PENGULANGAN HUKUM TAURAT (5)
Pembacaan Alkitab: Ul. 12:1-32
Sejauh ini, pengulangan hukum Taurat adalah secara umum; tetapi dalam Ulangan 12 kita memiliki hal yang sangat khusus, pusat penyembahan terhadap Allah. Pasal ini dengan kuat menekankan bahwa kita harus menyembah Allah pada pusat yang pasti, pada tempat pilihan-Nya. Kita tidak memiliki hak untuk memilih satu tempat menurut kesukaan kita. Pergi ke tempat pilihan kita sendiri sepenuhnya dilarang oleh firman Allah. Umat Allah harus datang ke tempat yang Allah pilih, tempat di mana Dia meletakkan nama-Nya. Hanya tempat di mana Allah meletakkan nama-Nya dapat menjadi pusat penyembahan umat-Nya. Selain itu, tempat penyembahan yang tepat adalah tempat tinggal Allah. Ini berarti di tempat pilihan-Nya Allah akan meletakkan nama-Nya dan Dia sendiri akan tinggal di sana. Umat Allah harus pergi ke tempat ini, tempat di mana Allah tinggal dan nama Allah berada.
Tempat yang dipilih Allah sebagai pusat penyembahan menjaga umat Allah dari perpecahan. Jika mereka bebas memilih tempat menurut kesukaan mereka, akan ada perpecahan di antara mereka. Kita perlu mengingat hal ini ketika kita memperhatikan peringatan yang serius dalam Ulangan 12.
Q. Musa Memerintahkan Orang Israel
Mengenai Cara Menyembah Allah
Dalam pasal 12 Musa memerintahkan orang Israel mengenai cara menyembah Allah.
1. Memusnahkan Sama Sekali segala Tempat di mana
Bangsabangsa yang akan Mereka Halau Beribadah kepada Allahnya
Dalam ayat 2 dan 3 Musa memerintahkan bangsa itu, katanya, “Kamu harus memusnahkan sama sekali segala tempat, di mana bangsa-bangsa yang daerahnya kamu duduki itu beribadah kepada allah mereka, yakni di gunung-gunung yang tinggi, di bukit-bukit dan di bawah setiap pohon yang rimbun. Mezbah mereka kamu harus robohkan, tugu-tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu bakar habis, patung-patung allah mereka kamu hancurkan, dan nama mereka kamu hapuskan dari tempat itu.” Semua hal yang dipraktekkan bangsa-bangsa tidak boleh dibawa ke dalam penyembahan Allah. Prinsip ini masih berlaku hari ini. Meskipun demikian, aliran kekristenan tertentu telah membawa masuk banyak hal yang dipraktekkan oleh bangsa-bangsa, banyak hal yang berhubungan dengan penyembahan berhala. Inilah alasannya gereja di Tiatira, yang melambangkan gereja aliran kekristenan tertentu sangat dihukum oleh Tuhan dalam Wahyu 2:18-29.
Dalam hidup gereja hari ini, kita harus membuang semua cara dan praktek bangsa-bangsa. Kita harus menyembah Allah hanya dengan Kristus saja. Kita harus berkumpul bersama dalam nama Tuhan dan menyembah Allah dengan Kristus sebagai realitas semua persembahan dan kurban. Kita harus membawa Kristus kepada Allah di tem-pat pilihan-Nya.
2. Mencari TUHAN dan Datang ke Tempat
yang Dipilih TUHAN, Allah Mereka,
dari Semua Suku Mereka
untuk Menegakkan Nama-Nya,
yaitu ke Tempat Kediaman-Nya dengan Mezbah-Nya
Orang Israel harus mencari TUHAN dan datang ke tempat yang TUHAN Allah mereka pilih dari semua suku mereka untuk menegakkan nama-Nya, yaitu datang ke tempat kediaman-Nya dan mezbah-Nya (Ul. 12:5-6). Di sini kita memiliki tiga hal: tempat, nama, dan mezbah. Ke tempat yang dipilih Allah mereka harus membawa kurban bakaran mereka dan semua kurban persembahan yang lain, dan di sanalah mereka makan di hadapan TUHAN Allah mereka, dan mereka, seisi rumah mereka, dan orang Lewi yang hidup bersama mereka harus bersukacita dalam segala usaha mereka, yang telah diberkati TUHAN Allah mereka (Ul. 12:6-7, 10-12, 14-15, 17-19, 26-28). Mereka tidak boleh melakukan menurut apa yang pernah mereka lakukan sebelum mereka masuk ke tanah permai, setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri; dan mereka harus berhati-hati agar tidak mempersembahkan kurban bakaran mereka di sembarang tempat yang mereka lihat (Ul. 12:8-9, 13). Memenuhi tuntutan ini adalah memiliki pusat penyembahan, seperti Yerusalem di kemudian hari, untuk menjaga keesaan di antara umat Allah, menghindari perpecahan yang disebabkan oleh kesukaan manusia. Hal ini baik dan benar di mata Allah.
3. Mereka Boleh Menyembelih Ternak
dan Makan Daging di Segala Tempat Mereka
Orang Israel boleh menyembelih ternak dan makan daging di segala tempat mereka, sesuka hati mereka, sesuai dengan berkat TUHAN, tetapi mereka tidak boleh makan darah (Ul. 12:15-16, 20-25). Ini adalah benar di mata Allah.
4. Tidak Boleh Mengikuti Bangsa-bangsa
yang Menjadi Jerat, Tidak Boleh Mencari Allah Mereka
untuk Belajar Bagaimana Melayani Allah Mereka
Orang Israel harus berhati-hati agar tidak terjerat dalam mengikuti bangsa-bangsa dan agar mereka tidak mencari allah bangsa-bangsa itu untuk belajar melayani allah mereka (Ul. 12:29-30). Itu adalah kekejian bagi Allah, yang Dia benci (Ul. 12:31). Setelah memberi perintah ini, Musa menyinpulkan dengan berkata, “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya” (Ul. 12:32).
Ulangan 12 sedikitnya berpadanan dalam empat aspek dengan wahyu dalam Perjanjian Baru. Pertama, dalam pasal ini dan dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa umat Allah harus selalu menjadi satu. Untuk memelihara keesaan orang Israel, Allah tidak mengizinkan setiap suku memiliki pusat penyembahannya sendiri. Jika setiap suku memiliki pusat penyembahannya sendiri untuk menyembah Allah, akan ada dua belas perpecahan di antara umat Allah, karena setiap pusat penyembahan akan menjadi tumpuan dan dasar perpecahan. Dalam hikmat-Nya, Allah tidak mengizinkan umat-Nya memiliki pilihan atau kesukaannya sendiri, tetapi menuntut mereka menerima pilihan-Nya dan datang tiga kali setiap tahun ke pusat penyembahan yang unik, satu-satunya, sekalipun pergi ke tempat itu tidak mudah bagi kebanyakan dari mereka. Prinsipnya sama dalam Perjanjian Baru. Tidak peduli berapa jumlah mereka, anak-anak Allah, kaum beriman dalam Kristus, harus menjadi satu dan memiliki pusat penyembahan Allah yang sama. Namun, situasi sebenarnya di antara orang Kristen hari ini terpecah belah. Ada banyak pusat penyembahan, dan ini telah menyebabkan perpecahan.
Perpecahan di antara umat Allah adalah akibat memiliki kesukaan yang berbeda. Banyak orang lebih suka memilih jalannya sendiri daripada jalan Allah. Begitu orang beriman memiliki jalan dan kesukaan mereka sendiri, akan ada perpecahan. Semua denominasi sesuai dengan kesukaan manusia. Situasi dalam pemulihan Tuhan benar-benar berbeda. Pemulihan Tuhan adalah perkara kembali kepada jalan Allah dan kesukaan Allah. Kedua, dalam Ulangan 12 dan dalam Perjanjian Baru, cara Allah menjaga keesaan umat-Nya adalah memiliki satu tempat dengan nama-Nya, nama yang unik. Nama yang di dalamnya kita berkumpul untuk menyembah Allah adalah perkara yang sangat penting. Jangan pernah berpikir bahwa ini tidak bermakna. Hari ini orang-orang Kristen harus berkumpul bersama hanya dalam satu nama, nama Tuhan Yesus (Mat. 18:20). Namun, orang Kristen terbiasa berkumpul dalam nama yang lain, seperti Baptis, Presbiterian, Episkopal, Lutheran, dan Metodis. Berkumpul dalam nama-nama yang berbeda ini adalah perpecahan, karena nama-nama ini adalah dasar perpecahan.
Menurut lambang dalam Ulangan 12, berkumpul dalam nama lain selain nama unik Tuhan adalah perkara yang serius. Memiliki nama lain untuk penyembahan kita adalah kekejian; ini adalah perzinaan rohani. Kita adalah pasangan Kristus, istri-Nya. Karena kita adalah pasangan-Nya, kita seharusnya tidak memiliki nama lain selain nama-Nya. Mengambil nama lain adalah mengambil persona lain. Sebagaimana istri harus memakai nama suaminya, bukan nama laki-laki lain, demikian pula kita, kaum beriman dalam Kristus, seharusnya hanya memakai nama-Nya dan bukan nama yang lain. Ini berarti kita tidak seharusnya memakai nama denominasi apa pun, seperti Baptis atau Presbiterian. Sebaliknya, seperti gereja di Filadelfia, kita seharusnya tidak menyangkal nama Tuhan (Why. 3:8); yaitu, kita harus membuang semua nama selain Tuhan Yesus Kristus. Jangan menyebut diri kita sendiri dengan gelar atau nama apa pun, kita seharusnya hanya berkumpul bersama dalam nama Tuhan.
Ketiga, Ulangan 12 dan Perjanjian Baru mewahyukan bahwa tempat yang dipilih Allah untuk penyembahan kita terhadap Dia adalah tempat tinggal-Nya. Di manakah tempat tinggal Allah hari ini? Menurut Efesus 2:22, tempat tinggal Allah, kediaman-Nya, ada di dalam roh kita. Betul, sebagai gereja kita harus berkumpul dalam nama Kristus, tetapi kita juga perlu melatih roh kita. Jika kita berkumpul bersama di bawah nama Kristus, tetapi tidak melatih roh kita, malah tinggal dalam pikiran alamiah, atau bahkan lebih buruk lagi, di dalam daging, kita tidak akan ada dalam tempat tinggal Allah. Dalam berkumpul bersama untuk menyembah Allah melalui menikmati Kristus, kita harus berkumpul ke dalam nama Kristus dan kita harus ada di dalam roh. Kalau tidak, kita akan kehilangan tumpuan gereja yang tepat.
Mengenai sidang kita untuk menyembah Allah, kita semua harus belajar dua hal penting. Pertama, kita harus belajar menolak setiap nama selain nama Tuhan Yesus dan berkumpul dalam nama-Nya. Kedua, kita harus belajar menolak daging, ego, dan hayat alamiah dan melatih roh kita. Dalam segala hal yang berhubungan dengan penyembahan Allah, kita perlu melatih roh kita. Bila kita menyanyi, kita harus menyanyi dengan roh kita. Bila kita memuji, kita harus memuji dengan roh kita. Bila kita berbicara, kita harus berbicara dengan roh kita. Jika kita berbuat demikian, sidang akan ada dalam tempat tinggal Allah.
Keempat, dalam Ulangan 12 dan dalam Perjanjian Baru kita memiliki mezbah, salib. Selain nama dan tempat tinggal, kita harus memiliki mezbah, yang melambangkan salib. Perkataan Paulus dalam 1Korintus 2:2 menunjukkan pentingnya hal ini. “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” Kristus yang disalibkan adalah subyek, pusat, isi dan substansi unik dari ministri Paulus.
Pada pintu masuk gereja ada salib, dan setiap orang yang mau masuk ke dalam gereja harus mengalami salib dan disalibkan. Mengalami salib berarti dikesampingkan, diakhiri, dan dihabisi sama sekali. Dalam gereja seharusnya hanya ada Kristus, bukan kita. Di manakah seharusnya kita berada? Kita seharusnya ada di salib. Ini berarti kita seharusnya tidak membawa segala sesuatu dari manusia lama, segala sesuatu dari daging, ego, atau hayat alamiah, ke dalam gereja. Ketika kita ada di salib, kita benar-benar ada di dalam roh.
Ketika kita bersiap datang ke sidang, kita boleh berdoa, “Tuhan, jika aku masih memiliki sesuatu yang berhubungan dengan daging, ego, dan hayat alamiah, aku mohon ampunan-Mu dan salibkanlah hal-hal itu. Tuhan, aku perlu disalibkan dan kemudian diurapi dengan diri-Mu.” Jika kita semua datang ke sidang secara demikian, kita akan bersidang dalam nama Kristus, kita akan bersidang dalam tempat tinggal Allah, dan kita akan bersidang di bawah penerapan salib.
Sidang kita untuk menyembah Allah seharusnya dilaksanakan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dalam roh kita sebagai tempat tinggal Allah, dan dalam tempat di mana ada salib. Kita tidak meninggikan salib fisik, tetapi kita harus menerapkan salib kepada diri kita. Karena itu, kita memiliki nama Tuhan Yesus, kita memiliki tempat tinggal Allah, dan kita memiliki salib. Jika kita memiliki nama, tempat tinggal, dan salib, tidak akan ada perpecahan di antara kita. Tidak peduli berapa banyak orang beriman yang ada di lokal kita dan tidak peduli berapa banyak tempat sidang, kita semua akan menjadi satu-satu dalam nama yang sama, satu dalam tempat tinggal yang sama, dan satu di bawah salib yang sama.