PENGULANGAN HUKUM TAURAT (6)
Pembacaan Alkitab: Ul. 13:1-18
Dalam Ulangan 12, kita memiliki perkataan yang jelas mengenai menjaga keesaan umat Allah. Dalam pasal 13, yang akan kita bahas dalam berita ini, kita memiliki lebih banyak perkataan yang jelas, perkataan mengenai kemurtadan.
R. Musa Mengajar Orang Israel
Mengenai Kemurtadan
Apa yang dimaksud kemurtadan? Dalam Perjanjian Lama, kemurtadan mengacu kepada meninggalkan Allah dan berpaling dari Allah kepada berhala. Dalam Perjanjian Baru, kemurtadan mengacu kepada menyangkal keilahian Kristus; ini mengacu kepada tidak percaya bahwa Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Keberadaan Allah adalah misteri (rahasia), dan inkarnasi Allah menjadi manusia yang bernama Yesus adalah misteri yang lebih besar. Itulah sebabnya, orang lebih sulit mempercayai bahwa Allah menjadi manusia daripada mempercayai Allah itu ada. Ketika kita mengontak orang dalam pemberitaan Injil, mula-mula kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa Allah itu ada. Kita dapat memakai Surat Roma untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa Allah itu ada. Kemudian kita perlu memberi tahu mereka bahwa Allah ini berinkarnasi menjadi manusia.
Orang Kristen tertentu, yang disebut Aliran Modern, tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Sebaliknya, mereka percaya bahwa Tuhan Yesus hanyalah seorang manusia, bahwa Dia adalah guru, dan bahwa Dia mati sebagai seorang martir, bukan untuk merampungkan penebusan. Mereka tidak mengakui bahwa Yesus Kristus telah datang dalam daging (1Yoh. 4:2-3). Kepercayaan mereka terhadap Kristus adalah bidah, dan dengan menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna, mereka telah mengambil jalan murtad.
Perjanjian Baru menanggulangi dengan keras perpecahan dan penyangkalan ajaran bahwa Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. “Jikalau seseorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab siapa yang memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2Yoh. 10-11). Ajaran yang dimaksud Rasul Yohanes di sini adalah ajaran yang menyatakan Allah datang melalui inkarnasi menjadi manusia. Dalam Injilnya Yohanes mengatakan, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita . . . penuh anugerah dan kebenaran” (Yoh. 1:1, 14). Surat 2 Yohanes memperlihatkan kepada kita bahwa bahkan pada saat itu, banyak yang disebut kaum beriman tidak mengakui bahwa Yesus Kristus Tuhan telah datang dalam daging. Yohanes selanjutnya memberi tahu kita bahwa kita seharusnya tidak menerima mereka, bahkan tidak memberi salam kepada mereka yang tidak membawa ajaran yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Alih-alih berbicara kepada mereka yang tidak membawa ajaran ini, kita seharusnya meninggalkan mereka.
Kita perlu jelas tentang perbedaan antara ajaran kemurtadan dan kesalahan dalam doktrin. Seseorang mungkin tidak tepat dalam ajarannya mengenai doktrin tertentu, tetapi itu tidak berarti bahwa dia murtad. Sebagai contoh, andaikata seorang saudara dalam Tuhan, orang beriman sejati dalam Kristus, melakukan kesalahan dalam ajarannya mengenai keterangkatan. Kita dapat mengatakan bahwa dia salah dalam doktrin, tetapi kita tidak bisa berkata bahwa dia bidah atau dia mengajarkan kemurtadan, karena dia percaya kepada persona ilahi Kristus dan pekerjaan penebusan-Nya. Dia percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah, bahwa Dia berinkarnasi menjadi manusia, bahwa Dia mati di atas salib untuk dosa-dosa kita, bahwa Dia dibangkitkan dari antara orang mati, dan bahwa Dia naik ke surga. Menurut Perjanjian Baru, seseorang menjadi murtad, bukan karena mengajarkan ajaran yang tidak tepat mengenai pengangkatan, tetapi karena tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah Allah dan tidak percaya Dia datang dalam daging menjadi manusia. Mereka yang tidak percaya ini adalah murtad. Saya percaya bahwa Yohanes dan Paulus belajar banyak dari tulisan Musa, termasuk perkataan yang tegas dalam Ulangan 12 dan 13. Yohanes tegas terhadap kemurtadan, Paulus tegas terhadap perpecahan.
Surat Roma menyajikan gambaran lengkap dari keselamatan Allah, gambaran yang terdiri atas orang Kristen dan hidup gereja. Tiga pasal terakhir Surat Roma, pasal 14—16, membicarakan hidup gereja lokal. Dalam pasal 14 dan 15 Paulus membicarakan mengenai penerimaan kaum beriman. “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya” (14:1). Karena seorang beriman yang lemah dalam iman bukan berarti dia tidak beriman; ini berarti walaupun dia memiliki iman, imannya lemah. Mereka yang lemah dalam iman seharusnya kita terima tanpa menghakimi pendapatnya. Kita harus menerima mereka tanpa berbantah-bantah dengan mereka. Orang yang lemah dalam iman mungkin hanya makan sayuran dan mungkin menghakimi orang tentang hari tertentu (Rm. 14:2-3, 5), sedangkan orang yang kuat dalam iman mungkin percaya bahwa dia boleh makan segala sesuatu dan menganggap setiap hari sama. Alih-alih menghakimi kaum beriman berkenaan dengan perkara demikian, kita harus menerima mereka dalam kasih, karena Allah menerima mereka (Rm. 14:3). Selain itu, Paulus berkata, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri” (Rm. 15:1). Kemudian Paulus berkata, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah” (Rm. 15:7). Kita harus menerima kaum beriman bukan menurut cara makan atau memelihara hari, tetapi menurut Kristus, Dia yang adalah pusat unik dan yang meliputi semua. Kita harus menerima semua jenis orang beriman sejati, entah mereka makan sayuran atau makan daging, entah mereka merayakan hari tertentu atau menganggap setiap hari sama. Terlebih lagi, kita harus menerima semua orang beriman menurut Kristus.
Dalam Roma 14 dan 15, Paulus murah hati, lapang, dan meliputi semua, tetapi dalam Roma 16:17 dia sangat sempit dan tegas. “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan, bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Hindarilah mereka.” Di satu pihak, kita perlu menerima semua orang beriman sejati; di pihak lain, kita perlu sempit dan tegas dalam menanggulangi orang yang memecah belah. Dalam Roma 16:17 Paulus tidak mengatakan, “Orang-orang yang memecah belah adalah saudara-saudara. Kita perlu menerima mereka dan mengasihi mereka.” Tidak, dia menyuruh kita untuk waspada terhadap mereka dan menghindari mereka. Menghindari mereka yang membuat perpecahan dan menyebabkan kejatuhan adalah mengkarantina mereka.
Dalam Roma 16:20a Paulus berkata, “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu” Sungguh berarti bahwa perkataan ini datang setelah perkataan mengenai menanggulangi dengan tegas orang yang memecah belah. Jika kita tidak memiliki daya pembeda dan sebaliknya mengasihi dengan buta, dan jika kita tidak mengkarantina mereka yang membuat perpecahan dan menyebabkan kejatuhan, Iblis akan ada di atas kita, bukan di bawah kita. Tetapi jika kita mengkarantina orang yang memecah belah, Iblis akan dihancurkan di bawah kaki kita.
1. Menghukum Mati Nabi atau Pemimpi yang Murtad dari TUHAN, Allah Mereka
Dalam Ulangan 13:1 dan 2 Musa mengatakan tentang nabi dan pemimpi yang berdiri dan memberi tanda atau mukjizat dan apabila tanda atau mukjizat yang dikatakannya itu terjadi, dan ia membujuk: “Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya.” Musa selanjutnya memberi tahu bangsa Israel: jangan mendengar perkataan nabi atau pemimpi itu, “sebab TUHAN, Allahmu, mencoba (menguji) kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ul. 13:3). Dalam ayat 4 Musa melanjutkan, “TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintah-Nya, suara-Nya harus kamu dengarkan, kepada-Nya harus kamu berbakti dan berpaut.” Hari ini kita tidak memakai ungkapan “berpaut kepada-Nya”, hari ini kita mengatakan memegang teguh Kristus. Kita semua perlu memegang teguh Kristus.
Dalam ayat 5 Musa berkata, “Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan, dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” Kata Ibrani yang diterjemahkan “mengajak” secara harfiah berarti “membujuk”. Kata yang diterjemahkan “murtad” dapat juga diterjemahkan “berbalik menentang.” Secara harfiah kata Ibrani yang diterjemahkan “kauhapuskan” berarti “kaubakar” atau “kautelan habis.”
2. Membunuh Saudara Laki-laki, Anak laki-laki, Anak Perempuan, Istri,
atau Sahabat Karib yang Membujuk Mereka dengan Diam-diam untuk Melayani Allah Lain
Dalam ayat 6-11 Musa berbicara tentang apa yang harus dilakukan terhadap saudara laki-laki, anak laki-laki, anak perempuan, atau sahabat karib yang membujuk mereka dengan diam-diam untuk melayani allah lain, yang tidak dikenal oleh mereka ataupun oleh nenek moyang mereka. Mereka tidak boleh mengalah kepadanya atau mendengarkan dia. Mereka tidak boleh merasa sayang kepadanya, tidak boleh mengasihani dia dan tidak boleh menutupi salahnya (Ul. 13:8). Sebaliknya, Musa berkata, “tetapi bunuhlah dia! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat. Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu, yang telah membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan” (Ul. 13:9-10).
3. Menanggulangi Orang Dursila yang Memaksa Penduduk Kota
untuk Pergi dan Melayani Allah-allah Lain
Dalam ayat 12-18 Musa memberi tahu bangsa itu apa yang harus dilakukan jika mereka mendengar bahwa dalam salah satu dari kota-kota mereka, “ada orang-orang dursila” tampil dari tengah-tengah mereka dan “yang telah menyesatkan penduduk kota mereka dengan berkata: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak kamu kenal.” Mengenai kasus demikian, orang Israel harus memeriksa, menyelidiki, dan menanyakan dengan tuntas. Jika kekejian itu memang benar dan pasti telah terjadi di tengah-tengah mereka, mereka harus membunuh penduduk kota dengan mata pedang, menghancurkan kota itu dengan segala isinya dan ternaknya. Mereka harus mengumpulkan segala jarahan di tengah-tengah lapangan dan membakar kota itu dengan segala jarahannya dengan api seluruhnya untuk TUHAN Allah mereka, dan semuanya itu akan tetap menjadi timbunan puing untuk selamanya dan tidak akan dibangun kembali. Jangan ada apa-apa yang dikutuk melekat pada tangan mereka. Ketika mereka melakukan apa yang benar di mata TUHAN Allah mereka, Dia akan berhenti dari murka-Nya, memperlihatkan kepada mereka kelembutan-Nya, membelaskasihani mereka, dan melipatgandakan mereka seperti yang Dia janjikan kepada nenek moyang mereka.
Dalam Ulangan 12, Musa tegas dalam perkara perpecahan, dan dalam Ulangan 13, dia tegas dalam perkara kemurtadan. Ketika dia menyinggung perkara ini, dia tidak lagi umum tetapi sangat tegas. Seperti rasul-rasul dalam Perjanjian Baru, kita perlu belajar dari Musa mengenai kedua hal penting ini. Kita juga harus tegas mengenai perpecahan dan kemurtadan. Ini berarti kita harus menjaga keesaan unik dari umat Allah dan memegang teguh kepercayaan unik terhadap persona dan pekerjaan penebusan Kristus.