← Daftar isi Ulangan (4) · bab 11/30

PILIHAN ALLAH—TUMPUAN PASTI UNTUK MENYEMBAH ALLAH

Pembacaan Alkitab: Ul. 12:1-32

Dalam berita ini saya ingin menjelaskan lebih lanjut perintah Musa kepada orang Israel mengenai cara menyembah Allah.

MENERIMA PILIHAN ALLAH

Pengulangan hukum Taurat dalam 5:1—11:32 bersifat agak umum, tetapi dalam 12:1-32 ini sangat tegas. Pasal ini menekankan tuntutan agar kita menerima pilihan Allah dalam hal pusat penyembahan. Sekali demi sekali kita disuruh datang “ke tempat yang TUHAN Allahmu akan pilih” (Ul. 12:5, 11, 14, 18, 21, 26). Kita seharusnya tidak memiliki kesukaan, tetapi menerima pilihan Allah, yang adalah tumpuan unik, tempat yang tepat untuk menyembah Allah.

MENJAGA KEESAAN UMAT ALLAH

Mengapa Musa begitu tegas dalam pasal 12 tentang syarat datang ke tempat pilihan Allah? Musa begitu tegas dalam perkara ini, karena ini berhubungan dengan menjaga keesaan umat Allah. Jika tidak ada tumpuan yang pasti untuk menyembah Allah, orang Israel akan terpecah belah. Andaikata kedua belas suku itu memiliki kebebasan memilih tempat penyembahan. Tentu saja setiap suku akan memilih tempat di dalam wilayah mereka sendiri, dan dengan spontan akan ada dua belas perpecahan. Inilah alasannya orang Israel dilarang dengan keras memilih sendiri tempat untuk menyembah Allah. Musa memberi tahu mereka berulang-ulang bahwa mereka harus datang ke tempat yang Allah pilih dan menyembah Dia di sana. “Tetapi tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu sebagai kediaman-Nya untuk menegakkan nama-Nya di sana, tempat itulah harus kamu cari dan ke sanalah harus kamu pergi. Ke sanalah harus kamu bawa kurban bakaran dan kurban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu, kurban nazarmu dan kurban sukarelamu, anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu” (ayat 5-6).

Orang Israel harus datang ke tempat yang Allah pilih, sekalipun bagi banyak suku, perjalanannya panjang dan sulit. Tiga kali setahun orang Israel harus datang dengan keluarganya ke tempat pilihan Allah. Selain itu, mereka harus membawa persepuluhan dan kurban-kurban persembahan mereka, termasuk ternak. Menurut catatan dalam Perjanjian Lama, kesatuan di antara orang Israel terjaga melalui datang ke pusat penyembahan yang dipilih Allah.

Menjaga kesatuan ini dibicarakan dalam Mazmur 133. Mazmur ini adalah satu nyanyian ziarah (Mzm. 120—134), nyanyian yang dinyanyikan oleh orang Israel ketika mendaki Bukit Sion untuk menyembah Allah. Ketika mereka mendaki, mereka menyanyi, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (133:1). Keesaan ini seperti “minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya” (ayat 2). Keesaan ini juga seperti “embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (ayat 3). Dalam Mazmur 133 kita memiliki gambaran yang indah dari keesaan umat Allah, keesaan yang harus mereka jaga dengan datang menyembah Allah di tempat yang dipilih-Nya.

TEMPAT TINGGAL ALLAH DI DALAM ROH KITA

Dalam lambang yang terdapat dalam Ulangan 12, orang Israel dituntut datang ke lokasi geografis tertentu. Ini berarti dalam Perjanjian Lama tumpuan pilihan benar-benar adalah tempat fisik. Ketika beberapa orang mendengar ini, mereka mungkin bertanya, “Bagaimana kita menerapkan lambang ini kepada situasi kita hari ini? Apakah semua orang beriman diharapkan berkumpul di tempat tertentu tiga kali setahun?” Dalam menjawab pertanyaan ini, kita perlu menyadari bahwa penggenapan lambang dalam Ulangan 12 bukan perkara tempat geografis, ini adalah perkara roh kita. Ini dibuktikan dengan membandingkan Efesus 2:22 dengan Yohanes 4:21-23. Dalam Efesus 2:22 Paulus berkata bahwa kita “juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Dalam Yohanes 4, Tuhan Yesus merespons pertanyaan perempuan Samaria mengenai tempat yang tepat untuk menyembah Allah. Dia berkata kepadanya, “saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem . . . saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh. . .” (Yoh. 4:21, 23). Ini menunjukkan dengan jelas bahwa tumpuan yang tepat untuk menyembah Allah hari ini ada di dalam roh kita. Tempat tinggal Allah, kediaman-Nya, ada di dalam roh kita. Selama kita ada di dalam roh kita, kita ada di tempat yang tepat untuk menyembah Allah.

BERSIDANG DALAM NAMA TUHAN YESUS,

DI DALAM ROH KITA, DAN DENGAN SALIB

Banyak orang mungkin berkata, mengapa kita menekankan gereja lokal kalau tempat penyembahan Allah adalah roh kita. Untuk kemudahan dan pelaksanaan, kita bersidang di kota-kota tempat kita tinggal. Kelihatannya kita dipisahkan secara geografis, karena kita bersidang di kota-kota yang terpisah di seluruh dunia. Sebenarnya kita tetap tinggal dalam keesaan dan tidak terpisah, karena di mana pun kita berada, kita bersidang dalam nama Tuhan, di dalam roh, dan dengan salib. Karena itu, tidak peduli di mana kita berada, kita semua bersidang di tempat yang sama.

Baru-baru ini, dalam sidang doa gereja di Anaheim, ada kaum beriman hadir dari sejumlah negara. Kita dapat mengatakan bahwa kita memiliki sidang doa internasional. Tidak ada seorang pun menjelaskan pokok doa kita atau bagaimana kita seharusnya berdoa. Meskipun demikian, kita berdoa dalam kesehatian. Kita dapat menjadi satu secara demikian karena walaupun secara geografis kita terpisah, kita semua bersidang di tempat yang sama, dalam nama Tuhan, dalam roh kita, dan dengan salib. Situasi kebanyakan orang Kristen hari ini sangat berbeda dengan ini. Mereka bersidang bukan dalam keesaan, tetapi dalam banyak denominasi. Bahkan jika orang Kristen dari berbagai denominasi bersidang bersama, mereka mungkin sulit berdoa bersama. Setiap orang berdoa dengan cara denominasinya sendiri. Jika kaum beriman dalam Kristus mau menjadi satu, mereka harus membuang hal-hal denominasi dan berkumpul bersama dalam nama Tuhan Yesus, di dalam roh, dan dengan salib. Ini adalah keesaan, dan ini adalah tumpuan yang tepat untuk menyembah Allah.

Banyak orang Kristen terpecah oleh kesukaan mereka. Meskipun mereka mungkin hidup di kota yang sama, mereka tidak bersidang bersama-sama, karena mereka mengikuti kesukaan mereka sendiri. Dalam pemulihan Tuhan, kita tidak memperhatikan kesukaan kita, tetapi hadirat Tuhan. Dalam Matius 18:20, Tuhan Yesus berkata, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Di mana pun kita berada, di Anaheim atau Taipei, di London atau Tokyo, kita harus berkumpul dalam nama Tuhan, dan kita harus bersidang di dalam roh kita, dan dengan salib. Jika kita semua berbuat demikian, kita semua akan bersidang di tempat yang sama, walaupun kita bersidang di lokal berbeda. Satu tempat ini adalah tumpuan unik keesaan.

Dalam pemulihan Tuhan, kita memiliki satu nama dan satu Roh. Kita semua bersidang dalam nama Yesus Kristus, dan kita semua bersidang dalam roh perbauran, dalam roh insani yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Kudus. Kita berkumpul bersama dalam roh ini, bukan dalam konsepsi, kedambaan, kesukaan, atau pilihan kita. Selain itu, dalam sidang kita, kita tidak boleh meninggalkan salib, yang dilambangkan oleh mezbah di depan Kemah Suci. Pada pintu masuk gereja ada salib, dan untuk bersidang sebagai gereja kita harus mengalami salib. Daging, ego, dan manusia alamiah tidak boleh ada di dalam gereja; harus disalibkan. Karena itu, kita bersidang dalam nama Tuhan Yesus, dalam roh perbauran, dan dengan salib. Inilah tempat di mana kita bersidang, dan di sinilah kita memiliki keesaan yang kita pelihara dalam nama unik Tuhan.