TUJUAN HAYAT II. TUJUAN HAYAT — MEMBANGUN RUMAH ALLAH
Sungguh indah bahwa dalam Yohanes 2, pertama-tama termuat peristiwa mengubah air menjadi anggur (2:1-11), kemudian disusul oleh peristiwa penanggulangan Bait Allah (2:12-22). Kita harus percaya bahwa kedua hal ini dicantumkan dengan maksud melambangkan sesuatu, bukan sekedar catatan sejarah. Mengapa penanggulangan Bait Allah menyusul di belakang perkara pengubahan maut menjadi hayat? Ini jelas menunjukkan bahwa hayat adalah untuk Bait Allah. Dengan kata lain, hayat adalah bagi pembangunan Allah. Dalam perkara Tuhan mengubah air menjadi anggur, kita dapat menemukan prinsip hayat, yakni mengubah maut menjadi hayat. Dalam hal penanggulangan Bait Allah, kita nampak sasaran dan tujuan hayat, yakni membangun rumah Allah.
A. Yesus Menyucikan Bait Allah
Yohanes 2:12-22 membentangkan dua aspek penanggulangan Tuhan terhadap Bait Allah aspek penyucian dan aspek pembangunan. Iblis, musuh Allah, selalu berusaha merusak atau meruntuhkan Bait Allah. Ia bermaksud mencemarinya dengan banyak hal kedosaan. Inilah alasannya rumah Allah perlu disucikan.
1. “Hari Raya Paskah Sudah Dekat”
Yesus menyucikan Bait Allah pada saat “hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat” (Yoh. 2:13). Ketika itu, hari raya Paskah adalah memperingati penyelamatan Allah (Kel. 12:2-11; Ul. 16:1-3). Melalui peringatan itu orang Yahudi menyembah Allah dalam Bait Suci mereka. Namun, ketika Tuhan Yesus pergi ke Yerusalem, bait mereka penuh dengan lembu, domba, merpati, dan penukar-penukar uang. Maka, bait itu perlu dibersihkan, dan Tuhan Yesus justru melakukan hal itu.
Hari raya Paskah itu merupakan lambang peringatan kita terhadap Tuhan (1Kor. 11:24-25). Dan kita inilah Bait Allah (1Kor. 3:16). Ketika kita datang menghampiri meja Tuhan untuk memperingati Dia, mungkin sekali kita dipenuhi oleh hal-hal duniawi. Maka kita juga memerlukan penyucian agar kita menjadi Bait Allah yang tepat.
2. Menyucikan Bait
a. Dengan Cambuk Tali yang Dibuat dari Rumput Gelagah
Marilah kita membaca Yohanes 2:14-16, “Di halaman Bait Allah didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Allah dengan semua domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan mejameja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata, ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.’” Tuhan menanggulangi Bait Allah melalui menyucikannya dengan cambuk dari tali. Ada terjemahan yang memakai kalimat bahwa Tuhan membuat “tali dari rumput gelagah” yang tak berharga dan biasa saja. Tuhan membuat tali dari bahan biasa, rumput gelagah, untuk menyucikan bait. Ia mengusir lembu, domba, dan penukar uang. Itu berarti mengusir semua pekerjaan duniawi. Kita ini Bait Allah, namun tidak dipenuhi oleh Allah, malahan dipenuhi dengan dagangan-dagangan, uang, serta meja penukar uang. Karena itulah Tuhan mau tak mau membuat cambuk tali untuk mengusir hal-hal ini keluar dari dalam kita.
Sering kali, Tuhan memakai benda-benda yang umum dan biasa, seperti rumput gelagah, untuk membersihkan kita. Adakalanya melalui seorang yang biasa saja Ia membersihkan Anda, misalnya, istri Anda atau suami Anda, orang tua Anda atau anak-anak Anda, majikan Anda atau pegawai Anda. Kita semua telah mengalami cambuk tali yang dibuat Tuhan dari orang-orang atau benda-benda yang biasa saja bagi pembersihan diri kita. Kadang kala Tuhan bahkan datang untuk campur tangan dalam hidup kita dengan menjungkirbalikkan benda-benda atau perkara-perkara. Ia datang mengusir lembu, kambing domba, dan merpati, serta membalikkan meja-meja agar memporakporandakan seluruh situasi. Misalnya, tahun kemarin Anda baru beroleh keuntungan banyak dalam usaha Anda, namun tahun ini Anda rugi sampai ludes, inilah cambuk yang Tuhan pakai untuk membersihkan Anda. Pada setiap orang Kristen yang menuntut, selalu terdapat orang, perkara, atau benda yang membersihkan dia.
Umumnya, seorang istri yang menuntut Allah selalu mendambakan agar suaminya bisa rohani dan mengasihi Tuhan, namun kadang-kadang yang terjadi justru sebaliknya. Seorang suami yang mengasihi Tuhan selalu memohon kepada Tuhan agar istrinya bisa rohani dan mengasihi Tuhan, tetapi kadang-kadang yang terjadi berkebalikan dengan harapannya. Demikian juga orang tua yang menuntut Tuhan dengan tulus dan senantiasa mendoakan anak-anak-nya, kadang-kadang malahan menderita karena melihat anak-anak mereka salah jalan. Cambuk yang Anda alami itu sengaja dibuat oleh Tuhan. Jika suami atau istri Anda sangat rohani, Tuhan tidak akan menemukan cambuk untuk membersihkan Anda. Jika putra Anda seperti Petrus dan Yohanes dan putri Anda seperti Maria, maka Tuhan tidak akan menemukan rumput gelagah untuk dibuat cambuk. Apabila orang tua Anda seperti Abraham dan Sara, maka tidak ada sesuatu yang dapat dipakai untuk membersihkan Anda. Di satu pihak Anda boleh setiap hari menikmati Tuhan bagaikan berpesta, tetapi di pihak lain Tuhan akan berkali-kali memberi cambukan untuk membersihkan Anda. Sering kali, Tuhan bahkan menggunakan saudara dan saudari dalam gereja sebagai cambuk tali untuk membersihkan barang-barang dagangan dan penukar-penukar uang yang bersarang di dalam Anda.
b. Hati Tuhan Bergairah bagi Rumah Allah
Yohanes 2:17 mengatakan, “Lalu teringatlah murid-murid-Nya bahwa ada tertulis: Cinta (gairah) untuk rumah-Mu akan menghanguskan (menghabiskan) Aku.” Di dalam Tuhan Yesus terdapat kegairahan akan rumah Allah, dan kegairahan ini menghanguskan (menghabiskan) Dia. Dia mutlak untuk rumah Bapa. Rumah Bapa adalah kerinduan hati-Nya. Ketika Dia melihat keadaan yang bejat di dalam bait, Dia tidak tahan lagi untuk membersihkannya dengan cambuk. Kegairahan akan rumah Bapa-Nya itulah yang mendorong Dia menyingkirkan semua kecemaran. Hati-Nya murni dan polos untuk Bapa. Dia tidak tahan melihat bait yaitu rumah Bapa-Nya dicemari oleh hal-hal keserakahan manusia. Itulah sebabnya Dia harus menyucikan bait.
Iblis berupaya sekuatnya untuk mencemari dan mengotori hidup gereja dengan banyak hal yang berdosa dan duniawi. Di mana terdapat gereja lokal, di sana selalu terjadi peristiwa ini. Namun puji syukur kepada Tuhan, pencemaran Iblis ini mendatangkan penyucian (pembersihan) Tuhan. Iblis, si seteru itu, selalu asyik dan sibuk. Ia tidak pernah tidur. Di mana gereja lokal berdiri, di situlah Iblis pasti mencoba mencemarinya. Apabila kita kurang pengalaman, kita akan sangat khawatir terhadap hal ini. Kita akan susah karena gereja dicemari oleh musuh. Tetapi biarlah saya di sini mengatakan sepatah kata untuk menghibur Anda. Jika gereja lokal di tempat Anda dicemari, janganlah sekali-kali berkecil hati. Anda harus mengatakan, “Tuhan, inilah saat-Mu. Tuhan, masuklah. Pencemaran setan tak lain mendatangkan penyucian-Mu.”
B. Tubuh Yesus sebagai Bait Dihancurkan, Dibangunkan dalam Kebangkitan
Tujuan Iblis bukan hanya ingin mencemari bait, tetapi juga menghancurkannya. Tujuannya yang terakhir ialah menghancurkan rumah Allah. Namun apa yang dihancurkan musuh, akan Tuhan bangun kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Ini berarti dalam hayat kebangkitan-Nya, Tuhan membangun kembali apa yang telah dirusak oleh musuh. Kita tidak perlu mengkhawatirkan pemulihan Tuhan terha-dap gereja, sebab semakin banyak musuh yang merongrong, semakin banyak pula Tuhan akan memulihkan dalam kebangkitan. Firman Tuhan menegaskan, “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Dengan kata lain, musuh boleh saja merusak gereja, yaitu rumah Allah, namun Tuhan akan memulihkannya dalam kebangkitan dan melalui kebangkitan. Setelah musuh merusak, Tuhan akan membangun sebuah bait yang lebih besar dalam kebangkitan. Janganlah kita khawatir atas kekacauan yang ada dalam gereja. Sebab Tubuh Tuhan, gereja, sedang dalam proses kebangkitan. Perusakan musuh itu perlu, berhubung semua hal alamiah perlu dihancurkan. Dan hanya yang alamiah saja yang dapat dihancurkan oleh musuh. Kemudian Tuhan akan mendirikan gereja-Nya dalam kebangkitan. Setiap kali kesulitan merusak gereja, gereja akan dipulihkan dalam keadaan baru dengan hayat kebangkitan. Di masa lampau, saya telah melihat banyak perusakan yang benar-benar memukul gereja, tetapi semakin musuh merusak, semakin pula Tuhan membangun gereja-Nya di dalam dan melalui kebangkitan-Nya.
Tujuh belas tahun yang lalu, yaitu tahun 1958, gereja-gereja di Taiwan sangat kuat. Kemudian timbul suatu perkara yang membuka pintu masuk bagi musuh. Badai dahsyat menyerang gereja. Saat itu, saya sendiri ada di sana dan nampak dengan jelas keadaan itu, namun saya tidak takut. Serangan itu dimulai pada tahun 1958. Tahun 1959 saya sedang memimpin pembahasan Pelajaran Hayat Injil Yohanes. Ketika saya membicarakan butir utama dari Yohanes 2 yang kita beritakan hari ini, saya menerangkan kepada mereka, “Beberapa di antara kalian telah diperalat seteru untuk menghancurkan gereja. Aku ingin memberi tahu kalian bahwa Tuhanlah yang membangun gereja di sini; semakin kalian menjatuhkannya, gereja akan semakin terbangun.” Kemudian saya meninggalkan Taiwan kembali ke Amerika Serikat. Saya tidak khawatir jika gereja-gereja di sana akan dihancurkan, itulah sebabnya saya berangkat ke Amerika Serikat dengan damai. Setelah itu, pemimpin-pemimpin dari gereja-gereja di Taiwan sekali demi sekali menulis surat kepada saya, mengatakan, “Musuh telah melancarkan kegiatannya bertubi-tubi. Saudara, kembalilah.” Tetapi selama empat tahun saya tidak mau kembali. Selama itu, saya menerima banyak surat dari saudara pimpinan yang mengatakan tentang perusakan yang dilakukan oleh musuh. Namun saya selalu membalas dengan kata-kata, “Saudara, tenang sajalah. Jika gereja-gereja di Taiwan memang didirikan oleh Tuhan, tak seorang pun sanggup menghancurkan. Semakin mereka berusaha menghancurkan gereja, gereja akan semakin terbangun.” Kini, tahun 1975, gereja-gereja di Taiwan terbangun dengan kuat.
Jangan kecewa terhadap keadaan orang Kristen hari ini. Jangan mengatakan situasinya kasihan. Itu hanya gambaran sepihak saja. Puji Tuhan, selama 20 abad yang lampau ada aspek yang lain. Apakah Anda percaya bahwa Iblis mampu mengalahkan Tuhan Yesus? Mustahil bukan? Apakah Anda percaya bahwa Iblis lebih kuat daripada Tuhan Yesus? Jawabannya pasti tidak! Berdasarkan fakta inilah maka hati saya selalu damai dan sentosa. Entah sudah berapa banyak kesulitan yang menimpa gereja; istri saya dapat bersaksi bahwa saya selalu tidur nyenyak. Saya mempunyai keyakinan penuh bahwa Iblis tidak akan dapat mengalahkan Tuhan Yesus, malahan sebaliknya, Tuhanlah yang selalu mengalahkan Iblis.
Tuhan Yesus memberi tahu lawannya bahwa apabila mereka meruntuhkan (menghancurkan) Bait Suci ini, Ia akan membangunnya kembali dalam tiga hari (Yoh. 2:19). Mereka tidak mengerti apa makna ungkapan-Nya itu. Maksud Tuhan, “Kalian dapat mematikan Aku dan membunuh tubuh-Ku di atas salib, namun Aku akan membangunnya kembali dalam tiga hari.” Janganlah mencoba memahami Alkitab secara harfiah, berbuat demikian akan menyulitkan Anda sendiri. Di satu pihak, Tuhan Yesus memberi tahu mereka bahwa setelah mereka membunuh Dia, Ia akan bangkit lagi (Mat. 20:19). Di pihak lain, di tempat lain dalam Perjanjian Baru dicantumkan bahwa Allah akan membangkitkan-Nya (Kis. 2:24). Dalam Perjanjian Baru ada dua cara kebangkitan Tuhan yaitu dibangkitkan Allah dan bangkit sendiri. Bagaimana kita bisa memahami atau menafsirkan hal ini? Allah yang membangkitkan-Nya atau Ia bangkit sendiri? Injil Lukas menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat yang tersalib bagi dosa kita, maka perlu dibangkitkan oleh Allah (Luk. 9:22). Dalam Injil Yohanes keadaannya berlainan. Di sini Tuhan bukan terbunuh sebagai kurban penghapus dosa. Sebaliknya, Ia sendiri yang rela menyerahkan nyawa-Nya. Kata Yesus, “Aku memberikan nyawaKu agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali” (10:17-18). Dalam Injil Yohanes, Allah tidak perlu membangkitkan Dia. Sebagai kurban penghapus dosa, Ia perlu dibangkitkan Allah, namun sebagai Sang pemberi hayat, Ia dapat menyerahkan nyawa-Nya dan mengambilnya kembali. Ia dapat berjalan masuk ke dalam maut dan keluar. Seolah-olah Tuhan berkata, “Di satu pihak, kamu merasa telah membunuh Aku. Namun Aku merasa bahwa Aku sendiri yang masuk ke dalam maut untuk bertamasya sejenak, dan kemudian keluar lagi.” Setiap tahun banyak turis mengunjungi Washington D.C. sambil meninjau Istana Gedung Putih. Demikian pula, Tuhan Yesus juga bertamasya ke alam maut, serta mengunjungi “Istana Gedung Hitam”. Tuhan seolah-olah berkata, “Istana Gedung Hitam, Aku datang ke sini untuk melihat-lihat apa saja yang mampu kaulakukan. Dapatkah kamu berbuat sesuatu pada-Ku. Berhubung kamu tak dapat berbuat sesuatu atas-Ku, maka setelah tamasya-Ku ini, Aku akan pergi dan kembali kepada hayat.” Inilah kebangkitan dalam Injil Yohanes. Tuhan Yesus telah me-nyerahkan nyawa-Nya dan bangkit sendiri.
1. Tubuh Jasmani Yesus Diruntuhkan oleh Orang Yahudi di Atas Salib
Tubuh Yesus diruntuhkan oleh orang Yahudi di atas salib. Ketika Kristus sebagai daging, Ia mengenakan tubuh jasmani. Dalam Yohanes 1:14, kita jelas mengetahui bahwa jasmani-Nya itu adalah sebuah kemah. Menurut Yohanes 2, jasmani-Nya itu pun adalah bait. Saya ingin menunjukkan bahwa dalam seluruh Perjanjian Baru, bait Allah itu bukan ditujukan pada suatu tempat, melainkan satu orang. Ketika Yesus berada dalam daging, tubuh-Nya itulah kemah dan bait Allah. Baik kemah maupun bait adalah tempat kediaman Allah. Iblis paham akan hal ini. Berhubung Iblis tahu bahwa jasmani Yesus itulah tempat kediaman Allah di bumi, ia lalu berusaha sekuatnya untuk meruntuhkan tubuh tersebut. Dan ia pun telah berhasil meruntuhkannya di atas salib lewat orang Yahudi. Di satu pihak, Iblis telah meruntuhkan jasmani Tuhan; namun di pihak lain, Tuhan Yesus sendiri yang menyerahkan tubuh-Nya kepada maut. Tuhan seolah berkata kepada Iblis, “Iblis, berbuatlah sebisamu. Aku ingin melihat sampai di mana kesanggupanmu. Apa saja yang kaulancarkan tak lain memberikan kesempatan bagi-Ku berbuat lebih lanjut.”
2. Yesus Membangkitkan Tubuh Jasmani-Nya dalam Kebangkitan Sehingga Menjadi Bait Allah
Setelah Iblis meruntuhkan jasmani Tuhan di atas salib, tubuh-Nya dimasukkan ke dalam liang kubur, beristirahat di sana. Kemudian Tuhan Yesus masuk ke dalam alam maut, bertamasya ke Istana Gedung Hitam dan keluar dalam kebangkitan. Ketika Yesus bangkit, Ia sendiri membangkitkan tubuh-Nya yang telah mati dan terkubur. Tubuh Yesus yang diruntuhkan di atas salib itu kecil dan lemah, tetapi Tubuh Kristus di dalam kebangkitan itu besar dan kuat. Anda ingin yang mana tubuh Yesus ataukah Tubuh Kristus? Setelah kebangkitan Tuhan, Tubuh-Nya, yakni bait, telah berdiri dengan ukuran jauh lebih besar. Tubuh yang diruntuhkan musuh melalui salib hanyalah tubuh Yesus, namun apa yang dibangkitkan Tuhan dalam kebangkitan bukan hanya tubuh-Nya sendiri, melainkan juga setiap orang yang oleh iman bersatu dengan Dia (1Ptr. 1:3; Ef. 2:6). Setelah Tuhan bangkit, Iblis mau tak mau berkata, “Aku kalah, aku bodoh. Aku tidak seharusnya meruntuhkan Dia.” Namun percuma menyesal kemudian.
Begitu suatu gereja lokal dirusak dan dirongrong, yakinlah bahwa dalam kebangkitan, gereja akan menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Tuhan Yesus selalu mengalahkan musuh. Jangan gentar terhadap pekerjaan Iblis. Sering kali kita tidak perlu begitu berdoa mati-matian. Kita cukup mengatakan, “Iblis, berbuatlah sekuatmu. Apa yang kaulakukan tak lain menyediakan kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk mengalahkanmu. Setiap kali timbul masalah dalam gereja, banyak saudara biasanya merasa perlu segera mengadakan pertemuan dan berdoa. Tetapi tidak perlu begitu terburu-buru. Tenanglah. Jangan takut terhadap aktivitas Iblis. Sewaktu Tuhan Yesus mengetahui bahwa kaum Yahudi sedang berusaha menghancurkan Dia, Dia tidak berdoa, “Ya Bapa, bunuhlah semua orang Yahudi ini. Ya Bapa, selamatkanlah Aku dan lindungilah Aku.” Tuhan tidak berdoa demikian, malah seakan-akan memberi tahu mereka, “Perbuatlah sebisamu untuk membunuh Aku, ketahuilah bahwa setelah kamu membunuh Aku, Aku akan mendapat kesempatan untuk berkembang biak.” Tak seorang pun dapat menghancurkan ekonomi Tuhan. Semakin musuh berupaya, semakin memberi kesempatan kepada Tuhan untuk berbuat lebih banyak. Apa pun yang Tuhan kerjakan selalu dalam kebangkitan. Tuhan membangun bait “dalam tiga hari”, melambangkan Ia membangunnya dalam kebangkitan.
3. Kebangkitan Yesus Adalah Mukjizat yang Unik
Orang-orang Yahudi meminta kepada Tuhan Yesus agar Ia mau menunjukkan tanda ajaib kepada mereka. Tuhan menjawab, “Runtuhkan Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Kebangkitan Tuhan adalah mukjizat yang unik. Dalam pembangunan gereja, orang-orang sering seperti orang-orang Yahudi, menantang kita untuk memperlihatkan mukjizat apa yang bisa kita lakukan. Janganlah kita terkena tipu muslihatnya untuk mencoba melakukan mukjizat. Kita harus mengikuti Tuhan Yesus dan membiarkan diri kita dimatikan, sehingga Kristus dapat ternyata dalam kebangkitan. Inilah mukjizat, tanda ajaib, yang benar-benar dibutuhkan dalam pembangunan gereja. Mukjizat yang unik untuk pembangunan gereja ialah hayat dalam kebangkitan.
4. Rumah Allah Tetap Bertambah Luas Bersama Tubuh Kristus di Dalam Kebangkitan
Sejak hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus terus memperluas Tubuh-Nya dalam hayat kebangkitan. Alangkah besar Tubuh Kristus hari ini dalam kebangkitan-Nya! Dapatkah Anda mengukur besarnya Tubuh Kristus? Walaupun dahulu orang dapat mengukur jasmani Yesus, namun hari ini mustahil orang dapat mengukur luas dan besarnya Tubuh Kristus. Tuhan terus-menerus memperluas Tubuh-Nya di dalam kebangkitan, dan setan pun terus membantu dalam hal ini. Rumah Allah tetap bertambah luas bersama Tubuh Kristus di dalam kebangkitan (1Tim. 3:15; 1Ptr. 2:5; 1Kor. 3:9; Ef. 2:21-22). Hari ini kita tetap berada dalam “tiga hari” ini, sebab Tuhan masih terus menggarap pembangunan Tubuh-Nya di dalam proses kebangkitan. Sebagian besar Tubuh Tuhan telah bangkit, namun masih ada beberapa anggota Tubuh-Nya yang belum bangkit. Maka, Tubuh Tuhan masih berada dalam proses kebangkitan. Bahkan atas diri Anda, hanya sebagian saja yang telah diubah; artinya, hanya sebagian saja yang telah dibangkitkan. Tuhan akan bekerja terus atas diri Anda melalui proses pengubahan. Anda masih dalam proses kebangkitan. Gereja dewasa ini masih dalam proses kebangkitan tiga hari itu.
Semua perusakan yang dilancarkan oleh musuh terhadap gereja tak lain memberikan kesempatan kepada Tuhan untuk memperluas Tubuh-Nya dalam kebangkitan. Andaikan sejak tahun 1958 tak ada badai yang diterbitkan oleh musuh yang bermaksud merongrong hidup gereja di Taiwan, pasti hari ini saya tidak akan ada di negara ini (Amerika Serikat). Biarkanlah musuh berbuat sebisanya, karena kegiatannya itu hanya akan memberikan kesempatan bagi perluasan Tuhan di dalam kebangkitan. Puji Tuhan! Sejak Tuhan memulai pemulihan-Nya di Amerika Serikat, banyak hal negatif bermunculan. Namun kita semua harus menyembah Dia atas kemenangan-Nya. Saya tidak pernah nampak satu perkara pun di mana musuh mencapai kemenangan. Ia telah membantu pemulihan Tuhan. Musuh tidak akan dapat mengalahkan Tuhan Yesus. Pintu alam maut tidak akan dapat mengalahkan gereja yang telah dibangun (Mat. 16:18). Gereja akan tetap maju dan terus bertumbuh. Haleluya! Musuh berusaha meruntuhkannya, namun kita akan nampak kemenangan Tuhan. Kita akan nampak bahwa bukan Tuhan Yesus sendirian yang menang, gereja pun ikut menang. Semakin banyak gunjingan negatif tentang pemulihan Tuhan, pemulihan-Nya akan semakin menang.
C. Mengubah Maut Menjadi Hayat Adalah bagi Pembangunan Rumah Allah
Perkara mengubah air menjadi anggur telah mendirikan prinsip hayat. Kini, perkara menyucikan Bait Allah memperlihatkan tujuan hayat. Prinsip hayat adalah mengubah maut menjadi hayat, tujuan hayat adalah membangun rumah Allah. Prinsip hayat adalah bagi tujuan hayat. Mengubah maut menjadi hayat adalah untuk pembangunan hayat, yakni pembangunan rumah Allah. Kedua butir ini menguasai seluruh Injil Yohanes. Inilah sebabnya setelah pendahuluan dalam Yohanes 1, maka Yohanes 2 menyusul untuk menunjukkan kepada kita dua hal ini melalui dua peristiwa. Kemudian Yohanes 3-11 mencantumkan sembilan peristiwa yang membuktikan betapa Tuhan memasuki segala macam keadaan manusia sambil mengubah maut menjadi hayat. Setelah menuturkan semua peristiwa ini dan setelah pemberitaan yang terakhir dalam Yohanes 14, 15, dan 16, lalu dalam Yohanes 17, Tuhan berdoa kepada Bapa mengenai kesatuan. Doa kesatuan ini tak lain adalah doa bagi pembangunan. Tanpa dibangun bersama, kita tidak akan menjadi satu. Misalnya, setumpuk bahan, bukanlah kesatuan, sebab bahan-bahan tersebut tidak dibangun bersama. Sebuah rumah terdiri atas berbagai bahan, dan bahan-bahan ini menjadi satu karena dibangun bersama. Hanya ketika bahan-bahan ini dibangun bersama dan menjadi sebuah bangunan, barulah terdapat kesatuan. Kesatuan berarti dibangun bersama. Jadi, tujuan hayat adalah membangun rumah Allah, Bait Allah, sebagai tempat kediaman Allah. Maksud dan tujuan Tuhan menjadi hayat kita adalah membangun gereja sebagai tempat kediaman Allah. Hayat untuk pembangunan. Hayat untuk gereja. Justru bagi pembangunan gereja, Tubuh-Nya, dan rumah Allah, maka Tuhan datang menjadi hayat kita.
Dalam Yohanes 2, penulis memilih dua perkara di antara banyak perkara yang dilakukan Tuhan untuk menunjukkan kepada kita prinsip dan tujuan hayat. Kita harus menerapkan prinsip hayat ini bagi tujuan hayat. Kemudian kita akan nampak bahwa pasal-pasal berikutnya dalam Injil Yohanes mencantumkan prinsip hayat yang dilambangkan oleh perkara yang pertama dan tujuan hayat yang dinyatakan dalam perkara yang kedua.