← Daftar isi Penerapan dari Penafsiran Yerusalem Baru bagi Kaum Beriman yang Menuntut · bab 2/5

PINTU-PINTU GERBANGNYA

Pembacaan Alkitab :

Why. 21:12b-13, 2la

GARIS BESAR

I. Pintu-pintu gerbangnya adalah mutiara-mutiara - Why. 21:21a :

A. Menandakan hasil sekresi (pengeluaran cairan) dari kematian Kristus yang menebus dan melepaskan hayat serta kebangkitan-Nya yang mendispensikan hayat.

B. Kedua jenis sekresi (dispensi) ini memerlukan pengalaman sehari-hari kaum beriman yang menuntut terhadap kematian Kristus secara subjektif oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus agar mereka dapat diserupakan dengan kematian Kristus (Flp. 3:10) dan pengalaman sehari-hari mereka terhadap kebangkitan Kristus secara subjektif oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh (realitas kebangkitan) Yesus Kristus agar mereka dapat diserupakan dengan gambaran Putra sulung Allah (Flp. 1:19; Rm. 8:29).

II. Jalan masuknya-Why. 21:12b-13:

A. Jalan masuk ke dalam Yerusalem Baru untuk makan pohon hayat yang sedemikian ini telah didirikan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah menurut hukum Taurat Israel di dalam Perjanjian Lama sehingga jalan ke pohon hayat yang telah tertutup itu telah dibuka kembali bagi kaum beriman yang menuntut.

B. Jalan yang dibuka kembali untuk berbagian dalam pohon hayat dengan masuk ke dalam Yerusalem Baru ini tersedia secara universal pada keempat penjuru bumi dengan tiga pintu gerbang pada masing-masing dari keempat sisi kota kudus, ini menandakan bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung rela terbuka untuk menerima orang-orang berdosa yang bertobat ke dalam perampungan akhir dari ekonomi kekal-Nya.

Doa: Tuhan, kami berterima kasih kepada-Mu untuk sidang ini. Kami memohon kepada-Mu untuk melakukan sesuatu yang sangat khusus yaitu untuk memperlihatkan kepada kami penerapan kedua dari Yerusalem Baru. Terima kasih untuk berita yang lalu. Engkau telah memperlihatkan kepada kami penerapan yang pertama. Amin.

Dalam berita terdahulu, Tuhan telah memperlihatkan kepada kita penerapan pertama dari Yerusalem Baru. Untuk menerapkan dasar dari Yerusalem Baru, maka diri kita dan segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup dan pekerjaan kita bagi Tuhan untuk berpartisipasi dalam pergerakan-Nya, haruslah berdasarkan sifat emas Allah. Pembangunan Yerusalem Baru, yang adalah suatu gunung emas, adalah untuk membuat kita menjadi ilahi, menjadi emas. Persekutuan para saudari haruslah berdasarkan sifat emas Allah. Kami, para sekerja yang berpartisipasi dalam pergerakan Tuhan, memikul beban yang berat. Kita harus menyadari bahwa pergerakan kita dalam pergerakan Tuhan haruslah berdasarkan sifat emas-Nya. Penerapan pertama dari Yerusalem Baru adalah supaya segala sesuatu yang kita miliki haruslah berdasarkan sifat emas Allah untuk membuat kita menjadi emas, ilahi, dari hari ke hari. Apabila semuanya ini telah rampung, maka akan ada perampungan dari pembangunan gunung emas ini, yaitu kota emas.

I. PINTU-PINTU GERBANGNYA ADALAH MUTIARA-MUTIARA

Sekarang kita sampai kepada penerapan kedua dari Yerusalem Baru, yang mutlak berhubungan dengan pintu-pintu gerbangnya. Pintu-pintu gerbangnya adalah mutiara-mutiara (Why. 21:21a). Seperti telah kita lihat, seluruh Yerusalem Baru adalah satu tanda yang besar. Kedua belas pintu gerbangnya adalah dua belas mutiara yang besar. Tidak mungkin mutiara-mutiara alam dapat menjadi sedemikian besar sehingga mutiara-mutiara tersebut dapat menjadi pintu-pintu gerbang kota. Mutiara di dalam kota ini bukanlah sebuah mutiara alam tetapi hanya digunakan oleh Allah sebagai suatu tanda.

A. Hasil dari Sekresi Dua Ganda

Ketika tiram dilukai oleh sebutir pasir, maka tiram itu akan mengeluarkan cairan-hayatnya (lendir) menyelubungi pasir itu dan membuatnya menjadi sebuah mutiara yang berharga. Mutiara-mutiara menandakan hasil dari sekresi Kristus dalam dua aspek: kematian-Nya yang menebus dan melepaskan hayat dan kebangkitan-Nya yang mendispensikan hayat-Nya. Tanpa wahyu Allah, kita tidak akan pernah dapat menyadari bahwa kematian Kristus itu mengeluarkan cairan, mendispensikan sesuatu untuk menghasilkan pintu-pintu gerbang dari kota itu. Kedua belas pintu gerbang adalah hasil dari sekresi Kristus juga berada dalam kebangkitan-Nya yang mendispensikan hayat. Dia bangkit menjadi Roh pemberi hayat untuk mendispensikan hayat ilahi ke dalam kaum beriman (1 Kor. 15:45b). Ini adalah sejenis sekresi yang menghasilkan sebuah mutiara yang besar untuk menjadi pintu-pintu gerbang kota. Baik kematian Kristus maupun kebangkitan Kristus memiliki suatu hasil, suatu sekresi.

B. Perlu Pengalaman Sehari-hari Kaum Beriman yang Menuntut

terhadap Kematian dan Kebangkitan Kristus

Kedua jenis sekresi (dispensi) ini memerlukan pengalaman sehari-hari kaum beriman yang menuntut terhadap kematian Kristus secara subjektif oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus agar mereka dapat diserupakan dengan kematian Kristus (Flp. 3:10). Kita bukan hanya harus mengenakan kematian Kristus itu sendiri melainkan juga sekresi dari kematian-Nya ke dalam pengalaman sehari-hari kita secara subjektif. Kita tahu bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus, tetapi kita perlu mengalaminya. Bila suami istri sedang bertengkar, apakah kata-kata yang dilontarkan itu adalah perkataan orang-orang yang telah disalibkan? Ketika seorang saudara berbicara kepada istrinya, dia harus ingat bahwa dia adalah orang yang tersalib.

Bait 3 dari kidung #497 (Kidung), sebuah nyanyian pendek untuk baptisan, mengatakan, "Bukan (lagi) aku! Bukan (lagi) aku! / (Tapi) Kristus (hidup) dalamku (akan kupersaksikan)!" Dalam pembaptisan kita, kita memproklamirkan bahwa kita telah diakhiri. Sekarang bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalamku (Gal. 2:20). Dalam pengalaman subiektif kita, kita harus berada di atas salib. Kita mengenal ajaran ini tetapi sangat kurang dalam pengalaman sehari-hari. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak mempraktekkan bahwa kita telah tersalib dengan Kristus.

Beberapa kali ketika saya tersinggung oleh istri, saya berusaha berdebat dengan dia. Tetapi ketika kata-kata bantahan sampai di ujung lidah saya, saya diingatkan --- "Inikah tersalib di kayu salib?" Dengan segera saya berhenti. Saya masuk ke dalam kamar belajar dan berdoa, "Tuhan, ampuni saya. Saya tahu bahwa saya telah disalibkan, tetapi saya tidak mempraktekkannya. Sungguh memalukan, Tuhan! Saya telah mengikuti Engkau selama lebih dari enam puluh tahun, tetapi saya masih berusaha untuk berdebat dengan istri saya yang terkasih. Ternyata masih saya yang hidup dan bukan Kristus. Saya telah mengajar orang lain tentang hal ini selama lebih dari enam puluh tahun, tetapi saya tidak menerapkan apa yang saya ajarkan."

Orang-orang kudus yang terkasih, penerapan kedua dari Yerusalem Baru adalah agar kita mengalami kematian Kristus secara subjektif dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak dapat melakukan hal ini dalam dan oleh diri sendiri. Tidak ada seorang pun di antara kita yang dapat mempraktekkan hal demikian. Setiap orang senang berdebat. Perdebatan datang dari hayat alamiah, dari "aku", bukan Kristus. Tetapi kita harus membiarkan "aku" ini senantiasa tersalib di atas salib. Kita harus melaksanakan penerapan kematian Kristus yang subjektif ini dalam pengalaman sehari-hari. Kita dapat mengalami kematian-Nya hanya oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus.

Koor kidung #307 mengatakan, "Tanpalah mati (bila tak ada maut), takkanlah hidup (tak ada hayat)." Hayat ini datang kepada kita bukan oleh hayat alamiah melainkan oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus. Memang kita telah disalibkan, tetapi bagaimana mungkin kita dapat senantiasa mempertahankan diri kita berada di atas salib? Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melakukan hal ini kecuali mereka mengenal kuat kuasa kebangkitan Kristus; mereka memiliki kapasitas, kemampuan, untuk mempraktekkan hal ini. Oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus, kita memiliki kemampuan dan kuat kuasa untuk mempertahankan ego kita yang sangat kasihan ini di atas salib. Bagaimana agar seorang saudari dapat menjadi seorang istri yang baik? Seorang istri yang baik adalah istri yang tersalib, seorang istri yang berada di atas salib.

Kita dituntut untuk tetap berada di atas salib di bawah penyaliban setiap saat. Kadang-kadang saya menghampiri Tuhan dan berkata, "Tuhan, saya, tidak dapat menanggung kehidupan kristiani yang demikian. Saya mengira bahwa setelah saya percaya kepada-Mu, Engkau akan melakukan hal-hal yang baik bagi saya." Tuhan menjawab, "Ya, Aku akan melakukan segala sesuatu yang baik bagi kamu, tetapi kamu harus tetap, berada di atas salib. Selama kamu hidup oleh dirimu, Aku tidak dapat melakukan apa-apa bagi kamu. Aku dapat melakukan sesuatu bagi kamu hanya bila kamu tetap berada di atas salib." Saya berkata, "Tuhan, bagaimana saya dapat melakukan hal ini? Saya, tidak memiliki kuat kuasa untuk melakukan hal ini." Tuhan berkata, "Aku berada di dalam kamu, Akulah kebangkitan, dan Aku memiliki kuat kuasa yang membuat kamu dapat tetap tinggal di atas salib." Bait 1 dari kidung #307 mengatakan, "Bila kenal kuasa bangkit, /pasti cinta 'kan Salib." Hayat adalah Kristus. Bila saya mau memperhidupkan Kristus, saya harus tetap, berada di atas salib untuk mati di sana. Inilah penerapan kedua dari Yerusalem Baru. Yerusalem Baru memiliki dua belas pintu gerbang dan kedua belas pintu gerbang ini haruslah kita terapkan pada kehidupan sehari-hari, yaitu dengan mempertahankan diri kita disalibkan setiap saat dalam pengalaman sehari-hari agar kita dapat diserupakan dengan kematian Kristus.

Kaum beriman juga harus menuntut pengalaman sehari-hari terhadap kebangkitan Kristus secara subjektif oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh (realitas kebangkitan) Yesus Kristus agar mereka dapat diserupakan dengan gambaran Putra sulung AHah (Flp. 1:19; Rm. 8:29). Kita dituntut untuk melakukan dua hal: mengalami kematian Kristus secara subjektif dalam hidup sehari-hari kita dan juga mengalami kuat kuasa kebangkitan dalam hidup sehari-hari kita. Bagaimana kita dapat mengalami kematian Kristus dalam hidup sehari-hari kita? Yaitu oleh kuat kuasa kebangkitan. Bagaimana kita dapat mengalami kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari kita? Yaitu oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Roh Yesus Kristus adalah realitas kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan-Nya kita dapat mengalami kematian-Nya. Kemudian bagaimana kebangkitan-Nya ini dapat diterapkan pada diri kita? Kebangkitan-Nya dapat diterapkan pada diri kita hanya oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Sekarang Roh itu ada di sini. Roh Yesus Kristus adalah diri Kristus sendiri sebagai Roh pemberi hayat, yang adalah realitas kebangkitan Kristus.

Kematian Kristus dapat kita alami hanya melalui kebangkitan Kristus dan kebangkitan Kristus dapat menjadi riil bagi kita hanya oleh suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Yesus Kristus telah menjadi Roh pemberi hayat dan Ia ada di dalam kita. Bila kita kembali ke dalam roh, kita bertemu dengan Kristus sebagai Roh pemberi hayat, yang adalah realitas dari kebangkitan Kristus. Oleh Roh inilah kita mengalami kebangkitan Kristus. Mengalami kebangkitan Kristus adalah berkontak dengan Roh pemberi hayat.

Untuk menerapkan hal ini, kita senantiasa harus tetap, berada dalam roh untuk berjumpa dengan Kristus sebagai Roh, yang adalah realitas kebangkitan-Nya. Dengan demikian kita memiliki kuat kuasa untuk tetap berada di atas salib. Penerapan pintu-pintu gerbang kota ini, pertama-tama, adalah tetap berada di atas salib oleh kuat kuasa kebangkitan Kristus. Kedua, kita harus menerapkan Kristus sebagai Roh pemberi hayat yang hidup dalam roh kita. Kita harus menjamah-Nya setiap saat. Itulah sebabnya Alkitab menyuruh kita untuk berdoa senantiasa (1Tes. 5:17). Hanya melalui doa kita dapat menjamah Kristus dalam roh kita sebagai Roh pemberi hayat, Roh itu yang adalah realitas kebangkitan-Nya.

Bila kita menerapkan kematian Kristus, kita akan diserupakan dengan kematian-Nya, memiliki gambar persona yang mati di atas salib. Bila kita menjamah Roh itu, kita menjamah Kristus di dalam kebangkitan-Nya dan ini akan menyerupakan kita dengan gambar kemuliaan Putra sulung Allah. Kematian-Nya yang diterapkan pada kita akan menyerupakan kita dengan cetakan kematian-Nya, dan Roh-Nya di dalam kita akan menyerupakan kita ke dalam kemuliaan gambar-Nya, gambaran Putra sulung Allah. Penerapan pertama dari Yerusalem Baru adalah agar kita melakukan segala sesuatu berdasarkan sifat ilahi. Itu mudah. Tetapi sekarang kita memiliki suatu penerapan dalam dua aspek: penerapan kematian Kristus dan penerapan kebangkitan Kristus sebagai Roh pemberi hayat.

II. JALAN MASUKNYA

Sekarang kita akan membahas pintu-pintu gerbang mutiara sebagai jalan masuk ke dalam Yerusalem Baru (Why. 21:12b-13). Inilah pintu masuk tersalib di atas salib untuk diserupakan dengan cetakan kematian Kristus dan pintu masuk kebangkitan-Nya, yang akan menyerupakan kita oleh Roh itu ke dalam gambar kemuliaan Putra sulung Allah.

A. Didirikan oleh Kristus melalui Kematian dan Kebangkitan-Nya

Jalan masuk ke dalam. Yerusalem Baru untuk berbagian dalam pohon hayat yang sedemikian ini telah didirikan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran Allah menurut hukum Taurat Israel di dalam Perjanjian Lama sehingga jalan ke pohon hayat yang telah tertutup itu telah dibuka kembali bagi kaum beriman yang menuntut. Kejadian 3 memperlihatkan bahwa setelah kejatuhan Adam, jalan kepada pohon hayat ditutup oleh tuntutan kebenaran Allah menurut hukum kebenaran-Nya. Sekarang ada satu jalan masuk dari kematian dan kebangkitan Kristus yang memuaskan tuntutan hukum kebenaran Allah.

Wahyu 21:12 mengatakan bahwa nama-nama dari kedua belas suku putra-putra Israel tertulis di atas kedua belas pintu gerbang. Israel di sini mewakili hukum. Taurat Perjanjian Lama, menandakan bahwa hukum itu dilambangkan dengan pintu-pintu gerbang Yerusalem Baru. Hukum itu mengawasi dan mengamati bagaikan seorang penjaga pintu gerbang untuk memastikan bahwa jalan masuk ke dalam kota kudus ini memenuhi tuntutan-tuntutan hukum. Jika kita telah disalibkan dan dibangkitkan bersama Kristus, kita layak untuk memuaskan kebenaran hukum Perjanjian Lama. Jalan masuk sedemikian ini dibenarkan oleh hukum kebenaran Allah. Kita dapat memenuhi tuntutan-tuntutan kebenaran dari hukum Allah dengan menjadi persona-persona yang telah mati dan bangkit bersama Kristus melalui sekresi dua ganda-Nya, yang membuat kita menjadi sebuah mutiara di mata Allah, yang sepenuhnya memuaskan Allah menurut kebenaran hukum-Nya. Memenuhi kebenaran dari hukum itu bukanlah suatu hal yang mudah. Kita perlu suatu jalan masuk dari dua jenis sekresi, dua jenis dispensi, yaitu, sekresi kematian Kristus dan sekresi kebangkitan Kristus. Oleh kedua jenis sekresi inilah kita telah dibuat menjadi mutiara-mutiara yang memuaskan hukum Allah.

B. Jalan yang Dibuka Kembali untuk Makan Pohon

Hayat ini tersedia secara Universal pada Keempat Penjuru Bumi

Jalan masuk ini membuka kembali jalan bagi orang-orang yang menuntut untuk berkontak dengan Kristus sebagai pohon hayat. Jalan yang dibuka kembali untuk makan pohon hayat melalui masuk ke dalam Yerusalem Baru tersedia secara universal pada keempat penjuru bumi dengan tiga pintu gerbang pada masing-masing dari ke empat sisi kota kudus, ini menandakan bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung rela terbuka untuk menerima orang-orang berdosa yang bertobat ke dalam perampungan akhir dari ekonomi kekal-Nya. Kita harus belajar mengucapkan bahasa yang ilahi ini. Jalan masuk semacam ini, hari ini tersedia bagi semua orang di bumi ini yang berada pada keempat penjuru: timur, utara, selatan, dan barat. Ini dilambangkan dengan kedua belas pintu gerbang. Ada tiga pintu gerbang pada masing-masing dari keempat sisi. Tiga pintu gerbang itu menandakan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, Bapa, Putra, dan Roh.

Dalam Lukas 15 kita melihat pekerjaan dari Allah Tritunggal untuk menerima orang-orang dosa yang bertobat agar masuk ke dalam Yerusalem Baru. Dalam pasal ini Putra adalah sang Pencari yang mencari orang-orang berdosa dan Roh itu adalah sang Pengudus untuk menguduskan mereka kepada Allah, dan Bapa adalah sang Penerima. Segera setelah menerima anak yang bertobat dalam Lukas 15, Bapa memberi dia jubah yang terbaik, yang melambangkan Kristus yang objektif menutupi kita sebagai kebenaran kita yang memuaskan Allah. Dia juga memberi sebuah cincin dan sandal kepada anaknya yang telah kembali. Cincin itu melambangkan Roh yang memeterai untuk memperlihatkan bahwa orang beriman yang telah diterima itu sekarang adalah milik Allah Tritunggal dalam perampungan akhir-Nya dari ekonomi kekal-Nya. Sandal itu melambangkan kuat kuasa keselamatan Allah untuk memisahkan orang beriman dari bumi yang kotor. Pada akhirnya, bapa menyembelih lembu tambun untuk anaknya. Lembu tambun ini melambangkan Kristus yang subjektif untuk kenikmatan kita akan Dia.

Inilah sebabnya mengapa kita harus keluar bersama Allah menuju keempat penjuru bumi untuk menjadi pintu-pintu gerbang, membawa Allah bersama kita untuk disajikan kepada orang-orang. Inilah sebabnya mengapa kita harus pergi ke Rusia ke utara, ke Afrika ke selatan, ke Malaysia ke Timur, dan ke Amerika Selatan ke Barat. Tuhan melakukan semua ini di antara kita untuk menyebarkan ekonomi-Nya. Hari ini Allah Tritunggal rela menerima setiap orang berdosa yang bertobat untuk datang dan masuk ke dalam Yerusalem Baru melalui jalan masuk sedemikian yang telah didirikan oleh Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.