← Daftar isi Ulangan (4) · bab 16/30

PENGULANGAN HUKUM TAURAT (9)

Pembacaan Alkitab:

Ul. 14:22-27; 15:19-23; 16:1-17, 21-22; 17:27; 23:21-23; 26:1-11

Dalam berita ini kita akan memperhatikan ketetapan dan peraturan umum yang berhubungan dengan penyembahan Allah.

C. Mengenai Menyembah Allah

Setelah membicarakan tentang memperhatikan orang-orang yang miskin, Musa sampai kepada perkara memperhatikan keperluan Allah, perkara yang berhubungan dengan penyembahan Allah.

1. Dengan Memberikan Persepuluhan dari Semua Hasil Ternak dan Panen Mereka

Dalam penyembahan mereka kepada Allah, orang Israel dituntut memberikan persepuluhan dari semua hasil ternak dan panen mereka (14:22-27). Mereka harus memberikan kepada Allah sepersepuluh dari penghasilan mereka dari ladang atau dari ternak mereka.

a. Dipersembahkan di Tempat yang Akan TUHAN Pilih untuk Tempat Tinggal-Nya

“Di hadapan Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan Tuhan, Allahmu” (Ul. 14:23). Di sini kita melihat bahwa orang Israel tidak memiliki hak untuk mempersembahkan persepuluhan mereka di tempat pilihan mereka. Sebaliknya, mereka harus membawa persepuluhan itu ke tempat yang akan TUHAN pilih untuk menegakkan nama-Nya dan tempat tinggal-Nya. Ini berarti persepuluhan itu dipersembahkan di pusat unik (satu-satunya) untuk menyembah Allah.

b. Dimakan di Hadapan Allah dengan Sukacita

Di tempat yang Allah pilih, tempat untuk nama dan tempat tinggal Allah dan tempat mezbah, kurban-kurban persembahan dimakan oleh bangsa itu di hadapan Allah dengan sukacita (Ul. 14:23, 26). Ini berarti persepuluhan itu dinikmati bersama Allah. Makan “di hadapan TUHAN” adalah makan bersama Dia. Orang Israel mempersembahkan persepuluhan kepada Allah dan kemudian mereka menikmati di hadapan Allah dan bersama Allah apa yang mereka persembahkan kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan kita menikmati Kristus-Nya bersama Dia di tempat pilihan-Nya. Kapan kala kita datang bersama dalam nama Tuhan, dalam roh, dan bersama salib (mezbah), kita bersidang bersama Allah melalui Kristus. Kita datang bersama untuk menikmati Kristus bersama Allah.

c. Dinikmati Bersama Orang Lewi yang Tinggal Bersama Mereka

“Juga orang Lewi yang diam di dalam tempatmu janganlah kauabaikan, sebab ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau” (Ul. 14:27). Ayat ini mem-perlihatkan kepada kita bahwa Allah tidak melupakan orang Lewi, orang yang melayani Dia sepenuh waktu dan yang tidak memiliki warisan dan pekerjaan, yang hidup bersandar Dia. Karena itu, dalam mempersembahkan persepuluhan kepada Allah dan menikmati persepuluhan bersama Allah, umat Allah melibatkan orang Lewi. Mereka menikmati persepuluhan dengan orang Lewi yang tinggal bersama mereka.

d. Belajar Selalu Takut akan Allah

Orang Israel harus makan persepuluhan di hadapan Allah di tempat pilihan-Nya supaya mereka dapat belajar selalu takut akan Allah (Ul. 14:23). Andaikata seorang Israel berkata, “Aku tidak perlu membawa persepuluhan ini ke tempat yang telah Allah pilih. Aku dapat menikmatinya di rumah bersama orang Lewi di kotaku.” Bersikap demikian adalah menyalahi Allah dan tidak takut kepada Allah. Bangsa itu harus memberikan persepuluhan mereka mutlak menurut pengaturan Allah. Jika mereka melakukan hal ini, mereka akan belajar selalu takut akan Allah.

2. Dengan Mempersembahkan Sapi dan Kambing Jantan yang Sulung

Dalam 15:19-23 kita melihat bahwa orang Israel harus menyembah Allah juga dengan mempersembahkan sapi dan kambing jantan yang sulung.

a. Dikuduskan untuk TUHAN Allah

“Segala anak sulung jantan yang lahir di antara lembu sapimu dan kambing dombamu, haruslah kaukuduskan bagi TUHAN, Allahmu; janganlah engkau memakai anak sulung lembumu, dan janganlah engkau menggunting bulu anak sulung dombamu” (Ul. 15:19). Di sini kita melihat bahwa orang Israel tidak dapat memakai anak sulung lembu sapi dan kambing domba yang dikuduskan bagi Allah, untuk tujuan mereka sendiri. Karena anak sulung lembu adalah milik Allah, maka hewan itu tidak dapat dipakai untuk bekerja. Demikian juga, karena anak sulung domba adalah milik Allah, maka hewan itu tidak dapat dicukur. Bangsa itu tidak berhak untuk memakai apa yang telah dikuduskan untuk Allah.

b. Dimakan di Hadapan TUHAN Allah di Tempat yang Akan Dia Pilih

“Di hadapan TUHAN, Allahmu, engkau harus memakan dagingnya tahun demi tahun di tempat yang akan dipilih TUHAN, engkau ini dan seisi rumahmu” (Ul. 15:20). Yang sulung, seperti persepuluhan, boleh dimakan, tetapi hanya di tempat yang akan TUHAN Allah pilih.

c. Jangan Mengurbankan kepada TUHAN Allah Setiap Binatang yang Cacat, Timpang, atau Buta

Setiap binatang yang ada cacatnya, timpang, atau buta, tidak boleh dikurbankan kepada TUHAN Allah (Ul. 15:21), sebab adalah kekejian bagi Dia (Ul. 17:1). Hewan demikian boleh dimakan, kecuali darahnya, di tempat bangsa itu tinggal (Ul. 15:22-23). Dari sini kita melihat bahwa bagian tertentu harus diberikan kepada Allah di tempat pilihan-Nya dan dinikmati di sana bersama Dia; namun, bagian lain, karena tidak ada hubungannya dengan menyembah Allah, boleh dinikmati oleh bangsa itu di tempat mereka tinggal.

3. Dengan Memelihara Tiga Hari Raya Tahunan yang Utama

Menurut Ulangan 16:1-17, orang Israel harus menyembah Allah dengan memelihara tiga hari raya tahunan yang utama: hari raya Roti tidak Beragi (hari raya Paskah), hari raya Tujuh Minggu (hari raya Pentakosta), dan hari raya Pondok Daun. Hari-hari raya ini secara berurutan melambangkan hari raya penebusan Kristus, hari raya dihasilkannya gereja, dan hari raya datangnya kerajaan. (Agar lebih jelas, silakan lihat Pelajaran-Hayat Imamat pasal 23.)

4. Dengan Tidak Ada Campuran Berhala

Dalam Ulangan 16:21-22, orang Israel disuruh menyembah Allah dengan tidak ada campuran berhala. Dalam aliran kekristenan tertentu banyak campuran semacam ini.

a. Dilarang Menanam Suatu Pohon

di Samping Mezbah TUHAN sebagai Asyera

“Janganlah engkau menanam sesuatu pohon sebagai tiang berhala (Asyera) di samping mezbah TUHAN, Allahmu, mezbah yang akan kaubuat bagimu” (Ul. 16:21). Asyera adalah patung dewi, dan mezbah melambangkan salib. Katolikisme membawa hal-hal kafir tertentu dan menambahkannya kepada salib sehingga menghasilkan percampuran. Buku seperti The Two Babylons (Dua Babilon) membeberkan sumber campuran tersebut.

b. Dilarang Mendirikan Tugu Berhala, yang TUHAN Benci

Mendirikan tugu juga dilarang. “Janganlah juga kaudirikan bagimu tugu berhala, yang dibenci oleh TUHAN, Allahmu” (Ul. 16:22).

5. Dengan Melempari Sampai Mati Orang yang Melanggar Perjanjian Allah dan Melayani Allah Lain

Dalam Ulangan 17:2-7 kita melihat bahwa umat Allah dituntut untuk melempari sampai mati orang yang melanggar perjanjian Allah dan melayani allah lain, bersujud menyembah kepadanya atau menyembah matahari, bulan, atau benda-benda di langit. Dengan demikian, orang Israel akan benar-benar menghapus kekejian, kejahatan, dari antara bangsa itu.

6. Dengan Bernazar kepada TUHAN

Ulangan 23:21-23 membicarakan mengenai menyembah Allah dengan bernazar kepada Dia.

a. Orang Israel Tidak Boleh Menunda-nunda Memenuhi Nazar kepada TUHAN Allah Mereka

“Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu” (Ul. 23:21). Bernazar kepada Allah lalu tidak memenuhinya, tidak melaksanakannya, adalah dosa. Kalau kita bernazar kepada Tuhan, kita harus memenuhinya sesegera mungkin.

Ada orang beriman mungkin ingin bernazar kepada Tuhan untuk melayani Dia sepenuh waktu. Sebenarnya, Allah “lapar” dan “haus”, menantikan kita melakukan hal ini. Dia ingin orang-orang menjadi milik Dia dan melayani Dia sepenuh waktu. Orang duniawi, meskipun diciptakan oleh Allah, telah melupakan Allah dan telah meninggalkan Allah. Mereka sibuk dalam dunia, memperhatikan diri sendiri dan kepentingan sendiri, membiarkan Allah lapar dan haus, dan hampir tidak ada orang yang mau melayani Dia sepenuh waktu. Allah sangat ingin orang ciptaan-Nya berbalik kepada Dia. Dia senang ketika ada orang yang berbalik kepada Dia mau melayani Dia sepenuh waktu. Allah menunggu lebih banyak orang milik-Nya melakukan hal ini.

b. Tidak Menjadi Dosa bagi Mereka Jika Mereka Tidak Bernazar

“Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu” (Ul. 23:22). Allah adalah Allah yang menghargai kehendak bebas kita. Ini berarti Dia tidak memaksa kita untuk mempersembahkan diri kepada Dia. Allah haus akan tenaga sepenuh waktu, tetapi berjanji untuk melayani Dia secara demikian adalah perkara kehendak bebas kita. Jika kita tidak bernazar demikian, Allah tidak akan menganggapnya sebagai dosa. Tetapi jika kita telah bernazar kepada Tuhan, kita harus memenuhinya. Jika tidak, kegagalan memenuhi nazar akan dianggap sebagai dosa.

c. Memperhatikan dan Melakukan Apa yang Keluar dari Bibir Mereka

“Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri” (Ul. 23:23). Orang yang bernazar dengan sukarela, berjanji kepada Allah untuk melakukan hal tertentu, dituntut untuk memegang dan melakukan apa yang keluar dari bibir mereka. Hari ini, orang yang berjanji melayani Tuhan sepenuh waktu harus memegang janji mereka dan memenuhi nazarnya.

7. Dengan Mempersembahkan Hasil Pertama

dari Semua Hasil Tanah Permai Setelah Memasukinya

dan Memilikinya sebagai Warisan

Setelah orang Israel masuk dan memiliki tanah permai sebagai warisan, mereka harus mempersembahkan kepada Allah sebagian dari hasil pertama dari semua hasil tanah permai (26:1-11).

a. Orang Israel Membawa Sebagian dari Hasil Pertama dari Tanah Mereka dan Membawanya ke Tempat yang Akan TUHAN Pilih untuk Membuat Nama-Nya Diam di Sana

“Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana” (Ul. 26:1-2). Persembahan ini adalah sesuatu yang ditambahkan pada persepuluhan. Seperti persepuluhan, bagian dari semua hasil pertama (buah sulung) harus dibawa ke tempat yang akan TUHAN pilih. Di tempat ini, mereka dan Allah menikmati bagian yang dipersembahkan kepada Allah ini.

b. Pergi kepada Imam yang Melayani dan Membuat Pernyataan kepada TUHAN Allah Mereka

Dalam menyembah Allah melalui mempersembahkan sebagian hasil pertama dari tanah permai, orang Israel harus pergi kepada imam yang melayani dan membuat pernyataan. “Dan sesampainya kepada imam yang ada pada waktu itu, haruslah engkau berkata kepadanya: Aku memberitahukan pada hari ini kepada TUHAN, Allahmu, bahwa aku telah masuk ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang kita untuk memberikannya kepada kita” (Ul. 26:3). Sekarang, karena Allah telah memenuhi janji-Nya mengenai tanah permai, mereka harus membawa sebagian hasil dari tanah itu untuk kenikmatan Allah.

c. Imam Mengambil Kurban Persembahan dan Meletakkannya

di Depan Mezbah TUHAN Allah Mereka, dan Orang Israel Merespons dan Menceritakan Sejarah Mereka di Hadapan-Nya

Imam harus mengambil kurban persembahan dan meletakkannya di depan mezbah TUHAN Allah mereka (Ul. 26:4). Kemudian orang Israel harus merespons dan menceritakan sejarah mereka di hadapan-Nya, bagaimana TUHAN telah menyelamatkan mereka dari penindasan orang Mesir, melepaskan mereka keluar dari Mesir, dan membawa mereka ke tanah permai, tanah yang mengalirkan susu dan madu, dan bagaimana mereka membawa hasil pertama dari tanah permai, yang TUHAN Allah mereka telah berikan kepada mereka (Ul. 26:5-10a). Kemudian mereka harus menempatkan hasil ini di hadapan TUHAN Allah mereka dan bersujud menyembah Dia (Ul. 26:10b). Mereka tidak boleh menikmati buah sulung tanah sebelum mereka mempersembahkannya kepada Allah.

d. Mereka, Orang Lewi, dan Orang Asing di Antara Mereka

Bersukaria karena Segala yang Baik yang Diberikan TUHAN Allah Mereka kepada Mereka

“Dan haruslah engkau, orang Lewi dan orang asing yang ada di tengah-tengahmu bersukaria karena segala yang baik yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu dan kepada seisi rumahmu” (Ul. 26:11). Mereka harus mengingat Allah dan semua yang Dia telah berikan kepada mereka. Tujuh butir yang dibahas dalam berita ini memperlihatkan kepada kita cara yang tepat untuk menyembah Allah. Hari ini kita perlu menyembah Allah dengan Kristus. Inilah alasan Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus menyembah Bapa dalam roh dan dalam realitas (Yoh. 4:23-24). Menyembah Allah dalam roh kita berarti kita menyembah Dia dalam roh perbauran, dalam roh kita yang dibaurkan dengan Roh ilahi. Menyembah Allah dalam realitas berarti kita menyembah Dia dengan Kristus sebagai realitas dari semua kurban persembahan.

Memperhatikan penyembahan yang tepat kepada Allah adalah memperhatikan keperluan Allah. Allah lapar dan haus akan penyembahan yang sejati. Yohanes 4 mewahyukan bahwa Bapa mencari penyembah-penyembah yang sejati, yaitu orang yang menyembah Dia secara tepat. Kita dalam pemulihan Tuhan seharusnya menjadi penyembah-penyembah yang demikian.

Jika kita mau menyembah Allah dengan tepat, kita perlu menghormati nama-Nya, bersidang di tempat tinggal-Nya, dan menyembah di tempat mezbah (salib) berada. Ketika kita bersidang untuk menyembah, kita harus berkumpul bersama ke dalam nama Tuhan (Mat. 18:20) dan memelihara nama-Nya. Kita tidak sepatutnya memiliki nama lain. Karena tempat tinggal Tuhan ada di dalam roh kita yang dilahirkan kembali (Ef. 2:22), kita juga perlu melatih roh kita, yang berbaur dengan Roh ilahi. Di sini, dalam roh perbauran kita dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah untuk kenikmatan-Nya dan juga kenikmatan kita. Kenikmatan ini memuaskan Allah dan membuat Dia senang. Kita akan dipuaskan juga, dan akan ada saling memuaskan. Selain itu, di bawah anugerah Tuhan, kita perlu belajar pelajaran salib, tidak melakukan sesuatu oleh diri sendiri, tetapi menyadari bahwa kita telah disalibkan dengan Kristus dan bahwa Kristus hidup di dalam kita (Gal. 2:19b-20). Dalam setiap sidang kita harus dapat menyatakan bahwa kita hidup dalam nama Tuhan dan dalam roh perbauran dan bahwa kita melakukan segala sesuatu melalui salib. Dengan demikian, kita menjadi kesaksian yang hidup bagi Allah yang kita percayai dan kita sembah. Ini adalah penyembahan yang tepat kepada Allah dalam pemulihan Tuhan.