KEPERLUAN ORANG LUHUR — KELAHIRAN KEMBALI HAYAT (2)
3. Daging Melahirkan Daging
Nikodemus mengira bahwa kelahiran kembali berarti kembali ke dalam rahim ibunya untuk dilahirkan sekali lagi. Ia tidak tahu bahwa sekalipun ia dapat dilahirkan secara demikian, ia masih tetap sebagai daging. Tak peduli berapa kali orang dilahirkan dari rahim ibu, ia tetap merupakan daging, sebab daging melahirkan daging. Berdasarkan itulah Tuhan berkata kepada Nikodemus, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging” (Yoh. 3:6 Tl.). Daging di sini menunjukkan orang alamiah dengan hayat alamiah. Tidak peduli berapa kali kita dilahirkan dari orang tua kita, kita tetap adalah manusia alamiah dengan hayat alamiah, sifat hakiki kita selamanya tidak dapat berubah. Kelahiran kembali bukanlah dilahirkan kembali dari orang tua kita, melainkan dilahirkan dari Allah Sang Roh, agar kita memiliki hayat serta sifat ilahi-Nya. Hayat dan sifat ini mutlak bertolak belakang dengan hayat serta sifat alamiah kita.
4. Roh Melahirkan Roh
Kelahiran kembali berarti kita dalam roh dilahirkan oleh Roh Kudus, yakni Roh ilahi melahirkan kembali roh kita dengan hayat Allah yang ilahi itu. Kelahiran kembali ialah kita menerima hayat Allah. Ini adalah perkara yang mutlak terjadi di dalam roh kita. Roh kita diciptakan oleh Allah justru untuk tujuan ini. Kita justru memiliki organ istimewa ini roh manusia kita, dalam lubuk batin kita. Dalam ciptaan-Nya, Allah telah menciptakan roh bagi kita, yang bertujuan agar pada suatu hari kita dapat menggunakan roh ini untuk berkontak dengan Allah dan menerima-Nya ke dalam kita. Fungsi roh manusia adalah untuk berkontak dengan Allah. Kelahiran kembali bukanlah perkara di dalam pikiran, emosi, atau tekad kita, melainkan seluruhnya di dalam roh kita. Yohanes 1:12-13 mencantumkan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang dilahirkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Tl.). Pada bagian manakah kita ini dilahirkan oleh Allah? Di dalam roh kita! Yang dilahirkan oleh Roh itulah roh. Allah itu Roh, dan hanya roh yang dapat menyentuh Roh, dan hanya roh sajalah yang dapat dilahirkan oleh Roh. Jadi, kelahiran kembali adalah perkara yang mutlak terjadi dalam roh kita, tidak tergantung pada apakah Anda mempunyai pikiran yang jernih, emosi yang seimbang, atau tekad yang kuat; itu adalah ruang lingkup yang lain. Kelahiran kembali terjadi dalam ruang lingkup roh kita. Roh kitalah ruang lingkup terjadinya kelahiran kembali. Agar mengalami kelahiran kembali, janganlah menggunakan pikiran, emosi, atau tekad Anda. Asalkan Anda membuka diri, melupakan segala apa adanya Anda, dari lubuk roh Anda menyeru nama Tuhan Yesus, percaya kepada-Nya, Allah Sang Roh segera menjamah roh Anda. Perkara ini terjadi secara kilat, mungkin tidak sampai 1 detik. Begitu Anda membuka diri Anda menyeru nama Tuhan Yesus dari dalam roh Anda, seketika itu juga Roh ini masuk ke dalam roh Anda, Anda pun dilahirkan kembali. Kelahiran kembali rohani sangatlah cepat, tidak perlu bidan, jururawat, atau tabib. Ketika Anda berkata, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu,” Anda sudah dilahirkan kembali dalam roh Anda.
Dalam ayat 6 Tuhan berkata, “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”(Tl.). Dilahirkan kembali bukanlah dilahirkan dari daging, karena yang dilahirkan dari daging, adalah daging juga. Dilahirkan kembali adalah dilahirkan dari Roh, dilahirkan oleh Allah Sang Roh itu. Yang dilahirkan dari Roh adalah roh, yaitu roh kita yang telah dilahirkan kembali. Daging adalah manusia alamiah kita, manusia lama kita, manusia lahiriah kita, dilahirkan dari daging orang tua kita. Namun roh, yakni roh kita yang telah dilahirkan kembali adalah manusia rohani kita, manusia baru kita, manusia batiniah kita (2Kor. 4:16; Ef. 3:16), yang dilahirkan oleh Allah Sang Roh itu. Ketika kita dilahirkan oleh orang tua kita, itu adalah daging; dan ketika kita dilahirkan kembali dari Allah Sang Roh, itu adalah roh. Sifat roh berbeda sekali dengan sifat daging. Sifat daging adalah insani sejak lahir, sedang sifat roh adalah ilahi sejak lahir. Sebelum kelahiran kembali, kita hidup berdasarkan daging, berperilaku di dalam daging, dan roh kita mati. Melalui kelahiran kembali, roh kita yang telah tidak berfungsi itu bukan hanya dihidupkan kembali, bahkan memperoleh penyaluran hayat ilahi Allah dari Roh itu. Kini roh kita adalah roh yang telah dilahirkan kembali, dan menjadi manusia baru kita. Dulu, daging kita adalah sarana yang berdasarkannya kita hidup; kini, roh kita adalah sarana yang berdasarkannya kita harus hidup. Istilah “Roh” yang pertama dalam ayat 6, mengacu kepada Roh ilahi, Roh Kudus Allah; “roh” yang kedua adalah roh manusia, yaitu roh manusia yang telah dilahirkan kembali. Kelahiran kembali dirampungkan oleh Roh Kudus Allah di dalam roh manusia dengan hayat kekal Allah, hayat kekal yang bukan ciptaan. Karena itu, dilahirkan kembali berarti manusia, di luar hayat alamiahnya, mendapatkan hayat kekal Allah sebagai sumber baru dan unsur baru dari manusia baru.
Begitu roh kita dilahirkan oleh Roh Allah dengan hayat Allah, pasti dalam roh kita terdapat hayat Allah dan Roh Allah. Dan roh ini menjadi roh yang berbaur, seperti yang diungkapkan oleh Roma 8:16, “Roh itu . . . bersama-sama dengan roh kita.” Dalam roh perbauran inilah, baru kita dengan Tuhan menjadi satu roh (1Kor. 6:17). Karena roh ini merupakan suatu perbauran, maka sulit untuk membedakan roh yang disebut di beberapa tempat dalam Perjanjian Baru (Rm. 8:4-6, 10; Gal. 5:16, 25; Ef. 4:23; 6:18), apakah itu ditujukan pada Roh ilahi Allah ataukah roh manusia kita. Kini, kedua roh ini telah berbaur menjadi satu di batin kita. Perbauran ini berasal dari kelahiran kembali. Kelahiran kembali menghasilkan satu roh baru (Yeh. 36:26), yang di dalamnya ada Roh ilahi Allah yang tinggal serta berbaur dengannya. Sekarang, roh yang mengandung hayat ilahi Allah adalah manusia baru kita, kita harus hidup dan berperilaku berdasarkan manusia baru ini. Tidak seharusnya kita hidup berdasarkan daging lagi (Gal. 5:16; Rm. 8:4). Dalam roh ini, baru kita merupakan orang yang dilahirkan kembali.
Mengatakan kita dilahirkan dari Firman Allah itu tidak salah. Namun patut kita pahami bahwa Firman yang merupakan huruf hitam di atas putih itu tidak dapat melahirkan kembali kita, kecuali Firman yang adalah Roh itu (Yoh. 6:63). Allah, Firman, dan Roh itu harus sebagai Roh, baru dapat melahirkan kita kembali. Dalam kelahiran kembali, Allah sendiri sebagai Roh, dan Firman pun harus Roh. Pada waktu kita menginjil, apa pun yang kita kabarkan hendaklah di dalam Roh, sebab yang memberi hayat di dalam roh manusia ialah Roh itu.
Untuk memahami kelahiran kembali secara tuntas tidaklah mudah, sebab terampungnya kelahiran kembali itu bersandarkan Roh Kudus, dengan Roh Kudus, dan di dalam Roh Kudus. Kita pun sangat sulit menerangkan apa itu Roh Kudus. Roh Kudus ada di sini, bisakah Anda menerangkannya? Dia itu sekarang ada, terus-menerus ada, segera ada, selalu ada, dan selalu tersedia. Namun, bila Anda ingin dilahirkan dari Roh, Anda harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Yang pertama ialah bertobat, mengakui diri Anda orang berdosa. Kemudian percaya kepada Yesus, dan menyeru nama-Nya. Tak cukup hanya menyeru dengan bibir, lidah, atau tenggorokan, harus pula dari lubuk batin membuka diri Anda sambil mengucapkannya di dalam roh, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu.” Ketika Anda berbuat demikian, Roh ilahi itu segera masuk ke dalam Anda. Ia masuk ke dalam Anda, berarti Kristus masuk ke dalam Anda, dan juga Allah Tritunggal masuk ke dalam Anda. Roh Kudus adalah Kristus. Pada hakikatnya, Roh Kudus itu pun Allah Tritunggal. Bapa di dalam Putra, dan Putra hari ini ialah Roh itu (2Kor. 3:17). Roh itu masuk ke dalam Anda, maka Putra dan Bapa pun masuk ke dalam Anda. Jadi, sejak Anda dilahirkan kembali, Bapa, Putra, dan Roh, sudah ada di dalam Anda. Allah Tritunggal inilah hayat ilahi. Hayat ilahi tidak terpisah dengan Allah Tritunggal. Saat Anda dilahirkan kembali, Anda segera memperoleh Allah Tritunggal di dalam roh Anda menjadi hayat ilahi Anda. Sekarang Anda memiliki dua hayat, dalam tubuh daging Anda terdapat hayat insani, dan dalam roh Anda terdapat hayat ilahi.
5. Yang Dilahirkan dari Roh seperti Angin
Yohanes 3:8 mengatakan, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Yunani untuk “pneuma” bisa berarti “angin” atau “roh”. Kata ini harus diterjemahkan “angin” atau “roh” harus melihat konteksnya (yakni, kalimat sebelum dan sesudahnya). Ayat ini mengacu kepada sesuatu yang bertiup, juga bunyi yang dapat didengar. Ini menunjukkan bahwa kata ini harus diterjemahkan angin. Orang yang dilahirkan kembali sepertilah angin, yang bisa dikenal tetapi sulit dijelaskan; meskipun sulit dijelaskan, namun ini merupakan fakta, realitas. Kelahiran kembali bukan suatu perkara materi, melainkan suatu perkara rohani, sebagaimana pneuma atau angin. Anda tidak dapat menangkap angin, namun dapat merasakannya. Tuhan berkata kepada Nikodemus bahwa roh yang dilahirkan kembali sama seperti angin, bukan secara fisik atau dapat dijamah, melainkan tidak kelihatan dan bersifat rohani.
6. Kelahiran Kembali — Perkara yang Terjadi di Bumi
Kelahiran kembali adalah perkara yang terjadi di bumi. Tuhan berkata kepada Nikodemus, “Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi?” (Yoh. 3:12). “Hal-hal duniawi” di sini bukan mengacu kepada hal-hal yang bersifat dunia, tetapi hal-hal yang terjadi di bumi, termasuk penebusan, kelahiran kembali, dan sebagainya. “Hal-hal surgawi” yang dikatakan dalam ayat ini tidak mengacu kepada hal-hal yang bersifat surga, tetapi hal-hal yang terjadi di dalam surga. Dalam ayat selanjutnya Tuhan berkata bahwa Ia adalah Dia yang turun dari surga dan yang tetap ada di surga. Ini menyatakan bahwa Ia tahu hal-hal yang terjadi di surga, karena Ia senantiasa ada di surga; di samping itu Ia pun berada di bumi, menuturkan hal-hal duniawi kepada orang, dan salah satu di antaranya ialah kelahiran kembali.
7. Untuk Memasuki Kerajaan Allah
Dalam ayat 3 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Ayat 5 mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Firman Tuhan ini dengan jelas mewahyukan bahwa kelahiran kembali adalah satu-satunya jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Untuk memasuki Kerajaan Allah, kita harus dilahirkan kembali. Selain ini, kita tidak memiliki jalan untuk memasuki Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kekuasaan Allah. Ini merupakan ruang lingkup ilahi, manusia harus memiliki hayat ilahi baru dapat memasukinya. Hanya hayat Allah yang mampu mengerti perihal ilahi. Karena itu, manusia yang ingin nampak atau memasuki Kerajaan Allah, harus dilahirkan kembali oleh hayat Allah.
Kerajaan selalu berhubungan dengan hayat. Kerajaan tumbuh-tumbuhan berhubungan dengan hayat tumbuh-tumbuhan. Kerajaan binatang, hanya berhubungan dengan hayat binatang. Kalau Anda ingin mempunyai bagian dalam suatu kerajaan, terlebih dulu Anda memerlukan hayat kerajaan tersebut. Hanya burung saja yang ada bagian dalam kerajaan unggas, sebab burung memiliki hayat unggas. Demikian juga, hanya manusia saja yang ada bagian dalam kerajaan manusia, karena hanya manusia yang mempunyai hayat manusia. Karena itu, tanpa hayat Allah, bagaimana kita bisa ada bagian dalam Kerajaan Allah?
Kerajaan Allah bukan sekadar Allah memegang pemerintahan, tetapi juga ditujukan pada wilayah atau ruang lingkup ilahi. Jika mau mengambil bagian dalam pemerintahan Allah serta dalam ruang lingkup ilahi, kita perlu hayat ilahi Allah. Hanya mereka yang memiliki hayat ilahi, baru bisa berada dalam ruang lingkup ilahi ini dan mendapat bagian dalam kerajaan ilahi. Sebab itu, kita perlu dilahirkan kembali agar kita memiliki hayat ilahi, dan dengan hayat inilah kita dapat memasuki ruang lingkup ilahi serta memiliki bagian dalam kerajaan ilahi. Sekalipun kita tidak jatuh atau tidak berdosa, kita tetap memerlukan kelahiran kembali; karena bagaimanapun baik dan sucinya hayat manusia, tetap mustahil mengerti akan perkara dalam ruang lingkup ilahi, juga tidak memenuhi syarat untuk memasuki kerajaan ilahi. Hanya hayat ilahi yang memenuhi syarat untuk berada dalam ruang lingkup ilahi. Hanya hayat ilahi yang sanggup memuaskan tuntutan Kerajaan Allah. Mana mungkin hayat manusia kita bisa mengerti perkara-perkara ilahi dalam Kerajaan Allah? Bagaimana mungkin ia cocok dengan kerajaan ilahi? Mustahil. Kita memerlukan hayat ilahi, kita memerlukan kelahiran kembali. Kelahiran kembali itulah jalan satu-satunya, pintu satu-satunya untuk memasuki Kerajaan Allah.
Hayat ilahi membawa kita ke dalam Kerajaan Allah. Kita semua dilahirkan ke dalam kerajaan manusia. Tidak pernah ada seorang pun yang dinaturalisasikan ke dalam kerajaan manusia. Sebagai contoh, begitu terlahir, seekor anjing sudah berada dalam kerajaan anjing. Ia paham segala perkara anjing, tidak perlu orang mengajarnya bertingkah sebagai anjing, “Hai anjing, kamu harus tahu bahwa kamu adalah anjing, kamu di dalam kerajaan anjing, sejak saat ini kamu harus menyalak setiap hari.” Anjing sudah berada dalam kerajaan anjing, sejak lahirnya sudah mengetahui semua perihal anjing. Inilah alasannya mengapa Tuhan Yesus menegaskan kepada Nikodemus bahwa ia harus dilahirkan ke dalam Kerajaan Allah. Kita tidak mungkin memasuki Kerajaan Allah melalui belajar atau naturalisasi. Mungkin saja Anda dinaturalisasikan menjadi warga negara suatu kerajaan, namun Anda tidak akan dapat dinaturalisasikan “ke dalam” suatu kerajaan. Anjing tidak dapat dinaturalisasikan ke dalam kerajaan kucing. Jika ada seseorang berkata kepada anjing, “Anjing, aku menyukaimu, aku ingin mengganti statusmu. Dahulu kamu dilahirkan ke dalam kerajaan anjing, kini kamu kunaturalisasikan ke dalam kerajaan kucing.” Bila demikian, Anda telah mendatangkan kerepotan yang besar bagi kerajaan kucing. Kalau ingin memasukkan anjing ke dalam kerajaan kucing, ada satu cara yang benar, yaitu melahirkan kembali anjing itu dengan hayat kucing. Jika seekor anjing benar-benar dilahirkan kembali dengan hayat kucing, maka dengan sendirinya anjing itu akan berpindah dari kerajaan anjing ke dalam kerajaan kucing.
Begitu kita dilahirkan kembali, kita dipindahkan ke dalam Kerajaan Allah. Kolose 1:13 mengatakan, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang terkasih.” Melalui kelahiran kembali, kita telah berpindah, sehingga kita berada di dalam Kerajaan Allah. Ketika kita menyeru nama Tuhan, Roh ilahi segera masuk ke dalam kita, melahirkan kita kembali, sehingga kita dilahirkan ke dalam Kerajaan Allah. Walaupun Anda sangat sedikit mengerti perkara Kerajaan Allah, namun Roh di dalam Anda memahami perkara kerajaan ini. Hayat ilahi yang ada di dalam roh Anda mengerti Kerajaan Allah.
Banyak orang Kristen yang terlalu bergantung pada ajaran. Banyak orang muda yang datang kepada saya sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah merokok, nonton bioskop, makan, minum, berpakaian, dan menikah. Hampir setiap muda-mudi memiliki banyak pertanyaan tentang perkara-perkara ini. Setiap kali seorang pemuda mengajukan pertanyaan sejenis ini, saya selalu balas dengan pertanyaan kembali, “Mengapa bertanya kepadaku boleh atau tidak merokok? Anda lebih jelas daripada aku. Anda tidak seharusnya bertanya kepadaku, sebab Anda telah tahu jawabannya. Anda bertanya kepadaku tak lain ingin konfirmasi saja, namun aku tidak bersedia memberi Anda konfirmasi apa pun. Berterusteranglah kepadaku, bukankah Anda sudah tahu boleh atau tidak merokok?” Setelah ia mengaku sudah tahu, saya lalu menyusul dengan pertanyaan, “Bagaimana Anda tahu? Dari manakah Anda tahu?” Mereka selalu menjawab, di dalam mereka ada sesuatu yang membuat mereka tahu. Kita tahu, karena kita telah dilahirkan ke dalam Kerajaan Allah.
Tak perlu seorang pendeta atau penginjil memberi tahu orang harus berbuat ini dan itu. Perlukah Anda mengajari anjing untuk menyalak? Jika Anda menyuruh anjing menyalak, dan seandainya anjing itu bisa berbicara, pasti ia akan berkata, “Aku tidak perlu diajari menyalak, karena sejak lahir aku sudah bisa menyalak, bahkan aku justru hidup dalam kerajaan yang menyalak. Kerajaanku adalah kerajaan menyalak, aku pun mempunyai hayat menyalak, maka tanpa diajari, aku dengan sendirinya akan menyalak.” Demikianlah, kita semua telah dilahirkan ke dalam Kerajaan Allah. Karena itu, kita “mengerti” beberapa hal. Jika Anda menanyakan bagaimana saya tahu, saya akan menjawab, “Aku memang sudah tahu.” Saya tahu bahwa saya ini manusia, tidak perlu diajari orang bahwa saya ini manusia, saya memang adalah manusia. Sebagaimana saya ini manusia di dalam kerajaan manusia, demikian pula saya mempunyai hayat Allah, saya ini adalah anak Allah dan di dalam Kerajaan Allah. Saya mempunyai hayat Allah, maka hayat inilah yang memasukkan saya ke dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya, saya bukan sekadar di dalam Kerajaan Allah, tetapi juga di dalam diri Allah sendiri.
Karena kita ada di dalam Kerajaan Allah, maka ada hal-hal yang tidak dapat kita lakukan, sekalipun kita mencoba melakukannya. Jika Anda sengaja mau marah, Anda akan menemukan bahwa itu sudah tidak mungkin sama sekali. Anda memutuskan hendak memukul istri Anda, Anda akan menemukan itu mustahil. Mengapa? Sebab Anda sudah di dalam Kerajaan Allah, dan hayat Allah membuat Anda tidak bisa berbuat demikian. Inilah Kerajaan Allah. Haleluya! Kita di dalam Kerajaan ini.
C. Keadaan Manusia yang Sebenarnya
1. Terkena Racun Ular, Mengandung Sifat Ular
Nikodemus masih kebingungan, lalu bertanya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?” Kemudian Tuhan mengatakan kepadanya sebuah lambang penebusan dalam Perjanjian Lama yang menyangkut penebusan.
a. Seperti Bani Israel yang Mati Kena Racun Ular di Padang Gurun
“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan.” Setelah Tuhan Yesus mengatakan ini, barulah Nikodemus jelas. Ketika bani Israel bersungut-sungut terhadap Allah dan Musa, “Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati” (Bil. 21:6). Bangsa itu mendatangi Musa, agar ia mau berdoa kepada Tuhan, supaya dijauhkan-Nya ular-ular itu dari mereka. Lalu Musa mendoakan mereka, dan Allah menunjukkan keselamatan kepada Musa, supaya ia membuat ular tembaga dan menaruhnya di atas sebuah tiang (Bil. 21:8-9), agar setiap orang yang terpagut, dan memandangnya, akan tetap hidup (Bil. 21:9).
Dalam Yohanes 3:14, Tuhan menerapkan gambaran ini pada diri-Nya, kata-Nya, Dia sebagai Anak Manusia, akan ditinggikan, sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun. Perhatikanlah bahwa Tuhan di sini menyebut diri-Nya “Anak Manusia” bukan “Anak Allah”. Tuhan ingin memberi tahu Nikodemus, “Nikodemus, nampaknya kamu ini manusia yang lemah lembut, namun ketahuilah, sesungguhnya kamu adalah seekor ular. Tidak peduli betapa ramah dan sopannya kamu, di dalammu tetap terkandung sifat ular. Kamu telah terkena racun. Di dalam Adam, kamu telah terkena racun. Ketika Adam terpagut ular, kamu sudah ada di dalamnya. Jadi kamu ini dilahirkan dari sifat yang beracun, maka sifatmu itu sifat ular.” Sebelumnya, Nikodemus tidak pernah memahami hal ini. Demikian juga, hari ini jarang sekali orang menyadari dirinya itu ular. Apakah Anda senang dikatai demikian? Jika Anda menyebut seorang yang belum percaya itu bukan sekadar orang berdosa, tetapi juga seekor ular, pastilah ia akan marah sekali. Nikodemus tidak pernah memikirkan dirinya bersifat ular. Namun Tuhan Yesus, Penginjil yang paling ulung ini, hanya dengan sepatah kata yang sederhana saja telah menyatakan setumpuk perkara, yang memberi tahu Nikodemus bahwa ia itu seekor ular.
Dalam Yohanes 1:29, Yohanes Pembaptis berkata, “Li-hatlah Anak Domba Allah.” Dalam Yohanes 3:14, Tuhan tidak mengibaratkan diri-Nya sebagai Anak Domba Allah, melainkan sebagai ular tembaga. Anak Domba Allah menanggulangi dosa, sedangkan ular tembaga untuk menumpas ular tua itu. Kesulitan yang ada pada kita sebagai orang yang telah jatuh bukan hanya dosa, tetapi juga ular. Orang Kristen sudah banyak mendengar tentang Anak Domba Allah, namun jarang mendengar ular tembaga melambangkan Kristus.
b. Di Atas Salib, Kristus Ditinggikan dalam Bentuk Ular
Sewaktu Tuhan Yesus mati di atas salib, Ia berada dalam bentuk ular. Perkataan ini sulit dimengerti, perlu diberi sedikit penjelasan. Roma 8:3 mengatakan, Allah “mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk manghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging.” Ayat ini memberi tahu kita bahwa Kristus menjadi bentuk tubuh daging yang berdosa. Dua Korintus 5:21 mengatakan bahwa Kristus menjadi dosa karena kita. Alangkah kuatnya perkataan ini! Apa artinya? Ketika Iblis (Satan) di dalam ular membujuk Adam makan buah pohon pengetahuan dan menerima pikirannya, maka Iblis, si ular tua itu, menginjeksikan sifatnya ke dalam manusia, sehingga sifat yang jahat itu pun terinjeksi ke dalam tubuh manusia. Tubuh manusia memang ciptaan Allah, dan memang baik, tetapi setelah sifat Iblis yang jahat itu terinjeksi ke dalamnya, maka sifatnya berubah menjadi daging. Tubuh ciptaan Allah itu memang baik, tetapi tubuh daging itu buruk, karena itu merupakan tubuh yang telah berubah sifatnya oleh racun ular. Istilah “tubuh” ini baik, namun “daging” tidak baik. Lalu mengapa Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi daging” (LAI “manusia”). Daging itu baik atau buruk? Kristus menjadi daging itu baik atau tidak baik? Dalam menjawab pertanyaan semacam ini, kita harus sangat hati-hati. Yohanes 3:14 menyatakan juga menjamin bahwa ketika Kristus menjadi daging, Dia tidak menjadi buruk. Roma 8:3 mengatakan, Ia “serupa dengan daging yang dikuasai dosa.” Rupa ini sama dengan rupa ular tembaga, mempunyai bentuk ular namun tanpa mengandung bisa (racun ular). Kristus menjadi rupa tubuh daging yang berdosa (2Kor. 5:21; Ibr. 4:15). Kristus hanya secara rupa dan bentuk menjadi tubuh daging yang berdosa, bukan pada haki-katnya menjadi tubuh daging yang berdosa. Lihatlah ular yang terbuat dari tembaga, dari bentuk luarnya kelihatan seperti ular asli, padahal di dalamnya tidak mengandung racun. Ia mempunyai rupa ular, tetapi tanpa sifat ular. Demikianlah Kristus menjadi rupa tubuh daging yang berdosa. Dari lahir kelihatan sama dengan orang berdosa, tetapi di dalam-Nya tidak terdapat sifat dosa. Ia menjadi dosa, namun tidak mengenal dosa. Ia hanya mempunyai rupa dan bentuk tubuh daging yang berdosa.
c. “Ular tua”, Iblis, Setan, Mendapat Hukuman Melalui Ini
Ketika Kristus ditinggikan di atas salib, serentaklah Satan, Iblis, ular kuno ditanggulangi (Yoh. 12:31-33; Ibr. 2:14). Dengan kata lain, dalam manusia yang telah jatuh, sifat si jahat itu tertumpas oleh kematian Kristus. Ini boleh kita umpamakan dengan perangkap tikus. Tikus itu paling menjengkelkan dan sulit ditangkap. Tetapi jika Anda menggunakan perangkap tikus, dengan sedikit umpan, Anda sudah dapat menangkapnya. Ketika seekor tikus keluar dari sarangnya untuk mencari makanan, begitu melihat umpan, ia masuk dan menggigitnya. Demikian, tikus itu tertangkap. Beginilah cara tikus ditangkap dan dimatikan. Dalam alam semesta ini ada seekor “tikus” kecil, itulah Iblis. Umat manusia menjadi sebuah perangkap. Dalam perangkap ini ia terjebak. Adam merupakan perangkap sekaligus umpannya. Iblis telah menggigit umpan, lalu mengira dengan menginjeksikan dirinya ke dalam tubuh daging manusia, ia telah mendapatkan kemenangan. Iblis tidak tahu bahwa dengan berbuat demikian, ia malah jatuh ke dalam perangkap. Ia terjebak di dalam tubuh daging manusia. Pada suatu hari, Tuhan Yesus mengenakan rupa tubuh yang berdosa ini, kemudian membawa tubuh ini ke atas salib, menyalibkannya. Melalui tubuh-Nya mati terpaku, Ia telah menghancurkan Iblis yang telah menginjeksikan dirinya ke dalam tubuh manusia. Kini kita bisa memahami Ibrani 2:14 yang mengatakan, “Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka, supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut.” Dalam tubuh daging, melalui kematian-Nya, Kristus telah menumpas Iblis. Jika kita tidak paham ayat ini, pasti akan sulit menanggapi makna yang sesungguhnya dari Ibrani 2:14. Bagaimanakah Kristus memusnahkan Iblis di atas salib? Dengan mengenakan rupa tubuh dosa, serta membawa tubuh ini ke atas salib, kemudian melalui tersalib di sana, Iblis dimusnahkan.
Di mata Allah, kita semua telah menjadi ular, sama seperti bani Israel zaman dahulu telah menjadi ular, dan memerlukan seekor ular tembaga yang ditinggikan sebagai pengganti mereka. Kita pun memerlukan Kristus mati di atas salib sebagai pengganti kita. Di atas salib, Kristus bukan hanya Anak Domba Allah yang menghapus dosa umat manusia (Yoh. 1:29), Ia pun menjadi rupa ular untuk menanggulangi sifat jahat kita, dan menyingkirkan ular kuno itu. Ketika Kristus ditinggikan di atas salib, sifat jahat yang ada di dalam manusia yang telah jatuh pun ditanggulangi. Begitu manusia menerima Kristus yang telah tersalib dan bangkit kembali ini, sehingga ia terlahir kembali oleh hayat ilahi yang di dalam Kristus, maka sifatnya yang milik setan itu pun wajib ditanggulangi. Itulah sebabnya dalam Yohanes 3:14, ketika mewahyukan perkara kelahiran kembali kepada Nikodemus, Tuhan Yesus khusus menyinggung hal ini.
Nikodemus mungkin mengira bahwa dirinya adalah orang yang bermoral dan baik. Tetapi perkataan Tuhan dalam Yohanes 3:14 menyiratkan bahwa tak peduli bagaimana baiknya Nikodemus secara luar, di dalam dirinya tetap ada sifat ular Iblis. Sebagai keturunan Adam, dia telah diracuni oleh ular tua itu dan sifat ular ada di dalam dia. Dia bukan hanya memerlukan Tuhan sebagai Anak Domba Allah untuk menghapus dosanya, juga memerlukan Tuhan menjadi bentuk ular, untuk menanggulangi sifat ularnya di atas salib, dan agar dia mendapatkan hayat yang kekal. Menurut prinsip yang ditetapkan dalam pasal 2, ini adalah mengubah maut menjadi hayat. Maut milik si ular ditelan oleh hayat ilahi. Tuhan Yesus memberi tahu Nikodemus tentang masalah ini, Ia seolah-olah berkata, “Nikodemus, kamu ini seekor ular. Aku akan mati menggantikanmu dalam rupa ular, bukan hanya untuk menghapus dosamu, tetapi juga menanggulangi sifat ularmu, dan menyingkirkan Iblis.”
d. Siapa Percaya kepada Kristus, Beroleh Hidup Kekal
Ayat 15 menampakkan tujuan dari ayat 14, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” “Supaya” dalam ayat 15 menunjukkan bahwa ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 14, yaitu akibat dari Kristus mati di atas salib dalam rupa ular untuk menggantikan kita. Dalam kematian-Nya itu, Ia telah menanggulangi sifat ular kita, dan memusnahkan ular yang bercokol di dalam tubuh daging kita. Hasilnya, membuat kita yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Sama seperti bani Israel yang terkena racun ular, begitu memandang kepada ular tembaga yang ditinggikan itu, mereka tetap hidup. Hari ini, asal kita bertobat dan memandang kepada Tuhan Yesus yang tersalib itu, kita pun akan mengalami perkara yang sama. Dengan berbuat demikian, dosa kita pasti dihapuskan, sifat ular kita ditanggulangi, Iblis yang bercokol di dalam kita pun ditumpas, dan kita pun beroleh hidup yang kekal. Inilah makna kelahiran kembali. Ketika kita dilahirkan kembali, kita menerima hayat Allah di samping hayat manusia kita ini. Hayat manusia kita telah dirusak oleh ular, dan ditanggulangi oleh Kristus di atas salib.
2. Dihakimi di Dalam Adam karena Dosanya
Karena Adam berdosa, maka segenap umat manusia ditimpa penghakiman di dalam Adam. Dalam ayat 18, Tuhan mewahyukan lebih lanjut tentang keadaan Nikodemus. Bahwa ia bukan hanya memiliki sifat racun ular, tetapi juga berada di bawah penghakiman Allah. Ayat ini mengatakan “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” Menurut ayat ini, Nikodemus, ksatria yang bermoral ini, sudah ditetapkan hukumannya. Kapankah kita di bawah penghakiman? Pada saat Adam ditetapkan hukumannya, Anda telah dijatuhi hukuman di sana. Dengan kata lain, sebelum Anda terlahir, Anda sudah di bawah penghakiman. Anda telah divonis enam ribu tahun yang lalu. Karena Anda merupakan sebagian dari Adam, maka ketika ia dihakimi, Anda pun ada di dalamnya. Tidak peduli Anda baik atau buruk, Anda sudah berada di bawah murka Allah (Yoh. 3:36). Meskipun Nikodemus itu ksatria kalangan atas masyarakat, ia tetap dihakimi. Ia itu orang baik, orang yang beragama, orang yang berbudi pekerti luhur, namun ia sudah dijatuhi hukuman. Sebab itu, ia memerlukan penebusan Tuhan. Tuhan harus mati baginya.
Seorang yang demikian baik, namun sesungguhnya keadaannya tidaklah benar-benar baik. Keadaannya yang sejati adalah berlapis dua: dalam sifat alamiahnya terdapat racun Iblis, dan kedudukannya berada di bawah penghakiman Allah. Kita bukan ksatria yang berbudi baik, melainkan ular. Dari segi sifat alamiah kita, kita mengandung Iblis, Satan, serta unsur yang membuat kita menjadi “anak-anak Iblis” (1Yoh. 3:10). Dari segi kedudukan kita, kita ini sudah berada di bawah penetapan hukuman Allah. Jadi keadaan orang yang paling baik dengan keadaan orang yang paling buruk tidak berbeda.
a. Putra Allah Datang Menolong Manusia Terlepas dari Penghukuman Ini
Putra Allah telah datang menolong manusia terlepas dari penghukuman ini. Dalam ayat 17 dikatakan, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia.” Kristus Putra Allah diutus untuk menolong kita terlepas dari penghakiman Allah ini, yang menimpa kita karena Adam berbuat dosa. Kita semua telah dihakimi di dalam Adam, kini kita melalui Kristus, telah dibebaskan dari penetapan hukuman ini. Dalam kelahiran alamiah, kita telah dihakimi di dalam Adam; namun dalam kelahiran kembali, kita telah diselamatkan di dalam Kristus.
b. Melalui Percaya kepada Putra Allah, Manusia Dilepaskan dari Penghukuman Ini
Bagaimana caranya kita dilahirkan kembali? Bagaimana kita bisa mendapatkan kelahiran kembali? Dalam ayat 15, 16, 18, dan 36, Tuhan mengatakan, “Supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”; “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”; “Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum”; Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Perkataan Tuhan yang ditegaskan berulang-ulang ini dengan jelas dan tegas memberi tahu kita bahwa cara kita beroleh selamat atau memperoleh kelahiran kembali ialah percaya kepada Tuhan. Percaya adalah satu-satunya jalan kita beroleh selamat dan beroleh kelahiran kembali. Ini mutlak merupakan perkara iman. Tidak peduli berapa banyak yang dapat kita lakukan, atau berapa baik kelakuan kita, kita mustahil akan beroleh selamat dan dilahirkan kembali dengan bersandarkan kelakuan kita. Dalam hal ini, kelakuan kita tidaklah terhitung, kecuali iman. Beroleh selamat dan dilahirkan kembali harus demi iman. Melalui iman di dalam Tuhan, melalui percaya kepada Tuhan, di pihak negatifnya kita menerima pengampunan, dan dibebaskan dari penghukuman Allah. Demikian pula, melalui iman, melalui percaya kepada Tuhan, di pihak positifnya kita akan beroleh kelahiran kembali, beroleh hidup yang kekal, yaitu hayat ilahi Allah. Tuhan telah menggenapkan karya penebusan bagi kita, dan melalui kematian penebusan-Nya di atas salib, Ia telah memuaskan semua tuntutan Allah yang adil, kudus, dan mulia. Melalui kematian-Nya di atas salib dalam rupa ular itu, Tuhan telah meremukkan Satan, Iblis yang menjajah kita dan yang memperbudak kita, agar kita dilepaskan dari perbudakan si jahat dan kuasa maut (Ibr. 2:14). Segala perkara negatif telah ditanggulangi oleh kematian-Nya yang almuhit di atas salib. Kita tidak perlu berbuat apa pun, kecuali percaya semua perkara yang telah Tuhan rampungkan. Ia sudah menanggulangi dan membereskan semua masalah kita, Ia tidak menyisakan apa pun untuk kita kerjakan. Karena itulah kita tidak perlu berbuat apa-apa, asalkan kita percaya karya penebusan almuhit yang telah digenapkan dan dicapai oleh-Nya.
Lewat kematian, melalui kebangkitan, dan di dalam kebangkitan, Tuhan telah membebaskan hayat-Nya, bahkan sudah menjadi Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45). Kini dalam kebangkitan, Dia adalah Roh pemberi hayat (2Kor. 3:17, Tl.), dengan membawa semua khasiat karya penebusan-Nya, menantikan kita percaya kepada-Nya. Kita bukan hanya menerima pengampunan dosa dan terlepas dari kuasa Iblis yang jahat dan gelap, kita juga menerima Roh hayat, yakni Tuhan sendiri, beserta hayat kekal Allah. Demikianlah kita diselamatkan serta dilahirkan kembali. Melalui percaya kepada Tuhan dan percaya kepada semua karya penebusan-Nya yang almuhit, kita menerima hayat Allah dan dilahirkan oleh-Nya sehingga menjadi anak-anak-Nya.
Percaya Tuhan berarti menerima Dia (Yoh. 1:12). Tuhan itu dapat diterima. Kini Ia sebagai Roh pemberi hayat, membawa penebusan-Nya yang sempurna, menunggu, dan mengharapkan kita menerima Dia. Roh kita adalah organ penerima. Melalui percaya kepada-Nya, kita boleh menerima Roh Tuhan ke dalam roh kita. Begitu kita percaya kepada-Nya, maka Dia yang sebagai Roh itu segera masuk ke dalam roh kita, sehingga kita dilahirkan kembali oleh Dia Sang Roh pemberi hayat, dan menjadi satu roh dengan-Nya (1Kor. 6:17). (“Percaya” yang terdapat dalam ayat 16, 18, 36 menurut bahasa aslinya dapat diterjemahkan “percaya ke dalam-Nya”). Melalui percaya kepada-Nya, kita masuk ke dalam-Nya, bersatu dengan-Nya, mendapat bagian di dalam Dia, serta menikmati segala yang telah dirampungkan oleh-Nya. Melalui percaya ke dalam-Nya, kita telah bersatu padu dengan-Nya atas segala apa adanya Dia, segala apa yang Ia alami, yang Ia rampungkan, yang Ia capai, serta yang Ia peroleh. Ketika kita percaya ke dalam-Nya sehingga bersatu padu dengan Dia, kita pun diselamatkan, dilahirkan kembali oleh Dia yang menjadi hayat. Melalui percaya ke dalam Dia, kita beroleh bagian di dalam Dia sebagai hayat, dan beroleh kelahiran kembali di dalam-Nya.
c. Putra Allah Datang Menjadi Terang
Putra Allah datang menjadi terang, agar manusia disoroti sehingga beroleh selamat (Yoh. 3:19-21). Untuk menyelamatkan kita, Kristus, Putra Allah datang terlebih dulu sebagai terang yang menerangi orang agar orang diselamatkan. Namun sangatlah disayangkan bahwa kebanyakan orang lebih menyukai kegelapan daripada terang, karena perbuatan mereka itu jahat. Siapa saja yang berbuat jahat, pasti membenci terang, enggan datang kepada terang, khawatir perbuatannya yang jahat itu terbongkar. Tetapi siapa yang datang kepada terang, tentu akan disoroti, dan melalui penerangan ini akan beroleh selamat. Terang dulu, kemudian beroleh selamat.
Dalam Yohanes 3 kita nampak, bahkan seseorang yang berbudi luhur pun berada di jalan kebinasaan. Walaupun ia mencari Allah, namun ia mencari menurut jalan pohon pengetahuan. Nikodemus itu mencari pengajaran, pengetahuan, dan semua itu justru milik pohon pengetahuan. Ia tidak mengetahui hayat, juga tidak mempunyai konsepsi akan hayat. Tetapi, Tuhan membuat dia berpaling dari pengetahuan kepada hayat, supaya ia dilahirkan kembali, bahkan beroleh hayat Allah yang dilambangkan oleh pohon hayat dalam Kejadian 2. Dalam pembicaraan Tuhan dengan dia terdapat sebuah isyarat yang menandakan bahwa tuntutannya terhadap pengetahuan itu berhubungan dengan sifat ularnya. Manusia alamiah kita, sifat ular kita, tidak hanya mendorong kita berbuat jahat, juga mendorong kita menuntut pengetahuan, pengetahuan tentang Allah, namun bukan pada jalan hayat. Mencari pengetahuan semacam ini adalah jalan maut yang mendatangkan maut. Kita semua harus berpaling dari jalur pengetahuan ini kepada jalur hayat, agar kita menerima hayat Allah menjadi kenikmatan kita.