lebih Banyak daripada Mereka
Ketika orang Israel melihat kuda, kereta, dan orang yang lebih banyak daripada mereka, mereka tidak boleh takut kepadanya, sebab TUHAN, Allah mereka, menyertai mereka (Ul. 20:1). Selama Allah menyertai mereka, mereka dijamin pasti menang.
2. Imam Berbicara kepada Umat
Ketika umat Allah menghadapi pertempuran, seorang imam harus tampil ke depan dan berbicara kepada mereka. Dia menyampaikan perkataan ini: “Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu” (Ul. 20:3-4). Karena Sang perkasa berperang menyertai mereka, mereka boleh tenang.
3. Para Pengatur Pasukan Berbicara kepada Umat Itu
Dalam ayat 5-7 terdapat pembicaraan pertama para pengatur pasukan kepada umat itu. Pembicaraan ini menunjukkan bahwa Allah tidak memaksa orang Israel pergi berperang. Jika ada orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya, ia boleh pulang ke rumahnya, “supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya” (Ul. 20:5). Jika seseorang telah membuat kebun anggur, tetapi belum mengecap hasilnya, ia boleh pulang ke rumahnya, “supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengecap hasilnya” (Ul. 20:6). Jika seseorang telah bertunangan, tetapi belum mengawini orang itu, ia boleh pulang ke rumahnya, “supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang mengawininya” (Ul. 20:7). Semua orang yang memiliki rumah baru atau kebun anggur atau bertunangan dapat kembali ke rumah untuk menikmati hidup.
4. Para Pengatur Pasukan Berbicara Lebih Lanjut kepada Umat Itu
Menurut ayat 8, para pengatur pasukan berbicara lebih lanjut kepada umat itu, katanya, “Siapa takut dan lemah hati? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya hati saudara-saudaranya jangan tawar seperti hatinya.” Jika orang demikian tetap tinggal, dia akan mempengaruhi orang lain, menyebabkan mereka takut. Pasukan harus kuat dan semangat juang akan lebih tinggi tanpa dia. Pasukan Gideon menyatakan hal ini (Hak. 7:3).
5. Para Pengatur Pasukan Menunjuk Kepala Pasukan Tentara
Setelah para pengatur pasukan mengakhiri pembicaraannya kepada bangsa itu, para pengatur pasukan menunjuk kepala pasukan tentara (Ul. 20:9). Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu dilakukan dalam pengaturan yang baik dan urutan yang baik.
6. Bangsa Itu Mendekati Kota
untuk Berperang Melawannya,
Harus Menawarkan Pendamaian dengannya
Ketika bangsa itu mendekati suatu kota untuk berperang melawannya, mereka harus menawarkan pendamaian dengannya (Ul. 20:10). Jika tawaran ini dijawab dengan damai dan mereka membuka pintu gerbang bagi orang Israel, semua orang di dalam kota itu harus menjadi pekerja rodi mereka dan melayani orang Israel (Ul. 20:11). Kalau tidak, orang Israel harus mengepung kota itu (Ul. 20:12).
7. Orang Israel Harus Membunuh Setiap Laki-laki di Kota
Itu yang Telah Diserahkan ke Dalam Tangan Mereka,
tetapi Perempuan, Anak-anak, Hewan,
dan Segala yang Ada di Kota Boleh Diambil
sebagai Jarahan
Ketika TUHAN Allah mereka menyerahkan kota itu ke dalam tangan orang Israel, mereka harus membunuh setiap laki-laki dengan mata pedang (Ul. 20:13). Tetapi perempuan, anak-anak, hewan, dan segala yang ada di kota itu diambil sebagai jarahan mereka untuk kenikmatan mereka (Ul. 20:14).
8. Apa pun yang Bernafas Tidak Dibiarkan Hidup
dari Kota yang TUHAN Allah Serahkan
kepada Orang Israel Menjadi Milik Pusaka
Dari kota-kota bangsa-bangsa yang diberikan TUHAN Allah kepada orang Israel menjadi milik pusaka, tidak dibiarkan hidup apa pun yang bernafas (Ul. 20:16). Sebaliknya, orang Israel harus menghancurkan mereka, supaya mereka tidak mengajar orang Israel berbuat sesuai dengan segala kekejian yang mereka lakukan untuk allah mereka (Ul. 20:17-18). Praktek jahat harus diakhiri dengan menghukum mati orang yang melakukan praktek tersebut.
9. Ketika Mengepung Kota, Orang Israel Tidak Boleh Merusakkan Pohon-pohonnya yang Buahnya Baik untuk Dimakan
Ketika orang Israel mengepung suatu kota selama berhari-hari untuk merebutnya, mereka tidak boleh merusakkan pohon-pohonnya yang buahnya baik untuk dimakan (Ul. 20:19). Namun, boleh menebang pohon-pohon yang tidak menghasilkan makanan, untuk mendirikan pagar pengepungan terhadap kota itu sampai kota itu jatuh (Ul. 20:20).
L. Mengenai Menikahi Perempuan-perempuan Cantik di Antara para Tawanan
Dalam Ulangan 21:10-14 tercantum perkataan tentang menikahi perempuan-perempuan cantik di antara para tawanan. Ketika orang Israel melihat perempuan cantik di antara para tawanan dan mau mengambilnya sebagai istri, orang Israel itu harus membawanya ke dalam rumahnya (Ul. 21:12a). Perempuan itu harus mencukur rambutnya dan memotong kukunya, dan menanggalkan pakaian yang dipakainya pada waktu ditawan (Ul. 21:12b-13a). Perempuan itu harus tinggal di rumah orang Israel itu untuk menangisi ibu bapanya sebulan lamanya (Ul. 21:13b). Sesudah itu, bolehlah orang Israel itu menghampirinya dan menjadi suaminya, sehingga ia menjadi istrinya (Ul. 21:13c). Jika setelah itu dia tidak suka lagi kepadanya, maka haruslah dia membiarkannya pergi sesuka hatinya; tidak boleh sekali-kali dia menjualnya dengan bayaran uang; tidak boleh dia memperlakukannya sebagai budak, sebab dia telah memaksanya (Ul. 21:14). Penanggulangan Allah di sini adalah adil dan sangat manusiawi.
M. Mengenai Hak Kesulungan
Ulangan 21:15 membicarakan kasus seorang yang memiliki dua istri, satu dicintai dan yang lain tidak dicintai; yang dicintai dan tidak dicintai keduanya melahirkan bagi dia anak laki-laki, maka anak sulung adalah dari istri yang tidak dicintai. Pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari istri yang dicintai merugikan anak dari istri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung. Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari istri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama (Ul. 21:16-17).
Kelihatannya, perkara peperangan dalam 20:1-20 dan hak kesulungan dalam 21:15-17 tidak terkait satu sama lain. Namun, secara rohani, peperangan dan hak kesulungan saling terkait, sebab hanya melalui peperangan kita dapat menjaga hak kesulungan kita. Karena kita menjaga hak kesulungan kita melalui berperang, jika kita tidak berperang, kita akan kehilangan hak kesulungan, seperti Esau kehilangan hak kesulungannya (Ibr. 12:16-17). Mereka yang tidak berperang karena memperhatikan rumah, kebun anggur, atau tunangannya atau karena takut, tidak akan berbagian dalam kemenangan. Tidak akan ada rampasan, jarahan, untuk mereka nikmati. Karena mereka tidak berperang, mereka akan kehilangan hak kesulungan mereka.
Dalam berperang untuk menjaga hak kesulungan kita, kita harus belajar bersandar kepada Allah. Dalam diri sendiri, kita tidak memiliki kekuatan atau kemampuan untuk berperang. Jika kita bersandar kepada diri sendiri, kita tidak akan memiliki jaminan bahwa kita akan menang dalam peperangan. Karena kita ada dalam peperangan, kita perlu menyadari bahwa kita berperang untuk apa yang Allah berikan kepada kita. Tanah permai telah diberikan kepada kita oleh Allah, tetapi kita masih perlu berperang melawan musuh-musuh. Kita seharusnya tidak hanya berdoa, tetapi juga berperang. Sebenarnya, kita bukan orang-orang yang berperang, sebab Allah menyertai kita dan berperang untuk kita. Begitu musuh-musuh dikalahkan, tanah akan siap untuk diwariskan kepada kita.
Prinsip peperangan ini sama dengan prinsip yang ditemukan di seluruh Kitab Ulangan. Prinsip ini adalah Allah menginginkan kita melakukan hal-hal tertentu, tetapi Dia tidak menginginkan kita melakukan hal-hal ini bersandarkan diri sendiri. Kita memang harus berperang, tetapi kita tidak dapat memenuhi kewajiban ini bersandarkan diri sendiri. Kita dapat memenuhi kewajiban kita untuk berperang hanya oleh iman di dalam Tuhan. Kita perlu percaya bahwa Tuhan telah menetapkan kita untuk berperang dan bahwa Dia akan berperang untuk kita. Kita cukup menerima firman-Nya dan menaati Dia, tahu bahwa hasilnya tergantung pada Dia. Jika kita memenuhi kewajiban kita secara demikian, Tuhan akan berkenan.
Kapan kala Tuhan meminta kita melakukan sesuatu untuk Dia, Dia tidak bermaksud menyuruh kita melakukan hal itu sendiri. Kita tidak mampu melakukan segala sesuatu yang Tuhan minta kita kerjakan. Mencoba memelihara perintah-Nya oleh kekuatan kita adalah menghina Allah; ini adalah kekejian di mata-Nya. Jika kita mencoba melakukan hal ini, Tuhan akan berkata, “Aku tidak meminta kamu melakukan sesuatu untuk-Ku oleh kekuatan atau kemampuanmu, sebab kamu tidak memiliki kekuatan atau kemampuan. Apa yang Aku minta kamu lakukan untuk-Ku, Aku ingin kamu lakukan bersandarkan Aku. Belajarlah percaya kepada-Ku, bersandar kepada-Ku. Aku bisa melakukan segalanya untukmu. Aku hanya ingin kamu berbagian dalam pekerjaan-Ku. Aku ingin melakukan sesuatu di dalam manusia dan bersama dengan manusia. Untuk ini, Aku perlu memiliki manusia yang bekerja sama dengan Aku. Jika kamu bekerja sama dengan-Ku, Aku akan dapat melakukan apa yang Aku ingin lakukan.” Melakukan sesuatu untuk Tuhan bukan bersandarkan diri kita sendiri, melainkan bersandarkan Tuhan, inilah yang diperkenan-Nya.
Di lubuk batin kita ada satu hal yang jahat. Hal jahat ini, yang kelihatannya sangat baik, adalah: kita ingin melakukan kehendak Allah dan menggenapkan kehendak Allah bersandarkan diri sendiri. Di mata Allah, kedambaan ini, walaupun kelihatannya lumayan baik, sebenarnya buruk sekali. Kita seharusnya tidak pernah berpikir bahwa bersandarkan diri sendiri kita mampu melakukan sesuatu untuk Allah. Mana mungkin kita melakukan sesuatu untuk Allah bersandarkan diri sendiri. Kita perlu hayat yang lain, hayat ilahi, hayat Allah. Untuk memiliki hayat ini, kita harus dilahirkan kembali, yaitu, kita perlu dilahirkan dari Allah. Berdasarkan hayat kita yang tercipta, kita tidak dapat melaksanakan apa yang Allah minta; kita tidak memiliki kapasitas untuk melakukan kehendak Allah. Bahkan jika pikiran kita jernih, kasih kita seimbang, dan tekad kita kuat, kita masih tidak memiliki kapasitas untuk memelihara perintah Allah, atau melakukan kehendak-Nya.
Allah menginginkan kita mengekspresikan Dia. Tetapi apakah kita, dalam diri sendiri dan berdasarkan diri sendiri, mampu mengekspresikan Allah? Tentu tidak! Sama seperti anjing tidak dapat mengekspresikan burung, kita dengan hayat kita yang tercipta tidak dapat mengekspresikan Allah. Untuk mengekspresikan Allah, kita harus memiliki hayat Allah. Hayat ini adalah hayat ilahi, hayat kekal. Sebenarnya, hayat ini adalah Allah Tritunggal yang diwujudkan di dalam Kristus, yang direalisasikan sebagai Roh pemberi-hayat.
Meskipun kita telah menerima hayat ilahi, kita belum terbiasa hidup berdasarkan hayat ilahi. Kita tidak pernah memiliki pikiran hidup berdasarkan hayat ilahi. Sebaliknya, kita terus bersandar kepada hayat lama kita. Kita sering berdoa untuk perbaikan hayat lama. Dalam doa kita kita mungkin berkata, “Tuhan, Engkau tahu betapa lemahnya aku.” Tuhan mungkin menjawab, “Tidak perlu kamu memberi tahu Aku bahwa kamu lemah. Aku tahu kamu lemah. Kamu bukan saja lemah, kamu mati. Inilah alasan Aku memberimu hayat yang lain. Mengapa kamu tidak hidup berdasarkan hayat yang baru ini, yang telah Kuberikan kepadamu?” Saya tidak yakin setiap orang di antara kita, termasuk diri saya, tahu bagaimana hidup berdasarkan hayat ilahi. Jika kita tidak berjaga-jaga, kita akan berdoa memohon Tuhan memperbaiki hayat lama kita, meminta Tuhan untuk membetulkan diri kita. Doa yang demikian adalah suatu kebodohan, membencikan. Kita mungkin jelas bahwa Kitab Ulangan menyatakan Allah, menyingkapkan kita, dan mengungkapkan Kristus sebagai hayat kita, suplai hayat kita, dan segala sesuatu kita. Namun, kita tidak membawa pengenalan ini ke dalam pelaksanaan. Alih-alih hidup berdasarkan hayat ilahi, kita mungkin berpaling ke hayat lama dan meminta Tuhan Yesus menolong kita untuk kemajuan diri sendiri.
Saya mengapresiasi butir-butir yang dibahas dalam berita ini, khususnya perkataan mengenai peperangan. Orang yang memperhatikan tentang rumah, kebun anggur, atau istri mereka, dan mereka yang takut, tidak diperbolehkan bergabung dengan pasukan yang pergi berperang. Prinsipnya sama dengan kita hari ini. Seluruh gereja adalah pasukan, tetapi tidak setiap orang harus bergabung dalam peperangan. Apakah kita dapat berbagian atau tidak dalam peperangan tergantung pada situasi kita. Hanya orang yang tidak terikat oleh sesuatu dapat bergabung dalam peperangan. Karena mereka berperang, mereka harus memiliki jaminan untuk berkata, “Bukan aku yang berperang. Yang berperang adalah Tuhan yang aku percayai.”
Dalam memenuhi tuntutan Allah, kita tidak seharusnya bersandar diri sendiri. Kita perlu belajar mengambil keinginan Tuhan sebagai keinginan kita dan berkata, “Tuhan, aku ingin apa yang Engkau inginkan. Dalam melaksanakan keinginan-Mu, aku tidak bersandar pada diriku, sebab aku tidak mampu melakukan kehendak-Mu. Tuhan, karena aku tidak bersandar pada diriku dan karena aku tidak memiliki kekuatan untuk memenuhi keinginan-Mu, maka aku mengambil Engkau sebagai hayat dan suplai hayatku.”