← Daftar isi Penerapan dari Penafsiran Yerusalem Baru bagi Kaum Beriman yang Menuntut · bab 1/5

MAKNANYA DAN DASARNYA

Pembacaan Alkitab:

Why. 21:2-3, 9-10, 18b, 21b-22; 22:1-2

GARIS BESAR

I. Maknanya :

A. Yerusalem Baru adalah tanda yang paling besar dan yang paling akhir di dalam Kitab Suci - Why. 21:2,9-10.

B. Yerusalem Baru itu menandakan suatu susunan organik dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses berbaur dengan umat pilihan tripartit-Nya (terdiri atas tiga bagian) yang telah dilahirkan kembali, ditransformasi, dan dimuliakan :

1. Menurut keinsaniannya, Yerusalem Baru adalah kemah Allah di antara manusia tempat kediaman Allah dalam keinsanianNya di antara manusia di bumi - 21:3.

2. Menurut keilahiannya, Yerusalem Baru adalah bait Allah sebagai tempat kediaman umat pilihan yang ditebus-Nya - 21:22.

3. Menurut keinsaniannya, Yerusalem Baru adalah istri insani (dengan hayat dan sifat ilahi) dari Anak Domba-Allah yang menebus - 21:2, 9.

4. Menurut keilahiannya, Yerusalem Baru adalah Suami ilahi (Allah yang menebus dalam perwujudan-Nya yang telah rampung, Kristus, dengan hayat dan sifat insani) dari umat pilihan yang ditebus Allah.

II. Dasarnya :

A. Dasarnya adalah emas murni, menandakan sifat ilahi Allah sebagai dasar untuk bangunannya - 21:18b.

B. Dasarnya adalah fondasi yang kokoh dari takhtanya untuk administrasi ilahi - 22:1b.

1. Dari administrasi ini keluarlah sungai air hayat, yang menandakan Roh itu, di tengah-tengah jalannya sebagai suplai bagi seluruh kota - 22:1a.

2. Di dalam sungai itu tumbuh pohon hayat, yang menandakan Kristus, sebagai suplai utama bagi seluruh kota melalui sungai itu - 22:2.

3. Dari pusat yang mulia ini keluarlah komunikasi ilahi dan insani, yang dilambangkan oleh jalan itu. Jalan itu mencapai kedua belas pintu gerbang kota untuk membawa seluruh kota patuh kepada satu administrasi ilahi dan untuk membaurkan seluruh kota ke dalam keesaan dari satu komunikasi (persekutuan) keilahian yang berbaur dengan keinsanian - 21:21b.

Doa : Tuhan, kami bersyukur kepada-Mu, karena kami dapat mengadakan konferensi yang dihadiri oleh beribu-ribu orang yang menuntut untuk mencari diri-Mu menurut wahyu dan visi-Mu. Tuhan, bukakanlah kitab yang misterius ini kepada kami semua. Tuhan, berilah kepada kami pengertian. Berikan juga penglihatan batin kepada kami. Tuhan, kami bersandar kepada-Mu. Tunjanglah dan jagalah kami sampai pada akhirnya. Amin.

Subjek dari berita-berita ini adalah penerapan dari penafsiran Yerusalem Baru bagi kaum beriman yang menuntut. Beban dari berita-berita dalam buku ini dapat diekspresikan dalam empat pernyataan berikut ini :

1. Yerusalem Baru adalah tanda yang paling besar dan yang paling akhir di dalam Kitab Suci, menandakan suatu susunan organik dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses berbaur dengan umat pihhan tripartit-Nya (terdiri atas tiga bagian) yang telah dilahirkan kembali, ditransformasi, dan dimuhakan.

2. Dasarnya adalah emas murni, menandakan sifat ilahi Allah; ini adalah fondasi yang kokoh dari takhtanya untuk administrasi ilahi, yang adalah pusat yang muha yang dari padanya keluarlah komunikasi ilahi dan insani, yang dilambangkan oleh jalannya, untuk mencapai kedua belas pintu gerbangnya.

3. Pintu-pintu gerbangnya adalah mutiara, menandakan hasil sekresi dari kematian Kristus yang menebus dan melepaskan hayat serta kebangkitan-Nya yang mendispensikan hayat.

4. Dindingnya dan fondasi-fondasinya adalah batu-batu permata, yang dirampungkan oleh Roh itu melalui pekerjaan transformasi dan pembangunan-Nya.

Di waktu yang lampau, kita telah mengeluarkan banyak berita untuk menafsirkan bagian Firman mengenai misteri Yerusalem Baru. Jadi, kita tidak perlu mengulang penafsiran yang lalu. Kita akan melanjutkannya untuk menerapkan pada diri kita apa yang telah ditafsirkan. Dalam berita pertama ini, kita akan melihat dan masuk ke dalam penerapan dari makna dan dasar Yerusalem Baru.

I. MAKNANYA

A. Yerusalem Baru adalah Tanda yang Paling Besar

dan yang Paling Akhir dalam Kitab Suci

Wahyu 1:1 mengatakan bahwa Tuhan Yesus mengutus malaikat-Nya kepada Yohanes untuk menyatakan wahyuNya melalui tanda-tanda. Karena itu, Yerusalem Baru adalah tanda yang paling besar dan yang paling akhir dalam Kitab Suci (21:2, 9-10). Suatu tancia adalah suatu simbol yang memiliki makna rohani.

B. Menandakan suatu Susunan Organik dari Allah Tritunggal

yang Telah Melalui Proses Berbaur dengan

Umat Pilihan Tripartit-Nya (terdiri atas tiga bagian)

yang Telah Dilahirkan Kembali, Ditransformasi, dan Dimuliakan

Yerusalem Baru adalah suatu kota, tetapi kota ini bukan kota fisik. Kota ini adalah suatu tanda, suatu gambaran yang menandakan suatu susunan organik. Kota ini bukanlah sesuatu yang diorganisir, melainkan sesuatu yang tersusun secara organik. Kota kudus ini adalah suatu susunan dalam hayat dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses berbaur dengan umat pilihan tripartit-Nya yang telah dilahirkan kembali, ditransformasi, dan dimuliakan. Kota ini adalah suatu susunan organik dari dua pihak : Allah dan manusia. Pihak yang pertama adalah ilahi. Pihak yang kedua adalah insani.

1. Kemah Allah

Yerusalem Baru memiliki dua sifat, keinsanian dan keilahian. Menurut keinsaniannya, Yerusalem Baru adalah kemah Allah di antara manusia - tempat kediaman Allah dalam keinsanian-Nya di antara manusia di bumi (Why. 21:3). Dalam Alkitab, kemah adalah tempat kediaman manusia. Yerusalem Baru adalah tempat kediaman insani karena ia tersusun dengan keinsanian. Yerusalem Baru adalah tempat kediaman insani Allah di bumi. Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Allah berinkarnasi dalam daging untuk berkemah di antara manusia. Dia adalah Allah, tetapi Dia telah menjadi seorang manusia. Dia mengenakan keinsanian sebagai sifat-Nya, karena itu la berhuni dalam keinsanian.

2. Bait Allah

Menurut keilahiannya, Yerusalem Baru adalah bait Allah sebagai tempat kediaman umat pilihan yang ditebusNya (Why. 21:22). Kota kudus ini adalah bait Allah sebab kota ini ilahi. Kota ini adalah bait Allah, namun kota ini adalah tempat kediaman umat tebusan-Nya. Bagaimana bisa demikian? Karena ini adalah bait Allah, penghuninya pasti ilahi, tetapi bagaimana. dengan kita? Apakah kita ini ilahi atau insani? Menurut keinsaniannya, Yerusalem Baru adalah kemah, tetapi Allah berhuni dalam kemah. Allah dapat berhuni dalam tempat kediaman manusia karena la telah menjadi seorang manusia. Menurut keilahian Yerusalem Baru, kota ini adalah bait untuk dihuni Allah. Jika Anda hanya insani dan tidak ilahi, maka Anda tidak dapat berhuni dalam bait. Kita manusia dapat berhuni dalam bait ilahi karena kita telah dibuat menjadi Allah dalam hayat dan dalam sifat tetapi tidak dalam ke-Allahan. Yerusalem Baru adalah tempat saling huni. Menurut keinsaniannya, kota ini adalah kemah insani. Menurut keilahiannya, kota ini adalah bait ilahi. Kota ini adalah tempat kediaman manusia, tetapi Penghuninya adalah Allah. Bagaimana Allah dapat berhuni dalam tempat kediaman manusia? Karena Ia telah menjadi manusia. Demikian juga, bagaimana kita manusia dapat berhuni dalam bait Allah? Karena kita telah dibuat menjadi Allah. Ini adalah saling huni antara Allah dengan manusia.

3. Istri Insani dari Allah yang Menebus

Menurut keinsaniannya, Yerusalem Baru adalah istri insani (dengan hayat dan sifat ilahi) dari Anak Domba Allah yang menebus (21:2, 9). Istri insani ini dapat menikah dengan Persona yang ilahi karena. dia memiliki hayat dan sifat ilahi. Ini membuatnya bersyarat untuk berpasangan dengan Allah yang menebus. Di satu pihak, dia itu insani. Di lain pihak, dia itu ilahi. Karena dia adalah insani, dia dapat menjadi istri insani dari Allah yang menebus. Karena dia itu ilahi, maka dia dapat menikah dengan-Nya, Persona ilahi.

4. Suami Ilahi dari Umat Pilihan yang Ditebus Allah

Menurut keilahiannya, kota ini adalah Suami ilahi (Allah Yang menebus dalam. perwujudan-Nya yang telah rampung, Kristus, dengan hayat dan sifat insani) dari umat pilihan yang ditebus Allah. Sang istri adalah insani, dan sang Suami adalah ilahi. Bagaimana mungkin seorang istri insani menikah dengan Persona ilahi? Karena dia memiliki sifat dan hayat ilahi dari Persona Yang ilahi. Bagaimana mungkin entitas Yang sama juga adalah seorang suami? Karena Yerusalem Baru itu ilahi. Allah Yang ilahi adalah bagian dari unsur penyusunnya. Karena itu di satu pihak kota ini adalah seorang istri. Di lain pihak, kota ini adalah seorang suami. Yerusalem Baru adalah istri menurut keinsaniannya dan suami menurut keilahiannya. Tetapi sebagai Suami Yang ilahi, Yerusalem Baru memiliki hayat dan sifat insani. Dalam keinsaniannya dan dalam. keilahiannya, kota ini adalah tempat saling huni sekaligus suatu pasangan, seorang istri dan seorang suami.

II. DASARNYA

A. Emas Murni

Dasar Yerusalem Baru adalah emas murni, menandakan sifat ilahi Allah sebagai dasar untuk bangunannya (21:18b). Yerusalem Baru adalah satu gunung emas. Karena kita adalah penyusun-penyusun Yerusalem Baru, maka kita harus menjadi emas. Kita dibuat dari debu, tetapi ketika kita menerima Kristus sebagai hayat, kita dilahirkan kembali menjadi emas. Dalam. kelahiran kembali, kita menerima hayat ilahi, hayat emas. Dalam ciptaan lama, Yang diwakih oleh Adam, kita adalah manusia debu, tetapi ketika dilahirkan kembali, kita menjadi manusia emas.

B. Fondasi Yang Kokoh dari Takhtanya

untulk Administrasi Hahi

Dasar Yerusalem Baru adalah fondasi Yang kokoh dari takhta ilahi untuk administrasi ilahi (22:1b). Sungai air hayat, Yang menandakan Roh itu, mengalir dari administrasi yang ada di tengah-tengah jalan Yerusalem Baru sebagai suplai bagi seluruh kota (ay. 1a). Di dalam sungai ini tumbuh pohon hayat, menandakan Kristus sebagai suplai utama bagi seluruh kota melalui sungai itu (ay. 2). Komunikasi ilahi dan insani, yang dilambangkan oleh jalan, keluar dari pusat yang mulia ini untuk mencapai kedua belas pintu gerbang kota, untuk membawa seluruh kota patuh kepada satu administrasi ilahi dan untuk membaurkan seluruh kota ke dalam keesaan dari satu komunikasi keilahian berbaur dengan keinsanian, persekutuan (21:21b).

Takhta tempat Allah memerintah adalah pusat kemuliaan Yerusalem Baru. Ini menandakan kekuasaan Allah, pemerintahan Allah. Sebuah jalan keluar dari takhta ini. Jalan Yang berhubungan dengan takhta ini adalah untuk komunikasi dan terutama untuk administrasi takhta. Pemerintahan ilahi memiliki administrasi ilahi.

Pada jalan ini ada lalu lintas untuk pergi dan untuk datang. Pertama-tama, jalan ini adalah untuk Allah pergi dan datang, yaitu untuk administrasi Allah. Pada akhirnya, jalan ini menjadi "jalan persekutuan". Persekutuan ini adalah antara Allah Yang menebus dan umat tebusan-Nya. Allah yang menebus dan umat tebusan-Nya harus memiliki persekutuan dua arah (pergi dan datang). Bukan hanya demikian, umat tebusan Allah juga harus memiliki persekutuan dua arah (pergi dan datang) di antara mereka sendiri.

Dari takhta mengalir keluar sungai air hayat, yang menandakan Roh itu dan Roh itu adalah aliran keluar Allah. Di atas takhta, Allah adalah Penguasa. Dia adalah yang memerintah. Tetapi ketika Ia keluar, Ia adalah Roh itu. Di tengah-tengah jalan ada sungai, yaitu Allah yang mengalir keluar untuk menjadi hayat sebagai air untuk meleraikan dahaga seluruh kota. Pertama, kota ini memiliki takhta; dan kedua, kota ini memiliki sebuah jalan untuk administrasi dan persekutuan. Ketiga, dalam persekutuan ini ada sungai air hayat. Keempat, ada pohon hayat, yang menandakan Persona kedua dari ke-Allahan.

Allah mengalir keluar dalam Persona ketiga dari Trinitas. Kemudian Persona Yang Kedua dari Trinitas adalah Kristus, Putra Allah, sebagai pohon hayat Yang tumbuh di dalam sungai dan di sepanjang kedua sisinya untuk menyuplaikan hayat guna merawat seluruh kota. Gambaran ini memperlihatkan kepada kita bahwa dengan jalan persekutuan kita menikmati Roh itu sebagai sungai dan Kristus sebagai pohon hayat. Ketiga hal ini - jalan, sungai, dan pohon hayat - mencapai kedua belas pintu gerbang, yang melambangkan umat pilihan yang ditebus Allah. Persekutuan ilahi ini membawa Allah kepada seluruh umat tebusan-Nya, menuju kedua belas pintu gerbang, untuk membawa semua umat tebusan-Nya kembali kepada diriNya. Pertama-tama, jalan itu terbentang dari takhta menuju kedua belas pintu gerbang. Kemudian dari kedua belas pintu gerbang kembali ke takhta.

Sekarang kita akan membahas penerapan dari persekutuan ini. Dalam menerapkan hal ini saya ingin bertanya, "Sebelum Anda diselamatkan, siapakah penguasa Anda? Apakah administrasi Anda?" Anda sendiri berusaha untuk menjadi penguasa diri sendiri dan diri Anda itu berantakan. Sebenarnya, Anda tidak memiliki penguasa atau pun administrasi. Pada suatu hari Anda mendengarkan Injil yang mengatakan, "Bertobatlah, sebab kerajaan surga sudah dekat" (Mat. 3:2). Anda perlu bertobat untuk berada di bawah pemerintahan kerajaan Allah. Sebelum saat itu, Anda adalah persona yang tanpa penguasa dan tanpa administrasi. Tetapi, kemudian Anda bertobat kepada sang Penguasa ilahi dan berada di bawah administrasi-Nya. Melalui Injil, Allah datang untuk menjadi kerajaan Anda. Dia adalah Raja di atas takhta. Berhubungan dengan takhta-Nya, ada satu jalan yang harus Anda tempuh, dan jalan itu adalah administrasi-Nya. Sejak hari Anda bertobat, Anda telah merasakan bahwa di dalam Anda ada takhta dan jalan emas, administrasi emas. Kemudian Anda mulai melakukan segala hal menurut emas ini, menurut sifat Allah. Ini adalah karena takhta dan jalan itu dibangun di atas emas sebagai sifat Allah.

Ketika para saudara membeli sebuah dasi, mereka harus membelinya menurut sifat ilahi yang ada di dalam mereka. Hari ini Injil yang dangkal tidak pernah menjamah perkara ini. Tetapi di dalam puncak Injil kita harus melihat hal ini. Injil membawa kita kembali kepada Allah sebagai takhta kita, kepada Allah sebagai administrasi kita. Kita harus menempuh suatu kehidupan yang di dalamnya kita melakukan sesuatu berdasarkan sifat Allah. Efesus 4 mengatakan bahwa kita tidak boleh membiarkan perkataan yang kotor keluar dari mulut kita (ay. 29). Ini disebabkan karena kita adalah anak-anak Allah. Bila kita mengatakan sesuatu, kita harus ingat bahwa kita adalah anak-anak Allah; kita adalah emas. Mengucapkan perkataan kotor yang tidak sesuai dengan sifat emas kita. Sifat kita hari ini bukan lagi hanya debu melainkan juga emas. Jika kita menerima perkataan ini, maka kehidupan kita akan berubah. Kita akan diperbaiki dan diatur oleh sifat emas Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Para saudari tidak akan menghabiskan begitu banyak waktu untuk mendandani rambut mereka. Sebab hal itu bukanlah menurut takhta emas, administrasi emas.

Semua persekutuan kita haruslah menurut sifat emas Allah. Sungai itu berada di tengah-tengah jalan itu, dan jalan itu adalah sifat emas. Di dalam persekutuan ini ada sungai, Roh Kudus, sebagai minuman kita dan suplai kita untuk meleraikan dahaga kita. Lalu kita juga memiliki Kristus sebagai pohon hayat untuk suplai hayat kita untuk merawat kita. Untuk mengalami semuanya ini, kita harus berada di atas jalan emas, dasar emas. Kita mungkin merasa cukup dengan mengatakan bahwa persekutuan kita dengan Allah adalah kontak kita dengan Allah, dan persekutuan kita dengan orang-orang kudus adalah kontak kita dengan orang-orang kudus. Tetapi ini bukanlah faktor yang menentukan apakah persekutuan kita adalah persekutuan yang berasal dari Allah atau bukan. Persekutuan yang berasal dari Allah haruslah berdasarkan sifat ilahi Allah. Saya dapat pergi mengunjungi seorang saudara setiap hari, tetapi apakah itu adalah persekutuan yang sejati? Sejati tidaknya suatu persekutuan ditentukan oleh apakah persekutuan tersebut berdasarkan sifat emas yang ada di dalam saya atau bukan. Jika kontak saya dengan seorang saudara tidak berdasarkan sifat emas, berarti saya membuat suatu persahabatan yang alamiah dengan dia. Saya tidak mempraktekkan persekutuan rohani dari hayat yang berdasarkan sifat ilahi Allah.

Pada saat kita masuk ke dalam pengalaman dan penerapan dari sifat ilahi Allah, kita membuat diri kita menjadi bagian yang sejati dari Yerusalem Baru. Pada akhirnya, kita menjadi emas dalam segala sesuatu. Setiap pasar swalayan adalah tempat pencobaan, tempat yang membuat kita terpisah dari sifat emas ke perkara membeli barang-barang. Bahkan di dalam, penghidupan gereja, kita dapat membuat persahabatan alamiah dengan orang-orang kudus tertentu, tetapi itu bukanlah persekutuan yang sejati. Persekutuan haruslah berdasarkan sifat emas di dalam kita. Jika kita mempraktekkan persekutuan ini, kita hidup sebagai bagian dari Yerusalem Baru. Kita menjadi para, penyusun Yerusalem Baru. Ini bukanlah menurut perbuatan luaran kita melainkan menurut manusia batin kita. Manusia batin dari kehidupan kristiani kita haruslah dari sifat emas Allah. Kita harus hidup, berjalan, dan melakukan segala sesuatu berdasarkan sifat emas di dalam. kita.

Inilah penerapan penafsiran dasar emas dari Yerusalem Baru terhadap kaum beriman yang menuntut. Karena. Allah telah memberikan puncak wahyu ilahi kepada kita, kita semua harus mempelajari bahasa yang baru dan tinggi ini untuk mengutarakan (menyampaikan) wahyu mengenai Yerusalem Baru sebagai tanda yang paling besar dan paling akhir dalam Kitab Suci.